Anda di halaman 1dari 7

L 1

1. Rangkaian (a) dapat dikatakan lebih menguntungkan, karena pada rangkaian tersebut hambatan
(resistor) diletakkan pada akhir rangkaian. Sehingga arus yang melewati rangkaian kawat
konduktor akan tidak akan tertahan, sebab tidak ada resistor yang menghambat. Hambatan akan
terjadi setelah melewati kawat konduktor, sehingga dibandingkan dengan rangkaian (b) yang
meletakkan resistor diawal rangkaian, dimana arus langsung dihambat oleh resistor, menyebabkan
arus akan mengalami hambatan.

2. Standar resistor merupakan jenis tahanan (resistor) yang nilai tahanannya dapat diubah-ubah.
Tahanan ini digunakan guna mendapatkan nilai arus I yang konstan.

3. Hukum Joule, beda potensial adalah kerja yang dibutuhkan untuk memindahkan satu satuan
muatan dalam medan. Dimisalkan pada suatu rangkaian, akibat adanya beda potensial V, timbullah
arys I. Maka setiap detiknya akan ada I coulomb yang dipindah dan ada V.I joule kerja yang
dibutuhkan. Atau dengan kata lain dapat dituliskan :
Daya = energi / detik
= V.I joule / detik
= V.I watt
atau bisa juga ditulis :
P = V.I (watt)
Jadi daya ini dikeluarkan di dalam kawat tiap detiknya. Tentunya daya ini akan hilang sebagai panas.
Panas yang timbul berasal dari E yang mempercepat elektron, lalu terjadi tabrakan yang
menyebabkan elektron akan kehilangan energinya ke dalam bagian-bagian bahan dan akibatnya
temperatur bahan akan naik. Dan energi yang hilang dikawat oleh arus I selama t detik
didefinisikan sebagai : W = V.I.t

4. Tahanan kawat tergantung pada temperatur, ini bisa dibuktikan menurut persamaan :
R = ƒ.l / A dimana ƒt = ƒ0 (1 + α.∆t)
Rt = ƒt . l / A
= ƒ0 . l . (1 + α.∆t) / A
Rt = R0 . (1 + α.∆t)
Sehingga dari persamaan di atas terlihat bahwa tahanan kawat tergantung pada temperatur.

L 2

1. Melalui persamaan : G = a .i. t dimana Q = i.t,

dapat dituliskan bahwa a = G / Q ⇒ a = jumlah muatan dalam P,

G = massa dalam gram,

1 F= 96500 coulomb.

Reaksi kimia yang terjadi bila terdapat arus listrik pada larutan CuSO4 pada reaksi di katoda : Cu 2+ +

2a → Cu. Diperlukan 2 elektron untuk mengubah ion Cu2+ menjadi Cu dalam bentuk endapan.

Sehingga bobot Cu yang diperlukan untuk mengeluarkan 1 mol elektron adalah 1/2 kali beban atom

Cu, sehingga :

a = (1/2 . Ar Cu) / 96500

a = (1/2 . 63,5) / 96500

a = 0,329 miligram/Cu.

2. Kutub anoda katoda perlu diperhatikan untuk :


a. Mengetahui reaksi kimia yang terjadi :

Pada katoda (elektroda -) terjadi reaksi reduksi, dimana katoda menarik ion+ untuk reduksi. Selain itu

pada anoda (elektroda +) terjadi reaksi oksidasi, dimana anoda menarik ion - untuk dioksidasi.

b. Mencegah kerusakan amperemeter.

3. Menentukan I maksimum :

dengan mengukur luas permukaan, yaitu : arus maksimum = luas permukaan katoda dikali kepadatan

arus ( 2 X lempeng tercelup dikalikan kepadatan I maksimum), untuk itu I maksimum harus

ditentukan terlebih dahulu agar tidak terjadi kelebihan arus pada katoda karena, yang digunakan

pada katoda adalah logam yang mempunyai kepadatan arus 0,01 - 0,02 ampere/m2. Selain guna

mencegah terjadinya oksidasi-reduksi samping yang dapat mengakibatkan endapan logam yang

harapkan menjadi lebih sedikit. Hal ini disebabkan banyaknya gelembung-gelembung gas yang

menempel pada permukaan anoda dapat menghalangi transfer elektron.

M 1

1. Sebuah bandul fisis yang panjangnya l dengan massa partikel m membentuk sudut θ dengan
vertikal Pada saat titik massa mempunyai simpangan sudut θ atau x dari posisi keseimbangannya,
maka gaya pemulihannya akan sama dengan gaya tangensialnya dan dapat ditulis dengan F = -mg sin
θ atau F = -mg dengan catatan θ < 15° dimana perbedaan θ dan sin θ hanya 1,1 %. Pada sudut θ
kecil berlaku : F = -mg sin θ = -mg x/l = - mgx/l.
Selama m, g, l tetap besarnya, maka mg/l juga tetap. Bila mg/l = k, maka F = -kx merupakann
persamaann gerak harmonis. Dalam persamaan gerak harmonis, diketahui k = mω2, jadi
mg/l = mω2 ⇒ g/l = 4π2/T2 ⇒ T2 = 4 π2l/g ⇒ T = 2π(l/g)1/2 (terbukti)

2. Panjang kawat berbanding lurus dengan periode. semakin panjang kawat semakin besar pula
periodenya.
Berat bandul tidak berpengaruh terhadap periode.

3. Sebuah batang berputar terhadap sumbu tetap horisontal melalui salah satu titiknya. Titik
beratnya terletak pada jarak c dari sumbu putarnya. Ketika batang ini disimpangkan melalui sudut
θ terhadap garis vertikal , maka akan terjadi osilasi. Osilasi ini merupakan getaran selaras jika
sudut θ dibuat kecil.
Torsi pemulihan batang : τ = -mg a sin θ = - mg a θ = I α
Persamaan gerak bandul fisis dapat ditulis dengan :
I α + mg a θ = 0 ⇒ I d2θ/dt 2 + mg a θ = 0 ⇒ d2θ/dt2 + mg a θ / I =0
Dibandingkan dengan persamaan umum gerak harmonik
d2x/dt2 + kx/m = 0 , jadi k/m =mg a/ I ⇒ mω2/m = mg a / I ⇒ 4π2/T = mg a/I
⇒ T = 2π (I / mg a)1/2
Jika diketahui momen inersia batang : I = m ke 2 + ma2 (ke : jari-jari girasi terhadap pusat massa), jadi
: T = 2π {m(ke2 + a2) / mga}1/2 ⇒ T = 2π {(ke2 + a2) / ga}1/2 (terbukti)

T1 = 2π {(ke2 + a12) / ga1}1/2 ⇒ T12 = 4π2 (ke2 + a12) / ga1


T2 = 2π {(ke2 + a22) / ga2}1/2 ⇒ T22 = 4π2 (ke2 + a22) / ga2

Harga ke untuk kedua persamaan adalah sama,


ke2 = (4π2 a12 - ga1 r 12)/ 4π2 , ke2 = (4π2 a22 - ga2 r 22)/ 4π2

4π2 a12 - ga1 r 12 = 4π2 a22 - ga2 r 22 ⇒ ga2 r22 - ga1 r12 = 4π2 a22 - 4π2 a12 ⇒
g(a2r 22 - a1r12) = 4π2(a22 - a12) ⇒ {a2r 22 - a1ra22/ 4(a22 - a12)} = π2 / g ⇒
(2a2T22 - 2a1T12) / g(a22 - a12) = π2 / g ⇒
{(a1T12+a1T22 - a2T12 - a2T22)+( a1T12-a1T22 + a2T12 - a2T22)}/g(a1+a2)(a1-a2)= π2/g
{(a1 - a2)(T12 + T22) + (a1 + a2)(T12 - T22)} / g(a1+a2)(a1-a2)= π2/g
{T12 + T22 / g(a1 + a2) + T12 - T22} / g(a1 - a2) = π2/g (terbukti)

4. Sudut ayunan pada bandul matematis dan bandul fisis harus dibuat kecil karena jika diayunkan,
bandul akan melakukan ayunan yang sama dengan getaran selaras.

M 3

1. Bila suatu benda dilepaskan dari suatu ketinggian (s) diatas permukaan bumi, dimana benda itu
dilepas dari keadaan diam tanpa kecepatan awal (Vo = 0). Benda akan menempuh jarak s dalam
waktu (t) sehingga akhirnya jatuh ke bumi. Untuk dapat sampai ke permukaan bumi, benda akan
bergerak dengan percepatan yang besarnya sama dengan percepatan gravitasi bumi (g). Gerak
benda ini disebut gerak jatuh bebas. Dan persamaannya :

s = Vo.t + 1/2 gt2


s = 0.t + 1/2 gt2 g s
s= 1/2 gt2 ......terbukti

2. Bila diketahui m1 tidak sama dengan m2, sementara t1=t2, sedangkan V = gt. Maka dapat terlihat
bahwa massa tidak mempengaruhi besarnya V. Sehingga kecepatan m 1 dan m2 dapat dikatakan
sama, karena kecepatan tidak bergantung pada massa tetapi bergantung pada waktu t dan
percepatan gravitasi g.

3. Cara lain untuk mencari percepatan gravitasi adalah menggunakan rumusan pada bandul fisis dan
bandul matematis.
* Bandul fisis : g = 4π2I / mdT2
* Bandul matematis : g = 4π l / T2
2

4. Yang mempengaruhi percepatan gravitasi adalah jarak yang ditempuh (s / h) dan waktu tempuh
(t).

M 7

1. Tegangan permukaan : perbandingan dari gaya permukaan terhadap panjang permukaan


yang tegak lurus pada gaya, dimana panjang permukaan itu
dipengaruhi oleh gaya itu.

Tegangan permukaan dalam bentuk rumus :


γ = F / 2L

Untuk perpindahan sesaat y, kerja yang dilakukan oleh gaya permukaan F adalah sebesar Fy,
sementara luas permukaan bertambah 2Ly, sehingga diperoleh rumusan baru :
kerja / tambahan luas = Fy / 2Ly = F/2L = γ

Jadi yang dimaksud dengan tegangan permukaan adalah suatu kerja yang dilakukan untuk melingkupi
luas permukaan sebesar satu satuan luas.

Tegangan permukaan terjadi karena semua fenomena permukaan zat cair menunjukkan bahwa
permukaan zat cair dalam keadaan tegang. Hal ini disebabkan setiap garis di dalam atau yang
membasahi permukaanya, maka zat-zat di kedua sisi garis tersebut saling menarik. Keadaan
tersebut terletak di dalam bidang permukaan itu dan tegak lurus terhadap gaya.
2. Zat cair adhesif : zat cair yang permukaannya membasahi dinding , karena
kohesinya<adhesinya. Contohnya adalah air, apabila didalam pipa
kapiler permukaannya akan lebih tinggi dibanding permukaan di luar
kapiler. Sudut kontak permukaan permukaan : 0°<θ<90°

γ = F / 2πR cos θ
γ berharga positif.

Zat cair non adhesif : zat cair yang permukaannya tidak membasahi dinding, karena kohesi>adhesinya.
Sebagai contoh adalah air raksa yang apabila berada di dalam pipa kapiler permukaannya akan
lebih rendah dibanding dengan permukaan sekelilingnya. Sehingga sudut kontaknya : 90°<θ<180°
γ = F / 2πR cos θ
γ berharga negatif.

3. F = 2πR cos θ.γ


Pada cairan yang adhesif, gaya berat pada zat cairnya dirumuskan sebagai berikut :
w = πR2zat cair.g
Dengan syarat keseimbangan : w = F, maka
πR2zat cair.g = 2πR cos θ.γ
γ = (R.y.g / 2. cos θ)zat cair

dengan demikian terlihat bahwa tegangan permukan dengan rapat berbanding lurus.

4. cara yang lain yang digunakan untuk menentukan tegangan permukaan adalah dengan menggunakan
:
kawat berbentuk U yang dicelupkan dalam larutan sabun, atau dengann menggunakan benang yang
diikatkan pada gelang kawat yang berdiameter beberapa inchi, kemudian dicelupkan pada air sabun.

O 2

1. Indeks bias adalah angka yang menyatakan perbandingan antara sinus sudut datang dengan sinus
sudut bias yang besarnya tetap/konstan.
sin θ1 c
n = indeks bias, n = -------- atau n = ------- ,
θ1 sin θ2 v
artinya besarnya angka perbandingan antara kecepatan
cahaya dengan kecepatan cahaya dalam ruang hampa.

θ2

p1 . f
∗ Persamaan (1), R1 = ------------- ,Karena bayangan yang dibentuk sama dengan bendanya ⇒ p1’ = R1
f - p1
1 1 1 1 1 1
--- = ---- - ---- ⇒ --- = ---- - ----
f p1 p1’ f p1 R1

1 -1 1 -p1 + f p1 . f
--- = ---- + ---- = --------- ⇒ R1 = --------- (terbukti)
R1 f p1 f . p1 f - p1
∗ Persamaan (2)
1 1 1 f - p1 f - p2 (f-p1)p2 + (f-p2)p1
--- = (n’ - 1) (--- + ---) = (n’ - 1) (--------- + --------- ) = (n’ - 1) {-----------------------}
f R1 R2 f . p1 f . p2 p1.p2.f
(f-p1)p2 + (f-p2)p1 p1.p2
1 = (n’ - 1) { ----------------------- }⇒ (n’ - 1) = -----------------------
p1.p2 (f-p1)p2 + (f-p2)p1

p1.p2 p1.p2 f(p1 + p2) - 2p1.p2


n’ = ----------------------- + 1 = ----------------------- + -----------------------
f(p1 + p2) - 2p1.p2 f(p1 + p2) - 2p1.p2 f(p1 + p2) - 2p1.p2
f(p1 + p2) - p1.p2
n’ = ----------------------- (terbukti)
f(p1 + p2) - 2p1.p2 1 1 p1 . f
∗ Persamaan (3), karena lensa plankonveks : --- = (n’ - 1)(---) ; R1 = --------
f1’ R f - p1
1 1 1 f - p1 f’ - f f - p1
--- - --- = --- = (n’ - 1) (--------) ⇒ ------- = (n’ - 1) (--------)
f f’ f1’ p1 . f f . f’ p1 . f
(f’ - f) p1.f (f’ - f) p1 (f - p1) f’ p1.f’ - p1.f + f.f’ - p1.f’
n’-1 = -------------- ⇒ n’ = -------------- + -------------- = ----------------------------
(f - p1) f.f’ (f - p1) f’ (f - p1) f’ (f - p1) f’
f (p1 - f’)
n’ = ------------ (terbukti)
f’ (p1 - f)

2. Percobaan 1 : Percobaan 2 :

f R f

Percobaan 3 :

3. Lensa positif

Sifat : nyata, terbalik, diperkecil Sifat : nyata, terbalik, diperkecil

Sifat : tidak terbentuk bayangan Sifat : maya, tegak, diperbesar

Sifat : nyata, terbalik, diperbesar

Lensa negatif
Sifat : selalu maya, tegak, diperbesar
4. Prinsip dari susunan optis
Percobaan 1 :
Pada keadaan benda di fokus, menurut hukum pembiasan lensa, maka bayangan yang terjadi
besarnya sama dan berada pada jarak yang tak terhingga. Benda setelah dibiaskan oleh lensa
langsung dipantulkan oleh cermin datar yang terletak disebelah lensa, sehingga bayangan yang
keluar dari cermin datar besarnya sama dengan besar benda.
Percobaan 2 :
Bidang bawah lensa berfungsi sebagai lensa cekung, sedang bayangan yang dibentuk oleh cermin
cekung sama dengan benda. Maka benda tersebut sama dengan terletak di jari-jari kelengkungan
dari cermin cekung, sehingga bayangan bersifat nyata dan terbalik.
Percobaan 3 :
Suatu benda bila telah dibiaskan oleh lensa bikonvek,konkav dan cermin datar, bayangan sama
dengan bendanya,maka benda tersebut terletak pada fokus dari lensa bikonvek.Ini disebabkan
bayangan yang dibiaskan lensa bikonvek, dibiaskan lagi oleh lensa plankonvek dengan indeks bias
sama dengan indeks bias lensa bikonvek, yang mengakibatkan dipantulkan bayangan yang sama
dengan bendanya. Bayangan tersebut langsung dipantulkan oleh cermin datar.

O 3

1. Larutan tersebut dikatakan memiliki sifat “optis aktif” apabila larutan tersebut dapat memutar

arah (bidang) getar sinar terpolarisasi linier. Apabila seberkas sinar terpolarisasi linier dengan

panjang gelombang tertentu melalui suatu kolom larutan yang optis aktif, maka setelah keluar

dari kolom tersebut arah getarnya terputar sebanyak sudut φ.

2. Faktor-faktor yang menentukan besarnya sudut serta arah perputaran bidang polarisasi oleh

larutan optis aktif (φ) sesuai dengan rumus : φ= l.c.α / 100 , adalah :

• Banyaknya bahan optis aktif (c) di dalam 100 cc larutan. Untuk satuannya adalah gram.

• Daya putar jenis (α), yaitu sudut putar bidang polarisasi sinar yang dapat melalui kolom larutan

dengan panjang tertentu dengan jumlah bahan optis aktif yang tertentu pula di dalam volume

larutan tertentu.

Panjang kolom (l), kolom yang akan dilalui oleh seberkas sinar yang terpolarisasi

 Sugih - 12/05/1999