Anda di halaman 1dari 26

BAB I

PENDAHULUAN

1.1 Latar belakang


Sebuah benda yang mengalami perpindahan dari keadaan semula dikatakan
bahwa benda tersebut bergerak. Perpindahan itu sendiri dapat terjadi karena
adanya gaya yang bekerja pada benda tersebut. Setelah beberapa saat setelah
gaya tersebut dihilangkan, benda masih tetap bergerak sampai jarak tertentu.
Kecepatan yang dialami benda setelah gaya tersebut dihilangkan disebut
dengan kecepatan sisa

1.2 Tujuan percobaan


Tujuan dari percobaan ini adalah untuk menghitung gerak dengan percepatan
uniform.

1.3 Permasalahan
Permasalahan yang mungkin timbul dalam percobaan ini adalah pada
percobaan mencari kecepatan sisa, apabila jarak awalnya kurang jauh, jarak
sisanya tidak memenuhi.

1.4 Sistimatika laporan


Laporan ini dimulai dengan abstrak, kemudian dilanjutkan dengan daftar isi,
daftar gambar, daftar tabel, dan daftar grafik. Bab I berisi tentang pendahuluan,
yaitu latar belakang, tujuan percobaan, permasalahan dan sistimatika laporan.
Bab II adalah dasar teori, sedangkan Bab III adalah tentang peralatan dan cara
kerja. Analisis data dan pembahasan diletakkan pada Bab III, sedangkan
kesimpulan pada Bab IV. Terakhir adalah daftar pustaka dan kesimpulan.

1
BAB II
DASAR TEORI

Posisi kecepatan dan percepatan


Suatu benda dikatakan mengalami gerak lurus apabila lintasan yang dilalui
benda berbentuk garis lurus (tidak berbelok-belok). Untuk dapat menentukan dengan
tepat posisi dari suatu benda yang bergerak lurus, maka ditetapkan terlebih dahulu
suatu titik pada garis gerak benda tersebut sebagai titik asal gerak. Jarak dari titik asal
sampai ke benda tersebut disebut dengan koordinat benda.
Biasanya koordinat tersebut dianggap berharga positif apabila benda berada di
sebelah kanan titik asal, dan sebaliknya akan dianggap negatif apabila berada di
sebelah kiri titik asal.
Kecepatan rata-rata sebuah benda yang bergerak didefinisikan sebagai
perbandingan perpindahannya dengan selang waktu terjadinya perpindahan itu.

Kecepatan rata-rata (vektor) = perpindahan (vektor)


selang waktu (skalar)

Kecepatan rata-rata adalah besaran vektor, oleh karena hasil bagi vektor oleh skalar
tersebut akan berupa vektor pula, dan arahnya sama dengan arah perpindahan.
Kelajuan rata-rata sebuah benda yang bergerak didefinisikan sebagai
perbandingan panjang lintasan dengan selang waktunya.

Kelajuan rata-rata (skalar) = panjang lintasan (skalar)


selang waktu (skalar)

Kecepatan sesaat pada suatu titik dapat didefinisikan sebagai kecepatan rata-
rata sepanjang perpindahan yang sangat kecil sekali dan di sepanjang mana pula titik
tersebut berada.
Kecepatan benda yang bergerak berubah secara terus menerus selama gerakan
tersebut berlangsung, kecuali pada keadaan tertentu. Apabila kecepatan tersebut
mengalami perubahan, maka dikatakan bahwa benda tersebut bergerak dengan
gerakan yang dipercepat atau mempunyai percepatan.
Percepatan rata dalam selang waktu ketika benda bergerak didefinisikan
sebagai perbandingan perubahan kecepatan terhadap selang waktunya tersebut.
Percepatan rata-rata (vektor) = perubahan kecepatan(vektor)
selang waktu (skalar)

2
a = v – v0
t – t0

Percepatan sesaat sebuah benda, yaitu percepatan pada suatu saat tertentu, atau
pada saat salah satu titik di lintasannya, didefinisikan dengan cara yang sama seperti
kecepatan sesaat. Andaikan ∆ v menyatakan perubahan kecepatan selama selang
waktu ∆ t, maka percepatan rata-rata selama selang waktu ini adalah :
a = ∆ v
∆t
Harga limit dari percepatan rata-rata untuk ∆ t yang teramat sangat kecil, ialah
percepatan sesaat a. Harga limit dari ∆ v / ∆ t ialah dv/dt
a = lim ∆ v = dv
∆v→0
∆t dt

Karena v = dx / dt, maka ditulis :


a = d dx = d2x
dt dt dt2

Gerak lurus yang dialami suatu benda ada bermacam-macam yaitu :


1. Gerak lurus beraturan
Gerak lurus beraturan adalah gerak lurus sebuah benda dengan kecepatan
tetap (konstan), sehingga percepatannya (a) = 0.
v = konstan = ds / dt ⇒ ds = v dt
∫ ds = ∫ v dt ⇒ S = v . t ……………. (1)

maka diperoleh jarak yang ditempuh dalam waktu


∆t ⇒ ∆S = v.∆t

2. Gerak lurus berubah beraturan


Gerak lurus berubah beraturan adalah gerak lurus dengan percepatan
konstan (tidak nol). Dan memiliki perubahan kecepatan yang sebanding dengan
perubahan kecepatan dan waktu gerak.
Pada gerak lurus berubah beraturan (GLBB) berlaku :
v ≠ 0 dan a ≠ 0

karena a = dv / dt, maka dv = a . dt


Bila diintegrasikan :
∫ dv = ∫ a dt

3
Karena a = konstan, maka
∫ dv = a ∫ dt

Misalkan pada keadaan awal (t = 0), kecepatannya adalah v0, sedangkan


pada saat t mempunyai kecepatan sebesar v, maka
v0 ∫v dv = a t0∫t dt

sehingga
v – v0 = a (t – 0 )

atau :
v = v0 + a t ……………. (2)

sedangkan
v = ds / dt

maka
ds = v . dt
= (v0 + a t) dt

bila diintegrasikan :
∫ ds = ∫ (v0 + a t) dt

misalkan juga bahwa pada saat awal benda ada di S0 dan pada saat t benda ada di
S, maka :
s0∫s ds = t0∫t (v0 + a t) dt

sehingga :
S – S0 = v0t + ½ a t2 ……………… (3)

Di sini, S tidak menyatakan jarak yang ditempuh melainkan menyatakan


posisi benda pada saat t. Jarak yang ditempuh dalam hal ini adalah x – x0 .
Selain rumus-rumus di atas juga terdapat suatu rumus lain untuk gerak
lurus dengan percepatan tetap, yang menghubungkan kecepatan v dengan posisi
x. Hubungan tersebut dapat diperoleh dengan cara sebagai berikut :
Dari v = v0 + a t akan diperoleh :
t = v - v0
a

Substitusi t dalam persamaa (3) akan menghasilkan :


S = S0 + ½ v2 - v02
a

4
Jadi v2 = v02 + 2a (S – S0)

BAB III
PERALATAN DAN CARA KERJA

3.1 Peralatan

Untuk percobaan ini dibutuhkan peralatan:


1. Satu set Fletchers Trolley
2. Stop clock satu buah
3. Holding magnet
4. Small Contact Plate
5. Power supply tegangan rendah
6. Morsey key satu buah
7. Kabel penghubung satu set (8 buah)

3.2 Cara kerja

1. Menyusun rangkaian 1, untuk percobaan pertama.


2. Mencatat waktu yang diperlukan untuk menempuh jarak A dan B, atau S,
dan mengulangi sebanyak 5 kali.
3. Menyusun rangkaian 2. Menentukan jarak B – C atau S’ tetap dan
mengatur penyangga bandul agar pada waktu kereta menyentuh small
contact plate, beban telah disangga oleh penyangga.
4. Mencatat waktu yang diperlukan (t’) untuk jarak S’ dengan jarak S yang
berubah-ubah menurut langkah 2, dan mengulangi sebanyak lima kali.

5
6
BAB IV
ANALISIS DATA DAN PEMBAHASAN

4.1 Analisis data


Ralat pengukuran
Dari hasil pengukuran yang berulang, didapatkan besar gaya yang berbeda. Oleh
karena itu perlu adanya ralat kebetulan.

Ralat t percobaan 1, dengan S = 20 cm

_ _
No. t (detik) t- t ( t - t )2
1. 1.92 0.046 0.002116
2. 1.85 -0.024 0.000576
3. 1.78 -0.094 0.008836
4. 1.9 0.026 0.000676
5. 1.92 0.046 0.002116
_ _
t= 1.874 Σ ( t - t ) 2 = 0.01432

Tabel 1.1

Ralat mutlak:
_
∑ (∆ F - ∆ F) 2 1/2

∆ =
n ( n - 1)

1/2
= 0.01432
20

= 0.03
Ralat nisbi: I= ∆ / t x 100 %
= 0.03 x 100 %
1.874
= 1.6 %

Keseksamaan: K = 100 % - I
= 100 % - 1.6 %
K = 98.4 %
Ralat t percobaan 1, dengan S = 30 cm

7
_ _
No. t (detik) t- t ( t - t )2
1. 2.21 0.018 0.000324
2. 2.15 -0.042 0.001764
3. 2.2 0.008 0.000064
4. 2.22 0.028 0.000784
5. 2.18 -0.012 0.000144
_ _
t = 2.192 Σ ( t - t ) 2 = 0.00308

Tabel 1.2

Ralat mutlak:
_
∑ (t - t)2 1/2

∆ =
n ( n - 1)

1/2
= 0.00308
20

1/2

= 0.000154

= 0.01

Ralat nisbi: I= ∆ / t x 100 %


= 0.01 x 100 %
2.192
= 0.456 %

Keseksamaan: K = 100 % - I
= 100 % - 0.456 %
K = 98.544 %

Ralat t percobaan 1, dengan S = 40 cm

_ _

8
No. t (detik) t- t ( t - t )2
1. 2.71 0.022 0.000484
2. 2.63 -0.058 0.003364
3. 2.72 0.032 0.001024
4. 2.7 0.012 0.000144
5. 2.68 -0.008 0.000064
_ _
t = 2.688 Σ ( t - t ) 2 = 0.00508

Tabel 1.3

Ralat mutlak:
_
∑ (t - t)2 1/2

∆ =
n ( n - 1)

1/2
= 0.00508
20

1/2

= 0.000254

= 0.02

Ralat nisbi: I= ∆ / t x 100 %


= 0.02 x 100 %
2.688
= 0.744 %

Keseksamaan: K = 100 % - I
= 100 % - 0.744 %
K = 99.256 %

Ralat t percobaan 2, dengan S = 40 cm

_ _
No. t (detik) t- t ( t - t )2
1. 1.15 -0.008 0.000064

9
2. 1.18 0.022 0.000484
3. 1.15 -0.008 0.000064
4. 1.14 -0.018 0.000324
5. 1.17 0.012 0.000144
_ _
t = 1.158 Σ ( t - t ) 2 = 0.00108

Tabel 1.4

Ralat mutlak:
_
∑ (t - t)2 1/2

∆ =
n ( n - 1)

1/2
= 0.00108
20

1/2

= 0.000054

= 0.007

Ralat nisbi: I= ∆ / t x 100 %


= 0.007 x 100 %
1.158
= 0.6 %

Keseksamaan: K = 100 % - I
= 100 % - 0.6 %
K = 99.4 %

Ralat t percobaan 2, dengan S = 45 cm

_ _
No. t (detik) t- t ( t - t )2
1. 1.05 0 0
2. 1.04 -0.01 0.0001
3. 1.05 0 0

10
4. 1.05 0 0
5. 1.06 0.01 0.0001
_ _
t = 1.05 Σ ( t - t ) 2 = 0.0002

Tabel 1.5

Ralat mutlak:
_
∑ (t - t)2 1/2

∆ =
n ( n - 1)

1/2
= 0.0002
20

1/2

= 0.00001

= 0.03

Ralat nisbi: I= ∆ / t x 100 %


= 0.03 x 100 %
1.05
= 0.286 %

Keseksamaan: K = 100 % - I
= 100 % - 0.286 %
K = 99.714 %

Ralat t percobaan 2, dengan S = 50 cm

_ _
No. t (detik) t- t ( t - t )2
1. 0.98 0 0
2. 0.97 -0.01 0.0001
3. 0.99 0.01 0.0001
4. 0.98 0 0
5. 0.98 0 0

11
_ _
t = 0.98 Σ ( t - t ) 2 = 0.0002

Tabel 1.6

Ralat mutlak:
_
∑ (t - t)2 1/2

∆ =
n ( n - 1)

1/2
= 0.0002
20

1/2

= 0.00001

= 0.03

Ralat nisbi: I= ∆ / t x 100 %


= 0.03 x 100 %
0.98
= 0.3 %

Keseksamaan: K = 100 % - I
= 100 % - 0.03 %
K = 99.7 %

Besar k dapat diperoleh dengan menggunakan persamaan :


k = S / t2`
Sedangkan besar a dapat diperoleh dengan menggunakan persamaan :
k = ½a
a = 2k

Percobaan I

 k = S / t2` a = 2k
= 0,2 / (1,874)2 = 2 . 0,057

12
= 0,2 / 3,511876 = 0,114
= 0,057
 k = S / t2` a = 2k
= 0,3 / (2,192)2 = 2 . 0,06
= 0,3 / 4,804864 = 0,12
= 0,06
 k = S / t2` a = 2k
= 0,4 / (2,688)2 = 2 . 0,055
= 0,4 / 7,225344 = 0,11
= 0,055

Percobaan II

 k’ = S’ / t’2` a’ = 2 k’
= 0,4 / (1,158)2 = 2 . 0,3
= 0,4 / 1.340964 = 0,6
= 0,3
 k’ = S’ / t’2` a’ = 2 k’
= 0,45 / (1,05)2 = 2 . 0,4
= 0,45 / 1.1025 = 0,8
= 0,4
 k’ = S’ / t’2` a’ = 2 k’
= 0,5 / (0,98)2 = 2 . 0,5
= 0,5 / 0.9604 = 1,0
= 0,5

Dari hasil tersebut dicari ralat mutlaknya untuk mencari besar k dan a

♦ Ralat k percobaan 1

_ _
No. k k - k ( k - k )2
1. 0,057 -0,00033 0,000000110889
2. 0,06 0,002667 0,00000711289
3. 0,055 -0,00233 0,00000544289
_ _
k = 0,057333 Σ ( k - k ) 2 = 0,0000126667

Tabel 1.7

13
Ralat mutlak:
_
∑ (k - k) 2 1/2

∆ =
n ( n - 1)

1/2
= 0,0000126667
20

= 0,0008

Besar k percobaan 1 adalah 0,057333 ± 0,0008.


Jadi besar k percobaan 1 terletak antara 0,057333 + 0,0008 dan 0,057333 - 0,0008

♦ Ralat k percobaan 2

_ _
No. k k - k ( k - k )2
1. 0,3 -0,1 0,01
2. 0,4 0 0
3. 0,5 0,1 0,01
_ _
k = 0,4 Σ ( k - k ) 2 = 0,02

Tabel 1.8

Ralat mutlak:
_
∑ (k - k) 2 1/2

∆ =
n ( n - 1)

1/2
= 0,02
20

= 0,03

Besar k percobaan 2 adalah 0,4 ± 0,03.


Jadi besar k percobaan 2 terletak antara 0,4 + 0,03 dan 0,4 - 0,03.

14
♦ Ralat a percobaan 1

_ _
No. a a- a ( a - a )2
1. 0,114 -0,0007 0,00000049
2. 0,12 0,0053 0,00002809
3. 0,11 -0,0047 0,00002209
_ _
a = 0,1147 Σ ( a - a ) 2 = 0,00005067

Tabel 1.9

Ralat mutlak:
_
∑ (a - a) 2 1/2

∆ =
n ( n - 1)

1/2
= 0,00005067
20

= 0,001

Besar a percobaan 1 adalah 0,1147 ± 0,001.


Jadi besar a percobaan 1 terletak antara 0,1147 + 0,001 dan 0,1147 - 0,001
♦ Ralat a percobaan 2

_ _
No. a a- a ( a - a )2
1. 0,6 -0,2 0,04
2. 0,8 0 0
3. 1 0,2 0,04
_ _
a = 0,8 Σ ( a - a ) 2 = 0,08

Tabel 1.10

Ralat mutlak:
_
∑ (a - a) 2 1/2

∆ =
n ( n - 1)

15
1/2
= 0,08
20

= 0,06

Besar a percobaan 2 adalah 0,8 ± 0,06.


Jadi besar a percobaan 2 terletak antara 0,8 + 0,06 dan 0,8 - 0,06.

Selain itu dapat pula dicari besar V dengan menggunakan rumus :


V = a.t

Percobaan I

V = 0,114 . 1,874
= 0,214
V = 0,12 . 2,192
= 0,26
V = 0,11 . 2,688
= 0,29

Percobaan II

V = 0,6 . 1,158
= 0,6948
V = 0,8 . 1,05
= 0,84
V = 1 . 0,98
= 0,98

Dari data S, V dan t, dapat dibuat grafik S = f (t2) dan V = f (t)

Percobaan I

0.6
0.5

0.4 y = 0.0522x + 0.03

0.3

0.2
0.1

0 16
-1 -0.2 0.6 1.4 2.2 3 3.8 4.6 5.4 6.2 7 7.8
Grafik 1.1

Dengan regresi linear :


y = 0,0522 x + 0,03
x = 0 → y = 0,03
y=0 → x = - 0,58

Dari grafik tersebut dapat dicari besar k dengan menggunakan rumus :


k = S / t2
= 0,03 / 0,58
= 0,3
Percobaan II

0.7
0.6
0.5
0.4
0.3
0.2
0.1 y = -0.2575x + 0.7417
0
-1 -0.2 0.6 1.4 2.2 3 3.8 4.6 5.4 6.2 7 7.8

Grafik 1.2

Dengan regresi linear :


y = -0,2575 x + 0,7417
x = 0 → y = 0,74
y=0 → x = 2,88

Dari grafik tersebut dapat dicari besar a dengan menggunakan rumus :


k = S / t2
= 0,74 / 2,88
= 0,3

17
Percobaan 1

1
0.9
0.8
0.7
0.6
0.5
y = 0.0905x + 0.0509
0.4
0.3
0.2
0.1
0
-1 -0.1
-0.6 -0.2 0.2 0.6 1 1.4 1.8 2.2 2.6 3
-0.2

Grafik 1.3
Dengan regresi linear :
y = 0,0905 x + 0,0509
x = 0 → y = 0,051
y=0 → x = -0,56

Dari grafik tersebut dapat dicari besar k dengan menggunakan rumus :


a = v/t
= 0,051 / 0,56
= 0,094 m/dtk2

Percobaan II

2.6
2.4
2.2
2
1.8
1.6
1.4
1.2
1
0.8
0.6 y = -1.3865x + 2.265
0.4
0.2
0
0 0.2 0.4 0.6 0.8 1 1.2 1.4 1.6

Grafik 1.4

18
Dengan regresi linear :
y = -1,3865 x + 2,265
x = 0 → y = 2,26
y=0 → x = 1,6

Dari grafik tersebut dapat dicari besar k dengan menggunakan rumus :


a = v/t
= 2,26 / 1,6
= 1,4 m/dtk2

4.2 Pembahasan
Bila dibandingkan, percobaan pertama lebih cepat daripada percobaan kedua.
Hal ini dikarenakan, pada percobaan kedua ketika waktu dicatat, sudah tidak ada gaya
pada benda, sehingga benda hanya bergerak dengan kecepatan sisa saja.
Pada percobaan pertama semakin jauh jarak S, semakin lama waktu yang
diperlukan untuk menempuh jarak tersebut. Pada percobaan kedua, dengan S’, yang
sama didapatkan bahwa semakin jauh jarak S, maka semakin cepat waktu yang
dibutuhkan benda untuk menempuh jarak S’.
Perbandingan hasil a dan k, dari perhitungan rumus dengan grafik, dengan
menggunakan rumus yang berbeda, perbedaannya tidak terlalu besar, kemungkinan
besar perbedaannya diakibatkan karena akumulasi perbedaan pembulatan angka
desimal.

19
BAB V
KESIMPULAN

Dari berbagai kegiatan yang kami lakukan dalam melaksanakan percobaan ini,
kami dapat menyimpulkan beberapa masalah, antara lain:
• Benda yang bergerak dengan gaya, geraknya lebih cepat daripada benda yang
bergerak tanpa gaya, hanya disebabkan karena kecepatan awalnya saja..
• Semakin jauh jarak S, semakin lama waktu yang diperlukan untuk menempuh
jarak tersebut.
• Semakin jauh jarak S, maka semakin cepat waktu yang dibutuhkan benda
untuk menempuh jarak S’.
• Besar k pada percobaan I adalah 0,057333 ± 0,0008
• Besar k pada percobaan II adalah 0,4 ± 0,03
• Besar a pada percobaan I adalah 0,1147 ± 0,001 m/dtk2
• Besar a pada percobaan II adalah 0,8 ± 0,06 m/dtk2

20
ABSTRAK

Jika sebuah gaya bekerja pada sebuah benda diam, maka benda itu akan
bergerak dengan arah resultan gaya tersebut dengan suatu percepatan a. Selama gaya
tersebut tetap bekerja pada benda, maka benda itu akan tetap akan bergerak dengan
percepatan konstan sampai pada titik / detik tertentu gaya dihilangkan benda akan
tetap bergerak dengan kecepatan awal ≠ 0 (kecepatan sisa) dan mengalami suatu
perlambatan hingga akhirnya berhenti.
Percobaan ini akan mempelajari kejadian seperti di atas dengan memakai alat
Fletchers Trolley, dengan mengacu pada hukum Newton tentang gerak benda.
Percobaan ini melihat dua keadaan, yaitu ketika benda bergerak karena adanya gaya,
dan benda gergerak dengan kecepatan sisa.

i
DAFTAR ISI

1. Abstrak ............................................................................................ ( i )
2. Daftar isi ...................................................................................... ( ii )
3. Daftar gambar ................................................................................ ( iii )
4. Daftar tabel ..................................................................................... ( iv )
5. Daftar grafik ……………………………………………………… ( v )
6. BAB I Pendahuluan ..................................................................... 1
1.1 Latar belakang ........................................................................ 1
1.2 Tujuan percobaan ................................................................... 1
1.3 Permasalahan ......................................................................... 1
1.4 Sistimatika laporan .................................................................. 1
7. BAB II Dasar Teori ................................................................... 2
8. BAB III Peralatan dan cara kerja ..................................................... 5
3.1 Peralatan ................................................................................. 5
3.2 Cara kerja ............................................................................... 5
9. BAB IV Analisis data dan pembahasan ........................................... 7
4.1 Analisis data ............................................................................ 7
4.2 Pembahasan ............................................................................ 20
10. BAB V Kesimpulan ...................................................................... 21
11. Daftar Pustaka .............................................................................. ( vi )
12. Lampiran

ii
DAFTAR GAMBAR

1. Gambar rangkaian alat percobaan 1


Gambar 1.1 ......................................................................................... 6
2. Gambar rangkaian alat percobaan 2
Gambar 1.2 ......................................................................................... 6

iii
DAFTAR TABEL

1. Tabel ralat t percobaan 1, dengan S = 20 cm


Tabel 1.1 .............................................................................................. 7
2. Tabel ralat t percobaan 1, dengan S = 30 cm
Tabel 1.2 .............................................................................................. 8
3. Tabel ralat t percobaan 1, dengan S = 40 cm
Tabel 1.3 .............................................................................................. 9
4. Tabel ralat t percobaan 2, dengan S = 40 cm
Tabel 1.4 .............................................................................................. 10
5. Tabel ralat t percobaan 2, dengan S = 45 cm
Tabel 1.5 .............................................................................................. 11
6. Tabel ralat t percobaan 2, dengan S = 50 cm
Tabel 1.6 .............................................................................................. 12
7. Tabel ralat k percobaan 1
Tabel 1.7 .............................................................................................. 14
8. Tabel ralat k percobaan 2
Tabel 1.8 .............................................................................................. 14
9. Tabel ralat a percobaan 1
Tabel 1.9 .............................................................................................. 15
10. Tabel ralat a percobaan 2
Tabel 1.10 .............................................................................................. 16

iv
DAFTAR GRAFIK

1. Grafik S = f (t2) percobaan 1


Grafik 1.1 ......................................................................................... 17
2. Grafik S = f (t2) percobaan 2
Grafik 1.2 ......................................................................................... 18
3. Grafik v = f (t) percobaan 1
Grafik 1.2 ......................................................................................... 18
4. Grafik v = f (t) percobaan 2
Grafik 1.2 ......................................................................................... 19

v
DAFTAR PUSTAKA

1. Dosen - dosen Fisika, Fisika I, Jurusan Fisika Fakultas Matematika dan Ilmu
Pengetahuan Alam Institut Teknologi Sepuluh Nopember, Surabaya, 1998.

2. Sears. Zemansky, Fisika Untuk Universitas 1, Yayasan Dana Buku Indonesia,


Jakarta-New York, 1994.

3. Dosen - dosen Fisika, Petunjuk Praktikum Fisika Dasar, Fakultas Matematika


dan Ilmu Pengetahuan Alam, Institut Teknologi Sepuluh Nopember, Surabaya,
1998.

vi