Anda di halaman 1dari 15

TINJAUAN PUSTAKA

1. Pengertian dan Tujuan Mitigasi Bencana Pesisir dan Laut Mitigasi bencana merupakan langkah yang sangat perlu dilakukan sebagai suatu titik tolak utama dari manajemen bencana. Sesuai dengan tujuan utamanya, yaitu mengurangi dan/atau meniadakan korban dan kerugian yang mungkin timbul, maka titik berat perlu diberikan pada tahap sebelum terjadinya bencana, yaitu terutama kegiatan penjinakan/peredaman atau dikenal dengan istilah mitigasi (BAKORNAS PBP, 2002). Mitigasi pada prinsipnya harus dilakukan untuk segala jenis bencana, baik yang termasuk ke dalam bencana alam (natural disaster) maupun bencana sebagai akibat dari perbuatan manusia (man-made disaster). Mitigasi pada umumnya dilakukan dalam rangka mengurangi kerugian akibat kemungkinan terjadinya bencana, baik itu korban jiwa dan/atau kerugian harta benda yang akan berpengaruh pada kehidupan dan kegiatan manusia. Untuk mendefenisikan rencana atau strategi mitigasi yang tepat dan akurat perlu dilakukan kajian resiko (risk assessment) (BAKORNAS PBP, 2002). Mitigasi berarti menganbil tindakan-tindakan untuk mengurangi pengaruh-pengaruh dari satu bahaya sebelum bahaya lain itu terjadi, istilah ini berlaku untuk cakupan yang luas dari aktivitas-aktivitas dan tindakan-tindakan perlindungan yang mungkin diawali dari yang fisik, seperti membangun bangunan-bangunan yang kuat, sampai dengan prosedural, seperti teknikteknik yang baku untuk menggabungkan penilaian bahaya di dalam rencana penggunaan lahan (Program Pelatihan Bencana). Untuk mengatasi masalah bencana perlu dilakukan upaya mitigasi yang komprehensif yaitu kombinasi upaya struktur (pembuatan prasarana dan sarana pengendali) dan non struktur yang pelaksanaannya harus melibatkan instansi terkait. Seberapa besarpun upaya tersebut tidak akan dapat membebaskan terhadap masalah bencana alam secara mutlak. Oleh karena itu kunci keberhasilan sebenarnya adalah keharmonisan antara

manusia/masyarakat dengan alam lingkungannya (Pratikto, 2005).

Sedangkan, menurut Mitigasi Bencana Edisi Kedua, mitigasi berarti mengambil tindakan-tindakan untuk mengurangi pengaruh-pengaruh dari satu bahaya sebelum bencana itu terjadi. Istilah mitigasi berlaku untuk cakupan yang luas dari aktivitas-aktivitas dan tindakan-tindakan perlindungan yang mungkin diawali, dari yang fisik, seperti membangun bangunanbangunan yang lebih kuat, sampai dengan prosedural, seperti teknik-teknik yang baku untuk menggabungkan penilaian bahaya di dalam rencana penggunaan lahan. Tujuan utama (ultimate goal) dari Mitigasi Bencana adalah sebagai berikut : 1. Mengurangi resiko/dampak yang ditimbulkan oleh bencana khususnya bagi penduduk, seperti korban jiwa (kematian), kerugian ekonomi (economy costs) dan kerusakan sumber daya alam. 2. Sebagai landasan (pedoman) untuk perencanaan pembangunan. 3. Meningkatkan pengetahuan masyarakat (public awareness) dalam

menghadapi serta mengurangi dampak/resiko bencana, sehingga masyarakat dapat hidup dan bekerja dengan aman (safe). (Anonim, 2010).

2. Pengertian dan Penyebab Tsunami Secara harfiah, tsunami berasal dari Bahasa Jepang. Tsu berarti pelabuhan dan nami adalah gelombang. Secara umum tsunami diartikan sebagai pasang laut yang besar di pelabuhan. Jadi, dapat dideskripsikan

tsunami sebagai gelombang laut dengan periode panjang yang ditimbulkan oleh gangguan impulsif yang terjadi pada medium laut. Gangguan impulsif itu bisa berupa gempa bumi tektonik, erupsi vulkanik, atau longsoran (landslide) (Diposaptono dan Budiman, 2005). Hal diatas disetujui oleh Ingmanson dan Wallace (1973) bahwa tsunami merupakan gelombang laut yang mempunyai periode panjang yang ditimbulkan oleh suatu gangguan di laut. Panjang gelombang tsunami dapat mencapai 240 km di laut terbuka seperti samudera pasifik dengan panjang

gelombang rata-rata 4600 m dengan kecepatan gelombang mencapai 760 km/jam Gelombang tsunami yang ditimbulkan oleh gaya impulsif ini bersifat transien, yakni gelombangnya bersifat sesaat. Gelombang ini berbeda dengan gelombang laut lainya yang bersifat kontinyu seperti gelombang laut yang ditimbulkan oleh gaya gesek angin atau gelombang pasang surut yang ditimbulkan oleh gaya tarik benda angkasa. Periode gelombang angin hanya beberapa detik (kurang dari 20 detik). Sementara itu periode gelombang tsunami berkisar antara 10-60 menit (Barber, 1969 in Diposaptono dan

Budiman, 2005). Perbedaan gelombang tsunami dengan gelombang yang

dibangkitkan oleh angin adalah terletak pada gerakan airnya. Gelombang yang dibangkitkan oleh angin hanya menggerakan air laut bagian atas. 8 Namun pada gelombang tsunami menggerakan seluruh kolom air dari permukaan sampai dasar (Diposaptono dan Budiman, 2005). Ciri lainnya dari tsunami adalah panjang gelombangnya yang besar, bisa mencapai puluhan kilometer. Kecepatan rambatnya di laut dalam (deep sea) berkisar dari 400 sampai 1000 km/jam. Kecepatan penjalaran tsunami tersebut sangat tergantung dari kedalaman laut dan penjalarannya dapat mencapai ribuan kil bometer dari pusatnya. Selama penjalaran dari tengah laut (pusat terbentuknya tsunami) menuju pantai, kecepatan semakin berkurang karena gesekan dengan 9 dasar laut yang semakin dangkal. Akibatnya, tinggi gelombang di pantai menjadi semakin besar karena adanya penumpukkan massa air akibat adanya penurunan kecepatan. Ketika mencapai pantai, gelombang naik (run-up) ke daratan dengan kecepatan yang berkurang menjadi sekitar 25-100 km/jam (Diposaptono dan Budiman, 2005).

2.3. 2 Faktor-faktor penyebab terjadinya tsunami Terjadinya tsunami di Indonesia disebabkan oleh beberapa faktor. Dari berbagai tsunami yang pernah terjadi di Indonesia, 90 % disebabkan oleh gempagempa tektonik, 9% disebabkan oleh gunung berapi, dan 1% oleh tanah longsor (Diposaptono dan Budiman, 2005). A. Tsunami akibat gempa tektonik Gempa tektonik merupakan gerakan-gerakan retakan yang akan menyebabkan pergerakan vertikal massa batuan bukan pergerakan horizontal massa batuan. Jika proses tersebut terjadi di dasar laut maka akan menyebabkan perubahan muka laut yaitu terbentuknya puncak dan lembah gelombang yang berukuran 150 km antara puncak gelombang yang satu dengan puncak gelombang berikutnya ke segala arah. (Diposaptono dan Budiman, 2005). Berbagai pergerakan massa batuan yang disebabkan oleh gempa tektonik ini dapat dilihat pada (Gambar 3). Proses terjadinya gempa tektonik dimulai dengan adanya pergerakan dua lempeng yang saling berbatasan saling bergerak reatif terhadap sesamanya. Aktivitas tektonik yang disebabkan adanya pergerakan dua lempeng tersebut menimbulkan energi elastis yang dapat terakumulasi dari waktu ke waktu 10 sehingga menyebabkan pembentukan pegunungan, lembah, gunung api dan tsunami yang terletak pada batas-batas lempeng. Batas lempeng yang terbentuk terdiri dari 3 jenis yaitu, konvergen, divergen, dan singgungan. Gambar 3. Jenis-jenis patahan : (a) sesar turun (normal fault), (b) sesar naik (reverse fault), (c) sesar horizontal (strike slip) (Diposaptono dan Budiman, 2005) Zona konvergen ditandai dengan gerakan dua lempeng yang berbatasan itu ke bawah lempeng benua. Zona ini terdiri dari dua jenis; tumbukan dan

subduksi. Pada zona tumbukan, kedua lempeng bergerak saling mendekati karena mempunyai berat jenis sama sehingga lempeng melipat ke atas. Sedangkan pada zona subduksi, kedua lempeng yang bertumbukkan mempunyai berat jenis yang berbeda. Apabila gempa dengan patahan naik maupun turun (lebih dari beberapa meter secara mendadak dan vertikal) terjadi di laut dengan kedalaman mencapai ribuan meter. Secara empiris, jika gempanya berkekuatan lebih dari 6,5 SM, dan pusat gempa berada pada kedalaman kurang 60 km dari dasar laut, maka tsunami akan terjadi (Diposaptono dan Budiman, 2005). 11 Gambar 4. Lempeng-lempeng tektonik Indonesia (Gunawan, 2007) Berdasarkan catatan, gempa tektonik memang menyumbang kontribusi terbesar terjadinya tsunami baik di dalam maupun luar negeri. Di Indonesia sepanjang tahun 1600 sampai 2005 telah terjadi 107 kali tsunami. Dari jumlah itu, sebanyak 98 kali tsunami disebabkan gempa bumi, sembilan kali karena letusan gunung berapi, dan satu kali oleh tanah longsor di dasar laut (Gambar 5). Gambar 5. Sejarah gempa tsunami tahun 1973-2007 (USGS, 2008) 12 Memang tidak semua gempa bisa menghasilkan tsunami. Berdasarkan hasil penelitian, tsunami bisa terwujud jika kekuatan gempa minimal 6,5 SM. Syarat lain, pusat gempanya berada kurang dari 60 km dari permukaan laut (gempa dangkal). Selain itu gempa tersebut harus menghasilkan deformasi dasar laut secara vertikal cukup besar, lebih dari 2 meter. Jadi, jika ada gempa tektonik yang terjadi pada kedalaman lebih dari 60 km, tidak akan menghasilkan tsunami walaupun kekuatan gempanya diatas 6,5 SM.

. B. Tsunami akibat tanah longsor Penyebab kedua terjadinya tsunami adalah adanya longsor besar yang disebabkan oleh gempa, kegiatan gunung berapi, atau longsor di dasar laut. Tanah longsor tersebut runtuhnya bebatuan dalam jumlah yang banyak kemudian menimbulkan gelombang dengan puncak gelombang bisa mencapai 535 meter di atas garis pantai.

II-6 Kegiatan pada tahap pasca bencana, terjadi proses perbaikan kondisi masyarakat yang terkena bencana, dengan memfungsikan kembali prasarana dan sarana padakeadaan semula. Pada tahap ini yang perlu diperhatikan adalah bahwa

rehabilitasid a n r e k o n s t r u k s i y a n g a k a n d i l a k s a n akan harus memenuhi kaidahk a i d a h kebencanaan serta tidak hanya melakukan rehabi litasi fisik saja, tetapi juga perludiperhatikan juga rehab ilitasi psikis yang terjadi seperti ketakutan, trauma ataud epresi.D a r i u r a i a n d i a t a s , t e r l i h a t b a h w a t i t i k l e m a h d a l a m S i k l u s M a n a j e m e n B e n c a n a adalah Mitigasi bencana adalah serangkaian upaya untuk mengurangi resiko bencana, baikm e l a l u i p e m b a n g u n a n f i s i k m a u p u n p e n y a d a r a n d a n p e n i n g k a t a n k e m a m p u a n menghadapi ancaman bencana (UU 24/2007). Konsep mitigasi bencana

merupakans u a t u u s a h a u n t u k m e n g u b a h p a r a d i g m a p e n a n g g u l a n g a n b e n c a n a y a n g sebelumnya lebih

banyak menekankan diri pada tindakan pasca terjadinya bencana.K e g i a t a n kegiatan pada tahap pra bencana erat kaitann ya dengan is tilah mitigasibencana yang merupakan upaya untuk memi

nimalkan dampak yang ditimbulkanoleh bencana. Mitigas i b e n c a n a m e n c a k u p b a i k p e r e n c a n a a n d a n p e l a k s a n a a n tin dakan-tindakan untuk mengurangi resiko -resiko dampak dari suatu bencana

yangd i l a k u k a n s e b e l u m b e n c a n a i t u t e r j a d i , t e r m a s u k k e s i a p a n d a n t i n d a k a n - t i n d a k a n pengurangan resiko jangka

panjang.Usaha untuk menyebarkan paradigma ini mulai banyak dilakukan sejak awal tahun 1 9 0 0 -

an. Berbagai kegiatan dan penelitian menyangkut h a l t e r s e b u t b a n y a k dilakukan oleh PBB maupun negar a - n e g a r a l a i n . S a l a h s a t u s i k l u s p e n g e l o l a a n bencana yang

cukup komprehensif diperkenalkan oleh Carter (1991), terdiri atas :Kejadian bencana (impact)

II-7 Adapun di dalam siklus keseluruhan penanggulangan bencana di Indonesia, makakegiatan mitigasi bencana merupakan salah satu kegiatan pada tahap pra

bencana.D a l a m t a h a p p r a b e n c a n a , k e g i a t a n k e g i a t a n p e n y e l e n g g a r a n p e n a n g g u l a n g a n bencana dilakukan baik dalam situasi tidak terjadi bencana maupun dalam

situasit e r d a p a t p o t e n s i b e n c a n a . B e r b a g a i k e g i a t a n pada tahap pra bencana ketikat e r d a p a t tidak i : t erj adi bencana dil akukan situasi mel al u

p e r e n c a n a a n penanggulangan bencana, pengurangan r

esiko bencana, pencegahan, pemaduand a l a m p e r e n c a n a a n pembangunan, persyaratan analisis resiko b e n c a n a , pelaksanaan dan penegakan rencana tata ruang, p e n d i d i k a n d a n p e l a t i h a n , d a n persyaratan standar teknis pena nggulangan bencana. Adapun kegiatankegiatank e t i k a t e r d a p a t s i t u a s i p o t e n s i t e r j a d i b e n c a n a m e l i p u t i k e g i a t a n k e s i g a p a n , peringatan dini, dan

mitigasi bencana.Kegiatan mitigasi dilakukan untuk mengurangi resiko bencana bagi masyarakat

yangb e r a d a p a d a k a w a s a n r a w a n b e n c a n a . M i t i gasi bencana dilakukan denganpelaksanaan p enataan ruang; pengaturan pembangunan, pe m b a n g u n a n infrastruktur; dan penyelenggaraan pendidi k a n , p e n y u l u h a n , d a n p e l a t i h a n b a i k secara konvensional maupun modern.S e c a r a u m u m , p r a k t i k m i t i g a s i b e n c a n a d i k e l o m p o k kan menjadi dua jenis; yaknim i t i g a s i s t r u k t u r a l d a n mitigasi non struktural. Mitigasi struktural berhu b u n g a n dengan usaha-usaha pembangunan konstruksi fisik yang dapat mengurangi resiko atas terjadinya bencana. Sementara mitigasi non struktural lebih kepada

penyadaranu n t u k m e n j a g a l i n g k u n g a n ( s e p e r t i p e r e n c a n a a n g u n a l a h a n d a n p e m b e r l a k u k a n peraturan) kemampuan dan peningkatan mengahadapi

bencana.U p a y a m i t i g a s i s t r u k t u r a l d a p a t d i l a k u k a d e n g a n m e m p e r k u a t b a n g u n a n d a n infrastruktur yang berpotensi terkena bencana, seperti membuat kode

bangunan,d e s a i n r e k a y a s a , d a n k o n s t r u k s i u n t u k m e n a h a n s e r t a m e m p e r k o k o h s t r u k t u r ataupun membangun

struktur bangunan penahan longsor, penahan dinding pantai, dan lain-lain (Perbandingan mitigasi bencana gempa bumi di benua Eropa, Asia, dan Amerika, Mizan Bustanul Faudy, Prodi PWK ITB, 2009)

2.Pengertian dan Penyebab tsunami Tsunami (dibaca: tsoo-NAH-mee) adalah gelombang transien yang disebabkan oleh gempa tektonik ataupun oleh letusan gunung berapi.

Tsunami adalah asal kata dari bahasa Jepang dimana artinya gelombang yang sering terjadi di daerah-daerah pelabuhan di pantai Jepang (Tsu = Pelabuhan dan Nami = gelombang) dan bukan apa yang sering diartikan oleh

kebanyakan orang sebagai tidal waves (Vasily Titov, 2004). Tsunami memiliki perioda gelombang di antara 10 sampai dengan 60 menit. Bila penyebab Tsunami adalah letusan gunung berapi (seperti yang terjadi di gunung Krakatau) maka gangguannya terjadi pada permukaan, dan apabila penyebabnya adalah gempa tektonik (Aceh dan Nias) maka gangguannya terjadi pada dasar laut. Gangguan pada dasar laut inilah yang sering terjadi Tsunami, Indonesia sendiri adalah merupakan alur dari kagiatan tektonik, yang mana dokumentasi terjadi Tsunami sendiri masih langka dan sangat jarang terekam oleh para peneliti, contoh seperti terjadi sekarang ini di Aceh dan Sumatera Utara.

3. Kondisi umum dan sejarah bencana daerah Kabupaten Lobok Timur, NTB Kabupaten Lombok Timur merupakan salah satu dari tujuh kabupaten/kota yang ada di Propinsi Nusa Tenggara Barat yang terdapat di Pulau Lombok dengan luas wilayah 2.679,83 km2 yang terbagi dalam wilayah daratan 1.605,55 km2 dan wilayah laut 1.074,33 km2. Daerah ini juga dikelilingi pulau-pulau kecil yang berjumlah sekitar 30 pulau atau gili, yang man giligili tersebut sudah ada yang berpenghuni Kabupaten Lombok Timur terletak antara 116o-11170 Bujur Timur dan 80-90 Lintang Selatan dengan batas-batas daerah sebagai berikut: Sebelah Utara Sebelah Selatan Sebelah Barat Sebelah Timur : Laut Flores : Samudera Hindia : Kabupaten Lombok Barat dan Lombok Tengah : Selat Alas

Panjang Pantai Kabupaten Lombok Timur 220 km memiliki potensi cukup besar dalam upaya pengembangan usaha perikanan baik perikanan tangkap maupun perikanan budidaya. Khusus untuk potensi pengembangan perikanan budidaya terutama budidaya laut sangat potensial karena dengan banyaknya teluk di perairan Kabupaten Lombok Timur.

Keadaan topografinya miring dari utara ke selatan dimana daerah bagian selatan merupakan dataran tinggi, bagian tengan terdiri dari dataran rendah yang subur dan bagian selatan bergelombang serta berbukit-bukit. Oleh karena itu dengan keasaan topografinya yang demikian maka daerah Kabupaten Lombok Timur dibagi ke dalam 3 bagian, yaitu: Daerah bagian utara: daerah ini lebih tinggi karena merupakan daerah pegunungan. Daerah bagian tengah: daerah ini terhampar dataran rendah dari batas utara tersebut di atas menlandai ke panatai timur hingga selatan yang merupakan derah pertanian yang subur dan menghasilkan oopadi, palawija, kelapa dan penghasil bahan galuan berupa batu apung. Daerah bagian selatan: daerah bagian selatan ini bergelombang serta berbukit-bukit dimana sekitar pantai selatan khususnya di Hutan Sekaroh terdapat pegunungan kapur. Sebagian besar tanah di daerah ini merupakan tanah kering dan tadah hujan. Mengingat Pulau Lombok merupakan bagian pulau dari gugusan pulau paling selatan dari Kepulauan Indonesia, yang berbatasan dengan Samudera Hindia, maka dengan adanya lempeng samudera (Oceanic Plate) yang bergerak menuju ke utara, maka gelombang pasang (tsunami) akibat gempa masih mungkin terjadi di daerah bagian pantai selatan, maka untuk daerah Perairan Lombok Timur akan terjadi Gelombang pasang kiriman dari Samudera Hindia. Morfologi daerah selidikan dibagi menjadi 3 bagian yaitu: Morfologi pegunungan (G. Rinjani, G. Nangi dan G. Susuk) Morfologi Morfologi perbukitan dataran bergelombang pantai.

Stratigrafi daerah telitian terdiri dari tua ke muda adalah sebagai berikut. Batuan tertua yang tersingkap adalah Formasi Pengulung, tersusun oleh batuan gunungapi dengan lensa batugamping mengandung biji sulfida dan urat kuarsa, berumur Oligosen akhir sampai Miosen Awal.

Formasi ini menjemari dengan Formasi Kawangan yang terdiri atas perselingan batupasir kuarsa, batulempung dan breksi. Berdasarkan kedudukannya yang menjemari dengan Formasi Pengulung, maka umur formasi ini adalah Oligosen Akhir hingga Miosen Awal. Kedua satuan di atas diterobos oleh retas yang bersusunan dasit basal, diorit dan granodiorit yang diduga berumur Miosen Tengah. Formasi Pengulung dan Formasi Kawangan tertindih tak selaras oleh Formasi Ekas. Pada Miosen Akhir dalam kondisi memungkinkan terbentuknya endapan batugamping Formasi Ekas pada lingkungan darat terbuka. Pada akhir Tersier atau Awal Kuarter terjadi kegiatan tektonik yang menyebabkan timbulnya sesar geser dan sesar normal . Pada Pliosen sampai Awal Pleistosen terjadi kegiatan gunungapi dari kelompok Gunungapi Lombok yang membentuk Formasi Kalipalung ( perselingan breksi gampingan dan lava) dengan Anggota Selayar (batupasir tufan, batulempung tufan dan sisipan karbon), Formasi Kalibabak (breksi dan lava) dan Formasi Lekopiko (tuff batuapung, breksi lahar dan lava). Sejak Plistosen hingga Resen terjadi kegiatan gunungapi yang menghasilkan batuan gunungapi tak terpisahkan yang bersumber dari G. Rinjani G. Pusuk dan G. Nangi. Di sekitar Lombok Timur, bahaya gunungapi terdapat di sekitar puncak dan lereng bagian Tenggara G. Rinjani, karena merupakan alur terjadinya aliran lahar menuju pantai Lombok Timur. Bahaya Lingkungan Beraspek Geologi. Jenis potensi bahaya geologi daerah selidikan berdasarkan aspek geologi dapat dibedakan menjadi erupsi gunungapi dan banjir lahar, bahaya kegempaan dan daerah rawan gelombang tsunami. serta Terdapat juga pantai abrasi dan akrasi. Lokasi bahaya geologi ini dapat dilihat pada Peta Potensi Bahaya Alam. Ditinjau dari hasil penyebaran bahan hasil erupsi G. Rinjani daerah selidikan dapat dikelompokkan

menjadi zona waspada gunungapi (Modifikasi dari Peta Bahaya Gunungapi di Indonesia). Bahaya Lingkungan Beraspek Geologi. Jenis potensi bahaya geologi daerah selidikan berdasarkan aspek geologi dapat dibedakan menjadi erupsi gunungapi dan banjir lahar, bahaya kegempaan dan daerah rawan gelombang tsunami. serta Terdapat juga pantai abrasi dan akrasi. Lokasi bahaya geologi ini dapat dilihat pada Peta Potensi Bahaya Alam. Ditinjau dari hasil penyebaran bahan hasil erupsi G. Rinjani daerah selidikan dapat dikelompokkan menjadi zona waspada gunungapi (Modifikasi dari Peta Bahaya Gunungapi di Indonesia). <center> <img src="fileupload/deny_cs_2.jpg"> </center>, Banjir bandang (lumpur) terjadi akibat hujan yang turun dengan intensitas yang cukup tinggi, di bagian hulu sungai yaitu pada bagian lereng bagian selatan - tenggara G. Rinjani, hal tersebut menyebabkan longsornya materialmaterial hasil letusan G. Rinjani (abu vulkanik dan endapan lahar) dan membawa material-material yang terdapat di sepanjang sungai membentuk aliran arus pekat, sungai yang dialiri yaitu K. Blimbing. Tragedi banjir bandang yang terjadi pada november 1994 di daerah Aikmel telah menelan korban 31 orang meninggal dunia, yaitu dengan adanya banjir bandang di daerah hulu dengan membawa serta material lahar sehingga terjadi, membanjiri khususnya pada daerah waktu hilir. musim Daerah selatan dari Pantai Korleko, potensi banjir tidak tetap kemungkinan penghujan pertemuan muara sungai Lonek Bonet (arus dari sungai) dan dari laut akan menjadikan luapan banjir, menurut penduduk setempat banjir yang menggenangi pantai cukup luas, dan digunakan untuk lahan pertanian, sedangkan pada musim kemarau, biasa dipergunakan penduduk untuk menangkap ikan. Faktor penyebab banjir terutama disebabkan oleh curah hujan yang cukup tinggi. Penyebab lainnya adalah kondisi

morfologi berupa dataran pantai yang rendah dan sudut lereng yang landai, serta batuan aluvium dengan kedalaman Muka air tanah yang dangkal.

Tindak cegah untuk mengurangi bahaya banjir adalah dengan melakukan pelurusan alur sungai, memperdalam alur sungai atau kembali dengan mempertinggi (reboisasi) tanaman pematang daerah keras,dan hulu sungai, sungai. penghijauan penghijauan

Sedangkan pemanfaatan lahan banjir adalah melakukan pertambakan Abrasi pantai yang terjadi di daerah Lombok Timur yaitu di daerah sepanjang pantai antara selatan Kurleko sampai Labuhan Haji, begitu juga di daerah Rambang, gelombang laut yang mengikis kawasan pantai akan menimbulkan kerusakan pada sarana dan prasarana umum seperti jalan raya dan pemukiman penduduk, untuk menghindari hal tersebut dibuat pelindung pantai pada ruas jalan penduduk sebagai pencegah abrasi dan gelombang pasang. Untuk mencegah terjadinya proses abrasi, maka disarankan untuk Menanam pohon bakau dan pembuatan tanggul dan pemecah gelombang. yang berfungsi sebagai peredam hantaman ombak Di daerah utara selidikan tepatnya di Sambelia, Labuhan

Pandan terjadi proses sedimentasi di depan garis pantai (akrasi), sehingga garis pantai cenderung lebih maju ke arah laut, biasanya terjadi pada kawasan hutan bakau untuk perangkap sedimen dan muara sungai, sehingga terjadi pembelokan Dampak Pemanfaatan arus Lingkungan sungai dan Sumber di daerah Daya muara. dengan Geologi Hubungannya

Dampak lingkungan yang terjadi sebagai akibat ulah manusia terhadap alam sekitarnya di daerah telitian adalah pengambilan batuapung, pengambilan airtanah, pengelolaan Tempat Pembuangan Akhir (TPA) sampah yang kurang berwawasan lingkungan, dan pembangunan tambak udang tanpa memperhatikan aspek daya dukung. Pengambilan batuapung secara setempat-setempat antara Pringgabaya dan korleko telah menimbulkan dampak terhadap lingkungan yaitu: Penambangan batuapung dilakukan ditempat tanaman kelapa, dimana setelah digali tidak ditanami pohon lagi, dibiarkan pemukimaan daerah begitu saja; sekitarnya; penambangan. Debu dari hasil penggalian batuapung yang mencemari Terjadinya proses abrasi yang lebih cepat di tebing pantai Untuk itu perlu pengarahan dari aparat terkait menyangkut di dalamnya informasi tentang daya dukung lahan, karena batuapung ini merupakan komoditas ekspor yang bagus untuk daerah Lombok. Sumberdaya airtanah di daerah telitian di beberapa tempat menunjukkan potensi ketersediaan cukup potensial yaitu di Labuan Lombok sampai kurleko, serta Labuan Pandan, sedangkan di daerah Tanjung Ringgit ketersediaannya sangat terbatas, bahkan penduduk di P. Kera dan P. Maringki yang berpenghasilan cukup besar kebutuhan airnya dialirkan melalui pipa, karena tidak terdapat sumber air. Pengambilan airtanah di daerah pantai secara besar-

besaran dapat mengakibatkan penyusupan air laut ke daratan. Upaya untuk melestarikan sumberdaya air adalah peningkatan kemampuan resapan air dengan menanami pepohonan terutama di daerah tadah airtanah utama. Untuk menjaga kualitas air bagi mataair perlu dijaga terutama penempatan TPA di daerah hulu sangat dilarang. Pembuangan sampah selama ini merupakan masalah yang sangat pokok terutama di pemukiman daerah pantai yang sangat mencemari lingkungan pantai sampai ke laut. TPA sampah di daerah telitian baru selesai dibangun untuk Kabupaten Lombok Timur di Daerah Korleko 200 m dari pantai. yang memperhatikan geologi buatan, airtanah lapisan sehingga alas tidak lokasi sebagai terjadi TPA. penghalang pencemaran

akibat

Daerah pertambakan merupakan potensi bencana geologi, karena pada umumnya pertambakan dibuat tepat dibibir pantai tanpa memperhatikan keseimbangan lingkungan, sehingga memperlemah daya tahan pantai terhadap gempuran gelombang dan arus laut, seperti di daerah Labuhan Haji ke selatan