Anda di halaman 1dari 28

LAPORAN PRAKTIKUM FISIKA DASAR POLARIMETER

OLEH :

Kelompok 5 OFFERING A 1. DAYU ARDHIYATMITA N.R. 2. DEWI SUPRABA 3. EVIE NURIA HAYATI 4. SETYA IKA LESTARI (100331404565) (100331404569) (100331404568) (100331404561)

JURUSAN KIMIA FAKULTAS MATEMATIKA DAN ILMU PENGETAHUAN ALAM UNIVERSITAS NEGERI MALANG MARET 2011

A. Judul : Polarimeter

B. Tujuan Praktikum Setelah praktikum ini dilaksanakan mahasiswa diharapkan dapat : 1. Mahasiswa dapat menjelaskan prinsip kerja set polarimeter. 2. Mahasiswa dapat membuat larutan dengan konsentrasi tertentu. 3. Mahasiswa dapat melakukan pembacaan skala derajat pada set polarimeter. 4. Mahasiswa dapat membuktikan hubungan antar variabel yang mempengaruhi besarnya sudut putar cahaya yang melalui zat/larutan optis aktif. 5. Mahasiswa dapat menghitung konsentrasi larutan gula. 6. Mahasiswa dapat grafik hubungan antara konsentrasi larutan (Ct) dengan sudut putar (). 7. Mahasiswa dapat membandingkan antara konsentrasi larutan gula hasil ukur (C1 dengan menggunakan neraca) dan hasil hitungannya (Ch dengan menggunakan polarimeter) dan hasil perhitungan persamaan 1.

C. Dasar Teori Bila cahaya polikromatik dilewatkan pada prisma Nicol akan diperoleh suatu cahaya monokromatik dan cahaya ini disebut cahaya terpolarisasi. Suatu isomer optis aktif dapat berinteraksi dengan cahaya terpolarisasi dan memutar bidang cahaya terpolarisasi dengan suatu sudut yang dilambangkan dengan dan disebut rotasi optik. Alat yang digunakan untuk mengukur besaran adalah polarimeter. Isomer optis merupakan senyawa-senyawa dengan rumus molekul sama tetapi tatanan atom-atomnya dalam ruang berbeda. Isomer-isomer optis dapat mengalami reaksi yang sama, mempunyai sifat fisika yang mirip, perbedaan isomer-isomer tersebut terletak pada interaksinya dengan bidang cahaya terpolarisasi. Bila cahaya terpolarisasi dilewatkan pada larutan isomer optis, maka isomer aktif ini akan memutar bidang cahaya terpolarisasi dengan arah tertentu. Isomer optis mengandung atom karbon asimetris (atom karbon yang mengikat empat atom/gugus yang berbeda) dalam strukturnya. Molekul dengan satu atom karbon asimetris merupakan molekul kiral (tidak simetris), molekul demikian dapat memutar bidang cahaya terpolarisasi. Molekul/senyawa tersebut dinamakan senyawa/isomer optis aktif. Molekul dengan dua atau lebih atom karbon asimetris, tidak selalu membentuk molekul kiral. Dengan demikian mungkin saja terdapat molekul yang mempunyai atom-atom karbon asimetris tetapi tidak optis aktif. Contoh isomer dengan satu atom karbon asimetris adalah asam laktat.

Atom C dengan tanda * adalah atom karbon asimetris, atom karbon tersebut mengikat empat atom/gugus yang berbeda (H, CH3, OH, dan COOH). Berikut struktur asam laktat dalam bentuk geometri tetrahedral.

Satu isomer asam laktat akan memutar bidang cahaya terpolarisasi kekanan/senyawa dektpro (d-asam laktat), sedangkan yang lainnya memutar bidang cahaya terpolarisasi ke kiri/senyawa levo (l-asam laktat). Contoh isomer optis dengan dua atom karbon asimetris adalah asam tartrat.

Skema dari alat polarimeter dapat dilihat pada gambar berikut.

Cahaya dari lampu sumber, terpolarisasi setelah melewati prisma Nicol pertama yang disebut polarisator. Cahaya terpolarisasi kemudian melewati senyawa optis aktif yang akan memutar bidang cahaya terpolarisasi dengan arah tertentu. Prisma Nicol ke dua yang disebut analisator akan membuat cahaya dapat melalui celah secara maksimum.

Rotasi optis yang diamati/diukur dari suatu larutan bergantung kepada jumlah senyawa dalam tabung sampel, panjang jalan/larutan yang dilalui cahaya, temperatur pengukuran, dan panjang gelombang cahaya yang digunakan. Untuk mengukur rotasi optik, diperlukan suatu besaran yang disebut rotasi spesifik yang diartikan suatu rotasi optik yang terjadi bila cahaya terpolarisasi melewati larutan dengan konsentrasi 1 gram per mililiter sepanjang 1 desimeter. Rotasi spesifik dapat dihitung dengan menggunakan persamaan:

D. Prosedur Percobaan Persiapan Kegiatan Percobaan 1. Membuat larutan gula dengan konsentrasi (Ct) 1%, 2%, 3%, 4%, 5%, 6%, 7%, 8%, 9%, 10% dengan cara menimbang gula menggunakan neraca teknis dan melarutkannya dengan aquades dalam gelas ukur sampai 100 ml. Mengaduk larutan dengan menggunakan

magnetik stirrer sampaigulalarutsemuanya. Masing-masing konsentrasi larutan dipastikan kebenarannya dengan menggunakan refkraktometer. 2. Membuat larutan garam dan larutan gula dengan konsentrasi sembarang (sekitar 1%). Cara membuatnya dengan cara 1 3. Mencuci tabung gelas dengan air bersih sampai benar-benar bersih. a. Menyelidiki Aktivitas Optik Beberapa cairan 1. Menyalakan lampu Natrium. 2. Mengkondisikan ruangan antara polarisator dan analisator (tempat tabung larutan) dalam keadaan gelap dengan cara menutupnya. 3. Memutar sekrup polarisator sambil mengamati lewat okuler teropong kemudian mengatur kedudukan analisator sehingga muncul medan pandang yang sama terang antara tengah dan kedua sisinya (kondisi 2). Mencatat kedudukan analisator dengan cara membaca skala yang ada(seperti pada jangka sorong). UNTUK KETELITIAN, DIGUNAKAN KACA PEMBESAR (LOUPE). 4. Mengisi tabung gelas dengan aquades dan meletakkan di antara analisator dan polisator. Mengusahakan tidak ada gelembung udara di dalam tabung gelas. 5. Mengamati perubahan medan pandang melalui lensa okuler. Jika medan pandang berubah, maka diatur kedudukan analisator sehingga muncul medan pandang sama terang seperti semula. Mencatat kedudukan skala analisator dan menngulangi pembacaan skala sampai 5 kali. 6. Mengulangi langkah ke 4 dan 5 untuk larutan garam dengan konsentrasi sembarang (sekitar 1%). 7. Mencuci tabung gelas dengan air bersih sehingga benar-benar bersih dan membilas dengan aquades. 8. Mengulangi langkah 4 dan 5 untuk larutan gula dengan konsentrasi sembarang (sekitar 1%). b. Menyelidiki Pengaruh Konsentrasi Larutan (Ct) terhadap Sumbu Putar () 1. Mencuci tabung gelas terlebih dahulu dengan air sampai bersih dan membilas dengan aquades. 2. Mengulangi langkah 4 dan 5 pada bagian a untuk masing-masing konsentrasi larutan gula, dan setiap perubahan konsentrasi.

E. Data dan Analisis Data 1. Data

a. Menyelidiki Aktivitas Optik Beberapa Cairan Tabel 1. Sebaran data sudut putar beberapa cairan Zat Cair Aquades Larutan Garam Larutan Gula Sudut Putar ( dalam derajat) 1 33,6 34,1 34,7 2 24,6 35,7 37,1 3 28,8 30,5 35,00 4 34,8 33,9 35,8 5 24,8 35,9 36,2 Konsentrasi 1% 1%

b. Menyelidiki Pengaruh Konsentrasi Larutan (Ct) terhadap Sumbu Putar () Panjang tabung = 21 cm; nst = 0,005 cm Tabel 2. Sebaran data sudut putar dengan konsentrasi larutan Konsentrasi Larutan Gula (Ct dalam 1%) 1% 2% 3% 4% 5% 6% 7% 8% 9% 10%s Temperatur Larutan Gula (0C) 24 23 23 24 23 23 23 23,5 23 23 Sudut Putar ( dalam derajat) 1 34,7 40,2 35,2 50,6 47,8 34,4 63,6 44,6 52,2 73,6 2 37,1 41,6 32,1 51,8 54,8 35,9 62,2 50,6 56,6 73,8 3 35,00 42,2 26,7 48,2 59,2 40,4 66,4 41,1 61,8 68,2 4 35,75 40,5 28,2 49,2 65,8 34,4 65,5 43,8 54,6 70,4 5 36,2 42,7 27,2 53,8 71,8 34,5 64,7 45,9 50,4 78,6

2. Analisis Data Membandingkan ketiga zat cair pada tabel I yang merupakan zat optis aktif atau tidak Untuk menentukan zat cair yang merupakan zat optis aktif atau tidak, maka terlebih dahulu mencari sudut putar cahaya pada masing-masing larutan. a. Aquades Sudut putar cahaya () rata-rata

Simpangan baku
( ( ( ) ) ) ( ) ( ( ) ) ( ) ( )

( ( )

Ralat Relatif Jadi, = ( ) = (29,32,1)

b. Larutan Garam 1% Sudut putar cahaya () rata-rata

Simpangan baku
( ( ( ) ) ) ( ) ( ( ( ) ( ) ( ( ) ) ( ) ( ) ) ) ( ) ( )

Ralat Relatif Jadi, = ( ) = (34,380,98)

c. Larutan Gula 1% Sudut putar cahaya () rata-rata

Simpangan baku
( ( ( ) ) ) ( ) ( ( ( ) ( ) ( ) ( ) ( ) ( ) ) ) ( ) ( )

Ralat Relatif Jadi, = ( ) = (35,760,71)

Membuat grafik hubungan antara konsentrasi larutan (Ct) dengan sudut putar () dari data tabel 2. Kemudian menentukan persamaan yang menyatakan hubungan antara konsentrasi larutan dengan sudut putar. Untuk membuat grafik, terlebih dahulu menentukan sudut putar rata-rata cahaya larutan gula dengan konsentrasi yang berbeda.

a. Larutan Gula 1 % Dari data di atas diketahui bahwa penting) , , dengan (3 angka

Jadi, =(
b. Larutan Gula 2%

)=(35,760,71)

Sudut putar cahaya () rata-rata

Simpangan baku
( ( ( ) ) ) ( ) ( ( ) ) ( ) ( )

) ( )

Ralat Relatif Jadi, = ( ) = (41,441,48)

c. Larutan Gula 3% Sudut putar cahaya () rata-rata

Simpangan baku
( ( ( ) ) ) ( ) ( ( ( ) ( ) ( ) ( ) ( ) ( ) ) ) ( ) ( )

Ralat Relatif Jadi, = ( ) = (29,881,63)

d. Larutan Gula 4% Sudut putar cahaya () rata-rata

Simpangan baku
( ( ( ) ) ) ( ) ( ( ( ) ( ) ( ( ) ) ( ) ( ) ) ) ( ) ( )

Ralat Relatif Jadi, = ( ) = (50,720,98)

e. Larutan Gula 5% Sudut putar cahaya () rata-rata

Simpangan baku
( ( ( ) ) ) ( ) ( ( ( ) ( ) ( ( ) ) ( ) ( ) ) ) ( ) ( )

Ralat Relatif Jadi, = ( ) = (59,884,18)

f.

Larutan Gula 6%

Sudut putar cahaya () rata-rata

Simpangan baku
( ( ( ) ) ) ( ) ( ( ( ) ( ) ( ) ( ( ) ) ( ) ) ) ( ) ( )

Ralat Relatif Jadi, = ( ) = (35,91,16)

g. Larutan Gula 7% Sudut putar cahaya () rata-rata

Simpangan baku
( ( ( ) ) ) ( ) ( ( ) ) ( ) ( )

( ) ( )

Ralat Relatif Jadi, = ( ) = (64,480,74)

h. Larutan Gula 8% Sudut putar cahaya () rata-rata

Simpangan baku
( ( ( ) ) ) ( ) ( ( ( ) ( ) ( ) ( ) ( ) ( ) ) ) ( ) ( )

Ralat relatif Jadi, ( ) ( )

i.

Larutan Gula 9%

Sudut putar cahaya () rata-rata

Simpangan baku
( ( ) )

( ( )

( ( )

Ralat relatif

Jadi, j.

Larutan Gula 10%

Sudut putar cahaya () rata-rata

Simpangan baku
( ( ) )

( ( )

) ( )

Ralat relatif

Jadi, ( ) ( )

Tabel Hubungan Antara Konsentrasi Larutan (Ct) dengan Sudut Putar Rata rata ( ) Ct (%) 1 2 3 4 5 6 7 8 9 10 35,76 41,44 29,88 50,72 59,88 35,90 64,48 45,20 55,12 72,92 0,71 0,48 1,63 0,98 4,18 1,16 0,74 1,56 1,96 1,76 1,99 1,16 5,45 1,94 6,97 3,24 1,14 3,45 3,54 2,41

(35,8 0,7) (41,4 0,5) (29,9 1,6) (50,7 1,0) (59,8 4,2) (35,9 1,2) (64,5 0,7) (45,2 1,6) (55,1 1,9) (72,9 1,8)

Analisis Grafik x0 = 10 kotak x 0,025 = 0,25 x1 = 15 kotak x 0,025 = 0,375 x2 = 14 kotak x 0,025 = 0,35 Nilai rata rata tetapan grafik: Nilai ralat tetapan grafik y0 = 5 kotak x 0,025 = 0,125 y1 = 7 kotak x 0,025 = 0,175 y2 = 8 kotak x 0,025 = 0,2

| Ralat Relatif Grafik | | ( ) | | |

Jadi,

Dari grafik didapat persamaan: y = bx + a , yang mana a = 0 ; y = ; x = Ct sehingga diperoleh

( )

Maka, ( ) ( ) Dari persamaan di atas dapat ditentukan besar sudut putar jenis ( ) ( ) Dengan :

yaitu:

b = 0,5 b = 0,015 L = 2 dm L = 0,005 dm

( )

( )

( )

( )

| ( )( )

( ) ( ) ( )

)|

)|

Ralat Relatif ( ) Jadi, ( ) ( ) ( ) ( ) dengan ralat relatif sebesar 3,00%

3. Menghitung konsentrasi larutan (Ch) (konsentrasi terhitung) berdasarkan harga sudut putar yang diperoleh dari percobaan dan menghitungnya dengan menggunakan persamaan:

( ) ( ) ( ) ( )

( )

* * ( )

( (

)+ )+

( ) ( ) ( ) ( )

( )

* * ( )

( (

)+ )+

( ) ( ) ( ) ( ) ( )

( )

* * ( )

( (

)+ )+

( ) a. Konsentrasi larutan Gula 1% Diket: ( ) ( ) ( ) L = 2 dm L = 0,005 dm

( )

( )

( ) |

| (

)( )

( (

)( ) ) ( )

)|

)( ( )( )

Ralat relatif

Jadi, Ch = (71,5 2,5)%

b. Konsentrasi larutan Gula 2% Diket: ( ) ( ) ( ) L = 2 dm L = 0,005 dm

( )

( ) ( (

( ) |

| (

)( )

)( ) ) ( )

)|

)( ( )( )

Ralat relatif

Jadi, Ch = (82,9 2,6)%

c. Konsentrasi larutan Gula 3% Diket: ( ) L = 2 dm L = 0,005 dm

( ) ( )

( )

( ) ( (

( ) |

| (

)( )

)( ) ) ( )

)|

)( ( )( )

Ralat relatif

Jadi, Ch = (59,8 3,7)%

d. Konsentrasi larutan Gula 4% Diket: ( ) ( ) ( ) L = 2 dm L = 0,005 dm

( )

( ) ( (

( ) |

| (

)( )

)( ) ) ( )

)|

)( ( )( )

Ralat relatif

Jadi, Ch = (101,44 3,63)%

e. Konsentrasi larutan Gula 5% Diket: ( ) ( ) ( ) L = 2 dm L = 0,005 dm

( )

( ) ( (

( ) |

| (

)( )

)( ) ) ( )

)|

)( ( )( )

Ralat relatif

Jadi, Ch = (120 9)%

f. Konsentrasi larutan Gula 6% Diket: ( ) ( ) ( ) L = 2 dm L = 0,005 dm

( )

( )

( ) |

| (

)( )

( (

)( ) ) ( )

)|

( (

)( ) )( )

Ralat relatif

Jadi, Ch = (76,8 3,2)%

g. Konsentrasi larutan Gula 7% Diket: ( ) ( ) ( ) L = 2 dm L = 0,005 dm

( )

( ) ( (

( ) |

| (

)( )

)( ) ) ( )

)|

( (

)( ) )( )

Ralat relatif

Jadi, Ch = (129 4)%

h. Konsentrasi larutan Gula 8% Diket: ( ) L = 2 dm L = 0,005 dm

( ) ( )

( )

( ) ( (

( ) |

| (

)( )

)( ) ) ( )

)|

( (

)( ) )( )

Ralat relatif

Jadi, Ch = (90,4 4,1)%

i. Konsentrasi larutan Gula 9% Diket: ( ) ( ) ( ) L = 2 dm L = 0,005 dm

( )

( ) ( (

( ) |

| (

)( )

)( ) ) ( )

)|

)( ( )( )

Ralat relatif

Jadi, Ch = (110 5)%

j. Konsentrasi larutan Gula 10% Diket: ( ) ( ) ( ) L = 2 dm L = 0,005 dm

( )

( ) ( (

( ) |

| (

)( )

)( ) ) ( )

)|

)( ( )( )

Ralat relatif

Jadi, Ch = (146 6)%

F. Pembahasan dan Tugas 1. Pembahasan Berdasarkan hasil percobaan dan analisis data diperoleh: a. Menyelidiki Aktivitas Optis Beberapa Cairan
Zat Cair Aquades Larutan Garam Larutan Gula Konsentrasi 0% 1% 2% Sudut Putar ( dalam derajat) 1 2 3 4 5 33,6 24,6 28,8 34,8 24,8 34,1 35,7 30,5 33,9 35,9 34.7 37,1 35,0 35,8 36,2 29,32 34,38 35,76 2,14 0,98 0,71 7,30 2,85 1,99 ( )0 ( 2,1)0 (34,41,0)0 (35,80,7)0

Berdasarkan teori, akuades bukan merupakan zat optis aktif karena akuades tidak dapat memutar bidang getar suatu cahaya. Namun berdasarkan hasil percobaan kami, akuades

dapat memutar bidang getar cahaya, diperlihatkan dengan sudut putarnya yang tidak 0o. Hal ini tidak sesuai dengan teori yang ada. Beberapa faktor menjadi penyebab ketidaksesuaian ini sehingga data yang diperoleh kurang akurat, antara lain yaitu : 1. Adanya gelembung pada tabung larutan sampel. 2. Kurang teliti dalam melihat cahaya polarisasi dengan bola terang pada tengah dan kedua sisinya. 3. Kurang teliti dalam pembuatan larutan. 4. Kurang teliti dalam pembacaan skala ukur. 5. Kurang bersih dalam membersihkan tabung larutan dan gelas ukur. Sedangkan larutan garam dan larutan gula merupakan zat optis aktif karena dapat memutar bidang getar suatu cahaya sebesar sudut tertentu. b. Menyelidiki Pengaruh Konsentrasi Larutan (Ct) terhadap Sumbu Putar ()
Ct (%) 1 2 3 4 5 6 7 8 9 10 Suhu (oC) 24 23 23 24 24 23 23 23,5 23 23 Sudut Putar ( dalam derajat) 1 2 3 4 5 34,7 37,1 35,00 35,75 36,2 40,2 41,6 42,2 40,5 42,7 35,2 32,1 26,7 28,2 27,2 50,6 51,8 48,2 49,2 53,8 47,8 54,8 59,2 65,8 71,8 34,4 35,9 40,4 34,4 34,5 63,6 62,2 66,4 65,5 64,7 44,6 50,6 41,1 43,8 45,9 52,2 56,6 61,8 54,6 50,4 73,6 73,8 68,2 70,4 78,6 35,76 41,44 29,88 50,72 59,88 35,90 64,48 45,20 55,12 72,92 0,71 0,48 1,63 0,98 4,18 1,16 0,74 1,56 1,96 1,76 1,99 1,16 5,45 1,94 6,97 3,24 1,14 3,45 3,54 2,41 ( )0 (35,8 0,7) (41,4 0,5) (29,9 1,6) (50,7 1,0) (59,8 4,2) (35,9 1,2) (64,5 0,7) (45,2 1,6) (55,1 1,9) (72,9 1,8)

Berdasarkan teori, diketahui bahwa konsentrasi larutan berpengaruh pada besarnya sumbu putar yang dihasilkan. Semakin besar konsentrasi larutan, semakin besar pula sudut putar yang dihasilkan. Tetapi, berdasarkan hasil percobaan yang diperoleh, pola pengaruh konsentrasi larutan terhadap sumbu putar yang seharusnya semakin besar tidak ditemukan. Hal ini disebabkan kesalahan-kesalahan yang seperti telah disebutkan diatas.

c. Tabel Perbandingan Ct dengan Ch


Ct (%) 1 2 3 4 5 6 7 8 9 10 Ch(%) 71,5 % 82,9 % 59,8 % 101 % 120 % 76,8 % 129 % 90,4 % 110 % 146 % RCH (%) 3,60 % 2,65 % 3,72 % 12 % 15 % 3,17 % 4,16 % 4,53 % 4,62 % 3,84 %

Berdasarkan data di atas diketahui bahwa antara konsentrasi larutan gula dengan pengukuran langsung tidak tepat sama dengan konsentrasi hasil hitung. Perbedaan tersebut antara lain disebabkan oleh hal-hal yang telah dijelaskan di atas.

2. Tugas a. Jelaskan secara fisis konsep polarisasi! Jawab: Apabila cahaya yang terpolarisasi dilewatkan pada larutan optis aktif, maka cahaya tersebut akan dibelokkan. Tetapi bila cahaya dilewatkan pada larutan yang bukan merupakan zat optis aktif, misalnya air murni, akan cahaya tersebut akan diteruskan. Polarisasi terjadi dengan syarat cahaya merupakan gelombang transversal dan bidang getaran di dalam kedua sinar tersebut haruslah tegak satu sama lain.

b. Apa yang dimaksud dengan zat optis aktif? Jawab: Adalah suatu zat yang dapat memutar bidang getar setiap cahaya yang melewatinya, dan memperlihatkan efek fenomena polarisasi (pemutaran bidang polarisasi dengan sudut tertentu) contohnya larutan gula (C6H22O11) c. Jelaskan perbedaan antara polarimeter biasa dengan polarimeter triple shadow! Jawab: Polarimeter biasa adalah polarimeter yang apabila dilewati cahaya dan memutar bidang getarnya, maka pola bayangan yang terbentuk adalah gelap saja atau terang saja. Sedangkan polarimeter triple shadow adalah polarimeter yang menghasilkan bayangan dengan 3 pola, yaitu: 1. Kedua sisi gelap dan terang di tengah

2. Kedua sisi terang dan gelap di tengah 3. Kedua sisi dan tengah sama terang

d. Jelaskan fungsi refraktometer! Jawab: Refraktometer berfungsi untuk menguji konsentrasi larutan dengan tepat, dengan cara meneteskan larutan tersebut pada kaca refraktometer kemudian melihat kearah sumber cahaya.

G. Kesimpulan dan Saran a. Kesimpulan Berdasarkan percobaan ini dapat disimpulkan bahwa : 1. Zat optis aktif adalah zat yang dapat memutar arah getar cahaya 2. Besarnya sudut putar ( ) cahaya yang melewati larutan bergantung pada : a. Jenis zat yang dilarutkan b. Konsentrasi larutan c. Panjang larutan yang dilalui d. Jenis zat cair sebagai pelarut e. Temperatur larutan f. Panjang gelombang cahaya yang melewati larutan 3. Larutan gula dan larutan garam termasuk zat optis aktif 4. Besarnya sudut putar ( ) berbanding lurus dengan konsentrasi larutan (Ct) 5. Konsentrasi larutan dapat dihitung menggunakan persamaan : ( ) ( )

6. Grafik hubungan antara Ct dengan menunjukkan bahwa semakin besar konsentrasi semakin besar pula sudut putarnya, dan sebaliknya. b. Saran Agar mendapatkan hasil yang maksimal, disarankan agar mahasiswa: Mempelajari petunjuk praktikum dengan baik Teliti dalam pembuatan konsentrasi larutan Teliti dalam pembacaan alat ukur

H. Daftar Pustaka Alonso, M and Finn E.J. 1992. Dasar-Dasar Fisika Universitas Jilid 2. Jakarta: Erlangga. Dasar, T. F. 2011. Modul Praktikum Fisika Dasar. Malang: UM Press. Kamajaya, L. S. 1985. Penuntun Pelajaran Fisika Semester 3 dan 4. Bandung: Ganesa Exact. Supramono, E. 2005. Fisika Dasar 2. Malang: UM Press.

I. Lampiran