Anda di halaman 1dari 83

LAPORAN ANTARA

ANALISIS WILAYAH EKOSISTIM DAS BAHOROK

B AB

Analisis wilayah ekosistim DAS Bahorok bertujuan unntuk mengetahui kondisi


ekosistim DAS Bahorok, kawasan potensi bencana kerentanan gerakan tanah, kawasan potensi bencana banjir, kawasan potensi budidaya (permukiman, pertanian, perkebunan, dan pariwisata), disertai dengan analisis kependudukan, sosial akonomi, daya dukung lahan, kesesuaian pemanfaatan ruang dan terakhir adalah analisa kinerja DAS Bahorok berdasarkan masukan dari berbagai analisa terdahulu.

4.1

ANALISIS DAERAH POTENSI BENCANA LONSOR


Analisis daerah potensi bencana gerakan tanah atau dikenal juga dengan bencana longsor, akan dibagi atas kajian tentang faktor-faktor penyebab gerakan tanah, penentuan tingkat kerentanan tanah, dan analisa dan zonasi kerentanan gerakan tanah.

4.1.1

Faktor-Faktor Penyebab Longsor

Faktor-faktor penyebab terjadinya gerakan tanah adalah : kemiringan lereng, sifat fisik tanah, pengaruh kedudukan dan sifat fisik batuan, tataguna lahan, kegempaan dan pengaruh faktor aktivitas manusia. 1. Kemiringan Lereng Sekitar 68% DAS Bahorok merupakan daerah perbukitan terjal-sangat curam, dimana kemiringan lereng berkisar antara 30-70%. Berdasarkan

Penyusunan Arahan Pemanfaatan Ruang DAS Bahorok

IV -1

LAPORAN ANTARA

pengamatan di lapangan, gerakan tanah umumnya terjadi di daerah ini (lihat peta kemiringan lereng). Analisa atau perhitungan kemantapan lereng, terutama dilakukan pada lereng tanah yaitu guna mendapatkan besarnya nilai Faktor Keamanan (Fs) untuk masing-masing satuan tanah pelapukan dan jenis gerakan tanah tertentu. Berdasarkan pengamatan di lapangan, yang paling banyak dijumpai jenis gerakan tanah adalah longsoran bahan rombakan, maka dalam melakukan analisis digunakan metoda Fellenius (1936) vide Wesley L.D. (1977) untuk gerakan tanah translasi. Data laboratorium mekanika tanah yang digunakan untuk analisis adalah menggunakan data sekunder dan parameter yang digunakan untuk analisis adalah berat isi tanah ( ? ), kohesi (c), dan sudut friksi dalam (? ). Dalam melakukan analisi kemantapan lereng diasumsikan lereng dalam kondisi jenuh air Rh = 0,9. Dari hasil analisa dapat diketahui sudut kemiringan lereng kritis untuk masing-masing jenis tanah dengan asumsi angka dari faktor keamanan diambil Fs = 1,2 (lihat tabel dibawah ini). Sudut lereng kritis pada tiaptiap jenis tanah pelapukan batuan untuk jenis tanah gerakan tanah translasi. Tabel 4.1 Sudut Kemiringan Lereng Kritis Berdasarkan Jenis Tanah
NO
1 2

BATUAN

SUDUT LERENG KRITIS (Asumsi Fs=1,2 & Rh=0,9)


28.04? 28.04? 29.34? 36.33? 37.14?

Aluvium Sungai (Qh) Bahan Vulkanik, Tufa Toba (Qvt) Batugamping Anggota Belumai-Formasi 3 Peutu (Tmpb) 4 Batupasir & konglomerat Formasi Bruksah 5 Batuan malihan Formasi Bahorok (Pub) Sumber : Hasil Analisa

Dari data tersebut diatas cuku p jelas bahwa pengaruh kemiringan lereng terhadap kejadian gerakan tanah cukup dominan, yaitu dicirikan oleh kejadian gerakan tanah yang umumnya menempati daerah-daerah y ang mempunyai kemiringan lereng terjal, berkisar antara 50% - >70% (sekitar 31% dari luas DAS Bahorok).

Penyusunan Arahan Pemanfaatan Ruang DAS Bahorok

IV -2

LAPORAN ANTARA

2. Sifat Fisik Tanah Jenis tanah penutup (pelapukan) dapat dibagi menjadi 2 kelompok: ? Kelompok tanah berasal dari pelapukan batuan metamorfik (malihan) yang bertekstur sedang-kasar, bersifat asam dan sangat teroreh. Komposisi tanah dan proporsi : Dystropepts (D), Humitropepts (F) dan Troporthents (T). Jenis -jenis tanah ini merupakan hasil pelapukan dari batuan sedimen, batuan plutonik dan metamorfik (malihan), jenis tanah Dystropepts yang menempati lereng atas, sedangkan jenis Humitropep menempati lereng bagian tengah dan jenis Troporthents menempati lereng bagian bawah. Kelompok tanah berasal dari pelapukan batuan volkanik tufa toba yang bersifat masam dan bertekstur halus dan cukup teroreh. Komposisi tanah dan proporsi : Dystropepts (F), Kandidults (F) dan Tropaquepts (F). Di daerah yang kering dengan drainage yang baik akan dijumpai jenis tanah Dystropepts dan Kandidults, sedangkan pada bagian lembah sering/selalu dijumpai jenis tanah Tropaquepts.

3. Pengaruh kedudukan dan sifat fisik batuan Kedudukan batuan memberikan pengaruh terhadap kestabilan lereng DAS Bahorok, yaitu kontak tidak selaras antara batuan yang berumur Pra-Tersier (Karbon-Perm): wake malihan, batusabak, arenit kuarsa, batulanau malihan dan konglomerat malihan (Formasi Bahorok) dan batuan berumur Tersier yang dibawahnya (Batugamping Anggota Belumai-Formasi Peutu dan Batupasir Formasi Bruksah), atau dengan Tufa Toba dan aluvial yang berumur kwarter. Gerakan tanah dengan jenis longsoran bahan rombakan banyak dijumpai di daerah hulu DAS Bahorok, hal ini disebabkan karena kedudukan batuan Tersier atau Kwarter terletak tidak selaras di atas batuan batuan yang berumur Pre-Tersier (Karbon-Perm), sehingga gerakan tanah cenderung bergerak dengan bidang lincirnya sesuai dengan kemiringan bidang belah dari lapisan batuan malihan (metamorf).

Penyusunan Arahan Pemanfaatan Ruang DAS Bahorok

IV -3

LAPORAN ANTARA

4. Curah Hujan Berdasarkan analisis data curah hujan harian dari tahun 1996 hingga kejadian bencana, curah hujan yang terjadi di atas 100 mm/hari ternyata bayak terjadi pada tahun -tahun sebelumnya dan hujan tersebut tidak menyebabkan banjir bandang, bahkan pada tanggal 6 Juni 1996 curah hujan yang terjadi pernah mencapai 235 mm/hari, namun di Sungai Bahorok tidak terjadi banjir bandang. Demikian pula dengan bulan september 2003, pernah terjadi hujan 120 mm/hari dan 110 mm/hari, tetapi Sungai Bahorok tidak mengalami banjir bandang. Artinya, curah hujan tersebut bukan merupakan faktor satu-satunya y ang menimbulkan banjir bandang. 5. Tataguna Lahan Berdasarkan pola tanamannya, maka tataguna lahan di DAS Bahorok dapat dibagi menjadi dua kelompok yaitu: ? Pola tanaman yang diusahakan dan diataur oleh manusia. Umumnya terdapat di daerah dataran sekitar dataran banjir Sungai Bahorok, berupa persawahan, perkebunan kelapa sawit dan perladangan. ? Areal hutan prim er yang merupakan bagian dari Taman Nasional Gunung Leuser (TNGL), terletak di daerah hulu sungai Bahorok, kawasan ini hampir menempati kurang lebih 70% (19.491,4 Ha) dari luas DAS Bahorok. Berdasarkan peta tataguna lahan di DAS Bahorok (Pemda Kab. Langkat, 2002), terdiri dari: ? Hutan primer merupakan merupakan bagian dari Taman Nasional Gunung Leuser (TNGL), menempati luas 19.491,4 ha (90,69 % luas DAS Bahorok), banyak ditemukan adanya gerakan tanah pada kemiringan lereng 50%->70%. Kawasan budidaya, terd iri dari pemukiman penduduk dan kawasan wisata bukit Lawang, menempati luas 785,49 ha (3,65 % luas DAS Bahorok), kawasan ini merupakan daerah dataran banjir. Perkebunan kelapa sawit menempati luas 344,1 ha (1,60 % luas DAS Bahorok), kawasan ini merupakan daerah dataran banjir. Persawahan menempati luas 872,01 ha (4,06 % luas DAS Bahorok), kawasan ini merupakan daerah dataran banjir.

? ?

Penyusunan Arahan Pemanfaatan Ruang DAS Bahorok

IV -4

LAPORAN ANTARA

6. Kegempaan Berdasarkan peta zonasi rawan bahaya gempa bumi, DAS bahorok terletak pada zona intensitas gempa skala V-VI MMI (Modified Mercalli Intensity), lihat peta rawan gempa bumi (gambar 4. 1) Daerah ini merupakan zona lemah, karena adanya struktur patahan dan kekar. Berdasarkan data BMG wilayah I Medan (2003), telah mencatat adanya gempa bumi pada tanggal 4 Nopember 2002 dan 22 Januari 2003 dengan kekuatan 5,4 dan 4,6 skala Richter. 7. Pengaruh Faktor Aktivitas Manusia Banyak peristiwa gerakan tanah terjadi atau terbentuk lebih cepat karena dipicu oleh aktivitas manusia yang bertindak sebagai penyebab gerakan tanah, yaitu berupa penambahan beban pada lereng, pemotongan lereng, getaran mesin atau ledakan dan pengolahan lahan. Dalam hal ini daerah DAS bahorok tidak dijumpai adanya pengaruh aktifitas manusia.

4.1.2

Penentuan Tingkat Kerentanan Tanah

Tingkat kerentanan gerakan tanah, yaitu menggambarkan tingkat kecenderungan suatu lereng alam untuk terjadi gerakan tanah. Untuk menentukan tingkat kerentanan yang disajikan dalam bentuk peta kerentanan tanah digunakan dua metoda pendekatan yaitu: ? Metoda kualitatif, yaitu mengkalsifikasikan bentuk muka tanah (landform), kondisi geologi dan parameter-parameter alam lainnya seperti: tataguna lahan, curah hujan dan kegempaan. ? Metoda kuantitatif, yaitu menentukan suduk kemiringan kritis untuk tejadinya gerakan tanah, berdasarkan data pengama tan longsoran di lapangan dan melakukan analisis kemantapan lereng dengan menghitung faktor keamanan pada masing-masing satuan batuan/tanah pembentuk lereng. Tingkat kerentanan suatu lereng untuk terjadi gerakan tanah dapat ditunjukkan dalam suatu nilai f aktor kemanan seperti terlihat pada tabel dibawah ini:

Penyusunan Arahan Pemanfaatan Ruang DAS Bahorok

IV -5

LAPORAN ANTARA

Tabel : 4.2 Kisaran Faktor Keamanan


NO FAKTOR KEAMANAN KERENTANAN GERAKAN TANAH ZONA KERENTANAN

1 2 3 4

< 1.2 1.2 < Fs <1.7 1.7 < Fs < 2.0 > 2.0

Tinggi: gerakan tanah sering terjadi Menengah : gerakan tanah dapat terjad i Rendah : gerakan tanah jarang terjadi Sangat Rendah : gerakan tanah sangat jarang terjadi

I II III IV

Sumber : Ward, 1976

1. Zona Kerentanan Gerakan Tanah Tinggi (Zona I) Daerah ini mempunyai kecenderungan tingkat kerentanan ti nggi untuk terjadi gerakan tanah. Kejadian gerakan tanah sering terjadi di daerah ini, yang berupa gerakan tanah baru maupun lama. Umumnya menempati daerah yang terjal-sangat curam, dengan kemiringan lereng 50%->70% atau menempati 31% dari luas DAS Bahorok, dimana daerah ini didominasi oleh tanah pelapukan batuan malihan formasi Bahorok (Pub), umumnya terdiri dari wake malihan, batusabak, arenit kuarsa, batulanau malihan dan konglomerat malihan. Daerah yang termasuk zona ini meliputi hulu DAS Bahorok. 2. Zona Kerentanan Gerakan Tanah Menengah (Zona II) Daerah ini memiliki tingkat kerentanan menengah untuk terkena gerakan tanah. Poda zona ini dapat terjadi gerakan tanah terutama di tebing sepanjang aliran sungai. Gerakan tanah yang lama akan aktif kembali apab ila dipengaruhi melimpahnya air hujan atau terkena erosi. Zona ini menempati pada daerah yang memiliki kemiringan lereng antara 15-50% atau menempati 37% dari luas DAS Bahorok. Batuan dasar yang membentuk daerah ini berupa batuan malihan Formasi Bahorok, batupasir & konglomerat Formasi Bruksah. Daerah yang termasuk zona ini meliputi daerah hulu DAS Bahorok dan sebagian di sekitar Bukit Lawang. 3. Zona Kerentanan Gerakan Tanah Rendah (Zona III) Daerah ini memiliki tingkat kerentanan rendah untuk terjadi gerakan tanah. Kejadian gerakan tanah jarang terjadi apabila kemiringan lereng

Penyusunan Arahan Pemanfaatan Ruang DAS Bahorok

IV -6

LAPORAN ANTARA

tidak diganggu dan gerakan tanah lama sudah stabil kembali. Zona ini umumnya menempati pada daerah dengan kemiringan lereng antara 15-30% atau menempati sekitar 15% dari luas DAS Bahorok. Batuan dasar terdiri dari batugamping Anggota Belumai Formasi Peutu (Tmpb) dan batupasir & konglomerat Formasi Bruksah. Daerah yang termasuk zona ini meliputi daerah sebelah selatan Bukit Lawang. 4. Zona Kerentanan Gerakan Tanah Sangat Rendah (Zona IV) Daerah ini mempunyai kecenderungan sangat rendah untuk terkena gerakan tanah. Didaerah ini kejadian gerakan tanah lama atau baru jarang dijumpai. Keadaan morfologi sangat datar-landai, dengan kemiringan lereng anatara 15-30% atau menempati sekitar 17% dari luas DAS Bahorok. Batuan dasar terdiri dari tufa Toba (Qvt) dan kipas aluvial (Qh). Zona ini meliputi dataran banjir DAS bahorok, di sekitar Desa Timbang Lawang.

4.1.3

Analisa dan Zonasi Kerentanan Gerakan Tanah


Distribusi kejadian gerakan tanah (longsor) umumnya di daerah hulu DAS Bahorok, dimana didominasi oleh satuan batuan malihan (metamorfik) Formasi Bahorok (Pub), Umumnya terdiri dari wake malihan, batusabak, arenit kuarsa, batulanau malihan dan konglomerat malihan. Sebagian besar satuan batuan ini telah mengalami pelapukan y ang cukup kuat. Pada daerah hulu DAS Bahorok yang memiliki kemiringan lereng 50%->70% mempunyai peluang lebih besar terjadinya gerakan tanah, daerah ini disebut zona kerentanan gerakan tanah yang sangat tinggi. Bidang lincir gerakan tanah umumnya terletak pada bidang kontak antara tanah pelapukan dan batuan dasarnya. Material hasil rombakan umumnya 85% pasir, lempung, kerikil, kerakal dan batang-batang pohon. Lokasi sebaran gerakan tanah (longsor) utama dan tambahan di DAS Bahorok dapat dilihat pada peta zonasi kerentanan gerakan tanah (Gambar 4.1).

Penyusunan Arahan Pemanfaatan Ruang DAS Bahorok

IV -7

LAPORAN ANTARA

Gambar 4.1 Zonasi Daerah Rawan Gerakan Tanah

Penyusunan Arahan Pemanfaatan Ruang DAS Bahorok

IV -8

LAPORAN ANTARA

Gambar 4.2 Peta Zonasi Rawan Gempabumi

Penyusunan Arahan Pemanfaatan Ruang DAS Bahorok

IV -9

LAPORAN ANTARA

4.2

ANALISIS DAN ZONASI POTENSI BENCANA BANJIR


Kajian tentang analisis dan zonasi potensi bencana banjir dibagi atas : analisis potensi banjir, analisis zonasi banjir, analisis waktu konsentrasi (Tc), analisis sistim peringatan dini.

4.2.1

Analisis Debit Sungai


Dalam studi ini analisis potensi sumberdaya air adalah terbatas pada sumberday a air permukaan, mengingat penyediaan kebutuhan air untuk penduduk di desa -desa sekitar Bohorok sebagian besar mengambil dari air permukaan. Analisis sumberdaya air permukaan dihitung dari debit Sungai Bohorok. Mengingat data debit tidak ada karena belum terpasangnya AWLR atau peilschall untuk mengukur debit sungai, maka data debit diperoleh dengan membangkitkan debit dari data curah hujan. Metode yang dilakukan adalah dengan menggunakan model Mock, yaitu model hubungan hujan limpasan yang merupakan model hidrologi yang banyak dilakukan di Indonesia, karena model tersebut dikembangkn di Indonesia dan penerapannya mudah dan menggunakan data yang relatif sedikit. Perhitungannya didasarkan pada data curah hujan, evaporasi, kondisi DAS dan karakteristik hidrol ogi daerah tinjauan. Sedangkan untuk kalibrasi digunakan data debit sungai Bingei dengan luas DAS 970 km2 y ang merupakan sub DAS dari DAS Wampu. Berdasarkan perhitungan, maka rata-rata debit Sungai Bohorok sebesar 13,24 m3/detik. Mengingat kondisi tutupan lahan di DAS Bohorok masih sangat baik, maka fluktuasi debit antara musim penghujan dan kemarau tidak terlalu menyolok. Hal ini mengindikasikan bahwa baseflow yang menyuplai air sungai selama tidak ada hujan (musim kemarau) masih cukup besar. Hasil perhitungan debit rata-rata untuk setiap setengah bulan di Sungai Bohorok disajikan pada Gambar 4.3 Sedangkan perhitungan debit sungai untuk masing-masing tahun selama adanya data pengukuran hujan pada bagian lampiran dari buku ini.

Penyusunan Arahan Pemanfaatan Ruang DAS Bahorok

IV-10

LAPORAN ANTARA

45 Debit (m3/dt) 36 27 18 9 0 J F M A M J J A S O N D

250 200 150 100 50 0 Hujan (mm)

Debit Prediksi

Debit Pengukuran

Hujan (mm)

Gambar 4.3 Hubungan antara curah hujan, debit prediksi Sungai Bohorok dan debit pengukuran Sungai Bingei

4.2.2

Analisis Zonasi Banjir


Banjir bandang terjadi disebabkan oleh adalah penutupan palung sungai akibat dari adanya longsoran tanah dan batang-batang kayu yang menyumbat alur sungai sehingga terbentuk bendung alam (natural dam). Adanya hujan deras menyebabkan bendungan jebol dan timbul banjir bandang. Skema terjadinya banjir bandang di Sungai Bohorok disajikan pada Gambar 4.4

Penyusunan Arahan Pemanfaatan Ruang DAS Bahorok

IV-11

LAPORAN ANTARA

Gambar 4.4 Longsoran Tanah dan Batang Kayu yang Menyumbat Alur Sungai

Hujan
Struktur tanah lemah Akar pohon tidak mengikat kuat Kemiringan Bukit terjal Sisa - sisa Pohon tumbang

Erosi dan destabilisasi tanah Longsor menutup palung sungai Terbentuk bendung alam ( natural dam ) Hujan lebat Bendung jebol BENCANA banjir bandang

Gambar 4.5 Skema Terjadinya Bencana Banjir B andang di Sungai Bohorok

Penyusunan Arahan Pemanfaatan Ruang DAS Bahorok

IV-12

LAPORAN ANTARA

Berdasar studi Balai Sabo dan JICA (2003), perkiraan jumlah batang kayu yang tertinggal pada palung sungai mencapai 70.000 m3. Sedangkan perkiraan sedimen pada dasar sungi dari Bukit Lawang ke hulu sebesar 300.000 m3 dan perkiraan potensi sedimen pada tebing sungai sebesar 20.000 m3, sehingga jumlah potensi debris pada palung sungai sebesar 390.000 m3. Banjir bandang yang terjadi telah menyebabkan perubahan alur sungai. Sebelum terjadi banjir air mengalir melalui bendung dan alur sungai selebar bendung. Kronologis dari perubahan alur tersebut sebagai berikut: ? Banjir pertama/kepala banjir masih melalui alur asli yang menyapu Kampung Neraka, kemudian mengarah ke areal parkir dan Kampung Thailand dan terjadi deposit batang kayu dalam jumlah yang sangat besar. ? Aliran kedua terjadi erosi pada tikungan luar sehingga endapan batang kayu dan sedimen (batu -batuan) pada tikungan dalam, sebagian batang kayu menghantam hotel dan rumah-rumah di tikungan dalam sehingga terjadi alur baru dikiri bendung selebar 20 meter. ? Aliran ketiga (tetap mengangkut batang kayu) dan menyusur tikungan luar sehingga terjadi deposit batang kayu di hulu gua batu kapur dalam jumlah besar. Potensi bencana banjir dapat dianalisis berdasarkan data dan informasi dari kejadian banjir bandang pada saat bencana. Berdasarkan data yang ada banjir bandang yang terjadi merupakan banjir yang s angat ekstrem, dimana magnitude debit yang terjadi akan lebih besar daripada desain banjir untuk periode ulang yang besar (di atas 1000 tahun). Hal ini disebabkan banjir rencana dihitung berdasarkan data debit series jangka panjang yang diperoleh dari pengukuran debit dalam kondisi normal. Artinya data banjir banding seperti halnya yang terjadi saat bencana tanggal 2 November 2003 belum pernah terjadi, sehingga data series y ang ada nilainya akan lebih kecil. Begitu debit banjir ekstrem (debit banjir bandang) dibandingkan dengan desain banjir untuk periode ulang, maka akan mempunyai periode ulang yang sangat besar. Berdasarkan data hujan yang ada dan studi Timbang Lawan Irrigation Scheme (Binnie Black & Veatch International, 2004), analisis debit Sungai Bohorok dapat dilakukan. Persamaan matematika seperti metode Melchior

Penyusunan Arahan Pemanfaatan Ruang DAS Bahorok

IV-13

LAPORAN ANTARA

dapat diterapkan untuk DAS dengan ukuran lebih dari 100 km2 di Indonesia. Metode Der Weduwen, Haspers dan Rasional juga biasa digunakan untuk DAS ukuran kecil dan sedang. Untuk memperoleh nilainilai terpilih yang digunakan untuk desain debit banjir bendung Timbang Lawan, perkiraan desain sebelumnya dan banjir maksimum yang terekam juga dibandingkan. Perkiraan detil dari desain Bendungan Timbang Lawan terlihat pada Tabel berikut : Tabel 4.3 Desain Debit Banjir untuk Masing-masing Periode Ulang Sungai Bohorok
DESAIN DEBIT BANJIR (M3/DETIK) UNTUK PERIODE ULANG (TAHUN ) Perhitungan Rerata 2 5 10 25 50 100 1000 Der Weduwen 160 150 210 252 308 350 393 553 Melchior 206 196 253 290 336 369 402 517 MAF 110 305 515 Nilai Terpilih 175 160 225 270 325 360 400 525 Sumber : Binnie Black & Veatch International, 2004 METODE

Dengan membandingkan hasil perhitungan matematis tersebut dengan kenyataan yang terjadi selama bencana banjir banding tersebut, maka debit banjir yang terjadi selama banjir banding sangat luar biasa besarnya. Dengan ketinggian muka air mencapai 10 meter saat flash flood , maka besaran debit yang terjadi sangat ekstrem.

Gambar 4.6 Kondisi Permukiman di S epanjang Bantaran Sungai Bohorok yang Terkena Banjir Bandang

Penyusunan Arahan Pemanfaatan Ruang DAS Bahorok

IV-14

LAPORAN ANTARA

W W

Gambar 4.7 Tinggi genangan banjir bandang di Desa Bukit Lawang Dengan demikian, maka untuk menentukan potensi daerah rawan banjir adalah dengan memetakan lokasi genangan banjir yang terjadi pada saat banjir bandang. Lokasi genangan tersebut merupakan lokasi genangan dari banjir ekstrem. Artinya distribusi dari genangan yang ada disebabkan oleh debit banjir yang sangat luar biasa besar dan lokasi tersebut merupakan daerah yang akan terjadi genangan jika terdapat banjir dengan magnitude yang sama. Dilihat dari penyebarannya, pola aliran yang ada membentuk pola braided dengan jarak ke kiri-kanan dari alur sungai lama tidak beraturan tergantung dari topografi sekitar alur sungai lama. Dilihat dari penyebaran genangannya lebar genangan bervariasi, ada yang lebarnya 20 meter, namun ada yang mencapai 300 meter dari alur sungai lama (Gambar 4.7). Oleh karena itu seluruh permukiman dan fasilitas wisata tidak boleh dibangun di lo kasi-lokasi bekas genangan. Lokasi-lokasi untuk permukiman yang fasilitas lainnya diharuskan dibangun diluar dari kawasan yang mengalami genangan.

Penyusunan Arahan Pemanfaatan Ruang DAS Bahorok

IV-15

LAPORAN ANTARA

Gambar 4.8 Penyebaran Genangan Saat terjadi Banjir Bandang di Bukit Lawang Kondisi dem ikian jika dibandingkan dengan Peraturan Menteri PU No. 63/PRT/1993, yang berisi mengenai pengaturan sempadan sungai selebar 100 meter, seperti yang disosialisasikan di sekitar Bukit Lawang (Gambar 4.7 ) jelas sangat berbeda. Sempadan sungai Bohorok dari Desa Bukit Lawang hingga Desa Timbang Lawan sangat bervariasi lebarnya dan tidak dapat digeneralisasi menjadi 100 meter garis sempadan sungainya. Kondisi kontur di kiri kanan sungi sangat menentukan besanya lebar sepamdan sungai. Dengan mendasarkan pada karakteristik morfometri sungai Bohorok maka lokasi yang rawan terjadi banjir disajikan pada Gambar 4.9 Peta Potensi Rawan Banjir DAS Bahorok.

Gambar 4.9 Papan Pengumuman Mengenai Pemanfaatan Sempadan Sungai di Desa Bukit Lawang setelah Kejadian Bencana Banjir Bandang.
Penyusunan Arahan Pemanfaatan Ruang DAS Bahorok IV-16

LAPORAN ANTARA

Gambar 4.10 Peta Potensi Rawan Banjir

Penyusunan Arahan Pemanfaatan Ruang DAS Bahorok

IV-17

LAPORAN ANTARA

Gambar 4.11 Gambaran 3 dimensi daerah rawan banjir DAS

Penyusunan Arahan Pemanfaatan Ruang DAS Bahorok

IV-18

LAPORAN ANTARA

4.2.3

Analisis Waktu Konsentrasi (Tc)

Air hujan yang jatuh di suatu tempat di daerah aliran sungai memerlukan waktu untuk mengalir dan mencapa titik pengamatan. Yang memerlukan waktu paling lama ialah air hujn yang jatuh di tempat terjauh dari titik pengamatan di daerah alirannya. Selama air hujan tersebut terakhir belum mencapai titik pengamatan, maka di titik pengamatan itu belum semua air hujan yang jatuh di seluruh daerah terkumpul, jadibelum seluruh pengumpulan air hujan dari semua temat bagian dari daerah alirannya ikut berperanan pada pengliran di dalam sungai di tempat pngamaan. Baru kalau air tersebut tadi sudah mencapai titik pengamatan, maka pada saat itu terjadilah pengumpulan air hujan dari semua tempat di seluruh daerah aliran, dan aliran sungai di tempat pengamatan mencapai maksimum. Lama waktu yang diperlukan untuk mencapai titik pengamatan oleh air hujan yang jatuh di tempat terjauh dari titik pengamatan itu adalah waktu konsentrasi. Bagi hujan yang seragam lama waktu ini sama dengan waktu keseimbangan, yang laju alirannya menyamai laju penambahan hujannya. Banjir maksimum terjadi jika hujan berlangsung dengan intensitas maksimum selama waktu tidak kurang dari waktu konsentrasi itu. Lama waktu konsentrasi sangat tergantung pada ciri-ciri daerah aliran, terutama panjang jarak yang harus ditempuh air hujan yang jatuh di temat terjauh dari titik pengamatan, kemiringan daerahnya dan ciri-ciri lainnya. Untuk DAS yang besar dengan pola drainase kompleks, aliran air dari tempat terjauh akan dating terlambat untuk ikut menambah besarnya banjir di titik pengamatan. Untuk DAS kecil degan pola drainase sederhana, lama waktu konsentrasi bisa sama dengan lama waktu pengaliran dari tempat terjauh Sungai Bohorok adalah 3,26 jam. Dengan demikian maka curah hujan yang terjadi di hulu DAS Bohorok, debit banjir yang akan mencapai Desa Bukit Lawang memerlukan waktu sekitar 3,26 jam.

4.2.4

Analisis Perencanaan Bendung Timbang Lawan

Berdasarkan studi Timbang Lawan Irrigation Scheme, desain curah hujan maksimum (24 jam) yang digunakan untuk desain banjir yag dihitung didasarkan pada perhitungan dengan metode Gumbel. Mengingat tidak adanya stasiun curah hujan di bagian hulu DAS Bohorok, maka data dari stasiun Tongkoh Brastagi (ketinggian 1.430 m dpal) digunakan untuk memperkirakan desain curah hujan pada hulu dari Bendung Timbang
Penyusunan Arahan Pemanfaatan Ruang DAS Bahorok IV-19

LAPORAN ANTARA

Lawan. Tongkoh Brastagi berlokasi di bagian hulu dari DAS Belawan. Hasil dari perhitungan frekuensi curah hujan tersebut adalah sebagai berikut : Tabel 4.4 . Frekuensi Curah Hujan untuk Bendung Timbang Lawan
FREKUENSI CURAH HUJA N MAKSIMUM (MM) UNTUK PERIODE ULANG (TAHUN) Rerata 2 5 10 20 25 50 100 147 143 168 184 200 205 220 236 221 215 252 275 300 308 330 354

DESKRIPSI Bukit Lawang (1 hari) Bukit Lawang (perkiraan 3 hari)

Dengan menggunakan data curah hujan tersebut, analisis debit Sungai Bohorok dapat dilakukan. Persamaan matematika seperti metode Melchior dapat diterapkan untuk DAS dengan ukuran lebih dari 100 km2 di Indonesia. Metode Der Weduwen, Haspers dan Rasional juga biasa digunakan untuk DAS ukuran kecil dan sedang. Untuk memperoleh nilai nilai terpilih yang digunakan untuk desain debit banjir bendung Timbang Lawan, perkiraan desain sebelumnya dan banjir maksimum yang terekam juga dibandingkan. Perkiraan detil dari desain Bendung Timbang Lawan terlihat pada Tabel berikut : Tabel 4.5 Desain D ebit Banjir untuk masing-masing Periode Ulang Sungai Bohorok
METODE PERHITUNGAN Der Weduwen Melchior MAF Nilai Terpilih Duga Muka Air (meter) DESAIN DEBIT BANJIR (M3/DETIK) UNTUK PERIODE ULANG (TAHUN) RERATA 2 5 10 25 50 100 1000 160 150 210 252 308 350 393 553 206 196 253 290 336 369 402 517 110 305 515 175 160 225 270 325 360 400 525 3,12 3,00 4,08 4,85 5,87 6,63 7,40 10,0

Sumber : Binnie Black & Veatch International, 2004

4.2.5

Analisis Sistim Peringatan Dini (Early Warning System)

Dengan memperhatikan panjang alur sungai Bohorok saat terjadi banjir bandang di Desa Bukit Lawang, yaitu mencapai 50 meter pada alur sungai dan 60 meter di tebing sungai dan ketinggian mencapai 10 meter, maka
Penyusunan Arahan Pemanfaatan Ruang DAS Bahorok IV-20

LAPORAN ANTARA

besarnya debit maksimum yang terjadi saat itu diperkirakan mencapai sekitar 550 m3/detik. Mengingat, bencana banjir bandang yang terjadi merupakan banjir ekstrem yang terjadi akibat dam break, maka analisis yang digunakan adalah analisis dam break. Sebab jika magnitude debit banjir 550 m3/detik tersebut jika diba ndingkan dengan desain debit banjir hasil perhitungan, maka mempunyai periode ulang 1000 tahun, sehingga kementakan untuk terjadinya banjir besar sekali dalam waktu 1000 tahun adalah 0,001 (1/1000). Hal ini berarti banjir bandang yang terjadi pada tanggal 2 November 2003 merupakan banjir yang sangat ekstrem. Dengan mempertimbangkan kondisi biogeofisik DAS Bohorok yang rawan mengalami longsor dan penampang sungai berbentuk V, maka potensi terbentuknya bendung-bendung alami cukup besar. Guna meminimalisasi kemungkinan terjadinya banjir bandang seperti yang pernah terjadi, maka diperlukan adanya sistem peringatan dini. Inti dari sistem peringatan dini adalah tersedianya informasi awal real time beserta kemungkinankemungkinan dampak dan antisipasinya. Dalam hubungannya dengan early warning system (peringatan dini), instrumen hidrologi merupakan kebutuhan mutlak yang harus tersedia sebagai bagian dari sistem peringatan dini. Peringatan dini pada dasarnya adalah menyediakan data pengukuran eksisting yang kemudian diintengrasikan dengan sistem yang telah dibangun sehingga diperoleh informasi prediksi bencana yang akan terjadi dalam kurun waktu yang akan datang. Mengingat peralatan hidrologi, seperti curah hujan otomatis dan AWLR (automatic water level recorder) belum tersedia di DAS Bohorok maka sistem peringatan dini belum dapat disusun dengan handal. Dalam sistem peringatan dini banjir, pengukuran hujan dan debit di hulu dan atau tengah DAS diperlukan guna memprediksikan banjir yang kemungkinan terjadi di Desa Timbang Lawan dan bagian hilir lainnya. Adanya hubungan antara hujan, duga muka air dan debit aliran di bagian hulu/tengah akan dapat ditelusuri berapa besarnya debit di bagian hilir. Untuk DAS Bohorok pemilihan lokasi penempatan peralatan-peralatan hidrologi merupakan hal yang sangat penting. Minimal dua stasiun pengukuran hidrologi (curah hujan dan debit) perlu dipasang yang dihubungkan dengan sistem peringatan dini lainnya, seperti penyampaian informasi real time dan manajemen mitigasi bencana lainnya. Dua lokasi yang dapat ditempatkan sebagai lokasi alat -alat hidrologi adalah di bagian hulu dan bagian tengah DAS Bohorok, sehingga antara bagian hulu, tengah

Penyusunan Arahan Pemanfaatan Ruang DAS Bahorok

IV-21

LAPORAN ANTARA

dan Desa Timbang Lawan dapat disusun penelusuran banjir dan time lag debit banjir dapat diperkirakan. Dengan mempertimbangkan kondisi penggunaan lahan DAS Bohorok yang masih merupakan hutan lindung dan tidak ada akses jalan menunju lokasi peralatan hidrologi, maka peralatan hidrologi yang akan dipasang dapat dipertimbangkan. Ada dua jenis peralatan hidrologi yang tersedia, yaitu sistem manual dan otomatis (telemetering). Sistem manual yaitu dengan memasang peralatan hidrologi dengan sistem pencatatan secara manual dengan menggunakan tenaga operator merupakan sistem yang murah. Namun metode ini memerlukan adanya petugas (operator) yang harus berjaga di lokasi dan selalu menginformasikan data ke Desa Timbang Lawan atau lokasi yang dipilih. Sedangkan sistem otomatis adalah peralatan-peralatan hidrologi yang dapat mengukur secara otomatis dalam bentuk kertas pias atau logger yang dalam renang waktu tertentu datanya diambil oleh petugas dan dianalisis. Sistem yang lebih canggih adalah telemetering yang terhubungkan dengan satelit, dimana data pengukuran secara real time dikirim melalui satelit ke stasiun pengendali bencana. Sistem ini sangat ideal, namun sangat mahal untuk pengadaaan peralatannya. Oleh karena itu perlu dipertimbangkan secara cermat mengenai sistem dan metode peringatan dini yang akan dipilih. Salah satu alternatif adalah dengan menggunakan sistem semi otomatis yang dikombinasikan dengan pemantauan rutin oleh petugas, peralatan hidrologi secara otomatis dengn menggunakan kertas pias atau logger dan petugas secara rutin (4 hari, atau mingguan) mengambil data sekaligus melakukan pemantauan kondisi aliran sungai. Untuk itu perlu dibangun jalan setapak guna memudahkan akses menuju lokasi stasiun pengamatan.

4.3

ANALISIS SUMBERDAYA AIR


Analisis sumberdaya air dilakukan antara lain dengan menghitung, curah hujan, neraca air (potensi dan kebutuhan air), dan koefisien runoff serta dilengkapi dengan besaran potensi erosi yang mungkin terjadi. Analisis neraca air dilakukan dengan tujuan untuk mengetahui keseimbangan antara ketersediaan air ( supply ) dengan kebutuhan air (demand ).

Penyusunan Arahan Pemanfaatan Ruang DAS Bahorok

IV-22

LAPORAN ANTARA

4.3.1

Curah Hujan dan Titik Jenuh Air

Curah hujan adalah faktor utama yang mengendalikan proses daur hidrologi suatu DAS. Terbentuknya ekologi, geografi dan tataguna lahan di suatu daerah sebagian besar ditentukan atu tergantung pada fungsi daur hidrologi. Berdasarkan data pengukuran curah hujan harian dari Stasiun Bukit Lawang dari tahun 1996 2003, memperlihatkn bahwa curah hujan yang terjadi di sekitar DAS Bohorok sangat besar. Rata -rata curah hujan tahunan mencapai 4.785 mm, dengan puncak hujan tertinggi terjad i pada bulan September dan terendah bulan Mei. Ditinjau dari tebal hujan bulanan, nampak tidak ada musim yang mengindikasikan ada bulan kering, yaitu bulan yang curah hujan rata-ratanya kurang dari 60 mm/bulan. Justru yang terjadi adalah rata-rata curah hujan bulanan terendah masih diatas 250 mm/bulan. Adanya curah hujan yang demikian besar di sekitar DAS Bohorok disebabkn oleh letak geografis yang bertopografi tinggi, dan kondisi tutupan lahan masih hutan hujan tropis sangat lebat sehingga sangat mempengaruhi dinamika atmosfer, khususnya dalam penyediaan water moisture dari transpirasi tumbuhan yang sangat besar. Selain itu, dengan topografi yang tinggi dan posisi dari DAS Bohorok yang terletak di dekat dengan ekuator, maka berpotensi untuk terjadinya konve rgensi dari suplai massa uap air sehingga curah hujan menjadi tinggi. Data curah hujan rata-rata bulanan dan pola curah hujan di DAS Bohorok disajikan pada Tabel 4.6 dan Gambar 4.1 2. Tabel 4.6 Rata-rata curah hujan bulanan di Stasiun Bukit Lawang (1996 2003)

Tahun Jan Feb Mar Apr Mei Jun Jul Agt Sep Okt Nov Des 1996 568 625 511 259 494 890 503 518 895 1997 364 370 435 243 220 345 325 255 654 632 444 414 1998 218 139 262 329 490 347 410 397 389 379 312 431 1999 333 377 420 396 212 283 183 403 590 740 434 850 2000 331 540 444 84 0 0 461 1016 705 437 520 0 2001 631 317 365 564 63 0 0 0 715 1436 967 523 2002 473 153 144 385 151 229 276 418 989 405 240 194 2003 449 456 381 588 263 451 480 169 672 744 163 0 Rerata 399.86 336.00 350.14 394.63 253.00 270.75 299.25 394.00 700.50 659.50 449.75 413.38

Jumlah 5263 4701 4103 5221 4538 5581 4057 4816 4785.00

Sumber : Kantor Perkebunan Bahorok

Penyusunan Arahan Pemanfaatan Ruang DAS Bahorok

IV-23

LAPORAN ANTARA

800 700 Curah Hujan (mm) 600 500 400 300 200 100 0 Jan Feb Mar Apr Mei Jun Jul Agt Sep Okt Nov Des

Gambar Pola curah hujan bulanan DAS Bohorok


Gambar 4.12 Pola curah hujan di DAS Bohorok

Data curah hujan harian yang ada tersebut jika dianalisis, memperlihatkan banyaknya kejadian -kejadian hujan harian maksimum dengan tebal hujan mencapai 100 mm/hari. bahkan pada tanggal 6 Juni 1996 curah hujan yang terjadi pernah mencapai 235 mm/hari. Ini menjadi menarik untuk dianalisis lebih lanjut, bahwa curah hujan yang besar bukan sebagai faktor tunggal penyebab terjadinya banjir bandang. Pada saat kejadian bencana banjir bandang, curah hujan yang terukur mencapai 101 mm/hari dan sungai Bohorok mengalami banjir dengan debit yang luar biasa besar. Namun pada kejadian hujan dengan tebal di atas 100 mm/hari yang pernah terjadi sebelumnya. Data curah hujan harian maksimum yang pernah terjadi selama tahun 1996 hingga 2003 disajikan pada Tabel 4.7. Tabel 4.7 Curah hujan harian maksimum yang pernah terjadi di DAS Bohorok
Tahun Jan Peb Mar 1996 1997 79 85 65 1998 45 45 36 1999 40 46 34 2000 69 62 52 2001 67 41 42 2002 47 42 47 2003 52 107 72 Apr 125 42 67 35 37 69 54 97 Mei 100 42 89 32 0 42 42 67 Jun 235 42 73 32 0 0 92 77 Jul 115 52 74 32 72 0 87 72 Ags 85 57 48 29 85 0 42 54 Sep 115 62 51 37 77 106 72 120 Okt 78 75 39 63 49 125 42 80 Nop 105 79 32 49 76 75 31 101 Des 75 49 32 105 0 69 21 0

Sumber : Kantor Perkebunan Bahorok

Penyusunan Arahan Pemanfaatan Ruang DAS Bahorok

IV-24

LAPORAN ANTARA

Sedangkan pada Tabel. 4.8 menunjukkan beberapa kejadian hujan dengan tebal hujan lebih dari 100 mm/hari yang pernah terjadi di Desa Bukit Lawang beserta durasi kejadian hujan. Tabel 4.8 Curah hujan dengan tebal lebih dari 100 mm/hari di Desa Bukit Lawang
NO 1 2 3 4 5 6 7 8 9 10 11 12 13 14 TEBAL HUJAN SEHARI (MM) 125 235 115 115 105 109 105 105 106 111 107 120 110 101 WAKTU HUJAN 19.30 21.00 19.30 21.00 05.30 7.00 16.00 22.00 17.00 21.00 17.30 21.00 05.00 11.00 09.00 18.00 20.00 24.00 17.00 21.00 19.00 21.30 18.00 21.30 TANGGAL 27 April 1996 6 Juni 1996 3 Juli 1996 1 September 1996 15 September 1996 29 September 1996 16 November 1996 23 Desember 2000 24 September 2001 20 Oktober 2001 9 Februari 2003 13 September 2003 17 September 2003 2 November 2003

Sumber : Kantor Perkebunan Bahorok

Titik jenuh tanah akan dicapai jika daya infiltrasi dan perkolasi tanah telah terlampaui. Daya infiltrasi adalah laju infiltrasi maksimum yang dimungkinkan, yang ditentukan oleh kondisi permukaan termasuk lapisan permukaan dari tanah. Sedangkan daya perkolasi adalah laju perkolasi maksimum yang dimungkinkan yang besarnya dipengaruhi oleh kondisi tanah dalam daerah (zone) tidak jenuh, yaitu diantara permukaan tanah dengan muka air tanah. Perkolasi tidak mungkin terjadi sebelum daerah tidak jenuh mencapai daya medan (field capacity). Daya infiltrasi menentukan besarnya air hujan yang dapat diserap ke dalam tanah. Sekali air hujan tersebut masuk ke dalam tanah, air hujan tersebut dapat diuapkan kembali atau mengalir sebagai airtanah. Aliran air tanah sangat lambat. Makin besar daya infiltrasi, maka perbedaan antara intensitas curah hujan dengan daya infiltrasi menjadi makin kecil. Akibatnya limpasan permukaannya ma kin kecil sehingga debit puncaknya juga akan lebih kecil.

Penyusunan Arahan Pemanfaatan Ruang DAS Bahorok

IV-25

LAPORAN ANTARA

Dengan mempertimbangkan jenis tanah, geologi dan penutupan lahan yang ada serta studi Timbang Lawan Irrigation Scheme, maka kejenuhan tanah yang terdapat di DAS Bohorok diperkirakan mencapai 70% d ari total curah hujan separo bulanan dan 30%-nya menjadi curah hujan efektif yang mengalir menjadi aliran permukaan. Dari 70% total curah hujan separo bulanan tersebut sebagian besar tersimpan dalam tanah, dimana laju perkolasi tanah yang ada mencapai 2,5 mm/hari dan akhirnya akan menjadi baseflow Sungai Bohorok.

4.3.2.

Analisis Debit Andalan

Dalam studi ini analisis potensi sumberdaya air adalah terbatas pada sumberdaya air permukaan, mengingat penyediaan kebutuhan air untuk penduduk di desa-desa sekit ar Bohorok sebagian besar mengambil dari air permukaan. Analisis sumberdaya air permukaan dihitung dari debit Sungai Bohorok. Mengingat data debit tidak ada karena belum terpasangnya AWLR atau peilschall untuk mengukur debit sungai, maka data debit diperol eh dengan membangkitkan debit dari data curah hujan. Metode yang dilakukan adalah dengan menggunakan model Mock, yaitu model hubungan hujan limpasan yang merupakan model hidrologi yang banyak dilakukan di Indonesia, karena model tersebut dikembangkn di Indonesia dan penerapannya mudah dan menggunakan data yang relatif sedikit. Perhitungannya didasarkan pada data curah hujan, evaporasi, kondisi DAS dan karakteristik hidrologi daerah tinjauan. Untuk perhitungan debit andalan maka data debit dibangkitkan berdasarkan data hujan yang terdapat di Desa Bukit Lawang. Dengan demikian semua hasil perhitungan, baik untuk debit Sungai Bohorok, debit andalan 80% dan neraca air dilakukan dari Desa Bukit Lawan ke hulu DAS Bohorok. Stasiun hipotetis (prediksi) yang dip akai adalah stasiun di Desa Bukit Lawang. Berdasarkan perhitungan, maka rata -rata debit Sungai Bohorok sebesar 13,24 m3/detik. Mengingat kondisi tutupan lahan di DAS Bohorok masih sangat baik, maka fluktuasi debit antara musim penghujan dan kemarau tidak terlalu menyolok. Hal ini mengindikasikan bahwa baseflow yang menyuplai air sungai selama tidak ada hujan (musim kemarau) masih cukup besar. Hasil perhitungan debit rata-rata untuk setiap setengah bulan
Penyusunan Arahan Pemanfaatan Ruang DAS Bahorok IV-26

LAPORAN ANTARA

di Sungai Bohorok disajikan pada Gambar 4.13. Sedangkan perhitungan debit sungai untuk masing-masing tahun selama adanya data pengukuran hujan disajikan pada Tabel Lampiran Analisa Hidrologi.

25 20 15 10 5 0 1 2 3 4 5 6 7 8 9 10 11 12 13 14 15 16 17 18 19 20 21 22 23 24 Debit (m3/dt) Hujan (mm)

500 400 300 200 100 0

Gambar 4.13 Hubungan antara Curah Hujan dan Debit Sungai Bohorok Untuk menentukan debit andalan dibutuhkan seri data debit yang panjang dan metode yang sering dipakai untuk analisis adalah metode statistik (rangking). Penetapan rangking dapat pula menggunakan analisa frekuensi / probabilitas dengan rumus Weibul. Untuk analisis neraca air dan irigasi debit andalan yang dipakai adalah 80%, sedangan untuk perencanaan pasokan air bersih dapat ditetapkan sebesar 90%. Debit andalan 80% (Q80%) berarti akan dihadapi resiko adanya debit -debit lebih kecil dari debit andalan sebesar 20% banyaknya pengamatan (dalam 5 tahun ada kemungkinan satu tahun gagal). Mengingat penggunaan air Sungai Bohorok sebagian besar digunakan untuk irigasi jika dibandingkan dengan untuk pasokan air bersih, maka dalam analisis debit andalan digunakan debit andalan 80% (Q80%). Berdasarkan perhitungan, maka debit andalan 80% Sungai Bohorok antara bulan Januari hingga Agustus mempunyai debit yang relatif stabil yaitu berkisar antara 7,20 10,56 m3/detik, sedangkan puncak debit andalah terjadi saat bulan Oktober yaitu 17,75 m3/detik. Pola fluktuasi debit andalan 80% dari Sungai Bohorok disajikan pada Gambar 4.1 4.

Penyusunan Arahan Pemanfaatan Ruang DAS Bahorok

IV-27

LAPORAN ANTARA

20 16 12 8 4 0 J F M A M J J A S O N D

Debit (m3/detik)

Gambar 4.14 Pola Debit Andalan 80% Sungai Bohorok

4.3.3.

K ebutuhan Air

Kebutuhan air secara umum dapat dibagi dalam dua kategori, yaitu jumlah air yang digunakan untuk keperluan irigasi dan non irigasi. Kebutuhan air irigasi ini meliputi pemenuhan kebutuhan air untuk keperluan pertanian secara umum. Sedangkan kebutuhan air untuk non irigasi meliputi kebutuhan air untuk pemenuhan domestik, peternakan, perikanan, industri, dan penggelontoran sungai (maintenance flow). Namun, mengingat kondisi desa-desa di sekitar Bohorok belum terdapat industri, maka dalam studi ini kebutuhan air hanya meliputi domestik, perikanan, peternakan, dan sebagian penggelontoran untuk daerah irigasi. Sistem pertanian irigasi di sekitar Desa Timbang Lawan, Bohorok seluas 752 Ha dengan pola tanam dalam setahun adalah padi padi palawija sehingga total kebutuhan air untuk irigasi berbeda-beda tiap bulannya. Sedangkan untuk kebutuhan non irigasi dihitung sesuai ketentuan yang telah ada. Untuk memenuhi kebutuhan penduduk pedesaan, air yang diperlukan sebesar 80 liter/hari/orang. Dengan jumlah penduduk di Bohorok sebesar 10.092 orang, diperlukan air sebesar 0,008 m3/detik. Untuk pemenuhan kebutuhan ternak disesuaikan dengan kondisi ternak yang ada, yaitu ternak besar (sapi, kerbau, kuda) sebesar 40 liter/ekor/hari, ternak kecil (domba, kambing) sebesar 5 liter/ekor/hari, ternak kecil (babi) sebesar 6 liter/ekor/hari, dan unggas sebesar 0,6 liter/ekor/hari. Mengingat
Penyusunan Arahan Pemanfaatan Ruang DAS Bahorok IV-28

LAPORAN ANTARA

jumlah ternak yang terdapat di Bohorok tidak banyak maka total kebutuhan untuk peternakan hanya sebesar 0,000586 m3/detik. Demikian pula untuk pemenuhan kebutuhan air perikanan di Bohorok hanya diperlukan air sebesar 0,0000851 m3/detik. Kebutuhan air di perikanan diperlukan untuk pembilasan yaitu bahwa untuk kedalam kolam ikan kurang lebih 70 cmm banyaknya air yang dibutuhkan untuk setiap hektar adalah 35 40 mm/hari, dimana air tersebut digunakan untuk pembilasan. Sehubungan air yang ada tidak langsung dibuang maka besarnya kebutuhan air yang diperlukan sekitar seperlima hingga seperenam dari kebutuhan. Kebutuhan air per hektar adalah 7 mm/hari/ha. Sedangkan untuk pemeliharaan aliran, termasuk untuk penggelontoran sesungguhnya kebutuhan ini hanya diperlukan untuk sungai- sungai di perkotaan. Namun dalam studi ini, maintenance flow dimasukkan dalam perhitungan sebagai kebutuhan untuk pemeliharaan saluran irigasi yang ada. Sesuai IWRD kebutuhan ar untuk maintenance flow diperlukan air sebesar 300 liter/orang/hari, sehingga untuk Bohorok diperlukan air sebesar 0,035 m3/detik. Hasil perhitungan kebutuhan air untuk masing-masing sektor kebutuhan adalah sebagai berikut : Tabel 4.9 Total Kebutuhan Air untuk Desa Timbang Lawan dan sekitarnya
Periode Bulan Jan Feb Mar Apr Mei Jun Jul Agt Sep Okt Kebutuhan air (water requirement, l/det/ha) : Non Golongan : Pola tanam (padi-padi- palawija) Gol. HM- 1 0,00 1,48 0,91 1,19 0,00 0,18 0,26 0,64 0,00 1,25 HM- 2 0,00 1,82 1,28 1,18 0,00 0,38 0,43 0,29 0,00 1,20 Padi 2 : (Feb 1) Palawija : (Juni 1) Padi 1 Area Padi 1 = 752 Ha Padi 2 = 752 Ha Palawija = 752 Ha teririgasi Intensitas 100% 100% 100% penanaman Kebutuhan air untuk tanaman (crop water requirement , m3/det) Gol HM- 1 0,00 1,11 0,68 0,89 0,00 0,14 0,20 0,48 0,00 0,94 HM- 2 0,00 1,37 0,95 0,89 0,00 0,19 0,32 0,22 0,00 0,90 Pemakaian air lainnya : 0,05 m3/det ? Domestik = 0,008 m3/det ? Peternakan = 0,000586 m3/det ? Perikanan = 0,0000851 m3/det ? Maintenance flow = 0,035 m3/det Total kebutuhan air (total water requirement, m3/det) HM- 1 0.04 2.63 1.63 2.12 0.04 0.36 0.50 1.16 0.04 2.23 HM- 2 0.04 3.23 2.27 2.11 0.04 0.61 0.79 0.55 0.04 2.14 Sumber : hasil Analisa

Nov

Des

0,31 0,61 0,68 0,94 : (Okt 1)

0,23 0,51

0,46 0,71

0.58 1.23

1.11 1.69

Penyusunan Arahan Pemanfaatan Ruang DAS Bahorok

IV-29

LAPORAN ANTARA

4.3.4.

Analisis Neraca Air

Analisa neraca air diperlukan untuk mengetahui perbandingan tingkat ketersediaan air pada suatu wilayah DAS maupun sub DAS dengan kebutuhan air yang diperlukan pada suatu daerah yang berada di wilayah DAS tersebut. Dari hasil analisis tersebut nantinya dapat diketahui perimbangan antara ketersediaan air dengan pemanfaatan air dalam suatu DAS yang disebut dengan neraca air. Dengan mengetahui neraca air suatu DAS dari kondisi pemanfaatan DAS saat ini, maka dapat direkomendasikan pengelolaan dan optimalisasi potensi sumber daya air yang ada pada suatu DAS sehingga dapat memberikan masukan dalam sistem pengambilan keputusan dan prioritas pegembangan suatu DAS. Berdasarkan perhitunga n potensi ketersediaan air dan kebutuhan air seperti di atas, terlihat bahwa neraca air setiap bulan kondisinya surplus. Ketersediaan air yang ada masih sangat banyak tersedia untuk mencukupi semua jenis kebutuhan air. Kebutuhan air yang cukup besar diperlukan adalah pada saat tanam padi di sawah irigasi. Namun demikian kebutuhan air tersebut masih jauh lebih kecil dibandingkan dengn ketersediaan air yang ada. Kondisi neraca air per bulan lebih lengkap disajikan pada Gambar 4.15.

20 Debit (m3/detik) 15 10 5 0 Jan Feb Mar Apr Mei Jun Ketersediaan air (m3/det) Jul Agt Sep Okt Nov Des

Kebutuhan air (m3/det)

Gambar 4.15 Perbandingan antara ketersediaan dan kebutuhan air di DAS Bohorok

Penyusunan Arahan Pemanfaatan Ruang DAS Bahorok

IV-30

LAPORAN ANTARA

4.3.5

Koefisien Runoff

Daur hidrologi dalam suatu DAS sangat dipengaruhi antara lain oleh penggunaan lahan. Dalam proses transformasi curah hujan menjadi debit, koefisien limpasan (C) merupakan salah sat u indikator tentang bagaimana P didistribusikan. Besarnya limpasan akan dipengaruhi oleh kualitas ruangnya. Variabel-variabel yang berpengaruh adalah jenis tanah (untuk tingkat infiltrasi), relief (kemiringan lereng), timbunan air permukaan dan penggunaan lahannya (tutupan lahan). Besarnya koefisien limpasan untuk kombinasi dari gabungan berbagai variabel ini tercermin dari nilai C. Dengan demikian C dapat dikatakan sebagai indikator dari kualitas ruang hidrologi. Besarnya C adalah berkisar antara 0 ? C ? 1, dimana nilai C = 0 menunjukkan bahwa kondisi permukaan DAS sangat porus, sedangkan nilai C = 1 menunjukkan kondisi permukaan DAS tersebut kedap air. Dengan mengkaji dan mengoverlay masing-masing peta tematik parameter yang berpengaruh terhadap C seperti peta lereng, tekstur tanah, peta aliran sungai dan penggunaan lahan (citra tahun 2004) yang ada maka C dapat diprediksi. Masing-masing kondisi yang ada kemudian diberi nilai atau bobot. Klasifikasi dan pembobotan untuk mendapat nilai koefisien runoff dapat dilihat pada tabel berikut.

Penyusunan Arahan Pemanfaatan Ruang DAS Bahorok

IV-31

LAPORAN ANTARA

Tabel 4.10 Koefisien Runoff (C)


NO 1. FAKTOR Relief atau lereng C 2. Infiltrasi tanah Curam/terjal 0,40 Dapat diabaikan, batuan yang tertutup lapisan tanah tipis 0,20 Kurang baik, lahan terbuka, vegetasi jarang Berbukit 0,30 Rendah, halus, lempung KONDISI Bergelombang 0,20 Sedang, sedang, geluh Datar 0,05 Tinggi, kasar, pasir

C 3. Penutup lahan

0,15 Jelek-sedang, bukan daerah pertanian, 10% luas daerah vegetasi penutup baik 0,15 Sedikit, Pengatusan baik hingga sedang, tidak ada danau 0,15

0,10 Sedang -baik, 50% luas daerah bervegetasi penutup baik (hutan, rumput), 50% luas daerah bukan daerah pertanian 0,10 Sedang, Pengatusan baik hingga sedang, 2% luas daerah berupa

0,05 Baik sangat baik, 90% luas daerah bervegetasi penutup baik (hutan, rumput) dan tanaman semacamnya 0,05 Banyak, Pengatusan kurang, banyak danau 0,05

C 4. Timbunan Permukaan

0,20 Dapat diabaikan, Pengatusan kuat, saluran curam, tidak ada danau 0,20

danau
C 0,10

Sumber : Kazumi Ueda (1971) dan Cooks (1970)

Penyusunan Arahan Pemanfaatan Ruang DAS Bahorok

IV-32

LAPORAN ANTARA

Gambar 4.16 Peta Sebaran Koefisien Runoff 2004

Penyusunan Arahan Pemanfaatan Ruang DAS Bahorok

IV -33

LAPORAN ANTARA

Nilai koefisien runoff diperoleh dari hasil penjumlahan bobot keempat faktor yamng mempengaruhi. Selanjutnya adalah mengklasifikasikan besaran C yang ada. Tabel berikut adalah klasifikasi C.

Tabel 4.11 Klasifikasi Koefisien Runoff (C) NO. 1. 2. 3. C < 0,25 0,25 0,50 > 0,50 KELAS Rendah Sedang Tinggi

Hasil analisis menunjukkan besarnya C rata-rata di DAS Bahorok adalah 0,60. Nilai C ini termasuk kategori tinggi, karena menunjukkan bahwa wilayah ini potensi terbentuknya aliran permukaan sangat besar. Hal ini disebabkan oleh lereng yang cukup curam dan sifat tanah yang sangat tipis solumnya, khususnya di wilayah hulu (C rata -rata di hulu adalah 0,68). Sedangkan C rata-rata di daerah hilir adalah 0,54. Dengan demikian kinerja DAS Bahorok ditinjau dari nilai C dikategorikan jelek.

4.3.6

Potensi Erosi

Proses erosi oleh air adalah proses yang diawali oleh dengan pengahncuran agregat tanah oleh tenaga pengerosi (air) dan pengangkutan serta pengendapannya. Di daerah tropis seperti di Pulau Sumatera ini penyebab erosi yang paling utama adalah air. Untuk mengetahui besaran erosi yang terjadi maka perlu dihitun tingkat erosi potensial atau jumlah tanah yang hilang. Tingkat erosi potensial ini dapat diprediksi dengan menggunakan pendekatan USLE (Universal Soil Loss Ecuation). Guna memprediksi tingkat erosi yang terjadi dilakukan dengan menggunakan metode USLE, dimana faktor-faktor yang dipertimbangkan meliputi erositivitas hujan (R), erodibilitas tanah (K), faktor lereng (LS), serta faktor penggunaan dan pengolahan tanah (CP). Faktor lereng meliputi panjang dan kemiringan lereng. Tingkat erosi potensial dinyatakan

Penyusunan Arahan Pemanfaatan Ruang DAS Bahorok

IV -34

LAPORAN ANTARA

Gambar 4.17 Peta Tingkat Bahaya Erosi

Penyusunan Arahan Pemanfaatan Ruang DAS Bahorok

IV -35

LAPORAN ANTARA

dalam satuan ton/Ha/tahun. Persamaan yang digunakan adalah sebagai berikut : A = R.K.L.S.C .P Dimana : A = jumlah tanah hilang (ton/ha/tahun) R = erosivitas hujan K = erodibilitas tanah L = indeks kemiringan lereng S = indeks panjang lereng C = indeks pengelolaan tanaman P = indeks upaya konservasi tanah Dengan menggunakan kriteria erosi dan overlay peta-peta tematik faktor-faktor di atas dan citra tahun 2004 maka dapat diketahui tingkat erosi potensial yang terjadi di DAS Bahorok. Hasil perhitungan menunjukkan bahwa tingkat erosi potensial rata-rata yang terjadi cukup tinggi, yaitu 548,67 ton/Ha/th. Hal ini terutama pada daerah hulu, dimana penggunaan lahannya berupah hutan, namun karena tingkat kelerengan yang cukup curam/terjal, jenis tanah yang yang sangat peka terhadap erosi, serta didukung dengan curah hujan yang cukup tinggi sepanjang tahun, maka tingkat erosi di daerah ini cukup tinggi. Tingkat erosi potensial rata-rata yang terjadi di daerah hulu adalah 587,81 ton/ha/tahun, sedangkan di hilir adalah 116,14 ton/ha/tahun. Dengan demikian ditinjau dari tingkat erosi potensial, maka DAS Bahorok kondisinya dapat dikatakan jelek.

4.3.7.

Analisis Sistem Manajemen Bencana

Upaya penanggulangan bencana pada intinya adalah mengelola lingkungan atau suatu manajemen sistem dari sesuatu yang dinamik. Untuk itu, penanggulangan bencana merupakan suatu proses yang dinamik, terpadu dan berkelanjutan, baik sebelum-selama-sesudah dari bencana. Langkah-langkah pengendalian bencana meliputi pencegahan, mitigasi, kesiapsiagaan, tanggap darurat, rehabilitasi atau evakuasi dan pembangunan kembali. Pencegahan, mitigasi, kesiapsiagaan, dan peringatan dini merupakan instrumen dalam pengendalian bencana sebelum bencana terjadi. Pada tahap selama
Penyusunan Arahan Pemanfaatan Ruang DAS Bahorok IV -36

LAPORAN ANTARA

bencana atau tanggap darurat, maka dilakukan pencarian, penyelamatan, pengungsian, penyantunan, pelayanan sosial, dan pelayanan medik. Sedangkan sesudah bencana diperlukan konsolidasi, rehabilitasi fisik dan sosial, rehabilitasi permukiman dan rekonstruksi fasilitas umum dan prasarana yang rusak. Dalam implementasinya, tahap -tahap penanggulangan bencana tersebut tidak dapat ditarik tegas sebagai pembatas dan tidak dapat dilaksanakan secara berurutan. Tahapan selama dan sesudah bencana lebih banyak dilakukan. Begitu ada bencana, seg era diambil langkahlangkah penanggulangan bencana dan bantuan banyak berdatangan hingga kurun waktu tertentu dan beritanya tidak aktual. Namun setelah itu, tidak ada upaya penanggulangan guna mendeteksi kemungkinankemungkinan bencana terjadi pada saat tertentu. Dalam manajemen bencana, kegiatan-kegiatan yang perlu dilakukan sebagai pra bencana antara lain : ? Pemetaan daerah rawan bencana ? Analisis resiko ? Rencana kontingensi ? Peraturan dan pengaturan tata ruang ? Pengkajian dan penelitian ? Pelatihan dan simulas i ? Deteksi dan peringatan dini Untuk tanggap darurat, kegiatan yang dilakukan meliputi : ? Aktivasi posko ? Penyelamatan dan pencarian (SAR) ? Penampungan sementara ? Penyediaan air bersih dan sanitasi ? Penyediaan bantuan darurat ? Pelayanan kesehatan

Pada tahap pasca darurat, meliputi :


? ? ? ? ? ? Pemulihan Rehabilitasi sarana dan prasarana Rehabilitasi fasum dan fasos Penanganan post trauma stress Rekonstruks pembangunan Pemberdayaan masyarakat
IV -37

Penyusunan Arahan Pemanfaatan Ruang DAS Bahorok

LAPORAN ANTARA

Dari sekian banyak kegiatan dalam manajemen bencana, salah satu sistem informasi bencana merupakan instrumen kelembagaan yang perlu dibangun. Untuk sistem informasi bencana dari kegiatan sektoral di Departemen Pekerjaan Umum telah disusun pedoman sebagai berikut :

CAMAT

BUPATI DINAS PU KAB / BALAI

GUBERNUR DINAS PU PROP

MENDAGRI

POKMAS

POSKO KECAMATAN

SATGAS KAB/KOTA

SATGAS PROP/SWS

SATGAS PUSAT

BAKORNAS

KETERANGAN

MENTERI PU

: siap : siaga : rawan : bencana

Gambar 4.18 Diagram sistem informasi bencana di lingkungan Departemen Pekerjaan Umum Berdasarkan uraian tersebut diatas dan dibandingkan saat bencana banjir bandang di Bohorok, telah banyak kegiatan yang dilakukan, baik untuk jangka pendek, menengah dan jangka panjang. Komponenkomponen kegiatan setelah bencana yang merupakan tindakan rensposif telah dilakukan, namun demikian masih banyak kegiatan yang belum dilakukan khususnya kegiatan -kegiatan yang berhubungan dengan pra bencana. Penyusunan sistem peringatan dini dan kelembagaan dalam pengendalian bencana merupakan kebutuhan yang sangat penting, disamping penyesuaian peraturan yang ada.

Penyusunan Arahan Pemanfaatan Ruang DAS Bahorok

IV -38

LAPORAN ANTARA

4.4

ANALISIS KESESUAIAN KAWASAN BUDIDAYA


Analisis ini ditujukan untuk mengetahui kesesuai pengembangan lahan di kawasan budidaya yang meliputi kawasan permukiman, kawasan pertanian lahan basah (pertanian), kawasan pertanian lahan kering (perkebunan), dan kawasn pariwisata. Analisis hanya dilakukan di atas kawasan budidaya (selain kawasan lindung), karena untuk kawasan ekosistim DAS Bahorok, kawasan lindung dan kawasan budidaya telah ditetapkan. Kriteria-kriteria yang digunakan dalam menganalisis kesesuaian pengembangan lahan budidaya ini adalah ketinggian dari permukaan laut, lereng, geomorfologi, tekstur tanah, kedalaman efektif tanah, pola aliran sungai, dan faktor bencana (longsor dan banjir). Dalam tabel berikut dijelaskan kriteria -kriteria yang digunakan dalam analisis kesesuaian pengembangan lahan budidaya. Tabel 4.12 Krit eria Penentuan Kesesuaian Pengembangan Lahan Budidaya
KAWASAN BUDIDAYA LAHAN LAHAN BASAH PERMUKIMAN KERING

NO

KRITERIA

1 Ketinggian 2 Lereng 3 Geomorfologi 4 Geologi 5 Tekstur Tanah 6 Kedalaman Tanah 7 Pola Aliran Suungai 8 Bencana Sumber : Surveyor Indonesia

1,2 1,2 1 1,2,3 1,2,3 1,2,3,4 5

1, 2, 3 1, 2 1, 2 1, 2, 3 1, 2 1, 2, 3 5

1, 2, 3, 4, 1, 2, 3 1, 2, 7, 8, 1, 2, 3, 4, 1, 2, 3, 4, 1, 2, 3, 4, 5

9 5 5 5

Sedangkan klasifikasi dari masing-masing kriteria tersebut dapat dilihat pada tabel berikut.

Penyusunan Arahan Pemanfaatan Ruang DAS Bahorok

IV -39

LAPORAN ANTARA

Tabel 4.13 Klasifikasi Kriteria Penilaian Kesesuaian Pengembangan Lahan Budidaya


KRITERIA KLASIFIKASI 1. 0 25 m dpal 2. 25 100 m dpal 3. 100 250 m dpal 4. 250 500 m dpal 5. 500 750 m dpal 6. > 750 m dpal 1. Dataran Alluvial 2. Bergelombang 3. Perbukitan Struktural 4. Perbukitan Homoklin 5. Pegunungan 6. Tubuh Air 1. Sangat Rendah 2. Rendah 3. Sedang 4. Tinggi 5. Sangat Tinggi 1. Alluvial Pantai1 2. Alluvial Sungai 3. Granit 4. Gemodiorit 5. Basalt 6. Ultramafik 7. Batu Pasir 8. Batu Lempung 9. Batu Gamping 10. Batuan Metamorf KRITERIA KLASIFIKASI 1. 0 2 % 2. 3 7 % 3. 8 13 % 4. 14 20 % 5. 20 40 % 6. > 40 % 1. Kasar 2. Agak Kasar 3. Agak Halus 4. Halus 1. > 120 cm (sangat dalam) 2. 76 119 cm (dalam) 3. 46 75 cm (agak dalam) 4. 21 45 cm (agak dangkal) 5. < 21 cm (dangkal) 1. Sangat Berat 2. Berat 3. Sedang 4. Ringan 5. Tanpa Bencana

Ketinggian

Lereng

Tekstur Tanah

Geomorfologi

Kedalaman Tanah

Pola Aliran Sungai

Klasifikasi Bencana

Geologi

Berdasarkan krieria dan klasifikasi dari masing-masing kriteria tersebut, dengan melakukan analisa overlay terhadap peta-peta tematik sesuai dengan kriteria -kriteria tersebut, maka didapatkan kesesuaian pengembangan lahan budidaya untuk wilayah ekosistim DAS Bahorok, dan dapat dilihat pada gamber peta Kesesuaia Pengembangan Budidaya DAS Bahorok (Gambar 4.14.). Tabel 4.14 Luas Kesesuaian Lahan Lindung dan Budidaya DAS Bahorok
NO 1. 2. 3. 4. Sumber KESESUAIAN LAHAN Kawasan Hutan Lindung Kawasan Permukiman Kawasan Pertanian Lahan Basah Kawasan Pertanian Lahan Kering : Hasil Analisa LUAS ( Ha) 1.9491,40 187,80 872,01 344,10 % 89,90 4,58 4,02 1,50

Penyusunan Arahan Pemanfaatan Ruang DAS Bahorok

IV -40

LAPORAN ANTARA

Gambar 4.19 Peta Analisa Kesesuian Lahan Budidaya

Penyusunan Arahan Pemanfaatan Ruang DAS Bahorok

IV -41

LAPORAN ANTARA

4.5

ANALISIS KEPENDUDUKAN P royeksi Penduduk dan Tenaga Kerja


Asumsi yang digunakan untuk melakukan proyeksi penduduk DAS Bahorok adalah dengan menggunakan laju pertumbuhan penduduk ratarata Kecamatan Bahorok tahun 2000 -2002 yaitu sebesar 0,85% dengan jumlah penduduk tahun awal adalah jumlah penduduk ketiga desa yang termasuk dalam DAS Bahorok (Desa Timbang Lawan, Sampe Raya, dan Bukit Lawang) pada tahun 2002. Model pertumbuhan penduduk yang pertumbuhan penduduk secara geometrik dengan dasar bunga-berbunga (bunga pertumbuhan (rate of growth ) sama untuk matematika sebagai berikut : Pt = P o ( 1 + r)t Dimana: Pt Po r t = jumlah penduduk pada tahun ke-t. = jumlah penduduk pada tahun awal. = angka rata-rata laju pertumbuhan penduduk. = jangka waktu (dalam tahun). digunakan adalah model (geometric rate of growth ) majemuk), dimana angka setiap tahun, dengan rumus

4.5.1.

Dengan menggunakan angka pertumbuhan dan model di atas, maka diperoleh proyeksi penduduk DAS Bahorok selama lima tahun (tahun 2005 -2009) seperti terlihat pada tabel berikut. Tabel 4.15 Proyeksi Penduduk DAS Bahorok Tahun 2005 -2009
No 1 2 3 Desa Timbang Lawan Sampe Raya Bukit Lawang Tahun 2005 3.603 4.920 1.828 2006 3.634 4.962 1.843 10.440 2007 3.665 5.004 1.859 10.528 2008 3.696 5.047 1.875 10.618 2009 3.727 5.090 1.891 10.708

DAS Bahorok 10.352 Sumber : Hasil Perhitungan Tim, 2004

Penyusunan Arahan Pemanfaatan Ruang DAS Bahorok

IV -42

LAPORAN ANTARA

Dari hasil proyeksi penduduk tersebut, maka dapat diperoleh hasil proyeksi tenaga kerja di DAS Bahorok dengan menggunakan komposisi jumlah tenaga kerja terhadap penduduk total pada tahun 2002 yaitu sebesar 42,55% seperti terlihat pada tabel berikut. Tabel 4.16 Proyeksi Tenaga Kerja DAS Bahorok Tahun 2005-2009
NO 1 2 3 DESA Timbang Lawan Sampe Raya Bukit Lawang TAHUN 2005 1.533 2.093 778 2006 1.546 2.111 784 4.441 2007 1.559 2.129 791 4.479 2008 1.572 2.147 798 4.517 2009 1.586 2.166 805 4.557

DAS Bahorok 4.404 Sumber : Hasil Perhitungan Tim, 2004

4.5.2.

T ekanan Penduduk

Nilai Tekanan Penduduk (TP) dimaksudkan untuk menghitung besarnya tekanan penduduk terhadap lingkungan/sumberdaya alamnya. Semakin besar jumlah penduduk, maka semakin besar pula kebutuhan akan sumberdaya alam sehingga tekanan penduduk terhadap sumberdaya alam akan semakin meningkat. Jika pertambahan penduduk tersebut tidak dapat dikendalikan, maka penduduk tidak sekedar hidup dari alam, tetapi akan menjadi tekanan terhadap lingkungan alamnya, yang dapat berakibat timbulnya permasalahan permukiman, lapangan kerja, pendidikan, pangan dan gizi, kesehatan dan mutu lingkungan, dan pada akhirnya akan merusak lingkungan.

Besarnya tekanan penduduk tersebut dirumuskan sebagai berikut : f Po ( 1 + r ) t Tp = Z L

Dimana : Tp = tekanan penduduk. Z = koefisien yang berhubungan dengan luas wilayah yang diperlukan untuk mendukung kehidupan manusia dengan taraf hidup yang memadai. f = persentase jumlah petani dari seluruh jumlah penduduk.

Penyusunan Arahan Pemanfaatan Ruang DAS Bahorok

IV -43

LAPORAN ANTARA

Po r t L

= jumlah penduduk tahun tertentu. = laju pertumbuhan penduduk rata-rata per tahun. = rentang waktu yang diperhitungkan. = total luas lahan pertanian.

Dari rumus tersebut terlihat bahwa tekanan penduduk terhadap lingkungan alamnya akan semakin besar, apabila terjad i kenaikan pada faktor-faktor Z, f, Po, r dan/atau t, baik tiap-tiap faktor atau secara bersamaan. Tekanan ini akan menjadi lebih besar lagi jika L mengecil. Untuk mencegah kerusakan sumberdaya alam dan lingkungan hidup, maka keseimbangan antara daya dukung lingkungan dan jumlah penduduk perlu diperhatikan dan dikembangkan secara bersama dan terencana. Mengingat ketersediaan data yang ada, maka dalam menghitung tekanan penduduk DAS Bahorok dilakukan perhitungan dengan menggunakan data Kecamatan Bahorok tahun 2002 sebagai berikut : - Luas lahan minimal pertanian untuk dapat hidup layak (Z) = 0,3 ha/orang. - Persentase jumlah petani dari seluruh jumlah penduduk (f) = 12,86%. - Jumlah penduduk pada tahun 2002 (Po) = 42.498 orang. - Laju pertumbuhan penduduk rata-rata per tahun (r) = 0,85%. - Rentang waktu yang diperhitungkan adalah 5 tahun dari tahun ini (t = 2009-2002 = 7 tahun). - Luas lahan pertanian (L) = 12.701 ha. Berdasarkan hasil perhitungan berdasarkan rumus di atas, maka diperoleh nilai tekanan penduduk sebesar 0,136978 (< 1) yang berarti tekanan penduduk terhadap sumberdaya alam atau lingkungan di Kecamatan Bahorok atau DAS Bahorok relatif kecil dan lahan pertanian yang ada masih memungkinkan untuk menampung lebih banyak penduduk petani.

4.5.3.

K etergantungan Penduduk Terhadap Lahan

Untuk mengetahui ketergantungan penduduk terhadap lahan dapat dilakukan dengan pendekatan metode Location Quotient (LQ). LQ adalah suatu metode untuk menghitung perbandingan relatif sumbangan nilai
Penyusunan Arahan Pemanfaatan Ruang DAS Bahorok IV -44

LAPORAN ANTARA

tambah sebuah sektor di suatu region (Kecamatan Bahorok) terhadap sumbangan nilai tambah sektor yang bersangkutan secara kabupaten (Kabupaten Langkat). Atau menghitung perbandingan antara share output sektor i di Kecamatan Nahorok terhadap share output sektor i di Kabupaten Langkat :

X ir LQi ? X
n i

Xr Xn

Dimana : X = output PDRB i = sektor PDRB r = Kecamatan Bahorok n = Kabupaten Langkat Dari hasil perhitungan diperoleh nilai LQ untuk masing-masing sektor, terlihat bahwa nilai LQ >1 adalah sektor pertanian dan sektor listrik, g as dan air bersih. Nilai LQ sektor pertanian sebesar 1,73 (>1) menunjukkan bahwa sektor pertanian merupakan sektor yang penting di Kecamatan Bahorok dan dapat dikatakan bahwa masyarakat di wilayah tersebut sangat tergantung pada sektor pertanian.

4.5.4.

Analisis Kesempatan Kerja

Dari hasil pengamatan lapangan dan data sekunder dapat diketahui nahwa kesempatan kerja yang terdapat di kawasan DAS Bahorok pada saat ini adalah sektor pertanian, perkebunan, jasa perdagangan, pariwisata. Hal ini selain dapat dilihat dari kegiatan yang ada di kawasan ini juga didukung oleh data komposisi jumlah penduduk yang bekerja di kawasan ini. Hasil perhitungan tekanan penduduk dan ketergantungan terhadap lahan terlihat bahwa kesempatan kerja yang masih terbuka lebar untuk menampung tenaga kerja di kawasan ini adalah sektor pertanian. Selain potensi lahan pertanian yang ada saat ini dan lahan yang bisa dikembangkan sebagai lahan pertanian yang masih sangat luas, juga didukung oleh ketersediaan sumberdaya manusia.

Penyusunan Arahan Pemanfaatan Ruang DAS Bahorok

IV -45

LAPORAN ANTARA

4.6

ANALISIS SOSIAL EKONOMI K ondisi Kesejahteran Sosial

4.6.1.

Kesejahteraan sosial pada bagian ini akan diukur dengan tingkat pendapatan per kapita masyarakat dan kecenderungan perkembangannya. Kecenderungan perkembangan pendapatan per kapita tergantung pada dua hal: kecenderungan pertumbuhan pendapatan total masyarakat dan laju pertumbuhan penduduk. Hal ini merupakaan bahasan pertama yang akan dibahas dalam bagian ini. Selanjutnya akan dibahas mengenai kualitas pendapatan masyarakat itu sendiri, yakni apakah pendapatan tersebut terdistribusi dengan baik diantara masyarakat yang bekerja pada sektor ekonomi yang berbeda beda, juga di antara berbagai golongan masyarakat kaya dan miskin. Data yang digunakan dalam bahasan ini berasal dari data Kecamatan Bahorok. Jika tidak terdapat data kecamatan, maka akan digunakan data Kabupaten Langkat, dengan berdasarkan anggapan bahwa kebiasaan perekonomian kabupaten tidak jauh berbeda dengan kecamatan. A. Kapassitas Perekonomian dan Pertumbuhan Penduduk Dengan pertumbuhan ekonomi sebesar 4,17% per tahun dan pertumbuhan penduduk 0,85% per tahun, maka kecenderungan ke depan perekonomian Kecamatan Bahorok akan semakin mampu meningkatkan kesejahteraan masyarakatnya. Jika laju pertumbuhan ekonomi dan penduduk tersebut konstan, maka dapat dihitung bahwa pertumbuhan pendapatan per kapita akan tumbuh sebesar lebih kurang 3,29% per tahun. Tabel 4.1 6 di bawah ini menampilkan proyeksi PDRB, jumlah penduduk dan PDRB per kapita Kecamatan Bahorok sampai dengan tahun 2010. Terlihat dalam proyeksi tersebut bahwa pendapatan per kapita meningkat dari tahun ke tahun, yang menjadi petunjuk naiknya tingkat kesejahteraan masyarakat Bahorok.

Penyusunan Arahan Pemanfaatan Ruang DAS Bahorok

IV -46

LAPORAN ANTARA

Tabel 4.17 Proyeksi Pendapatan Per Kapita Kecamatan Bahorok

TAHUN

PDRB AHK 1993 (JUTA RP)

PENDUDUK (JIWA) 42.498 42.859 43.224 43.591 43.961 44.335 44.712 45.092 45.475

PDRB PER KAPITA (RUPIAH) 2.539.661,87 2.623.267,99 2.709.626,44 2.798.827,82 2.890.965,74 2.986.136,84 3.084.441,00 3.185.981,35 3.290.864,43

2002 107.930,55 2003 112.431,3 2004 117.119,6 2005 122.003,5 2006 127.091,1 2007 132.390,8 2008 137.911,5 2009 143.662,4 2010 149.653,1 Sumber : Hasil Analisa

B. Distribusi Pendapatan Sektoral Secara sektoral keadaan pendapatan per kapita Kecamatan Bahorok dapat dilihat pada tabel 406. Dalam hal ini terlihat bahwa pendapatan per kapita masyarakat Bahorok adalah Rp. 2.539.661,87 per tahun. Penduduk pada semua sektor ekonomi pun pendapatan per kapitanya hampir sama dengan pendapatan per kapita wilayah, kecuali untuk 3 sektor. Ketiga sektor tersebut adalah sektor industri, sektor perdagangan, hotel dan restoran serta sektor jasa -jasa. Penduduk yang menggantungkan hidupnya pada sektor industri menerima pendapatan per kapita jauh di atas (hampir 3 kali lipat) pendapatan per kapita ratarata. Penduduk yang rumah tangganya bersandar pada sektor perdagangan, hotel dan restoran juga menerima pendapatan per kapita lebih tinggi dari rata-rata, meskipun tidak setinggi penghasilan penduduk di sektor industri. Sedangkan penduduk yang penghasilan rumah tangganya berasal dari sektor jasa-jasa, menerima pendapatan yang lebih rendah dari pendapatan per kapita.

Penyusunan Arahan Pemanfaatan Ruang DAS Bahorok

IV -47

LAPORAN ANTARA

Tabel 4.18 Pendapatan Per Kapita Sektoral


PDRB PERKAPITA (RP) 2.644.846,2 1 2.484.705,16 7.085.947,22 2.747.580,28 2.579.308,55 3.159.443,14 2.260.659,64 2.590.145,42 1.101.937,85 2.539.661,87

NO. 1 2 3 4 5 6 7 8 9

SEKTOR
Pertanian Pertambangan dan Penggalian Industri Listrik, Gas dan Air Bersih Konstruksi Perdagangan, Hotel dan Restoran Angkutan dan Komunikasi Keuangan Jasa-jasa JUMLAH

PENDUDUK (JIWA) 34.129 85 71 255 467 2.784 98 637 3.971 42.498

PDRB (RP JUTA) 90.267,26 211,19 502,24 700,6 1.205,77 8.794,56 222,17 1.651,14 4.375,62 107.930,55

Sumber : Hasil Analisa

C. Distribusi Pendapatan Antargolongan Masyarakat Untuk ketimpanga n pendapatan antara golongan kaya dan miskin biasa digunakan gini ratio sebagai ukuran. Semakin tinggi angka gini ratio, maka suatu wilayah dikatakan semakin timpang distribusi pendapatannya. Sebaliknya, semakin kecil gini ratio, maka distribusi pendapatan semakin baik. Tabel 4.18 menunjukkan perkembangan gini ratio dari tahun 2000 sampai tahun 2002. Terlihat bahwa tingkat kemertaan ekonomi semakin membaik, meskipun perbaikan tersebut tidak terlalu besar. Tabel 4.19 Gini Ratio Kabupaten Langkat TAHUN 2000 2001 2002 0,2085 0,1928 0,1936 GINI RATIO

Sumber: Distribusi Pendapatan Penduduk Kabupaten Langkat, 2002

Penyusunan Arahan Pemanfaatan Ruang DAS Bahorok

IV -48

LAPORAN ANTARA

4.6.2.

P erekonomian Wilayah

Perekonomian DAS Bahorok dapat dicerminkan oleh perekonomian Kecamatan Bahorok. Pada bagian sebelumnya telah diberikan paparan yang cukup rinci mengenai profil perekonomian Kecamatan Bahorok dan juga profil perekonomian Kabupaten Langkat. Pada bagian ini akan dilakukan analisis terhadap perekonomian Kecamatan Bahorok, khususnya untuk dua hal. Pertama mengenai peranan sektor-sektor ekonomi, yang akan membahas sektor ekonomi unggulan di Kecamatan Bahorok. Kedua mengenai peranan sektor pariwisata dalam perekonomian Kecamatan Bahorok. Sebagai pembanding dalam analisis ini adalah perekonomian Kabupaten Langkat.

4.6 .3.

Sektor Ekonomi Unggulan Kecamatan Bahorok

Telah disebutkan dalam bagian sebelumnya bahwa perekonomian Kecamatan Bahorok sangat didominasi oleh sektor pertanian. Sektor pertanian memberikan kontribusi sebesar 83,63% terhadap PDRB Kecamatan Langkat. Dengan demikian sektor-sektor ekonomi lainnya hanya memberikan sumbangan kurang dari 17% terhadap PDRB Kecamatan Bahorok. Dari pengamatan sekilas tersebut dapat dikatakan bahwa masyarakat Kecamatan Bahorok hampir seluruhnya menyandarkan sumber penghasilannya dari kegiatan pertanian. Oleh karena itu dapat dikatakan pula bahwa sektor pertanian merupakan sektor unggulan di Kecamatan Bahorok. Tanpa kegiatan pertanian, sumber penghasilan masyarakat akan menyusut menjadi kurang dari 17%. Bagaimana halnya dengan sektor ekonomi lainnya, adakah yang bisa dikategorikan juga sebagai sektor unggulan? Perhitungan tingkat keunggulan suatu sektor dalam suatu wilayah dapat dilakukan dengan metode location quotient (LQ). LQ sektor i (LQi) di Kecamatan Bahorok dapat dirumuskan sebag ai: LQ i = (share sektor i terhadap PDRB Kecamatan Bahorok)/(share sektor i terhadap PDRB Kabupaten Langkat)

Penyusunan Arahan Pemanfaatan Ruang DAS Bahorok

IV -49

LAPORAN ANTARA

Suatu sektor i dikategorikan sebagai sektor unggulan jika LQ i lebih dari satu. Sebaliknya suatu sektor i tidak dikategorikan sebagai unggulan jika LQ i kurang dari satu. Hasil peerhitungan LQ setiap sektor di Kecamatan Bahorok dapat dilihat pada Tabel 4. 2 0.

Tabel 4.20 LQ Sektor-sektor Ekonomi Kecamatan Bahorok Tahun 2002


SHARE PDRB KEC. BAHOROK (%) Pertanian 83,6 1 Pertambangan dan Penggalian 0,2 2 Industri 0,5 3 Listrik, Gas dan Air Bersih 0,6 4 Konstruksi 1,1 5 Perdagangan, Hotel dan Restoran 8,1 6 Angkutan dan Komunikasi 0,2 7 Keuangan 1,5 8 Jasa-jasa 4,1 9 Sumber: diolah dari PDRB NO. SEKTOR SHARE PDRB KAB. LANGKAT (%) 48,34 15,26 14,66 0,41 1,21 10,66 2,24 2,38 4,84

LQ 1,73 0,01 0,03 1,60 0,93 0,76 0,09 0,64 0,84

Dari tabel 4.20 dapat dilihat bahwa nilai LQ yang melebihi satu hanya terdapat pada dua sektor, yakni sektor pertanian dan sektor listrik, gas dan air bersih. Ini berarti hanya dua sektor tersebutlah yang memenuhi kriteria sebagai sektor unggulan di Kecamatan Bahorok. Secara ekonomi dapat dijelaskan bahwa peranan kedua sektor tersebut dalam pembentukan PDRB Kecamatan Bahorok lebih besar dari pada peranan kedua sektor tersebut dalam pembentukan PDRB pada kecamatankecamatan lain di Kabupaten Langkat. Sebaliknya untuk tujuh sektor lainnya, peranannya dalam pembentukan PDRB Kecamatan Bahorok masih lebih rendah dibandingkan dalam pembentukan PDRB di kecamatan lain. Sektor yang paling rendah peranannya adalah sektor pertambangan dan penggalian, sektor industri serta sektor angkutan dan komunikasi. Artinya masih sangat sedikit masyarakat yang menjadikan ketiga sektor tersebut sebagai mata pencaharian utama mereka.

Penyusunan Arahan Pemanfaatan Ruang DAS Bahorok

IV -50

LAPORAN ANTARA

Rendahnya peranan sektor pertambangan dan penggalian disebabkan oleh potensi alam yang kurang mengandung bahan galian dan pertambangan. Sedangkan rendahnya peranan sektor industri dan sektor angkutan dan komunikasi yang dibarengi oleh tingginya peranan sektor pertanian, menunjukkan bahwa kegiatan ekonomi masyarakat Bahorok masih berada pada tahap tradisional. Pada tahap ini masyarakat pada umumnya belum memiliki kemampuan untuk menjalankan kegiatan produksi sekunder dan tertier, melainkan baru mampu menguasai kegiatan produksi primer. Sebagai wilayah pengembangan pariwisata tentu saja hal ini perlu mendapat perhatian. Pengembangan pariwisata perlu diikuti oleh pengembangan kemampuan masyarakat dalam mengelola kegiatankegiatan industri dan pengangkutan, sebagai kegiatan yang sangat erat hubungannya dengan kegiatan pariwisata itu sendiri.

A. Peranan Sektor Pariwisata Sektor pariwisata merupakan kegiatan ekonomi yang memberikan pelayanan langsumg kepada para wisatawan. Oleh karena itu sektor pariwisata ini terdiri da ri banyak sektor. Sektor-sektor pembentuk sektor pariwisata adalah sektor perdagangan, hotel dan restoran, sektor prngangkutan dan sektor jasa-jasa kemasyarakatan, hiburan dan rekreasi. Dalam sistem PDRB Kecamatan Bahorok sektor-sektor tersebut terdapat pada sektor perdagangan, hotel dan restoran (sektor no. 6), sektor angkutan dan komunikasi (no. 7) dan sektor jasa-jasa (no. 9). Jika ketiga sektor di atas diagregasikan menjadi satu sektor yang disebut sektor pariwisata, kemudian dilakukan perhitungan LQ, maka hasilnya bisa dilihat pada tabel 402. Dalam tabel tersebut perekonomian tidak lagi terdiri dari 9 sektor, melainkan 7 sektor, karena terdapat 3 sektor yang diagregasikan menjadi satu sektor saja.

Penyusunan Arahan Pemanfaatan Ruang DAS Bahorok

IV -51

LAPORAN ANTARA

Tabel 4.21 LQ Sektor Pariwisata Tahun 2002


SHARE PDRB KEC. BAHOROK (%) 83,63 0,20 0,47 0,65 1,12 1,53 12,41 SHARE PDRB KAB. LANGKAT (%) 48,34 15,26 14,66 0,41 1,21 2,38 17,75

NO. 1

SEKTOR

LQ 1,73 0,01 0,03 1,60 0,93 0,64 0,70

Pertanian Pertambangan dan 2 Penggalian 3 Industri 4 Listrik, Gas dan Air Bersih 5 Konstruksi 8 Keuangan 6,7,9 Pariwisata Sumber: diolah dari data PDRB

Terlihat dari tabel 4.21 bahwa sektor pariwisata merupakan penyumbang terbesar kedua (setelah sektor pertanian) dalam pembentukaan PDRB Kecamata Bahorok. Akan tetapi nilai LQ sektor pariwisata hanya sebesar 0,70, kurang dari satu. Ini berarti sektor pariwisata bukan merupakan sektor unggulan di Kecamatan Bahorok. Secara ekonomi dapat dijelaskan bahwa sumbangan sektor pariwisata terhadap PDRB Kecamatan Bahorok tidak sebesar sumbangannya pada PDRB kecamatan-kecamatan yang lain di Kabupaten Langkat. Lebih jauh lagi dapat diartikan bahwa perhatian masyarakat dan juga pemerintah Kecamatan Bahorok terhadap sektor pariwisata masih kurang, dibandingkan perhatian masyarakat di kecamatan-kecamatan lain. Implikasi dari kenyataan ini adalah bahwa jika sektor pariwisata merupakan harapan besar bagi masyarakat Bahorok, maka harapan tersebut belum diwujudkan dalam kegiatan ekonomi sehari-hari. Konsentrasi kegiatan ekonomi sehari-hari masih tertuju pada sektor pertanian. Masih diperlukan peningkatan keterampilan bagi masyarakat untuk mengembangkan sektor pariwisata di Kecamatan Bahorok.

B. Analisis Perekonomian tanpa Memperhitungkan Sektor Pertanian Analisis ekonomi di atas dilakukan dengan kondisi perekonomian Kecamatan Bahorok yang 83,63% terdiri dari sektor pertanian. Bagaimanapun cara analisisnyakarena begitu tingginya peranan sektor

Penyusunan Arahan Pemanfaatan Ruang DAS Bahorok

IV -52

LAPORAN ANTARA

pertanianmaka hasilnya selalu menunjukkan keunggulan sektor pertanian, sehingga sektor lainnya seo lah tidak mempunyai arti kecuali sektor listrik, gas dan air bersih. Pada bagian ini akan dilakukan analisis terhadap sektor-sektor di luar sektor pertanian. Metode yang digunakan masih tetap metode LQ, hanya saja sektor pertanian dikeluarkan dari perhitu ngan. Jika tidak memperhatikan sektor pertanian, sektor apa sajakah yang merupakan sektor unggulan di Kecamatan Bahorok? Hasilnya bisa dilihat pada tabel 4.22 dan 4.23. Tabel 4.22 LQ Sektor-sektor Ekonomi Tanpa Pertanian, Tahun 2002
SHARE PDRB SHARE PDRB KEC. KAB. LANGKAT BAHOROK (%) (%) 1,20 2,84 3,97 6,83 49,79 1,26 9,35 24,77 29,53 28,37 0,79 2,33 20,64 4,34 4,62 9,38

NO. 2 3 4 5 6 7 8 9

SEKTOR Pertambangan dan Penggalian Industri Listrik, Gas dan Air Bersih Konstruksi Perdagangan, Hotel dan Restoran Angkutan dan Komunikasi Keuangan Jasa-jasa

LQ 0,04 0,10 5,04 2,92 2,41 0,29 2,03 2,64

Sumber: diolah dari data PDRB

Dari tabel 4. 2 2 dapat diketahui bahwa di luar sektor pertanian, maka terdapat beberapa sektor unggulan selain sektor listrik, gas dan air bersih. Sektor-sektor tersebut berturut-turut adalah sektor konstruksi, sektor perdagangan, hotel dan restoran, sektor keuangan dan sektor jasa-jasa. Sekali lagi terlihat di sini betapa lemahnya peranan sektor pertambangan dan penggalian, sektor industri dan sektor angkutan dan komunikasi dalam kegiatan ekonomi Kecamatan Bahorok. Ke depan pengembangan sektor industri dan sektor angkutan dan komunikasi merupakan upaya besar yang perlu dilakukan di Kecamatan Bahorok.

Penyusunan Arahan Pemanfaatan Ruang DAS Bahorok

IV -53

LAPORAN ANTARA

Tabel 4.23 LQ Sektor Pariwis ata tanpa Pertanian, Tahun 2002


NO. 2 3 4 5 8 SEKTOR Pertambangan dan Penggalian Industri Listrik, Gas dan Air Bersih Konstruksi SHARE PDRB KEC. BAHOROK (%) 1,20 2,84 3,97 6,83 9,35 75,82 SHARE PDRB KAB. LANGKAT (%) 29,53 28,37 0,79 2,33 4,62 34,36 LQ 0,04 0,10 5,04 2,92 2,03 2,21

Keuangan 6,7,9 Pariwisata

Sumber: diolah dari data PDRB

Selanjutnya, peranan sektor pariwisata dapat dilihat dalam tabel 4. 2 3. Di luar sektor pertanian ternyata sektor pariwisata dapat dikategorikan sebagai sektor unggulan di Kecamatan Bahorok, dengan nilai LQ sebesar 2,21.

4.7

ANALISIS PRASARANA WILAYAH


Kajian analisis prasarana wilayah meliputi prasarana air bersih, prasarana jalan dan prasarana irigasi.

4.7.1.

Air Bersih

Kebutuhan air bersih untuk keperluan air minum dan memasak di DAS Bahorok pada umumnya bersumber dari sumur/perigi dan mata air. Demikian pula kbutuhan air bersih untuk mandi dan mencuci juga pada umumnya juga bersumber dari sumur/perigi dan mata air serta sungai. Kebutuhan air bersih di wilayah perencanaan dapat dikelompokkan atas kegiatan yang terdapat dikawasan tersebut, yaitu permukiman, pariwisata, jasa perdagangan, pertanian,dan fasilitas umum. Asumsi/standar kebutuhan air bersih untuk masing-masing kegiatan adalah sebagai berikut : Permukiman 19,6 m 3/ha/hari Pariwisata 4,00 m 3/ha/hari Jasa perdagangan 7,39 m 3/ha/hari

Penyusunan Arahan Pemanfaatan Ruang DAS Bahorok

IV -54

LAPORAN ANTARA

Pertanian Fasilitas Umum

10,0 m 3/ha/hari 7,37 m 3/ha/hari

Berdasarkan standar kebutuhan air tersebut, maka kebutuhan air bersih untuk wilayah perencanaan sampai dengan tahun 2009 adalah sebesar 7.985,97 m3/hari. Kebutuhan air bersih untuk masa mendatang tersebut masih dapat dipenuhi dari sumber air yang digunakan pada saat ini karena kawasan ini berada pada DAS Bahorok yang kondisi hidrologinya masih baik.

4.7.2.

P rasarana Jalan

Jaringan jalan pada suatu kawasan sangat penting keberadaannya karena jaringan jalan inilah yang dapat menghubungkan suatu kawasan dengan kawasan lainnya sehingga dapat meningkatkan aksesibilitas suatu kawasan. Untuk mengetahui tingkat aksesibilitas suatu kawasan maka dapat dihitung indeks aksesibilitas suatu kawasan yang diperoleh dari perbandingan antara panjang jalan dengan luas wilayahnya. Untuk wilayah Kabupaten Langkat, indeks aksesibilitas yang paling tinggi adalah Kecamatan Stabat karena merupakan ibukota Kabupaten Langkat dan indeks aksesibilitas Kecamatan Bahorok relatif kecil yaitu hanya 0,086 yang berarti Kecamatan Bahorok mempunyai aksesibilitas yang masih sangat kurang dan masih memerlukan pembangunan jaringan jalan baru untuk di kawasan ini. Secara lebih jelas mengenai nilai indeks aksesibilitas Kabupaten Langkat pada tahun 2002 dapat dilihat pada tabel berikut. 4.7.3.

I rigasi

Salah satu penggunaan lahan yang cukup dominan di wilayah perencanaan adalah kawasan pertanian dengan luas lahan sawah di DAS Bahorok pada saat ini seluas 872,01 hektar. Dengan mengacu pada kontribusi sektor pertanian di Kecamatan Bahorok sebesar 83,63%, maka pengembangan sektor pertanian di kawasan ini harus didukung pengembangannya dengan penyediaan prasaran a pengairan/irigasi yang memadai.

Penyusunan Arahan Pemanfaatan Ruang DAS Bahorok

IV -55

LAPORAN ANTARA

Dengan adanya peristiwa banjir bandang pada Bulan November tahun 2003 yang lalu dimana telah merusak beberapa tanggul irigasi sehingga menggangu kegiatan pertanian di kawasanini, maka perlu segera dilakukan kegiatan perb aikan. Hal ini selain untuk meningkatkan hasil pertanian sebagai sektor basis di kawasan ini juga untuk mengatasi masalah pengangguran karena sebagian besar penduduk bekerja dan bergantung pada sektor ini. Tabel 4.24 Indeks Aksesibilitas Kabupaten Langkat Tahun 2002
NO 1 2 3 4 5 6 7 8 9 10 11 12 13 14 15 16 17 18 19 20 KECAMATAN Bohorok Salapian Sei Bingei Kuala Selesai Binjai Stabat Wampu Batang Serangan Sawit Seberang Padang Tualang Hinai Secanggang Tanjung Pura Gebang Babalan Sei Lapan Brandan Barat Besitang Pangkalan Susu KEPADATAN (JIWA/KM2) 0,44 1,07 1,31 2,05 3,79 7,17 7,48 3,01 0,36 0,60 1,64 4,21 2,74 3,86 2,73 5,35 1,64 2,16 0,69 1,73 INDEKS AKSESIBILITAS (KM/KM2) 0,086 0,276 0,336 0,377 0,579 0,674 2,004 0,094 0,065 0,089 0,201 0,542 0,512 0,705 0,478 0,431 0,109 0,134 0,165 0,214 INDEKS KINERJA BERDASARKAN AKSESIBILITAS 1 3 3 3 5 5 5 2 1 2 2 4 4 5 4 4 2 2 2 2 KETERANGAN Sangat kurang Sedang Sedang Sedang Sangat baik Sangat baik Sangat baik Kurang Sangat kurang Kurang Kurang Baik Baik Sangat baik Baik Baik Kurang Kurang Kurang Kurang Kurang

Kab. Langkat 1,51 0,243 2 Sumber : Diolah dari data Kabupaten Langkat Dalam Angka Tahun 2002 Keterangan : < 0.090 0.091 - 0.250 0.251 - 0.410 0.411 - 0.570 > 0.571 1 2 3 4 5 Sangat kurang Kurang Sedang Baik Sangat baik

Penyusunan Arahan Pemanfaatan Ruang DAS Bahorok

IV -56

LAPORAN ANTARA

4.7.4.

Sarana Perekonomian

Di Kawasan DAS Bahorok terdapat kelompok pertokoan yang terdapat di Desa Sampe Raya dan Desa Bukit Lawang. Untu k penduduk Desa Timbang Lawang yang hendak berbelanja di pertokoan terdekat mesti menempuh jarak sejauh 4 kilometer dengan waktu tempuh kurang lebih 15 menit. Selain kelompok pertokoan, satu buah pasar dengan bangunan permanen juga terdapat di Desa Sampe Raya. Seperti telah disebutkan sebelumnya bahwa penduduk Desa Timbang Lawan untuk berbelanja ke pasar terdekat mesti menempuh jarak sejauh 4 kilometer dengan jarak tempuh sekitar 15 menit, sedangkan untuk penduduk Desa Bukit Lawang kalau mau berbelanja ke pasar terdekat mesti menempuh jarak 6 kilometer dengan jarak tempuh sekitar setengah jam. Selain kelompok pertokoaan dan pasar permanen, di DAS Kawasan Bahorok juga terdapat satu buah pasar temporer (tanpa bangunan permanen) yang terdapat Desa Bukit Lawang serta sejumlah restoran/rumah makan/kedai makan dan minum juga terdapat dikawasan ini, dimana Desa Bukit Lawang mempunyai jumlah restoran/rumah makan/kedai makan dan minum yang paling banyak karena Desa Bukit Lawang merupakan daerah tujuan wisata. Untuk mendukung pengembangan kegiatan di kawasan DAS Bahorok seperti kegiatan pertanian, perkebunan, permukiman dan pariwisata, maka perlu dikembangkan sejumlah sarana perekonomian yang sangat diperlukan untuk mendukung kegiatan koleksi dan distribusi hasil pertanian di kawasan ini, juga sebagai tempat berbelanja kebutuhan sehari-hari bagi penduduk di kawasan ini, serta sebagai tempat jual beli barang cinderamata bagi para wisatawan yang berkunjung di kawasan ini.

4.8

ANALISIS DAYA DUKUNG LAHAN


Untuk menghitung besarnya daya dukung lahan DAS Bahorok digunakan pendekatan dari Bayliss-Smith (1974) dengan persamaan umum sebagai berikut:

Penyusunan Arahan Pemanfaatan Ruang DAS Bahorok

IV -57

LAPORAN ANTARA

Asi .Ysi C si K? R. p.k


Dimana
i = 1, 2, 3, 4, 5, 6 K = daya dukung lahan (orang/hektar) A si = luas lahan yang ditanami dengan jenis-jenis tanaman pa ngan (Ha), yang meliputi padi, jagung, ubi kayu, kedelai, kacang tanah, kacang hijau. Y si = produksi netto jenis-jenis tanaman pangan Si (kkal/ha/tahun) Csi = tingkat konsumsi minimum untuk masing-masing jenis tanaman pangan dalam menu penduduk (% dari kkal total) R = kebutuhan kalori rata-rata per orang (kkal/tahun) p = faktor koreksi terhadap jumlah penduduk yang mempunyai mata pencaharian di luar sektor pertanian. Besarnya nilai p ini dapat dihitung dengan :
p = (jumlah penduduk yang bermata penca harian 100%) / (jumlah penduduk yang mempunyai mata pencarian di sektor pertanian %)

k
k

= faktor koreksi terhadap konsumsi penduduk di luar sektor pertanian. Besarnya nilai k dapat dihitung dengan :
= (jumlah konsumsi di luar sektor pertanian Rp/thn) / (jumlah konsumsi dari sektor pertanian Rp/thn)

Sebelum menggunakan rumus perhitungan sebagai berikut :

tersebut,

dilakukan

perhitungan-

a. Luas lahan, produksi netto dan tingkat konsumsi minimum untuk masing-masing jenis tanaman pangan dalam menu pen duduk .
Tabel 4.25 Produktivitas Lahan, Produksi Netto dan Tingkat Konsumsi Minimum di DAS Bahorok
LUAS LAHAN (HA) 1.531 494 7 2 22 2 PRODUKSI (TON) 7.953 2.285 87 3 27 2 TINGKAT KONSUMSI PRODUKSI MINIMUM DALAM MENU NETTO PENDUDUK (%) (KKAL/HA/TH) 7.200.000 2.900.000 4.000.000 2.700.000 2.700.000 2.700.000 71, 9 9,7 8,3 6,2 4,4 4,2

NO 1 2 3 4 5 6

KOMODITAS Padi Jagung Ubi kayu Kedelei Kacang tanah Kacang hijau

Sumber : Kabupaten Langkat Dalam Angka Tahun 2001 dan 2002, Hasil Perhitungan Tim,2004

Penyusunan Arahan Pemanfaatan Ruang DAS Bahorok

IV -58

LAPORAN ANTARA

Dari tabel di atas terlihat bahwa produksi netto jenis tanaman pangan dari masing-masing jenis tanaman pertanian, yang terbesar adalah tanaman padi yaitu 7.200.000 kkal/ha/th. Demikian pula halnya dengan tingkat konsumsi minimum dalam menu penduduk dari jen is tanaman pangan, jenis tanaman padi mempunyai prosentase yang jauh lebih besar dibandingkan dengan prosentase jenis tanaman lainnya. Hal ini berarti bahwa beras merupakan sumber kalori yang terbesar dalam menu penduduk di DAS Bahorok.

b. Kebutuhan kalori rata-rata per orang (kkal/tahun) Rata-rata konsumsi pangan manusia Indonesia pada tahun 2000 diarahkan untuk memenuhi standar kecukupan pangan dan gizi sebesar minimal 2.300 kalori/kapita/hari, sedangkan untuk kebutuhan kalori ratarata perkapita di Kecamatan Bahorok adalah sebesar 2.198,63 kalori/kapita/hari atau setara dengan 802,49981 kkal/kapita/tahun. Secara rinci mengenai perhitungan kebutuhan kalori penduduk di Kecamatan Bahorok dapat dilihat pada tabel berikut.

Tabel 4.26 Rata-rata Kebutuhan Kalori Penduduk di Kecamatan Bahorok Tahun 2002
KELOMPOK USIA (TAHUN) < 10 10 14 15 19 20 54 > 57 Jumlah Rata-rata (kal/orang/hari) Rata-rata (kal/orang/tahun) Sumber : Hasil Perhitungan Tim, 2004 JUMLAH PENDUDUK 2.536 1.361 1.191 4.318 686 10.092 KEBUTUHAN KALORI/KAPITA/HARI 1.395 2.050 2.500 2.650 2.100 JUMLAH KEBUTUHAN KALORI/HARI 3.537.720 2.790.050 2.977.500 11.442.700 1.440.600 22.188.570 2.198,63 802.499,81

NO 1 2 3 4 5

Penyusunan Arahan Pemanfaatan Ruang DAS Bahorok

IV -59

LAPORAN ANTARA

c. Faktor koreksi terhadap jumlah penduduk Dari data Potensi Desa hasil Sensus penduduk tahun 2000 diiketahui bahwa jumlah rumah tangga petani di Kecamatan Bahorok sebanyak 5.431 orang dan jumlah non petani sebanyak 36.798 orang, maka besarnya faktor koreksi terhadap jumlah penduduk atau nilai p adalah :

p?

5431 ? 36798 ? 7 ,775548 5431

d. Faktor koreksi terhadap konsumsi penduduk Dengan menggunakan asumsi bahwa besarnya jumlah konsumsi di luar sektor pertanian Rp 547.500 per tahun dan jumlah konsumsi dari sektor pertanian Rp 2.098.750 per tahun, maka faktor koreksi terhadap konsumsi penduduk atau nilai k adalah :

k?

547.500 ? 0,26 2.098.750

Dari hasil perhitungan di atas, maka dapat dihitung besarnya daya dukung lahan (K) yaitu sebesar 0,0736607 orang/ha. Mengingat luas wilayah DAS Bahorok sebesar 23.386,99 ha, maka besarnya daya dukung lahan DAS Bahorok adalah sebesar sebesar 17.227 orang. Angka tersebut menunjukkan besarnya jumlah penduduk yang dapat didukung atau ditopang oleh suatu satuan luas sumberdaya lahan dan lingkungan, sesuai dengan teknologi dan pengelolaan usaha tani yang dilakukan di DAS Bahorok adalah sebesar 17.227 orang. Angka tersebut akan dicapai pada tahun 2065 atau dalam kurun waktu kurang lebih 63 tahun kedepan bila dilakukan perhitungan dengan menggunakan asumsi yang dipergunakan dalam melakukan perhitungan proyeksi penduduk DAS Bahorok.

Penyusunan Arahan Pemanfaatan Ruang DAS Bahorok

IV -60

LAPORAN ANTARA

4.9

ANALISIS KESESUAIAN RENCANA TATA RUANG


Analisis kesesuaian rencana tata ruang bertujuan membandingkan antara arahan penggunaan lahan berdasarkan RTRW DAS Bahorok (didekati dari RTRW Kab.Langkat) dengan kondisi penggunaan lahan saat ini. Penggu naan lahan saat ini (tahun 2004) diperoleh analisa citralansad 2004. Penggunaan lahan DAS Bahorok tahun 2004 dapat dilihat pada tabel berikut. dasarkan analisa-analisa potensi bencana dan potensi pengembangan lahan budidaya DAS Bahorok Rencana tata ruang DAS Bahorok didekati dari Rencana Tata Ruang Kabupaten Langkat, karena rencana tata ruang DAS Bahorok belum ada. Tabel 4.27 Penggunaan Lahan Eksisting DAS Bahorok Tahun 2004 LUAS (Ha) 19,559.90 1,1 08.30 374.20 8.18

NO. 1 2 3 4 5 6 7

PENGGUNAAN LAHAN Hutan Primer Kebun Kelapa Sawit Lokasi Relokasi Permukiman Longsor Sawah Semak/Belukar Total

% 86.31% 4.89% 1.65% 0.04%

179.80 0.79% 807.23 3.56% 623.85 2.75% 22,661.46 100.00%

Berdasarkan data tersebut dapat dilihat bahwa penggunaan lahan utama DAS Bahorok merupakan hutan primer (86.31%). Hanya sebagian kecil yang diperuntukan untuk kawasan permukiman (0.04%). Berikutnya dianalisa lagi perubahan penggunaan lahan berdasarkan RTRW DAS Bahorok dedngan kondisi eksisting tahun 2004. Hasilnya dapat dilihat pada tabel berikut.

Penyusunan Arahan Pemanfaatan Ruang DAS Bahorok

IV -61

LAPORAN ANTARA

Gambar 4.20 Peta Analisa Kesesuaian RTRW vs Penggunaan Lahan

Penyusunan Arahan Pemanfaatan Ruang DAS Bahorok

IV -62

LAPORAN ANTARA

Tabel 4.28 Perubahan Penggunaan Lahan Berdasarkan RTRW DAS Bahorok Tahun 2002
PENGGUNAAN LAHAN RTRW EKSISTING Hutan Kebun Hutan Kelapa Sawit Hutan Lahan Terbuka Hutan Longsor Hutan Sawah Hutan Semak Kebun Hutan Kebun Kelapa Sawit Kebun Sawah Kebun Semak Kebun Campur Kebun Total LUAS (HA) 291.70 1.10 8.10 179.80 0.31 580.01 62.07 124.75 806.92 45.60 321.80 2,422.16

NO 1 2 3 4 5 6 7 8 9 10 11

% 12.04% 0.05% 0.33% 7.42% 0.01% 23.95% 2.56% 5.15% 33.31% 1.88% 13.29% 100%

Terjadi perubahan guna lahan hutan menjadi kebun sebesar 12.04% dari total perubahan guna lahan. Sedangkan perubahan guna lahan lahan total hanya 10,16 %. Artinya tingkat perubahan guna lahan menjadi kebun sangat kecil sekali. Disamping itu juga ada perubahan guna lahan kebun menjadi hutan sebesar 2,5%. Tabel 4.29 Kecenderungan Perubahan Penggunaan Lahan DAS Bahorok Tahun 2002-2004
PENGGUNAAN LAHAN Tahun 2002 Tahun 2004 Hutan Semak Kebun Kelapa Sawit Kebun Sawah Kelapa Sawit Kebun Kelapa Sawit Lahan Terbuka Sawah Kebun Sawah Kelapa Sawit Sawah Semak Semak Huutan Total LUAS (Ha) 39.20 49.90 71.50 37.10 1.90 116.07 7.10 14.60 111.80 449.17

NO 1 2 3 4 5 6 7 8 9

% 8.73% 11.11% 15.92% 8.26% 0.42% 25.84% 1.58% 3.25% 24.89% 100%

Penyusunan Arahan Pemanfaatan Ruang DAS Bahorok

IV -63

LAPORAN ANTARA

Begitu pun dengan kecenderungan perubahan guna lahan tahun 20022004 tidak terlihat adanya perubahan guna lahan hutan menjadi budidaya secara signifikan. Berdasarkan kajian di atas, maka dapat disim pulkan potensi dan permasalahan pengembangan DAS Bahorok, yang dapat dilihat pada gambar berikut.

4.10

ANALISIS KELEMBAGAAN

Salah satu indikator yang penting dimonitor dan evaluasi dalam kelembagaan pengelolaan DPS adalah KISS (Koordinasi, Integrasi, Sinkronisasi dan Simplipikasi) karena pengelolaan DPS melibatkan multi stakeholders, multi sektor dan multi disiplin. Parameter yang bisa digunakan diantaranya ada tidaknya konflik yang terjadi. Hal lain yang perlu dievaluasi dalam kelembagaan adalah keberdayaan lembaga masyarakat lokal (adat) dalam kegiatan pengelolaan DPS dan ketergantungan masyarakat kepada pemerintah. Evaluasi terhadap hal tersebut bisa mencerminkan kemampuan dan kemandirian masyarakat dan tingkat intervensi pemerintah dalam kegiatan pengelol a an DPS. Sebelum lebih jauh pada analisis kelembangaan pengelolaan dan pengembangan DAS Bahorok, maka terlebih dahulu akan diuraikan tentang lembaga-lembaga/instansi yang terlibat dalam pengelolaan dan pengembangan DAS Bahorok. Lembaga-lembaga tersebut adalah: 1 . Badan Perencana Pembangunan Daerah : ? Sebagai koordinator dalam pengendalian dan pengembangan DAS Bahorok, bekerjasama dengan instansi-instansi terkait. Merumuskan arahan, kebijakan dan strategi pemanfaatan ruang DAS Bahorok Merumuskan arahan, kebijakan, strategi dan program pembangunan prasaranan wilayah yang meliput : irigasi, permukiman, pariwista,

2 . Dinas Permukiman Prasarana Wilayah

: &

Penyusunan Arahan Pemanfaatan Ruang DAS Bahorok

IV -64

LAPORAN ANTARA

jaringan jalan, bekerjasama dengan instansi terkait 3 . Dinas Pengendalian Dampak Lingkungan : ? Merumuskan kebijakan, strategi, dan program dalam pencegahan dan pengendalian polusi, dan rehabilitasi kualitas lingkungan Merumuksan arahan, strategi, kebijakan dan program dalam pengelolaan sumber daya air, termasuk dalam hal ini : masalah irigasi, dan penanganan dan penanggulangan bencana banjir Menentukan tataguna hutan sesuai dengan fungsi dan kondisi fisik hutan, serta merumuskan kebijakan dalam pelestarian hutan serta ketentuanketnetuan teknis dan non teknis bagi aktifitas di dalam kawasan hutan. Merumuskan arahan, kebijakan, strategi, dan program pengembangan sektor parisata, sesuai dengan arahan dan kebijakan sektor-sektor lainnya. Secara keruangan dinas pertanian tidak begitu mempunyai peranan penting dalam pemanfaatan lahan, tetapi lebih dititik beratkan pada peningkatan produktifitas pertanian. Sama halnya dengan Dinas Pertanian, dinas perkebunan lebih ditekankan pada peningkatan produktifitas hutan sesuai dengan arahan pemanfaatan lahan yang telah ditetapkan. Melakukan upaya-upaya konservasi hutan, penelitian tentang potensi hutan serta pemberdayaan masyarakat hutan.

4 . Dinas Pengairan : / Balai PSDA

5 . Dinas Kehutanan

6 . Dinas Pariwisata

7 . Dinas Pertanian

8 . Dinas Perkebunan

9 . Unit Management Leuser (UML)

Penyusunan Arahan Pemanfaatan Ruang DAS Bahorok

IV -65

LAPORAN ANTARA

Begitu banyak instansi/lembaga yang terlibat dalam pengembangan dan pengelolaan DAS Bahorok, sekilas terlihat seolah -olah masing-masing sudah mempunyai tugas pokok masing-masing yang saling terintegrasi satu dan lainnya. Permasalahan koordinasi, integrasi, sinkronisasi, dan simplifikasi akan dapat dilihat jika dapat diindentifikasi permasalahan dalam pemanfaatan ruang sebelum terjadinya bencana dan penganan pasca bencana yang dilakukan oleh berbagai instansi tersebut. Berikut penjelasannya. Tabel 4. 30 Permasalahan Kelembaggaan Pengelola an DAS Bahorok
NO. 1. PERMASALAHAN Banjir bandang terjadi karena adanya bendungan alam di hulu DAS Bahorok ANALISA PENYEBAB PER MASALAHAN

? Karakteristik fisik (geologi & hidrologi) DAS

Bahorok yang sangat labil dapat diketahui oleh instansi terkait (Balai PSDA, Dinas Pengairan, Distamben, UML, Dinas Kehutanan) sesuai dengan tugas dan fungsi instansi tersebut, tetapi intansi-instansi tersebut kurang tanggap terhadap kemungkinan bencana banjir bandang ini, yang sebetulnya dapat diperkirakan kemungkingkan terjadinya banjir bandang. Upaya-upaya dini yang seharusnya bisa dilakukan adalah pemantauan hulu DAS Bahorok atau pemantauan tingkat curah hujan secara kontinu di hulu dan deebit air di hilir. karena tidak adanya pemantauan dan tindakan penataan bangunan di sepanjang sempadan sungai Bahorok, yang merupakan kawasan linduung setempat yang bebas dari bangunan. hidup di kawasan sungai terhadap strategistrategi penyelamatan diri jika ada bahaya banjir ataupun pemahaman terhadap gejala alam yang sebagai tanda-tanda musibah banjir akan terjadi. material kayu yang dibawa hanyut banjir bandang ke hilir DAS Bahorok. Kalau ada sinkronisasi tugas, maka material kayu yang bernilai tinggi dapat dijadikan sumber pendanaan dalam penanganan korban dan sarana prasarana umum yang hancur.

2.

Bencana banjir bandang menelan korban jiwa dan harta yang cukup tinggi

? Permasalahannya

? Tidak adanya pemberdayaan masyarakat yang

3.

Terjadi konflik dalam pembersihan material banjir, terutama kayu, karena bernilai tinggi Penempatan kembali permukiman

? Terjadi perebutan hak pemilikan terhadap

4.

Sampai saat ini penempatan kembali permukiman penduduk belum terlaksana, karena belum tercapai kesepakatan baik antar instansi

Penyusunan Arahan Pemanfaatan Ruang DAS Bahorok

IV -66

LAPORAN ANTARA

penduduk terbengkalai

juga masyarakat dalam penentuan lokasi permukiman , juga spesifikasi bangunan, dan kriteria penduduk yang mendapatkan ganti rugi permukiman.

5.

Belum terlaksana pembangunan kembali prasarana dan sarana umum yang rusak

Sarana dan prasarana umum baik yang menopang kegiatan ekonomi penduduk (irigasi, jalan, jaringan listrik, telepon) juga yang menunjang kegiatan sosial penduduk (sekolah, masjid, puskesmas) belum dibangun.

Pengelolaan DAS Bahorok hingga kini masih dilakukan oleh beberapa instansi yang terpisah -pisah dan belum nampak adanya upaya penangan an yang terpadu dalam pengelolaan DAS Bahorok. Berdasarkan hasil diskusi dengan Dinas Pengairan Propinsi Sumatera Utara dapat disimpulkan bahwa permasalahan pengelolaan DAS di Sumatera Utara umumnya dan juga DAS Bahorok Khususnya adalah sebagai berikut tid ak adanya koordinasi yang jelas antara berbagai instansi terkait dalam pengelolaan sumber daya air sehingga menimbulkan kebijakan yang tumpang tindih. Kenyataan ini menyiratkan perlu adanya peningkatan pemahaman yang seksama atas konsep daerah pengaliran sungai (DPS) sebagai suatu ekosistem agar pengelolaan dan penanganan DAS Bahorok dapat dilakukan secara terpadu ( integrated ) dan menyeluruh.

Tabel 4 .31 Analisis Kelembagaan Pengeolaan DAS Bahorok (KISS= Koordinasi , Integrasi, Sinkronisasi dan Simplifikasi)
NO 1 INDIKATOR Koordinasi ? ANALISIS KELEMBAGAAN KISS Sejumlahyibvvvvvvv kegiatan baik itu kegiatan fisik ataupun non fisik yang terkait dengan pengelolaan DAS Bahorok dilaksanakan oleh berbagai instansi, misalnya : Kimpraswil (relokasi perumahan), Kehutunan (konservasi hutan), Perkebunan, Pertanian, Dinas Pengairan (Pengelolaan DAS dan Irigasi), Dinas Pertambangan & Energi. Dimana masing -masing instansi tersebut mempunyai pendekatan yang berbeda dalam pengelolaan DAS sesuai dengan bidang/sektor nya masing-masing, baik dalam lingkup perencanaan maupun pembangunan.

Penyusunan Arahan Pemanfaatan Ruang DAS Bahorok

IV -67

LAPORAN ANTARA

Integrasi

Sinkronisasi

Simplifikasi

? ?

Integrasi dalam pengembangan kawasan ekosistin DAS Bahorok sangat kurang baik, dapat dilihat dari benturan-benturan kebijakan satu instansi dengan pengembangan di lapangan yang terjadi. Misalnya : pengembangan kawasan wisata dan permukiman di bantaran sungai, pemindahan alur sungai. Integrasi pasca bencana juga dinilai kurang baik, karena sampai saat ini permasalahan penempatan kembali korban bencana juga belum ada kesepakatan dan korban masih berada di tempat pengungsian. Dan pada awal terjadinya bencana saling tuding antar instansi tentang penyebab banjir juga terjadi. Berdasarkan tinjauan lapangan kawasan DAS Bahorok dapat dilihat bahwa sinkronisasi antara kebijakan berbagai instansi kurang baik. Misalnya : dalam pemberdayaan masyarakat tentang pengelolaan DAS dan penanggulangan bencana jelas-jelas tidak terlihat dalam hal ini. Jumlah lembaga/instansi yang terkait dalam pengelolaan DAS Bahorok cukup banyak dan masih terpisah-pisah. Sampai saat ini belum nampak adanya upaya untuk membentuk sistem kelembagaan yang terpadu. Ada wacana pembentukan badan otorita pengembangan kawasan wisata Bukit Lawang tetapi bagaimana kelanjutannya tidak kelihatan di lapangan .

Sumber : Hasil Pengamatan Lapangan

Berdasarkan analisis kelembagaan di atas, maka perlu dilakukan pembenahan sistim kelembagaan pengembangan DAS Bahorok kedepannya, karena di satu sisi kawasan ini mempunyai potensi ekonomi tinggi bagi masyarakat setempat, di sisi lain juga mempunyai potensi bencana alam yang dapat memporak porandakan kehidupan masyarakat setempat.

4.11

K ESIMPULAN POTENSI DAN PERMASALAH DAS BAHOROK

Berdasarkan hasil analisis di atas, yang meliputi analisis daerah potensi rawan bencana longsor, potensi bencana banjir, analisis neraca air, analisis kependudukan, analisis sosial ekonomi, analisis kesesuaian

Penyusunan Arahan Pemanfaatan Ruang DAS Bahorok

IV -68

LAPORAN ANTARA

pengembangan lahan, analisis daya dukung lahan dan analisis kelembagaan, maka dapat ditarik beberapa kesimpulan potensi dan permasalahan pengembangan DAS Bahorok yang dapat dilihat pada gambar berikut.

4.12

ANALISIS KINERJA DAS BAHOROK

Peristiwa bencana alam seperti longsor, banjir dan kekeringan yang sering melanda di berbagai wilayah di Indonesia, selain disebabkan oleh faktor alam juga oleh kerusakan Daerah Aliran Sungai (DAS) nya. Saat ini alih fungsi lahan yang menjadi kambing hitam atau faktor utama penyebab terjadinya bencana alam. Oleh karena itu perlu adanya pencegahan alih fungsi lahan hutan dan mengembalikan fungsi daerah hulu dan sungai. Dengan adanya tindakan nyata dari semua pihak terhadap kelestarian DAS maka kerugian material maupun korban jiwa dapat dihindarkan. Selain itu mitigasi terhadap bencana alam sangat diperlukan. Berdasarkan hal di atas maka s udah saatnya diperlukan suatu arahan pemanfaatan ruang yang berbasiskan ekosistem DAS. Sebagai dasar untuk melakukan penyusunan arahan tersebut maka diperlukan suatu analisis terhadap kinerja atau kondisi aktual DAS pada saat ini. 4.12.1

I ndeks Kinerja DAS Bahorok

Untuk analisis suatu kinerja maka diperlukan suatu nilai atau indeks. Indeks adalah perbandingan antara suatu jumlah tertentu dengan standard atau dengan dasar yang telah ditentukan sebelumnya. Indeks kinerja DAS Bahorok dapat dikategorikan ke dalam I ndeks Lingkungan. Indeks lingkungan adalah suatu cara untuk memonitor dan melaporkan keadaan lingkungan secara kuantitatif berdasarkan pada suatu standar tertentu. Suatu indeks pada dasarnya merupakan perbandingan antara numerator dan denominator. Numerato r merupakan jumlah hasil pengukuran, sedangkan denominator merupakan standar tertentu sebagai pembanding. Jika hasil pengukuran kurang dari standard maka nilai indeks rendah dan ini menunjukkan tidak ada masalah lingkungan.

Penyusunan Arahan Pemanfaatan Ruang DAS Bahorok

IV -69

LAPORAN ANTARA

Gambar 4.21 Peta Potensi dan Pe rmasalahan Pengembangan DAS Bahorok

Penyusunan Arahan Pemanfaatan Ruang DAS Bahorok

IV -70

LAPORAN ANTARA

Indeks Kinerja DAS Bahorok menggambarkan kondisi kesehatan dari DAS Bahorok itu sendiri. Kondisi DAS Bahorok dalam kondisi sehat atau normal apabila paramater-parameter biofisik, SDM, dan lembaganya berada atau sesu ai dengan standar yang ada, sedangkan kondisi tidak sehat atau terganggu jika salah satu atau lebih paramaternya melebihi standar atau baku mutu yang ada. Jadi indeks kinerja ini diasumsikan sebagai langkah awal untuk mengetahui atau mendiagnosa kesehat an DAS yang ditinjau dari beberapa aspek umum yang berpengaruh. Indeks kinerja disusun berdasarkan parameter-parameter kunci yang diperkirakan mempunyai indikasi yang kuat terhadap kondisi suatu DAS. Paramater-parameter yang digunakan dalam mengukur kine rja DAS Bahorok dapat dilihat pada Tabel 4.32. Dengan adanya bentuk hubungan antara masukan dan keluaran dari sistem ekosistem DAS maka dapat disusun suatu analisis tentang keadaan suatu DAS. Keterkaitan parameter satu dengan parameter yang lain terhadap kinerja suatu DAS tentunya berbeda-beda. Ada parameter yang dominan yang terkait langsung dan kuat dengan kinerja DAS, namun ada juga parameter yang tidak secara langsung terkait dengan kinerja DAS. Berdasarkan referensi yang ada, faktor fisik/alam dan pemanfaatan lahan diindikasikan mempunyai pengaruh yang kuat terhadap kinerja DAS.

Penyusunan Arahan Pemanfaatan Ruang DAS Bahorok

IV -71

LAPORAN ANTARA

Tabel 4. 32 Aspek-aspek Umum Untuk Mengukur Kinerja DAS Bahorok

NO
1.

ASPEK
Pemanfaatan Lahan

PARAMETER
1. Indeks Penggunaan Lahan (IPL) (%) 2. Kesesuaian Penggunaan Lahan (KPL) (%) 3. Tingkat Erosi Potensial (ton/Ha/th) 1. Koefisien Regime Sungai (KRS) 2. Indeks Penggunaan Air (IPA) 3. Kandungan Pencemaran

PENILAIAN BERDASARKAN KRITERIA

Baik (1)
> 75 > 75 < 50 < 50 < 0,2 Tidak ada Pencemaran

Sedang (2)
30 - 75 40 - 75 50 - 250 50 - 120 2,0 Pencemaran tidak lebih dari 1 unsur (Kimia/Fisik/Mikr obiologi) Ada 1 bulan defisit 0.25 0.5 1- 2 1 Tetap Sedang Sedang

Jelek (3)
< 30 < 40 > 250 >120 > 0,2 Pencemaran lebih dari 1 unsur (Kimia/Fisik/Mikr obiologi) Lebih dari 1 bulan defisit > 0.5 >2 >1 Menurun Rendah Rendah

KETERANGAN
KepMenhut No. 52/Kpts-II/2001 KepMenhut No. 52/Kpts-II/2001 RLKT, 1985 (modifikasi) KepMenhut No. 52/Kpts-II/2001 PU, 2002 (modifikasi) Asumsi konsultan, 2003

2.

Hidrologi

4. Neraca Air 5. Koefisien Run Off 3. 4. Sumberdaya Manusia Sosial Ekonomi 1. Tekanan Penduduk (TP) 1. Ketergantungan Penduduk Terhadap Lahan (LQ) 2. Produktivitas Lahan 3. Tingkat Pendapatan 1. KISS

Tidak ada bulan defisit < 0.25 <1 <1 Meningkat Tinggi Tinggi

Asumsi konsultan, 2003 Pedoman Monev Pengelolaan DAS, 2002 (BTPDAS Surakarta) Otto Sumarwoto, 1991 RLKT, 1985 (modifikasi) KepMenhut No. 52/Kpts-II/2001 Batas kemiskinan, BPS KepMenhut No. 52/Kpts-II/2001

5.

Kelembagaan

Sumber : Hasil analisa dengan modifikasi dan asumsi terhadap kriteria-kriteria yang ada , 2004

Penyusunan Arahan Pemanfaatan Ruang DAS Bahorok

IV- 72

LAPORAN ANTARA

Dengan menggunakan nilai eigen (Eigenvalue) untuk perbandingan antar parameter dan Software Expert Choice Versi 8 (EC Versi 8) untuk mengetahui bobot masing-masing aspek penilaian, maka tingkat keterkaitan tiap parameter terhadap kinerja DAS dapat diketahui. Hasil analisis dapat dilihat pada Tabel 4.33.

Tabel 4.33 Tingkat keterkaitan (pembobotan) Parameter-Parameter Kunci terhadap Kinerja DAS Bahorok
NO 1 ASPEK DAN TINGKAT KETERKAITAN Pemanfaatan Lahan 50.9 % Hidrologi 31.1 %

PARAMETER 1. Indeks Penggunaan lahan 2. Kesesuaian Penggunaan Lahan 3. Tingkat Erosi Potensial 1. Koefisien Regim Sungai 2. Indeks Penggunaan Air 3. Kandungan Pencemar 4. Neraca Air 5. Koefisien Runoff 1. Tekanan Penduduk 1. Ketergantungan Penduduk Lahan 2. Produktivitas Lahan 3. Tingkat Pendapatan 1. K I S S Terhadap

BOBOT 12,7 12,7 25,5 8,1 2,1 8,4 3,4 9,1 6,0 2,0 2,0 2,0 6,0

2.

3. 4.

Sumberdaya Manusia 6.0 % Sosial Ekonomi 6.0 %

Kelembagaan 6.0 % Sumber : Hasil Analisis, 2004

Secara diagramatis hasil pembobotan dapat dilihat pada Gambar 4.22 .

Penyusunan Arahan Pemanfaatan Ruang DAS Bahorok

IV-73

LAPORAN ANTARA

. , 1 ( 5 - $ ' $6

3HPDQIDDW DQ / DKDQ

+L G U R O R J L

6'0

6RVHNEXG

. H O H PEDJDDQ

(U R V L

. RHI5 2

7HNDQDQ 3G G

. HW H U J D Q W X Q JDQO DKDQ

.,66

.3/

3HQFHPDU DQ

3URG /DKDQ

,3/

.56

7LQJNDW 3HQGDSDW D Q

1HU D F D$ L U

,3$

+DVLO 3H QJRO D KD QG HQ JD Q PHQJJXQDNDQ3U R JU DP ( [ SH U W &KRLFH9HU VL

Gambar 4.22 Parameter-Parameter Kunci Kinerja DAS Bahorok

Berdasarkan hasil analisis ternyata pemanfaatan lahan/ruang di suatu DAS mempunyai tingkat keterkaitan dengan kinerja DAS sangat tinggi. Dari kelima aspek yang dinilai ternyata pemanfaatan lahan dan sumberdaya alam sangat dominan (nilai masing-masing adalah 50,9% dan 31,1 %). Kedua aspek ini mempunyai keterkaitan lebih dari 80% terhadap kinerja DAS. Guna mengevaluasi kinerja DAS Bahorok maka dibuat klasifikasi tingkat kinerja DAS Bahorok. Klasifikasi ini disusun berdasarkan dari total terendah (baik) dan nilai
Penyusunan Arahan Pemanfaatan Ruang DAS Bahorok IV-74

LAPORAN ANTARA

tertinggi (jelek) yang mungkin tercapai dari perkalian antara hasil skoring (data kondisi DAS) dan pembobotan. Nilai terendah yang mungkin tercapai adalah 100, sedangkan nilai tertinggi adalah 300. Selanjutnya dengan mempergunakan kelas interval yang dihitung berdasarkan rentang dari nilai tertinggi dan terendah, yaitu 300-100 = 200, kemudian dibagi menjadi 3 kelas, maka Kriteria Kinerja DAS Bahorok tersebut disajikan pada Tabel 4.34 Tabel 4.34 Kriteria Kinerja DAS Bahorok NO.
1.

KINERJA DAS BAHOROK


Baik

KRITERIA

Kawasan DAS Bahorok dengan aspe k-aspek Pemanfaatan lahan, Hidrologi, SDM, Sosekbud, dan Kelembagaan yang mempunyai skor tidak lebih dari 167 Kawasan DAS Bahorok dengan aspek-aspek Pemanfaatan 2. Sedang lahan, Hidrologi, SDM, Sosekbud, dan Kelembagaan yang mempunyai skor antara 167 - 234 Kawasan DAS Bahorok dengan aspek-aspek Pemanfaatan 3. Jelek lahan, Hidrologi, SDM, Sosekbud, dan Kelembagaan yang mempunyai skor lebih besar dari 234 Sumber : Hasil Analisis, 2004

4.12.2

Kondisi DAS Bahorok

Berdasarkan pengolahan data baik primer maupun sekunder maka kondisi DAS Bahorok dapat diklasifikasikan berdasarkan kriteria atau standar yang sudah ada, baik bersifat kuantitatif maupun kualitatif. Hasil pengolahan parameter-parameter sebagai berikut :

4.12.2.1

Pemanfaatan Lahan

Dalam analisis pemanfaatan lahan di DAS Bahorok didekati dengan menggunakan 2 (dua) parameter untuk mengevaluasi aspek Penutupan lahan (IPL) dan aspek Kesesuaian Penutupan Lahan (KPL).

Penyusunan Arahan Pemanfaatan Ruang DAS Bahorok

IV-75

LAPORAN ANTARA

A. Indeks Penutupan Lahan (IPL)

Indeks Penutupan Lahan (IPL) merupakan suatu indikator untuk membandingkan luas vegetasi permanen (LVP) dengan luas DAS. LVP diasumsikan sebagai hutan dan kebun. Selanjutnya LVP diperoleh dari hasil analisis queries pada Peta Penutupan Lahan Tahun 2002.

Berdasarkan hasil perbandingan luas LVP yang ada (1 9.835,5 Ha) dengan luas DAS Bahorok (22.477,4 Ha), maka diperoleh IPL sebesar 88,24%. Nilai ini menunjukkan bahwa ditinjau dari penutupan lahan yang ada, maka DAS Bahorok dapat dikategorikan masih baik. Hal ini bahkan lebih luas dibandingkan dengan minimal hutan yang harus dipertahankan berdasarkan UU No 41 tahun 1999 tentang Kehutanan, yaitu minimal luas hutannya harus 30% dari luas DAS.

B. Indikator Kesesuaian Penggunaan Lahan (KPL)

Indikator Kesesuaian Penggunaan Lahan (KPL) merupakan persentase perbandin gan luas lahan yang sesuai dengan arahan RTRW. Penutupan lahan DAS Bahorok diperoleh berdasarkan hasil interpretasi data Citra Landsat 7 Tahun 2002. Sebaran Penggunaan Lahan Tahun 2002 dapat dilihat pada peta terlampir. Dengan dibandingkan dengan arahan penggunaan lahan yang terdapat pada RTRW Kabupaten Langkat tahun 2002 maka didapatkan nilai KPL sebesar 96,3%. Nilai ini menunjukan bahwa pemanfaatan lahan yang ada hampir sesuai dengan rencana atau rujukan arahan yang ada. Dengan demikian ditinjau dari kesesuaian dengan rencana yang ada maka DAS Bahorok dapat dikategorikan masih baik.

C. Erosi Potensial

Dengan menggunakan metode USLE, dimana faktor-faktor yang dipertimbangkan meliputi erositivitas hujan (R), erodibilitas tanah (K), faktor lereng (LS), serta faktor penggunaan dan pengolahan tanah (CP). Faktor lereng meliputi panjang dan kemiringan lereng maka tingkat erosi dapat diperhitungkan .

Penyusunan Arahan Pemanfaatan Ruang DAS Bahorok

IV-76

LAPORAN ANTARA

Dengan menggunakan kriteria erosi dan overlay peta-peta tematik faktor-faktor di atas dapat diketahui tingkat bah aya erosi yang terjadi di DAS Bahorok (lihat subbab 4.2.6). Hasil perhitungan menunjukkan bahwa tingkat erosi potensial rata-rata yang terjadi cukup tinggi, yaitu 548,67 ton/Ha/th. Dengan demikian ditinjau dari tingkat erosi potensial, maka DAS Bahorok kondisinya dapat dikatakan jelek.

4.12.2.2

H idrologi

Aspek hidrologi yang dipergunakan untuk mengukur indeks kinerja DAS Bahorok cukup banyak, yaitu Koefisien Regime Sungai, Indeks Penggunaan Air, pencemaran dan neraca air serta koefisien aliran permukaan. Berikut adalah analisis parameter hidrologi yang digunakan :

A. Koefisien Regime Sungai (KRS) KRS adalah perbandingan antara debit maksimum rata-rata dengan debit minimum rata-rata. Perbandingan ini menunjukkan besarnya fluktuasi debit sungai. Jika KRS rendah, maka kondisi DAS masih baik. Dikarenakan keterbatasan data debit yang disebabkan tidak ada stasiun pengukur aliran sungai di DAS Bahorok maka data debit diperoleh secara sintetis. Data debit yang dipergunakan merupakan hasil pembangkitan data debit berdasarkan M odel Mock. Model ini sudah banyak dipakai dan dikembangkan di Indonesia, karena penerapannya mudah dan menggunakan data yang relatif sedikit. Perhitungannya didasarkan pada data curah hujan, evaporasi, kondisi DAS dan karakteristik hidrologi daerah tinjauan. Analisis ini menggunakan data tahun 1996 sampai dengan 2003. Selanjutnya data debit aliran maksimum dan minimum ini dibandingkan, sehingga diperoleh nilai KRS untuk DAS Bahorok. Nilai KRS yang didapatkan adalah 24,5; dimana nilai ini dapat dikatakan baik, karena masih jauh di bawah nilai 50.

B. Indeks Penggunaan Air (IPA) Selanjutnya untuk mengetahui kinerja DAS Bahorok maka perlu diketahui keseimbangan antara kebutuhan dan ketersediaan air. Keseimbangan ini dicerminkan dengan Indeks Penggunaan Air (IPA). IPA diperoleh dengan membagi kebutuhan air dengan persediaan air yang ada. Jika nilai IPA semakin kecil, maka kinerja DPS masih bagus. Nilai IPA < 0,2, berarti DAS masih bagus, sedang jika nilai
Penyusunan Arahan Pemanfaatan Ruang DAS Bahorok IV-77

LAPORAN ANTARA

IPA > 0,2, berarti DAS sudah jelek dalam artian telah terjadi ketidakseimbangan antara ketersediaan dan kebutuhan air.

Berdasarkan perhitungan maka nilai IPA untuk DAS Bahorok adalah 0,09. Nilai ini masih jauh di bawah nilai standar yang ada yang berarti kinerja DAS masih baik. Berdasarkan data di atas pada saat n i i daya dukung DAS terhadap penyediaan air jika dibandingkan dengan kebutuhan airnya dianggap masih memadai. C. Kandungan Pencemaran Kualitas air merupakan gambaran tentang kondisi atau keadaan fisik, kimia dan biologi air. Kualitas air mempengaruhi ketersed iaan air untuk kehidupan manusia, hewan, tumbuhan, industri rekreasi, transpotasi dan pemanfaatan air lainnya. Mutu air adalah kondisi kualitas air yang diukur dan atau diuji berdasarkan parameterparameter tertentu dan metoda tertentu berdasarkan peraturan perundangundangan yang berlaku.

Berdasarkan hasil pengamatan di Sungai Bahorok secara umum mutu airnya belum tercemari, bahkan dapat diklasifikasikan ke dalam kelas satu, yaitu air yang peruntukannya dapat digunakan untuk air baku air minum, dan atau peruntukan lain yang mempersyaratkan mutu air yang sama dengan kegunaan tersebut (Peraturan Pemerintah RI Nomor 82 tahun 2001 tentang Pengelolaan Kualitas Air dan Pengendalian Pencemaran Air). Dengan demikian kinerja DAS Bahorok ditinjau dari kandungan pencemaran airnya termasuk ketegori baik.

D. Neraca Air Neraca air menurut fungsi meteorologis sangat diperlukan untuk mengevaluasi ketersediaan air hujan di suatu wilayah, terutama untuk mengetahui kapan dan seberapa lama surplus dan defisit yang terjadi di wilayah perencanaan. Berdasarkan perhitungan neraca air maka dapat diketahui bahwa di DAS Bahorok memiliki bulan basah sepanjang tahun. Bulan dinyatakan bulan basah apabila hujan lebih besar daripada evapotransiprasi potensial dan sebaliknya bulan kering jik a hujannya lebih kecil dari evapotranspirasi. Dengan persamaan neraca air dapat diketahui surplus dan defisit air di wilayah tersebut.

Penyusunan Arahan Pemanfaatan Ruang DAS Bahorok

IV-78

LAPORAN ANTARA

Berdasarkan perhitungan neraca air (lihat subbab 4.2.4) di DAS Bahorok terjadi surplus air, sedangkan bulan defisitnya tidak ada. Dengan demikian kinerja DAS Bahorok ditinjau dari neraca airnya dapat dikategorikan baik.

E. Koefisien Runoff (C) Berdasarkan hasil perhitungan dan analisis yang menggunakan peta-peta tematik parameter yang berpengaruh terhadap C seperti peta lereng, tanah, aliran sungai dan penggunaan lahan yang ada maka C dapat diprediksi. Hasil analisis (lihat subbab 4.2.5) menunjukkan besarnya C rata-rata di DAS Bahorok adalah 0,60. Nilai C ini termasuk kategori jelek, karena menunjukkan bahwa wilayah ini potensi terbentuknya aliran permukaan sangat besar.

4.12.2.3

Sumberdaya Manusia (SDM)

Aspek SDM yang digunakan untuk analisis kinerja DAS Bahorok adalah tekanan penduduk. Nilai Tekanan Penduduk (TP) dimaksudkan untuk menghitung besarnya tekanan penduduk terhadap lingkungan/sumberdaya alamnya. Semakin besar jumlah penduduk, maka semakin besar pula kebutuhan akan sumberdaya alam sehingga tekanan penduduk terhadap sumberdaya alam akan semakin meningkat. Hasil perhitungan diperoleh nilai tekanan penduduk sebesar 0,136978. Niali ini masih lebih kecil dari standar kategori baik (< 1) yang berarti tekanan penduduk terhadap sumberdaya alam atau lingkungan di Kecamatan Bahorok atau DAS Bahorok relatif kecil dan lahan pertanian yang ada masih memungkinkan untuk menampung lebih banyak penduduk petani. Dengan demikian kinerja DAS Bahorok dapat digolongkan baik ditinjau dari aspek SDM.

4.12.2.4

Sosial, Budaya dan Ekonomi

A. Ketergantungan Penduduk Terhadap Lahan (LQ) Indeks LQ digunakan untuk menentukan ketergantungan penduduk terhadap lahan di DAS Bahorok. Nilai LQ sektor pertanian sebesar 1,73 (>1) menunjukkan bahwa sektor pertanian merupakan sektor yang penting di Kecamatan Bahorok dan dapat dikatakan bahwa masyarakat di wilayah tersebut sangat tergantung pada sektor pertanian.
Penyusunan Arahan Pemanfaatan Ruang DAS Bahorok IV-79

LAPORAN ANTARA

B. Produktivitas Lahan Produktivitas lahan yang ditunjukkan oleh perbandingan antara total produksi terhadap luas lahan. Produktivitas komoditas pertanian tanaman pangan di Kecamatan Bahorok dari tahun 2001 sampai dengan tahun 2002 cenderung menurun, terutama untuk komoditas padi ladang dan padi sawah. Dengan demikian kinerja DAS Bahorok ditinjau dari produktivitas lahan tergolong jelek. C. Tingkat Pendapatan Pendapatan perkapita Kecamatan Bahorok pada tahun 2002 adalah sebesar Rp. 2.540.000/kapita/tahun. Pendapatan perkapita Kecamatan Bahorok tersebut relatif lebih tinggi bila dibandingkan dengan nilai batas kemiskinan penduduk Indonesia tahun 2002 yang telah ditetapkan sebesar Rp. 106.777/kapita/bulan atau setara dengan Rp. 1.281.324/kapita/tahun. Dengan demikian kinerja DAS Bahorok ditinjau dari tingkat pendapatan masyarakat tergolong baik.

4.12.2.5

Kelembagaan

Salah satu aspek yang penting untuk mengukur kinerja DAS adalah kelembagaan pengelolaan DAS. Parameter yang digunakan dalam mengevaluasi kelembagaan adalah KISS (Koordinasi, Integrasi, Sinkronisasi dan Simplikasi). Hal ini karena pengelolaan DAS melibatkan multi stakeholders, multi sektor dan multi disiplin. Berdasarkan hasil analisis terhadap kelembagaan pengelolaan DAS Bahorok masih bersifat sektoral dan belum terpadu serta masih tumpang tindih antar instansi maupun non instansi. Dengan demikian kinerja DAS Bahorok ditinjau dari sisi kelembagaan tergolong jelek.

Untuk mempermudah pembahasan selanjutnya maka semua hasil perhitungan dan analisis dir ingkas seperti yang ditunjukkan pada Tabel 4.35

Penyusunan Arahan Pemanfaatan Ruang DAS Bahorok

IV-80

LAPORAN ANTARA

Tabel 4.35 Kondisi Kinerja DAS Bahorok Berdasarkan Aspek-aspek Umum


PENILAIAN KINERJA NO ASPEK PARAMETER NILAI ATAU TINGKAT KATEGORI BOBOT

1.

Pemanfaatan Lahan

- Indeks Penggunaan Lahan - Kesesuaian Penggunaan Lahan - Tingkat Erosi Potensial

88,24% 96,3% 548,67 ton/ha/th 24,5 0,09 Tidak ada pencemaran Tidak ada bulan defisit 0,60 0,14 1,73 Menurun Tinggi Rendah

Baik Baik Jelek Baik Baik Baik Baik Jelek Baik Jelek Jelek Baik Jelek

1 1 3 1 1 1 1 3 1 3 3 1 3

2.

Hidrologi

- Koefisien Regim Sungai - Indeks Penggunaan Air - Kandungan Pencemar - Neraca Air - Koefisien Runoff

3. 4.

Sumberdaya Manusia Sosial Ekonomi Budaya

- Tekanan Penduduk - Ketergantungan penduduk terhadap lahan - Produktivitas Lahan - Tingkat Pendapatan

5. Kelembagaan - KISS Sumber : Hasil Analisis, 2004

Selanjutnya untuk mendapatkan gambaran parameter berdasarkan tingkat keterkaitan dengan kondisi DAS Bahorok, maka nilai yang ada dikalikan dengan bobot yang sudah ditentukan. Hasil perkalian parameter dengan bobot masingmasing dapat dilihat pada Tabel 4.36

Penyusunan Arahan Pemanfaatan Ruang DAS Bahorok

IV-81

LAPORAN ANTARA

Tabel 4.36 Klasifikasi Tingkat Kinerja DAS Bahorok


NO 1. ASPEK Pemanfaatan Lahan PARAMETER - Indeks Penggunaan Lahan - Kesesuaian Penggunaan Lahan - Tingkat Erosi Potensial 2. Hidrologi - Koefisien Regim Sungai - Indeks Penggunaan Air - Kandungan Pencemar - Neraca Air - Koefisien Runoff 3. 4. SDM Sosial Ekonomi Budaya - Tekanan Penduduk - Ketergantungan penduduk terhadap lahan - Produktivitas Lahan - Tingkat Pendapatan 5. Kelembagaan - KISS TOTAL Sumber : Hasil Analisis, 2004 BOBOT Kategori 1 1 3 1 1 1 1 3 1 3 3 1 3 Keterkaitan 12,7 12,7 25,5 8,1 2,1 8,4 3,4 9,1 6,0 2,0 2,0 2,0 6,0 TINGKAT KINERJA 12,7 12,7 76,5 8,1 2,1 8,4 3,4 27,3 6,0 6,0 6,0 2,0 18,0 184,2

Berdasarkan perhitungan di atas maka nilai total kinerja DAS Bahorok adalah 184,2 Hasil akhir yang ada ini kemudian dibandingkan dengan kriteria kinerja DAS Bahorok yang telah disusun sebelumnya. Dengan demikian kinerja DAS Bahorok termasuk ke dalam kriteria kinerja DAS sedang. Dengan demikian dapat dikatakan bahwa DAS Bahorok secara umum ekosistemnya mulai mengalami gangguan baik secara fisik/hidrologi, manusia, sosial ekonomi budaya, dan pemanfaatan lahan. Aspek kelembagaan belum dapat dikatakan sudah berfungsi dengan baik. Namun gangguan yang secara fisik ini dapat dikatakan bukan hanya disebabkan oleh perlakuan manusia tetapi juga dikarenakan kondisi alamnya. Kondisi alam yang berlereng curam, solum tanah yang tipis, rentan gempa dan longsor serta curah hujan dapat dikatakan sebagai faktor utama penyebab bencana, yang hal ini didukung dengan adanya masyarakat yang membangun permukiman dan sarana wiasata di bantaran sungai.

Penyusunan Arahan Pemanfaatan Ruang DAS Bahorok

IV-82

LAPORAN ANTARA

Gambar 4.23 Peta Kinerja DAS Bahorok

Penyusunan Arahan Pemanfaatan Ruang DAS Bahorok

IV-83