Anda di halaman 1dari 3

MENTERI KEHUTANAN

REPUBLIK INDONESIA

PERATURAN MENTERI KEHUTANAN


NOMOR : P.01/Menhut-II/2004

TENTANG

PEMBERDAYAAN MASYARAKAT SETEMPAT DI DALAM DAN ATAU SEKITAR HUTAN DALAM RANGKA
SOCIAL FORESTRY

MENTERI KEHUTANAN,

Menimbang :

a. bahwa sumberdaya hutan sebagai sistem penyangga kehidupan perlu dikelola dan dipertahankan
keberadaannya untuk sebesar-besar kemakmuran rakyat yang berkeadilan dan berkelanjutan;

b. bahwa pengelolaan hutan, sebagaimana diamanatkan dalam Undang-undang Nomor 41 Tahun 1999 tentang
Kehutanan, diarahkan pada terwujudnya pengelolaan hutan lestari;

c. bahwa social forestry dimaksudkan untuk mewujudkan kelestarian sumberdaya hutan dan meningkatkan
kesejahteraan masyarakat melalui pemberdayaan masyarakat setempat di dalam dan atau sekitar hutan,
sebagaimana dimaksud dalam Pasal 51 Peraturan Pemerintah Nomor 34 Tahun 2002;

d. bahwa social forestry telah dicanangkan oleh Presiden RI sebagai Program Nasional pada tanggal 2 Juli
2003;

e. bahwa sehubungan dengan huruf a,b,c dan d tersebut, perlu ditetapkan Peraturan Menteri Kehutanan
tentang Pemberdayaan Masyarakat Setempat Di Dalam Dan Atau Sekitar Hutan Dalam Rangka Social
Forestry.

Mengingat :

1. Undang-undang Nomor 5 Tahun 1990 tentang Konservasi Sumber Daya Alam Hayati dan Ekosistemnya;
2. Undang-undang Nomor 22 Tahun 1999 tentang Pemerintah Daerah;
3. Undang-undang Nomor 25 Tahun 1999 tentang Perimbangan Keuangan antara Pemerintah Pusat dan
Daerah;
4. Undang-undang Nomor 41 Tahun 1999 tentang Kehutanan;
5. Peraturan Pemerintah Nomor 25 Tahun 2000 tentang Kewenangan Pemerintah dan Propinsi sebagai
Daerah Otonom;
6. Peraturan Pemerintah Nomor 34 Tahun 2002 tentang Tata Hutan dan Penyusunan Rencana Pengelolaan
Hutan, Pemanfaatan Hutan dan Penggunaan Kawasan Hutan;
7. Peraturan Pemerintah Nomor 35 Tahun 2002 tentang Dana Reboisasi;
8. Keputusan Presiden Nomor 228/M Tahun 2001 tentang Pembentukan Kabinet Gotong Royong;
9. Keputusan Menteri Kehutanan Nomor 123/Kpts-II/2001 tentang Organisasi dan Tata Kerja Departemen
Kehutanan.

MEMUTUSKAN:

Menetapkan: Peraturan Menteri Kehutanan Tentang Pemberdayaan Masyarakat Setempat Di Dalam Dan Atau
Sekitar Hutan Dalam Rangka Social Forestry.

Pasal 1

Dalam peraturan ini yang dimaksud dengan :

1. Pemberdayaan Masyarakat Setempat di dalam dan atau sekitar hutan adalah upaya-upaya yang ditempuh
dalam rangka meningkatkan kemampuan dan kemandirian masyarakat.
2. Pemanfaatan sumber daya hutan oleh masyarakat adalah kegiatan pengelolaan hutan secara utuh yang
dilakukan oleh masyarakat setempat.

3. Masyarakat setempat adalah masyarakat yang tinggal di dalam dan atau sekitar hutan yang merupakan
kesatuan komunitas sosial didasarkan pada mata pencaharian yang bergantung pada hutan, kesejarahan,
keterikatan tempat tinggal serta pengaturan tata tertib kehidupan bersama dalam wadah kelembagaan.

4. Social Forestry adalah sistem pengelolaan sumberdaya hutan pada kawasan hutan negara dan atau hutan
hak, yang memberi kesempatan kepada masyarakat setempat sebagai pelaku dan atau mitra utama dalam
rangka meningkatkan kesejahteraannya dan mewujudkan kelestarian hutan.

Pasal 2

(1) Maksud pemberdayaan masyarakat setempat di dalam dan atau sekitar hutan adalah untuk meningkatkan
kemampuan dan kemandirian masyarakat dalam pemanfaatan hutan dalam rangka social forestry.

(2) Tujuan pemberdayaan masyarakat setempat di dalam dan atau sekitar hutan adalah untuk meningkatkan
kesejahteraan masyarakat setempat dan terwujudnya pengelolaan hutan yang lestari.

Pasal 3

Dalam rangka mewujudkan hutan yang lestari dan meningkatkan kesejahteraan masyarakat setempat perlu
dilakukan pemberdayaan masyarakat melalui sistem pengelolaan hutan berbasis masyarakat setempat yang
disebut social forestry.

Pasal 4

Social forestry merupakan acuan kebijakan program dan kegiatan pemberdayaan masyarakat yang akan
datang, serta sebagai basis penyempurnaan program dan kegiatan pemberdayaan masyarakat yang telah ada.

Pasal 5

Prinsip dasar pemberdayaan masyarakat setempat meliputi :


1. Penciptaan suasana atau iklim yang memungkinkan berkembangnya potensi dan daya yang dimiliki oleh
masyarakat.
2. Memperkuat potensi atau daya yang dimiliki oleh masyarakat.
3. Melindungi masyarakat melalui keberpihakan kepada masyarakat untuk mencegah dampak persaingan yang
tidak sehat.

Pasal 6

Sasaran pemberdayaan masyarakat adalah masyarakat setempat, melalui upaya penyadaran, peningkatan
kapasitas dan akses kepada sumber daya hutan.

Pasal 7

Social Forestry dilaksanakan berdasarkan pengelolaan hutan berbasis pemberdayaan masyarakat dengan
memperhatikan prinsip-prinsip: manfaat dan lestari, swadaya, kebersamaan dan kemitraan, keterpaduan
antar sektor, bertahap, berkelanjutan, spesifik lokal, dan adaptif.

Pasal 8

Rambu-rambu dalam penyelenggaraan social forestry adalah sebagai berikut:


1. Tidak mengubah status dan fungsi kawasan hutan;
2. Tidak memberikan hak kepemilikan atas kawasan hutan, kecuali hak pemanfaatan sumber daya hutan;
3. Tidak parsial tetapi pengelolaan hutan yang dilaksanakan secara utuh.

Pasal 9

Pengembangan Social Forestry dilaksanakan dalam kerangka pengelolaan hutan lestari melalui strategi pokok
yaitu:
1. Kelola Kawasan merupakan rangkaian kegiatan prakondisi yang dilakukan untuk mendukung pelaksanaan
kegiatan social forestry dalam rangka optimalisasi pemanfaatan sumber daya hutan;
2. Kelola Kelembagaan merupakan rangkaian upaya dalam rangka optimalisasi pelaksanaan social forestry
melalui penguatan organisasi, penetapan aturan, dan peningkatan kapasitas sumber daya manusia;
3. Kelola Usaha merupakan rangkaian kegiatan yang mendukung tumbuh dan berkembangnya usaha di areal
kerja social forestry melalui kemitraan dengan perimbangan hak dan tanggung jawab.

Pasal 10

(1) Berbagai pihak terkait yang berperan dalam social forestry adalah pemerintah, pemerintah provinsi,
pemerintah kabupaten/kota, organisasi non pemerintah, badan usaha, perguruan tinggi, kelembagaan
masyarakat dan lembaga internasional.
(2) Pemerintah, pemerintah propinsi, pemerintah kabupaten/kota dalam menerapkan sistem social forestry
melibatkan partisipasi aktif antar sektor.
(3) Peran para pihak dalam pengembangan social forestry dimaksudkan untuk mensinergikan peran berbagai
pihak terkait sesuai dengan tugas dan fungsi masing-masing dalam rangka pemberdayaan masyarakat
setempat.

Pasal 11

Kegiatan-kegiatan pemberdayaan masyarakat di lapangan yang sudah berjalan seperti Hutan kemasyarakatan,
Pengelolaan Hutan Bersama Masyarakat, Pengelolaan Hutan Bersama Rakyat dan kegiatan sejenis lainnya
tetap dikembangkan dan disesuaikan sebagaimana ketentuan pasal 7, 8 dan 9.

Pasal 12

(1) Tata cara penyelenggaraan social forestry diatur dengan Peraturan Menteri tersendiri.
(2) Tata cara pemberian hak pemanfaatan hutan dalam rangka social forestry melalui pemberian izin diatur
dengan Peraturan Menteri tersendiri.

Pasal 13

Keputusan ini berlaku sejak tanggal ditetapkan.

Ditetapkan di : J A K A R T A
Pada tanggal : 12 Juli 2004

MENTERI KEHUTANAN,

ttd.
MUHAMMAD PRAKOSA

Salinan sesuai dengan aslinya


Kepala Biro Hukum dan Organisasi

ttd.
Ir. SUYONO
NIP. 080035380

Salinan Keputusan ini disampaikan Kepada Yth. :

1. Menteri Kabinet Gotong Royong;


2. Pejabat eselon I lingkup Departmen Kehutanan;
3. Gubernur Provinsi Seluruh Indonesia;
4. Bupati/Walikota Seluruh Indonesia;
5. Kepala Dinas Provinsi yang diserahi tugas dan tanggung jawab di bidang kehutanan di seluruh
Indonesia;
6. Kepala Dinas Kabupaten/Kota yang diserahi tugas dan tanggung jawab di bidang kehutanan di seluruh
Indonesia.