Anda di halaman 1dari 59

Hasil Avara 20 Juni 2013

DAFTAR INVENTARISASI MASALAH (DIM) PEMERINTAH ATAS RANCANGAN UNDANG UNDANG TENTANG KEPERAWATAN NO. 1 1. RUU KEPERAWATAN USULAN DPR RI 2 RANCANGAN UNDANG-UNDANG REPUBLIK INDONESIA NOMOR ... TAHUN ... TENTANG KEPERAWATAN DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA TANGGAPAN PEMERINTAH 3 Pemerintah mengusulkan perubahan judul Undang-Undang menjadi Keperawatan dan Kebidanan, karena perawat dan bidan berada dalam satu rumpun keilmuan keperawatan, maka diusulkan untuk digabung dalam satu UU, sebagaimana UU Praktik Kedokteran yang menggabungkan dokter dan dokter gigi. USULAN PERUBAHAN 4 RANCANGAN UNDANG-UNDANG REPUBLIK INDONESIA NOMOR ... TAHUN ... TENTANG KEPERAWATAN DAN KEBIDANAN DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA 2. Menimbang: a. bahwa untuk memajukan kesejahteraan umum sebagai salah satu tujuan nasional sebagaimana tercantum dalam Pembukaan Undang-Undang Dasar Negara Republik Indonesia Tahun 1945 perlu diselenggarakan pembangunan kesehatan; TETAP Menimbang: a. bahwa untuk memajukan kesejahteraan umum sebagai salah satu tujuan nasional sebagaimana tercantum dalam Pembukaan Undang-Undang Dasar Negara Republik Indonesia Tahun 1945 perlu diselenggarakan pembangunan kesehatan; b. bahwa penyelenggaraan pembangunan kesehatan diwujudkan melalui penyelenggaraan pelayanan kesehatan termasuk pelayanan keperawatan dan kebidanan; bahwa penyelenggaraan pelayanan keperawatan dan kebidanan harus dilakukan secara bertanggung jawab, akuntabel, bermutu, aman, dan terjangkau oleh perawat dan bidan yang memiliki kompetensi, kewenangan, etik dan moral tinggi;

3.

b. bahwa penyelenggaraan pembangunan kesehatan diwujudkan melalui penyelenggaraan pelayanan kesehatan termasuk pelayanan keperawatan;

Pemerintah mengusulkan penambahan kata dan kebidanan pada kalimat menimbang, menyesuaikan dengan usulan pada DIM nomor 1.

4.

c. bahwa penyelenggaraan pelayanan keperawatan harus dilakukan secara bertanggung jawab, akuntabel, bermutu, aman, dan terjangkau oleh perawat yang memiliki etik dan moral tinggi, sertifikat, registrasi, dan lisensi;

Pemerintah mengusulkan: kata sertifikat, registrasi dan lisensi dihilangkan karena sudah tercakup dalam kata-kata bertanggung jawab, akuntabel dan bermutu. Penambahan kata kompetensi

c.

5.

d. bahwa pengaturan mengenai keperawatan masih tersebar di berbagai peraturan perundang-

Poin ini tidak perlu masuk dalam konsideran menimbang

DIHAPUS

Hasil Avara 20 Juni 2013

NO. 1

RUU KEPERAWATAN USULAN DPR RI 2 undangan yang belum memberikan perlindungan dan kepastian hukum kepada perawat serta masyarakat; e. bahwa berdasarkan pertimbangan sebagaimana dimaksud dalam huruf a, huruf b, huruf c, dan huruf d, perlu membentuk Undang-undang tentang Keperawatan; Mengingat: Pasal 20, Pasal 21, dan Pasal 28C Undang-Undang Dasar Negara Republik Indonesia Tahun 1945; Dengan Persetujuan Bersama DEWAN PERWAKILAN RAKYAT REPUBLIK INDONESIA dan PRESIDEN REPBLIK INDONESIA MEMUTUSKAN: Menetapkan: UNDANG-UNDANG TENTANG KEPERAWATAN BAB I KETENTUAN UMUM Pasal 1 Dalam Undang-Undang ini yang dimaksud dengan: 1. Keperawatan adalah segala aspek yang berkaitan dengan Perawat.

TANGGAPAN PEMERINTAH 3

USULAN PERUBAHAN 4

6.

Poin menyesuaikan sebelumnya.

dengan

sistematika

penulisan

d.

bahwa berdasarkan pertimbangan sebagaimana dimaksud dalam huruf a, huruf b, dan huruf c, perlu membentuk Undang-undang tentang Keperawatan;

7.

TETAP

Mengingat: Pasal 20, Pasal 21, dan Pasal 28C UndangUndang Dasar Negara Republik Indonesia Tahun 1945; Dengan Persetujuan Bersama DEWAN PERWAKILAN RAKYAT REPUBLIK INDONESIA dan PRESIDEN REPBLIK INDONESIA MEMUTUSKAN: Menetapkan: UNDANG-UNDANG TENTANG KEPERAWATAN DAN KEBIDANAN. BAB I KETENTUAN UMUM Pasal 1 Dalam Undang-Undang ini yang dimaksud dengan:

8.

TETAP

9. 10. 11.

Menyesuaikan dengan DIM nomor 1 TETAP TETAP

12.

Pemerintah mengusulkan perubahan definisi keperawatan PAK, Kamis, 20 Juni 2013 berdasarkan definisi-definisi berikut: Dihapus keperawatan adalah diagnosis dan terapi respon manusia terhadap masalah-masalah kesehatan yang sifatnya Catatan: dan kebidanan tidak actual atau potensial (American Nurses Association) Keperawatan didefinisikan, substansinya akan masuk ke ditulis tulisan asli bahasa inggrisnya Nursing encompasses autonomus and collaborative care dalam pasal-pasal. of individuals of all ages, families, groups, and

Hasil Avara 20 Juni 2013

NO. 1

RUU KEPERAWATAN USULAN DPR RI 2

TANGGAPAN PEMERINTAH 3 communities, sick or well and in all settings. Nursing includes the promotion of health, and the care of ill, disables, and dying people (International Council of Nursing) TETAP

USULAN PERUBAHAN 4

13.

1.

Perawat adalah seseorang yang telah lulus pendidikan keperawatan baik di dalam dan di luar negeri yang diakui oleh Pemerintah sesuai dengan peraturan perundang-undangan.

PAK, Kamis, 20 Juni 2013 Tetap. PAK, Kamis, 20 Juni 2013 2. Bidan adalah seseorang yang telah lulus dari pendidikan kebidanan baik di dalam dan di luar negeri yang diakui oleh Pemerintah sesuai dengan peraturan perundang-undangan. PAK, Kamis, 20 Juni 2013 Dihapus. PAK, Kamis, 20 Juni 2013 Dipertimbangkan untuk dihapus.

14.

Pemerintah mengusulkan penambahan satu definisi tentang bidan

15. 16.

3. 4.

Ners adalah gelar yang diperoleh setelah lulus pendidikan profesi Perawat. Pelayanan Keperawatan adalah suatu bentuk pelayanan profesional yang merupakan bagian integral dari pelayanan kesehatan, didasarkan pada ilmu dan kiat keperawatan ditujukan kepada individu, keluarga, kelompok, dan masyarakat baik sehat maupun sakit yang mencakup seluruh proses kehidupan manusia.

Dihapus karena tidak termasuk pembahasan di dalam batang tubuh Pemerintah mengusulkan perubahan pengertian pelayanan keperawatan sesuai dengan naskah akademik keperawatan Indonesia tahun 2011 yaitu pelayanan keperawatan berupa bantuan yang diberikan karena adanya kelemahan fisik dan mental, keterbatasan pengetahuan, serta kurangnya kemauan menuju kepada kemampuan melaksanakan kegiatan sehari-hari secara mandiri dengan lingkup pelayanan keperawatan meliputi pelaksanaan asuhan keperawatan mencakup upaya promotif, preventif, kuratif, dan rehabilitatif, termasuk pemberdayaan masyarakat, serta tindakan komplementer. Perbaikan redaksional

17.

5. Praktik Keperawatan adalah wujud nyata dari Pelayanan Keperawatan yang diselenggarakan oleh Perawat dalam bentuk asuhan keperawatan.

PAK, Kamis, 20 Juni 2013 5. Praktik Keperawatan adalah pelayanan yang diselenggarakan oleh Perawat dalam bentuk asuhan keperawatan. PAK, Kamis, 20 Juni 2013 6. Praktik Kebidanan adalah pelayanan yang diselenggarakan oleh bidan dalam bentuk

18.

Pemerintah mengusulkan penambahan ketentuan umum praktik kebidanan.

Hasil Avara 20 Juni 2013

NO. 1 19. 6.

RUU KEPERAWATAN USULAN DPR RI 2 Asuhan Keperawatan adalah rangkaian tindakan keperawatan berdasarkan ilmu dan kiat keperawatan yang ditujukan kepada individu, keluarga dan masyarakat dalam upaya tercapainya kemandirian untuk merawat dirinya.

TANGGAPAN PEMERINTAH 3

USULAN PERUBAHAN 4 asuhan kebidanan. 7. Asuhan keperawatan adalah rangkaian pelayanan keperawatan yang didasarkan pada ilmu dan kiat keperawatan dengan menggunakan pendekatan proses keperawatan yang meliputi pengkajian, penetapan diagnosa keperawatan, perencanaan, implementasi, dan evaluasi keperawatan ditujukan pada klien. PAK, Kamis, 20 Juni 2013 Asuhan keperawatan adalah rangkaian pelayanan yang didasarkan pada ilmu dan kiat keperawatan dengan menggunakan pendekatan proses keperawatan yang meliputi pengkajian, penetapan diagnosa keperawatan, perencanaan, implementasi, dan evaluasi keperawatan ditujukan pada klien. Kesimpulan: Pending untuk masalah pelayanan, praktik dan asuhan menunggu bahasan dari keilmuannya

Pemerintah mengusulkan perubahan redaksi definisi asuhan keperawatan. Pelaksanaan asuhan keperawatan menggunakan pendekatan proses keperawatan sebagai ciri penyelesaian masalah secara ilmiah serta pelayanan professional.

20.

Pemerintah mengusulkan penambahan ketentuan umum Asuhan Kebidanan.

8. Asuhan kebidanan adalah rangkaian pelayanan kebidanan yang didasarkan pada ilmu dan kiat kebidanan sesuai dengan wewenang dan ruang lingkup praktiknya mulai dari pengkajian, perumusan diagnosa dan/atau masalah kebidanan, perencanaan, implementasi, evaluasi dan pencatatan asuhan kebidanan. PAK, Kamis, 20 Juni 2013 Pending untuk masalah pelayanan, praktik

Hasil Avara 20 Juni 2013

NO. 1

RUU KEPERAWATAN USULAN DPR RI 2

TANGGAPAN PEMERINTAH 3

USULAN PERUBAHAN dan asuhan keilmuannya. 4 menunggu bahasan dari

21.

7.

Uji Kompetensi Perawat adalah suatu proses untuk mengukur pengetahuan, keterampilan, dan sikap perawat sesuai dengan standar profesi.

Penyesuaian redaksional, menyesuaikan dengan DIM nomor 1

PAK, Kamis, 20 Juni 2013 9. Uji Kompetensi adalah suatu proses untuk mengukur pengetahuan, keterampilan, dan sikap perawat dan bidan sesuai dengan standar profesi. PAK, Kamis, 20 Juni 2013 10. Kompetensi adalah kemampuan seseorang yang dapat terobservasi mencakup pengetahuan, keterampilan, dan sikap dalam menyelesaikan suatu pekerjaan atau tugas dengan standar kinerja yang ditetapkan. PAK, Kamis, 20 Juni 2013 11. Sertifikat Kompetensi adalah pengakuan terhadap kompetensi Perawat dan Bidan untuk menjalankan Praktik Keperawatan dan Praktik Kebidanan. PAK, Kamis, 20 Juni 2013 12. Sertifikat Profesi adalah pengakuan untuk melakukan praktik profesi yang diperoleh lulusan pendidikan profesi yang diselenggarakan oleh Perguruan Tinggi bekerja sama dengan Kementerian yang menyelenggarakan urusan pemerintah di bidang kesehatan, Kementerian yang menyelenggarakan urusan pemerintah di bidang pendidikan, badan lain, dan/atau organisasi profesi sesuai dengan ketentuan peraturan perundangundangan. PAK, Kamis, 20 Juni 2013

22.

Pemerintah mengusulkan penambahan ketentuan umum tentang kompetensi. Pengertian kompetensi diambil dari standar kompetensi PPNI tahun 2011.

23.

8.

Sertifikat Uji Kompetensi adalah surat tanda pengakuan terhadap kompetensi Perawat yang telah lulus Uji Kompetensi untuk menjalankan Praktik Keperawatan.

Penyesuaian dan perbaikan redaksional. Perbaikan redaksi Sertifikat Uji Kompetensi menjadi Sertifikat Kompetensi karena Sertifikat kompetensi menyatakan kompetensi, uji kompetensi merupakan metodenya. Usul rumusan baru

24.

25.

9.

Registrasi

Perawat

adalah

pencatatan

resmi

Penyesuaian dan perbaikan redaksional

Hasil Avara 20 Juni 2013

NO. 1

RUU KEPERAWATAN USULAN DPR RI 2 terhadap Perawat yang telah memiliki sertifikat kompetensi keperawatan dan telah mempunyai kualifikasi tertentu lainnya serta diakui secara hukum untuk menjalankan praktik dan/atau pekerjaan profesi Perawat.

TANGGAPAN PEMERINTAH 3 13.

USULAN PERUBAHAN 4 Registrasi adalah pencatatan resmi terhadap Perawat dan Bidan yang telah memiliki sertifikat kompetensi atau sertifikat profesi keperawatan dan kebidanan serta diakui secara hukum untuk menjalankan praktik dan/atau pekerjaan profesi Perawat dan Bidan.

26.

10. Surat Tanda Registrasi yang selanjutnya disingkat STR adalah bukti tertulis yang diberikan oleh Konsil Keperawatan Indonesia kepada Perawat yang telah diregistrasi.

Penyesuaian redaksional

PAK, Kamis, 20 Juni 2013 14. Surat Tanda Registrasi yang selanjutnya disingkat STR adalah bukti tertulis yang diberikan oleh Konsil Keperawatan dan Kebidanan Indonesia kepada Perawat dan Bidan yang telah memiliki sertifikat kompetensi. PAK, Kamis, 20 Juni 2013 15. Surat Izin Praktik yang selanjutnya disingkat SIPP bagi perawat dan SIPB bagi bidan adalah bukti tertulis pemberian kewenangan untuk menjalankan praktik dan/atau pekerjaan profesi keperawatan atau kebidanan. PAK, Kamis, 20 Juni 2013 16. Tetap

27.

11. Surat Ijin Praktik Perawat yang selanjutnya disingkat SIPP adalah bukti tertulis yang dikeluarkan oleh pemerintah kabupaten/kota kepada Perawat yang telah memenuhi persyaratan.

Perbaikan redaksional. Pemerintah mengusulkan perubahan definisi Surat Izin Praktik sesuai PMK No 17 tahun 2012 yaitu Surat Izin Praktik Perawat yang selanjutnya disingkat SIPP adalah bukti tertulis pemberian kewenangan untuk menjalankan praktik keperawatan di fasilitas pelayanan kesehatan berupa praktik mandiri. Tetap

28.

29. 30.

12. Fasilitas Pelayanan Kesehatan adalah alat dan/atau tempat yang digunakan untuk menyelenggarakan pelayanan kesehatan baik promotif, preventif, kuratif dan rehabilitatif yang pelayanannya dilakukan oleh pemerintah daerah dan/atau masyarakat. 13. Perawat Asing adalah Perawat yang bukan berstatus Warga Negara Indonesia (WNI). 14. Klien adalah perorangan, keluarga, kelompok, dan masyarakat.

PAK, Kamis, 20 Juni 2013 Dihapus Perbaikan redaksional. PAK, Kamis, 20 Juni 2013 17. Klien adalah perorangan, keluarga, kelompok dan masyarakat pemakai jasa pelayanan. PAK, Kamis, 20 Juni 2013

31.

15. Organisasi Profesi Perawat adalah wadah yang

Penyesuaian redaksional

Hasil Avara 20 Juni 2013

NO. 1

RUU KEPERAWATAN USULAN DPR RI 2 menghimpun Perawat secara nasional dan berbadan hukum seusai dengan ketentuan peraturan perundang-undangan.

TANGGAPAN PEMERINTAH 3

USULAN PERUBAHAN 4 18. Organisasi Profesi adalah wadah yang menghimpun Perawat atau Bidan secara nasional dan berbadan hukum sesuai dengan ketentuan peraturan perundangundangan. PAK, Kamis, 20 Juni 2013 Dihapus

32.

33.

16. Kolegium Keperawatan adalah badan yang dibentuk oleh Organisasi Profesi Perawat untuk masing-masing cabang disiplin ilmu keperawatan yang bertugas mengampu cabang displin ilmu tersebut. 17. Konsil Keperawatan Indonesia adalah suatu badan otonom, mandiri, nonstruktural, bersifat independen.

Penyesuaian redaksional

PAK, Kamis, 20 Juni 2013 19. Konsil Keperawatan dan Kebidanan Indonesia adalah suatu badan otonom, mandiri, bersifat independen di bidang keperawatan atau kebidanan. PAK, Rabu, 26 Juni 2013: MenPAN Sebaiknya tidak mengamanatkan pembentukan lembaga baru dalam RUU ini. catatan: jika pengaturan konsil disamakan dengan RUU Nakes, maka definisi konsil tidak diperlukan karena dalam RUU Nakes tidak diatur mengenai Konsil.

34.

Penambahan ketentuan umum tentang insitusi pendidikan

PAK, Kamis, 20 Juni 2013 20. Institusi pendidikan adalah perguruan tinggi yang menyelenggarakan pendidikan keperawatan dan kebidanan. PAK, Kamis, 20 Juni 2013 21. Wahana pendidikan pelayanan kesehatan sebagai tempat pendidikan klinis. adalah fasilitas yang digunakan penyelenggaraan

35.

Penambahan ketentuan umum tentang wahana pendidikan

Hasil Avara 20 Juni 2013

NO. 1 36.

RUU KEPERAWATAN USULAN DPR RI 2 18. Pemerintah Pusat yang selanjutnya disebut Pemerintah adalah Presiden Republik Indonesia yang memegang kekuasaan pemerintah negara Republlik Indonesia sebagaimana dimaksud dalam Undang-Undang Dasar Negara Republik Indonesia Tahun 1945. 19. Pemerintah Daerah adalah Gubernur, Bupati dan walikota serta perangkat daerah sebagai unsur penyelenggara pemerintahan. 20. Menteri adalah menteri yang menyelenggarakan urusan pemerintahan di bidang kesehatan. Pasal 2 Keperawatan berasaskan: TETAP

TANGGAPAN PEMERINTAH 3

USULAN PERUBAHAN 4 PAK, Kamis, 20 Juni 2013 22. Tetap

37. 38. 39.

TETAP TETAP Rumusan asas dibuat dalam satu kalimat

PAK, Kamis, 20 Juni 2013 23. Tetap PAK, Kamis, 20 Juni 2013 24. Tetap PAK, Kamis, 20 Juni 2013: Pasal 2 Praktik/pelayanan Keperawatan kebidanan berasaskan: PAK, Kamis, 20 Juni 2013 Tetap

dan

40. 41. 42. 43. 44. 45. 46.

a. a. b. c. d. e.

perikemanusiaan; nilai ilmiah; etika; manfaat; keadilan; dan kesehatan dan keselamatan klien. Tetap Tetap Tetap Tetap Tetap Penyesuaian redaksional

PAK, Kamis, 20 Juni 2013 Tetap PAK, Kamis, 20 Juni 2013 Tetap PAK, Kamis, 20 Juni 2013 Tetap PAK, Kamis, 20 Juni 2013 Tetap PAK, Kamis, 20 Juni 2013 e. Perlindungan dan Keselamatan klien. PAK, Kamis, 20 Juni 2013: Pasal 3 Pengaturan Keperawatan dan kebidanan bertujuan:

Pasal 3 Keperawatan bertujuan:

Hasil Avara 20 Juni 2013

NO. 1 47. 48. a.

RUU KEPERAWATAN USULAN DPR RI 2 meningkatkan Keperawatan; mutu Perawat dan Pelayanan

TANGGAPAN PEMERINTAH 3 Penyesuaian redaksional Usul rumusan baru

USULAN PERUBAHAN 4 PAK, Kamis, 20 Juni 2013: a. meningkatkan mutu perawat dan bidan; PAK, Kamis, 20 Juni 2013: b. meningkatkan mutu Keperawatan dan kebidanan. pelayanan

49.

b.

memberikan perlindungan dan kepastian hukum kepada Perawat dan Klien; dan

Penyesuaian redaksional

PAK, Kamis, 20 Juni 2013: c. memberikan perlindungan dan kepastian hukum kepada Perawat, bidan dan Klien; dan PAK, Kamis, 20 Juni 2013: Tetap BAB II JENIS PERAWAT DAN BIDAN Setneg: Aturan di RUU ini harus sejalan dengan RUU Nakes, jika perawat gigi tidak masuk dalam aturan ini, maka aturan dalam RUU Nakes harus ditinjau ulang, karena dalam RUU Nakes rumpun keperawatan termasuk perawat, perawat gigi, perawat anestesi, dan bidan. Dir. Keperawatan: Perawat gigi akan lepas dari rumpun keperawatan sedangkan untuk perawat anestesi akan dikaji lebih lanjut apakah termasuk rumpun keperawatan atau akan lepas juga. Kabag PP: Jenis tenaga keperawatan akan dibawa pada rapat pimpinan untuk diputuskan apakah perawat gigi dan perawat anestesi akan

50.

c.

meningkatkan derajat kesehatan masyarakat.

TETAP

51.

BAB II JENIS PERAWAT

Penyesuaian redaksional

Hasil Avara 20 Juni 2013

NO. 1 52. 53. 54. 55.

RUU KEPERAWATAN USULAN DPR RI 2 Pasal 4 (1) Jenis Perawat terdiri atas: a. perawat profesional; b. perawat vokasional; dan c. asisten perawat TETAP

TANGGAPAN PEMERINTAH 3

USULAN PERUBAHAN 4 masuk dalam rumpun keperawatan atau tidak. PAK, Rabu, 26 Juni 2013: Tetap PAK, Rabu, 26 Juni 2013: a. perawat profesi; PAK, Rabu, 26 Juni 2013: b. perawat vokasi; PAK, Rabu, 26 Juni 2013: c. DIHAPUS Setneg: Dibuat rumusan untuk asisten perawat dimana materinya akan diatur dalam RUU Nakes.

Perbaikan rumusan Perbaikan rumusan Pemerintah mengusulkan poin c dihapus, karena: asisten perawat tidak termasuk kategori tenaga keperawatan. Kualifikasi tenaga kesehatan (dalam UU Kesehatan) minimal berlatar belakang pendidikan tinggi Perlu ditinjau kembali terhadap penyelenggaraan pendidikan keperawatan setara SLTA. Sesuai UU 12/12, pendidikan tinggi terdiri atas pendidikan profesi dan vokasi, oleh karenanya setuju asisten perawat dihapus. Dibuat alasan perubahan profesional menjadi profesi

56.

(1) Perawat profesional sebagaimana dimaksud pada ayat (1) huruf a terdiri atas:

PAK, Rabu, 26 Juni 2013: (2) Perawat profesi sebagaimana dimaksud pada ayat (1) huruf a terdiri atas: Penjelasan ayat (2): yang dimaksud dalam ketentuan ini hanya untuk perawat berdasarkan jenjang pendidikan. perawat konsultan merupakan jenjang karir sehingga tidak perlu diatur dalam undang-undang ini.

57. 58.

a. ners; b. ners spesialis; dan

Tetap Penyesuaian redaksional

PAK, Rabu, 26 Juni 2013: Tetap PAK, Rabu, 26 Juni 2013: Tetap

10

Hasil Avara 20 Juni 2013

NO. 1

RUU KEPERAWATAN USULAN DPR RI 2

TANGGAPAN PEMERINTAH 3

USULAN PERUBAHAN 4 Penjelasan ayat (2) huruf b: perawat spesialis termasuk subspesialis. PAK, Rabu, 26 Juni 2013: dihapus

perawat

59.

c. ners konsultan.

Mengusulkan poin c dihapus karena di KKNI hanya sampai pada Ners Spesialis (sub spesialis termasuk dalam kelompok spesialis). Ners konsultan tetap ada, tapi bukan jenjang tersendiri. Penjelasan: Ners yang telah teregistrasi (memiliki STR) disebut sebagai RN (Registered Nurse). Menambahkan pembagian jenis Bidan Penyesuain redaksional, disesuaikan dengan DIM nomor 61

60. 61.

PAK, Rabu, 26 Juni 2013: (2) Jenis bidan: PAK, Rabu, 26 Juni 2013: a. Bidan profesi PAK, Rabu, 26 Juni 2013: b. Bidan vokasi. Penjelasan ayat (3) huruf b: Lulusan pendidikan kebidanan vokasi akan mendapatkan gelar Amd. Keb.

62.

Penyesuain redaksional, disesuaikan dengan DIM nomor 61

63.

(3) Ketentuan mengenai jenis Perawat sebagaimana dimaksud pada ayat (1) diatur dalam Peraturan Pemerintah. BAB III PENDIDIKAN KEPERAWATAN

Penyesuaian redaksional

PAK, Rabu, 26 Juni 2013: (4) Ketentuan mengenai jenis Perawat sebagaimana dimaksud pada ayat (1) dan ayat (2) diatur dalam Peraturan Menteri. BAB III PENDIDIKAN KEPERAWATAN DAN KEBIDANAN PAK, Rabu, 3 Juli 2013: Pasal 5 (1) Pendidikan keperawatan dan kebidanan dilaksanakan pada perguruan tinggi yang

64.

Penyesuaian redaksional

65.

11

Hasil Avara 20 Juni 2013

NO. 1

RUU KEPERAWATAN USULAN DPR RI 2

TANGGAPAN PEMERINTAH 3

USULAN PERUBAHAN 4 memiliki izin penyelenggaraan sesuai ketentuan peraturan perundangundangan. PAK, Rabu, 3 Juli 2013: (2) Perguruan tinggi sebagaimana dimaksud pada ayat (1) dapat berbentuk universitas, institut, sekolah tinggi, politeknik, atau akademi.

66.

67.

Pasal 5 Pendidikan Keperawatan terdiri atas: a. pendidikan vokasi; b. pendidikan akademik; dan c. pendidikan profesi. Pasal 6 Pendidikan vokasi sebagaimana dimaksud dalam Pasal 5 huruf a adalah pendidikan diploma keperawatan.

Penyesuaian redaksional

PAK, Rabu, 26 Juni 2013: (1) Pendidikan Keperawatan dan kebidanan terdiri atas: PAK, Rabu, 3 Juli 2013: tetap PAK, Rabu, 3 Juli 2013: tetap PAK, Rabu, 26 Juni 2013: Tetap PAK, Rabu, 3 Juli 2013: Pasal 6 (1) Pendidikan vokasi sebagaimana dimaksud dalam Pasal 5 huruf a merupakan program Diploma. PAK, Rabu, 3 Juli 2013: (2) Program diploma sebagaimana dimaksud pada ayat (1) sekurang-kurangnya program Diploma Tiga. catatan: meminta kesepakatan IBI dan asosiasi pendidikan kebidanan untuk pendidikan minimal program D4 atau D3.

68. 69. 70. 71.

TETAP TETAP TETAP

72.

73.

Pasal 7

Penyesuaian redaksional.

Pasal 7

12

Hasil Avara 20 Juni 2013

NO. 1 74. 75. 76. 77. 78. 79. 80. 81. 82. 83.

RUU KEPERAWATAN USULAN DPR RI 2 Pendidikan akademik sebagaimana dimaksud dalam Pasal 5 huruf b terdiri atas: a. pendidikan sarjana keperawatan; b. c. pendidikan magister keperawatan; dan pendidikan doktor keperawatan;

TANGGAPAN PEMERINTAH 3 Tetap Perbaikan redaksional menjadi: program sarjana. Sesuai dengan UU no 12 tahun 2012 tentang pendidikan tinggi. Perbaikan redaksional menjadi: program magister. Sesuai dengan UU no 12 tahun 2012 tentang pendidikan tinggi. Perbaikan redaksional menjadi: program doktor. Sesuai dengan UU no 12 tahun 2012 tentang pendidikan tinggi.

USULAN PERUBAHAN 4 PAK, Rabu, 26 Juni 2013: Program sarjana; PAK, Rabu, 26 Juni 2013: Program magister; dan PAK, Rabu, 26 Juni 2013: Program doktor. Tetap

Pasal 8 (1) Pendidikan profesi sebagaimana dimaksud dalam Pasal 5 huruf c terdiri atas: a. pendidikan profesi keperawatan; dan b. pendidikan profesi keperawatan berkelanjutan. (1) Pendidikan profesi keperawatan sebagaimana dimaksud pada ayat (1) huruf a terdiri atas: a. pendidikan profesi ners; dan b. pendidikan profesi ners spesialis.

Perbaikan redaksional menjadi: program profesi. Sesuai dengan UU no 12 tahun 2012 tentang pendidikan tinggi. Perbaikan redaksional menjadi: program spesialis. Sesuai dengan UU no 12 tahun 2012 tentang pendidikan tinggi.

PAK, Rabu, 26 Juni 2013: Program profesi; dan PAK, Rabu, 26 Juni 2013: Program spesialis.

Perbaikan redaksional menjadi: Lulusan program profesi, Tetap mengacu pada DIM nomor 76. Penyesuaian redaksional PAK, Rabu, 26 Juni 2013: a. program profesi ners Penyesuaian redaksional PAK, Rabu, 26 Juni 2013: b. program profesi ners spesialis PAK, Rabu, 26 Juni 2013: c. program profesi bidan catatan: akan dibahas dalam konsultasi dengan profesi, pengguna dan asosiasi pendidikan terutama Fakultas Kebidanan Unair.

84.

PAK, Rabu, 26 Juni 2013: (3) Program profesi ners sebagaimana dimaksud pada ayat (3) huruf a

13

Hasil Avara 20 Juni 2013

NO. 1

RUU KEPERAWATAN USULAN DPR RI 2

TANGGAPAN PEMERINTAH 3

USULAN PERUBAHAN 4 merupakan program lanjutan yang tidak terpisahkan dari program sarjana keperawatan. (2) DIHAPUS

85.

(3) Pendidikan profesi keperawatan berkelanjutan sebagaimana dimaksud pada ayat (1) huruf b merupakan pendidikan profesi yang ditempuh setelah meneylesaikan pendidikan profesi keperawatan sebagaimana dimaksud pada ayat (2).

Penyesuaian redaksional disesuaikan dengan DIM nomor 77.

86.

Pasal 8A Pembinaan akademis pendidikan vokasi sebagaimana dimaksud dalam Pasal 5 dilaksanakan oleh Menteri yang menyelenggarakan urusan pemerintahan di bidang pendidikan sedangkan pembinaan teknis dilaksanakan oleh Menteri yang menyelenggarakan urusan pemerintahan di bidang kesehatan. Penjelasan Yang dimaksud dengan pembinaan teknis adalah pembinaan teknis keprofesian untuk mencapai standar profesi atau standar Kompetensi berdasarkan kurikulum dalam proses pendidikan.

87.

Pasal 8B Ketentuan lebih lanjut mengenai penyelenggaraan pendidikan keperawatan dan kebidanan diatur dalam Peraturan Pemerintah. Pasal 9 (1) Pendidikan profesi keperawatan sebagaimana dimaksud dalam Pasal 8 ayat (2) diselenggarakan oleh institusi pendidikan keperawatan yang memenuhi syarat sesuai dengan ketentuan peraturan perundang-undangan dan terakreditasi. Perbaikan redaksional Pasal 9 PAK, Rabu, 26 Juni 2013: (1) Pendidikan keperawatan dan kebidanan sebagaimana dimaksud dalam Pasal 5 diselenggarakan oleh institusi pendidikan yang memenuhi syarat sesuai dengan

88.

14

Hasil Avara 20 Juni 2013

NO. 1

RUU KEPERAWATAN USULAN DPR RI 2

TANGGAPAN PEMERINTAH 3

USULAN PERUBAHAN ketentuan undangan. 4 peraturan perundang-

89.

(1) Pendidikan profesi keperawatan berkelanjutan sebagaimana dimaksud dalam Pasal 8 ayat (3) diselenggarakan oleh institusi pendidikan keperawatan, organisasi profesi keperawatan, atau fasilitas pelayanan kesehatan.

90.

Pasal 10 (1) Institusi pendidikan keperawatan didirikan oleh Pemerintah, Pemerintah Daerah, dan masyarakat sesuai dengan ketentuan peraturan perundangundangan.

Penyesuaian redaksional mengikuti perubahan pada pasal sebelumnya. Catatan: Wahana pendidikan adalah hal yang tidak tercakup di UU Dikti Pendidikan berkelanjutan akan diatur di Bab Pengembangan DIM ini DIHAPUS karena dianggap telah diatur secara khusus dalam Undang-Undang tentang Pendidikan Tinggi. Catatan: Jumlah institusi pendidikan keperawatan sudah banyak, sedangkan UU No 12 tahun 2012 tentang pendidikan tinggi pasal 60 : Pendidikan tinggi negeri didirikan oleh pemerintah, perguruan tinggi swasta didirikan oleh masyarakat melalui Badan penyelenggara berbadan hukum. Menyesuaikan DIM nomor 85

PAK, Rabu, 26 Juni 2013: (2) Institusi pendidikan sebagaimana dimaksud dalam ayat (1) harus memiliki atau bekerja sama dengan fasilitas pelayanan kesehatan untuk dijadikan wahana pendidikan. PAK, Rabu, 26 Juni 2013: Pasal 10 (1) Institusi pendidikan keperawatan dan kebidanan didirikan oleh Pemerintah dan masyarakat sesuai dengan ketentuan peraturan perundang-undangan.

91.

(1) Institusi pendidikan keperawatan sebagaimana dimaksud pada ayat (1) berfungsi sebagai tridharma perguruan tinggi. Pasal 11 Penyelenggaraan pendidikan keperawatan harus memenuhi persyaratan paling sedikit mencakup:

PAK, Rabu, 26 Juni 2013: Dihapus Pasal 11 PAK, Rabu, 26 Juni 2013: (1) Penyelenggaraan pendidikan keperawatan dan kebidanan harus memenuhi Standar Nasional Pendidikan Tinggi di bidang keperawatan dan kebidanan.

92.

Pasal 11 harus dilakukan perubahan redaksional dengan alasan: Sudah diatur dalam UU Dikti dan UU Sisdiknas. Ketentuan mengenai penyelenggaraan pendidikan terkait Standar akan terus berkembang sehingga diatur dalam peraturan di bawah Undang-Undang. Norma yang perlu diatur dalam Pasal ini harus bersifat pengaturan umum.

93.

PAK, Rabu, 26 Juni 2013: (2) Standar Nasional Pendidikan Tinggi di bidang keperawatan dan kebidanan sebagaimana dimaksud pada ayat (1) mengacu pada Standar Nasional Pendidikan Tinggi.

15

Hasil Avara 20 Juni 2013

NO. 1 94. a.

RUU KEPERAWATAN USULAN DPR RI 2 standar isi;

TANGGAPAN PEMERINTAH 3

USULAN PERUBAHAN 4 PAK, Rabu, 26 Juni 2013: (3) Standar Nasional Pendidikan Tinggi di bidang keperawatan dan kebidanan dibuat bersama oleh asosiasi insititusi pendidikan, organisasi profesi, Kementerian yang menyelenggarakan urusan pemerintahan di bidang kesehatan dan Kementerian yang menyelenggarakan urusan pemerintahan di bidang pendidikan. PAK, Rabu, 26 Juni 2013: (4) Standar Nasional Pendidikan Tinggi di bidang keperawatan dan kebidanan sebagaimana dimaksud pada ayat (1) ditetapkan oleh Menteri yang menyelenggarakan urusan pemerintahan di bidang pendidikan. PAK, Rabu, 26 Juni 2013: Dihapus PAK, Rabu, 26 Juni 2013: Dihapus PAK, Rabu, 26 Juni 2013: Dihapus PAK, Rabu, 26 Juni 2013: Dihapus PAK, Rabu, 26 Juni 2013: Dihapus PAK, Rabu, 26 Juni 2013: Dihapus PAK, Rabu, 26 Juni 2013: Dihapus

95.

b.

standar proses;

96. 97. 98. 99. 100. 101. 102.

c. d. e. f. g. h. i.

standar kompetensi lulusan; standar pendidik dan tenaga kependidikan; standar sarana dan prasarana; standar pengelolaan; standar pembiayaan; standar penilaian pendidikan; peserta didik; dan

16

Hasil Avara 20 Juni 2013

NO. 1 103. 104. j.

RUU KEPERAWATAN USULAN DPR RI 2 kurikulum.

TANGGAPAN PEMERINTAH 3

USULAN PERUBAHAN 4 PAK, Rabu, 26 Juni 2013: Dihapus

Pasal 12 (1) Penyelenggaraan pendidikan keperawatan dibantu oleh tenaga kependidikan.

Perbaikan redaksional

PAK, Rabu, 3 Juli 2013 Pasal 12 (1) Penyelenggaraan pendidikan keperawatan dan kebidanan dilaksanakan di institusi pendidikan dan di wahana pendidikan.

105.

(2) Pendidik sebagaimana dimaksud dalam Pasal 11 huruf d terdiri atas:

Menyesuaikan ketentuan dalam UU Dikti bahwa pendidik PAK, Rabu, 3 Juli 2013 adalah Dosen. (2) Dosen pada pendidikan keperawatan dan kebidanan dapat berasal dari: Menyesuaikan dengan DIM nomor 99 PAK, Rabu, 3 Juli 2013 a. Institusi pendidikan; PAK, Rabu, 3 Juli 2013 b. Fasilitas pelayanan kesehatan sebagai wahana pendidikan. PAK, Rabu, 3 Juli 2013 (3) Ketentuan mengenai dosen sebagaimana dimaksud pada ayat (2) dilaksanakan sesuai ketentuan peraturan perundangundangan. (4) Dihapus

106.

a. dosen; dan

107.

b. pendidik klinik keperawatan.

Menyesuaikan dengan DIM nomor 99

108.

(3) Ketentuan mengenai dosen sebagaimana dimaksud pada ayat (1) huruf a dilaksanakan seusai dengan ketentuan peraturan perundangundangan. (4) Pendidik klinik keperawatan sebagaimana dimaksud pada ayat (1) huruf b memenuhi kriteria paling sedikit: a. perawat profesional; b. memiliki pengalaman klinik di bidang keperawatan minimal 2 (dua) tahun; dan c. memiliki sertifikat pelatihan pembimbing klinik keperawatan. (5) Ketentuan mengenai pendidik klinik keperawatan sebagaimana dimaksud pada ayat (3)

Penyesuaian redaksional mengikuri perubahan sebelumnya

109.

Penyesuaian redaksional mengikuri perubahan sebelumnya

110.

Penyesuaian redaksional mengikuri perubahan sebelumnya

(5) Dihapus

17

Hasil Avara 20 Juni 2013

NO. 1

RUU KEPERAWATAN USULAN DPR RI dilaksanakan perundangan. 2 sesuai dengan peraturan

TANGGAPAN PEMERINTAH 3 Catatan : Perlu ada norma yang menyatakan kewajiban penyelenggara pendidikan menyediakan wahana pendidikan sebagai lahan praktik bagi perawat atau bidan. Pemerintah mengusulkan istilah wahana pendidikan dalam memberikan istilah bagi lahan praktik keperawatan dan kebidanan. Menyesuaikan dengan DIM nomor 105, ketentuan mengenai kepemilikan wahana pendidikan.

USULAN PERUBAHAN 4 PAK, Rabu, 3 Juli 2013 Pasal 13 (1) Setiap penyelenggara pendidikan keperawatan dan kebidanan harus menyediakan wahana pendidikan. PAK, Rabu, 3 Juli 2013 (2) Dalam hal penyelenggara pendidikan belum memiliki wahana pendidikan, dapat melakukan kerjasama dengan fasilitas pelayanan kesehatan. PAK, Rabu, 3 Juli 2013 (3) Fasilitas pelayanan kesehatan sebagaimana dimaksud pada ayat (2) merupakan rumah sakit dan fasilitas pelayanan kesehatan tingkat pertama yang memenuhi persyaratan. Dihapus

111.

Pasal 13 (1) Selain memiliki sarana dan prasarana sebagaimana dimaksud dalam Pasal 11 huruf e, penyelenggaraan pendidikan keperawatan harus dilengkapi dengan laboratorium dan lahan praktik keperawatan. (2) Lahan praktik keperawatan sebagaimana dimaksud pada ayat (1) terdiri atas fasilitas pelayanan kesehatan pendidikan dan daerah pendidikan. (2) Fasilitas pelayanan kesehatan pendidikan sebagaimana dimaksud pada ayat (2) merupakan rumah sakit dan puskesmas yang memenuhi persyaratan sesuai dengan ketentuan peraturan perundang-undangan. (3) Daerah pendidikan sebagaimana dimaksud pada ayat (2) merupakan wilayah administrasi mulai dari tingkat kecamatan.

112.

113.

Penyesuaian redaksional

114.

Pengaturan tentang daerah pendidikan tidak perlu diatur sendiri, dengan adanya kerjasama antara penyelenggara pendidikan dengan Puskemas, maka peserta didik keperawatan atau kebidanan dapat melakukan proses pendidikan pada wilayah kerja Puskesmas tersebut. Pendelegasian penentuan persyaratan fasilitas pelayanan kesehatan sebagai wahana pendidikan cukup dalam Peraturan Menteri.

115.

(5) Ketentuan lebih lanjut mengenai sarana dan prasarana sebagaimana dimaksud pada ayat (1) diatur dengan Peraturan Pemerintah.

PAK, Rabu, 3 Juli 2013 (4) Ketentuan lebih lanjut mengenai persyaratan fasilitas pelayanan kesehatan sebagai wahana pendidikan selain rumah sakit pendidikan diatur dengan Peraturan Menteri. PAK, Rabu, 3 Juli 2013 Dihapus

116.

Pasal 14 (1) Kurikulum sebagaimana dimaksud dalam Pasal 11 huruf j terdiri atas: a. kurikulum pendidikan vokasi;

Pendapat Pemerintah: Tidak perlu menguraikan jenis kurikulum yang ada dalam pendidikan keperawatan dan kebidanan.

18

Hasil Avara 20 Juni 2013

NO. 1 117.

RUU KEPERAWATAN USULAN DPR RI 2 b. kurikulum pendidikan akademik; dan c. kurikulum pendidikan profesi. (1) Kurikulum pendidikan akademik dan profesi sebagaimana dimaksud pada ayat (1) huruf a, huruf b, dan huruf c disusun oleh kementerian yang membidangi masalah pendidikan dan kebudayaan dengan melibatkan Menteri, asosiasi institusi pendidikan keperawatan, Kolegium Keperawatan, Organisasi Profesi Perawat, dan Konsil Keperawatan Indonesia. BAB IV KOMPETENSI, REGISTRASI, DAN LISENSI Pasal 15 (1) Peserta didik keperawatan yang telah menyelesaikan pendidikan wajib mengikuti Uji Kompetensi Perawat yang bersifat nasional sebelum diangkat sebagai Perawat.

TANGGAPAN PEMERINTAH 3 Pendapat pemerintah: Yang perlu diatur terkait dengan kurikulum adalah siapa yang bertanggung jawab dalam pengembangan kurikulum bukan terkait siapa yang menyusun pendidikan keperawatan dan kebidanan.

USULAN PERUBAHAN 4 PAK, Rabu, 3 Juli 2013 Pasal 14 Kurikulum pendidikan vokasi dan profesi dikembangkan oleh institusi pendidikan bekerjasama dengan Kementerian yang menyelenggarakan urusan pemerintahan di bidang pendidikan, Kementerian yang menyelenggarakan urusan pemerintahan di bidang kesehatan, dan organisasi profesi. BAB REGISTRASI DAN IZIN PRAKTIK PAK, Rabu, 3 Juli 2013 Pasal 15 (1) Peserta didik keperawatan dan kebidanan pada akhir masa pendidikan vokasi dan profesi wajib mengikuti Uji Kompetensi sesuai dengan ketentuan peraturan perundang-undangan. PAK, Rabu, 3 Juli 2013 Dihapus PAK, Rabu, 3 Juli 2013 (2) Uji kompetensi sebagaimana dimaksud pada ayat (2) diselenggarakan oleh institusi pendidikan bekerjasama dengan organisasi profesi. PAK, Rabu, 3 Juli 2013 (3) Peserta didik program vokasi yang lulus uji kompetensi memperoleh Sertifikat Kompetensi yang dikeluarkan oleh institusi pendidikan.

118.

Pendapat Pemerintah : Ketentuan tentang Uji Kompetensi hingga Penerbitan Sertifikat Kompetensi masuk dalam BAB PENDIDIKAN Pendapat Pemerintah : Konsisten dengan DIM nomor 112, Pasal ini akan masuk dalam BAB PENDIDIKAN Penyesuaian redaksional

119.

120.

(2) Perawat harus mengikuti Uji Kompetensi secara berkala untuk menjaga mutu Pelayanan Keperawatan. (3) Pelaksanaan Uji Kompetensi untuk perawat vokasional dan profesional diselenggarakan oleh institusi pendidikan keperawatan yang terakreditasi.

121.

Uji kompetensi tidak perlu dilakukan secara berkala, uji kompetensi cukup dilakukan 1 (satu) kali (dalam UU Dikti disebutkan bahwa sertifikat kompetensi hanya dikeluarkan satu (1) kali. Menambahkan ketentuan tentang pelaksanaan uji kompetensi perlu melibatkan organisasi profesi.

122.

Menambahkan ketentuan tentang pemberian Sertifikat kompetensi bagi peserta didik yang lulus uji kompetensi.

19

Hasil Avara 20 Juni 2013

NO. 1 123.

RUU KEPERAWATAN USULAN DPR RI 2

TANGGAPAN PEMERINTAH 3

USULAN PERUBAHAN 4 PAK, Rabu, 3 Juli 2013 (4) Peserta didik program profesi yang lulus uji kompetensi memperoleh sertifikat profesi yang dikeluarkan oleh institusi pendidikan.

124.

Pasal 16 (1) Uji Kompetensi Perawat dilaksanakan berdasarkan standar kompetensi Perawat.

Penyesuaian redaksional

PAK, Rabu, 3 Juli 2013 Pasal 16 (1) Uji Kompetensi nasional Perawat atau Bidan dilaksanakan berdasarkan standar kompetensi Perawat atau Bidan. PAK, Rabu, 3 Juli 2013 (2) Standar kompetensi Perawat atau Bidan sebagaimana dimaksud pada ayat (1) meliputi: a. aspek pengetahuan; b. aspek keterampilan; c. aspek sikap, mental, dan moral; d. aspek penguasaan bahasa; dan e. aspek teknologi. Catatan: Konfirmasi ke OP untuk aspek manajerial. (3) Standar kompetensi sebagaimana dimaksud pada ayat (1) disusun oleh organisasi profesi dan asosiasi institusi pendidikan dan merupakan standar kompetensi kerja. Catatan: Harus ada peran kementerian baik dikbud maupun kemkes

125.

(2) Standar kompetensi Perawat dimaksud pada ayat (1) meliputi:

sebagaimana

Penyesuaian redaksional

126. 127. 128. 129. 130.

a. b. c. d. e.

aspek aspek aspek aspek aspek

pengetahuan; keterampilan; sikap, mental, dan moral; penguasaan bahasa; dan teknologi.

TETAP TETAP TETAP TETAP TETAP

131.

Menambahkan ketentuan tentang penyusunan Standar Kompetensi.

132.

Menambahkan ketentuan tentang pengesahan Standar Kompetensi.

(4) Standar kompetensi sebagaimana dimaksud pada ayat (1) disahkan oleh Konsil Keperawatan dan Kebidanan.

20

Hasil Avara 20 Juni 2013

NO. 1 133.

RUU KEPERAWATAN USULAN DPR RI 2 Pasal 17 (1) perawat yang lulus Uji Kompetensi mendapatkan Sertifikat Uji Kompetensi yang dikeluarkan oleh Konsil Keperawatan Indonesia. (2) Perawat yang telah memiliki Sertifikat Uji Kompetensi mengajukan permohonan Registrasi kepada Konsil Keperawatan Indonesia.

TANGGAPAN PEMERINTAH 3 Sudah masuk dalam DIM nomor 116 Dihapus

USULAN PERUBAHAN 4

134.

Masuk dalam BAB REGISTRASI DAN IZIN PRAKTIK Penyesuaian redaksional

BAB IV REGISTRASI DAN IZIN PRAKTIK Pasal 17 (1) Perawat dan Bidan yang telah memiliki Sertifikat Kompetensi wajib mengajukan permohonan Registrasi kepada Konsil. PAK, Rabu, 26 Juni 2013 Materinya diambil dari RUU Nakes Pembentukan konsil tidak akan diatur disini, dengan alasan karena overlap dengan tugas/fungsi kementerian, pendanaan, kebijakan untuk tidak membuat lembaga baru. Catatan: Yang akan diregistrasi adalah sertifikat yang tertinggi.

135.

(3) Permohonan Registrasi sebagaimana dimaksud pada ayat (2) harus memenuhi persyaratan: a. memiliki ijazah pendidikan keperawatan; b. memiliki Sertifikat Uji Kompetensi; dan c. memiliki surat rekomendasi dari Organisasi Profesi Perawat.

Mengusulkan proses registrasi dilakukan secara online atau (2) Permohonan Registrasi dilakukan secara elektronik. online atau elektronik ditujukan kepada Konsil dengan melampirkan: Penyesuaian redaksional Penyesuaian redaksional Penyesuaian redaksional Penambahan ketentuan mengenai rekomendasi organisasi profesi hanya diperlukan dalam rangka registrasi ulang. a. ijazah pendidikan; b. Sertifikat Kompetensi; dan c. rekomendasi dari Organisasi Profesi. (3) Rekomendasi dari Organisasi Profesi sebagaimana dimaksud ayat (1) huruf c hanya diperlukan pada permohonan perpanjangan STR.

136. 137. 138. 139.

21

Hasil Avara 20 Juni 2013

NO. 1 140.

RUU KEPERAWATAN USULAN DPR RI 2 (4) Perawat yang telah diregistrasi memperoleh STR yang diterbitkan oleh Konsil Keperawatan Indonesia. Pasal 18 (1) STR merupakan bukti tertulis bagi Perawat yang telah teregistrasi. (2) STR berlaku selama 5 (lima) tahun dan harus diregistrasi ulang setiap 5 (lima) tahun sekali. (3) Registrasi ulang untuk memperoleh STR dilakukan dengan persyaratan sebagaimana dimaksud dalam Pasal 17 ayat (3).

TANGGAPAN PEMERINTAH 3 Penyesuaian redaksional

USULAN PERUBAHAN 4 (4) Perawat dan Bidan yang telah diregistrasi memperoleh STR yang diterbitkan oleh Konsil. Dihapus Pasal 18 (1) STR berlaku selama 5 (lima) tahun dan harus diperpanjang setiap 5 (lima) tahun. (2) Dalam rangka perpanjangan STR, Perawat dan Bidan dapat mengikuti uji kompetensi atau memenuhi persyaratan yang meliputi: a. Telah mengabdikan diri sebagai tenaga profesi atau vokasi di bidangnya; b. memenuhi kecukupan dalam kegiatan pelayanan, pendidikan, pelatihan, dan/atau kegiatan ilmiah lainnya. (3) Ketentuan lebih lanjut mengenai persyaratan sebagaimana dimaksud pada ayat (2) butir a dan b diatur oleh organisasi profesi. (4) Ketentuan lebih lanjut tentang registrasi diatur dalam Peraturan Menteri. Pasal 19 (1) Perawat yang akan melakukan Praktik Keperawatan harus mengajukan permohonan SIPP kepada Pemerintah Kabupaten/Kota sesuai dengan wilayah kerja Praktik Keperawatan. (2) Bidan yang Kebidanan akan melakukan Praktik harus mengajukan

141. 142.

Sudah masuk dalam DIM nomor 27 Penyesuaian redaksional

143.

Penambahan ketentuan mengenai persyaratan perpanjangan STR

144. 145. 146. Penambahan ketentuan mengenai persyaratan pengabdian diri sebagai tenaga profesi atau vokasi di bidang keperawatan dan kebidanan. Penambahan ketentuan mengenai pengaturan registrasi akan diatur dalam peraturan Menteri Pasal 19 (1) Perawat yang telah memperoleh STR dan yang akan melakukan Praktik Keperawatan harus mengajukan permohonan SIPP kepada Pemerintah Kabupaten/Kota sesuai dengan wilayah kerja Praktik Keperawatan. tentang

147. 148.

Tidak perlu memberikan pernyataan Perawat yang telah memperoleh STR, karena STR merupakan kewajiban sebagai bukti bahwa perawatn atau bidan telah teregistrasi.

149.

Penambahan ketentuan mengenai bidan yang akan melakukan praktik.

22

Hasil Avara 20 Juni 2013

NO. 1

RUU KEPERAWATAN USULAN DPR RI 2

TANGGAPAN PEMERINTAH 3

USULAN PERUBAHAN 4 permohonan SIPB kepada Pemerintah Kabupaten/Kota sesuai dengan wilayah kerja Praktik Kebidanan. (3) Permohonan SIPP dan SIPB sebagaimana dimaksud pada ayat (1) dan (2) harus melampirkan: a. Salinan STR; b. rekomendasi dari Organisasi Profesi; dan c. Pernyataan tempat praktik mandiri yang dilengkapi dengan keterangan pemenuhan persyaratan praktik mandiri atau keterangan praktik dari fasyankes (4) Surat Izin Praktik sebagaimana dimaksud pada ayat (1) dan (2) merupakan lisensi bagi perawat atau bidan dalam menjalankan Praktik (5) Surat Izin Praktik diperpanjang secara berkala setiap 5 (lima) tahun dengan persyaratan sebagaimana dimaksud dalam ayat (3). Dihapus

150.

(2) Permohonan SIPP sebagaimana dimaksud pada ayat (1) harus memenuhi persyaratan: a. Memiliki STR; b. Memperoleh rekomendasi dari Organisasi Profesi Perawat; dan c. Keterangan tempat praktik keperawatan.

Penyesuaian redaksional

151. 152. 153.

Perbaikan redaksional Perbaikan redaksional Perbaikan redaksional

154.

(3) SIPP sebagaimana dimaksud pada ayat (1) merupakan lisensi bagi perawat dalam menjalankan Praktik Keperawatan

Penyesuaian redaksional

155.

Penggabungan pasal 20 ayat (1) dan ayat (2)

156.

157.

158.

Pasal 20 (1) Perawat yang telah memiliki SIPP mengajukan permohonan SIPP secara berkala setiap 5 (lima) tahun. (2) Permohonan SIPP secara berkala sebagaimana dimaksud pada ayat (1) dilakukan dengan persyaratan sebagaimana dimaksud dalam Pasal 19 ayat (2). Pasal 21 (1) SIPP hanya berlaku untuk 1 (satu) tempat praktik keperawatan.

Digabung dalam Pasal 19

Digabung dalam Pasal 19

Dihapus

Penyesuaian redaksional

Pasal 21 (1) Surat Izin Praktik hanya berlaku untuk 1 (satu) tempat praktik.

23

Hasil Avara 20 Juni 2013

NO. 1 159.

RUU KEPERAWATAN USULAN DPR RI 2 (2) SIPP hanya diberikan kepada Perawat paling banyak untuk 2 (dua) tempat praktik.

TANGGAPAN PEMERINTAH 3 Perlu menguraikan ketentuan 2 (dua) tempat praktik, yaitu masing-masing untuk 1 (satu) praktik mandiri dan, 1 (satu) untuk bekerja di fasilitas pelayanan kesehatan.

USULAN PERUBAHAN 4 (2) Surat Izin Praktik sebagaimana dimaksud pada ayat (1) dan (2) diberikan kepada Perawat atau Bidan untuk paling banyak 2 (dua) tempat, yaitu: a) 1 (satu) praktik mandiri b) 1 (satu) kesehatan. di fasilitas pelayanan

160. 161. 162. Mengusulkan penambahan ayat baru yang mendelegasian pengaturan lebih lanjut dalam peraturan Menteri.

(3) Ketentuan lebih lanjut tentang pelaksanaan registrasi, perizinan, dan penyelenggaraan praktik diatur dalam Peraturan Menteri Dihapus

163.

164. 165. 166. 167. 168. 169. 170.

Pasal 22 SIPP tetap berlaku apabila: a. STR masih berlaku; dan b. keterangan tempat praktik keperawatan masih sesuai dengan yang tercantum dalam SIPP. Pasal 23 SIPP tidak berlaku apabila: a. dicabut berdasarkan ketentuan peraturan perundang-undangan; b. habis masa berlakunya dan Perawat tidak mendaftar ulang; c. atas permintaan Perawat; d. Perawat meninggal dunia; atau e. dicabut oleh pemerintah kabupaten/kota.

Norma umum tidak perlu diatur dalam UU

Norma umum tidak perlu diatur dalam UU

Dihapus Dihapus Dihapus Dihapus Dihapus Dihapus

Pasal 24 (1) Perawat Asing yang akan melaksanakan Praktik Keperawatan di Indonesia harus melakukan adaptasi dan evaluasi.

Penyesuaian dan perbaikan redaksional

PAK, Rabu, 26 Juni 2013: Pasal 24 (1) Pemberi kerja yang mempekerjakan perawat dan bidan asing di Indonesia wajib mempunyai izin dari Menteri yang bertangggung jwab di bidang

24

Hasil Avara 20 Juni 2013

NO. 1

RUU KEPERAWATAN USULAN DPR RI 2

TANGGAPAN PEMERINTAH 3

USULAN PERUBAHAN 4 ketenagakerjaan sesuai dengan ketentuan peraturan perundangundangan. Catatan: Dibuat rumusan untuk syarat keprofesian

171.

(2) Perawat Asing yang akan melakukan adaptasi dan evaluasi mengajukan permohonan ke Organisasi Profesi Perawat. (3) Organisasi Profesi Perawat menetapkan tempat pelaksanaan adaptasi dan evaluasi sebagaimana dimaksud pada ayat (2) di institusi penyelenggara pendidikan keperawatan sesuai dengan jenjang pendidikan. (4) Organisasi Profesi Perawat memberikan rekomendasi pada Perawat Asing untuk mengikuti uji kompetensi berdasarkan hasil proses adaptasi dan evaluasi dari institusi pendidikan yang telah ditetapkan sebagaimana dimaksud pada ayat (3). (5) Ketentuan lebih lanjut mengenai adaptasi dan evaluasi sebagaimana dimaksud pada ayat (1) diatur dalam Peraturan Pemerintah. Pasal 25 (1) Perawat Asing yang telah menyelesaikan proses adaptasi dan evaluasi sebagaimana dimaksud dalam Pasal 24 wajib mengikuti Uji Kompetensi.

Penyesuaian dan perbaikan redaksional. Permohonan diajukan kepada Konsil Konsil merupakan interprestasi peran organisasi profesi dan Pemerintah Cukup diatur dalam peraturan pelaksanaan

(2) Perawat dan Bidan Asing yang akan mengikuti proses adaptasi dan evaluasi mengajukan permohonan ke Konsil. Dihapus

172.

173.

Cukup diatur dalam peraturan pelaksanaan

Dihapus

174.

Pendelegasian cukup dalam Peraturan Menteri

175.

Secara teknis tidak perlu ada uji kompetensi secara khusus bagi perawat dan bidan asing, yang harus ditetapkan adalah adanya sertifikat kompetensi, STR dan izin praktik dalam rangka melaksanakan kegiatan pelayanan di Indonesia.

(3) Ketentuan lebih lanjut mengenai proses adaptasi dan evaluasi sebagaimana dimaksud pada ayat (1) diatur dalam Peraturan Menteri. Pasal 25 (1) Perawat dan Bidan Asing yang sudah mengikuti proses adaptasi dan evaluasi dan akan melaksanakan Praktik di Indonesia harus memiliki sertifikat kompetensi, STR dan Surat Izin Praktik. (2) Ketentuan lebih lanjut mengenai sertifikasi kompetensi, registrasi, dan lisensi bagi Perawat dan Bidan Asing sebagaimana dimaksud pada ayat (1) diatur dalam Peraturan Menteri. Dihapus

176.

Mengusulkan penambahan ayat baru yang mendelegasian pengaturan lebih lanjut tentang sertifikasi kompetensi, registrasi, dan lisensi bagi Perawat dan Bidan Asing dalam peraturan Menteri. (2) Uji Kompetensi sebagaimana dimaksud pada ayat Ketentuan ini terakomodir di dalam DIM nomor 168 dan 169

177.

25

Hasil Avara 20 Juni 2013

NO. 1 178.

RUU KEPERAWATAN USULAN DPR RI 2 (1) dilaksanakan sesuai dengan ketentuan dalam Pasal 15 dan Pasal 16. Pasal 26 Perawat Asing yang telah lulus Uji Kompetensi dan yang melakukan Pelayanan Keperawatan di Indonesia mengajukan permohonan registrasi kepada Konsil Keperawatan Indonesia. Tata cara mengajukan permohonan registrasi untuk memperoleh STR sebagaimana dimaksud pada ayat (1) dilaksanakan sesuai dengan ketentuan Pasal 18. Pasal 27 Perawat Asing yang memiliki STR dan melakukan pelayanan keperawatan di Indonesia mengajukan permohonan SIPP kepada pemerintah kabupaten/kota. Perawat Asing sebagaimana dimaksud pada ayat (1) melakukan Pelayanan Keperawatan di Indonesia berdasarkan atas permintaan pengguna Perawat Asing. Perawat Asing hanya dapat melakukan Pelayanan Keperawatan di rumah sakit kelas A dan kelas B yang telah terakreditasi serta fasilitas pelayanan kesehatan tertentu yang telah ditetapkan oleh Menteri.

TANGGAPAN PEMERINTAH 3 Ketentuan ini terakomodir di dalam DIM nomor 168 dan 169 Dihapus

USULAN PERUBAHAN 4

(1)

179.

(2)

Ketentuan ini terakomodir di dalam DIM nomor 168 dan 169

Dihapus

180. (1)

Ketentuan ini terakomodir di dalam DIM nomor 168 dan 169

Dihapus

181.

(2)

Ketentuan ini terakomodir di dalam DIM nomor 168 dan 169

Dihapus

182.

(3)

Perbaikan redaksional

(3) Ketentuan lebih lanjut mengenai persyaratan pengguna Perawat dan Bidan Asing diatur dalam peraturan Menteri. Catatan: Di UU Kesehatan dan RUU Nakes pendayagunaan TKWNA diatur dalam PP

183. 184. 185.

(4) SIPP bagi Perawat Asing berlaku selama 1 (satu) tahun dan dapat diperpanjang untuk 1 (satu) tahun berikutnya. (5) Tata cara pengajuan SIPP sebagaimana dimaksud pada ayat (1) dilaksanakan sesuai dengan ketentuan Pasal 19. Pasal 28 (1) Perawat Asing yang telah lulus Uji Kompetensi dalam rangka pendidikan, pelatihan, dan penelitian di Indonesia mengajukan permohonan registrasi sementara untuk memperoleh STR

Penggunaan perawat dan bidan asing masih tergantung pada perjanjian antar negara. Ketentuan ini terakomodir di dalam DIM nomor 168 dan 169 Penyesuaian dan perbaikan redaksional

Dihapus Dihapus Pasal 28 (1) Perawat dan bidan Asing yang telah lulus Uji Kompetensi yang akan melakukan pendidikan, pelatihan, dan penelitian yang kontak langsung dengan pasien di

26

Hasil Avara 20 Juni 2013

NO. 1

RUU KEPERAWATAN USULAN DPR RI 2 sementara kepada Konsil Keperawatan Indonesia.

TANGGAPAN PEMERINTAH 3

USULAN PERUBAHAN 4 Indonesia mengajukan permohonan registrasi sementara untuk memperoleh STR sementara kepada Konsil Keperawatan Indonesia. (2) Tata cara memperoleh STR sementara sesuai dengan pasal 17 ayat (2)

186.

187.

(2) Tata cara memperoleh STR sementara sebagaimana dimaksud pada ayat (1) harus memenuhi persyaratan: a. Memiliki ijazah pendidikan keperawatan; b. Memiliki sertifikat uji kompetensi; dan c. Memiliki surat rekomendasi dari organisasi perawat. (3) STR sementara bagi perawat asing berlaku selama 1 (satu) tahun dan dapat diperpanjang untuk 1 (satu) tahun berikutnya. Pasal 29 (1) Perawat WNI lulusan luar negeri yang akan melaksanakan praktik keperawatan di Indonesia harus melalui evaluasi.

Telah diakomodir dalam DIM nomor 128

Penyesuaian redaksional

(3) STR sementara bagi perawat dan bidan asing berlaku selama 1 (satu) tahun dan dapat diperpanjang untuk 1 (satu) tahun berikutnya Pasal 29 (1) Perawat dan bidan WNI lulusan luar negeri yang akan melaksanakan praktik di Indonesia harus mengajukan permohonan kepada Konsil untuk mengikuti proses evaluasi. (2) Evaluasi sebagaimana ayat (1) meliputi: a. kesahan ijazah; dimaksud pada

188.

Permohonan evaluasi perawat dan bidan WNI lulusan luar negeri diajukan kepada Konsil.

189. 190. 191.

(2) Evaluasi sebagaimana dimaksud pada ayat (1) meliputi: a. kesahan ijazah; b. kemampuan untuk melakukan Praktik Keperawatan yang dinyatakan dengan surat keterangan telah mengikuti program adaptasi dan sertifikat kompetensi;

Perbaikan dan penyesuaian redaksional

Perbaikan dan penyesuaian redaksional

b. kemampuan untuk melakukan Praktik Keperawatan dan Kebidanan yang dinyatakan dengan surat keterangan telah mengikuti program adaptasi dan sertifikat kompetensi; c. memiliki surat keterangan sehat fisik dan mental; dan

192.

c. memiliki surat keterangan sehat fisik dan mental; dan

TETAP

27

Hasil Avara 20 Juni 2013

NO. 1 193.

RUU KEPERAWATAN USULAN DPR RI 2 d. membuat surat pernyataan untuk mematuhi dan melaksanakan ketentuan etika profesi. (3) Perawat WNI lulusan luar negeri yang telah menyelesaikan proses evaluasi sebagaimana dimaksud pada ayat (2) wajib mengikuti Uji Kompetensi. (4) Uji Kompetensi sebagaimana dimaksud pada ayat (3) dilaksanakan sesuai dengan ketentuan dalam Pasal 15 dan Pasal 16. (5) Perawat WNI lulusan luar negeri yang telah lulus Uji Kompetensi dan melakukan Pelayanan Keperawatan di Indonesia mengajukan permohonan registrasi kepada Konsil Keperawatan Indonesia. (6) Perawat WNI lulusan luar negeri yang telah memenuhi ketentuan sebagaimana dimaksud pada ayat (5) diberikan STR oleh Konsil Keperawatan Indonesia. TETAP

TANGGAPAN PEMERINTAH 3

USULAN PERUBAHAN 4 d. membuat surat pernyataan untuk mematuhi dan melaksanakan ketentuan etika profesi. (3) Perawat dan Bidan WNI lulusan luar negeri yang telah menyelesaikan proses evaluasi sebagaimana dimaksud pada ayat (2) wajib mengikuti Uji Kompetensi (4) Uji Kompetensi sebagaimana dimaksud pada ayat (3) dilaksanakan sesuai dengan ketentuan dalam Pasal 15 dan Pasal 16 (5) Perawat dan Bidan WNI lulusan luar negeri yang telah lulus Uji Kompetensi dan melakukan Pelayanan Keperawatan dan Kebidanan di Indonesia mengajukan permohonan registrasi kepada Konsil Dihapus

194.

Perbaikan dan penyesuaian redaksional

195.

Melihat pada DIM nomor 123-131

196.

Perbaikan dan penyesuaian redaksional

197.

Ketentuan ini bersifat umum, tidak perlu diatur secara berulang, ketentuan ini terakomodir di dalam DIM nomor 168-169 perlu pendelegasian dalam Peraturan Menteri sebagai peraturan pelaksanaan

198.

(7) Ketentuan lebih lanjut mengenai tata cara proses evaluasi bagi Perawat dan Bidan WNI lulusan luar negeri sebagaimana dimaksud pada ayat (1) diatur dalam Peraturan Menteri. BAB V PRAKTIK KEPERAWATAN Bagian Kesatu Umum

199.

BAB V PRAKTIK KEPERAWATAN Bagian Kesatu Umum

TETAP

200.

Pasal 30 (1) Praktik Keperawatan dilaksanakan di Pelayanan Kesehatan dan tempat lain.

Perbaikan redaksional Fasilitas

Pasal 30 (1) Praktik Keperawatan dilaksanakan di Fasilitas Pelayanan Kesehatan dan tempat lainnya sesuai dengan klien sasarannya.

28

Hasil Avara 20 Juni 2013

NO. 1 201. 202.

RUU KEPERAWATAN USULAN DPR RI 2 (2) Praktik Keperawatan sebagaimana dimaksud pada ayat (1) terdiri atas: a. praktik keperawatan mandiri perorangan; TETAP

TANGGAPAN PEMERINTAH 3

USULAN PERUBAHAN 4 (2) Praktik Keperawatan sebagaimana dimaksud pada ayat (1) terdiri atas: a. praktik keperawatan mandiri;

203. 204. 205.

b. praktik keperawatan mandiri berkelompok; dan c. praktik keperawatan di fasilitas pelayanan kesehatan. (3) Praktik Keperawatan sebagaimana dimaksud pada ayat (1) harus didasarkan pada standar Pelayanan Keperawatan. (4) Praktik Keperawatan sebagaimana dimaksud pada ayat (2) huruf a dan huruf b didasarkan pada prinsip kebutuhan pelayanan kesehatan dan/atau keperawatan masyarakat dalam suatu wilayah.

Penjelasan: Praktik keperawatan mandiri sebagaimana dimaksud dalam ketentuan ini dapat berupa praktik perorangan ataupun berkolaborasi dengan tenaga kesehatan lain, satu disiplin atau multi disiplin. Terakomodir dalam DIM 194 TETAP TETAP

Dihapus b. praktik keperawatan pelayanan kesehatan. di fasilitas

(3) Praktik Keperawatan sebagaimana dimaksud pada ayat (1) harus didasarkan pada standar Pelayanan, standar profesi, dan standar prosedur operasional. (4) Praktik Keperawatan sebagaimana dimaksud pada ayat (2) huruf a dan huruf b didasarkan pada prinsip kebutuhan pelayanan kesehatan dan/atau keperawatan masyarakat dalam suatu wilayah. (5) Ketentuan mengenai kebutuhan pelayanan kesehatan dan/atau keperawatan di satu wilayah sebagaimana dimaksud pada ayat (4) diatur dalam Peraturan Menteri. Bagian Kedua Peran dan Wewenang Pasal 31 (1) Dalam menyelenggarakan Keperawatan, Perawat berperan: Praktik

206.

TETAP

207.

(5) Ketentuan mengenai kebutuhan pelayanan kesehatan dan/atau keperawatan di satu wilayah sebagaimana dimaksud pada ayat (4) diatur dalam Peraturan Pemerintah. Bagian Kedua Peran dan Wewenang Pasal 31 (1) Dalam menyelenggarakan Praktik Keperawatan, Perawat berperan:

Perubahan redaksional, pendelegasian cukup diatur dengan Peraturan Menteri.

208. 209.

TETAP Peran perawat dalam praktik keperawatan diperluas.

29

Hasil Avara 20 Juni 2013

NO. 1 210. 211. 212.

RUU KEPERAWATAN USULAN DPR RI 2 a. pemberi Asuhan Keperawatan; b. Pendidik Klien. TETAP

TANGGAPAN PEMERINTAH 3 Perbaikan redaksional. Perawat dapat menjadi pendidik atau konselor bagi klien maupun teman sejawat dan mahasiswa keperawatan Penambahan aturan tentang pelaksanaan peran keperawatan. pengelolaan merupakan unsur yang tidak bisa dipisahkan dengan penyelanggaraan praktik keperawatan. Peneliti merupakan salah satu peran perawat dalam kemajuan ilmu dan teknologi keperawatan TETAP

USULAN PERUBAHAN 4 a. pemberi asuhan keperawatan; b. pendidik atau konselor. (2) Selain peran sebagaimana dimaksud pada ayat (1), perawat dapat juga berperan sebagai: a. pengelola keperawatan; dan/atau b. peneliti keperawatan PAK, Rabu, 26 Juni 2013: Selain peran sebagaimana dimaksud pada ayat (1) dan ayat (2), perawat dapat melaksanakan tugas: PAK, Rabu, 26 Juni 2013: Dihapus PAK, Rabu, 26 Juni 2013: Dihapus PAK, Rabu, 26 Juni 2013: Tetap PAK, Rabu, 26 Juni 2013: b. keadaan keterbatasan tertentu. (4) Peran sebagaimana dimaksud pada ayat (1) dan ayat (2) dapat dilaksanakan secara bersamaan ataupun sendiri-sendiri. (5) Pelaksanaan peran Perawat sebagaimana dimaksud pada ayat (1) dan ayat (2) harus dijalankan dengan bertanggung jawab dan akuntabel.

213. 214. 215. (3) Peran sebagaimana dimaksud pada ayat (1) dapat dilaksanakan:

216. 217. 218. 219.

a. secara mandiri; b. bekerja sama dengan pihak terkait; c. berdasarkan pelimpahan wewenang; dan d. berdasarkan penugasan khusus.

TETAP TETAP Perbaikan redaksional Keadaan keterbatasan tertentu antara lain meliputi keadaan yang tidak ada dokter/dokter gigi dan/atau tenaga kefarmasian di suatu wilayah tempat perawat bertugas. Penambahan ketentuan mengenai cara pelaksanaan peran perawat.

220.

221.

(2) Pelaksanaan peran Perawat sebagaimana dimaksud pada ayat (1) dan ayat (2) harus dijalankan dengan bertanggung jawab dan akuntabel.

TETAP

30

Hasil Avara 20 Juni 2013

NO. 1 222.

RUU KEPERAWATAN USULAN DPR RI 2 (3) Pelimpahan wewenang sebagaimana yang dimaksud pada ayat (2) huruf c dilaksanakan secara: a. delegatif; dan b. mandat. (5) Pelimpahan wewenang secara delegatif sebagaimana dimaksud pada ayat (4) huruf a diberikan oleh dokter kepada Perawat sesuai dengan kompetensi dan tanggung jawabnya.

TANGGAPAN PEMERINTAH 3

USULAN PERUBAHAN 4

Rumusan TETAP Penyesuaian redaksional, melihat DIM (6) Pelimpahan wewenang sebagaimana yang nomor 211 dimaksud pada ayat (3) huruf c dilaksanakan dengan 2 cara: a. delegatif; dan b. mandat. TETAP Penyesuaian redaksional (7) Pelimpahan wewenang secara delegatif sebagaimana dimaksud pada ayat (6) huruf a diberikan oleh tenaga medis kepada Perawat untuk melakukan tindakan medis tertentu sesuai kompetensi yang dimiliki berikut pelimpahan tanggung jawabnya. (8) Pelimpahan wewenang secara mandat sebagaimana yang dimaksud pada ayat (6) huruf b diberikan oleh tenaga medis sebagai pemberi kewenangan kepada Perawat untuk melakukan tindakan medis tertentu dan tanggung jawab tetap berada pada pemberi kewenangan. (9) Pelimpahan wewenang sebagaimana dimaksud pada ayat (3) huruf c dilakukan dalam bentuk tertulis atau secara lisan, dan dievaluasi pelaksanaannya.

223.

224.

(6) Pelimpahan wewenang secara mandat sebagaimana yang dimaksud pada ayat (4) huruf b diberikan oleh dokter sebagai pemberi kewenangan kepada Perawat dan tanggung jawab tetap berada pada pemberia kewenangan.

TETAP Penyesuaian redaksional

225.

(7) Pelimpahan wewenang sebagaimana dimaksud pada ayat (4) dilakukan dalam bentuk tertulis dan sesuai dengan kesepakatan anatarprofesi dan/atau pihak terkait. (8) Pelimpahan wewenang sebagaimana dimaksud pada ayat (4) dievaluasi secara berkala.

TETAP Penyesuaian redaksional

226.

Penyesuaian redaksi dan pendelegasian pengaturan lebih (10) Ketentuan lebih lanjut tentang lanjut cukup dalam Peraturan Menteri. pelimpahan wewenang sebagaimana dimaksud pada ayat (6), (7), (8), dan (9) diatur dengan Peraturan Menteri. Digabung dalam DIM nomor 219 Perlu penegasan bahwa kewenangan yang diatur adalah dalam upaya kesehatan perorangan, hal ini bertujuan untuk memberikan perlindungan bagi perawat, dalam upaya ini. Dihapus Pasal 32 (1) Perawat dalam menjalankan perannya terhadap Klien di bidang upaya kesehatan perorangan berwenang:

227. 228.

(9) Ketentuan lebih lanjut mengenai pelimpahan wewenang diatur dalam Peraturan Pemerintah. Pasal 32 Perawat dalam menjalankan perannya terhadap Klien berwenang:

31

Hasil Avara 20 Juni 2013

NO. 1 229. 230. 231. 232. 233. 234. 235.

RUU KEPERAWATAN USULAN DPR RI 2 a. melakukan pengkajian keperawatan holistik; b. menetapkan diagnosis keperawatan; c. merencanakan tindakan keperawatan; d. melaksanakan tindakan keperawatan; e. mengevaluasi hasil tindakan keperawatan; f. melakukan rujukan; secara TETAP TETAP TETAP TETAP TETAP

TANGGAPAN PEMERINTAH 3

USULAN PERUBAHAN 4 a. tetap; b. tetap; c. tetap; d. tetap; e. tetap; PAK, Rabu, 26 Juni 2013: f. tetap; f. memberikan pelayanan kesehatan pada keadaan gawat darurat sesuai dengan kompetensi; g. h. memberikan konsultasi keperawatan dan berkolaborasi dengan dokter; Dihapus i. melakukan penyuluhan kesehatan; dan Dihapus j. Penatalaksanaan pemberian kepada klien sesuai dengan tenaga medis atau obat bebas obat resep

Melakukan rujukan tidak perlu diatur. Perlu diatur mengenai pemberian pelayanan dalam keadaan gawat darurat.

236. 237. 238. 239. 240.

g. memberikan konsultasi keperawatan berkoordinasi dengan dokter; h. melaksanakan penugasan khusus; i. j. melakukan penyuluhan kesehatan; dan

dan

Perbaikan redaksional. Yang dilakukan dengan dokter adalah kolaborasi bukan sekedar koordinasi. Pelaksanaan penugasan khusus bukan kewenangan, namun bagian dari kewajiban apabila telah mendapatkan penugasan, dan hal ini diatur secara tersendiri. TETAP Pelaksanaan pelimpahan wewenang telah diatur secara khusus, lihat DIM nomor 215-219 Perlu diatur tentang kewenangan untuk pemberian obat kepada klien atas resep tanaga medis dan/atau obat bebas. Perlu pengaturan kewenangan dalam upaya kesehatan masyarakat, hal ini bertujuan untuk memberikan perlindungan bagi perawat.

menerima dan melaksanakan pelimpahan wewenang sebagaimana dimaksud dalam Pasal 31 ayat (4)

241.

(2) Perawat dalam menjalankan perannya terhadap klien di bidang upaya kesehatan masyarakat berwenang: a. melakukan pengkajian keperawatan

242.

32

Hasil Avara 20 Juni 2013

NO. 1

RUU KEPERAWATAN USULAN DPR RI 2

TANGGAPAN PEMERINTAH 3

USULAN PERUBAHAN 4 kesehatan masyarakat di tingkat keluarga dan kelompok masyarakat; b. menetapkan permasalahan keperawatan kesehatan masyarakat; c. melakukan penemuan kasus; d. merencanakan tindakan keperawatan kesehatan masyarakat; e. melaksanakan tindakan keperawatan kesehatan masyarakat; f. Melakukan rujukan kasus;

243. 244. 245. 246. 247. 248. 249. 250. 251. 252. Perlu mengatur tentang kewenangan klinis bagi perawat profesi atau perawat vokasi terlatih, yang merupakan perawat vokasi yang memperoleh pelatihan klinis yang dibuktikan dengan sertifikat pelatihan klinis.

g. mengevaluasi hasil tindakan keperawatan kesehatan masyarakat; h. Melakukan pemberdayaan masyarakat, advokasi, dan kemitraan i. j. melakukan penyuluhan kesehatan dan konseling Mengelola kasus (case management)

(3) Perawat profesi atau perawat vokasi terlatih dalam menjalankan perannya terhadap klien dalam pelayanan kesehatan perorangan selain memiliki kewenangan sebagaimana pada ayat (1) juga memiliki kewenangan klinis: PAK, Rabu, 26 Juni 2013: Dipikirkan rumusan yang lebih tepat.

253.

a. melakukan tindakan medis yang sesuai dengan kompetensinya atas perintah

33

Hasil Avara 20 Juni 2013

NO. 1 254. 255.

RUU KEPERAWATAN USULAN DPR RI 2

TANGGAPAN PEMERINTAH 3

USULAN PERUBAHAN 4 tenaga medis; b. memberikan imunisasi sesuai program pemerintah;

Pengaturan lebih lanjut mengenai kewenangan perawat didelegasikan dalam Peraturan Menteri.

PAK, Rabu, 3 Juli 2013: (4) Ketentuan lebih lanjut mengenai kewenangan Perawat diatur dalam Peraturan Menteri. Pasal 33 PAK, Rabu, 26 Juni 2013: Dihapus

256.

257.

Pasal 33 (1) Perawat dapat melaksanakan penugasan khusus sebagaimana dimaksud dalam Pasal 31 ayat (2) huruf d untuk memenuhi kebutuhan pelayanan kesehatan perorangan dan masyarakat di daerah terpencil, sangat terpencil, tertinggal, perbatasan, pulau-pulau kecil terluar, daerah yang tidak diminati, daerah rawan bencana atau mengalami bencana, dan konflik sosial. (2) Perawat dalam melaksanakan penugasan khusus sebagaimana dimaksud pada ayat (1), berdasarkan kompetensi dan kewenangan serta dilaksanakan sesuai dengan hierarki klinis di tempat kerjanya.

Menyesuaikan DIM nomor 212, menambahkan kata di fasilitas pelayanan kesehatan milik Pemerintah / Pemerintah Daerah.

Perbaikan redaksional Perlu memberikan penjelasan bahwa hierarki klinis adalah hubungan atasan dengan bawahan yang berkaitan dengan kewenangan klinis.

(2) keadaan keterbatasan tertentu sebagaimana dimaksud dalam Pasal 31 pada ayat (3) huruf b dilaksanakan dengan memperhatikan kompetensi dan sesuai dengan hierarki klinis di tempat kerjanya. PAK, Rabu, 26 Juni 2013: Dicari tempat yang sesuai.

258.

Perlu adanya pemberian kewenangan tertentu dalam penugasan khusus

(3) Perawat dalam menjalankan praktik keperawatan pada keadaan tertentu selain memiliki kewenangan sebagaimana dalam Pasal 32 dapat juga memberikan: PAK, Rabu, 3 Juli 2013: a. pengobatan untuk penyakit umum dalam hal tidak terdapat tenaga medis; dan

259.

Penjelasan huruf a : Yang dimaksud dengan penyakit umum merupakan penyakit atau gejala yang ringan dan sering ditemui sehari hari antara lain sakit kepala, batuk pilek, diare tanpa dehidrasi, kembung, demam, sakit gigi.

34

Hasil Avara 20 Juni 2013

NO. 1 260.

RUU KEPERAWATAN USULAN DPR RI 2

TANGGAPAN PEMERINTAH 3 PAK, Rabu, 3 Juli 2013: Yang dimaksud dengan Pelayanan Kefarmasian secara terbatas merupakan pelaksanaan tugas bagi perawat yang berada di daerah yang tidak memiliki tenaga kefarmasian untuk menyimpan dan menyerahkan obat kepada klien.

USULAN PERUBAHAN b. 4 pelayanan kefarmasian secara terbatas dalam hal tidak terdapat tenaga kefarmasian.

PAK, Rabu, 3 Juli 2013: Setneg: Aturan ini harus dilihat apakah akan bertentangan dengan PP Kefarmasian. Kemungkinan harus digugurkan materi yang sama di PP kefarmasian Catatan: Dalam RUU Nakes harus ada ketentuan penempatan semua jenis nakes di daerah.

261.

Pasal 34 (1) Pemerintah dalam menetapkan penugasan khusus kepada Perawat harus memperhatikan usulan Pemerintah Daerah. (2) Pemanfaatan Perawat yang melaksanakan penugasan khusus sebagaimana dimaksud dalam Pasal 33 ayat (1) merupakan tanggung jawab bupati/walikota dan/atau gubernur.

TETAP

Pasal 34 (1) Pemerintah dalam menetapkan penugasan khusus kepada Perawat harus memperhatikan usulan Pemerintah Daerah. (2) Pemanfaatan Perawat yang melaksanakan penugasan khusus sebagaimana dimaksud dalam Pasal 33 ayat (1) merupakan tanggung jawab bupati/walikota dan/atau gubernur. (3) Perawat yang melaksanakan penugasan khusus sebagaimana dimaksud pada ayat (2) harus disertai dengan penyediaan sarana pelayanan kesehatan, alat kesehatan, obat-obatan, dan fasilitas lainnya sesuai standar yang berlaku dengan memperhatikan hierarki dan komposisi tenaga kesehatan penyertanya atau yang tersedia, serta anggaran untuk operasionalisasi dan kesejahteraan. (4) Ketentuan lebih lanjut mengenai

262.

TETAP Penjelasan: Pemanfaatan yang dimaksud adalah proses pemberdayaan Perawat sesuai dengan kompetensi dan kewenangannya. Perbaikan redaksional, dan menambahkan ketentuan tentang perlunya memperhatikan anggaran operasional dan kesejahteraan dalam penugasan khusus. Penjelasan Hierarki minimum berkaitan dengan jabatan struktural, jabatan fungsional dan pangkat/golongan ruang

263.

(3) Perawat yang melaksanakan penugasan khusus sebagaimana dimaksud pada ayat (2) harus disertai dengan penyediaan sarana pelayanan kesehatan, alat kesehatan, obat-obatan dan fasilitas lainnya sesuai standar yang berlaku, serta memperhatikan hierarki dan komposisi tenaga kesehatan penyertanya atau yang tersedia.

264.

Pasal 35

Pendelegasian cukup dalam Peraturan Menteri

35

Hasil Avara 20 Juni 2013

NO. 1

RUU KEPERAWATAN USULAN DPR RI 2 Ketentuan lebih lanjut mengenai penugasan khusus Perawat sebagaimana dimaksud dalam Pasal 33 dan Pasal 34 diatur dalam Peraturan Pemerintah. Pasal 36 (1) Dalam keadaan darurat untuk memberikan pertolongan pertama Perawat dapat melakukan tindakan medis dan pemberian obat. (2) Pertolongan pertama sebagaimana dimaksud pada ayat (1) bertujuan untuk menyelamatkan nyawa Klien dan mencegah kecacatan lebih lanjut, (3) Keadaan darurat sebagaimana dimaksud pada ayat (1) merupakan keadaan yang mengancam nyawa Klien dan keselamatannya hanya tergantung pada inisiatif Perawat. (4) Keadaan darurat sebagaimana dimaksud pada ayat (1) ditetapkan oleh Perawat sesuai dengan bidang keilmuan. (5) Ketentuan lebih lanjut mengenai keadaan darurat sebagaimana dimaksud pada ayat (1) diatur dalam Peraturan Pemerintah. TETAP

TANGGAPAN PEMERINTAH 3

USULAN PERUBAHAN 4 penugasan khusus Perawat sebagaimana dimaksud dalam Pasal 33 dan Pasal 34 ayat (1), (2), dan (3) diatur dalam Peraturan Menteri. Pasal 36 (1) Dalam keadaan darurat untuk memberikan pertolongan pertama Perawat dapat melakukan tindakan medis dan pemberian obat. (2) Pertolongan pertama sebagaimana dimaksud pada ayat (1) bertujuan untuk menyelamatkan nyawa Klien dan mencegah kecacatan lebih lanjut (3) Keadaan darurat sebagaimana dimaksud pada ayat (1) merupakan keadaan yang mengancam nyawa atau kecacatan Klien dan keselamatannya hanya tergantung pada inisiatif Perawat. (4) Keadaan darurat sebagaimana dimaksud pada ayat (1) ditetapkan oleh Perawat sesuai hasil evaluasi berdasarkan keilmuannya. (5) Ketentuan lebih lanjut mengenai keadaan darurat dan pertolongan pertamanya sebagaimana dimaksud pada ayat (1) diatur dalam Peraturan Menteri. BAB PRAKTIK KEBIDANAN Bagian Kesatu Umum Pasal 36A

265.

266.

TETAP

267.

Perbaikan redaksional memasukkan kata atau kecacatan

268.

Perbaikan redaksional memasukkan kata hasil evaluasi berdasarkan

269.

Perubahan redaksional, pendelegasian cukup diatur dengan Peraturan Menteri

270. 271. 272.

Pemerintah mengusulkan memasukkan BAB PRAKTIK KEBIDANAN

36

Hasil Avara 20 Juni 2013

NO. 1

RUU KEPERAWATAN USULAN DPR RI 2

TANGGAPAN PEMERINTAH 3

USULAN PERUBAHAN 4 (1) Bidan dalam menyelenggarakan praktik wajib mengikuti standar pelayanan kebidanan, standar profesi, dan standar operasional prosedur. (2) Standar pelayanan kebidanan sebagaimana dimaksud dalam ayat (1) ditetapkan oleh Organisasi Profesi dan disahkan oleh Menteri. Bagian Kedua Peran dan Wewenang Pasal 36B (1) Bidan melakukan praktik kebidanan sesuai dengan pendidikan dan kompetensi yang dimiliki, meliputi: a. Pelayanan kebidanan pada masa pra kehamilan, kehamilan, pertolongan persalinan, pasca persalinan, dan menyusui b. Pelayanan Kesehatan Bayi c. Pelayanan Keluarga Berencana

273.

274. 275.

276.

277. 278. 279.

d. Pelayanan kesehatan masyarakat termasuk melakukan penyuluhan, edukasi dan konseling khususnya tentang kesehatan ibu dan bayi (2) Dalam menyelenggarakan Praktik Kebidanan, Bidan berperan sebagai:

280. 281. 282.

a. Pemberi pelayanan; b. Pengelola; 37

Hasil Avara 20 Juni 2013

NO. 1 283. 284.

RUU KEPERAWATAN USULAN DPR RI 2

TANGGAPAN PEMERINTAH 3

USULAN PERUBAHAN 4

c. Pendidik; d. Penggerak peran serta masyarakat;


dan

285. 286.

e. Peneliti. (3) Selain peran sebagaimana dimaksud pada ayat (1) dan ayat (2), perawat dapat melaksanakan tugas:
a. secara mandiri catatan: jika disesuaikan dengan perawat, maka huruf a dan b dihapus.

287.

288.

b. Kolaborasi dengan multi disiplin ilmu; catatan: jika disesuaikan dengan perawat, maka huruf a dan b dihapus.

289. 290. 291.

c.

berdasarkan dan/atau

pelimpahan

wewenang;

d. berdasarkan penugasan khusus. (4) Peran sebagaimana dimaksud pada ayat (2) dan ayat (3) dapat dilaksanakan secara bersamaan ataupun sendiri-sendiri. (5) Pelimpahan wewenang sebagaimana yang dimaksud pada ayat (3) huruf c dilaksanakan dengan 2 (dua) cara: a. delegatif; dan b. mandat. (6) Pelimpahan wewenang secara delegatif

292.

293.

38

Hasil Avara 20 Juni 2013

NO. 1

RUU KEPERAWATAN USULAN DPR RI 2

TANGGAPAN PEMERINTAH 3

USULAN PERUBAHAN 4 sebagaimana dimaksud pada ayat (5) huruf a diberikan oleh tenaga medis kepada Bidan untuk melakukan tindakan medis tertentu sesuai kompetensi yang dimiliki berikut pelimpahan tanggung jawabnya. (7) Pelimpahan wewenang secara mandat sebagaimana yang dimaksud pada ayat (5) huruf b diberikan oleh tenaga medis dan tenaga ahli lainnya sebagai pemberi kewenangan kepada Bidan untuk melakukan tindakan medis tertentu dan tanggung jawab tetap berada pada pemberi kewenangan (8) Pelimpahan wewenang sebagaimana dimaksud pada ayat (4) huruf c dilakukan dalam bentuk tertulis atau secara lisan, dan dievaluasi pelaksanaannya (9) Ketentuan lebih lanjut mengenai pelimpahan wewenang sebagaimana dimaksud pada ayat (5), (6), (7), dan (8) diatur dalam Peraturan Menteri. Pasal 36C (1) Dalam menjalankan praktik sebagaimana dimaksud dalam Pasal 36B ayat (1) huruf a, bidan memiliki kewenangan: a. Memberikan asuhan kebidanan, pendidikan kesehatan dan konseling dalam rangka perencanaan kehamilan dan persiapan menjadi orang tua. b. Memberikan asuhan antenatal untuk mengoptimalkan kesehatan ibu dan janin selama masa kehamilan termasuk ... (KIE) dan Konseling, mempromosikan ASI Eksklusif dan deteksi dini kasus

294.

295.

296.

297.

298.

299.

39

Hasil Avara 20 Juni 2013

NO. 1

RUU KEPERAWATAN USULAN DPR RI 2

TANGGAPAN PEMERINTAH 3

USULAN PERUBAHAN 4 komplikasi dan risiko melakukan rujukan c. Memberikan asuhan persalinan normal d. Memfasilitasi (IMD) Inisiasi tinggi, serta proses Dini

300. 301. 302.

selama

Menyusui

e. Memberikan asuhan pasca persalinan, termasuk KIE dan Konseling selama ibu menyusui, deteksi dini masalah laktasi, dan asuhan pasca keguguran. f. Merujuk ibu hamil, bersalin dan pasca persalinan yang membutuhkan pertolongan lebih lanjut (2) Dalam menjalankan praktik sebagaimana dimaksud Pasal 36B ayat (1) huruf b, bidan memiliki kewenangan: a. Memberikan asuhan pada bayi baru lahir, termasuk resusitasi pada kasus asfiksia dalam hal tidak terdapat tenaga dokter b. Melakukan deteksi dini kasus risiko tinggi dan komplikasi serta melakukan rujukan c. Memberikan asuhan pada Bayi Berat Lahir Rendah (BBLR) tanpa komplikasi d. Memberikan imunisasi sesuai program pemerintah e. Melakukan pemantauan tumbuh kembang bayi serta deteksi dini kasus

303.

304.

305.

306.

307. 308. 309.

40

Hasil Avara 20 Juni 2013

NO. 1

RUU KEPERAWATAN USULAN DPR RI 2

TANGGAPAN PEMERINTAH 3

USULAN PERUBAHAN komplikasi kembang 4 dan gangguan tumbuh

310.

311.

(3) Dalam menjalankan praktik sebagaimana dimaksud Pasal 36B ayat (1) huruf c, bidan memiliki kewenangan melakukan KIE, Konseling dan memberikan pelayanan kontrasepsi Pil, Suntik, IUD, Implan sesuai program pemerintah (4) Pemberian pelayanan kontrasepsi IUD dan Implan sebagaimana dimaksud dalam ayat (3) harus dilakukan oleh bidan terlatih. (5) Dalam menjalankan praktik sebagaimana dimaksud Pasal 36 ayat (1) huruf a, b dan c bidan menggunakan pendekatan asuhan kebidanan meliputi: a. Melakukan pengkajian secara holistic b. Merumuskan diagnosa masalah kebidanan dan/atau

312.

313. 314. 315. 316. 317. 318. 319.

c. Merencanakan asuhan kebidanan d. Melakukan kebidanan implementasi asuhan

e. Melakukan evaluasi f. Melakukan kebidanan pencatatan asuhan

(6) Dalam menjalankan praktik sebagaimana dimaksud Pasal 36B ayat (1) huruf d bidan memiliki kewenangan: a. Melakukan pemetaan wilayah, analisis situasi dan sosial dalam kesehatan ibu

320.

41

Hasil Avara 20 Juni 2013

NO. 1 321.

RUU KEPERAWATAN USULAN DPR RI 2

TANGGAPAN PEMERINTAH 3

USULAN PERUBAHAN 4 dan bayi b. Melakukan penetapan kesehatan ibu dan bayi masyarakat c. Menyusun perencanaan berdasarkan prioritas kesehatan ibu dan bayi masyarakat masalah bersama tindakan masalah bersama

322.

323. 324.

d. Melakukan promosi kesehatan, khususnya kesehatan ibu dan bayi e. Melakukan pembinaan upaya kesehatan ibu dan bayi bersama masyarakat di wilayah kerjanya f. Melakukan surveilans sederhana

325. 326. 327.

g. Melakukan pencatatan, evaluasi dan pelaporan (7) Melakukan pertolongan pertama pada kasus kegawatdaruratan dan merujuk ke fasilitas pelayanan kesehatan yang mempunyai kemampuan lebih tinggi. (8) Dalam menjalankan praktik di daerah terpencil, sangat terpencil, tertinggal, perbatasan, pulau-pulau kecil terluar, daerah yang tidak diminati, daerah rawan bencana atau mengalami bencana dan konflik sosial, selain memiliki kewenangan sebagaimana diatur dalam ayat (2), ayat (3), ayat (4) dan ayat (6) bidan juga memiliki kewenangan:

328.

42

Hasil Avara 20 Juni 2013

NO. 1 329.

RUU KEPERAWATAN USULAN DPR RI 2

TANGGAPAN PEMERINTAH 3 a.

USULAN PERUBAHAN 4 memberikan pelayanan kuratif pada penyakit umum pada ibu dan bayi dalam hal tidak terdapat tenaga medis Memberikan obat pada ibu dan bayi dalam hal tidak terdapat tenaga kefarmasian

330.

b.

331.

(9) Ketentuan lebih lanjut mengenai kewenangan bidan diatur dalam peraturan menteri. Pasal 36D Bidan dapat melaksanakan penugasan khusus untuk memenuhi kebutuhan pelayanan kesehatan perorangan dan masyarakat di wilayah Negara Kesatuan Republik Indonesia. Pasal 36E (1) Pemerintah dalam menetapkan penugasan khusus kepada bidan harus memperhatikan usulan Pemerintah Daerah. (2) Pemanfaatan Bidan yang melaksanakan penugasan khusus sebagaimana dimaksud dalam ayat (1) merupakan tanggung jawab bupati/walikota dan/atau gubernur. (3) Bidan yang melaksanakan penugasan khusus sebagaimana dimaksud pada ayat (2) harus disertai dengan penyediaan sarana pelayanan kesehatan, alat kesehatan, obat-obatan, dan fasilitas lainnya sesuai standar yang berlaku dengan memperhatikan komposisi tenaga kesehatan penyertanya atau yang

332.

333.

334.

335.

43

Hasil Avara 20 Juni 2013

NO. 1

RUU KEPERAWATAN USULAN DPR RI 2

TANGGAPAN PEMERINTAH 3

USULAN PERUBAHAN 4 tersedia, serta rumah dinas dan kesejahteraan sesuai dengan ketentuan yang berlaku. (4) Ketentuan lebih lanjut mengenai penugasan khusus Bidan sebagaimana dimaksud dalam ayat (1), (2), dan (3) diatur dalam Peraturan Menteri.

336.

337.

Pasal 36F (1) Dalam keadaan darurat untuk penyelamatan nyawa dan pencegahan kecacatan, Bidan dapat melakukan pelayanan kesehatan di luar kewenangannya. (3) Keadaan darurat sebagaimana dimaksud pada ayat (1) merupakan keadaan yang mengancam nyawa Pasien. (5) Ketentuan lebih lanjut mengenai keadaan darurat sebagaimana dimaksud pada ayat (1) diatur dalam Peraturan Pemerintah. BAB VI HAK DAN KEWAJIBAN Bagian Kesatu Hak dan Kewajiban Perawat Pasal 37 Perawat dalam melaksanakan Praktik Keperawatan berhak: a. memperoleh perlindungan hukum sepanjang melaksanakan tugas sesuai standar profesi, standar pelayanan keperawatan, standar operasional prosedur, kode etik, dan ketentuan peraturan perundang-undangan; TETAP Penyesuaian dan perbaikan redaksional Penyesuaian dan perbaikan redaksional BAB VI HAK DAN KEWAJIBAN Bagian Kesatu Hak dan Kewajiban Perawat dan Bidan Pasal 37 (1) Perawat dan Bidan dalam melaksanakan Praktik berhak: a. memperoleh perlindungan hukum sepanjang melaksanakan tugas sesuai standar pelayanan dan standar prosedur operasional;

338.

339.

340. 341. 342.

343.

Membatasi cukup pada standar pelayanan dan standar prosedur operasional saja, karena jika terlalu banyak standar bahkan termasuk kode etik, akan semakin sulit upaya pemberian perlindungan hukum tersebut.

44

Hasil Avara 20 Juni 2013

NO. 1 344. 345.

RUU KEPERAWATAN USULAN DPR RI 2 b. memperoleh informasi yang lengkap dan jujur dari Klien dan/atau keluarganya; c. menerima imbalan jasa atas Pelayanan Keperawatan yang telah diberikan secara mandiri, berdasarkan pelimpahan wewenang, dan dengan bekerjasama; dan TETAP

TANGGAPAN PEMERINTAH 3

USULAN PERUBAHAN 4 b. memperoleh informasi yang lengkap dan jujur dari Klien dan/atau keluarganya; c. menerima imbalan jasa atas Pelayanan Keperawatan dan pelayanan kebidanan yang telah diberikan.

346.

d. menolak keinginan Klien atau pihak lain yang memberikan anjuran atau permintaan baik lisan maupun tertulis untuk melakukan tindakan yang bertentangan dengan standar profesi, standar pelayanan keperawatan, standar operasional prosedur, kode etik, dan ketentuan peraturan perundang-undangan.

Membatasi pernyataan tidak perlu menyebutkan bentuk praktik yang dilakukannya. Penjelasan: Imbalan jasa diberikan atas pelayanan yang dilakukan baik secara mandiri, berdasarkan pelimpahan wewenang, dan/atau dengan bekerjasama/berkolaborasi dengan tenaga kesehatan lain Perbaikan redaksional, keinginan sudah cukup luas, termasuk di dalamnya anjuran maupun permintaan.

d. menolak keinginan Klien atau pihak lain yang bertentangan dengan standar profesi, standar pelayanan, standar operasional prosedur, kode etik, dan ketentuan peraturan perundang-undangan. PAK, Rabu, 26 Juni 2013: Perawat dan bidan dalam hubungan kerja dengan pemberi kerja berhak memperoleh:

347.

Pemerintah mengusulkan adanya penambahan ayat yang terkait dengan hak yang berhubungan dengan pemberi kerja. Pemberi Kerja adalah orang perseorangan, pengusaha, badan hukum, atau badan-badan lainnya yang mempekerjakan tenaga kerja dengan membayar upah atau imbalan dalam bentuk lain.

348. 349. 350. 351. 352.

PAK, Rabu, 26 Juni 2013: a. Keselamatan dan kesehatan kerja; PAK, Rabu, 26 Juni 2013: b. Syarat-syarat kerja PAK, Rabu, 26 Juni 2013: c. Upah termasuk tunjangan; PAK, Rabu, 26 Juni 2013: d. Jaminan sosial; dan PAK, Rabu, 26 Juni 2013: e. Kesejahteraan

45

Hasil Avara 20 Juni 2013

NO. 1 353.

RUU KEPERAWATAN USULAN DPR RI 2

TANGGAPAN PEMERINTAH 3

USULAN PERUBAHAN 4 PAK, Rabu, 26 Juni 2013: Hak sebagaimana dimaksud pada ayat (1) diberikan sesuai dengan ketentuan peraturan perundang-undangan.

354.

Pemerintah mengusulkan adanya penambahan ayat yang terkait dengan hak perawat dalam melaksanakan penugasan khusus.

(2) Perawat dan Bidan yang melaksanakan penugasan khusus, selain memperoleh hak sebagaimana dimaksud pada ayat (1) dan ayat (2) juga berhak: Memperoleh perlindungan dari kekerasan dan intimidasi PAK, Rabu, 26 juni 2013 b. Memperoleh jaminan kesehatan dan insentif khusus Pasal 38 Perawat dan Bidan dalam melaksanakan Praktik berkewajiban: a.

355. 356.

357.

Pasal 38 Perawat dalam melaksanakan Praktik Keperawatan berkewajiban: a. melengkapi sarana dan prasarana Pelayanan Keperawatan sesuai dengan standar pelayanan keperawatan dan ketentuan peraturan perundangundangan; b. memberikan Pelayanan Keperawatan sesuai dengan standar profesi, standar pelayanan keperawatan, standar operasional prosedur, kode etik, dan ketentuan peraturan perundangundangan; c. menghormati hak Klien; d. merujuk kasus yang tidak dapat ditangani, yang meliputi: 1. dalam aspek pelayanan/asuhan keperawatan merujuk ke anggota perawat lain yang lebih

Penyesuaian redaksional

358.

Kewajiban melengkapi sarana dibebankan kepada perawat menjalankan praktik mandiri.

dan prasarana hanya maupun bidan yang

a. melengkapi sarana dan prasarana Pelayanan sesuai dengan standar pelayanan dan ketentuan peraturan perundang-undangan bagi perawat atau bidan yang menjalankan praktik mandiri; b. memberikan Pelayanan Keperawatan dan Kebidanan sesuai dengan standar profesi, standar pelayanan, standar prosedur operasional, kode etik, dan ketentuan peraturan perundang-undangan; c. tetap;

359.

Penyesuaian redaksional

360. 361.

Memperluas batasan dasar pelaksanaan rujukan, tetapi tetap mendasarkan pada kompetensi.

d. merujuk Klien yang tidak dapat ditangani kepada perawat, bidan atau tenaga kesehatan lain yang lebih tepat, sesuai dengan lingkup dan tingkat

46

Hasil Avara 20 Juni 2013

NO. 1 362. 363. 364.

RUU KEPERAWATAN USULAN DPR RI 2 tinggi kemampuan atau pendidikannya; atau 2. dalam aspek masalah kesehatan lainnya merujuk ke tenaga kesehatan lain. e. merahasiakan segala sesuatu yang diketahuinya tentang Klien; f. mendokumentasikan Asuhan Keperawatan berdasarkan standar pelayanan keperawatan; g. memberikan informasi yang lengkap, jujur, jelas dan mudah dimengerti mengenai tindakan keperawatan kepada Klien dan/atau keluarganya sesuai dengan batas kewenangannya;

TANGGAPAN PEMERINTAH 3

USULAN PERUBAHAN 4 kompetensinya. Dihapus e. tetap;

Digabung dalam DIM nomor 351

Penyesuaian redaksional

f.

mendokumentasikan dan melaporkan Asuhan Keperawatan dan Kebidanan sesuai dengan standar;

365.

Lebih tepat menggunakan kata benar dibanding kata g. memberikan informasi yang lengkap, jujur benar, jelas dan mudah dimengerti mengenai tindakan keperawatan dan kebidanan kepada Klien dan/atau keluarganya sesuai dengan batas kewenangannya; Penyesuaian redaksional h. melaksanakan tindakan pelimpahan wewenang dari tenaga kesehatan lain yang sesuai dengan kompetensi i. melaksanakan penugasan khusus ditetapkan oleh Pemerintah. Bagian Kedua Hak dan Kewajiban Klien Pasal 39 Klien dalam Praktik Keperawatan Kebidanan berhak: dan yang

366.

h. melaksanakan tindakan pelimpahan wewenang dari tenaga kesehatan lain yang sesuai dengan kompetensi Perawat; dan i. melaksanakan penugasan khusus yang ditetapkan oleh Pemerintah. Bagian Kedua Hak dan Kewajiban Klien Pasal 39 Klien dalam Praktik Keperawatan berhak: a. mendapatkan informasi secara lengkap, jujur, dan jelas tentang tindakan keperawatan yang akan dilakukan; b. meminta pendapat Perawat lain dan/atau tenaga kesehatan lainnya;

367. 368. 369.

TETAP TETAP Penyesuaian redaksional

370.

Lebih tepat menggunakan kata benar dibanding kata jujur

a. mendapatkan informasi secara lengkap, benar, dan jelas tentang tindakan keperawatan dan/atau kebidanan yang akan dilakukan; b. meminta pendapat Perawat dan/atau Bidan lain dan/atau tenaga kesehatan lainnya;

371.

Penyesuaian redaksional

47

Hasil Avara 20 Juni 2013

NO. 1 372. 373.

RUU KEPERAWATAN USULAN DPR RI 2 c. mendapatkan Pelayanan Keperawatan sesuai dengan standar pelayanan keperawatan; d. memberi persetujuan atau penolakan tindakan keperawatan yang akan diterimanya; dan e. terjaga kerahasiaan kondisi kesehatannya. Pasal 40 Pengungkapan rahasia Klien sebagaimana dimaksud dalam Pasal 39 huruf e dilakukan atas dasar: a. persetujuan tertulis dari Klien; dan/atau b. perintah hakim pada sidang pengadilan. Pasal 41 Dalam Praktik Keperawatan, Klien berkewajiban: a. memberikan informasi yang lengkap, jujur, dan jelas tentang masalah kesehatannya; b. mematuhi nasihat dan petunjuk Perawat; c. mematuhi ketentuan yang berlaku di Fasilitas Pelayanan Kesehatan; dan d. memberikan imbalan jasa atas pelayanan yang diterima. BAB VIII ORGANISASI PROFESI PERAWAT Pasal 42

TANGGAPAN PEMERINTAH 3 Penyesuaian redaksional Perbaikan redaksional

USULAN PERUBAHAN 4 c. mendapatkan Pelayanan sesuai dengan standar; d. memberi persetujuan atau penolakan tindakan keperawatan dan/atau kebidanan yang akan dilakukan; dan e. tetap.

374. 375. 376. 377. 378.

Sudah diatur secara detail dalam Peraturan Menteri tentang Rahasia Kedokteran Sudah diatur secara detail dalam Peraturan Menteri tentang Rahasia Kedokteran Sudah diatur secara detail dalam Peraturan Menteri tentang Rahasia Kedokteran Penyesuaian redaksional

Dihapus Dihapus Dihapus Pasal 41 Dalam Praktik Keperawatan dan Kebidanan, Klien berkewajiban: a. memberikan informasi yang benar, dan jelas tentang kesehatannya; lengkap, masalah

379.

Lebih tepat menggunakan kata benar dibanding kata jujur Penyesuaian redaksional TETAP TETAP Penyesuaian redaksional, agar mencakup organisasi profesi perawat dan bidan Bab ini cukup mengatur tentang organisasi profesi yang

380. 381. 382. 383. 384.

b. mematuhi nasihat dan petunjuk Perawat dan/atau Bidan; c. mematuhi ketentuan yang berlaku Fasilitas Pelayanan Kesehatan; dan di

d. memberikan imbalan jasa atas pelayanan yang diterima. BAB VIII ORGANISASI PROFESI Pasal 42

48

Hasil Avara 20 Juni 2013

NO. 1

RUU KEPERAWATAN USULAN DPR RI 2 Untuk mempersatukan dan memberdayakan Perawat dalam rangka menunjang pembangunan kesehatan dibentuk Organisasi Profesi Perawat sebagai satu wadah yang menghimpun Perawat secara nasional dan berbadan hukum.

TANGGAPAN PEMERINTAH 3 diakui oleh Pemerintah, baik Perawat maupun Bidan, ketentuannya bersifat umum saja.

USULAN PERUBAHAN 4 PAK, Rabu, 26 juni 2013: Tetap Penjelasan ayat (1) Organisasi profesi dalam ketentuan ini meliputi Persatuan Perawat Nasional Indonesia (PPNI) bagi perawat dan Ikatan Bidan Indonesia (IBI) bagi bidan

385.

Pasal 43 Organisasi Profesi Perawat berkedudukan di Ibukota Negara Kesatuan Republik Indonesia dan dapat membentuk perwakilan di daerah. Pasal 44 (1) Organisasi Profesi Perawat berfungsi sebagai pemersatu, Pembina, pengembang, dan pengawas keperawatan di Indonesia. (2) Organisasi Profesi Perawat bertanggung jawab kepada anggota profesi, Pasal 45 Organisasi Profesi Perawat berwenang: a. memberikan rekomendasi persyaratan akreditasi institusi pendidikan keperawatan; b. memberikan rekomendasi kepada perawat untuk memperoleh SIPP pada proses pengajuan izin praktik keperawatan mandiri kepada Pemerintah Daerah; c. menyusun dan menetapkan kode etik; d. memberikan rekomendasi program adaptasi dan evaluasi Perawat Asing kepada Konsil Keperawatan Indonesia; dan e. mengusulkan anggota Organisasi Profesi Perawat untuk dimasukkan dalam Konsil Keperawatan Indonesia. Pasal 46 Organisasi Profesi Perawat bertugas : a. meningkatkan kualitas, kapabilitas dan kapasitas

Penyesuaian redaksional

Pasal 43 Organisasi Profesi berkedudukan di Ibukota Negara Kesatuan Republik Indonesia dan dapat membentuk perwakilan di daerah. Pasal 44 Ketentuan mengenai organisasi profesi sebagaimana dimaksud pada Pasal 42 dilaksanakan sesuai dengan ketentuan peraturan perundang-undangan. Dihapus Dihapus Dihapus Dihapus

386.

Tidak Perlu pengaturan detail tentang organisasi profesi dalam Undang-Undang

387. 388. 389. 390.

391. 392. 393. 394. 395.

Dihapus Dihapus Dihapus Dihapus Dihapus

49

Hasil Avara 20 Juni 2013

NO. 1 396. 397. 398. 399. 400.

RUU KEPERAWATAN USULAN DPR RI 2 Perawat dalam menjalankan asuhan keperawatan sesuai standar pelayanan keperawatan; b. melakukan sosialisasi pengembangan profesi Keperawatan; c. berpartisipasi aktif dalam pembangunan kesehatan; d. memfasilitasi perlindungan hukum kepada anggota; dan e. membentuk Kolegium Keperawatan. Pasal 47 Biaya untuk pelaksanaan tugas Organisasi Profesi Perawat dibebankan kepada anggaran pendapatan dan belanja Organisasi Profesi Perawat. Pasal 48 Ketentuan mengenai susunan Organisasi Profesi Perawat ditetapkan dalam anggaran dasar dan anggaran rumah tangga. BAB VIII KOLEGIUM KEPERAWATAN Pasal 49 (1) Kolegium Keperawatan merupakan badan otonom di dalam Organisasi Profesi Perawat dan dibentuk oleh Organisasi Profesi Perawat. (2) Kolegium Keperawatan bertanggung jawab kepada Organisasi Profesi Perawat. Pasal 50 Kolegium Keperawatan berfungsi mengembangkan cabang disiplin ilmu Keperawatan. Pasal 51 Kolegium Keperawatan berwenang: a. melakukan penilaian kompetensi Perawat Asing sebagai dasar dilakukan program adaptasi; dan b. melakukan kajian pengembangan pendidikan dan profesi Perawat. Pasal 52

TANGGAPAN PEMERINTAH 3 Dihapus Dihapus Dihapus Dihapus Dihapus

USULAN PERUBAHAN 4

401.

Dihapus

402.

Kolegium merupakan Badan Otonom di dalam organisasi profesi, sehingga tidak perlu diatur secara khusus di dalam UU, hal ini diserahkan saja kepada masing-masing organisasi profesi.

Dihapus

403.

Dihapus

404. 405. 406. 407. 408. 409.

Dihapus Dihapus Dihapus Dihapus Dihapus Dihapus

50

Hasil Avara 20 Juni 2013

NO. 1 410. 411. 412. 413. 414. 415. 416.

RUU KEPERAWATAN USULAN DPR RI 2 Kolegium Keperawatan bertugas menyusun standar kompetensi kerja Perawat. Pasal 53 Biaya untuk pelaksanaan tugas Kolegium Keperawatan dibebankan kepada: a. anggaran pendapatan dan belanja Organisasi Profesi Perawat; b. registrasi Perawat; c. bantuan Pemerintah; d. hibah; dan/atau e. sumbangan yang sah dan tidak mengikat. Pasal 54 Ketentuan mengenai susunan organisasi Kolegium Keperawatan dan keanggotaan diatur dalam Anggaran Dasar dan Anggaran Rumah Tangga Organisasi Profesi Perawat. BAB IX KONSIL KEPERAWATAN INDONESIA

TANGGAPAN PEMERINTAH 3 Dihapus Dihapus Dihapus Dihapus Dihapus Dihapus Dihapus

USULAN PERUBAHAN 4

417.

Penyesuaian redaksional PAK, Rabu, 3 Juli 2013: Alasan menghilangkan Konsil, karena saat ini menggunakan pendekatan urusan, dimana urusan kesehatan menjadi tanggung jawab kemenkes. aturan RUU ini harusnya hanya penguatan tupoksi unit-unit yang ada di kemkes dan tidak mengamanatkan pembentukan lembaga. Pembentukan lembaga dapat dilakukan jika memang tupoksinya belum ada di unit teknis kemenkes.

BAB IX KONSIL KEPERAWATAN DAN KEBIDANAN INDONESIA

418.

Pasal 55 Untuk meningkatkan derajat kesehatan masyarakat, memberikan perlindungan dan kepastian hukum kepada Perawat dan masyarakat, meningkatkan mutu Perawat, serta Pelayanan Keperawatan, dibentuk Konsil Keperawatan Indonesia.

Penyesuaian dan perbaikan redaksional

Pasal 55 (1) Untuk meningkatkan derajat kesehatan masyarakat, memberikan perlindungan dan kepastian hukum kepada Perawat, Bidan dan masyarakat, meningkatkan mutu Perawat dan Bidan, serta

51

Hasil Avara 20 Juni 2013

NO. 1

RUU KEPERAWATAN USULAN DPR RI 2

TANGGAPAN PEMERINTAH 3

USULAN PERUBAHAN 4 Pelayanan Keperawatan dan Kebidanan, dibentuk Konsil Keperawatan dan Kebidanan Indonesia (2) Konsil Keperawatan dan Kebidanan Indonesia sebagaimana dimaksud pada ayat (1) terdiri atas Konsil Keperawatan dan Konsil Kebidanan Pasal 56 Konsil Keperawatan dan Kebidanan Indonesia berkedudukan di Ibukota Negara Republik Indonesia. Pasal 57 Konsil Keperawatan dan Kebidanan Indonesia berfungsi menetapkan Praktik Keperawatan dan Kebidanan, melakukan Registrasi Perawat dan Bidan. Pasal 58 Konsil Keperawatan dan Kebidanan Indonesia berwenang: a. membina pelaksanaan kode etik dan pelayanan keperawatan dan kebidanan; Dihapus

419.

Perlu ayat tambahan untuk menjelaskan adanya konsil keperawatan dan konsil kebidanan di dalam konsil keperawatan dan kebidanan Indonesia Pasal 56 Konsil Keperawatan Indonesia berkedudukan Ibukota Negara Republik Indonesia. Penyesuaian redaksional di

420.

421.

Pasal 57 Konsil Keperawatan Indonesia berfungsi menetapkan Praktik Keperawatan dan melakukan Registrasi Perawat. Pasal 58 (1) Konsil Keperawatan Indonesia berwenang:

Penyesuaian redaksional

422.

Penyesuaian redaksional

423. 424.

a. mengawasi pelaksanaan Pelayanan Keperawatan;

kode

etik

dan

Penyesuaian redaksional DIHAPUS disesuaikan dengan UU 12/2012 bahwa kewenangan pelaksanaan uji kompetensi dan penerbitan sertifikat kompetensi merupakan kewenangan dari institusi pendidikan. Telah masuk dalam DIM nomor 116. Penyesuaian dan perbaikan redaksional

b. menerbitkan Sertifikat Uji Kompetensi;

425.

c. menyetujui dan menolak permohonan registrasi termasuk dari Perawat Asing; d. menerbitkan dan mencabut STR;

b. menyetujui dan menolak permohonan registrasi serta mencabut STR Perawat dan Bidan; Dihapus

426.

Digabung dalam DIM nomor 416.

52

Hasil Avara 20 Juni 2013

NO. 1 427. 428.

RUU KEPERAWATAN USULAN DPR RI 2

TANGGAPAN PEMERINTAH 3 Penambahan ketentuan kewenangan Konsil. Penyesuaian redaksional

USULAN PERUBAHAN 4 c. melakukan pengujian terhadap persyaratan registrasi Perawat dan Bidan; d. menegakkan disiplin keperawatan dan Kebidanan termasuk menyelidiki dan menangani masalah yang berkaitan dengan pelanggaran disiplin; dan e. menetapkan dan disiplin profesi; Dihapus memberikan sanksi

e. menegakkan disiplin keperawatan termasuk menyelidiki dan menangani masalah yang berkaitan dengan pelanggaran disiplin Perawat; dan f. menetapkan disiplin. dan memberikan sanksi

429. 430.

Perbaikan redaksional DIHAPUS disesuaikan dengan UU 12/2012 bahwa kewenangan pelaksanaan uji kompetensi dan penerbitan sertifikat kompetensi merupakan kewenangan dari institusi pendidikan. Telah masuk dalam DIM nomor 116. Penyesuaian redaksional

(2) Penerbitan Sertifikat Uji Kompetensi sebagaimana dimaksud pada ayat (1) huruf c dikeluarkan setelah perawat dinyatakan lulus uji kompetensi oleh institusi perguruan tinggi yang terakreditasi. Pasal 59 Biaya untuk pelaksanaan tugas Konsil Keperawatan Indonesia dibebankan kepada anggaran pendapatan dan belanja Organisasi Profesi Perawat. Pasal 60 a. Jumlah anggota Konsil Keperawatan paling banyak 15 (lima belas) orang.

431.

Pasal 59 Biaya untuk pelaksanaan tugas Konsil Keperawatan dan kebidanan Indonesia dibebankan kepada anggaran pendapatan dan belanja Organisasi Profesi. Pasal 60 Jumlah anggota Konsil Keperawatan dan Kebidanan Indonesia paling banyak 15 (lima belas) orang. Pasal 60A (1) Untuk menegakkan disiplin perawat dan bidan dalam menyelenggarakan praktik dibentuk Majelis Kehormatan Disiplin. (2) Majelis Kehormatan Disiplin merupakan lembaga otonom dari Konsil Keperawatan dan Kebidanan Indonesia. (3) Ketentuan lebih lanjut tentang Majelis Kehormatan Disiplin ditetapkan oleh Konsil Keperawatan dan Kebidanan Indonesia.

432.

Indonesia

Penyesuaian redaksional

433.

Perlu pembentukan majelis kehormatan disiplin sebagai badan otonom di dalam Konsil keperawatan dan kebidanan Indonesia untuk menegakkan disiplin perawat dan bidan.

434.

435.

53

Hasil Avara 20 Juni 2013

NO. 1 436.

RUU KEPERAWATAN USULAN DPR RI 2 b. Ketentuan lebih lanjut mengenai Konsil Keperawatan Indonesia diatur dengan Peraturan Presiden. BAB X PEMBINAAN DAN PENGEMBANGAN Pasal 61 Pemerintah, Pemerintah Daerah, Konsil Keperawatan Indonesia, Organisasi Profesi Perawat membina dan mengembangkan Praktik Keperawatan sesuai dengan fungsi dan tugas masing-masing. Pasal 62 (1) Pembinaan dan pengembangan Praktik Keperawatan sebagaimana dimaksud dalam Pasal 61 diarahkan untuk: a. meningkatkan mutu Pelayanan Keperawatan yang diberikan Perawat; dan b. melindungi masyarakat atas tindakan Perawat yang tidak sesuai standar operasional prosedur, (2) Pembinaan dan pengembangan Praktik Keperawatan sebagaimana dimaksud pada ayat (1) dapat dilakukan dengan mengikuti pendidikan formal dan pendidikan nonformal. (3) Pembinaan dan pengembangan Praktik Keperawatan sebagaimana dimaksud pada ayat (2) meliputi kompetensi dan kepribadian professional. Pasal 63 dan pengembangan

TANGGAPAN PEMERINTAH 3 Penyesuaian redaksional

USULAN PERUBAHAN 4 Pasal 60B Ketentuan lebih lanjut mengenai Konsil Keperawatan dan Kebidanan Indonesia diatur dengan Peraturan Presiden. BAB X PEMBINAAN DAN PENGEMBANGAN Pasal 61 Pemerintah, Pemerintah Daerah, Konsil Keperawatan dan Kebidanan Indonesia, Organisasi Profesi membina dan mengawasi Praktik Keperawatan dan Kebidanan sesuai dengan fungsi dan tugas masing-masing. Pasal 62 (1) Pembinaan dan pengawasan Praktik Keperawatan dan Kebidanan sebagaimana dimaksud dalam Pasal 61 diarahkan untuk: a. meningkatkan mutu Pelayanan Keperawatan dan Kebidanan; dan b. melindungi masyarakat atas tindakan Perawat dan Bidan yang tidak sesuai standar. (2) Pembinaan dan pengembangan Praktik Keperawatan dan Kebidanan sebagaimana dimaksud pada ayat (1) dapat dilakukan dengan mengikuti pendidikan formal dan pendidikan nonformal. (3) Pembinaan dan pengembangan Praktik Keperawatan dan Kebidanan sebagaimana dimaksud pada ayat (2) meliputi kompetensi dan kepribadian professional. (1) Pembinaan Pasal 63 dan pengembangan Praktik

437. 438.

TETAP Penyesuaian redaksional

439.

Penyesuaian redaksional

440. 441. 442.

Penyesuaian redaksional Penyesuaian redaksional Penyesuaian redaksional

443.

Penyesuaian redaksional

444. (1) Pembinaan

Penyesuaian redaksional Praktik

54

Hasil Avara 20 Juni 2013

NO. 1

RUU KEPERAWATAN USULAN DPR RI 2 Keperawatan sebagaimana dimaksud dalam Pasal 61 meliputi: a. penugasan; b. kenaikan pangkat/peringkat; dan/atau c. promosi. (2) Pengembangan karir Praktik Keperawatan dapat digunakan untuk penempatan perawat pada jenjang yang sesuai dengan keahliannya.

TANGGAPAN PEMERINTAH 3

USULAN PERUBAHAN 4 Keperawatan dan Kebidanan sebagaimana dimaksud dalam Pasal 61 meliputi: a. penugasan; b. kenaikan pangkat/peringkat; dan/atau c. promosi. (2) Pengembangan Praktik Keperawatan dan Kebidanan dapat digunakan untuk penempatan perawat dan bidan pada jenjang yang sesuai dengan keahliannya. Pasal 63A Dalam rangka pembinaan dan pengawasan perawat dan bidan yang menyelenggarakan praktik keperawatan dan kebidanan dapat dilakukan audit di bidang keperawatan dan kebidanan. Dihapus KumHAM: Materi larangan sebaiknya diintegrasikan ke pasal yang langsung mengatur hal yang dilarang. Pasal 64 Setiap orang dilarang dengan sengaja menggunakan identitas seolah-olah yang bersangkutan adalah perawat dan/atau bidan sebagaimana dimaksud dalam Pasal 4 ayat (1) Pasal 65 Perawat dan Bidan dilarang menyelenggarakan Praktik tanpa memiliki STR dan Surat Izin Praktik sebagai dasar lisensi sebagaimana dimaksud dalam Pasal 19 ayat (3)

445.

Penyesuaian redaksional

446.

Penambahan ketentuan audit di bidang keperawatan dan kebidanan dalam rangka kendali mutu dan kendali biaya.

447.

BAB XI LARANGAN

Tidak perlu mengatur bab tersendiri tentang Larangan. Ketentuan ini dapat digabungkan dalam Bab Pembinaan dan Pengembangan

448.

Pasal 64 Setiap orang dilarang dengan sengaja menggunakan identitas seolah-olah yang bersangkutan adalah perawat sebagaimana dimaksud dalam Pasal 4 ayat (1). Pasal 65 Perawat dilarang menyelenggarakan Praktik Keperawatan tanpa memiliki STR dan/atau SIPP sebagai dasar lisensi sebagaimana dimaksud dalam Pasal 19 ayat (3).

Penyesuaian redaksional

449.

Penyesuaian redaksional

55

Hasil Avara 20 Juni 2013

NO. 1 450.

RUU KEPERAWATAN USULAN DPR RI 2 Pasal 66 Pimpinan Fasilitas Pelayanan Kesehatan dilarang dengan sengaja mempekerjakan Perawat yang tidak memiliki STR dan SIPP sebagaimana dimaksud dalam Pasal 29 ayat (1). Pasal 67 Perawat dalam memberikan asuhan keperawatan dilarang memberikan resep dan obat selain obat bebas terbatas. BAB XII KETENTUAN PIDANA Pasal 68 Setiap orang yang dengan sengaja menggunakan identitas seolah-olah yang bersangkutan adalah perawat sebagaimana dimaksud dalam Pasal 64 dipidana dengan pidana penjara paling lama 5 tahun dan pidana denda paling banyak Rp. 500.000.000,00 (lima ratus juta rupiah). Pasal 69 Perawat yang menyelenggarakan Praktik Keperawatan tanpa memiliki STR dan/atau SIPP sebagai dasar lisensi sebagaimana dimaksud dalam Pasal 65 dipidana dengan pidana penjara paling lama 1 (satu) tahun dan pidana denda paling banyak Rp. 100.000.000,00 (seratus juta rupiah). Pasal 70 (1) Pimpinan Fasilitas Pelayanan Kesehatan yang dengan sengaja mempekerjakan Perawat yang tidak memiliki STR dan SIPP sebagaimana dimaksud dalam Pasal 66 dipidana dengan pidana penjara paling lama 2 (dua) tahun dan pidana denda paling banyak Rp. 200.000.000,00 (dua TETAP

TANGGAPAN PEMERINTAH 3 Penyesuaian redaksional

USULAN PERUBAHAN 4 Pasal 66 Pimpinan Fasilitas Pelayanan Kesehatan dilarang dengan sengaja mempekerjakan Perawat dan Bidan yang tidak memiliki STR dan Surat Izin Praktik sebagaimana dimaksud dalam Pasal 19 ayat (1) Pasal 67 Perawat dan bidan dalam memberikan asuhan keperawatan dan kebidanan dilarang memberikan resep. BAB XII KETENTUAN PIDANA Pasal 68 Setiap orang yang bukan perawat dan/atau bidan dengan sengaja berpraktik sebagai perawat dan/atau bidan sebagaimana dimaksud dalam Pasal 64 dipidana dengan pidana penjara paling lama 2 tahun dan pidana denda paling banyak Rp. 200.000.000,00 (dua ratus juta rupiah). Pasal 69 Perawat dan/atau bidan yang menyelenggarakan Praktik tanpa memiliki STR dan/atau Surat Izin Praktik sebagai dasar lisensi sebagaimana dimaksud dalam Pasal 65 dipidana dengan pidana denda paling banyak Rp. 50.000.000,00 (lima puluh juta rupiah). Pasal 70 (1) Pimpinan Fasilitas Pelayanan Kesehatan yang dengan sengaja mempekerjakan Perawat dan/atau bidan yang tidak memiliki STR dan Surat Izin Praktik sebagaimana dimaksud dalam Pasal 66 dipidana denda paling banyak Rp.

451.

Penyesuaian dan perbaikan redaksional, disesuaikan dengan kewenangan perawat dan bidan.

452. 453.

TETAP

454.

455.

56

Hasil Avara 20 Juni 2013

NO. 1

RUU KEPERAWATAN USULAN DPR RI 2 ratus juta rupiah). (2) Dalam hal tindak pidana sebagaimana dimaksud pada ayat (1) dilakukan oleh korporasi, selain pidana penjara atau pidana denda kepada pengurusnya, pidana dapat dijatuhkan kepada korporasi berupa pidana denda dengan pemberatan 3 (tiga) kali dari pidana denda sebagaimana dimaksud pada ayat (1). (3) Selain pidana denda sebagaimana dimaksud pada ayat (2), korporasi dapat dikenai sanksi administrasi berupa: a. pencabutan ijin pendirian; dan/atau b. pencabutan status badan hukum. Pasal 71 Perawat yang melanggar ketentuan sebagaimana dimaksud dalam Pasal 67 dipidana dengan pidana penjara paling lama 3 (tiga) tahun dan pidana denda paling banyak Rp. 500.000.000,00 (lima ratus juta rupiah) BAB XIII KETENTUAN PERALIHAN Pasal 72 STR dan SIPP yang telah dimiliki oleh Perawat sebelum Undang-Undang ini diundangkan, dinyatakan tetap berlaku sampai jangka waktu STR dan SIPP berakhir. TETAP

TANGGAPAN PEMERINTAH 3

USULAN PERUBAHAN 4 200.000.000,00 (dua ratus juta rupiah). (2) Dalam hal tindak pidana sebagaimana dimaksud pada ayat (1) dilakukan oleh korporasi, selain pidana penjara atau pidana denda kepada pengurusnya, pidana dapat dijatuhkan kepada korporasi berupa pidana denda dengan pemberatan 3 (tiga) kali dari pidana denda sebagaimana dimaksud pada ayat (1). (3) Selain pidana denda sebagaimana dimaksud pada ayat (2), korporasi dapat dikenai sanksi administrasi berupa: a. pencabutan ijin operasional; dan/atau b. pencabutan status badan hukum. Pasal 71 Perawat atau Bidan yang dengan sengaja melanggar ketentuan sebagaimana dimaksud dalam Pasal 67 diberikan sanksi administratif berupa pencabutan Surat Izin Praktik. BAB XIII KETENTUAN PERALIHAN Pasal 72 STR dan Surat Izin Praktik yang telah dimiliki oleh Perawat dan Bidan sebelum UndangUndang ini diundangkan, dinyatakan tetap berlaku sampai jangka waktu STR dan Surat Izin Praktik berakhir. Pasal 73 Selama Konsil Keperawatan dan Kebidanan Indonesia belum terbentuk, permohonan untuk memperoleh STR yang masih dalam proses, diselesaikan dengan prosedur yang berlaku sebelum Undang-Undang ini

456.

457.

Perbaikan redaksional

458.

Perbaikan redaksional

459. 460.

TETAP Penyesuaian redaksional

461.

Pasal 73 Selama Konsil Keperawatan Indonesia belum terbentuk, permohonan untuk memperoleh STR yang masih dalam proses, diselesaikan dengan prosedur yang berlaku sebelum Undang-Undang ini diundangkan.

TETAP

57

Hasil Avara 20 Juni 2013

NO. 1 462. 463.

RUU KEPERAWATAN USULAN DPR RI 2 BAB XIV KETENTUAN PENUTUP Pasal 74 Institusi pendidikan keperawatan yang telah ada sebelum Undang-Undang ini diundangkan harus menyesuaikan persyaratan sebagaimana dimaksud dalam Pasal 9, paling lama 5 (lima) tahun setelah Undang-Undang ini diundangkan. Pasal 75 Konsil Keperawatan Indonesia dibentuk paling lama 1 (satu) tahun sejak Undang-Undang ini diundangkan. TETAP

TANGGAPAN PEMERINTAH 3

USULAN PERUBAHAN 4 diundangkan. BAB XIV KETENTUAN PENUTUP Dihapus

Undang-Undang ini tidak mengatur secara khusus tentang institusi pendidikan keperawatan dan kebidanan, karena hal tersebut telah diatur dalam peraturan perundang-undangan lain.

464.

Penyesuaian redaksional

Pasal 75 Konsil Keperawatan Indonesia dan Konsil Kebidanan Indonesia dibentuk paling lama 1 (satu) tahun sejak Undang-Undang ini diundangkan. Pasal 76 Pada saat Undang-Undang ini mulai berlaku, semua peraturan perundang-undangan yang mengatur mengenai Keperawatan dan Kebidanan, dinyatakan masih tetap berlaku sepanjang tidak bertentangan atau belum diganti berdasarkan Undang-Undang ini. tetap

465.

Pasal 76 Pada saat Undang-Undang ini mulai berlaku, semua peraturan perundang-undangan yang mengatur mengenai Keperawatan, dinyatakan masih tetap berlaku sepanjang tidak bertentangan atau belum diganti berdasarkan Undang-Undang ini. Pasal 77 Peraturan pelaksanaan dari Undang-Undang ini harus ditetapkan paling lama 1 (satu) tahun terhitung sejak Undang-Undang ini diundangkan. Pasal 78 Undang-undang ini mulai berlaku pada tanggal diundangkan. Agar setiap orang mengetahuinya, memerintahkan pengundangan Undang-Undang ini dengan penempatan dalam Lembaran Negara Republik Indonesia. Disahkan di Jakarta pada tanggal ............

Penyesuaian redaksional

466.

TETAP

467. 468.

TETAP TETAP

tetap tetap

469.

tetap

58

Hasil Avara 20 Juni 2013

NO. 1

RUU KEPERAWATAN USULAN DPR RI 2 PRESIDEN INDONESIA, SUSILO YUDHOYONO REPUBLIK BAMBANG

TANGGAPAN PEMERINTAH 3

USULAN PERUBAHAN 4

Diundangkan di Jakarta Pada tanggal ............. MENTERI HUKUM DAN HAK ASASI MANUSIA REPUBLIK INDONESIA, AMIR SYAMSUDDIN 470. LEMBARAN NEGARA REPUBLIK INDONESIA TAHUN .... NOMOR ...... tetap

59