Anda di halaman 1dari 6

Dinamika MDGs

Sudah sekitar 13 tahun Indonesia secara resmi menjadi partisipan dalam sebuah program dunia, yaitu MDGs. Millennium Development Goals (MDGs) atau dalam bahasa Indonesia diterjemahkan menjadi Tujuan Pembangunan Milenium, adalah sebuah paradigma pembangunan global, dideklarasikan dalam Konferensi Tingkat Tinggi Milenium oleh 189 negara anggota Perserikatan Bangsa Bangsa (PBB) di New York pada bulan September 2000. Dasar hukum dikeluarkannya deklarasi MDGs adalah Resolusi Majelis Umum Perserikatan Bangsa Bangsa Nomor 55/2 Tangga 18 September 2000, (A/Ris/55/2 United Nations Millennium Development Goals). MDGs ini dijalankan sejak bulan September tahun 2000 yang berisikan delapan butir tujuan yang akan dicapai pada 2015. Delapan butir tujuan tersebut adalah menanggulangi kemiskinan dan kelaparan; mencapai pendidikan dasar untuk semua; mendorong kesetaraan gender dan pemberdayaan perempuan; menurunkan angka kematian anak; meningkatkan kesehatan ibu; memerangi HIV/AIDS, malaria dan penyakit menular lainnya; memastikan kelestarian lingkungan hidup dan membangun kemitraan global untuk pembangunan. Delapan tujuan tersebut memiliki target untuk mencapai kesejahteraan masyarakat dunia dan pembangunan global. Setiap tujuan menetapkan satu atau lebih target serta masing-masing sejumlah indikator yang akan diukur tingkat pencapaiannya atau kemajuannya pada tenggat waktu hingga tahun 2015. Secara global ditetapkan 18 target dan 48 indikator. Meskipun secara global ditetapkan 48 indikator namun implementasinya tergantung pada setiap negara disesuaikan dengan kebutuhan pembangunan dan ketersediaan data yang digunakan untuk mengatur tingkat kemajuannya. Indikator global tersebut bersifat fleksibel bagi setiap negara. Apakah Indonesia berhasil menjalankan program MDGs yang tinggal menyisakan dua tahun lagi? Deklarasi MDGs merupakan hasil perjuangan dan kesepakatan bersama antara negara-negara berkembang dan maju. Negera-negara berkembang berkewajiban untuk melaksanakannya, termasuk salah satunya Indonesia dimana kegiatan MDGs di Indonesia mencakup pelaksanaan kegiatan monitoring MDGs. Sedangkan negara-negara maju berkewajiban mendukung dan memberikan bantuan terhadap upaya keberhasilan setiap tujuan dan target MDGs. Indonesia telah membuat komitmen untuk membangun masyarakat dunia yang sejahtera. Walaupun di Negara sendiri masyarakatnya belum sejahtera, namun hal tersebut tidak mengurungi niat Negeri ini untuk ikut berpartisipasi dalam pembangunan global dan menciptakan masyarakat dunia yang sejahtera. Dengan menandatangani Deklarasi

Milenium, Pemerintah Indonesia berkomitmen untuk menempatkan MDGs menjadi referensi penting dalam pelaksanaan pembangunan di Indonesia. Hal ini ditunjukkan dengan menggunakan MDG sebagai bahan acuan dalam pembangunan, mulai dari tahap perencanaan seperti yang dinyatakan dalam Rencana Pembangunan Jangka Menengah Nasional (RPJMN) sampai tahap implementasi. MDG bahkan telah menjadi dasar perumusan Strategi Penanggulangan Kemiskinan di tingkat nasional dan daerah. Terpilihnya Presiden Susilo Bambang Yudhoyono dalam Panel Tingkat Tinggi PBB untuk perumusan agenda pembangunan pengganti Tujuan Pembangunan Milenium (MDGs) merupakan bukti Indonesia semakin diperhitungkan di mata dunia. Presiden SBY bersama Presiden Liberia Ellen Johnson Sirleaf dan Perdana Menteri Inggris David Cameron menjadi ketua bersama panel tersebut yang beranggotakan 27 tokoh dunia dari berbagai kalangan. Sekjen PBB memilih anggota panel karena kualitas orangnya, bukan jabatannya. Pentingnya peran Indonesia di dunia, terlepas dari titelnya yang masih sebagai negara berkembang, membuat bangsa Indonesia harus bekerja keras untuk mencapai target MDGs di tanah air. Melihat negeri sendiri, sepertinya sulit untuk untuk mencapai kesejahteraan nasional, apalagi harus ikut membangun kesejahteraan global. Terlalu banyak PR untuk negeri ini, terlalu banyak hal yang perlu dibenahi, terlalu banyak tantangan yang belum berhasil dilewati. Masih tingginya jumlah penduduk yang hidup di bawah garis kemiskinan, terutama perempuan, masih belum terpenuhinya akses pendidikan dasar yang merata bagi semua orang,belum meratanya akses kesehatan terutama di pelosok daerah, masih tingginya angka kematian ibu dan bayi serta masih tingginya angka pengangguran terutama pengangguran terbuka dan kurangnya kesempatan kerja di sektor formal. Banyak masyarakat Indonesia yang menganggap bahwa program MDGs ini gagal. Serikat Rakyat Miskin Indonesia (SRMI) pernah menggelar aksi massa di depan kantor Wakil Presiden pada tahun 2010 untuk mengeritik skema penghapusan kemiskinan ala MDGs. Di tengah harga BBM, sembako, dan tarif angkutan umum yang beranjak naik, membuat pemerintah harus semakin bekerja keras untuk menyelesaikan permasalahan tersebut. Masalah utang luar negeri pun juga menjadi hambatan bagi Indonesia untuk menjalankan program MDGs. Program-program MDGs seperti pendidikan, kemiskinan, kelaparan, kesehatan, lingkungan hidup, kesetaraan gender, dan pemberdayaan perempuan membutuhkan biaya yang cukup besar. Sementara merujuk data Direktorat Jenderal Pengelolaan Utang Departemen Keuangan, per 31 Agustus 2008, beban pembayaran utang

Indonesia terbesar akan terjadi pada tahun 2009-2015 dengan jumlah berkisar dari Rp97,7 triliun (2009) hingga Rp81,54 triliun (2015) rentang waktu yang sama untuk pencapaian MDGs. Indonesia perlu bekerja keras, apabila Indonesia tidak bisa bekerja sendiri untuk mencapai target MDGs, maka Indonesia membutuhkan dukungan dunia internasional untuk menyukseskan pembangunan nasional., Hal ini dipertegas dengan adanya pernyataan dalam laporan MDG Indonesia tahun 2005, bahwa bagi Indonesia, pelaksanaan tujuan ke-8 yaitu membangun kemitraan global untuk pembangunan merupakan salah satu prasyarat dalam mencapai tujuan ke-1 hingga ke-7. Kerjasama dan kerja keras berbagai pelaku pembangunan, termasuk lembaga swadaya masyarakat, sektor swasta serta komunitas donor/lembaga internasional memegang peranan penting dalam mencapai MDGs. Pada tahun 2010, mengutip dari salah satu situs berita Indonesia Kepala Bappenas mengklaim bahwa kesejahteraan masyarakat Indonesia telah meningkat. Pertama, kemiskinan dan kelaparan menurun. Indonesia berhasil menurunkan tingkat kemiskinan, dengan indikator US$1 per kapita per hari menjadi setengahnya. Dari sisi tingkat kemiskinan, yang saat ini sebesar 13,33 persen (2010) menuju target 8-10 persen pada 2014. Sementara untuk prevalensi kekurangan gizi pada balita menurun dari 31 persen pada tahun 1989 menjadi 18,4 persen pada tahun 2007, sehingga Indonesia diperkirakan dapat mencapai target MDGs sebesar 15,5 persen pada tahun 2015. Kedua, pendidikan dasar untuk semua makin membaik. Upaya Indonesia terkait pendidikan dasar dan melek huruf sudah menuju pada pencapaian target 2015 (ontrack). Ketiga, kesetaraan gender dan pemberdayaan perempuan. Rasio angka partisipasi murni (APM) perempuan terhadap laki-laki di sekolah dasar dan sekolah menengah pertama berturut-turut sebesar 99,73 dan 101,99 pada tahun 2009. Rasio melek huruf perempuan terhadap laki-laki pada kelompok usia 15-24 tahun telah mencapai 99,85. Disamping itu proporsi kursi yang diduduki oleh perempuan di DPR pada pemilu terakhir juga naik menjadi 17,9 persen. Empat, angka kematian anak menurun. Angka kematian bayi di Indonesia menunjukkan penurunan yang cukup signifikan dari 68 pada tahun 1991 menjadi 34 per 1000 kelahiran pada tahun 2007. Sehingga target sebesar 23 per 1000 kelahiran hidup pada tahun 2015 diperkirakan akan dapat dicapai. Kelima, kesehatan ibu meningkat. Dari semua target MDGs, kinerja penurunan angka kematian ibu secara global masih rendah. Di Indonesia, angka kematian ibu melahirkan (MMR/maternal mortality rate) menurun dari 390 pada tahun 1991 menjadi 228 per 100 ribu kelahiran hidup pada tahun 2007. Enam, Memerangi HIV/AIDS, Malaria dan penyakit menular lainnya. Angka kejadian malaria per 1000 penduduk menurun dari 4,68 pada tahun 1990 menjadi 1,85 pada tahun 2009. Sementara itu pengendalian penyakit Tuberkulosis yang meliputi penemuan kasus dan

pengobatan telah mencapai target. Tujuh, Kelestarian lingkungan membaik . Proporsi rumah tangga dengan akses air minum layak meningkat dari 37,73 persen pada tahun 1993 menjadi 47,71 persen pada 2009. Sementara itu proporsi rumah tangga dengan akses sanitasi layak meningkat dari 24,81 persen pada 1993 menjadi 51,19 persen pada 2009. Proporsi rumah tangga kumuh perkotaan menurun dari 20,75 persen pada tahun 1993, menjadi 12,12 persen pada 2009. Delapan, membangun kemitraan global. Indonesia merupakan partisipan aktif dalam berbagai forum internasional dan mempunyai komitmen untuk terus mengembangkan kemitraan yang bermanfaat dengan berbagai organisasi multilateral, mitra bilateral dan sektor swasta untuk mencapai pola pertumbuhan ekonomi yang berdampak pada penurunan tingkat kemiskinan (pro-poor). Delapan bukti yang ditunjukkan oleh Bappenas adalah sebuah acuan atau ukuran untuk pemerintah dan masyarakat dalam memberikan kontribusi agar tercapainya target MDGs. Karena menurut Menteri Perencanaan Pembangunan Nasional Armida S Alisjahbana, dari hasil pencapaian MDGs terungkap bahwa kesejahteraan masyarakat Indonesia meningkat. Hal ini membuktikan bahwa MDGs menjadi acuan bagi pemerintah khususnya agar bekerja dengan arah dan batasan-batasan yang jelas untuk meningkatkan kesejahteraan masyarakat. Banyaknya kesulitan atau masalah Negara ini yang lebih sering dipublikasikan ketimbang dengan kemajuan yang ditorehkan membuat masyarakat pesimis dan selalu mengeluh tanpa membuat sebuah perubahan. Berhasil atau tidaknya target MDGs di Indonesia akan terbukti pada tahun 2015 nanti. Seharusnya masyarakat bekerja sama dengan pemerintah untuk mencapai target MDGs tersebut. Sebab MDGs ini bertujuan untuk mencapai kesejahteraan masyarakat dunia dan pembangunan global. Indonesia adalah bagian dari dunia, sudah semestinya kesejahteraan masyarakat dunia juga menjadi kesejahteraan bagi masyarakat Indonesia. Esensi : Menulis esai ini tidak hanya menjadi suatu kewajiban bagi saya sebagai mahasiswa baru FKM UI, tetapi juga memperluas pengetahuan baru. Pertama kali saya melihat tiga tema di tugas esai yang pertama, hanya satu yang saya tahu. Tidak lain dan tidak bukan adalah rokok. Apa itu MDGs? Apa itu SJSN? Setelah saya mencari, saya mulai memahami dan menelaah kedua tema tersebut. Setelah berpikir berulang kali, saya pun memilih MDGs sebagai tema yang akan saya angkat dalam esai. Mengapa saya tidak memilih Rokok? Karena saya ingin belajar, saya ingin tahu apa itu MDGs dan dinamikanya. Di dalam esai ini, saya menulis tentang dinamika MDGs. Dimulai dengan komitmen Indonesia dengan dunia melalui

program MDGs, diteruskan dengan berbagai kesulitan dan hambatan yang dilalui Indonesia untuk mencapai target MDGs, namun di tengah banyaknya kerikil, angin segar tetap berhembus di negeri tercinta ini. Saya ingin membuka pemikiran orang-orang Indonesia yang masih tertutup. Menurut saya, kita lebih sering mendengar berita tentang masalah-masalah Indonesia yang tidak pernah ada habisnya. Hal ini dapat membuat masyarakat pesimis bahkan putus asa untuk membangun negeri ini ke arah yang lebih baik. Kadang saya berpikir apakah selama pemerintahan bergulir tidak pernah ada kemajuan yang berarti bagi Indonesia. Mengapa setiap hari saya hanya mendengar keluhan dari masyarakat? Namun ketika saya menemukan salah satu artikel di sebuah situs berita Indonesia tentang 8 Bukti kesejahteraan masyarakat Indonesia meningkat, saya terkejut. Ternyata saya menemukan kenyataan bahwa selama ini Indonesia tidak selamanya terpuruk. Dari situlah, saya bertekad untuk membahas tentang komitmen, kesulitan, dan kemajuan yang ditorehkan melalui MDGs. Saya ingin menunjukan pada masyarakat bahwa kita mempunyai peluang besar untuk mencapai target MDGs pada tahun 2015. Saya ingin mereka berhenti mengeluh dan mau bekerja sama dengan pemerintah untuk ikut membangun negeri ini, bukan terus-terusan menyalahkan pemerintah. Kita telah berkomitmen dengan dunia melalui program brilian ini, dengan MDGs kita mempunyai referensi atau acuan agar pembangunan negeri ini terus berjalan dengan arah yang sesuai. Saya ingin menunjukan bahwa masih ada angin segar yang berhembus, masih ada secercah cahaya yang menyinari negeri tercinta ini. Mari kita membangun Indonesia dan dunia melalui MDGs!

Daftar Pustaka
http://id.wikipedia.org/wiki/Tujuan_Pembangunan_Milenium http://mdgs-dev.bps.go.id/ http://spamjateng.com/index.php?par=info&pidinfo=41 http://pinterdw.blogspot.com/2012/02/mengenal-target-mdgs.html http://log.viva.co.id/news/read/192678-8-klaim-bappenas-orang-indonesia-makinmakmur
http://www.berdikarionline.com/kabar-rakyat/20101018/srmi-anggap-mdgs-gagal-diindonesia.html#ixzz2b9wkuvPE

http://www.jurnas.com/halaman/6/2013-02-05/233691