Anda di halaman 1dari 22

PERENCANAAN TATA LETAK PABRIK

MODUL 13 MATERIAL FLOW

Dosen Ir. Fajar Kurniawan, M.Si

JURUSAN TEKNIK INDUSTRI FAKULTAS TEKNOLOGI INDUSTRI

UNIVERSITAS MERCU BUANA MODUL 13


MATERIAL FLOW

A. Tujuan Instruksional Setelah kuliah selesai mahasiswa diharapkan dapat membuat Material Flow B. Materi Pembahasan Pemindahan Bahan
Material Flow 1. DEFINISI DAN PENGERTIAN UMUM PEMINDAHAN BAHAN Pemindahan bahan atau material (material handling) adalah suatu aktivitas yang sangat penting dalam kegiatan produksi dan memiliki kaitan erat dengan perancangantata letak fasilitas produksi. Aktivitas ini sendiri sebetulnya merupakan aktivitas yag di klasifikasikan non-produktif sebab tidak memberikan nilai apa apa terhadap material atau bahan yang dipindahkan. Disini tidak terjadi perubahan bentuk, dimensi maupun sifat-sifat fisik atau kimiawi dari material yang dipindahkan. Disisi ain justri kegiatan pemmindahan bahan atau material tesebut akan menambah biaya (cost). Istilah material handling sebenarnya kurang tepat kalau di terjemahkan sekedar memindahkan bahan berdasarkan perumusan yang dibuat olih America Material Handling Sociaty (AMHS) pengertian mengenai material handling dinyatakan sebagai seni dan ilmu yang meliputi penanganan (handling), penyimpanan pemindahan (storing) (moving), sekaligus pembungkusan/pengepakan (packaging),

pengendalian (Controlling) dari bahan atau material dengan segala bentuknya. Berikut ada beberapa istilah yang umumnya di jumpai dalam pembahasan mengenai material handling: Transport Adalah pemindahan bahan dalam satuan berat (unit load) atau continers melalui suatu lintasan yang jaraknya lebih dari 5 feet atau sekitar 1,5 meter. Transfer

PUSAT PENGEMBANGAN BAHAN AJAR-UMB

Ir.Fajar Kurniawan, M.Si. PERC. TATA LETAK PABRIK

Adalah pemindahan bahan melalui lintasan yang jaraknya kurang dari 5 feet atau sekitar 1,5 meter Bulk Material Yaitu bahan atau material yang dalam pemindahan tidak memerlukan bag, barrel, bottle, can, drum, dan lain lain. Unit load Menunjukan sejumlah packaged unit tertentu yang bisa di muat dalam skid box, pallets, dan lain lain. Rehandle Adalah aktivitas penurunan muatan yang ada dalam pallets, box, skid, dan lain lain. Pemindahan barang adalah bagian dari sistem industri yang memberi pengaruh tentang hubungan dan kondisi fisik dari bahan / material atau produk terhadap proses produksi tanpa adanya perubahan perubahan akan kodisi / bentuk material atau produk itu sendiri. Prinsip didalam menetapkan sistem pemindahan bahan yang optimal adalah berdasarkan konsep the best handling is no handling at all. Material handling adalah aliran bahwa yang harus direncanakan dengan secermat-cermatnya sehingga material akan bisa dipindahkan pada saat dan menuju lokasi yang tepat. 2. ATURAN DAN PRINSIP DASAR PERENCANAAN PEMINDAHAN BAHAN Aturan aturan dasar yang harus dipertimbangkan metode pemindahan bahan antara lain : Memindahkan aktivitas pemindahan bahan Perinsip ini menyarankan agar menghindari pemindahan bahan apabila memang tidak begitu diharuskan. Hal ini dilaksanakan dengan cara menghapuskan atau menggabungkan operasi pemindahan bahan dengan mempertimbangkan kemungkinan gerakan bersama antara pekerja dan material. Pemindahan bahan harus direncanakan secara teliti. Proses pemindahan bahan haruslah di pertimbangkan sebagai suatu kontinuitas pemindahan bahan dari luar pabrik menuju kedalam pabrik atau sebaliknya. Dalam perencanaan ini satu perinsip yang harus diperhatikan benar- benar adalah dalam merencanakan

PUSAT PENGEMBANGAN BAHAN AJAR-UMB

Ir.Fajar Kurniawan, M.Si. PERC. TATA LETAK PABRIK

penempatan mesin dan peralatan produksi lainnya haruslah direncanakan sedemikian rupa sehingga jarak diantara operasi yang satu ke operasi lainnya diambil yang paling terdekat dan dapat menghindari gerakan bolak balik (back tracking) Pemilihan yang seksama terhadap prlatan pemindahan bahan yang di butuhkan. Sedapat mungkin dipilih perlatan yang sederhana dan standard, peralatan yang khusus baik dipakai dengan pertimbangan dari segi teknis maupun dari segi ekonomisnya. Penggunaan peralatan pemindahan bahan harus seefektif dan seefisien mungkin. Material harus dapat dipindahkan dengan mudah dan untuk itu sebaiknya perlu di buatkan work container yang khusus. Preventif maintenance dari peralatan harus juga dilaksanakan secara rutin untuk menghindari break down. Prinsip utama dari pendekatan ini adalah ... bahan dalam volume, kuantitas, atau unit material yang sebesar mungkin daripada memisahkan dalam unit unit yang kecil (tidak efisien). Beberapa aturan lain dalam proses pemindahan bahan adalah sebagai berikut : Pemindahan bahan pada dasarnya membutuhkan biaya yang tidak kecil tetapi tidak memberikan nilai tambah pada material atau produk yang dipindahkan tersebut. Material seharusnya dipindahkan melalui lintasan yang lurus dan pendek bilamana dimungkinkan. Kelompokan aktivitas aktivitas pemindahan bahan dan eliminir sejauh hal ini dimungkinkan. Pertimbangan untuk sebaiknya memindahkan operator dari pada materialnya. Pemindahan secara mekanis adalah yang terbaik untuk di pergunakan tetapi jika secara manual hal ini dianggap kurang praktis dan efektif untuk dilaksanakan (disamping faktor keselamatan kerja). Pergunakan lintasan pemindahan bahan lewat atas (air light atau overhead space) bilamana hal ini di mungkinkan untuk bisa dilaksanakan. Dan lain-lain Dari beberapa aturan tersebut maka pertimbangan pertimbangan tentang aktivitas pemindahanbahan ini akan dilakkan utnuk kemudian bisa ditetapkan metode pemindahan bahan yang optimal. Satu hal yang pantas untuk selalu di ingat adalah bahwa aliran bahan pada dasarnya merupakan aliran uang (cash flow), sehingga

PUSAT PENGEMBANGAN BAHAN AJAR-UMB

Ir.Fajar Kurniawan, M.Si. PERC. TATA LETAK PABRIK

terhentinya material pada suatu tempat akan merupakan inventory dan hal tersebut membutuhkan biaya yang tidak kecil. Untuk itu harus terus dijaga agar material selalu bergerak dinamis, sehingga sistem produksi bisa pula berlangsung secara kontinu dari sejak awal sampai ke akhir proses. 3. DASAR PEMILIHAN METODE DAN PERALATAN PEMINDAHAN BAHAN Perencanaan dan penyelesaian masalah pemindahan bahan memerlukan banyak data atau informasi yang berdasarkan survei pabrik yang antara lain. A. FAKTOR FAKTOR PENGGUNAAN PABRIK (PLANT FACTORS) Disini terutama harus di survei adalah kondisi dari bangunan pabrik yang meliputi antara lain data mengenai : Ukuran bangunan (building size) Jarak antara masing masing kolom penyangga bangunan pabrik yang ada. Lebar jalan lintasan (aisle) baik yang merupakan jalan lintasa utama ataupun jalan lintasan interen departemen. Kapasitas menahan beban dari lantai, kolom, dan lain lain. Tinggi langit langit, instalasi perpipaa, jaringan kabel listrik, dan lain lain.

B. FAKTOR FAKTOR METODE KERJA (METHOD FACTORS) Disini terutama diusahakan untuk mendapatkan beberapa data yang antara lain mencakupi : Macam mesin dan peralatan yang dipergunakan untuk proses produksi. Prinsip kerja dari masing masing mesin dan peralatan proses produksi tersebut. Metode dan urutan proses pengerjaan yang berlangsung.

C. PRODUK DAN BAHAN Disamping kedua data tersebut diatas maka pemilihan kapasitas daripada pesawat pengangkat yang akan dipergunakan juga di dasarkan pada informasi data mengenai produk atau material yang hendak dipindahkan, yaitu meliputi data mengenai : Dimensi ukuran dari material atau produk hendak dipindahkan. Berat material atau produk

PUSAT PENGEMBANGAN BAHAN AJAR-UMB

Ir.Fajar Kurniawan, M.Si. PERC. TATA LETAK PABRIK

Karakteristik khusus yang di miliki oleh material atau produk tersebut.

D. METODE PEMINDAHAN BAHAN YANG ADA Disini survey ditujukan untuk mencari data mengenai jenis peralatan pemindahan bahan yng sedang dipergunakan dan kemudian berdasarakan data ini dilakukan evaluasi mengenai perlu tidaknya diadakan perubahan ataupun pesawat pengangkat. E. METODE PEMINDAHAN BAHAN YANG DIUSULKAN Langkah ini adalah merupakan proses memilih, menyeleksi, ataupun mengevaluasi berbagai macam alternatif pesawat pengangkat yang cocok dipergunakan berdasarkan data teknis yang telah disurvei sebelumnya. F. DATA-DATA DAN ANALISA EKONOMIS Setelah lima langkah tersebut diatas selesai dilaksanakan, maka langkah terakhir yang harus dilakukan adalah membuat evaluasi dan analisa biaya yang harus dikeluarkan untuk peralatan ini. Analisa ekonomi ini pada dasarnya dilakukan dengan memperhatikan beberapa data tentang first cost, depresiasi, direct labor cost, biaya untuk perawatan, biaya untuk energi/listrik, pajak, asuransi dan lainlain. Peralatan pemindahan bahan baku banyak pengaruhnya terhadap kecepatan pemindahan bahan, biaya operasi, dan juga efisiensi total dari seluruh unit unit proses manufakturing. Untuk itu material handling equipment yang dipilih seharusnya juga mempunyai sifat fleksibilitas yang tinggi, yaitu kemampuan untuk menghadapi jenis produk atau bahan yang bermacam macam yang bisa disebabkan kemungkinan adanya perubahan jenis produk atau bahan baku yang harus dibuat atau penambahan jumlah / volume produk dimasa mendatang. Pemilihan peralatan pemindahan bahan juga dapat diklasifikasikan pada gerakan dasar perpindahan yang akan dilakukan oleh peralatan tersebut. Gerakan perpindahan ini dapat dibedakan atas : Lintasan tetap atau fleksibel Gerakan perpindahan yang terputus putus atau kontinu.

PUSAT PENGEMBANGAN BAHAN AJAR-UMB

Ir.Fajar Kurniawan, M.Si. PERC. TATA LETAK PABRIK

Jarak lintasan perpindahan jauh dan dekat. Perpindahan bahan diselenggarakan didalam atau diluar pabrik Gerakan perpindahan arah vertikal, horizontal, membentuk sudut, atau merupakan kurva.

Mengenai peralatan untuk pemindahan bahan ada empat tipe dasar yang umum di ketahui : 1. Peralatan pemindahan bahan dengan lintasan tetap Peralatan tipe ini disebut pula sebagai gravity atau powered devices dan umumnya digunakan untuk memindahkan beban-beban yang uniform secara kontinu dari suatu lokasi ke lokasi lainnya melalui lintasan tetap. Fungsi utama peralatan tipe ini adalah membawa (convery) bahan atau produk yang ada dan termasuk dalam kelompok peralatan ini adalah conveyor dengan segala tipe / modelnya, monorail dan railroad systems, elevators, skip hoists, piping, duct systems, dan lain lain peralatan pemindahan bahan yang secara permanen terpasang sesuai dengan lintasan yang harus dilaluinya. 2. Peralatan pemindahan bahan untuk area terbatas Adalah suatu overhead devices yang umumnya digunakan untuk menggerakkan atau memindahkan bermacam macam beban secara berganti ganti, tidak kontinu (intermitten), diantara beberapa lokasi dalam suatu area. Fungsi utama dari perlatan ini adalah untuk memindahkan (transfer) benda kerja dan biasanya lokasinya tetap serta bergerak melintasi rel dalam area kerja yang terbatas, termasuk dalam kelompok peralatan ini ialah bridge & jib cranes, cable & boom systems, gantry cranes, dan lain-lain peralatan pemindahan bahan yang secara flexibel dapat beroperasi dalam area kerja terbatas 3. Peralatan pemindahan material yang bergerak bebas (mobile) Adalah suatu hand atau powered vehicles (non higway) yang dipergunakan untuk memindahkan beban baik yang uniform ataupun tidak secara berganti ganti dan tidak kontinu melalui berbagai macam jalan lintasan. Fungsi utama dari peralatan tipe ini ialah manuvering atau transporting benda kerja dan bergerak sepanjang jalan lintasan (aisles). Termasuk dalam kelompok peralatan ini forklift truck, skid truck, tractors & trailers, pedestrian power trucks, dan lain lain. Industrial vehicles yang dirancang untuk pemakaian didalam maupun diluar pabrik. 4. Perlengkapan bantu pemindahan/penyimpanan bahan.

PUSAT PENGEMBANGAN BAHAN AJAR-UMB

Ir.Fajar Kurniawan, M.Si. PERC. TATA LETAK PABRIK

Adalah peralatan yang umum dipergunakan bersama-sama dengan peralatan pemindahan bahan dan dimaksudkan untuk membuat lebih efektifnya aktivitas pemindahan bahan yang diinginkan. Termasuk pula disini jenis pesawat angkat yang umumnya dipergunakan di dalam gudang (storage) untuk keperluan penyimpanan atau pengambilan stock, termasuk dalam kelompok in antara lain hand trucks, hand jacks, casters dollies, chain hoist, power pullers, dock plates, pallets, skid boxes, scales, racks, bins shelves, dan lain-lain. Banyak faktor yang harus diperhatikan didalam proses pemilihan peralatan material handling baik menyangkut masalah teknis maupun masalah ekonomisnya. Satu hal yang penting dan harus diperhatikan pula ialah pada saat merencanakan peralatan pemindahan bahan yang akan diterapkan hendaknya selalu dkaitorientasikan dengan perencanaan tata letak pabriknya. 4. JALAN LINTASAN (AISLE) : ARTI DARI KEGUNAANNYA DIDALAM PROSES KOMUNIKASI SERTA PEMINDAHAN BAHAN. Jalan lintasan atau aisle dalam pabrik di pergunakan terutama untuk dua hal yaitu komunikasi dan transportasi. Perencanaan yang baik dari pada jalan lintasan ini akan banyak menentukan proses gerakan perpindahan dari operator, bahan, ataupun peralatan produksi dari satu lokasi ke lokasi lain. Dengan demikian maka lintasan ini dalam pabrik akan di pergunakan antaara lain untuk hal-hal seperti ini: Material handling Gerakan perpindahan operator Finished goods product handling Pembuangan scrap dan limbah industri lainnya Pemindahan peralatan produksi untuk pergantian baru maupun untuk perawatan Kondisi-kondisi darurat semacam kebakaran, dan lain-lain. Didalam penentuan lokasi dari jalan lintasan ini maka akan di jumpai dua macam problem utama, yaitu : Penempatan lokasi lintasan Lebar lintasan

PUSAT PENGEMBANGAN BAHAN AJAR-UMB

Ir.Fajar Kurniawan, M.Si. PERC. TATA LETAK PABRIK

Kedua hal tersebut diatas akan banyak mempengaruhi segi-segi ekonomis pembiayaanya. Disamping masalah penentuan lokasi dan lebar dari jalan lintasan ini, satu hal yang harus diperhatikan yaitu macam gerak perpindahan apa yang umum terdapat dalam jalan lintasan yang dibuat. Pada dasarnya ada dua macam jalan lintasan yang umum yang dijumpai dalam suatu pabrik yaitu, jalan lintasan utama (main aisle) dan jalan lintasan intern departemen (departemental aisle), jalan lintasan terutama sekali dipakai ntuk lalu lintasan perpindahan bahan dari satu depertement ke departement lainnya, sedangkan jalan lintasan intern terutama sekali dipergunakan untuk gerakan pepindahan bahan di dalam departement itu sendiri. Lokasi dari jalan lintas utama diatur dengan memperhatikan letak daripada kolom bangunan pabrik dan umumnya akan membagi pabrik dalam luasan yang sama. Suatu pabrik umumnya mempunyai sekurang-kurangnya satu lintasan utama yang ditempatkan pada dekat tengah-tengah bangunan dan mempunyai sekitar 3 sampai 7 meter, tergantung pada kebutuhan dan luas pabrik yang ada.Jalan lintasan utama ini selalau diusahakan selurus mungkin bentuknya. Didalam pererncanaan lebarnya, maka frekuensi perpindahan dari personil, bahan, dan peralatan pemindahan bahan harus benar-benar diperhatikan. Berikut ini dapat dilihat standard lebar dari jalan lintasan yang direkomendasikan untuk dipakai dengan mengingat macam lalu lintas yang akan melewatinya: Lebar beban / bahan yang melintasi (Meter) 0,75 1,5 1,5 3,00 3,00 -

Macam lalu lintas Hanya orang yang bergerak melintas dalam dua arah Jalan lintasan antar departemen yang akan dilewati orang dan kereta dorong (2 roda), satu arah dan tidak bisa untuk putar balik Truk pengiriman barang dimana orang harus bergerak mengelilingi truk saat melakukan kegiatan Jalan lintas satu arah yang dilewati forklift trucks Jalan lintas dua arah yang dilewati forklift trucks Jalan lintas dua arah yang dilewati tractor-trailer trains Jalan lintas dua arah yang dilewati mobil crane atau truck besar

Lebar jalan lintasa n (Meter) 1,00 1,50 2,0 2,25 4,5 4,5 5,00

PUSAT PENGEMBANGAN BAHAN AJAR-UMB

Ir.Fajar Kurniawan, M.Si. PERC. TATA LETAK PABRIK

5. BEBERAPA ASPEK TUJUAN POKOK KEGIATAN PEMINDAHAN BAHAN Sudah dijelaskan sebelumnya bahwa aktivitas pemindahan bahan pada dasarnya tidaklah memberi nilai tambah apa-apa karena disini tidak tidak terjadi perubahan material yang dipindahkan dalam kegiatan ini. Kegiatan material handling merupakan kegiatan service secara penuh yang tentu saja akan membutuhkan biaya dan ikut mempengaruhi struktru biaya produksi. Dari hak tersebut maka aktivitas material handling ini juga merupakan salah satu area yang harus selalu diawasi, dikontrol, dan diperbaiki. Bilamana sistem material handling dalam suatu industri akan diperbaiki, maka hal tersebut akan menuju pada sasaran-sasaran pokok sebagai berikut : a. MENAMBAH KAPASITAS PRODUKSI Material handling equipment akan merupakan fasilitas produksi yang vital diiperlukan sehingga selalu diusahakan pendayagunaanya secara efisien dan efektif guna menaikkan kapasitas kerjanya. Peningkatan kapasitas kerja dari peralatan material handling bisa ditempuh lewat cara-cara: Menambah produktivitas kerja per man-hour Meningkatan efisiensi mesin atau peralatan material handling dengan mereduksi down time Menjaga kelancaran aliran kerja dalam pabrik dengan jalan tidak membiarkan terjadinya idle atau tumpukan material Memperbaiki kontrol kegiatan produksi melalui penjadwalan produksi yang terencana baik dan pengawasan yang ketat. b. MENGURANGI LIMBAH BUANGAN (WASTE) Faktor penting yang sering terabaikan adalah mengurangi kesalahan-kesalahan material handling yang bisa menyebabkan kerusakan-kerusakan material yang dipindahkan sehingg menjadi limbah buangan (waste). Untuk menghindari timbulnya

PUSAT PENGEMBANGAN BAHAN AJAR-UMB

Ir.Fajar Kurniawan, M.Si. PERC. TATA LETAK PABRIK

10

material terbuang (waste) dalam jumlah besar yang diakibatkan aktivitas material handling yang tidak benar maka harus diperhatikan hal-hal berikut: Eliminasi kerusakan material dengan melaksanakan pemindahan material secara hati-hati selama proses berlangsung. Fleksibiltas untuk memenuhi ketentuan-ketentuan khusus yang disyaratkan untuk memindahkan material ditinjau dari sifat karakteristiknya. c. MEMPERBAIKI KONDISI AREA KERJA (WORK CONDITIONS) Faktor ini bisa mendatangkan manfaat terhadap peningkatan produktivitas dan tentu saja membantu mengurangi biaya. Material handling yang lebih baik akan dapat dicapai melalu usaha-usaha seperti : d. Mejaga kondisi area kerja yang nyaman dan aman Mengurangi factor kelelahan dari operator Memperbaiki perasaan nyaman bekerja bagi operator Memotivasi pekerja untuk mau bekerja lebih produktif lagi. MEMPERBAIKI DISTRIBUSI MATERIAL Kegiatan material handling juga meliputi seluruh kegiatan yang berkaitan dengan mendistribusikan produk akhir (finished goods product) secepat-cepatnya untuk sampai ke tangan pelanggan yang membutuhkan yang mana hal ini tentunya akan memberi efek langsung ke harga jual produknya, kegiatan material handling dalam hal ini berkepentingan dengan sasaran : e. Mengurangi kerusakan dalam proses pemindahan atau pengiriman Memperbaiki rute pemindahan yang harus ditempuh Memperbaiki fasilitas pergudangan dan cara penguatannya. Menambah efisiensi kerja dalam proses shipping dan receiving. MENGURANGI BIAYA Pengurangan biaya disini tentu saja diartikan sebagai pengurangan biaya secara total, tidak sekedar mengurangi biaya di satu sektor tapi akan memberikan di sektor lainnya. Tujuan pengurangan biaya ini akan bisa dicapai melalui cara-cara seperti : Menambah produktivitas kerja Mengurangi dan mengendalikan invetorie

PUSAT PENGEMBANGAN BAHAN AJAR-UMB

Ir.Fajar Kurniawan, M.Si. PERC. TATA LETAK PABRIK

11

Pemanfaatan luas area untuk hal lain Mengurangi kegiatan pemindahan dalam bentuk gerakan-gerakan yang tidak efisiean dengan cara merencanakan rute pemindahan secara lebih teliti sebelumnya.

6.

PENGARUH PEMINDAHAN BAHAN TERHADAP PERENCANAAN TATA LETAK PABRIK Plan lay out adalah suatu aktivitas desain yang berkaitan dengan tanggung

jawab dalam pengaturan lokasi dari setiap fasilitas manufaktur baik yang berhubungan langsung dengan proses produksi maupun yang berhubungan dengan fungsi layanan (service). Desain lay out akan memiliki pengaruh kuat didalam menentukan biaya dan tingkat efisiensidari sistem material handling yang diaplikasikan di bandingkan dengan desain lainnya. Dengan demikian pada saat perencanaan lay out suatu pabrik pada saat itu pula secara bersamaan juga dipikirkan desain fasilitas material handling yang akan diaplikasikan. Perlu dicamkan benar-benar bahwasanya sekali pabrik telah berdiri, layout fasilitas produksinya sudah ditetapkan dan mesin serta peralatan produksi lainnya sudah terpasang, maka disaat itu pula akan tipis kemungkinaanya kita bisa memperbaiki metode material handling bahkan hampir tidak ada kesempatan lagi untuk mengeliminir operations yang sedang berlangsung. Pertimbangan faktor material hadling baik metode maupun peralatan yang akan dipakai, jelas harus selalu diperhatikan pada saat kita membuat desain layout pada awalnya. Sekali kita keliru maka seterusnya kita akan menjalankan kekeliruan tadi sampai ada kesempatan untuk merombak sama sekali layout yang eksist. Untuk membantu mereka yang bertugas untuk mendesain layout, maka data berikut ini bisa dipakai sebagai petunjuk-petunjuk secara garis besar tentang material handling : Material handling data (jenis material yang dipindahkan, bentuk dimensi, berat, sifat/karakteristik, dan lain-lain) harus bisa dikumpulkan secara lengkap, karena data ini akan sangat bermanfaat pada saat merencanakan preliminary layout. Frekuensi gerak perpindahan material berapa kali suatu material harus dipindahkan kesuatu tempat dan pada saat-saat tertentu harus diketahui, demikian pula jarak perpindahannya. Kapasitas dan kemampuan dari setiap aspek yang berkaitan dengan sistem material handling harus dievaluasi.
Ir.Fajar Kurniawan, M.Si. PERC. TATA LETAK PABRIK

PUSAT PENGEMBANGAN BAHAN AJAR-UMB

12

Jadwal perencanaan kerja (produksi)dan inventory harus di buat dan di ketahui Aisles dan luas area untuk truck, conveyors, cranes, elevators, dan peralatan material handling lainnya yang dibutuhkan harus dialokasikan didalam penetapan luas area pabrik yang diperlukan. Alokasi luasan ini tentu saja akan didasarkan pada volume dan arah perpindahan material yang direncanakan.

Receiving, storage, dan shipping facilitas harus di rencanakan secara tepat dan disarankan utnuk mampu menangani kapasitas kerja yang lebih besar dari ratarata yang ada.

Pengoperasian kegiatan material handling harus dibawah pengawasan Gudang (Storage) baik untuk material ataupun suplies harus dialokasikan sedemikian rupa hingga tidak menimbulkan kemacetan-kemacetan pada saat operasi berjalan. Hal ini terutama sekali ditujukan untuk in proces storage.

Semua data yang ada ini harus selalu diamati, dievaluasi dan dilakukana koreksikoreksi, seperlunya bilamana suatu saat perencanaan produksi atau inventory akan berubah. Operasional kegiatan material handling hanya akan efektif dan efisien bilamana

kondisi fisik dari layout yang dirancang tadi kemungkinannya. Banyak faktor dapat memberi konstribusi ke arah kegiatan handling yang sia-sia, sepertinya dengan lebar aisle yang tidak efisien dan layak atau kapasitas storage yang tidak memenuhi syarat, dan lain-lain. Semua ini seringkali terjadi begitu layout dan bangunan pabrik telah didirikan. Material handling akan dapat membantu dan memberi manfaat yang besar bagi perencanaan layout pabrik bilamana aturan-aturan tersebut dibawah ini diikuti dengan seksama. a. PERENCANAAN MENYELURUH (PLAIN COMPREHENSIVELY) Suatu survey yang menyeluruh terhadap kegiatan operasional dalam hal ini perlu dibuat, pengetahuan yang luas mengenai segala pesyaratan dan karakteristik operasional dari setiap proses yang ada akan membantu mengatasi probelem yang mungkin terjadi, sebagai contoh bilamana terpengaruh instalansi suatu proses bisa memberi problem handling pada operasi ditempat lain. Pemahaman kegiatan operasional secara menyeluruh juga akan menghindarkan kita dari masalah-masalah bottleneck karena ketidakseimbangan waktu kerja diantara masing-masing proses yang ada.

PUSAT PENGEMBANGAN BAHAN AJAR-UMB

Ir.Fajar Kurniawan, M.Si. PERC. TATA LETAK PABRIK

13

b.

RENCANAKAN RUTE PERPINDAHAN SELURUS MUNGKIN (STRAIGHT LINE) Konsep dasar dari plant layout yang baik adalah mengusahakan aliran material untuk berpindah secara smooth dan efektif. Minimalisasi jumlah ( frekewensi) perpindahan dan juga jarak tempuhya akan merupakan faktor pokok yang ingin dicapai. Disini juga sedapat mungkin dihindari terjadinya gerakan perpindahan balik (back-tracking), gerakan saling memotong (cross-hauls) dan lain-lain gerakan perpindahan yang tidak perlu.

c.

KOMBINASIKAN KEGIATAN HANDLING DENGAN PROCESSING BILAMANA DALAM PRAKTEKNYA MEMUNGKINKAN Dalam perakteknya bisa dilakukan maka pada saat perpindahan material terjadi, disaat itu pula suatu proses dilangsungkan. Disini tentu saja harus disediakan service yang selalu siap sewaktu-waktu aliran material harus dihentikan.

d.

PERTIMBANGKAN FAKTOR-FAKTOR BERIKUT PADA SAAT MENDESAIN LAYOUT UNTUK AREA SHIPPING DAN RECEIVING Disini area yang cukup, lokasi yang tepat, pemilihan material handling equipment yang cocok akan merupakan faktor pokok yang harus dipertimbangkan pada saat kita akan mendesain layout area shipping dan receiving hal lain juga harus dievaluasi seperti, checking, weighing, receiving inspection, local unitizaling, pengaturan distribusi, perubahan jadwal, dan lainnya.

e.

PERTIMBANGAN FAKTOR-FAKTOR BERIKUT PADA SAAT MENDESAIN LAYOUT STORAGE gedung relatif terhadap area shipping-receiving production area, pengaturan didalam warehouse, rate of stock turn over, kapasitas maksimum

f.

PERTIMBANGAN

FAKTOR-FAKTOR BERIKUT PADA SAAT MENDESAIN

LAYOUT UNTUK AREA PRODUKSI Faktor-faktor yang harus di pertimbangkan disini antara lain meliputi jumlah / frekuensi handling sekecil mungkin, aliran material teknik terbaik yang dimungkinkan, mengurangi work in process, kecupukan jalan lintas (aisles) untuk pelaksanaan material handling, ketepatan pemilihan metode dan penggunaan peralatan material handling, standarisasi containers yang dipakai, dan lainnya. 7. ASPEK ASPEK BIAYA PEMINDAHAN BAHAN (MATERIAL HANDLING COST)

PUSAT PENGEMBANGAN BAHAN AJAR-UMB

Ir.Fajar Kurniawan, M.Si. PERC. TATA LETAK PABRIK

14

Secara umum biaya material handling akan terbagi atas tiga klasifikasi : Biaya yang berkaitan dengan transportasi raw material dari sumber asalnya menuju pabrik dan pengiriman finished goods product ke customer yang membutuhkannya. Biaya transportasi disini merupakan fungsi yang berkaitan lansung dengan pemilihan lokasi pabrik dengan memperhatikan tempat dimana sumber material berada serta lokasi pada tujuannya. In-plant receiving and storage, yaitu biaya-biaya diperlukan untuk gerakan perpindahan material dari proses satu ke proses berikutnya, Warehousing serta pengiriman produk akhirnya. Handling materials yang dilakukan oleh operator pada mesin atau peralatan kerjanya serta proses perakitan yang berlangsung diatas meja perakitan. Didalam usaha menganalisa material handling costs, maka faktor-faktor berikut ini sudah seharusnya di perhatikan : a. MATERIALS Harga pembelian dari mesin/peralatan. Biaya seluruh material yang dipergunakan Maintenance cost dan repair-part inventory Biaya utnuk oli Biaya untuk peralatan bantu (pelengkap) Biaya instalansi, termasuk disini seluruh material dan biaya upah pekerja dan pengaturan kembali. b. SALARY & WAGES c. Direct labor cost (seluruh personil yang terlibat didalam pengoprasian peralatan material handling) Training cost utnuk menjalankan peralatan material handling tersebut. Indirect labor cost (staff & service departements) dan lainnya

FINANCIAL CHARGES Interest untuk investasi peralatan material handling. Biaya asuransi, property taxes, depresiasi, dan lainnya.

PUSAT PENGEMBANGAN BAHAN AJAR-UMB

Ir.Fajar Kurniawan, M.Si. PERC. TATA LETAK PABRIK

15

Untuk mengurangi biaya-biaya material handling maka berikut ini diberikan beberapa hal yang sekiranya akan mempengaruhi biaya material handling dan untuk itu harus dicegah/dikoreksi sesegera mungkin :

a.

IDLE MACHINE TIME Machine down time akan berarti penurunan produktivitas kerja dan tentu saja akan berarti yang terbuang, bilamana mesin bekerja pelan atau berhenti sama sekali karena aliran material tidak lancar atau suplay material terlambat, maka hal ini bisa dikatakan sebagai ketidak efisienan pemakaian facilitas material handling.

b.

PRODUCTION BOTTLENECKS Suatu interupsi terhadap aliran produksi akibat keterlambatan material akan dapat menghentikan seluruh proses produksi (khususnya untuk continus industry)

c.

REHANDLING MATERIAL Setiap kali suatu item harus ditangani, digerakan atau dipindahkan maka hal ini berarti akan membutuhkan biaya. Teknik material handling seharusnya direncanakan dengan sebaik-baiknya sehingga akan bisa mengurangi ferkwensi pemindahan material.

d.

EXCESSIVE MAINTENANCE Biaya maintenance untuk peralatan materaial handling atau berarti dua kehilangan yang kita peroleh, yaitu waktu dan material yang dipakai untuk perawatan (corrective action) ditambah dengan waktu yang hilang dari penggunaan peralatan itu sendiri. Aplikasi yang kurang tepat dari peralatan material handling akan menyebabkan hal-hal seperti yang diuraiakan tersebut

e.

INEEFICIENT USE OF LABOR Pekerja bagian operator produski dibayar untuk bekerja menghasilkan produk yang dikendaki. Setiap saat waktu yang mereka miliki ternyata dipakai untuk kegiatan material handling, maka akan terjadi kehilangan kesempatan untuk melakukan hal-hal yang produktif.

f.

LARGE INVENTORIES Inventori pada dasarnya akan membutuhkan modal dan memerlukan fasilitas pergudangan yang sesuai. Biasanya semakin efisien perencanaan sistem material handling akan semakin efisien pula kebutuhan inventorinya.

PUSAT PENGEMBANGAN BAHAN AJAR-UMB

Ir.Fajar Kurniawan, M.Si. PERC. TATA LETAK PABRIK

16

g.

DAMACED MATERIAL Kerusakan material akibat handling seringkali menimbulkan biaya yang besar, untuk itu pemilihan metode dan peralatan material handling yang tepat akan dapat mencegah kerusakan-kerusakan karena handling ini.

h.

DEMURRACE Bilamana fasilitas material handling dibiarkan saja idle untuk beberapa lama, mak ekstra cost akan keluar sia-sia akibat hal tersebut. Penggunaan peralatan material handling secara efisien akan membantu mengatasi permasalahan ini.

i.

INEFFICIENT USE OF EQUIPMENT Industrial material handling equipment pada dasarnya membutuhkan biaya baik untuk investasinya maupun aplikasinta (operasional). Bilamana suatu peralatan material handling yang bernilai Rp 1000, per jam yang digunakan untuk pekerjaan pemindahan material yang sesungguhnya mampu untuk ditangani oleh peralatan senilai Rp 5000, per jam maka dalam hal ini kerugian yang dihadapi jelas nampak. Material handling equipment seharusnya dipilih menurut efektivitasn fungsional dan tingkat efisiensi yang tinggi.

8.

PEMINDAHAN BAHAN DAN UPAYA PENINGKATAN PRODUKTIVITAS Defininsi umum produktivitas adalah rasio input output. Didunia industri

pengertian .mengenai produktivitas ini dinyatakan sebagi rasio dari biaya incoming materials per biaya finished goods product yang dihasilkan. Biaya incoming materials biasanya disini ditentukan oleh suplier materials yang bersangkutan, sedangkan biaya dari proses produksia akan tergantung pada desain dan kemampuan dari mesin produksinya. Dalam kaitannya dengan aplikasi materials handling maka pengukuran produktivitas kerja materaial handling bisa dinyatakan dalam bentuk rasio. Material handling labor Direct labor handling loss Movement/operations Manufacturing cycle efficiency Space utilization Equipment utilization Aisle space potensial

PUSAT PENGEMBANGAN BAHAN AJAR-UMB

Ir.Fajar Kurniawan, M.Si. PERC. TATA LETAK PABRIK

17

a. MATERIAL HANDLING LABOR RATIO Rasio disini mereprasentasikan jumlah personil yang terlibat dan bertanggung jawab atas kegiatan material handling dibandingkan dengan total tenaga kerja yang ada. Secara umum material handling labor ratio ini dapat diformulasikan sebagai

Personil dalam kegiatan material handling MHL ratio = Total personil yang dioperasikan dalam pabrik Rasio MHL ini akan bisa digunakan untuk menjawab persoalan berikut : Mengontrol pengeluaran dasar untuk kegiatan material handling khususnya yang berkaitan dengan total labor Menentukan kemungkinan perbaikan di dalam pemindahan material menuju dan keluar pabrik serta diantara operasi-operasi yang berlangsung. Mengukur derajat kesuksesan dari setiap perubahan kegiatan material handling dalam arti labor saving. Untuk menghitung rasio UML ini secara teliti, maka pertama kali tentukan jumlah personil yang bidang kerjanya semata-mata hanya melayani kegiatan material handling secara penuh. Tambahkan jumlah personil lain yang tugasnya menunjang aktivitas material handling seperti clerks, supervisors, petugas maintenance peralatan material handling dan lainnya. Total personil ini akan menunjukkan jumlah personil yang bertanggung jawab atas kegiatan material handling yang dalam hal ini merupakan bilangan yang dibagi dalam formula. Bilangan pembagi dalam hal ini secara sederhana adalah jumlah total personil yang ada sesuai dalam daftar gaji. b. DIRECT LABOR HANDLING LOSS RATIO Disini adalah rasio waktu material handling yang hilang disebabkan oleh direct labor terhadap total waktu direct labor yang dipakai kerja, rasio dipakai untuk mengukur waktu efektif dari direct labor yang hilang karena bersangkutan harus melaksanakan pekerjaan-pekerjaan handling materials, padahal waktunya tersebut seharusnya dapat

PUSAT PENGEMBANGAN BAHAN AJAR-UMB

Ir.Fajar Kurniawan, M.Si. PERC. TATA LETAK PABRIK

18

dipakai untuk hal yang lebih produktif, direct labor handling rasio ditunjukan dalam formula sebagai berikut Waktu produktif hilang karena material handling DLHL ratio = Total waktu kerja dari direct labor tersebut Rasio ini berguna untuk mengecheck waktu produktif (yang diharapkan untuk menghasilkan produk) yang hilang pada saat operasi berlangsung karena kegiatan material handling dan untuk itu mencoba mencari kondisi-kondisi yang mampu memberikan material handling yang jauh lebih efektif dan efisien. Umumnya DLHL ratio akan konstan untuk suatu operasi sampai kemudian dilakukan perubahan-perubahan didalam metode kerjanyan. Untuk mencari DLHL ratio ini kita akan tergantung pada pengukuran-pengukuran waktu baku untuk suatu operasi pekerjaan. Berdasarkan data standard yang diperoleh khususnya data waktu yang berkaitan / operasi yang aktif dan yang non-produktif ( dalam hal ini yang dimaksudkan adalah data waktu yang diperlukan untuk kegiatan handling). Selanjutnya kita tinggal membandingkan atau menghitung rasio antara total waktu yang dipakai untuk kegiatan handling dan totoal waktu untuk penyelesaian pekerjaan tersebut. Cara lain menggunakan data waktu standard, maka rasio DLHL ini bisa pula dicari dengna menggunakan metode work sampling. Dengan melakukan observasi secara acak (random). Metode work sampling ini akan bisa memperoleh prosentase waktu yang dipakai pada kegiatan handling dibandingkan dengan kegiatan penyelesaian pekerjaan secara keseluruhan. Dengan mengkonversikan waktu yag hilang karena kegiatan handling (productive works) dengan nilai uang per satuan waktunya, maka kita akan bisa estimasikan berapa uang yang hilang karena elemen-elemen kerja yang tidak aktif ini. Untuk itu tindakan korekstif perlu segera dilakukan.

c.MOVEMENT OPERATION RATIO M/OR ini menunjukan perbandingan antara gerakan-gerakan yang perlu dilakukan pada suatau proses kerja terhadap jumlah operasi yang produktif perlu dilakukan untuk membuat suatu produk. Sebagai contoh, bilamana disini diperlukan 25

PUSAT PENGEMBANGAN BAHAN AJAR-UMB

Ir.Fajar Kurniawan, M.Si. PERC. TATA LETAK PABRIK

19

operasi produktif untuk membuat sebuah produk dan didalam pelaksanaanya tadi material/part harus bergerak pindah dari satu proses ke prosed lainnya sebanyak 125 kali maka rasio akan proses tadi 125 : 25 (atau 5 : 1 ) secara matematis hal ini dapat diformulasikan sebagai berikut: Jumlah gerakan perpindahan material yang terjadi M/O ratio = Jumlah operasi produktif yang dilakukan M/O akan mengukur efisiensi relatif dari suatu perencanaan material handling. Untuk menghitung rasio ini maka kita harus melakukan perhitungan (tally) dari setiap opersi aktif termasuk juga disini kegiatan inspeksi, dan dilain pihak juga dilakukan perhitungan atau tally yang sama untuk setiap gerakan perpindahan material/ parts dari satu lokasi ke lokasi lainnya. Disini gerakan perpindahan tidak usah diperdulikan lagi maka jarak tempuh yang harus dicapai. Tambahkan perhitungan ini dengan jumlah peralatan yang diperlukan untuk memindahkan tools atau suplies (bahan baku pembantu) ini diperlukan bagi kelancaran procuksi. Akhirnya bagi total gerakan perpindahan dengan jumlah operasi kerja produktif yang dilaksanakan untuk memperoleh M/O rasio dicari. d. MANUFACTURING CYCLE EFFICIENCY

MCE adalah rasio dari actual productive time yang diperlukan untuk membuat suatu produk degan total time nya. Dengan kata lain, MCE ini merupakan ukuran dari waktu yang diperlukan untuk membuat suatu produk dalam kondisi nyatanya. Rasio disini akan mengukur efisiensi dari suatu sistem produksi (cat : dalam hal ini tidak semua delays yang dijumpai disebabkan karena kegiatan material handling) Jumlah dari semua waktu untuk kegiatan produksi/operasi MCE ratio = Waktu yang dibutuhkan untuk produksi Cara lain yang dipakai untuk menghitung rasio ini adalah dengan memakai bilangan pembaginya ( denominator) berupa total time diantara kedatangan material di warehouse produknya. dan pengiriman finisihed goods product. Metode ini juga harus mempertimbangkan waktu penyimpanan digudang untuk raw material maupun finished

PUSAT PENGEMBANGAN BAHAN AJAR-UMB

Ir.Fajar Kurniawan, M.Si. PERC. TATA LETAK PABRIK

20

e.

SPACE UTIILIZATION EFFICIENCY

Rasio SUE adalah perbandingan dari volume dari ruangan yang terisi atau termanfaatkan dengan total ruangan yang tersedia. Rasio ini akan mengukur efisiensi penggunaan ruangan yang tersedia. SUE biasanya dipakai untuk menganalisa pemanfaatan ruangan untuk pergudangan dan dilaksanakan secara terus menerus (reguler) untuk ruangan produksi biasanya tidak perlu dilakukan berulang-ulang, karena pada umumnya disini akan cenderung tidak banyak berubah. Rasio ini dapat dihitung dengan formulasi sebagai berikut. Ruangan yang terpakai/termanfaatkan SUE ratio = Ruangan yang tersedian dan bisa digunakan f. EQUIPMENT UTILIZATION RATIO

EUR adalah merupakan perbandingan dari actual output yang bisa dihasilkan dari suatu fasilitas produksi dengan total kapasitas teoritisnya, rasio ini akan mengukur seberapa jauh suatau fasilitas produksi benar-benar sudah dimanfaatkan, dan dapat dihitung dengan fomulasi sebagai berikut : Actual output EU ratio = Theoritcal output Problem utama yang dihadapi untuk menghitung rasio ini adalah didalam menetapkan output teoeritis yang bisa dihasilkan oleh suatu fasilitas produksi. g. AISLE SPACE POTENSIAL RATIO

ASPR adalah merupakan perbandingan antara aisle floor space yang ada dikurangi optimum aisle floor space teoritisnya dengan total aisle floor space yang ada tersebut. Formulasi konkritnya adalah : (current aisle floors space) (theoretical optimum) ASR ratio = Current aisle floor space

PUSAT PENGEMBANGAN BAHAN AJAR-UMB

Ir.Fajar Kurniawan, M.Si. PERC. TATA LETAK PABRIK

21

Tujuan pokonya adalah mengusahakan aisle space seminimum mungkin sehingga aisle

yang ada semaksimal mungkin bisa dipakaiu untuk aktifitas produksi.

Daftar Pustaka Apple, James M. 1977. Tata Letak Pabrik dan Pemindahan Bahan. Edisi ke-3. ITB Bandung W, Sritomo. 1996. Tata Letak Pabrik dan Pemindahan Barang. Edisi ke-3. Guna Widya

PUSAT PENGEMBANGAN BAHAN AJAR-UMB

Ir.Fajar Kurniawan, M.Si. PERC. TATA LETAK PABRIK

22