Anda di halaman 1dari 26

Kegunaan Hidrokarbon Dalam Kehidupan Sehari-hari

Proses pembuatan polyester

Halah… akhirnya saya nyerah juga….

Belakangan ini saya dapet banyak permintaan serupa baik yang ditulis di komentar beberapa
artikel disini maupun yang langsung lewat email / japri, yaitu tentang Kegunaan Hidrokarbon
di Bidang Sandang, Pangan, Papan, Seni dan Estetika.

Saya sedikit heran, kenapa kok bisa timbul banyak permintaan yang sama dalam waktu yang
hampir bersamaan. Saya pikir mungkin karena di kurikulum SMU memang sudah waktunya
untuk diberikan tugas tersebut ke siswa. Setelah saya googling mencari kurikulum / silabus
mengguanakan kata kunci kegunaan hidrokarbon ternyata benar, saya dapet silabus lengkap
disini. Saya pikir silabus ini akan saya perlukan untuk jadi acuan topik yang akan saya tulis
nantinya di persembahanku ini (atau blogger lainnya yang mungkin aware dengan edukasi
teruna/teruni), makanya kemudian silabus tersebut saya back-up disini.

Sebelumnya saya minta maaf karena saya agak lambat memenuhi permintaan adik-adik tentang
subjek tersebut diatas. Ini bukan tidak sengaja, tapi emang disengaja…

- Yee….. emang napa, Kang ?

Sengaja saya lambatkan supaya adik-adik bisa fight dulu, sampai dimana usaha yang sudah adik-
adik lakukan. Jangan sampai kejadiannya seperti tulisan saya disini. Dan saya suka adik-adik
sudah mau usaha untuk mencari tau sampai ada yang hampir semalaman chatting di YM dan
SMS dengan saya.

Well… jadi gini penjelasannya…

Untuk permintaan adik-adik ada dua hal yang berbeda :

Untuk urusan Sandang, Papan, Seni dan Estetika kita bisa berbicara tentang hidrokarbon. Tapi
ketika sudah bicara pangan maka yang akan kita bicarakan adalah karbohidrat. Memang
didalamnya masih ada hidrokarbonnya, tapi dengan tambahan oksigen didalam molekulnya.
Lagipula selama ini yang saya tahu rasanya belum ada sumber pangan yang berasal dari
hidrokarbon atau minyak bumi.. :p

So, sekarang mari kita ngobrol tentang hidrokarbon dulu.


Tapi supaya mudah mengertinya saya minta adik-adik baca dulu tulisan saya tentang :

1. Proses Pengolahan Minyak Bumi,


2. Komposisi Minyak Bumi I,
3. Komposisi Minyak Bumi II dan
4. Peta proses petrokimia seperti gambar diatas, sebab

saya tidak akan menjelaskan dari awal lagi, tapi langsung ke topik.

SANDANG

Dari bahan hidrokarbon yang bisa dimanfaatkan untuk sandang adalah PTA (purified terephthalic
acid) yang dibuat dari para-xylene dimana bahan dasarnya adalah kerosin (minyak tanah). Dari
Kerosin ini semua bahannya dibentuk menjadi senyawa aromat, yaitu para-xylene. Rumus
kimianya tau kan ? Bentuknya senyawa benzen (C6H6), tetapi ada dua gugus metil pada atom
C1 dan C3 dari molekul benzen tersebut.

Para-xylene ini kemudian dioksidasi menggunakan udara menjadi PTA (lihat peta proses
petrokimia diatas). Nah dari PTA yang berbentuk seperti tepung detergen ini kemudian
direaksikan dengan metanol menjadi serat poliester. Serat poli ester inilah yang menjadi benang
sintetis yang bentuknya seperti benang. Hampir semua pakaian seragam yang adik-adik pakai
mungkin terbuat dari poliester. Untuk memudahkan pengenalannya bisa dilihat dari harganya.
Harga pakaian yang terbuat dari benang sintetis poliester biasanya relatif lebih murah
dibandingkan pakaian yang terbuat dari bahan dasar katun, sutra atau serat alam lainnya.
Kehalusan bahan yang terbuat dari serat poliester dipengaruhi oleh zat penambah (aditif) dalam
proses pembuatan benang (saat mereaksikan PTA dengan metanol). Salah satu produsen PTA di
Indonesia adalah di Pertamina Unit Pengolahan III dengan jenis produk dan peruntukannya
disini.

Sebetulnya ada polimer lain yang juga dibunakan untuk pembuatan serat sintetis yang lebih
halus atau lembut lagi. Misal serat untuk bahan isi pembalut wanita. Polimer tersebut terbuat dari
polietilen.

PAPAN

Bahan bangunan yang berasal dari hidrokarbon pada


umumnya berupa plastik. Bahan dasar plastik hampir
sama dengan LPG, yaitu polimer dari propilena, yaitu
senyawa olefin / alkena dari rantai karbon C3. Dari
bahan plastik inilah kemudian jadi macam2… mulai
dari atap rumah (genteng plastik), furniture, peralatan
interior rumah, bemper mobil, meja, kursi, piring, dll.
Pokoknya untuk jenisnya silahkan sebutkan sendiri…
banyak kok… pokoknya cari aja dalam rumah yang
berbahan dasar plastik deh.

Salah satu produsen bahan baku barang plastik di Indonesia adalah di Pertamina Unit
Pengolahan III Palembang tempat saya kerja dengan jenis produk yang bermacam-macam.

SENI
Untuk urusan seni, terutama seni lukis, peranan utama hidrokarbon ada pada
tinta / cat minyak dan pelarutnya. Mungkin adik-adik mengenal thinner yang
biasa digunakan untuk mengencerkan cat. Sementar untuk urusan seni patung
banyak patung yang berbahan dasar dari plastik atau piala, dll….

Hidrokarbon yang digunakan untuk pelarut cat terbuat dari Low Aromatic
White Spirit atau LAWS mmerupakan pelarut yang dihasilkan dari Kilang
PERTAMINA di Plaju dengan rentang titik didih antara 145o C — 195o C.
Senyawa hidrokarbonyang membentuk pelarut LAWS merupakan campuran dari parafin,
sikloparafin, dan hidrokarbon aromatik. Untuk daftar pelarut lebih lengkap dan kegunaannya
bisa dilihat disini.

ESTETIKA

Sebetulnya seni juga sudah mencakup estetika. Tapi mungkin lebih luas lagi dengan
penambahan kosmetika. Jadi bahan hidrokarbon yang juga digunakan untuk estetika
kosmetik adalah lilin. Misal lipstik, waxing (pencabutan bulu kaki menggunakan
lilin) atau bahan pencampur kosmetik lainnya, farmasi atau semir sepatu. Tentunya
lilin untuk keperluan kosmetik spesifikasinya ketat sekali.

Lilin parafin di Indonesia diproduksi oleh Kilang PERTAMINA UP- V Balikpapan


melalui proses filtering press. Kualifikasi mutu lilin PERTAMINA berdasarkan
kualitas yang berhubungan dengan titik leleh, warna dan kandungan minyaknya. Jenis lilin dan
peruntukannya secara lebih luas ada disini.

PANGAN

Nah, seperti saya sebutkan diatas, jika sudah berbicara pangan maka bahasannya bukan
hidrokarbon murni lagi, tapi sedikit lebih luas, yaitu karbohidrat. Adik-adik tau kan jenis-jenis
karbohidrat ? … Harus tau… sebab saya tidak akan bicara jenisnya lagi.

Karbohidrat atau sakarida adalah segolongan besar senyawa organik yang


tersusun dari atom karbon, hidrogen, dan oksigen. Bentuk molekul
karbohidrat paling sederhana terdiri dari satu molekul gula sederhana. Kalau
atom karbon dinotasikan sebagai bola berwarna hitam, okeigen berwarna
merah dan hidrogen berwarna putih maka bentuk molekul tiga dimensi dari
glukosa akan seperti gambar disamping ini. Banyak karbohidrat yang
merupakan polimer yang tersusun dari molekul gula yang terangkai menjadi
rantai yang panjang serta bercabang-cabang.

Karbohidrat merupakan bahan makanan penting dan sumber tenaga yang terdapat dalam
tumbuhan dan daging hewan. Selain itu, karbohidrat juga menjadi komponen struktur penting
pada makhluk hidup dalam bentuk serat (fiber), seperti selulosa, pektin, serta lignin.

Karbohidrat menyediakan kebutuhan dasar yang diperlukan tubuh. Tubuh menggunakan


karbohidrat seperti layaknya mesin mobil menggunakan bensin. Glukosa, karbohidrat yang
paling sederhana mengalir dalam aliran darah sehingga tersedia bagi seluruh sel tubuh. Sel-sel
tubuh tersebut menyerap glukosa. Gula ini kemudian oleh sel dioksidasi (dibakar) dengan
bantuan oksigen yang kita hirup menjadi energi dan gas CO2 dalam bentuk respirasi /
pernafasan. Energi yang dihasilkan dan tidak digunakan akan disimpan dibawah jaringan kulit
dalam bentuk lemak.

Reaksi pembakaran gula dalam tubuh :

C6H12O6 (gula) + 6O2 (udara yang dihirup) —- >


Energi + 6CO2 (udara yang dikeluarkan) + 6H2O (keringat atau air seni).

Segitu aja dulu… mudah2an cukup membantu…

Selamat belajar……

Sumber :

1. Proses pembuatan serat poliester : http://www.swicofil.com/pes.html


2. Cat minyak : http://www.kathleenwaterloo.com/encaustic.html
3. Lipstik : http://www.ouithreequeens.com/welcome.html
4. Molekul Glukosa : http://library.advanced.org/11226/main/s03.htm
5. Monomer Lignin : http://ocean.fsu.edu/faculty/dittmar/dittmarmethods.html
6.

7.Sumber Asli Hidrokarbon


8.
9. Petroleum dan Gas Asli

10.
11. Petroleum ialah sejenis cecair pekat hitam yang dijumpai dalam tanah. Ia
merupakan sumber asli hidrokarbon.
12.Petroleum terbentuk berjuta-juta tahun dahulu daripada hidupan laut yang mati,
kemudian tertimbus oleh lumpur dan pasir. Apabila hidupan laut mati , bangkai
mereka tenggelam ke dasar laut, kemudian ditimbus oleh sedimen . Melalui
tindakan bakteria , pereputan separa berlaku dalam keadaan kekurangan
oksigen. Penguraian seterusnya di bawah suhu dan tekanan yang tinggi
akhirnya menghasilkan petroleum dan gas asli. Petroleum berkumpul apabila
terperangkap di antara dua lapisan batuan yang tidak telap.Gas asli biasanya
terkumpul di atas cecair petroleum. Gas asli terutamanya terbina daripada
metana , sedikit etana , propana serta hidrokarbon berat .
13.Petroleum terdiri daripada campuran hidrokarbon yang kompleks yang boleh
diasingkan kepada pecahan berlainan melalui kaedah penyulingan berperingkat
kerana setiap pecahan mempunyai takat didih yang berlainan.

14.
15.
16.Proses Penyulingan Berperingkat
Hidrokarbon dalam petroleum
diasingkan melalui proses
penyulingan berperingkat.
Semasa penyulingan
berperingkat , petroleum
dipanaskan dalam sebuah
menara pemeringkat .
Hidrokarbon dengan takat didih
yang lebih rendah meruap
terlebih dahulu , naik ke
bahagian atas menara lalu
dikondensasikan dan
diasingkan. Hidrokarbon
dengan takat didih yang lebih
tinggi akan terkumpul di
bahagian bawah menara dan
dikondensasikan sebagai cecair.

Hidrokarbon (pecahan) dalam


petroleum dapat diasingkan
kerana setiap hidrokarbon
mempunyai takat didihnya
tersendiri.

Proses peretakan digunakan


untuk memecahkan molekul
hidrokarbon yang besar kepada
molekul hidrokarbon yang kecil
. Sebelum setiap hidrokarbon
dipasarkan , proses peretakan
dan penulenan dilakukan bagi
menjamin mutu pecahan
tersebut.

17. Anda digalakkan untuk membaca selanjutnya tentang


eksperimen penyulingan petroleum. ( Eksperimen ini
boleh dijalankan di makmal. )
18.
19.Sifat Pecahan-Pecahan Petroleum Yang Diperolehi
20.Makin rendah takat didih pecahan petroleum itu ;
makin kurang likat pecahan itu
makin cerah warnanya
makin mudah pecahan itu terbakar
makin bersih nyalanya ( kurang berjelaga )
21.Makin tinggi takat didih pecahan petroleum itu ;
makin likat pecahan itu
makin gelap warnanya
makin sukar pecahan itu terbakar
makin berjelaga nyalanya.
22.
23.Pecahan-pecahan Petroleum Dan Kegunaannya.

Pecahan Petroleum Kegunaan

Gas-gas petroleum Dicairkan di bawah tekanan dan digunakan sebagai


gas untuk memasak.
(takat didih paling rendah
)

Petrol Digunakan sebagai bahan api untuk kereta dan


kenderaan ringan.

Nafta Sumber bagi pembuatan plastik, dadah, dan kain


sintetik dalam industri petrokimia dan sebagai
pelarut

Kerosin Digunakan sebagai bahan api untuk pesawat terbang


serta untuk pemanasan dan pencahayaan (lampu
kerosin )

Diesel Digunakan sebagai bahan api untuk kenderaan berat


seperti bas , lori dan kereta api.

Minyak pelincir Digunakan sebagai pelincir untuk mengurangkan


geseran

Parafin Digunakan untuk membuat lilin,bahan penggilap


dan bahan pencuci

Minyak Bahan Api Digunakan sebagai bahan api dalam kapal , mesin
kilang dan stesen jana kuasa
Bitumen Digunakan untuk membuat jalan raya dan bahan
kalis air.
(takat didih paling tinggi)

24.
25.Arang batu .

26.
27.Arang batu juga merupakan sumber asli hidrokarbon.Arang batu terbentuk
daripada sisa tumbuhan (di kawasan berpaya) yang mati , kemudian tertimbus ,
berjuta-juta tahun dahulu . Sisa tumbuhan itu terdedah kepada suhu dan tekanan
yang tinggi , seterusnya bertukar kepada arang batu.
28.Arang batu digunakan sebagai bahan api dan sumber pelbagai jenis bahan
kimia seperti minyak wangi , cat , plastik , detergen dan bahan letupan. Metana
dapat diperoleh dengan memanaskan arang batu kepada suhu 1300 darjah
Celsius.
29.

30.Eksperimen
31.
32.Eksperimen : Mengkaji penyulingan petroleum (minyak
mentah) di dalam makmal.
33.
34.
35.Kaedah :
Radas penyulingan ringkas seperti pada rajah di atas disediakan .
Minyak mentah dalam tabung didih dipanaskan dan hasil sulingan dikumpulkan
pada julat suhu yang berbeza.
Hasil sulingan dipungut dan sifat setiap pecahan dikaji dari aspek berikut , iaitu
kelikatan, warna pecahan , sifat nyalaan dan kebolehbakaran
Untuk menentukan sifat kelikatan , sedikit pecahan tertentu dituang ke dalam
piring kaca. Piring kaca itu dicondongkan sedikit dan pemerhatian dibuat samada
pecahan itu mudah mengalir atau tidak.
Untuk menentukan warna pecahan , perbandingan warna dibuat bagi setiap
pecahan itu.
Untuk mengkaji sifat nyalaan , pecahan tertentu dimasukkan ke dalam mangkuk
pijar . Sekerat benang dicelup ke dalam pecahan itu untuk bertindak sebagai
sumbu. Sumbu itu dinyalakan . Warna nyalaan itu diperhatikan . Sekeping kertas
turas diletak di atas nyala untuk lihat kuantiti jelaga yang terkumpul dari nyala itu.
36.
37.Ujian Sifat Nyala
38.Keputusan :

Pecahan Julat Suhu Warna Kelikatan Keboleh Kuantiti


Pecahan bakaran jelaga
( 0C )

1 50- 100 0C Tidak Cair / mudah Mudah Tiada jelaga


berwarna mengalir terbakar

2 101-150 0C Kuning Pekat sedikit Mudah Sedikit


muda terbakar jelaga

3 151- 200 0C Kuning tua Agak pekat Susah Agak


terbakar banyak
jelaga

4 201- 250 0C Perang Agak pekat Amat sukat Amat


terbakar banyak
jelaga

Baki Lebih dari Perang tua Amat likat / Tidak -


250 0C - hitam sangat sukar terbakar
mengalir

39.Perbincangan :
40.1) Daripada keputusan eksperimen , didapati sifat(ciri) pecahan berubah dengan
bertambahnya takat didih pecahan.
41.Semakin tinggi takat didih pecahan itu :
Semakin likat pecahan itu ( kerana saiz molekul pecahan semakin besar dan daya
tarikan antara molekul-molekulnya semakin kuat menyebabkan molekul –molekul
sukar bergelongsor antara satu sama lain. )
Semakin sukar ia terbakar dan kuantiti jelaga semakin bertambah .( sebab peratus
karbon per molekul semakin bertambah dengan bertambahnya takat didih pecahan
itu.)
Semakin gelap warna pecahan itu .
42.2) Pecahan-pecahan itu mempunyai sifat yang sama dari segi :
43.Keterlarutan dalam air - Semua pecahan petroleum tidak larut dalam air.
44.PH – Semua pecahan petroleum bersifat neutral .
45.Hasil pembakaran sama - Semua pecahan terbakar dalam udara berlebihan
untuk menghasilkan gas karbon dioksida dan air.

Monday, 14 January 2008


Minyak Bumi dan Proses Destilasi
Minyak bumi (bahasa Inggris: petroleum, dari bahasa Latin petrus – karang dan
oleum – minyak), dijuluki juga sebagai emas hitam, adalah cairan kental, coklat
gelap, atau kehijauan yang mudah terbakar, yang berada di lapisan atas dari
beberapa area di kerak Bumi. Minyak bumi terdiri dari campuran kompleks dari
berbagai hidrokarbon, sebagian besar seri alkana, tetapi bervariasi dalam
penampilan, komposisi, dan kemurniannya.
Komposisi

Komponen kimia dari minyak bumi dipisahkan oleh proses distilasi, yang kemudian,
setelah diolah lagi, menjadi minyak tanah, bensin, lilin, aspal, dll.
Minyak bumi terdiri dari hidrokarbon, senyawaan hidrogen dan karbon.
Empat alkana teringan— CH4 (metana), C2H6 (etana), C3H8 (propana), dan C4H10
(butana) — semuanya adalah gas yang mendidih pada -161.6°C, -88.6°C, -42°C,
dan -0.5°C, berturut-turut (-258.9°, -127.5°, -43.6°, dan +31.1° F).
Rantai dalam wilayah C5-7 semuanya ringan, dan mudah menguap, nafta jernih.
Senyawaan tersebut digunakan sebagai pelarut, cairan pencuci kering (dry clean),
dan produk cepat-kering lainnya. Rantai dari C6H14 sampai C12H26 dicampur
bersama dan digunakan untuk bensin. Minyak tanah terbuat dari rantai di wilayah
C10 sampai C15, diikuti oleh minyak diesel (C10 hingga C20) dan bahan bakar
minyak yang digunakan dalam mesin kapal. Senyawaan dari minyak bumi ini
semuanya dalam bentuk cair dalam suhu ruangan.
Minyak pelumas dan gemuk setengah-padat (termasuk Vaseline®) berada di antara
C16 sampai ke C20.
Rantai di atas C20 berwujud padat, dimulai dari "lilin, kemudian tar, dan bitumen
aspal.
Titik pendidihan dalam tekanan atmosfer fraksi distilasi dalam derajat Celcius:

minyak eter: 40 - 70 °C (digunakan sebagai pelarut)


minyak ringan: 60 - 100 °C (bahan bakar mobil)
minyak berat: 100 - 150 °C (bahan bakar mobil)
minyak tanah ringan: 120 - 150 °C (pelarut dan bahan bakar untuk rumah tangga)
kerosene: 150 - 300 °C (bahan bakar mesin jet)
minyak gas: 250 - 350 °C (minyak diesel/pemanas)
minyak pelumas: > 300 °C (minyak mesin)
sisanya: tar, aspal, bahan bakar residu

Beberapa ilmuwan menyatakan bahwa minyak adalah zat abiotik, yang berarti zat
ini tidak berasal dari fosil tetapi berasal dari zat anorganik yang dihasilkan secara
alami dalam perut bumi. Namun, pandangan ini diragukan dalam lingkungan ilmiah.

Proses Operasi di dalam Kilang Minyak

Minyak mentah yang baru dipompakan ke luar dari tanah dan belum diproses
umumnya tidak begitu bermanfaat. Agar dapat dimanfaatkan secara optimal,
minyak mentah tersebut harus diproses terlebih dahulu di dalam kilang minyak.
Minyak mentah merupakan campuran yang amat kompleks yang tersusun dari
berbagai senyawa hidrokarbon. Di dalam kilang minyak tersebut, minyak mentah
akan mengalami sejumlah proses yang akan memurnikan dan mengubah struktur
dan komposisinya sehingga diperoleh produk yang bermanfaat.
Secara garis besar, proses yang berlangsung di dalam kilang minyak dapat
digolongkan menjadi 5 bagian, yaitu:
Proses Distilasi, yaitu proses penyulingan berdasarkan perbedaan titik didih; Proses
ini berlangsung di Kolom Distilasi Atmosferik dan Kolom Destilasi Vakum.
Proses Konversi, yaitu proses untuk mengubah ukuran dan struktur senyawa
hidrokarbon. Termasuk dalam proses ini adalah:
Dekomposisi dengan cara perengkahan termal dan katalis (thermal and catalytic
cracking)
Unifikasi melalui proses alkilasi dan polimerisasi
Alterasi melalui proses isomerisasi dan catalytic reforming
Proses Pengolahan (treatment). Proses ini dimaksudkan untuk menyiapkan fraksi-
fraksi hidrokarbon untuk diolah lebih lanjut, juga untuk diolah menjadi produk akhir.
Formulasi dan Pencampuran (Blending), yaitu proses pencampuran fraksi-fraksi
hidrokarbon dan penambahan bahan aditif untuk mendapatkan produk akhir
dengan spesikasi tertentu.
Proses-proses lainnya, antara lain meliputi: pengolahan limbah, proses
penghilangan air asin (sour-water stripping), proses pemerolehan kembali sulfur
(sulphur recovery), proses pemanasan, proses pendinginan, proses pembuatan
hidrogen, dan proses-proses pendukung lainnya.

Proses Distilasi

Tahap awal proses pengilangan berupa proses distilasi (penyulingan) yang


berlangsung di dalam Kolom Distilasi Atmosferik dan Kolom Distilasi Vacuum. Di
kedua unit proses ini minyak mentah disuling menjadi fraksi-fraksinya, yaitu gas,
distilat ringan (seperti minyak bensin), distilat menengah (seperti minyak tanah,
minyak solar), minyak bakar (gas oil), dan residu. Pemisahan fraksi tersebut
didasarkan pada titik didihnya.
Kolom distilasi berupa bejana tekan silindris yang tinggi (sekitar 40 m) dan di
dalamnya terdapat tray-tray yang berfungsi memisahkan dan mengumpulkan fluida
panas yang menguap ke atas. Fraksi hidrokarbon berat mengumpul di bagian
bawah kolom, sementara fraksi-fraksi yang lebih ringan akan mengumpul di bagian-
bagian kolom yang lebih atas.
Fraksi-fraksi hidrokarbon yang diperoleh dari kolom distilasi ini akan diproses lebih
lanjut di unit-unit proses yang lain, seperti: Fluid Catalytic Cracker, dll.
Produk-produk Kilang Minyak
Produk-produk utama kilang minyak adalah:
Minyak bensin (gasoline). Minyak bensin merupakan produk terpenting dan terbesar
dari kilang minyak.
Minyak tanah (kerosene)
LPG (Liquified Petroleum Gas)
Minyak distilat (distillate fuel)
Minyak residu (residual fuel)
Kokas (coke) dan aspal
Bahan-bahan kimia pelarut (solvent)
Bahan baku petrokimia
Minyak pelumas
Distilasi
Distilasi atau penyulingan adalah suatu metode pemisahan bahan kimia
berdasarkan perbedaan kecepatan atau kemudahan menguap (volatilitas) bahan.
Dalam penyulingan, campuran zat dididihkan sehingga menguap, dan uap ini
kemudian didinginkan kembali ke dalam bentuk cairan. Zat yang memiliki titik didih
lebih rendah akan menguap lebih dulu.
Metode ini merupakan termasuk unit operasi kimia jenis perpindahan massa.
Penerapan proses ini didasarkan pada teori bahwa pada suatu larutan, masing-
masing komponen akan menguap pada titik didihnya. Model ideal distilasi
didasarkan pada Hukum Raoult dan Hukum Dalton.

Sejarah
Distilasi pertama kali ditemukan oleh kimiawan Yunani sekitar abad pertama masehi
yang akhirnya perkembangannya dipicu terutama oleh tingginya permintaan akan
spritus. Hypathia dari Alexandria dipercaya telah menemukan rangkaian alat untuk
distilasi dan Zosimus dari Alexandria-lah yang telah berhasil menggambarkan
secara akurat tentang proses distilasi pada sekitar abad ke-4 Bentuk modern
distilasi pertama kali ditemukan oleh ahli-ahli kimia Islam pada masa kekhalifahan
Abbasiah, terutama oleh Al-Razi pada pemisahan alkohol menjadi senyawa yang
relatif murni melalui alat alembik, bahkan desain ini menjadi semacam inspirasi
yang memungkinkan rancangan distilasi skala mikro, The Hickman Stillhead dapat
terwujud. Tulisan oleh Jabir Ibnu Hayyan (721-815) yang lebih dikenal dengan Ibnu
Jabir menyebutkan tentang uap anggur yang dapat terbakar, ia juga telah
menemukan banyak peralatan dan proses kimia yang bahkan masih banyak dipakai
sampai saat kini. Kemudian teknik penyulingan diuraikan dengan jelas oleh Al-Kindi
(801-873).[1]
Salah satu penerapan terpenting dari metode distilasi adalah pemisahan minyak
mentah menjadi bagian-bagian untuk penggunaan khusus seperti untuk
transportasi, pembangkit listrik, pemanas, dll. Udara didistilasi menjadi komponen-
komponen seperti oksigen untuk penggunaan medis dan helium untuk pengisi
balon. Distilasi juga telah digunakan sejak lama untuk pemekatan alkohol dengan
penerapan panas terhadap larutan hasil fermentasi untuk menghasilkan minuman
suling.
[sunting] Distilasi Skala Industri
Umumnya proses distilasi dalam skala industri dilakukan dalam menara, oleh
karena itu unit proses dari distilasi ini sering disebut sebagai menara distilasi (MD).
MD biasanya berukuran 2-5 meter dalam diameter dan tinggi berkisar antara 6-15
meter. Masukan dari MD biasanya berupa cair jenuh (cairan yang dengan berkurang
tekanan sedikit saja sudah akan terbentuk uap) dan memiliki dua arus keluaran,
arus yang diatas adalah arus yang lebih volatil (lebih ringan/mudah menguap) dan
arus bawah yang terdiri dari komponen berat. MD terbagi dalam 2 jenis kategori
besar:
Menara Distilasi tipe Stagewise, MD ini terdiri dari banyak plate yang
memungkinkan kesetimbangan terbagi-bagi dalam setiap platenya, dan Menara
Distilasi tipe Continous, yang terdiri dari packing dan kesetimbangan cair-gasnya
terjadi di sepanjang kolom menara.

Co-production of Bioethanol
by Rendra Bayu on 08/02/08 at 2:15 pm | 144 Comments | Print article | Email article
Seperti yang telah kita ketahui bersama, Indonesia kaya akan
biomassa, apapun itu bentuknya. Oleh karena itu, pemanfaatan biomassa sebagai sumber energi
sangat potensial untuk dikembangkan. Berikut ini adalah paparan ringkas tentang produksi
bioetanol dari bahan baku biomassa (bahan berselulosa) yang dikaitkan dengan produksi biofuel
yang lain serta sedikit pembahasan tentang bio/catalytic refineries dan integrasinya dengan
conventional refineries.

Hydrogen Production

Konversi biomassa menjadi hidrogen secara biologi dapat dilakukan dengan proses
photofermentation maupun darkfermentation. Perolehan hidrogen dengan dark fermentation
hanya mencapai 10-20% dari jumlah kandungan hidrogen dalam bahan organik teoretik.
Perolehan hidrogen bervariasi dari 0,52 mol/mol heksosa yang diperoleh jika menggunakan
subtrat molase dalam batch culture Enterobacter aerogenes, hingga 2,3 mol/mol heksosa jika
menggunakan glukosa sebagai substrat dalam continuous culture Clostridium butyricum. Selain
perolehan yang rendah, permasalahan lain yang ada dalam produksi hidrogen secara fermentasi
adalah konsumsi hidrogen oleh organisme lain seperti metanogenik sehingga substrat awal harus
di sterilisasi terlebih dahulu dan menggunakan inokulum yang dalam keadaan murni. Proses
produksi hidrogen yang berdiri sendiri dengan cara ini masih tidak laik untuk diaplikasikan saat
ini.

Methane Production

Dalam ekosistem anaerobik degradasi biomassa (yang tak tersterilisasi) secara normal dapat
mengikuti jalur yang diilustrasikan pada Fig 1. Jika tidak ada akseptor elektron anorganik seperti
sulfat atau nitrat, metana menjadi produk akhir proses karena semua senyawa intermediet dari
bakteri fermentasi dapat di degradasi menjadi metana, karbondioksida, dan air. Hampir 90%
energi dalam biomassa terkonversi menjadi produk akhir dan hanya 10% digunakan untuk
bakteri fermentasi. Dalam tahap akhir proses pembentukan metana, karbon (dalam biomassa)
hampir sepenuhnya diubah menjadi keadaan paling teroksidasi (CO2) dan paling tereduksi (CH4).
Hanya 4% energi digunakan unuk mikroorganisme dan 86% energi terkandung dalam metana.
Dalam proses fermentasi metanogenik secara umum diperoleh perolehan metana mendekati
perolehan maksimum teoretik 3 mol CH4/mol glukosa.

Production Biofuels Using the Maxifuel Concept

Proses produksi hidrogen, metana, dan bioetanol dapat dilangsungkan secara terintegrasi, seperti
dalam Maxifuel concept (ilustrasi Fig 2). Konsep ini didesain untuk produksi Etanol dari bahan
lignoselulosa, untuk menghasilkan jumlah biofuel yang maksimum per unit raw material dan
memanfaatkan residu untuk konversi lebih lanjut menjadi energi. Produk utama bioetanol
digunakan untuk bahan bakar transportasi dan penekanan proses ini untuk optimasi produksi
etanol. Produksi biofuel yang lain seperti metana, hidrogen, dan produk bernilai lain seperti
bahan bakar padat akan menambah nilai lebih pada proses. Proses ini juga ramah lingkungan
karena dilakukan recycle dan reuse aliran keluaran. Pengembangan produksi etanol berbasis
bahan lignoselulosa dapat diintegrasikan lebih lanjut dalam produksi bioetanol konvensional dari
bahan jagung, dimana residu jagung dan fiber dapat dimanfaatkan untuk meningkatkan
produktivitas 20% seperti tertera pada ilustrasi Fig 3.
Lebih dari 19% bahan baku terpisahkan sebagai padatan, yang dapat dimanfaatkan untuk proses
pembakaran. Jika diinginkan, fraksi ini dapat ditingkatkan, sebaliknya jika tidak diinginkan dapat
diresirkulasi pada proses pretreatment bersama dengan bahan baku. Neraca massa dari proses
Maxifuel dapat dilihat pada ilustrasi Fig 4. Pilot plant proses ini telah di buat di Technical
University of Denmark, DTU (ilustrasi Fig 5) dan konsep ini akan didemonstrasikan pada tahun
2008.
Proses Maxifuel yang telah dipatenkan terdiri dari beberapa tahapan sebagai berikut:

1. Pretreatment
Proses pretreatment dari bahan lignoselulosa lebih intensif dibandingkan
dengan bahan gula dan bahan berpati. Metode pretreatment bahan
lignoselulosa sekarang ini mengonsumsi 30-40% biaya total untuk produksi
bioetanol.
2. Hydrolysis
Hidrolisa keluaran tahap pretreatment direaksikan dengan enzim untuk
memecah selulosa dan hemiselulosa menjadi heksosa dan pentosa sehingga
dapat di fermentasi mejadi etanol. Harga enzim sangat mahal, sehingga
penelitian untuk mendapatkan enzim dengan aktivitas tinggi dan harga
murah adalah kunci untuk mengatasi hambatan ini. Adapun cara lain untuk
mereduksi biaya adalah dengan melakukan recycle loops untuk mengumpan
balik enzim dalam tangki hidrolisis enzimatik.
3. Fermentation of C6 sugars
Tahap hidrolisis dapat dioptimalkan dengan melakukan kombinasi hidrolisis
enzymatik bersamaan dengan proses fermentasi oleh ragi (simultaneous
saccharification and fermentation, SSF). Temperatur optimum enzim yang
lebih tinggi dari pada temperatur optimum ragi dapat mengurangi
keuntungan menggunakan proses SSF dibandingkan dengan proses terpisah.
Ragi roti Saccharomyces cerevisiae digunakan untuk menghasilkan etanol,
dan telah banyak digunakan dalam produksi skala industrial. Produktivitas
etanol yang besar serta toleran terhadap etanol dan inhibitor lain dalam
hidrolisa biomassa adalah alasan penting digunakannya organisme ini,
meskipun proses fermentasi xylose organisme ini kurang.
4. Separation
Setelah fermentasi glukosa oleh ragi dalam konsep Maxifuel, lignin
dipisahkan dengan menggunakan filter, yang sangat mungkin didapatkan
lignin dengan berat kering yang tinggi untuk menghindari pembuangan
xylose dan etanol yang berada dalam fasa likuid.
5. Fermentation of C5 sugars
Gula residu dalam hidrolisat setelah proses fermentasi oleh ragi di
fermentasikan lagi menggunakan mikroorganisme termofilik, Thermobacter
BG1. Modifikasi genetik pada mikroorganisme ini dapat menghasilkan 38,7
g/L atau 5,4% v/v etanol dalam sistem kontinu dari hidrolisa bahan
nondetoxified lignoselulosa. Temperatur pertumbuhan pada 75oC memberi
kemudahan untuk proses distilasi etanol dari reaktor. Operasi pada kondisi
termofilik dapat menurunkan pengaruh kontaminasi, yang merupakan
hambatan utama proses fermentasi pada kondisi mesofilik. Selama proses
fermentasi gula residu ini, 0,5 sampai 1,1 mol hidrogen/mol substrat
dihasilkan sebagai produk samping. Untuk optimasi kelayakan, proses
fermentasi termofilik bioetanol dilakukan dalam sistem reaktor terimobilisasi.
Imobilisasi organisme ini dalam up flow reactor meningkatkan toleransi
etanol, meningkatkan konversi substrat, dan menurunkan sensitivitas
ketidakseimbangan proses fermentasi
6. Anaerobic digestion of process water and recirculation
Efluen dari produksi bioetanol masih mengandung bahan organik yang besar,
kecuali karbohidrat. Anaerobik digestion telah lama digunakan untuk
mengolah limbah yang mengandung zat organik dalam konsentrasi yang
tinggi. Keuntungan proses ini antara lain menstabilkan aliran limbah, efisiensi
reduksi kandungan zat organik tinggi, dan produksi metana sebagai bahan
baku energi. Pendapatan dari produksi metana dapat mengurangi biaya
produksi bioetanol hingga mencapai 34%. Efluen dari tahap fermentasi
mengandung lignin berberat molekul rendah yang dihasilkan selama proses
fisik-kimia pada tahap pretreatment, yang berupa senyawa aromatik.
Senyawa aromatik ini secara umum sukar di degradasi pada proses anaerob,
dan jika digunakan kembali akan menginhibisi proses fermentasi. Oleh karena
itu, pencapaian dalam proses purifikasi anaerobik yang dapat mendegradasi
senyawa ini sangat penting dilakukan.

Bio/Catalytic Refineries

Perkembangan lanjut biorefineries dapat dilakukan dengan teknik hibrida menggabungkan


proses konversi biologi dengan proses hilir katalitik. Proses dalam autothermal reformer dengan
efisiensi tinggi dapat mengubah 1 mol etanol menjadi 5 mol hidrogen. Jika digabungkan dengan
proses biologi dimana 2 mol etanol dihasilkan dari setiap molekul gula (glukosa) perolehan
hidrogen dalam dua tahap menjadi 83 % dari nilai maksimum teoretik, lebih besar jika
dibandingkan dengan proses fermentasi yang hanya mencapai 10-20%. Selain itu, dihasilkan
juga hidrogen dari proses fermentasi termofilik yang akan menambah perolehan hidrogen pada
keseluruhan proses mendekati nilai maksimal teoretik yaitu 12 mol hidrogen/mol monosakarida.

Hidrogen dipandang sebagai salah satu energi masa depan. Pengenalan proses hilir konversi
katalitik biofuel memungkinkan digunakannya bahan bakar yang tidak memerlukan perlakuan
yang lebih kompleks (etanol untuk menghasilkan hidrogen) untuk alat transportasi dengan
menggabungkan teknologi fuel cell.

Integrated Conventional and Bio/Catalytic Refineries

Adanya perhatian dan perkembangan yang pesat pemanfaatan biomassa sebagai bahan baku
energi, tidak menutup kemungkinan bahan bakar minyak akan terganti semua dalam kurun waktu
50 tahun. Integrasi antara conventional refineries dengan bio/catalytic refineries akan
menimbulkan kesinergian dalam proses, ketersediaan bahan kimia, dan logistik. Beberapa aliran
proses, limbah, dan panas dari conventional refinery dapat dimanfaatkan dalam biorefinery
(ilustrasi Fig 6). Air pendingin dan beberapa aliran efluen dapat digunakan sebagai air proses
dalam biorefinery. Conventional refinery memiliki sejumlah besar energi dengan temperatur
rendah yang dapat ditukar dan dimanfaatkan untuk energi proses dalam biorefinery. Produk
biorefinery dapat digunakan sebagai bahan baku untuk bermacam-macam proses dalam
conventional refinery. Sebagai contoh, etanol digunakan sebagai bahan campuran produk
gasolin.

Hidrogen yang dihasilkan dari proses biologi dapat dimanfaatkan untuk proses hidrogenasi
dalam conventional refiery. Methane dari proses biorefinery dapat digunakan untuk bahan bakar,
dan dapat juga digunakan sebagai bahan baku proses reformasi katalitik untuk menghasilkan
hidrogen. Dapat juga digunakan untuk menghasilkan gas sintesis (CO/H2), yang dapat
dimanfaatkan dalam proses gas to liquids atau produksi metanol. Adanya tahap proses katalitik
antara kedua refinery ini dapat meningkatkan keuntungan dua kali lipat , karena hidrokarbon
keluaran proses katalitik dapat dimanfaatkan sebagai bahan baku proses refining lebih lanjut
pada coventional refinery.
Referensi: Bioscience and Technology, BioCentrum-DTU, Technical University of

Politik dan Ekonomi | 29.05.2008

Qatar: Uang Minyak untuk Investasi

Großansicht des Bildes mit der Bildunterschrift: Instalasi Penyulingan Gas Bumi di
Qatar
Pada daftar negara yang mengenyam keberuntungan ini, negara-negara
teluk Persia yang memililki cadangan minyak bumi terbesar di dunia
berada di paling atas. Lalu apa yang diperbuat negara-negara itu dengan
penghasilannya

Qatar bukan saja termasuk negara penghasil minyak bumi terbesar di dunia. Qatar juga berada di
tangga atas peringkat negara yang penduduknya menyandang sakit gula. Setiap satu di antara
lima warga Qatar berpenyakit diabetes. Penyakit ini meluas tanpa betul-betul disadari, yakni
semenjak minyak bumi ditemukan di kawasan itu dan gaya hidup masyarakat semakin luksus.

“Dulu ketika bangsa ini masih hidup di tenda-tenda, hidup berpindah-pindah dan melakukan
perjalanan dengan onta, orang-orangnya masih membutuhkan banyak kalori. Sekarang, mobil-
mobil Land Cruiser sudah menggantikan onta. Kenyamanan yang tersedia membuat banyak
orang menjadi malas bergerak", begitu menurut Thomas Flock, yang memimpin Akademi Olah
Raga Aspire.

Di kompleks bangunan Aspire itu, terdapat ruangan olah raga terbesar di dunia. Di bawah
kubahnya bisa diselenggarakan 12 acara olahraga sekaligus. Milyaran dolar dikeluarkan oleh
Emir Qatar untuk membangun Akademi Olah Raga Aspire empat tahun yang lalu. Tujuannya
adalah agar rakyat Qatar yang kelewat gemuk bisa kembali sehat.

Itu hanya salah satu contoh nyata tentang apa yang dilakukan oleh ke enam kerajaan di teluk
Persia dengan harta kekayaan mereka. Tahun lalu, hanya dari ekspor gas dam minyak bumi saja,
penghasilan negara-negara Teluk ini mencapai 407 milyar dolar. Bila harga minyak bumi tetap
stabil pada 100 dolar per barel, maka sampai tahun 2020 negara-negara itu akan menghasilkan 9
trilyun dolar. Mengelola jumlah uang sebanyak ini dengan baik merupakan tantangan yang
besar.

Negara-negara Teluk Persia menginvestasikan dananya di Barat selama empat tahun. Namun
kemudian terjadi peristiwa pemboman 11 September 2001, dan suasana di Amerika Serikat
berubah drastis dengan meluasnya sentimen anti Arab, anti Muslim.

Para penanam modal dari negara telukpun bereaksi. Begitu keterangan sejarahwan Jerman,
Frauke Heard-Bey yang telah 40 tahun menetap di Abu Dhabi: “Sekarang Amerika Serikat tidak
selalu menjadi lokasi penanaman modal. Kalau dulu orang-orang bisa dengan cepat memilih
untuk berinvestasi di Amerika Serikat. Sekarang modal itu ditarik kembali dan harus
diinvestasikan di tempat lain."

Pada tahun 50' dan 60'an, negara-negara Arab menggunakan pemasukan hasil minyak bumi itu
untuk membangun sekolah-sekolah dan rumah-rumah sakit. Sekarang setelah standar hidup di
negara-negara ini sama dengan di Eropa, ketergantungan pada minyak dan gas bumi menurun.
Ekonomi negara diberi landasan yang lebih luas.
Sekarang kebanyakan investasi yang dilakukan adalah di bidang perdagangan, keuangan,
pelayanan dam pariwisata. Yang sangat mengagumkan adalah jumlah dana yang ditanam
kembali di dalam negeri. Total dari biaya proyek-proyek yang dikembangkan di enam kerajaan
di teluk Persia ini mencapai 1,9 Trilyun dolar, 43% lebih banyak daripada tahun lalu. (ek)