Anda di halaman 1dari 9

INTERVENSI KLIEN POST OPERASI.

PENGKAJIAN; Setelah menerima laporan dari perawat sirkulasi, dan pengkajian klien, perawat mereview catatan klien yang berhubungan dengan riwayat klien, status fisik dan emosi, sebelum pembedahan dan alergi. Pemeriksaan Fisik Dan Manifestasi Klinik System Pernafasan. Ketika klien dimasukan ke PACU, Perawat segera mengkaji klien: - Potency jalan nafas, meletakan tangan di atas mulut atau hidung. - Perubahan pernafasan (rata-rata, pola, dan kedalaman). RR <> - Auscultasi paru keadekwatan expansi paru, kesimetrisan. - Inspeksi: Pergerakan didnding dada, penggunaan otot bantu pernafasan diafragma, retraksi sternal efek anathesi yang berlebihan, obstruksi. Thorax Drain. Sistem Cardiovasculer. Sirkulasi darah, nadi dan suara jantung dikaji tiap 15 menit ( 4 x ), 30 menit (4x). 2 jam (4x) dan setiap 4 jam selama 2 hari jika kondisi stabil. Penurunan tekanan darah, nadi dan suara jantung depresi miocard, shock, perdarahan atau overdistensi. Nadi meningkat shock, nyeri, hypothermia. Kaji sirkulasi perifer (kualitas denyut, warna, temperatur dan ukuran ektremitas). Homans saign trombhoplebitis pada ekstrimitas bawah (edema, kemerahan, nyeri). Keseimbangan Cairan Dan Elektrolit - Inspeksi membran mukosa : warna dan kelembaban, turgor kulit, balutan. - Ukur cairan NG tube, out put urine, drainage luka. - Kaji intake / out put.

- Monitor cairan intravena dan tekanan darah. Sistem Persyarafan. - Kaji fungsi serebral dan tingkat kesadaran semua klien dengan anesthesia umum. - Klien dengan bedah kepala leher : respon pupil, kekuatan otot, koordinasi. Anesthesia umum depresi fungsi motor. Sistem Perkemihan. - Kontrol volunter fungsi perkemihan kembali setelah 6 8 jam post anesthesia inhalasi, IV, spinal. Anesthesia, infus IV, manipulasi operasi retensio urine. Pencegahan : Inspeksi, Palpasi, Perkusi abdomen bawah (distensi buli-buli). - Dower catheter kaji warna, jumlah urine, out put urine <> Sistem Gastrointestinal. - Mual muntah 40 % klien dengan GA selama 24 jam pertama dapat menyebabkan stress dan iritasi luka GI dan dapat meningkatkan TIK pada bedah kepala dan leher serta TIO meningkat. - Kaji fungsi gastro intestinal dengan auskultasi suara usus. - Kaji paralitic ileus suara usus (-), distensi abdomen, tidak flatus. - jumlah, warna, konsistensi isi lambung tiap 6 8 jam. - Insersi NG tube intra operatif mencegah komplikasi post operatif dengan decompresi dan drainase lambung. Meningkatkan istirahat. Memberi kesempatan penyembuhan pada GI trac bawah. Memonitor perdarahan. Mencegah obstruksi usus. Irigasi atau pemberian obat. Sistem Integumen.

- Luka bedah sembuh sekitar 2 minggu. Jika tidak ada infeksi, trauma, malnutrisi, obatobat steroid. - Penyembuhan sempurna sekitar 6 bulan satu tahun. - Ketidak efektifan penyembuhan luka dapat disebabkan : Infeksi luka. Diostensi dari udema / palitik ileus. Tekanan pada daerah luka. Dehiscence. Eviscerasi. Drain dan Balutan Semua balutan dan drain dikaji setiap 15 menit pada saat di ruang PAR, (Jumlah, warna, konsistensi dan bau cairan drain dan tanggal observasi), dan minimal tiap 8 jam saat di ruangan. Pengkajian Nyeri Nyeri post operatif berhubungan dengan luka bedah , drain dan posisi intra operative. Kaji tanda fisik dan emosi; peningkatan nadi dan tekanan darah, hypertensi, diaphorosis, gelisah, menangis. Kualitas nyeri sebelum dan setelah pemberian analgetika. Pemeriksaan Laboratorium. Dilakukan untuk memonitor komplikasi . Pemeriksaan didasarkan pada prosedur pembedahan, riwayat kesehatan dan manifestasi post operative. Test yang lazim adalah elektrolit, Glukosa, dan darah lengkap. DIAGNOSIS KEPERAWATAN. 1. Gangguan pertukaran gas, berhubungan dengan efek sisa anesthesia, imobilisasi, nyeri. 2. Gangguan integritas kulit berhubungan dengan luka pemebedahan, drain dan drainage. 3. Nyeri berhubungan dengan incisi pembedahan dan posisi selama pembedahan. 4. Potensial terjadi perlukaan berhubungan dengan effect anesthesia, sedasi, analgesi.

5. Kekurangan volume cairan berhubungan dengan kehilangan cairan intra dan post operasi. 6. Ketidak efektifan kebersihan jalan nafas berhubungan dengan peningkatan skresi. 7. Perubahan eliminasi urine ( penurunan) berhubungan dengan obat anesthesia dan immobilisasi. PERENCANAAN 1. Gangguan pertukaran gas Tujuan : Klien akan mempertahankan ekspansi paru dan fungsi pernapasan yang adekuat. Intervensi : - Posistioning klien untuk mencegah aspirasi - Insersi mayo mencegah obstruksi, melakukan suction. - Pemberian aksigen - Endotracheal tube/mayo dilepas refleks gag kembali - Dorong batuk dan bernapas dalam 5 10 x setiap 2 jam. Khususnya 72 jam pertama (potensial komplikasi :atelektasis, pneumonia). - Klien dengan penyakit paru, orang tua, perokok, panas spirometer. - Suction. 1. Gangguan integritas kulit Tujuan : - luka klien akan sembuh tanpa komlikasi luka post operatif. Penyebab luka infeksi : - kontaminasi selama pembedahan - infeksi preoperative - teknik aseptic yang terputus

- status klien yang jelek. Intervensi : - Terapi obat : antibiotik profilaksis spectrum luas (24 72 jam post op) perawatan luka dengan gaas antibiotik. - Balutan luka : ganti sesuai order dokter. Luka yang ditutup dengan balutan dibuka 3-6 hari. - Drain : evakuasi cairan dan udara mencegah luka infeksi yang dalam dan pembentukan abses pada luka bedah. 1. Nyeri Tujuan : klien akan mengalami pengurangan nyeri akibat luka bedah dan posisi selama operasi. Intervensi : - Terapi obat : Pemberian anlgetik narkotik dan non narkotik nyeri akut (meperidin hydroclorida, morphine sulphate, codein sulphate, dan lain-lain.) Mengkaji tipe, lokasi ditensitas nyeri sebelum pemberian obat. Pada pembedahan yang luas kontrol nyeri iv pump. Observasi tekanan darah, pernapasan, kesadaran, (depresi napas, hyotensi, mual, muntah komplikasi narkotik). Metode pangendalian nyeri yang lain : 1. positioning 2. perubahan posisi tiap 2 jam 3. masase EVALUASI :

SUHAN KEPERAWATAN PADA KLIEN DENGAN LAPARATOMI


Pengertian Pembedahan perut sampai dengan membuka selaput perut . Ada 4 cara, yaitu; 1. Midline incision 2. Paramedian, yaitu ; sedikit ke tepi dari garis tengah ( 2,5 cm), panjang (12,5 cm). 3. Transverse upper abdomen incision, yaitu ; insisi di bagian atas, misalnya pembedahan colesistotomy dan splenektomy. 4. Transverse lower abdomen incision, yaitu; insisi melintang di bagian bawah 4 cm di atas anterior spinal iliaka, misalnya; pada operasi appendictomy. Indikasi 1. Trauma abdomen (tumpul atau tajam) 2. Peritonitis 3. Perdarahan saluran pencernaan. 4. Sumbatan pada usus halus dan usus besar. 5. Masa pada abdomen ( Tumor, cyste dll).

Kriteria hasil yang diharapkan pada klien post op adalah : 1. Mempertahankan ekspansi paru dan fungsi yang adekuat yang ditandai suara napas jernih. 2. Mengikuti diet TKTP 3. menjelaskan dan mendemonstrasikan perawatan balutan dan drain. 4. Penyembuhan komplit tanpa komplikasi 5. Mengungkapkan nyeri hilang.

DAFTAR KEPUSTAKAAN Dr. Sutisna Himawan (editor). Kumpulan Kuliah Patologi. FKUI Brunner / Sudart. Texbook of Medical Surgical Nursing Fifth edition IB. Lippincott Company. Philadelphia. 1984. Soeparman, dkk. Ilmu Penyakit Dalam : Balai Penerbit FKUI, Jakarta, 1987, Edisi II Diposkan oleh knowing di 09:32 Label: Keperawatan Bedah ( Umum ) Luka dehiscence Prosedur pembedahan dilakukan di daerah perut kadang-kadang dapat memiliki komplikasi dan salah satu komplikasi adalah dehiscence luka. Ini adalah sesuatu yang jarang terjadi, tapi sayangnya hal itu terjadi. Dehiscence luka adalah ketika luka bedah dibuka kembali beberapa hari setelah prosedur. Ini biasanya terjadi sekitar 7 sampai 10 hari setelah prosedur, dan itu merupakan komplikasi serius, yang jika tidak ditangani dengan baik, bahkan bisa mengancam nyawa. Penyebab dehiscence luka Salah satu alasan untuk komplikasi ini adalah cacat keturunan yang disebut Sindrom Ehlers-Danlos. Sindrom ini menonaktifkan produksi kolagen yang berperan penting dalam penyembuhan luka. Kudis adalah suatu kondisi yang dikembangkan oleh kekurangan vitamin C, dan juga dapat menjadi alasan untuk dehiscence luka. Itu karena vitamin C sangat penting untuk penyembuhan luka. Alasan dehiscence luka juga bisa menjadi diabetes, penyakit paru, radioterapi, kondisi kardiovaskular, kecanduan alkohol, dan beberapa kondisi lain. Dehiscence luka dapat terjadi jika jahitan bedah tidak ditempatkan dengan cara yang benar, jika mereka tidak terlalu ketat, atau jika mereka terlalu ketat. Ada juga beberapa faktor risiko untuk komplikasi seperti kegemukan, hipertensi, usia tua, penggunaan jangka panjang obat kortikosteroid, merokok dan luka luka. Adalah penting untuk tidak menempatkan terlalu banyak tekanan pada luka, karena dapat mengakibatkan luka pembukaan kembali. Kadang-kadang komplikasi ini dapat terjadi bahkan karena batuk intensif atau bersin. Ketika datang ke jenis kelamin, perempuan lebih sering terkena komplikasi ini. Luka dehiscence pengobatan Perlakuan terdiri dari melindungi luka dengan banyak perban kasa, sementara antibiotik dapat digunakan juga untuk mencegah infeksi. Perban kasa harus diubah sering dan luka harus ditemukan dari waktu ke waktu agar lebih cepat sembuh. Kadang-kadang, ketika jaringan akan terinfeksi, operasi harus dilakukan untuk mengambil jaringan yang terkena. Anda harus menyadari bahwa, ketika komplikasi ini terjadi, perawatan yang tepat

diperlukan. Pada awalnya, Anda akan memiliki dokter untuk membantu Anda dengan perawatan, dan setelah beberapa waktu, orang yang Anda cintai dapat belajar bagaimana mengubah dressing dan untuk mengobati luka. Juga, Anda harus menggunakan obatobatan antibiotik untuk mencegah infeksi luka. Hal ini sangat penting untuk berbicara dengan dokter tentang setiap masalah yang mungkin Anda miliki. Profesional akan selalu memberikan saran yang tepat mengenai cara untuk merawat luka Anda. Dehiscence adalah istilah yang mengacu pada penciptaan spontan pembukaan. Hal ini dapat mengambil beberapa bentuk di kedua botani dan kedokteran. Paling umum, bagaimanapun, orang menggunakan istilah ini untuk merujuk kepada komplikasi fatal yang disebut operasi dehiscence luka, dimana luka bedah dibuka kembali setelah operasi. Ini dapat sangat berbahaya bagi pasien, dan salah satu alasan mengapa situs bedah begitu sangat erat dimonitor untuk memastikan bahwa tanda-tanda luka dehiscence diidentifikasi awal. Dalam kasus dehiscence luka, fenomena ini terkait dengan sejumlah hal. Operasi perut dapat menjadi faktor risiko, seperti dapat diabetes, sakit umum, dan faktor lain yang menyulitkan penyembuhan. Jika operasi yang dilakukan di situs di mana operasi telah dilakukan sebelumnya, dapat meningkatkan risiko, dan operasi sebagai akibat dari trauma parah juga dapat menjadi faktor risiko, seperti ahli bedah mungkin tidak mampu mengendalikan sayatan sebanyak dia atau dia inginkan. Terutama sayatan besar juga merupakan faktor risiko. Dehiscence luka bisa terjadi hingga akhir minggu setelah operasi. Tanda bahwa pasien mungkin berisiko dapat mencakup waktu penyembuhan lambat, debit meningkat sekitar luka, mengalami luka parah di sekitar luka, dan kurangnya jaringan granulasi sekitar luka selama proses penyembuhan. Tanda-tanda ini dapat menunjukkan bahwa pasien harus dipantau secara ketat sehingga tanda-tanda pemecahan dan pemisahan sepanjang sayatan akan cepat terlihat. Bedah adalah konsep menakutkan bagi setiap orang menghadapi pisau. Banyak dari kita yang telah menjalani operasi berbagai telah menjalankan keseluruhan pertanyaan tentang angka kematian, jaringan parut, waktu pemulihan dan setelah efek, tetapi apakah Anda pernah ditanya tentang dehiscence? Sampai beberapa operasi perut terakhir, saya belum pernah mendengar istilah itu. Sekarang, berkat pengalaman menakutkan saya, Saya seorang ahli tentang penyebab dan perawatan dari dehiscence. Dehiscence adalah realitas operasi yang mempengaruhi sekitar 112 dari 1000 pasien bedah dan dapat terjadi pada Anda. Dehiscence adalah komplikasi operasi. Definisi dehiscence adalah pembukaan kembali tidak disengaja dari luka. Ini pembukaan kembali biasanya terjadi antara 7 dan 10 hari pasca operasi dan membawa resiko yang sangat tinggi infeksi dan bahkan kematian jika tidak ditangani. Penyebab dehiscence tergantung pada jenis operasi dan pembukaan bedah yang terlibat

dalam perawatan Anda. Dalam kasus saya, misalnya, 10 histerektomi abdominal saya inci luka dibuka kembali karena drainase dari kista dihapus bahwa pemikiran ahli bedah hanya jaringan parut. Kasus lain dari dehiscence berhubungan dengan diabetes, usia meningkat, kegemukan, infeksi luka, penutupan luka yang buruk dan cedera luka setelah penutupan. Dehiscence biasanya tidak terjadi tanpa semacam tanda dan gejala disajikan sebelum kerusakan luka yang sebenarnya. Tanda-tanda dan gejala dapat termasuk memar luka mengutip, mengutip rasa sakit, diare, demam, radang kulit, muntah, discharge luka dan kerusakan kulit di sekitar area luka. Setelah operasi, beberapa gejala dapat dikaitkan dengan proses pemulihan normal. Menjaga perhatian ke daerah luka sangat penting seperti yang memperingatkan ahli bedah atau dokter jika Anda merasa luka tidak sembuh benar. Setelah luka telah dibuka atau dehiscence telah terjadi, Anda perlu berhati-hati dari daerah itu dan akan diminta untuk mengambil antibiotik oral selama paling sedikit 10 hari. Perawatan luka dehiscence meliputi perubahan rias sering basah, irigasi di daerah tersebut dan kemasan basah kain kasa steril. Luka perlu awalnya dibersihkan oleh dokter, jika tidak, pasca perawatan dehiscence dapat dilakukan oleh salah seorang perawat di rumah atau teman atau anggota keluarga. Untuk instruksi perawatan di kedalaman Anda dapat mengunjungi "Cara Perawatan Untuk Luka Open." Dehiscence luka adalah realitas kebanyakan pasien tahu sedikit tentang. Sedang disiapkan untuk semua komplikasi yang mungkin timbul dari proses bedah Anda akan membantu Anda tetap informasi tentang proses penyembuhan dan siap untuk semua masalah yang mungkin terjadi.

Anda mungkin juga menyukai