Anda di halaman 1dari 33

BAB I PENDAHULUAN Pada diskusi kasus 1 modul Tindakan Medik Keperawatan dengan topik Seorang anak laki laki

i berusia 2 tahun yang menderita juling diadakan dalam satu sesi. Diskusi diadakan pada hari kamis tanggal 4 mei 2013, pukul 10.00 WIB sampai pukul 11.00 WIB. Pada diskusi kasus pertama ini diketuai oleh saudara Prasada Wedatama dan saudara Ahmad rudiansah sebagai sekretaris. dr.anggraini selaku tutor datang tepat waktu dan memulai diskusi dengan mengabsen kelompok setelah itu membagikan skenario kasus.Walaupun pada awalnya semua peserta diskusi terkesan bingung karena informasi yang di dapatkan hanya sedikit,tetapi semua peserta terlihat cukup aktif dan semua ikut berpartisipasi memberikan pendapatnya dalam diskusi. Tujuan dibuatnya makalah tentang strabismus ini ini adalah kami selaku mahasiswa berusaha membuat sebuah tulisan yang mampu memberikan pengetahuan tentang strabismus kepada seluruh orang yang bekerja dalam dunia medis,khusunya bagi masyarakat FK Usakti. Kami menyadari isi dari makalah ini masih bayak kekurangan,oleh karena itu kami mengharapkan masukan dari teman teman maupun para dosen pakar,supaya untuk selanjutnya kami bisa lebih baik dalam membuat makalah.

BAB II LAPORAN KASUS Seorang anak berumur 2 tahun dibawa oleh orang tuanya berobat ke poli mata karena mata kirinya juling. Dikatakan bahwa julingnya sudah terjadi sejak anak tersebut baru lahir. Student guide: 1. Sebutkan masalah kasus diatas 2. Sebutkan hipotesis saudara untuk kasus diatas 3. Pemeriksaan oftalmologis apa saja yang harus dilakukan. Terangkan caranya 4. Sebutkan otot-otot pergerakan bola mata serta persarafannya, kerja otot tersebut dan akibatnya bila terjadi parese 5. Bagaimana penatalaksanaan kasus diatas 6. Apakah yang mungkin terjadi bila tidak dilakukan penatalaksanaan

BAB III PEMBAHASAN IDENTITAS PASIEN Nama Umur Jenis kelamin Nama orang tua Alamat Pekerjaan orang tua MASALAH Daftar Masalah Juling pada mata kiri Paralisis otot penggerak bola mata Kelumpuhan pada saraf Hipotesis berdasarkan masalah Congenital:1 Hipertoni rektus medius kongenital, Hipotoni rektus lateral akuisita, Eksotropia (unsur herediter sangat besar yaitu trait autosomal dominant). Infeksi: terkena infeksi toxoplasma saat kehamilan dapat melahirkan anak dengan mata juling. Neoplasma: Trauma: Retinoblastoma, Trauma persalinan neoplasma intrakranial terutama di daerah kepala dapat menekan nervus kranialis yang mempersarafi ekstraokular. Memeriksakan mata ke dokter saat sudah berusia dua tahun namun Lain-lain: Katarak,hipertiroid Keluhan sudah di dapat sejak lahir, tidak segera diperiksa untuk otot-otot :: 2 tahun : Laki-laki :::

ditatalaksana sedini mungkin, sehingga bisa 3

dikatakan perjalanan penyakit sudah lama dan memiliki faktor tinggi kemungkinan anak akan menderita juling permanen.. ANAMNESIS DAN ANAMNESIS TAMBAHAN Keluhan Utama : Mata kiri juling Riwayat Penyakit Sekarang Sejak kapan keluhan utama terjadi? Sudah didapatkan dari anamnesis bahwa keluhan pasien terjadi sudah sejak pasien lahir. Berdasarkan keterangan ini,kemungkinan besar juling yang diderita oleh pasien merupakan kelainan kongenital atau kelainan yang didapatkan saat proses persalinan. Apakah anak sering menabrak saat berjalan? Hal ini ditanyakan untuk mengetahui apakah ada gangguan pada penglihatan anak atau tidak. Apakah anak mengalami peningkatan aktivitas? Hal ini ditanyakan untuk menunjang hipotesis terjadinya hipertiroidisme. Pada hipertiroidisme dapat terjadi strabismus juga akibat dari penebalan otot-otot bola mata sehingga mengalami gangguan gerak. Bagaimana nafsu makan anak? Hal ini ditanyakan juga untuk menunjang hipotesis hipertiroidisme, dimana seperti diketahui metabolisme pada hipertiroidisme meningkat sehingga anak akan makan lebih banyak. Riwayat Kehamilan Ibu Apakah ibu mengalami infeksi selama kehamilan? Bila ibu pernah mengalami infeksi toksoplasma maka kemungkinan anak dapat lahir dengan masalah pada penglihatannya. Bagaimana gizi ibu selama kehamilan? Gizi ibu selama kehamilan sangat penting untuk perkembangan janinnya. Gizi yang buruk dapat menggagu proses perkembangan 4

organ-organ Riwayat Kelahiran

janin.

Strabismus

juga

dapat

disebabkan

oleh

organohenesis dari otak yang tidak sempurna.

Bagaimana proses persalinan anak? Apakah spontan atau bedah sesaria? Proses persalinan anak yang spontan memungkinkan terjadinya trauma pada anak. Truma pada kepala dapat menyebabkan terjadinya strabismus karena cidera pada persarafan yang mempersarafi otot-otot penggerak bola mata. Apakah ibu sedang sakit (infeksi kelamin) saat persalinan? Infeksi kelamin pada ibu (herpes simplek, gonore) dapat memberikan masalah pada penglihatan anak jika perslinannya dilakukan secara spontan, kemungkinan seperti ini perlu ditanyakan kepada orang tua pasien. Apakah anak mendapatkan perawatan khusus saat setelah lahir? Perawatan khusus pada kasus ini contohnya adalah perawatan dengan oksigen konsentrasi tinggi dimana pasien beresiko mengalami gangguan penglihatan akibat ablasio retina. Riwayat Makanan Bagaimana asupan gizi anak selama ini? Riwayat Imunisasi Apakah imunisasi anak lengkap? Riwayat Keluarga Apakah ada keluarga yang memiliki keluhan seperti pasien? Hal ini perlu ditanyakan untu mencari kemungkinan penyakit keturunan seperti retinoblastoma dan kelainan genetik.

Berdasarkan keterangan yang ada, kami belum bisa menegakan sebuah diagnosis pasti pada pasien ini, karena informasi yang kami peroleh hanya sedikit.sejauh ini,kami hanya 5

bisa menegakan sebuah diagnosis yaitu strabismus pada okuli sinistra pasien,untuk lebih mengetahui lebih pasti tentang keadaan pasien, maka kami merencanakan serta menganjurkan pemeriksaan tambahan. Pemeriksaan tambahan yang akan kami lakukan adalah: PEMERIKSAAN TAMBAHAN2,3,4 Pemeriksaan status lokalis Leher : Periksa keadaan kelenjar tiroid. Pemeriksaan yang dilakukan yaitu mempalpasi kelenjar tiroid, sehingga bisa mengetahui apakah terjadi pembesaran kelenjar tiroid atau tidak.Hal ini untuk mendukung mau pun menyingkirkan hipotesis hipertiroid. Pemeriksaan oftalmologis Pemeriksaan pupil Pemeriksaan reflex cahaya pupil ini sebagai salah satu pemeriksaan untuk menunjukan apakah ada neoplasma intrakranial. Apabila adanya neoplasma intrakranial maka dalam pemeriksaan didapatkan pupil yang anisokhor. Pemeriksaan tajam penglihatan Pemeriksaan dengan E-chart digunakan pada anak mulai umur 3 - 3,5 tahun, sedangkan diatas umur 5 6 tahun dapat digunakan Snellen chart. Untuk anak dibawah 3 th dapat digunakan cara: 1. 2. 3. Objektif dengan optal moschope Dengan observasi perhatian anak dengan sekelilingnya Dengan oklusi / menutup satu mata

Pemeriksaan pergerakan monokuler

Satu mata ditutup dan mata yang lainnya mengikuti cahaya yang digerakkan kesegala arah pandangan,sehingga adanya kelemahan rotasi dapat diketahui. Kelemahan seperti ini biasanya karena para usis otot atau karena kelainan mekanik anatomik. Tes tensilon (edrofonium klorida) Tensilon adalah suatu penghambat kolinesterase. Tes ini sangat bermanfaat apabila pemeriksaan antibodi anti-reseptor asetilkolin tidak dapat dikerjakan, atau hasil pemeriksaannya negatif sementara secara klinis masih tetap diduga adanya miastenia gravis. Apabila tidak ada efek samping sesudah tes 1-2 mg intravena, maka disuntikkan lagi 5-8 mg tensilon. Reaksi dianggap positif apabila ada perbaikan kekuatan otot yang jelas (misalnya dalam waktu 1 menit), menghilangnya ptosis, lengan dapat dipertahankan dalam posisi abduksi lebih lama, dan meningkatnya kapasitas vital. Reaksi ini tidak akan berlangsung lebih lama dari 5 menit. Jika diperoleh hasil yang positif, maka perlu dibuat diagnosis banding antara miastenia gravis yang sesungguhnya dengan sindrom miastenik. Penderita sindrom miastenik mempunyai gejala-gejala yang serupa dengan miastenia gravis, tetapi penyebabnya ada kaitannya dengan proses patologis lain seperti diabetes, kelainan tiroid, dan keganasan yang telah meluas. Usia timbulnya kedua penyakit ini merupakan faktor pembeda yang penting. Penderita miastenia sejati biasanya muda, sedangkan sindrom miastenik biasanya lebih tua. Gejala-gejala sindrom miastenik biasanya akan hilang kalau patologi yang mendasari berhasil diatasi.Tes ini dapat dikombinasikan dengan pemeriksaan EMG. Uji Hirsberg, refleks kornea Adanya juling ditentukan dengan menggunakan sentolop dan melihat refleks sinar pada kornea. Pada uji ini, mata disinari dengan sentolop dan akan terlihat refleks sinar pada permukaan kornea. Refleks sinar pada mata normal terletak pada kedua mata sama-sama di tengah pupil. Bila satu refleks sinar di tengah pupil sedang pada mata yang lain di nasal berarti pasien juling ke luar atau eksotropia dan sebaliknya bila refleks sinar sentolop pada kornea berada di bagian temproal kornea berarti mata tersebut juling ke

dalam atau esotropia. Setiap pergeseran letak refleks sinar dari sentral kornea 1 mm berarti ada deviasi bola mata 7 derajat. Uji tutup mata Uji ini sering digunakan untuk mengetahui adanya tropia atau foria. Uji pemeriksaan ini dilakukan untuk pemeriksaan jauh dan dekat, dan dilakukan dengan menyuruh mata berfiksasi pada satu obyek. Bila telah terjadi fiksasi kedua mata, maka mata kiri ditutup dengan lempeng penutup. Di dalam keadaan ini, mungkin akan terjadi: 1. Mata kanan bergerak berarti mata tersebut mempunyai kejulingan yang manifes. Bila mata kanan bergerak ke nasal berarti mata kanan juling keluar atau eksotropia. Bila mata kanan bergerak ke temporal berarti mata kanan juling ke dalam atau esotropia 2. Mata kanan bergoyang yang berarti mata tersebut mungkin ambliopia atau tidak dapat berfiksasi 3. Mata kanan tidak bergerak sama sekali yang berarti bahwa mata kanan berkedudukan normal, lurus atau telah berfiksasi. Uji tutup mata berganti Bila satu mata ditutup dan kemudian mata yang lain, maka bila kedua mata berfiksasi normal maka mata yang dibuka tidak bergerak. Bila terjadi pergerakan pada mata yang baru dibuka berarti terdapat foria atau tropia. Uji tutup buka mata Uji ini sama dengan uji tutup mata, di mana yang dilihat adalah mata yang ditutup. Mata yang ditutup dan diganggu fusinya sehingga mata yang berbakat menjadi juling akan menggulir. Bila mata tutup mata tersebut ditutup dan dibuka akan terlihat pergerakan mata tersebut. Pada keadaan ini berarti mata ini mengalami foria atau juling atau berubah kedudukan bila mata ditutup. Pemeriksaan penunjang Kadar T3 dan T4 Pemeriksaan ini dilakukan jika pada pemeriksaan fisik ditemukan pembesaran kelenjar tiroid,untuk memperkuat kemungkinan adanya hipertiroid

MRI rongga orbita dan kepala Pemeriksaan ini untuk memperkuat kemungkinan atau memperbesar kemungkinan adanya retinoblastoma atau kelainan yang ada di intra cranial,seperti neoplasma intra kranial . USG mata Pemeriksaan in untuk menentukan ada tidaknya kemungkinan retinoblastoma pada pasien ini. Apabila ada retinoblastoma, dapat memberikan gambaran heterogenitas dan kalsifikasi jaringan yang identik dengan massa pada retinoblastoma. PENATALAKSANAAN Dari pemeriksaan yang dilakukan baik fisik, status oftalmologis dan pemeriksaan lainnya yang kelompok kami anjurkan, belum terdapat hasil yang memadai untuk dibuat suatu diagnosis kerja. Maka kelompok kami melakukan penatalaksanaan secara umum sebagai berikut. Secara umum, terapi pada anak yang menderita strabismus harus segera dilakukan setelah diagnosis tersebut ditegakkan. Semakin dini pengangan terhadap strabismus, maka akan semakin baik pula kemungkinan untuk menjadi normal. Penatalaksanaan yang dilakukan pada penderita strabismus antara lain dengan bantuan kacamata, penutup mata, obat-obatan, latihan mata, toksin botulinum serta tindakan operasi. Untuk medika mentosa, dapat diberikan obat tetes atropine dan preaparat parasimpatomimetik atau miotik seperti echothiophat iodide yang dapat mempengaruhi ukuran pupil melalui kemampuan mata untuk memfokuskan cahaya. Preparat miotik dapat digunakan pada strabismus yang diakibatkan oleh adanya gangguan memfokuskan mata. Atropine digunakan untuk melatih mata yang memiliki gangguan fungsi penglihatan (amblyopia) dengan cara membuat kabur penglihatan mata yang sehat. Hal tersebut dilakukan untuk melatih dan memaksa anak agar terbiasa memakai matanya yang lemah. Selain preaparat yang dapat mempengaruhi ukuran pupil, pada penderita strabismus dapat diberikan toksin botulium seperti botoks. Obat ini berfungsi untuk mencegah terjadinya kontraksi pada otot untuk beberapa bulan. Pemberian obat tersebut 9

membuat otot menjadi rileks dan membuat otot yang bekerja berlawanan untuk merubah posisi bola mata. Obat ini biasa digunakan sebagai terapi suplemen saat tindakan operasi tidak dapat memperbaiki gangguan mata tersebut. Namun, terapi ini masih kontroversi karena pemakaiannya menggunakan banyak suntikan, hasil seringkali tidak dapat diduga serta dapat menyebabkan gangguan kelainan baru. Tindakan operasi adalah satu-satunya jalan untuk menyelaraskan mata dan meningkatkan ketajaman penglihatan pada anak dengan strabismus. Selama operasi, dokter akan mengendurkan atau mengencangkan otot mata dengan mengubah panjang dan posisinya sehingga dapat kembali pada letak yang seharusnya. Anak akan membutuhkan beberapa kali operasi untuk meningkatkan ketajaman penglihatannya dan setelah dioperasi harus menggunakan kacamata. Dikarenakan penatalaksanaan awal sangat penting untuk mengkoreksi strabismus, namun operasi pada anak kurang dari 2 tahun tidak biasa dilakukan dan operasi tersebut dapat dilakukan pada usia 3 bulan dengan adanya kasus tertentu. Efektivitas melakukan tindakan operasi pada anak dibawah usia 6 bulan masih menjadi controversial karena walaupun jarang, strabismus pada anak yang masih usia muda terkadang dapat menghilang seiring dengan perkembangan usia. Penanganan strabismus bersifat relatif yaitu disesuaikan dengan individu masingmasing. Dokter harus memperhatikan: 1. usia saat onset strabismus terjadi 2. usia pasien saat ini 3. status kesehatan pasien 4. perkembangan pasien yang diharapkan dari tindakan 5. pertimbangan keluarga pasien 6. gejala dan tanda dari gangguan penglihatan 7. kebutuhan penglihatan pasien 8. besarnya deviasi 9. ada tidaknya fusi 10. ada tidaknya ambliopia Terapi untuk menangani strabismus ada banyak bentuk, namun dokter harus memikirkan terapi non-bedah sebelum terapi bedah. Terapi berdasarkan dengan etiologi 10

dari strabismus ini. Bila etiologinya berupa gangguan fusi (non-paralitik) seperti akibat katarak, trauma atau retinoblastoma, cukup terapi kausalnya. Untuk indikasi terapi nonbedah seperti vision therapy adalah status dari sensori motor, terapi ini tepat untuk strabismus akibat adanya fusi. Selain itu dipertimbangkan pula terapi pelatihan mata yang sakit atau juling. Terapi farmakologi untuk menangani strabismus kurang efektif karena kadang menimbulkan efek samping bagi tubuh, sekarang hanya digunakan untuk pasien accomodative esotropia yang tidak bisa menggunakan kacamata karena adanya deformitas wajah. Namun, terapi farmakologi dengan obat-obat midriatik dan miositik sering digunakan dalam menangani ambliopia pada pasien strabismus namun perbaikannya cenderung lambat. Terapi bedah hanya dilakukan bila terapi non bedah tidak memberikan efek. Tindakan bedah biasanya dilakukan bila deviasi telah melebihi 15 PD pada melihat jauh atau dekat dengan refraksi mata yang sudah dikoreksi. Untuk pasien eksotropia, deviasi melebihi 20 PD juga harus dipikirkan untuk dilakukannya tindakan bedah. Tindakan bedah tidak perlu dilakukan pada pasien dengan deviasi yang kecil dan pada pasien dengan total akomodasi strabismus.5 Dokter spesialis mata akan membuat sayatan pada selaput putih mata untuk dapat mencapai otot penggerak bola mata. Otot mata kemudian dilepaskan dari perlekatannya dan dipindahkan perlekatannya pada tempat yang diinginkan sesuai dengan arah deviasi bola mata. Atau dapat pula otot dipotong sedikit sesuai kebutuhan kemudian dilekatkan lagi pada tempat perlekatan semula. Operasi strabismus dapat dilakukan pada satu atau kedua mata sekaligus tergantung jenis dan besarnya juling. Operasi strabismus umumnya dilakukan dengan bius umum, terutama pada anak-anak. Waktu pemulihan cepat. Anak biasanya dapat kembali pada aktivitas normal dalam beberapa hari. Setelah pembedahan, kacamata mungkin masih diperlukan. Pada beberapa kasus, pembedahan lebih dari satu kali mungkin diperlukan untuk menjaga mata tetap lurus.

11

Penentuan waktu bedah ditentukan berdasarkan tipe dari strabismus, usia pasien dan kemungkinan berkembangnya fusi. Langkah-langkah operasi: Informed consent Edukasinya dilakukan bedah strabismus 1. Mata yang strabismus bisa menyebabkan mata jadi susah focus sehingga terjadi ambliopia 2. Bedah dilakukan karena pada tahun awal mata masih berusaha memfokuskan penglihatan sehingga jika tidak dioperasi mata anak jadi tidak bisa beradaptasi untuk menggunakan kemampuanya untuk memfokuskan cahaya 3. Indikasi untuk therapy RESEKSI /RESESI otot mata Langkah penting 1. Melalui sclera setinggi limbus dipasang dua jahitan kekang. Benang-benang ini digunakan untuk memanjangkan tempat operasi 2. Konjungtiva di atas otot yang akan dikoreksi diinsisi dengan forsep bergigi dan gunting westkott 3. Otot dipegang dengan sebuah pengait otot besar 4. Digunakan aplikator berujung kapas untuk membersihkan dan memotong otot 5. Dimasukkan sebuah pengait otot jameson untuk menahan otot sedangkan jahitan yang dipasang di otot dipotong Reseksi 1. Digunakan sebuah jangka lengkung untuk mengukur jumlah otot yang akan dipotong 2. Di tepi bagian dalam jangka tersebut dipasang sebuah klem otot jameson 3. Sclera otot dipotong pada insersinya, menyisakan sebuah punctum kecil 4. Perdarahan dihentikan dengan kauter 5. Dipasang dua benang (yang dapat diserap) rangkap melaui otot di belakang klem 6. Klem dilepas dan otot yang terletak superior terhadap benang dijepit dengan sebuah hemostat dan dipangkas dengan gunting westkott 12

7. Otot ditegangkan dan disambung kembali ke punctum otot di sclera dengan benang rangkap yang tadi dipasang 8. Resesi 1. Di batas atas otot dipasang dua benang tunggal 2. Benang dan klem otot dipegang di satu tangan dan otot dipotong dengan gunting westkott 3. Digunakan sebuah jangka lengkung untuk mengukur besar/jumlah resesi pada bola mata 4. Benang dijahitkan melalui sclera superficial di titik resesi, dan otot disambung kembali. 5. Konjungtiva ditutup dengan benang yang dapat diserap KOMPLIKASI Komplikasi tindakan bedah 1. diplopia 2. undercorrection atau overcorrection 3. inflamasi kronis konjungtiva 4. sikatriks 5. hilangnya otot penggerak bola mata 6. perforasi bola mata 7. endoftalmitis 8. perdarahan retrobulbar Komplikasi bila tidak ditangani: 1. hilangnya kemampuan persepsi 2. hilangnya visus di satu mata 3. Ambliopia bersifat ireversibel dan insidennya sering terjadi Konjungtiva ditutup dengan benang yang dapat diserap

13

4. Gangguan pengelihatan 5. Gangguan psikologis,apabila tidak segera ditangani akan menyebabkan gangguan kosmetik pada mata, sehingga anak akan mengalami gangguan psikologis,seperti kurangnya percaya diri. 6. Perforasi sklera 7. Kehilangan otot penggerak bola mata secara penuh 8. Skotoma supresi yang merupakan adaptasi sensoris strabismus pada anakanak mengakibatkan menurunnya persepsi tetapi tidak menurunkan lapang pandang. PROGNOSIS Ad vitam Ad sanationam Ad functionam : Ad bonam : Ad bonam : Ad bonam

Secara keseluruhan, prognosisis pada pasien ini baik apabila pasien mendapatkan terapi yang terbaik dan dilakukan sedini mungkin.Ad sanationam ad bonam karena jika terapi medikasi dan terapi operasi berjalan baik maka tidak akan terulang lagi.Ad functionam ad bonam karena apabila dilakukan tindakan penatalaksanaan pada anak yang berusia kurang dari 8 tahun maka fungsinya mata anak akan kembali normal.

14

BAB IV TINJAUAN PUSTAKA STRABISMUS Definisi Strabismus (Mata juling) adalah suatu keadaan yang ditandai dengan penyimpangan abnormal dari letak satu mata terhadap mata yang lainnya, sehingga garis penglihatan tidak paralel dan pada waktu yang sama, kedua mata tidak tertuju pada benda yang sama. Terdapat beberapa jenis strabismus: 1. Esotropia : mata melenceng ke arah dalam 2. Eksotropia : mata melenceng ke arah luar 3. Hipertropia : mata melenceng ke arah atas 4. Hipotropia : mata melenceng ke arah bawah.

Beberapa keadaan yang bisa ditemukan bersamaan dengan strabismus: Ambliopia Retinoblastoma Sindroma Apert Retinopati pada prematuritas Cedera otak traumatik Cerebral palsy. Sindroma Noonan 15

Hemangioma di sekitar mata (pada masa bayi) -

1.

Sindroma Prader-Willi Rubella kongenitalis Faktor Keturunan

Trisomy 18 Sindroma inkontinensia pigmen

Etiologi Genetik Patternnya belum diketahui dengan pasti, tetapi akibatnya sudah jelas. Bila orang tua yang menderita strabismus dengan operasi berhasil baik, maka bila anaknya menderita strabismus dan operasi akan berhasil baik pula. 2. 3. Kelainan Anatomi Kelainan otot ekstraokuler Over development Under development Kelainan letak insertio otot Kelainan pada vascial structure kelaian hubungan vascial otot-otot ekstraokuler dapat menyebabkan penyimpangan posisi bola mata. 4. 5. Kelainan dari tulang-tulang orbita Kelainan pembentukan tulang orbita menyebabkan bentuk dan orbital abnormal, sehingga menimbulkan penyimpangan bola mata. Kelainan pada saraf pusat yang tidak bisa mensintesa rangsangan. Fovea tidak dapat menangkap bayangan. Kelainan kwantitas stimulus pada otot bola mata. Kelainan Sensoris Kelainan Inervasi Gangguan proses transisi dan persepsi

Adanya

16

Pathofisiologi

Diagnosis Strabismus Kelainan kedudukan mata dapat dibagi dalam :

strabismus paralitik (noncomitant) = incomitant 17

nonparalitik = (comitant = concomitant) manifes = strabismus = heterotropia laten = heteroforia akomodatif non akomodatif

Seringkali heteroforia bertambah secara progresif, sehingga kelainan deviasi ini tidak dapat lagi diatasi, sehingga menjadi = strabismus. 1. Strabismus Paralitika (noncomitant, incomitant)

Tanda-tanda : a. Gerak mata terbatas, pada daerah dimana otot yang lumpuh bekerja. Hal ini menjadi nyata pada kelumpuhan total dan kurang nampak pada parese. Ini dapat dilihat, bila penderita diminta supaya matanya mengikuti suatu obyek yang digerakkan ke 6 arah kardinal, tanpa menggerakkan kepalanya (excurtion test). Keterbatasan gerak kadangkadang hanya ringan saja, sehingga diagnosa berdasarkan pada adanya diplopia saja. b.Deviasi Kalau mata digerakkan kearah lapangan dimana otot yang lumpuh bekerja, mata yang sehat akan menjurus kearah ini dengan baik, sedangkan mata yang sakit tertinggal. Deviasi ini akan tampak lebih jelas, bila kedua mata digerakkan kearah dimana otot yang lumpuh bekerja. Tetapi bila mata digerakkan kearah dimana otot yang lumpuh ini tidak berpengaruh, deviasinya tak tampak. Mata melihat lurus kedepan, esotropia mata kanan nyata. Mata melihat kekiri tak tampak esotropia. Mata melihat kekanan esotropia nyata sekali. Parese m.rektus lateral mata kanan Mata kiri fiksasi (mata sehat) mata kanan ditutup (mata sakit) deviasi mata kanan=deviasi mata primer Mata kiri yang sehat ditutup, mata kanan yang sakit fiksasi, deviasi mata kiri = deviasi sekunder, yang lebih besar dari pada deviasi primer. c. Diplopia : terjadi pada lapangan kerja otot yang lumpuh dan menjadi lebih nyata bila mata digerakkan kearah ini.

18

d. Ocular torticollis (head tilting).Penderita biasanya memutar kearah kerja dari otot yang lumpuh. Kedudukan kepala yang miring, menolong diagnosa strabismus paralitikus. Dengan memiringkan kepalanya, diplopianya terasa berkurang. e.Proyeksi yang salah. Mata yang lumpuh tidak melihat obyek pada lokalisasi yang benar. Bila mata yang sehat ditutup, penderita disuruh menunjukkan suatu obyek yang ada didepannya dengan tepat, maka jarinya akan menunjukkan daerah disamping obyek tersebut yang sesuai dengan daerah lapangan kekuatan otot yang lumpuh. Hal ini disebabkan, rangsangan yang nyata lebih besar dibutuhkan oleh otot yang lumpuh, untuk mengerjakan pekerjaan itu dan hal ini menyebabkan tanggapan yang salah pada penderita. f. Vertigo, mual-mual, disebabkan oleh diplopia dan proyeksi yang salah. Keadaan ini dapat diredakan dengan menutup mata yang sakit. Diagnosa berdasarkan :Keterbatasan gerak ,Deviasi,Diplopia. Ketiga tanda ini menjadi nyata, bila mata digerakkan kearah lapangan kerja dari otot yang sakit. Pada keadaan parese, dimana keterbatasan gerak mata tak begitu nyata adanya diplopi merupakan tanda yang penting.Cara pemeriksaannya dengan tes diplopi.Dengan cara ini dapat diketahui: 1. 2. 3. Pada arah mana didapat diplopia Apakah diplopianya bertambah kesatu arah Mata mana yang menderita.

Dengan demikian dapat diketahui mata mana dan otot mana pada mata itu yang salah. Caranya : Penderita disuruh mengikuti gerak korek api, dengan matanya, tanpa menggerakkan kepalanya, yang digerakkan keatas, kebawah, kekanan dan kekiri, secara maksimal. Diperhatikan apakah timbul diplopia pada salah satu arah. Pengukuran derajat deviasinya dengan tes Hirschberg, tes Krimski, tes Maddox cross.Kelumpuhan otot dapat mengenai satu otot, biasanya m.rektus lateralis, m.obliqus superior atau salah satu otot yang diurus oleh N.III. Dapat juga mengenai beberapa otot yang diurus oleh N.III. Esotropia paralitikus = abdusen palcy = noncomitant esotropia Sering terdapat pada orang dewasa yang mendapat trauma dikepala, tumor atau peradangan dari susunan saraf serebral. Jarang ditemukan pada anak-anak, yang 19

biasanya disebabkan trauma pada waktu lahir, kelainan kongenital dari m.rektus lateralis atau persarafannya. Tanda-tandanya : gangguan pergerakan mata kearah luar diplopi homonim, yang menjadi lebih hebat, bila mata digerakkan kearah luar kepala dimiringkan kearah otot yang lumpuh deviasinya menghilang, bila mata digerakkan kearah yang berlawanan dengan otot

yang lumpuh pada anak dibawah 6 tahun, dimana pola sensorisnya belum tetap, timbul supresi,

sehingga tidak timbul diplopia pada orang dewasa, dimana esotropianya terjadi sekonyong-konyong, penderita

mengeluh ada diplopia, karena pola sensorisnya sudah tetap dan bayangan dari obyek yang dilihatnya jatuh pada daerah-daerah retina dikedua mata yang tidak bersesuaian (corresponderend). Pengobatan : Penderita diobati dahulu secara nonoperatif selama 6 bulan, menurut kausanya, kalau dapat dengan kerjasama beserta seorang ahli saraf. Bila terdapat diplopia, mata yang sakit ditutup untuk menghilangkan diplopia dan segala akibatnya. Adapula yang menutup mata yang sehat untuk menghilangkan diplopianya. Baik pada anak ataupun dewasa, bila setelah 6 bulan pengobatan belum ada perbaikan, baru dilakukan operasi, yaitu reseksi dari m.rektus lateralis atau reseksi dari m.rektus medialis, sebab bila dibiarkan terlalu lama dapat terjadi atrofi dari otot. kelumpuhan dari n.iii (n. okulomotorius).

Pada kelumpuhan total dari saraf ini didapatkan : ptosis. bola mata hampir tak dapat bergerak. Keterbatasan bergerak kearah atas, kenasal dan sedikit kearah bawah. mata berdeviasi ketemporal, sedikit kebawah. Kepala berputar kearah bahu pada sisi otot yang lumpuh.

20

sedikit eksoftalmus, akibat paralise dari 3 mm rekti yang dalam keadaan normal

mendorong mata kebelakang. pupil midriasis, reaksi cahaya negatif, akomodasi lumpuh. ada crossed diplopia. Hal tersebut terjadi oleh karena N.III mengurusi : M.rektus superior, m.rektus medialis, m.rektus lateralis, m.obliqus inferior, m. sfingter pupil, mm.siliaris. bila ini semua lumpuh tinggal m.rektus lateralis, m.obliqus superior yang bekerja, karena itu mata berdeviasi kearah temporal sedikit kearah bawah dan intorsi (berputar kearah nasal). Pupil lebar tak ada akomodasi. Kelumpuhan N.III sering tak sempurna hanya mengenai 2-3 otot saja. Dapat disertai dengan kelumpuhan dari otot-otot lain. Bila terdapat kelumpuhan dari semua otot-otot, termasuk otot iris dan badan siliar, disebut oftalmoplegia totalis. Kalau hanya terdapat kelumpuhan dari otot-otot mata luar, disebut oftalmoplegia eksterna, yang ini lebih sering terjadi. Kelumpuhan yang terbatas pada m.sfingter pupil dan badan siliar, disebut oftalmoplegia interna. Hal ini sering dijumpai misalnya pada : pemakaian midriatika, sikloplegia, waktu mengadakan pemeriksaan fundus atau refraksi kontusio bulbi akibat lues, difteri, diabetes, penyakit serebral. Dalam hal ini kita dapatkan pupil lebar, tak ada akomodasi. Pada oftalmoplegia interna, diobati menurut penyebabnya dan lokal diberikan pilokarpin atau eserin. Kalau akomodasinya tetap hilang, beri pula kacamata sferis (+) 3 D untuk pekerjaan dekat. Penyebabnya : Kelainannya dapat terjadi pada setiap tempat dari korteks serebri keotot. Macam kelainan dapat eksudat, perdarahan, periostitis, tumor, trauma, perubahan pembuluh darah yang menyebabkan penekanan atau peradangan pada saraf. Jarang-jarang disebabkan peradangan atau degenerasi primer. Pada umumnya disebabkan oleh lues yang dapat menyebabkan tabes, ensefalitis. Infeksi akut (difteri, influenza), keracunan (alkohol), diabetes mellitus, penyakit-penyakit sinus, trauma, sebagai penyebab yang 21

lainnya. Terjadinya bisa sekonyong-konyong ataupun perlahan-lahan, tetapi perjalanan penyakitnya selalu menahun. Kekambuhan sering terjadi. Kalau telah terjadi lama, prognosis tidak menguntungkan lagi, karena kemungkinan terjadinya atrofi dari otot-otot yang lumpuh dan kontraksi dari otot lawannya. Pengobatan : Untuk menghindari diplopia, mata yang sakit ditutup. Ada pula yang menutup mata yang sehat.Kalau setelah pengobatan kira-kira 6 bulan tetap lumpuh, dilakukan operasi reseksi dari otot yang lumpuh disertai resesi dari otot lawannya. Supaya tidak terjadi atrofi dari otot yang lumpuh. Hasil dari operasi ini sering mengecewakan, tetapi perbaikan kosmetis mungkin dapat memuaskan. Kelumpuhan m.rektus medialis : Menyebabkan strabismus divergens, gangguan gerak kearah nasal, cross diplopi. Kelainan ini bertambah bila mata digerakkan kearah nasal (aduksi). Kepala dimiringkan kearah otot yang sakit.

Kelumpuhan m.rektus superior : Terdapat keterbatasan gerak keatas, hipotropia, diplopia campuran (diplopi vertikal dan crossed diplopia). Bayangan dari mata yang sakit terdapat diatas bayangan mata yang sehat. Kelainan bertambah pada gerakan mata keatas. Kelumpuhan m.rektus inferior : Terdapat keterbatasan gerak mata kebawah, hipertropia, diplopi campuran, crossed, yang bertambah hebat bila mata digerakkan kebawah. Bayangan dari mata yang sakit terletak lebih rendah. Kelumpuhan m.obliqus superior : Terdapat keterbatasan gerak kearah bawah terutama nasal inferior, strabismus yang vertikal, diplopia campuran, terutama vertikal dan homonim yang bertambah hebat bila mata digerakkan kearah nasal inferior. Bayangan dari mata yang sakit terletak lebih rendah. Kelumpuhan m.obliqus inferior :

22

Terdapat keterbatasan gerak keatas, terutama atas nasal, strabismus vertikal, diplopia campuran, homonim. Kelainan ini bertambah bila mata digerakkan kearah temporal atas. Bayangan dari mata yang sakit terletak lebih tinggi. 2. STRABISMUS NONPARALITIK Disini kekuatan duksi dari semua otot normal dan mata yang berdeviasi mengikuti gerak mata yang sebelahnya pada semua arah dan selalu berdeviasi dengan kekuatan yang sama. Deviasi primer (deviasi pada mata yang sakit) sama dengan deviasi sekunder (deviasi pada mata yang sehat). Mata yang ditujukan pada obyek disebut fixing eye, sedang mata yang berdeviasi disebut squinting eye. Dibedakan strabismus nonparalitika; nonakomodatif akomodatif berhubungan dengan kelainan refraksi. Strabismus Nonparalitik nonakomodatif : Deviasinya telah timbul pada waktu lahir atau pada tahun-tahun pertama. Deviasinya sama kesemua arah dan tidak dipengaruhi oleh akomodasi. Karena itu penyebabnya tak ada hubungannya dengan kelainan refraksi atau kelumpuhan otot-otot. Mungkin disebabkan oleh Insersi yang salah dari otot-otot yang bekerja horizontal Gangguan keseimbangan gerak bola mata, dapat terjadi karena gangguan yang bersifat sentral, berupa kelainan kwantitas rangsangan pada otot. Hal ini disebabkan kesalahan persarafan terutama dari perjalanan supranuklear, yang mengelola konvergensi dan divergensi. Kelainan ini dapat menimbulkan proporsi yang tidak baik antara kekuatan konvergensi dan divergensi. Untuk melakukan konvergensi dari kedua mata, harus ada kontraksi yang sama dan serentak dari kedua m.rektus internus, sehingga terjadi gerakan yang sama dan simultan dari mata ke nasal. Divergensi dan konvergensi adalah bertentangan, overaction dari yang satu menyebabkan kelemahan dari yang lain dan sebaliknya. Rangsangan sentral yang berlebihan untuk konvergensi, menyebabkan kedudukan bola mata yang normal untuk penglihatan jauh (divergensi) sedang menjadi strabismus konvergens untuk penglihatan dekat (konvergensi). Dibedakan :

tik

23

1. Kelebihan konvergensi : (convergence excess) pada penglihatan jauh normal, pada penglihatan dekat timbul strabismus konvergens. 2. Kelebihan divergensi (divergence exess) : pada penglihatan dekat normal. pada penglihatan jauh timbul strabismus divergens. 3. Kelemahan konvergensi : (convergence insufficiency) : pada penglihatan jauh normal, pada penglihatan dekat timbul strabismus divergens. 4. Kelemahan divergensi (divergence insufficiency) : pada penglihatan dekat normal, pada penglihatan jauh timbul strabismus konvergens. Kekurangan daya fusi : Kelainan daya fusi kongenital sering didapatkan. Daya fusi ini berkembang sejak kecil dan selesai pada umur 6 tahun. Ini penting untukk penglihatan binokuler tunggal yang menyebabkan mata melihat lurus. Tetapi bila daya fusi ini terganggu secara kongenital atau terjadi gangguan koordinasi motorisnya, maka akan menyebabkan strabismus. Pada kasus yang idiopatis, kesalahan mungkin terletak pada dasar genetik. Eksotropik dan esotropia sering merupakan keturunan autosomal dominan. Kadang-kadang pada anak dengan esotropia, didapatkan orang tuanya dengan esoforia yang hebat. Tidak jarang strabismus nonakomodatif tertutup oleh faktor akomodatif, sehingga bila kelainan refraksinya dikoreksi, strabismusnya hanya diperbaiki sebagian saja. Tanda-tanda : 1. 2. 3. 4. Kelainan kosmetik, sehingga pada anak-anak yang lebih besar merupakan beban mental. Tak terdapat tanda-tanda astenopia. Tak ada hubungan dengan kelainan refraksi. Tak ada diplopia, karena terdapat supresi dari bayangan pada mata yang berdeviasi. Pada strabismus yang monokuler, karena supresi dapat terjadi ambliopia ex anopsia. Bila deviasinya mulai pada umur muda dan sudut deviasinya besar, maka bayangan dimakula yang terdapat pada mata yang fiksasi (fixing eye) terdapat didaerah diluar makula pada mata yang berdeviasi (squiting eye). Jadi terdapat abnormal retinal correspondence (binocular fals projection). Pengukuran derajat deviasinya dilakukan

24

dengan : tes Hisrchberg, tes Krimsky, tes Maddox cross. Pemeriksaan kekuatan duksi untuk mengukur kekuatan otot. Pengobatan : 1. 2. Preoperatif Operatif

Ad. 1. Preoperatif : Pengobatan yang paling ideal pada setiap strabismus adalah bila tercapai hasil fungsionil yang baik, yaitu penglihatan binokuler yang normal dengan stereopsis, disamping perbaikan kosmetik. Hal ini sukar dicapai karena tergantung dari pada o lamanya strabismus. o umur anak pada waktu diperiksa. o sikap orang tuanya. o kelainan refraksi. Pada strabismus yang sudah berlangsung lama dan anak berumur 6 tahun atau lebih pada waktu diperiksa pertama, maka hasil pengobatannya hanya kosmetis saja. Sedapat mungkin ambliopia pada mata yang berdeviasi harus dihilangkan dengan: Menutup mata yang normal (terapi oklusi = patching). Dengan demikian penderita dipaksa untuk memakai matanya yang berdeviasi. Biasanya ketajaman penglihatannya menunjukkan perbaikan dalam 4-10 minggu. Penutupan ini mempunyai pengaruh baik pada pola sensorisnya retina, tetapi tidak mempengaruhi deviasi. Sebaiknya terapi penutupan sudah dimulai sejak usia 6 bulan, untuk hindarkan timbulnya ambliopia. Pada anak berumur dibawah 5 tahun dapat diteteskan sulfas atropin 1 tetes satu bulan, sehingga mata ini tak dipakai kira-kira 2 minggu. Ada pula yang menetesinya setiap hari dengan homatropin sehingga mata ini beberapa jam sehari tak dipakai. Sedang pada anak-anak yang lebih besar, dilakukan penutupan matanya 2-4 jam sehari. Penetesan atau penutupan jangan dilakukan terlalu lama, karena takut menyebabkan ambliopia pada mata yang sehat ini. Pengobatan dengan cara penutupan, pada anak yang sudah mengerti (3 tahun), harus dikombinasikan dengan latihan ortoptik untuk mendapatkan penglihatan binokuler yang baik. Kalau pengobatan preoperatif sudah cukup lama dilakukan, kira-kira 1 tahun, tetapi tak berhasil, maka dilakukan operasi. 25

Tindakan operatif sebaiknya dilakukan pada umur 4-5 tahun, supaya bila masih ada strabismusnya yang belum terkoreksi dapat dibantu dengan latihan. Prinsip operasinya : reseksi dari otot yang terlalu kuat reseksi dari otot yang terlalu lemah. Esotropia Nonakomodativa,

Meliputi lebih dari setengahnya strabismus nonparalitika. Deviasinya sudah timbul pada waktu lahir atau pada tahun-tahun pertama. Deviasinya sama kesemua arah dan tak terpengaruhi oleh akomodasi, tak ada hubungan dengan kelainan refraksi atau kelumpuhan otot. Penyebabnya mungkin insersi yang salah dari otot bekerja horizontal, kelainan persarafan supranuklear atau kelainan genetis. Pengobatan tindakan operatif ; resesi dari m.rektus medialis reseksi dari m.rektus lateralis. Strabismus Nonparalitika akomodativa : : Terapi penutupan secepat mungkin, disamping latihan ortoptik, sebelum dilakukan

Gangguan keseimbangan konvergensi dan divergensi dapat juga berdasarkan akomodasi, jadi berhubungan dengan kelainan refraksi. Dapat berupa : strabismus konvergens (esotropia) strabismus divergens (eksotropia). Pemeriksaan yang dilakukan : Pemeriksaan refraksi harus dilakukan dengan sikloplegia, untuk menghilangkan pengaruh dari akomodasi. Caranya :

Pada anak-anak dengan pemberian sulfas atropin 1 tetes sehari, tiga hari berturutturut, diperiksa pada hari keempat. 26

Pada orang dewasa diteteskan homatropin 1 tetes setiap 15 menit, tiga kali berturut-turut, diperiksa 1 jam setelah tetes terakhir.

Pengukuran derajat deviasi dengan tes Hirschberg, tes Krismky, tes Maddox cross. Pemeriksaan kekuatan duksi, untuk mengukur kekuatan otot yang bergerak pada arah horizontal (adduksi = m.rektus medialis; abduksi = m.rektus lateralis). Pengobatan : 1 koreksi dari kelainan refraksi, dengan sikloplegia. 2 hindari ambliopia dengan penetesan atropin atau penutupan pada mata yang sehat. 3 meluruskan aksis visualis dengan operasi (mata menjadi ortofori). 4 memperbaiki penglihatan binokuler dengan latihan ortoptik. Strabismus Konvergens nonparalitik akomodatif (konkomitan akomodatif) Dinamakan juga esotropia, dimana mata berdeviasi kearah nasal. Kelainan ini berhubungan dengan hipermetropia atau hipermetropia yang disertai astigmat. Tampak pada umur muda, antara 1-4 tahun, dimana anak mulai mempergunakan akomodasinya untuk melihat benda-benda dekat seperti mainan atau gambar-gambar. Mula-mula timbul periodik, pada waktu penglihatan dekat atau bila keadaan umumnya terganggu, kemudian menjadi tetap, baik pada penglihatan jauh ataupun dekat. Kadang-kadang dapat menghilang pada usia pubertas. Anak yang hipermetrop, mempergunakan akomodasi pada waktu penglihatan jauh, pada penglihatan dekat akomodasi yang dibutuhkan lebih banyak lagi. Akomodasi dan konvergensi erat hubungannya, dengan penambahan akomodasi konvergensinyapun bertambah pula. Pada anak dengan hipermetrop ini, mulai terlihat esoforia periodik pada penglihatan dekat, disebabkan rangsangan berlebihan untuk konvergensi. Lambat laun kelainan deviasi ini bertambah sampai fiksasi binokuler untuk penglihatan dekat tak dapat dipertahankan lagi, dan terjadilah strabismus konvergens untuk dekat. Kemudian terjadi pula esotropia pada penglihatan jauh. Pengobatan : 1) Koreksi refraksi dengan sikloplegia. Harus diberikan koreksi dari hipermetropia totalis, dan kacamata dipakai terus-menerus. Karena terdapat akomodasi yang berlebihan,

27

juga dapat diberikan kacamata untuk dekat meskipun belum usia presbiopia, untuk mengurangi akomodasinya. Jadi diberikan kacamata bifokal. 2) Mata yang sehat ditutup atau ditetesi atropin untuk memperbaiki visus pada mata yang sakit, 1 tetes 1 bulan 1 kali dapat juga dengan homatropin setiap hari atau penutupan mata yang sehat. Kacamata harus diperiksa berulang kali, karena mungkin terdapat perubahan, sampai kelainan refraksinya tetap. 3) Latihan ortoptik harus dilakukan bersamaan dengan perbaikan koreksi untuk memperbaiki pola sensorik dari retina, sehingga memperbesar kemungkinan untuk dapat melihat binokuler. 4) 5) 6) Kalau setelah tindakan diatas esotropianya masih ada, dan kelainan deviasinya Bila semua tindakan tidak menghilangkan kelainan deviasinya, maka dilakukan Setelah operasi, diteruskan latihan ortoptik untuk memperbaiki penglihatan tidak begitu besar, dapat diberikan koreksi dengan prisma, basis temporal. operasi, untuk meluruskan matanya. binokuler. Pada esotropia untuk jarak jauh, dilakukan reseksi m.rektus eksternus, (otot yang lemah). Pada esotropi jarak dekat, perlu resesi m.rektus internus (otot yang kuat). Untuk esotropi yang hebat, lebih dari 30 derajat, terjadi jauh dekat, dilakukan operasi kombinasi. strabismus divergens nonparalitik akomodatif(eksotropi konkomitan akomodatif) Mata berdeviasi kearah temporal. Hubungannya dengan miopia. Sering juga didapat, bila satu mata kehilangan penglihatannya sedang mata yang lain penglihatannya tetap baik, sehingga rangsangan untuk konvergensi tak ada, maka mata yang sakit berdeviasi keluar. Strabismus divergens biasanya mulai timbul pada waktu masa remaja atau dewasa muda. Lebih jarang terjadi. Dapat dimulai dengan : Kelebihan divergensi Kelemahan konvergensi.

Pada miopia mulai dengan kelemahan akomodasi pada jarak dekat, orang miop hanya sedikit atau tidak memerlukan akomodasi, sehingga menimbulkan kelemahan konvergensi dan timbullah kelainan eksotropia untuk penglihatan dekat sedang untuk 28

penglihatan jauhnya normal. tetapi pada keadaan yang lebih lanjut, timbul juga eksotropia pada jarak jauh. Bila penyebabnya divergens yang berlebihan, yang biasanya merupakan kelainan primer, mulai tampak sebagai eksotropia untuk jarak jauh. Tetapi lama kelamaan kekuatan konvergensi melemah, sehingga menjadi kelainan yang menetap, baik untuk jauh maupun dekat. Pengobatan : 1. Koreksi penuh dari miopinya, ditambah overkoreksi 0,5-0,75 dioptri untuk memaksa mata itu berakomodasi, kacamata ini harus dipakai terus-menerus. 2. Latihan ortoptik, untuk memperbaiki penglihatan binokuler, disamping terapi oklusi. 3. Operasi, bila cara yang terdahulu tak memberikan pengobatan yang memuaskan. Pada eksotropia hanya untuk jarak jauh, dilakukan dari m.rektus lateralis, sedang pada kelemahan dari daya konvergensi, yang timbulkan eksotropia pada jarak dekat dilakukan reseksi dari m.rektus medialis. Untuk eksotropia yang menetap untuk jauh dan dekat, dilakukan operasi kombinasi. Bila kelainan deviasinya tak begitu besar, dapat dicoba dulu dengan kacamata prisma basis nasal. Pada bayi dan anak kecil ada kecenderungan konvergensi yang berlebihan, yang dipengaruhi oleh persarafan supranuklear. Kecenderungan untuk berdivergensi menjadi lebih besar dengan bertambahnya umur. Karena itu, bila tidak ada daya untuk berfusi, seperti pada mata yang buta atau mata dengan visus yang sangat menurun, maka mata ini akan berdeviasi kenasal pada anak-anak sampai umur 6 tahun dan pada orang-orang yang lebih dari 6 tahun usianya akan berdeviasi kearah temporal Pemeriksaan Diagnostik a. E-chart / Snellen Chart Pemeriksaan dengan e-chart digunakan pada anak mulai umur 3 - 3,5 tahun, sedangkan diatas umur 5 6 tahun dapat digunakan Snellen chart. Untuk anak dibawah 3 th dapat digunakan cara 1. 2. Objektif dengan optal moschope Dengan observasi perhatian anak dengan sekelilingnya 29

3.

Dengan oklusi / menutup cat mata

b. Menentukan anomaly refraksi Dilakukan retroskopi setelah antropinisasidengan atropin 0,5 % - 1 % c. Retinoskopi Sampai usia 5 tahun anomali refraksi dapat ditentukan secara objectif dengan retinoskopi setelah atropinisasi dengan atropin 0,5 % - 1 %, diatas usia 5 tahun ditentukan secara subbjektif seperti pada orang dewasa. d. e. Cover Test : menentukan adanya heterotropia Uncovertest : menentukan adanya heterophoria

Caranya: Pasien diminta melihat objek fiksasi. Mata kanan ditutup dan mata kiri tidak. Lalu dibuka, segera perhatikan, bila bola mata bergerak, heterophoria diam,orhoporia, exophoria bergerak nasal. f. Hirsberg Test Pemeriksaan reflek cahaya dari senter pada permukaan kornea. Cara : 1. 2. 3. 4. Penderita melihat lurus ke depan Letakkan sebuah senter pada jarak 1/3 m = 33 cm di depan setinggi kedua mata Perhatika reflek cahaya dari permukaan kornea penderita. Prisma + cover test

pederita

Mengubah arah optic garis pandang g. Tes Krimsky Caranya: Penderita melihat kesumber cahaya yang jarak nya ditentukan. Perhatikan reflek cahaya pada mata yang berdeviasi. Kekuata prisma yang terbesar diletakkan di depan mata yang brdeviasi, sampai reflek cahaya yang terletak disentral kornea h. Tes Maddox Cross Maddox Cross terdiri dari satu palang dengan tangan dari silang nya 1 m. pada jarak 1m dari Maddox cross, kedua mata penderita, musle light yang terletak ditengah-tengah

30

Maddox cross dan ujung Maddox cross membentuk segitiga sama kaki dengan sudut dasarnya 45o Suruh penderita melihat muscle light, kalau tidak ada strabismus, reflek cahaya terletak di tengah-tengah pupil, namu bila strabismus, letaknya eksentrik i. Pemeriksaan gerakan mata Pemeriksaan pergerakan monokuler

Satu mata ditutup dan mata yang lainnya mengikuti cahaya yang digerakkan kesegala arah pandangan,sehingga adanya kelemahan rotasi dapat diketahui. Kelemahan seperti ini biasanya karena para usis otot atau karena kelainan mekanik anatomic. Pemeriksaan pergerakan binokuler Pada tiap-tiap mata ,bayangan yang ditangkap oleh fovea secara subjektif terlihat seperti terletak lurus didepan .apabila ada 2 objek yang berlainan ditangkap oleh 2 fovea, kedua objek akan terlihat seperti terletak lurus didepan .apabila ada 2 objek akan terlihat saling tindih,tetapi jika ada ketidak samaan menyebabkan fusi tidak memberikan kesan tunggal. Komplikasi 1. Supresi Usaha yang tidak disadari dari penderita untuk menghindari diplopia yang timbul akibat 2. adanya deviasinya. Amblyopia

Menurunnya visus pada satu atau dua mata dengan atau tanpa koreksi kacamata dan tanpa adanya kelainan organiknya. 3. Anomalus Retinal Correspondens Suatu keadaan dimana favea dari mata yang baik (yang tidak berdeviasi) menjadi sefaal dengan daerah favea dari mata yang berdeviasi. 4. Defect otot Perubahan-perubahan sekunder dari striktur konjungtiva dan jaringan fascia yang ada di sekeliling otot menahan pergerakan normal mata 5. Adaptasi posisi kepala

31

Keadaan ini dapat timbul untuk mengindari pemakaian otot yang mengalami efecyt atau kelumpuhan untuk mencapai penglihatan binokuler. Adaptasi posisi kepala biasanya kearah aksi dari otot yang lumpuh. AMBLIOPIA Amblyopia lebih dikenal dengan sebutan Lazy Eye (mata malas). Ambliopia adalah kurangnya tajam penglihatan akibat perkembangan abnormal pada area visual di otak yang disebabkan kurangnya rangsangan visual selama perkembangan visual dini. Kurangnya rangsangan visual dini ini didapatkan pada kasus-kasus seperti strabismus, katarak sejak lahir, kelainan refraksi yang berat pada satu atau dua mata (yang tidak segera dikoreksi dengan kacamata), kekeruhan pada kornea dan badan kaca.1 Keadaan ini menyebabkan tajam penglihatan yang tidak optimal tanpa adanya kelainan organik dan tidak dapat lagi dikoreksi. Keadaan ini juga dikenal dengan istilah lazy eye atau mata malas. Bila salah satu mata memiliki tajam penglihatan yang baik sedangkan mata yang lainnya tidak, maka mata dengan tajam penglihatan yang lebih buruk akan mengalami ambliopia. Umumnya hanya satu mata yang mengalami ambliopia, namun tidak menutup kemungkinan gangguan ini bisa terjadi pada dua mata sekaligus. Ambliopia sering ditemukan dan dapat mengenai 2 hingga 3 orang dari 100 pasien. Masa terapi ambliopia yang paling baik adalah selama masa bayi dan awal masa anak-anak

32

BAB V KESIMPULAN Pasien pada kasus ini adalah pasien dengan strabismus. Mengenai jenis dari strabismus tersebut masih belum diketahui, sehingga masih perlu dilakukan pemeriksaan tambahan lannya untuk mengetahui jenisnya serta penyebabnya. Penatalaksanaan yang dapat diberikan pada pasien ini adalah dengan bantuan kacamata, penutup mata, obat-obatan, latihan mata, toksin botulinium, serta tindakan operasi.apabila tindakan pengobatan dilakukan dengan waktu sedini mungkin, maka hasil pengobatan pun akan semakin optimal.

33