Anda di halaman 1dari 4

Rational Use of Drugs

1. Pengertian RUD. 2. Penyebab Pengobatan yang tidak Rasional. 3. Akibat Pengobatan yang tidak Rasional. 4. Contoh Kasus 5. Kesimpulan. --------------------------------------------------------------------------------------------Bahan Tulisan :

Rational Use Of Drugs (RUD) / Irrational Use Of Drugs (IRUD)?


Submitted by danang.wijanarko on Tue, 03/03/2009 - 16:00 by danang.wijanarko@gmail.com

Peran seorang pasien (tepatnya konsumen medis) sangat berpengaruh dan menentukan dalam kinerja tenaga medis. Konsumen medis yang aktif berpartisipasi dalam menangani masalah kesehatannya, akan sangat membantu kinerja dokter dan tenaga medis lainnya. Terutama kinerja dokter untuk tetap berpegang pada prinsip pola pengobatan yang rasional (Rational Use of Drugs / RUD) . Pola pengobatan yang rasional adalah AMAN dan COST EFFECTIVE. Perlu kita ketahui banyak faktor yang berperan dalam pemberian obat. Paling tidak ada 3 faktor yang dominan berperan kuat, yaitu dokter (penulis resep), konsumen (pasien) dan industri obat. Intinya, konsumen (pasien) yang tidak rasional akan mendorong iklim layanan kesehatan yang tidak rasional pula. Demikian pula sebaliknya. Pola pengobatan yang irrational menjadi concern seluruh dunia. Minimal ada 2 masalah utama perihal IRUD yaitu polifarmasi dan pemberian antibiotik yg berlebihan/tidak pada tempatnya. Masalah polifarmasi tanpa disadari sering terjadi, terutama saat anak sakit. Evaluasi kembali buku kesehatan/kartu berobat putra/i bapak/ibu. Perhatikan berapa kali dalam 1 th kita membawa anak berobat karena sakit. Coba jawab pertanyaan berikut : Berapa kali dalam kunjungan ke dokter, ibu tidak memperoleh obat ? Tidak juga antibiotik ? Apakah setiap kali berobat anak mendapatkan obat puyer ? Berapa jumlah obat dalam tiap puyer ? Umumnya para dokter mengajukan minimal 3 alasan mengapa mereka cenderung abusive, yaitu : 1. LACK OF CONFIDENCE Kebanyakan dokter sering tidak yakin atau merasa kurang PEDE untuk menyatakan bahwa pasien tsb sakit akibat infeksi virus, yang tidak membutuhkan antibiotik. Para dokter juga merasa insecure takut pasien pindah ke dokter lain. 2. PATIENT PRESSURE Tidak sedikit pasien, tanpa disadari, memilih bersikap pasif dan menganggap dokter tahu yg terbaik. Sehingga obat yang diberikan dokter pasti yang terbaik. Padahal dokter dapat bisa saja salah memberikan obat. Pasien yang irasional, sering menuntut dokter untuk memberikan antibiotik, karena menganggap antibiotik merupakan obat dewa yang bisa menyembuhkan segala kondisi. Pasien irrasional sering menuntut dokter sebagai tukang sihir, yang dapat memberikan obat yang cespleng. DOCTOR is a kind of MAGICIAN sehingga setiap kita ke dokter kita selalu berharap segera sembuh. Hal ini juga menimbulkan beban tersendiri bagi para dokter.

3. COMPANY PRESSURE DalamDoctor-patient partnership, dokter sangat bergantung/membutuhkan pasien sebagaimana pasien bergantung/membutuhkan dokter. Tindakan pasien akan sangat mempengaruhi tindakan sang dokter. Pasien yang irrasional akan mendorong dokter menjadi irrasional. Intinya adalah tanggung jawab atau kewajiban menyehatkan anak bukan hanya di bahu seorang dokter, tetapi juga orangtua sbg konsumen medis.

---------------------------------------------------------------------Browse:Home/Articles, Prevention / RUM-Masalah Pengobatan Yang Tidak Rasional

RUM-Masalah Pengobatan Yang Tidak Rasional


By admin2 on January 14, 2010 Masalah Pengobatan yang Tidak Rasional Definisi Pengobatan Yang Rasional Istilah penggunaan obat yang tepat dan rasional akan digunakan secara bergantian. Konferensi Ahli dalam Pengobatan yang Rasional WHO di Nairobi 1985 mendefinisikan sebagai : Rational use of drugs requires that patients receive medications appropriate to their clinical needs, in doses that meet their own individual requirements for an adequate period of time, and the lowest cost to them and their community. "Penggunaan obat rasional mensyaratkan bahwa pasien menerima obat sesuai dengan kebutuhan klinis mereka, dalam dosis yang memenuhi kebutuhan individu mereka sendiri untuk jangka waktu yang cukup, dan biaya terendah untuk mereka dan komunitas mereka." Hal ini akan terpenuhi jika proses peresepan secara tepat dilaksanakan. Proses ini dimulai dengan mendefinisikan masalah pasien (diagnosis); mendefinisikan tatalaksana yang efektif dan aman (obat atau non-obat); memilih obat yang tepat, dosis dan durasi; dalam menulis resep; dalam memberikan informasi yang adekuat kepada pasien; dan rencana untuk mengevaluasi respon pengobatan. Definisi ini menyatakan dalam peresepan yang rasional sebiknya memenuhi : tepat indikasi, keputusan meresepkan obat berdasarkan standar medis/panduan klinis dan obat yang dipilih adalah yang efektif dan aman tepat obat, obat berdasarkan efektifitasnya, keamanannya, kecocokannya dan pertimbangan biaya tepat pasien, tidak ada kontra indikasi dan kemungkinan efek yang tidak diinginkan minimal dan obat diterima oleh pasien informasi yang tepat, pasien mendapat informasi yang relevan, penting dan jelas mengenai kondisinya dan obat yang diresepkan monitoring yang tepat, efek obat yang diketahui dan tidak diketahui dipantau dengan baik. Sayangnya dalam kenyataan, pola peresepan tidak selalu memenuhi kriteria diatas dan dapat diklasifikasikan sebagai pengobatan yang tidak rasional. Pengobatan yang tidak rasional dapat dianggap sebagai peresepan yang patologis. Pola umum dari peresepan yang tidak rasional dapat berupa : penggunaan obat saat tidak diindikasikan, contoh antibiotik untuk infeksi virus saluran napas atas penggunaan obat yang salah untuk kondisi yang memang membutuhkan obat, contoh tetrasiklin pada anak yang diare yang membutuhkan caoran rehidrasi oral penggunaan obat yang efektifitasnya diragukan atau tidak terbukti, contoh penggunaan antimotilitas pada diare akut penggunaan obat yang status keamanannya diragukan, contoh dypirone

kegagalan untuk menyediakan obat yang aman dan efektif, contoh gagal vaksinasi campak atau tetanus, gagal meresepkan cairan rehidrasi oral untuk diare akut penggunaan obat yang tepat dengan cara pemberian, dosis dan durasi yang tidak tepat, contoh penggunaan infus metronidazole saat sediaan oral tersedia penggunaan obat-obat yang mahal dan tidak perlu, contoh generasi ketiga antimikroba saat generasi pertama spektrum sempit tersedia Beberapa contoh praktek peresepan yang tidak tepat yang biasa ditemukan pada banyak layanan kesehatan : penggunaan berlebihan antibiotik dan antidiare untuk diare anak non-spesifik penggunaan injeksi yang tidak dengan alasan kuat, contoh pada pengobatan malaria peresepan banyak obat penggunaan antibiotik berlebihan saat mengobati infesksi saluran napas ringan mineral dan suplemen untuk malnutrisi FaKtor yang mendasari pengobatan yang tidak rasional Penyebab-penyebab besar dapat dikategorikan berasal dari pasien, pemberi resep, tempat kerja, sistem kesehatan termasuk pengaruh industri, regulasi, informasi obat dan salah informasi dan kombinasi dari hal-hal diatas. Pasien- salah informasi obat -Kepercayaan yang salah -ekspektasi/keinginan pasien Peresep kurangnya pendidikan dan pelatihan -panutan/rolemodel yang tidak tepat -kekurangan informasi obat yang objektif -generalisasi dari pengalaman yang terbatas -kepercayaan yang salah mengenai efektifitas obat Tempat kerja pasien yang terlalu banyak -tekanan untuk merepkan -kekurangan kapasitas -staf yang tidak adekuat Sistem penyediaan obat penyedia yang tidak -kurangnya jumlah obat terpercaya -obat kadaluarsa Regulasi obat ketersediaan obat non-esensial -peresep dari sektor non-formal -kurang tegasnya penegakan regulasi Industri aktivitas promosi -pernyataan yang menyesatkan Semua faktor ini dipengaruhi oleh praktek nasional dan global. Pada beberapa negara dengan tingkat injeksi masih tinggi karena asumsi yang salah dari peresep bahwa injeksi akan meningkatkan kepuasan pasien dan hal itu selalu diharapkan pasien. Efek dari pengobatan yang tidak rasional Efek dari pengobatan yang tidak rasional dapat terlihat pada banyak cara : kurangnya kualitas dari pengobatan mengakibatkan peningkatan kesakitan dan kematian terbuangnya obat mengakibatkan kurangnya persediaan obat penting dan meningkatkan biaya peningkatan efek yang tidak diinginkan dan peningkatan resistensi obat, contoh malaria dan MDR TB akibat psikososial, saat pasien percaya bahwa ada a pill for every ill. Hal ini dapat meningkatkan permintaan untuk obat. (YSK) Sumber :Problems of Irrational Drug Use

---------------------------------------------------------------------------

Colds & Flu


Submitted by danang.wijanarko on Tue, 03/03/2009 - 19:14

Health by danang.wijanarko@gmail.com
Penyebabnya infeksi virus. Umumnya berlangsung selama 5 hari (3 14 hari rentangnya) tergantung daya tahan tubuh dan tergantung ada tidaknya penderita flu di rumah atau di sekolah. Jika bayi dan anak memiliki saudara kandung yang lebih besar dan sudah bersekolah, maka ia sangat potensial sering mengalami colds & flu. Tidak ada obat untuk meningkatkan daya tahan tubuh. Daya tahan tubuh anak terhadap infeksi virus flu akan meningkat sejalan dengan waktu. Tatalaksana: Yang paling dibutuhkan adalah cairan, sering minum meski sedikit2. Supaya ingus tidak kental dan menyumbat jalan nafas, berikan air garam steril sebagai tetes hidung. Air garam steril ini tidak akan menimbulkan efek samping. Menghirup uap air panas juga banyak membantu saat mengalami colds & flu. Apabila pada malam hari tiak dapat tidur karena hidung tersumbat, beri tetes hidung untuk menghilangkan pembengkakan di dalam hidung (Breathy). Humid environment, jangan kering seperti dalam ruangan ber-AC. Kalau perlu, taruh satu ember berisi air mendidih setelah anak tidur. Paracetamol bila bayi/anak uncomfortable atau high fever (>38.5) Di lain pihak, kita sering mengacaukan alergi dengan flu. Pada alergi yg mengenai hidung, anak juga akan meler tetapi anak tidak demam, tetap aktif bermain. Bukan berarti juga anak menderita infeksi virus flu. Pencegahan: Sering cuci tangan Hindari kontak erat dengan penderita flu Jaga kebersihan rumah seperti di kamar mandi, dapur, dsb. Kapan menghubungi dokter? Persistent cough, fever > 72 hours Sesak nafas, kuku dan bibir tampak biru Luar biasa rewel, atau luar biasa mengantuk (sangat sulit dibangunkan)

Ingat: Tidak ada obat pilek yang efektif untuk bayi dan anak.