Anda di halaman 1dari 3

HOMESCHOOLING 1. Pengertian Homeschooling. 2. Sejarah Homeschooling. 3. Perbedaan Homeschooling dengan Sekolah. 4. Untung Rugi Homeschooling. 5. Legalitas Homeschooling. 6.

Tokoh Masyarakat yang Homeschooling. 1. Pengertian Homeschooling.


Salah satu pengertian umum homeschooling adalah sebuah keluarga yang memilih untuk bertanggung jawab sendiri atas pendidikan anak-anak dan mendidik anaknya dengan berbasis rumah. Pada homeschooling, orang tua bertanggung jawab sepenuhnya atas proses pendidikan anak; sementara pada sekolah reguler tanggung jawab itu didelegasikan kepada guru dan sistem sekolah. Walaupun orang tua menjadi penanggung jawab utama homeschooling, tetapi pendidikan homeschooling tidak hanya dan tidak harus dilakukan oleh orang tua. Selain mengajar sendiri, orang tua dapat mengundang guru privat, mendaftarkan anak pada kursus, melibatkan anak-anak pada proses magang (internship), dan sebagainya.

2. Sejarah Homeschooling.
Pendidikan di rumah bukanlah sebuah hal yang baru. Sebelum ada sistem pendidikan modern (sekolah) sebagaimana yang dikenal pada saat ini, pendidikan dilakukan berbasis rumah. Sistem magang adalah model pendidikan yang sangat dikenal oleh masyarakat. Demikian pun belajar otodidak yang sampai sekarang masih dilakukan.Selain itu, para bangsawan zaman dahulu biasa mengundang guru-guru privat untuk mengajar anak-anaknya. Itulah jejak homeschooling pada masa dahulu. Sejak perkembangan revolusi industri, terjadi proses sistematisasi pendidikan dan proses belajar. Perkembangan filsafat dan ilmu pengetahuan serta usaha untuk memaksimalkan proses pembelajaran selama berabad-abad menghasilkan sebuah evolusi sistem pendidikan yang kemudian kita kenal sebagai sekolah. Sekolah adalah salah satu representasi institusional dari nilai-nilai modern yang dipegang manusia saat ini. Sebagai institusi modern, sekolah adalah solusi untuk mengatasi keterbatasan keluarga da;am mendidik anaknya secara sadar dan terencana. Walaupun sekolah menjadi institusi pendidikan yang terbukti memberikan manfaat bagi kemanusiaan, bagaimana proses pencarian pendidikan yang terbaik tak pernah berhenti. Berbagai filsafat dan pemikiran terus lahir, serta berinteraksi dengan kondisi sosial yang dialami oleh masyarakat. Di Amerika Serikat, gelombang pertama homeschooling terjadi pada era 1960-an. Pada masa ini, mulai muncul pemikiran bahwa anak-anak belajar lebih baik jika tanpa instruksi sebagaimana di sekolah (John Holt). Banyak pemikiran yang muncul mempertanyakan efektivitas sekolah dalam menjalankan fungsi pendidikan. Selain Holt, inisiator dan pejuang homeschooling pada masa itu adalah Dr. Raymon Moore, seorang psikolog perkembangan dan peneliti pendidikan. Akhir 1970-an, Holt menerbitkan surat kabar "Growing Without School" yang menjadi sistem pendukung homeschooling pada masa itu. Setelah itu, homeschooling terus berkembang dengan berbagai alasan. Selain karena alasan keyakinan (beliefs), pertumbuhan homeschooling juga banyak dipicu oleh ketidakpuasan atas sistem pendidikan di sekolah. Keadaan pergaulan sosial di sekolah yang tidak sehat juga memberikan kontribusi terhadap pertumbuhan homeschooling. Walaupun awalnya dipersepsi sebagai kelompok konservatif dan penyendiri ( isolationists), homeschooling terus tumbuh dan membuktikan diri sebagai sistem yang efektif dan dapat dijalankan. Praktisi homeschooling pun semakin bervariasi; dengan berbagai alasan memilih homeschooling dan dengan beragam latar belakang sosial: relijius dan sekuler; kaya, kelas menengah, miskin; kota ( urban), pinggiran (suburban), pedesaan (rural). Keluarga praktisi homeschooling memiliki beragam profesi; dokter, pegawai

pemerintah, pegawai swasta, pemilik bisnis, bahkan guru di sekolah umum.

3. Perbedaan Homeschooling dengan Sekolah. Sekolah Formal.


1. 2. 3. 4. Metode pembelajaran klasikal. Memiliki kemungkinan terpengaruh pergaulan yang menyimpang, tawuran, penculikan anak dan jajanan malnutrisi. Waktu belajar yang padat sehingga waktu istirahat dan hobby tidak tersalurkan. Tidak memberikan toleransi atas kendala-kendala yang dialami siswa.

Homeschooling. 1. Lebih memberikan kemandirian bagi siswa.


2. 3. 4. Waktu luang lebih banyak sehingga dapat menyalurkan hobby seperti: modeling, acting, dsb. Keleluasaan menentukan tempat belajar, materi dan waktu belajar itu sendiri. Memiliki toleransi yang besar atas kendala-kendala yang dihadapi siswa baik itu secara emosional maupun mental.

4. Untung Rugi Homeschooling.


Kelebihan homeschooling: Customized, sesuai kebutuhan anak dan kondisi keluarga. Lebih memberikan peluang untuk kemandirian dan kreativitas individual yang tidak didapatkan dalam model sekolah umum. Memaksimalkan potensi anak sejak usia dini, tanpa harus mengikuti standar waktu yang ditetapkan di sekolah. Lebih siap untuk terjun di dunia nyata (real world) karena proses pembelajarannya berdasarkan kegiatan sehari-hari yang ada di sekitarnya. Kesesuaian pertumbuhan nilai-nilai anak dengan keluarga. Relatif terlindung dari paparan nilai dan pergaulan yang menyimpang (tawuran, drug, konsumerisme, pornografi, mencontek, dsb). Kemampuan bergaul dengan orang tua dan yang berbeda umur (vertical socialization). Biaya pendidikan dapat menyesuaikan dengan keadaan orang tua. Kekurangan homeschooling: Butuh komitmen dan keterlibatan tinggi dari orang tua Sosialisasi seumur (peer-group socialization) relatif rendah. Anak relatif tidak terekspos dengan pergaulan yang heterogen secara sosial. Ada resiko kurangnya kemampuan bekerja dalam tim (team work), organisasi, dan kepemimpinan. Perlindungan orang tua dapat memberikan efek samping ketidakmampuan menyelesaikan situasi sosial dan masalah yang kompleks yang tidak terprediksi.

5. Legalitas Homeschooling.
Sebenarnya negara melalui berbagai perundang-undangan yang ada telah menjamin hak warganegara untuk mendapatkan pendidikan , termasuk didalamnya homescholing sebagai salah satu metode mendapatkan pendidikan bagi anak. Hal ini dapat dilihat pada :

Undang Dasar Negara Republik Indonesia 1945 mengamanatkan pentingnya pendidikan nasional. Antara lain yaitu pada kandungan pasal berikut : 1. Pasal 31, UUD 1945 Ayat (1) Ayat (2) : Setiap warga negara berhak mendapatkan pendidikan : Setiap warga negara wajib mengikuti pendidikan dasar dan pemerintah wajib membiayainya 2. Pasal 4, UU No. 20/2003 tentang Sistem Pendidikan Nasional "Pendidikan diselenggarakan dengan prinsip-prinsip cara menyelenggarakan, bentuk penyelenggaraan, dan pelaksanaan tertentu." Pendidikan diselenggarakan secara demokratis, berkeadilan, tidak diskriminatif dengan menjunjung tinggi HAM, serta nilai-nilai keagamaan, cultural, dan kemajemukan. Bentuk penyelenggaraannya adalah berupa : Satu kesatuan sistemik dengan system terbuka dan multi-makna; dan Dalam system terbuka yang memberikan fleksibilitas pilihan dan waktu penyelesaian program lintas satua dan jalur pendidikan (multi entry multi exit system). Pendidikan multi makna berorientasi pada pembudayaan, pemberdayaan, pembentukan watak dan kepribadian, dan berbagai kecakapan hidup. 3. Pasal 5, UU No. 20/2003 tentang Sistem Pendidikan Nasional 1. Setiap warga negara mempunyai hak yang sama untuk memperoleh pendidikan yang bermutu 2. Warga negara yang memiliki kelainan fisik, emosional, mental, intelektual, dan/atau sosial berhak memperoleh pendidikan khusus. 3. Warga negara di daerah terpencil atau terbelakang serta masyarakat adat yang terpencil berhak memperoleh pendidikan layanan khusus. 4. Warga negara yang memiliki potensi kecerdasan dan bakat istimewa berhak memperoleh pendidikan khusus. 4. Pasal 27, UU No. 20/2003 tentang Sistem Pendidikan Nasional. Ayat (1) Kegiatan pendidikan informal yang dilakukan oleh keluarga dan lingkungan berbentuk kegiatan belajar secara mandiri. Ayat (2) Sekolah rumah pada dasarnya dapat dibedakan menjadi dua, yaitu : Sekolah rumah tunggal merupakan layanan pendidikan yang dilakukan oleh orang tua/wali terhadap seorang anak atau lebih terutama di rumahnya sendiri atau di tempat-tempat lain yang menyenangkan bagi peserta didik. Sekolah rumah majemuk merupakan layanan pendidikan yang dilakukan oleh para orang tua/wali terhadap anak-anak dari suatu lingkungan yang tidak selalu bertalian dalam keluarga, yang diselenggarakan di beberapa rumah atau di tempat/fasilitas pendidikan yang ditentukan oleh suatu komunitas pendidikan yang dibentuk atau dikelola secara lebih teratur dan terstruktur.

6. Tokoh Masyarakat yang Homeschooling. http://www.thebestcolleges.org/the-worlds-15-most-extraordinary-homeschoolers/


KH. Agus Salim, Ki Hajar Dewantara, dan Buya Hamka