Anda di halaman 1dari 30

ANALISIS BUTIR SOAL dan BANK SOAL

KOMPETENSI DAN INDIKATOR PENCAPAIAN KOMPETENSI


Tabel 1. Kompetensi dan Indikator pencapaian kompetensi dalam pembelajaran Analisis Butir Soal dan Bank Soal
Kompetensi konsep analisis Memahami butir soal .

No 1

Indikator Pencapaian Kompetensi

Menjelaskan pengertian analisis butir soal Menjelaskan kegunaan analisis butir soal Mendeskripsikan analisis butir soal berdasarkan jenis analisis Membedakan jenis analisis butir soal berdasarkan cara analisis Menganalisis validitas soal (menentukanTingkat spesifikasi soal) soal Menentukan Kesukaran Menentukan Daya Beda soal Menentukan keberfungsian pengecoh Menjelaskan pengelolaan Bank Soal Mengelola Bank Soal

2.

Mengelola

Bank Soal dan mengimplementasikannya dalam kegiatan belajar di KKG/MGMP.

Berikut adalah pertanyaan-pertanyaan yang dapat Anda gunakan untuk menguji pemahaman diri setelah mempelajari BBM ini. 1. Jelaskan pengertian analisis butir soal menggunakan kata-kata sendiri. 2. Jelaskanlah tujuan analisis butir soal. 3. Jelaskanlah manfaat melakukan analisis butir soal. 4. Jika Anda mendapatkan Tabel 3 Hasil Analisis Karakteristik Soal (HAKS) IDEAL Soal No. 1 (yaitu soal nomor 1 yang kita analisis di awal kegiatan pembelajaran 1) sebagai berikut: Bagaimana analisis Anda tentang karakteristik soal tersebut? Untuk menjawab soal, Anda perlu melengkapi dulu data pada Tabel 3 tersebut! Tabel 3. Hasil Analisis Karakteristik Soal (HAKS) Soal No. 1

1
BBM SUPLEMEN/ ANALISIS BUTIR SOAL dan BANK SOAL

ANALISIS BUTIR SOAL dan BANK SOAL Siapakah di antara nama-nama berikut yang menemukan telepon? a. Bell b. Marconi c. Morse d. Pasteur

Kelompok Pilihan Atas (KA) Bawah (KB) Jumlah (J) P = (KA + KB)/ J

A 0 4 2

B * 8 4 1 2

C 2 0 2

D 0 2 2

DB = (KA - KB)/0.50 . J

Uraikan dengan kata-kata Anda sendiri, bagaimana pengertian Anda tentang reliabilitas tes! Diskusikan dan uraikan dengan kata-kata sendiri tentang kemungkinan reliabilitas tes r = -0.50. Apakah nilai reliabilitas tersebut dimungkinkan terjadi? Apa konsekuensi dari nilai tersebut? Bagaimana tabel HAKS ideal yang dapat Anda harapkan? (Isi Tabel 4 berikut sehingga menggambar HAKS ideal!).

Siapakah di antara nama-nama berikut yang menemukan telepon? a. Bell b. Edison c. Marconi d. Morse Kelompok Pilihan Atas (KA) Bawah (KB) Jumlah (J)

Tabel 4. Hasil Analisis Karakteristik Soal (HAKS) IDEAL Soal No. 2

2
BBM SUPLEMEN/ ANALISIS BUTIR SOAL dan BANK SOAL

ANALISIS BUTIR SOAL dan BANK SOAL P = (KA + KB)/ J DB = (KA - KB)/0.50 . J

PENGERTIAN, LINGKUP SERTA KEGUNAAN ANALISIS BUTIR SOAL DAN ANALISIS TES
A. Pengantar Sebagai ilustrasi, simaklah kasus berikut ini, pernahkah Anda merasakan pengalaman ketika dalam suatu tes, siswa pandai mendapat nilai jelek, sementara siswa yang kurang pandai mendapat nilai baik? Apa kira-kira penyebabnya? Anda pasti membela diri: Bukankah saya sering membuat tes dan dengan demikian tes yang saya buat selalu memberi saya informasi yang sejalan dengan pengamatan saya tentang siswa yang saya asuh? Bukankah kesibukan saya tidak mempengaruhi kualitas penulisan tes? Dalam BBM ini, Anda dibantu untuk memahami kejadian tersebut. Namun sebagai catatan sebelum melanjutkan uraian, judul modul memang tertulis hanya analisis butir soal. Judul tersebut digunakan karena masyarakat umumnya mengenal istilah tersebut. Untuk kelengkapan pemahaman, uraian analisis butir soal tidak terlepas dari uraian tentang analisis tes. B. Pengertian dan Kegunaan Analisis butir soal dapat membantu Anda menjawab pertanyaan yang diajukan di muka. Analisis butir soal didefinisikan sebagai suatu proses untuk mengkaji kualitas butir-butir soal tes obyektif. Kualitas butir-butir soal yang baik menghasilkan tes atau pengukuran hasil belajar yang baik pula. Demikian juga sebaliknya, manakala kualitas butir-butir soal tidak baik, maka tidak akan akurat pula tes hasil belajar siswa. Dengan kata lain, kualitas butir-butir soal dapat membuat siswa pandai mempunyai nilai jelek dan siswa kurang pandai mendapat nilai baik, seperti dijelaskan di awal bab. Tes hasil belajar juga dapat memberi informasi tentang pembelajaran yang telah Anda lakukan. Jika misalnya, rata-rata hasil belajar siswa itu mempunyai 40 (dengan 100 sebagai nilai sempurna), maka Anda dapat bertanya apakah perangkat tesnya yang jelek atau pembelajarannya yang tidak baik.

3
BBM SUPLEMEN/ ANALISIS BUTIR SOAL dan BANK SOAL

Dengan demikian dapat disimpulkan bahwa kegunaan dari analisis butir soal adalah: 1. memberikan informasi tentang kualitas butir-butir soal atau tentang kualitas perangkat THB; 2. memberikan informasi dilakukan. Tes adalah satu atau seperangkat pertanyaan yang direncanakan untuk memperoleh informasi akurat tentang hasil belajar. Pertanyaan tersebut harus mempunyai jawaban yang benar. Tes dapat berupa tes formatif yang dimaksudkan untuk mengetahui apakah siswa sudah atau belum memahami materi yang diajarkan oleh guru. Tes juga dapat berupa tes sumatif yang merupakan tes hasil belajar dalam suatu periode waktu tertentu sesuai kebutuhan (ujian akhir semester, ujian kenaikan kelas, dst). Secara garis besar, dalam analisis butir dengan harus memahami BBM yang ditulis khusus dapat dilakukan terlebih mengenai konstruksi/ dahulu menganalisis konstruksi soal dari setiap butir soal. Untuk itu, Anda pengembangan soal tersebut. Konstruksi soal pilihan berganda terdiri atas stem (pokok soal) dan pilihan jawaban. Berikut disajikan ilustrasi analisis konstruksi butir soal lewat pembahasan 2 contoh butir soal. Siapakah di antara nama-nama berikut yang menemukan telepon? a. Bell b. Marconi c. Morse d. Pasteur Air panas akan bertahan panas jika disimpan dalam bejana yang dilapisi dengan .... a. kain b. seng c. keramik d. tembaga Apa yang dapat Anda simpulkan dari dua soal tersebut? Soal pertama Anda amati adalah tentang telepon atau alat komunikasi, sementara soal kedua baik tidaknya pembelajaran yang telah

4
BBM SUPLEMEN/ ANALISIS BUTIR SOAL dan BANK SOAL

ANALISIS BUTIR SOAL dan BANK SOAL

adalah tentang penyimpanan air panas. Jadi, jika hasil diskusi atau komentar Anda menyimpulkan bahwa kedua soal tersebut tidak mungkin berasal dari satu materi pokok maka Anda sebenarnya sudah melaksanakan kegiatan analisis butir soal dan analisis tes. Anda sudah memperhatikan materi atau isi soal dan kemungkinannya kedua soal tersebut berasal dari satu materi pokok atau mungkin dari satu tes. Jika kemudian Anda juga memperhatikan pilihan-pilihan jawaban (option) dari soal tersebut, maka Anda meneruskan analisis isi soal. Anda melihat misalnya pada soal pertama pilihan jawaban d, yaitu Pasteur itu lain sendiri, karena ilmuwan tersebut dikenal orang aktif dalam bidang ilmu kesehatan, bukan bidang ilmu teknis atau ilmu alam. Dengan kata lain, pilihan jawaban tersebut tidak homogen. Pilihan jawaban tidak homogen sepertinya juga terjadi di soal kedua. Dua pilihan jawaban terdiri atas logam, sementara dua pilihan lain dari bahan lain. Pada soal pertama Anda perlu sekali memperhatikan pilihan jawaban d dan sebaiknya pilihan jawaban tersebut diganti, misalnya dengan nama Edison yang samasama terkenal di bidang ilmu alam, sehingga rumusan soal menjadi: Siapakah di antara nama-nama berikut yang menemukan telepon? a. Bell. b. Edison. c. Marconi. d. Morse. Sementara itu, dalam soal kedua, Anda harus memperhatikan materi pokok yang diajarkan. Jika materi membahas sifat dan karakteristik berbagai macam bahan, maka pilihan jawaban yang tersaji mungkin sudah tepat. Akan tetapi, jika materi membahas tentang logam, maka dua pilihan jawaban yang bukan logam (yaitu, pilihan jawaban a dan b) harus diganti, misalnya, masing-masing dengan pilihan jawaban besi dan timah. Selain itu, rumusan soal juga harus diubah, sehingga misalnya menjadi;

BBM SUPLEMEN/ ANALISIS BUTIR SOAL dan BANK SOAL

15

Air panas akan bertahan panas jika disimpan dalam bejana yang terbuat dari .... a. besi b. seng c. tembaga d. timah Langkah berikutnya setelah analisis konstruksi butir soal adalah mencermati indikator soal. Mencermati indikator soal pada dasarnya terdiri atas 2 hal. Hal pertama adalah mencermati keberadaan komponen indikator soal yang diringkas dengan rumus ABCD, yaitu: A = Audience, ada subyek pembelajaran yang menjadi peserta tes, misalnya siswa kelas V semester 2, B = Behavior = perilaku yang diuji, C = Condition = bahan, alat dan sumber pembelajaran yang tersedia agar dapat menjawab soal, D = Degree, seberapa banyak atau tingkat penguasaan yang dikehendaki. Hal kedua dalam mencermati indikator soal adalah memeriksa keterkaitannya dengan indikator pembelajaran. Dalam hal kedua inilah, analisis butir berpotensi untuk memberi masukan tentang seberapa baik pembelajaran telah dilakukan.

6
BBM SUPLEMEN/ ANALISIS BUTIR SOAL dan BANK SOAL

ANALISIS BUTIR SOAL dan BANK SOAL

C. Ruang Lingkup Analisis Butir Soal dan Analisis Tes


Analsis Butir Soal Karakteristik Soal dan Tes

Spesifikasi Soal dan Tes

Spesifikasi Soal

Spesifikasi

Keterukuran Soal

Validitas Soal

Keterukuran Tes

Validitas Tes V. Muka V. Isi V.Konstruk V. Bersamaan V. Prediktif

V. Muka V. Isi V.Konstruk

Karakteristik Soal

Karakteristik Tes

Daya Beda Tk Kesukaran

Reliabilitas Tes

Keberfungsian Pengecoh/ Pilihan Jawaban

ANALISIS SPESIFIKASI SOAL DAN SPESIFIKASI TES


A. Pengantar Dalam bahan ajar 2 ini Anda diminta untuk lebih spesifik lagi memahami, mengurai, serta melaksanakan analisis butir soal dan analisis tes. Hal lebih spesifik tersebut dalam analisis butir soal ialah analisis tentang spesifikasi soal yang terdiri atas aspek keterukuran dan aspek validitas soal. Sementara itu dalam analisis tes, terdiri atas aspek keterukuran dan validitas tes. B. Pengertian Aspek-Aspek Spesifikasi Soal dan Spesifikasi Tes Sebagaimana disinggung di muka, spesifikasi soal terdiri atas keterukuran dan validitas soal, sementara spesifikasi tes juga terdiri atas keterukuran dan validitas tes. Untuk memahami spesifikasi soal dan spesifikasi tes pada dasarnya cukup dengan kajian kritis. Secara umum, spesifikasi soal dan spesifikasi tes lebih banyak berkaitan dengan kompetensi dan materi, sementara karakteristik soal dan karakteristik tes berkaitan dengan aspek statistik. Untuk memahami validitas tes tertentu perlu pengetahuan statisitik sederhana berupa korelasi antardua tes. Dalam BBM ini kita membatasi untuk tidak mengurai rumus statistik korelasi tersebut, tapi cukup pengertiannya saja. Korelasi yang disimbolkan dengan huruf r adalah sejauhmana dan pada arah mana kesejalanan dua kelompok angka (misalnya: dua kelompok skor tes siswa pada dua tes yang berbeda). Kesejalanan kedua kelompok angka tersebut ditunjukkan dengan angka besar korelasi yang mempunyai nilai dari minus 1 (-1.00) sampai dengan plus 1 (+1.00), misalnya: 0.34, 0.57, 0.85. Arah kesejalanan kedua kelompok angka ditunjukkan dengan tanda positif atau negatif di depan angka besar korelasi tersebut. Contoh: r = +1.00, artinya jika skor di kelompok satu tinggi, maka skor di kelompok lainnya juga tinggi, r = -0.90 artinya jika skor di kelompok satu tinggi, maka skor di kelompok lainnya cenderung rendah.

8
BBM SUPLEMEN/ ANALISIS BUTIR SOAL dan BANK SOAL

ANALISIS BUTIR SOAL dan BANK SOAL

Seberapa besar kecenderungan tersebut? Kecenderungan tersebut tidak dihitung secara eksak, tetapi dapat ditetapkan dengan angka yang disebut koefisien determinansi (d) yang besarnya adalah d = r2. Contoh: Jika r = -0.90, maka d = r2 = (-0.90)2 = 0.81. Ini menunjukkan skor tinggi pada kelompok satu (misalnya kelas A) mempunyai kemungkinan sebesar 81% memperoleh skor rendah pada kelompok yang lainnya (misalnya kelas B). C. Spesifikasi Soal: Keterukuran dan Validitas Soal Sebagai suatu aspek spesifikasi soal, analisis keterukuran soal merupakan analisis sejauhmana komponen perilaku dalam indikator benar-benar dapat diukur. Dalam rumusan soal seperti Siswa Kelas V dapat memahami struktur pemerintahan tentu di tingkat desa, maka kita bertanya sebenarnya apa yang akan diukur: kemampuannya untuk mengingat,

kemampuannya untuk menyebutkan, atau kemampuannya untuk mengamati lingkungan sosial di sekitarnya? Untuk lebih mendalami tentang keterukuran soal, Anda perlu mengingat kembali uraian dan diskusi yang telah dilakukan pada saat mengkaji Bahan Ajar 1 dalam BBM ini. Dalam uraian dan diskusi tersebut, kita telah menganalisis dan mendiskusikan dua butir soal beserta kemungkinan- kemungkinan untuk memperbaiki atau menyempurnakannya. Pada dasarnya keterukuran soal idealnya ditetapkan bersama-sama antarahli materi (termasuk guru) dengan ahli pengembang tes/ kurikulum. Validitas soal terdiri atas 3 jenis, yaitu: 1. validitas muka (face validity), 2. validitas isi (content validity), dan 3. validitas konstruk (construct validity). Validitas yang dilakukan dengan cara melihat soal secara sepintas dinamakan aspek kuantitatif

validitas muka. Dengan validitas muka, kita dapat mengamati misalnya bahwa soal-soal matematika tentulah berkaitan dengan angka atau sekurang-kurangnya tidak ada aspek kuantitatif, maka diragukan tes tersebut sebagai tes matematika. Begitu BBM SUPLEMEN/ ANALISIS BUTIR SOAL dan BANK SOAL (besar, kecil, panjang, pendek, tinggi, rendah, dst.). Jika dalam soal-soal matematika

19

juga dalam bahasa Indonesia, jika mengatakan sesuai dengan Standar Isi tapi tidak ada upaya pencapaian kompetensi mendengarkan, berbicara, membaca dan menulis, maka patut diragukan tes tersebut sebagai tes bahasa Indonesia. Validitas yang serupa dengan validitas muka adalah validitas konstruk. Validitas konstruk berbeda dari validitas muka dalam hal validitas konstruk mengacu pada konsep-konsep psikologi yang lebih mendasar. Dengan demikian, validitas konstruk lebih tepat ditetapkan oleh ahli psikologi atau psikometri dan bekerjasama dengan ahli materi. Validitas isi yang berupa kebenaran materi (content validity) paling layak ditetapkan oleh ahli materi bersangkutan. Untuk soal biologi, ketepatan materi hanya dapat ditentukan oleh ahli biologi. Materi soal IPS hanya dapat ditentukan oleh ahli IPS. Pendidik di tingkat SD yang tidak menganut sistem mata pelajaran harus menguasai semua materi SD dengan demikian dapat menentukan validitas isi suatu butir soal. D. Spesifikasi Tes: Keterukuran dan Validitas Tes Secara umum, spesifikasi tes pada dasarnya sama dengan spesifikasi soal. Dua spesifikasi pokok yang harus ditetapkan yaitu keterukuran dan validitas. Jika setiap butir soal tingkat keterukurannya baik, maka perangkat tes pun tentu mempunyai keterukuran yang baik pula. Validitas tes pada dasarnya sama saja dengan validitas soal dalam arti jika soal-soal dalam suatu tes valid maka otomatis atau sekurang-kurangnya kemungkinan besar tesnya pun valid. Validitas tes terdiri atas 5 jenis, yaitu: 1. validitas muka (face validity), 2. validitas isi (content validity), 3. validitas konstruk (construct validity), 4. validitas bersamaan (concurrent validity), 5. validitas prediktif. Penjelasan mengenai validitas muka, validitas isi, dan validitas konstruk yang dikemukakan untuk menjelaskan validitas soal juga berlaku untuk menjelaskan validitas tes. Hanya saja untuk validitas konstruk, perlu ditambahkan informasi bahwa validitas tes harus dianalisis secara statistik

10
BBM SUPLEMEN/ ANALISIS BUTIR SOAL dan BANK SOAL

ANALISIS BUTIR SOAL dan BANK SOAL

menggunakan analisis faktor yang rumit sehingga tidak perlu diuraikan lebih lanjut lagi. Validitas prediktif dan validitas bersamaan pada dasarnya sama yaitu perlu rumus statistik korelasi untuk menunjukkannya. Keduanya memprediksi pencapaian seseorang berdasarkan hasil uji perangkat tes yang lain. Dalam validitas bersamaan kedua tes dianggap diikuti dalam waktu relatif bersamaan. Sementara itu, untuk validitas prediktif pelaksanaan kedua tes dibatasi waktu. Semakin lama waktu maka kaitan atau korelasi atau r antarkedua tes semakin kecil.

BBM SUPLEMEN/ ANALISIS BUTIR SOAL dan BANK SOAL

21

ANALISIS KARAKTERISTIK SOAL DAN KARAKTERISTIK TES


A. Pengantar Dalam bahan ajar 3 ini Anda diminta untuk lebih spesifik lagi memahami, mengurai, serta melaksanakan analisis butir soal dan analisis tes. Hal lebih spesifik dalam analisis butir soal tersebut adalah analisis tentang karakteristik yang terdiri atas aspek tingkat kesukaran dan aspek daya beda soal. Sementara itu, dalam analisis tes, hal yang lebih spesifik tersebut adalah karakteristik tes yang berupa aspek reliabilitas tes. B. Tingkat kesukaran (P) Untuk memahami karakteristik soal, pada dasarnya Anda mengulang analisis yang dilakukan di awal kegiatan pembelajaran pada bahan ajar 1 yaitu kegiatan untuk analisis spesifikasi soal. Hanya saja kali ini tidak dari sisi materi dan kompetensinya, tetapi dari sisi statistik sederhananya. Misalnya soal kedua pada kegiatan analisis spesifikasi soal tersebut menghasilkan tabel hasil analisis karakteristik soal (HAKS) (Tabel 5) sebagai berikut. Tabel 5. Hasil Analisis Karakteristik Soal (HAKS) Soal No. 2
Air panas akan bertahan panas jika disimpan dalam bejana yang dilapisi dengan .... a. kain b. seng c. keramik d. tembaga*

Kelompok Pilihan Atas (KA) Bawah (KB) Jumlah (J)

A 1 6 7

B 4 2 6

C 0 2 2

D * 5 0 5

BBM SUPLEMEN/ ANALISIS BUTIR SOAL dan BANK SOAL

12

ANALISIS BUTIR SOAL dan BANK SOAL

Untuk memahami tabel tersebut, diperlukan sejumlah informasi sebagai berikut. 1. Kata Pilihan dalam baris pertama tabel artinya pilihan jawaban untuk menjawab soal, 2. Kata Jumlah pada baris paling bawah menunjukkan jumlah siswa yang memilih pilihan jawaban bersangkutan. Jadi, pilihan jawaban A, B, C, dan D dipilih masing-masing oleh 7, 6, 2, dan 5 siswa. Jumlah keseluruhan peserta tes atau siswa yang menjawab soal tersebut adalah J = 7 + 6 + 2 + 5 = 20 siswa. Dengan pengetahuan tentang jumlah siswa yang memilih jawaban A, B, C, dan D, maka kita sekarang dapat menjelaskan satu aspek karakteristik soal yang dinamakan tingkat kesukaran soal. Jika Anda cermati tabel soal di muka, pilihan D diberi tanda bintang. Dalam analisis butir soal, tanda bintang tersebut menunjukkan kunci soal. Dengan melihat jumlah siswa yang memilih pilihan jawaban D dan jumlah keseluruhan peserta tes, maka kita peroleh besarnya indeks tingkat kesukaran soal (P).
Tingkat kesukaran (P) = Jumlah peserta tes yang menjawab benar dibagi dengan jumlah keseluruhan peserta tes. Atau P = proporsi peserta yang menjawab dengan benar.

Untuk soal di muka, P = jumlah siswa yang memilih jawaban D dibagi dengan jumlah keseluruhan peserta tes. P = 5/10 = 0,20 Untuk menentukan tingkat kesukaran butir soal kita dapat menggunakan Tabel 6 tingkat kesukaran berikut ini. Di beberapa sumber ada perbedaan mengenai rentang nilai untuk tingkat kesukaran. Hal ini bisa diterima sepanjang kita ajeg atau konsisten dalam menggunakan suatu sumber saat melakukan analisis.

BBM SUPLEMEN/ ANALISIS BUTIR SOAL dan BANK SOAL

23

Tabel 6. Tingkat kesukaran Tingkat Kesukaran Sukar Sedang Mudah Rentang Nilai 0.00 0.25 0.26 0.75 0.76 1.00 Dengan membandingkan P untuk pilihan D (0.20) dan Tabel P, kita bisa simpulkan bahwa soal tersebut dikategorikan SUKAR. Anda mungkin bertanya, mengapa soal semudah itu dikategorikan sukar oleh siswa? Pertama, oleh karena sudah biasa mengajar suatu materi tertentu guru cenderung menganggap materi tersebut mudah. Akibatnya, ketika membuat soal, soal yang dianggap guru mudah (P-nya tinggi) biasanya menurut siswa tingkat kesukaran soal tersebut dirasakan sedang (P-nya sedang). Begitu pula soal yang dianggap guru sedang biasanya menurut siswa dirasakan sukar (P-nya rendah). Jawaban selanjutnya adalah dengan memperhatikan jumlah peserta tes yang memilih pilihan jawaban lain (selain pilihan jawaban yang benar), yaitu yang memilih pilihan jawaban A, B dan C yang masing-masing berjumlah 7, 6 dan 2. Pilihan jawaban A dan B lebih menarik untuk dipilih dibanding dengan memilih jawaban yang benar. Dari data tersebut Anda dapat bertanya dengan lebih spesifik lagi: mengapa demikian? Atau, mengapa pilihan A dan B lebih menarik bagi peserta tes daripada pilihan D yang merupakan jawaban benar? Mungkinkah peserta tes terkecoh, misalnya, oleh kata-kata dalam pokok soal yang berbunyi yang dilapisi dengan dan kemudian berpikir bahwa bahan yang mudah untuk dipakai melapisi adalah kain (pilihan jawaban A) kemudian baru seng (pilihan jawaban B). Ada kemungkinan pula siswa tidak dapat membayangkan kalau tembaga dapat digunakan sebagai pelapis. Pendeknya, dengan mengetahui P dan jumlah peserta tes yang memilih pilihan jawaban lainnya, kita dapat mengajukan pertanyaan lebih banyak lagi dibandingkan jika kita hanya membatasi diri pada kajian konstruksi (dan indikator) soal seperti yang kita lakukan di muka. Dengan kata lain, kita dapat menganalisis dengan lebih rinci lagi keberadaan soal yang kita susun dan kita analisis. Kesimpulan yang diperoleh pun akan lebih lengkap. BBM SUPLEMEN/ ANALISIS BUTIR SOAL dan BANK SOAL

14

ANALISIS BUTIR SOAL dan BANK SOAL

Termasuk misalnya kesimpulan bahwa kita sebaiknya merevisi soal tersebut seperti yang sudah kita lakukan. Agar analisis kita lebih rinci, maka diperlukan analisis tentang Daya Beda soal (DB) seperti dijelaskan berikut ini. C. Daya beda Soal (DB) dan Cara Melakukan Analisis Butir Soal Menjelaskan DB pada dasarnya adalah menjelaskan adanya siswa kelompok atas dan siswa kelompok bawah. Lebih dari itu, ketika menjelaskan DB sebaiknya melakukan analisis butir soal dipahami juga cara secara sederhana dan secara manual. DB dapat kita

artikan sebagai suatu indeks yang menunjukkan bagaimana pilihan jawaban membedakan siswa pandai (atau yang belajar dengan baik) dari yang kurang pandai (atau yang tidak belajar). Untuk melakukan analisis seperti itu dan untuk mendapat data tentang jumlah siswa dari kedua kelompok tersebut yang memilih pilihan jawaban A, B, C atau D atau untuk mendapatkan tabel HAKS, maka caranya adalah sebagai berikut. 1. Lembar jawaban ujian siswa yang sudah diberi skor diurutkan dari skor paling besar ke skor yang paling kecil. 2. Bagi dua lembar jawaban ujian (LJU) tersebut. Contoh peserta tes kita ada 20 siswa, maka kelompok LJU yang mempunyai skor tinggi yang dinamakan kelompok atas berjumlah 10 LJU. LJU yang mempunyai skor rendah dinamakan kelompok bawah berjumlah 10 LJU (Jika misalnya terjadi LJU ke 9, 10 dan 11 mempunyai skor sama, maka masukkan 2 LJU ke kelompok atas secara acak). 3. Untuk memudahkan perhitungan dan jika guru akan melibatkan siswa dalam penghitungan hasil tes atau ujian, bagikan ke-10 LJU kelompok atas kepada 10 siswa yang berada di baris kanan, dan ke-10 kelompok atas kepada 10 siswa yang berada di baris kiri. 4. Data yang terdapat pada Tabel HAKS Soal No. 2 diperoleh dengan cara, guru bertanya pada kelompok atas: Berapa yang LJU-nya memilih pilihan jawaban A? Dari kelompok tersebut akan ada 3 orang yang mengacungkan tangan atau ada 3 orang yang mengatakan LJU-nya memilih jawaban A. Pertanyaan sama pada kelompok bawah akan

BBM SUPLEMEN/ ANALISIS BUTIR SOAL dan BANK SOAL

25

menghasilkan jawaban 4 orang memilih pilihan jawaban A. Demikian seterusnya sehingga Tabel HAKS Soal No. 2 (Tabel 7) dapat dilengkapi. Tabel 7. Hasil Analisis Karakteristik Soal (HAKS) Soal No. 2 Kelompok Pilihan Atas (KA) Bawah (KB) Jumlah (J) P = (KA + KB)/ J DB = (KA - KB)/ 0.50 . J Cara menghitung DB Bagaimana mencari DB Soal No. 2? Berikut ini adalah rumus yang bisa dipakai. Daya Beda (DB) = (KA KB)/0.5 x J Keterangan: DB : Daya Beda KA : jumlah peserta dalam kelompok atas KB : jumlah peserta dalam kelompok bawah J : jumlah seluruh peserta tes Dengan menggunakan rumus di muka, daya beda untuk kunci soal (pilihan D) adalah sebagai berikut. DB = (KA KB)/0.5 x J = (5 0)/ 0.5 x 20 = 5/10 = 0.20. Kesepakatan umum menyatakan bahwa DB terkecil yang dapat diterima adalah 0.25 sampai 1.00 (1.00 adalah nilai maksimum atau ideal). Dari nilai DB=0.20, kita memperoleh indikasi bahwa soal tidak mampu untuk membedakan antara pencapaian kelompok atas dan kelompok bawah. A 1 6 7 0.35 0.50 B 4 2 6 0.3 0 0.2 0 C 0 2 2 0.10 0.20 D* 5 0 5 0.2 5 0.5 0 Jm l 10 10 20 1.0 0 0.0 0

BBM SUPLEMEN/ ANALISIS BUTIR SOAL dan BANK SOAL

16

ANALISIS BUTIR SOAL dan BANK SOAL

Dengan kata lain jawaban yang benar tidak jelas terbedakan dari jawaban- jawaban yang salah (pengecoh/ distructor). Keberfungsian Pengecoh Dengan menggunakan daya beda kita juga dapat menentukan apakah pengecoh berfungsi atau tidak. Informasi mengenai keberfungsian pengecoh memberikan indikasi untuk merevisi soal. Daya beda untuk pengecoh sebut saja- daya beda pengecoh. Untuk memudahkan kita gunakan daya beda pengecoh A dengan singkatan DBA, daya beda pengecoh B dengan singkatan DBB, dan untuk pengecoh C dengan DBC. Untuk mengetahui keberfungsian pengecoh kita perlu menghitung daya beda setiap pengecoh. Dalam kasus soal nomor 2, berikut adalah nilai DB masing-masing pengecoh. DBA = (KA KB)/0.5 x J = (3 4)/ 0.5 x 10 = -1/10 = -0.10 DBB = (KA KB)/0.5 x J = (4 2)/ 0.5 x 10 = 2/10 = 0.20 DBC = (KA KB)/0.5 x J = (0 2)/ 0.5 x 10 = -2/10 = -0.20. Dari tabel HAKS, kita juga dapat mengamati bahwa jumlah total DB (DB = DBA + DBB + DBC + DBD) adalah 0.00, sementara jumlah total tingkat kesukaran atau P (P = PA + PB + PC + PD) adalah 1.00. Dari nilai DB = -0.10, dapat disimpulkan bahwa tanda negatif di depan
A

angka 0.10 berarti lebih banyak siswa pandai yang terkecoh. Angka 0.10 menunjukkan kinerja pengecoh belum cukup baik karena masih agak jauh dari nilai minimun untuk kategori DB yang baik atau dapat diterima yaitu 0,25. DBB = 0.20, dapat kita simpulkan bahwa siswa yang kurang belajar (kelompok bawah) lebih banyak yang terkecoh. Angka 0.20 menunjukkan pengecoh berfungsi dengan cukup efektif (karena dekat dengan angka 0.25, yaitu DB minimum yang dapat diterima atau dikatakan

17
BBM SUPLEMEN/ ANALISIS BUTIR SOAL dan BANK SOAL

ANALISIS BUTIR SOAL dan BANK SOAL

sebagai baik).

18
BBM SUPLEMEN/ ANALISIS BUTIR SOAL dan BANK SOAL

Dari nilai DBC = -0.20, kita bisa menyimpulkan bahwa justru banyak siswa pandai yang terkecoh yang ditunjukkan dari tanda negatif. Angka 0.20 mendekati angka minimum untuk mengkategorikan DB yang dapat diterima. Oleh karena ada tanda negatif, sekalipun angkanya 0,20 pilihan jawaban ini harus dipertimbangkan untuk direvisi. Perlu ditekankan adalah ketika mempelajari DB kita juga mempelajari tabel HAKS. Data pada Tabel HAKS adalah bukan harga mutlak soal harus direvisi, tapi semata-mata indikasi atau petunjuk bagian mana dari soal yang perlu mendapat perhatian. Dengan kata lain, tabel HAKS adalah untuk mempertajam analisis yang kita lakukan di awal kegiatan pembelajaran menggunakan bahan ajar 1. Jika pertimbangan akademis seperti yang kita lakukan di awal kegiatan pembelajaran 1 tersebut menunjukkan bahwa soal dan pilihan-pilihan jawabannya sudah baik, Anda dapat saja mengabaikan data pada tabel HAKS. Hal penting lain yang perlu ditekankan adalah kenyataan bahwa siswa yang dihadapi guru rata-rata berjumlah 40-50 siswa. Atas dasar praktis, tidak semua LJU siswa dianalisis. Cukup hanya setengahnya atau berkisar antara 20-30 LJU yang perlu dianalisis. Alternatif lain yang juga biasa digunakan adalah dengan mengambil 27% skor teratas sebagai kelompok atas (KA) dan 27% skor terendah sebagai kelompok bawah (KB). Alternatif ini umumnya memberikan informasi yang relatif baik. Hal ini demikian karena persentase itu diperoleh melalui rumus statistik sederhana yang biasa digunakan untuk membagi kelompok besar (populasi) ke dalam 3 kelompok kecil. Di samping itu, pengalaman Anda menganalisis soal juga akan membuktikan berapa LJU yang harus dianalisis. Di awal kegiatan pembelajaran 1 (bahan ajar 1), kita menjajagi dan melakukan revisi soal. Bagaimana tabel HAKS ideal yang kita harapkan? Dari penjelasan tentang P dan DB, dapatkah Anda menetapkan tabel HAKS yang ideal? Jika Anda memahami penjelasan tentang P dan DB tersebut tentu Anda tidak akan kesulitan untuk menjawab pertanyaan tersebut, bukan? Anda juga tidak akan kesulitan menemukan jawabannya, yaitu seperti tertera pada Tabel 8 berikut. Anda dipersilahkan untuk menjelaskannya mengapa tabel HAKS tersebut dikatakan sebagai tabel HAKS ideal!

BBM SUPLEMEN/ ANALISIS BUTIR SOAL dan BANK SOAL

19

ANALISIS BUTIR SOAL dan BANK SOAL

Air panas akan bertahan panas jika disimpan dalam bejana yang terbuat dari .... a. besi b. seng c. tembaga d. timah

Tabel 9. Hasil Analisis Karakteristik Soal (HAKS) IDEAL Soal No. 2

Kelompok Pilihan Atas (KA) Bawah (KB) Jumlah (J) P = (KA + KB)/ J DB = (KA - KB)/ 0.50 . J

A 1 6 7 0.35 0.50

B 4 2 6 0.30 0.20

C 0 2 2 0.10 0.20

D * 5 0 5 0.2 5 0.5 0

Jm l 1 0 1 0 20 1.0 0 0.0 0

Reliabilitas Tes Topik terakhir yang perlu Anda ketahui ketika melakukan analisis butir soal dan dan analisis tes adalah tentang karakteristik tes yang dinamakan reliabilitas tes. Untuk memahami topik ini, Anda perlu mengingat lagi pengertian penjelasan tentang koefisien korelasi disajikan di awal uraian langkah kegiatan pembelajaran pada kegiatan pembelajaran 2. Anda masih ingat bukan? Topik tentang reliabilitas tes (katakan saja, keterpercayaan tes) pantas menjadi topik terakhir dalam analisis butir soal dan analisis tes, karena reliabilitas pada dasarnya adalah semacam pengakuan bahwa tes yang kita susun bagaimana pun sempurnanya menurut kita pasti mengandung kesalahan. Tegasnya, dalam tiap skor siswa yang kita tes kita akui mengandung skor yang keliru (skor sebenarnya = skor yang diperoleh dari tes skor keliru). Jadi, jika suatu tes diujikan ulang pada siswa yang sama, maka skor tiap siswa pada tes kedua mungkin beda dengan skor yang diperoleh pada saat pertama. Begitu juga dengan dua tes yang paralel. Tes paralel adalah istilah teknis untuk menunjukkan bahwa dua atau lebih tes disusun untuk mengukur standar kompetensi yang sama tetapi materi tiap soalnya beda. Skor siswa pada satu tes mungkin beda dengan skornya pada tes paralel.

20
BBM SUPLEMEN/ ANALISIS BUTIR SOAL dan BANK SOAL

Ketidaksempurnaan

tes

mungkin

saja

terlihat

dari

spesifikasi

dan

karakteristiknya (baik butir soal maupun tesnya). Berikut adalah hal yang dapat mempengaruhi tingkat reliabilitas tes. 1. Tes yang tidak dapat diskor dengan obyektif (tes uraian misalnya) tentu dapat membuat reliabilitas tes rendah. 2. Makin banyak jumlah soal dalam sebuah tes, makin tinggi pula kemungkinan tes mempunyai reliabilitas tinggi. 3. Makin beragam pencapaian pembelajaran siswa, makin tinggi pula kemungkinan tes mempunyai reliabilitas tinggi. Apakah indikator reliabilitas tes (yang menunjukkan rendah atau tingginya reliabilitas tes)? Jawabnya seperti telah Anda duga adalah: koefisien korelasi! Makin tinggi nilai r (makin mendekati nilai +1.00), maka makin tinggi reliabilitas tes. Sebaliknya makin rendah atau makin mendekati nilai 1.00 jika ada- makin buruk tingkat reliabilitas tes. Bagaimana reliabilitas dihitung? Setidaknya ada 4 cara berikut untuk menghitung reliabilitas tes dan tiap jenis tersebut mempunyai kegunaan tersendiri. 1. Seperti disinggung pada paragraf sebelumnya, reliabilitas diperoleh dengan cara tes dan tes ulang (retest). Sebuah tes diujikan lagi pada peserta tes sama, kemudian skor dari satu tes dikorelasikan dengan skor dari tes lainnya. Kegunaan reliabilitas tes dan tes ulang adalah untuk menunjukkan seberapa jauh kompetensi yang diuji tes berubah dengan bertambahnya waktu. 2. Seperti juga disinggung pada paragraf sebelumnya, reliabilitas diperoleh dengan cara menguji siswa dengan dua tes paralel dan skor dari kedua tes dikorelasikan satu dengan lainnya. Kegunaan reliabilitas tes paralel ini adalah untuk menguji kesetaraan dua perangkat tes. 3. Reliabilitas diperoleh dengan cara split-half (belah dua). Skor dari nomor soal ganjil suatu tes dikorelasikan dengan skor nomor soal genap dari tes yang sama. Kegunaan reliabilitas konsistensi internal tes ini adalah untuk menguji seberapa jauh sebuah tes secara homogen menguji kompetensi tertentu. 4. Selain dengan berbagai rumus statistik lainnya, reliabilitas konsistensi internal tes juga dapat diperoleh dengan rumus yang dinamakan dengan KR-20 (Kuder-Richardson 20). Untuk menghitung KR-20 diperlukan

21
BBM SUPLEMEN/ ANALISIS BUTIR SOAL dan BANK SOAL

ANALISIS BUTIR SOAL dan BANK SOAL

pengetahuan statistik yang lebih lanjut sehingga tidak akan dibahas dalam BBM ini.

22
BBM SUPLEMEN/ ANALISIS BUTIR SOAL dan BANK SOAL

PENGELOLAAN BANK SOAL


A. Pengantar Bank soal adalah istilah untuk sebuah tempat penyimpanan butir soal tes (test item) yang telah diuji validitas dan reliabilitasnya yang di dalamnya terdapat informasi yang dimiliki oleh butir-butir soal tes tersebut seperti penulis, tanggal dibuat, jawaban, format, dll. Butir-butir soal tersebut dapat diambil dari sebuah bank soal untuk digunakan dalam menyusun sebuah perangkat tes dengan karakteristik tertentu. Pengembangan bank soal menuntut perencanaan, pelaksanaan, dan

perawatan yang baik. Soal yang dihimpun di bank soal haruslah yang sudah teruji di lapangan sehingga jelas kualitasnya dalam berbagai aspek. Bank soal juga perlu menyediakan soal yang sesuai dengan kebutuhan terkait mata pelajaran, kurikulum (SK/KD), tingkat kesukaran, dsb. Misalnya bank soal perlu menyediakan butir-butir soal dengan berbagai tingkat kesukaran. Sebagai contoh kita dapat mengidentifikasi butir soal mana yang dianggap sulit oleh siswa kelas empat atau kita juga dapat mengidentifikasi keahlian membaca mana yang dapat dikuasai oleh siswa pada kelas yang sesuai. Keberadaan bank soal di KKG/MGMP dapat membantu pengelolaan ujian yang dilaksanakan sekolah atau rayon/wilayah. Bank soal juga dapat dipergunakan dalam membantu mengorgasnisasikan program untuk siswa berbakat atau remedial. B. Mengapa Perlu Bank Soal? Untuk menyusun sebuah tes dibutuhkan tenaga dan waktu yang tidak sedikit. Penulis soal tidak hanya perlu untuk menulis butir-butir tes dengan baik tetapi juga harus memikirkan bagaimana agar masing-masing butir soal tersebut tidak terlalu mudah atau terlampau sulit. Bank soal menawarkan cara yang cukup nyaman dalam menyimpan dan menyediakan soal untuk berbagai keperluan. Proses ini dapat mengurangi tenaga dan waktu yang dibutuhkan dibandingkan dengan tanpa bank soal. Bank soal yang diuji dengan baik juga dapat memberikan sebuah sistem

23
BBM SUPLEMEN/ ANALISIS BUTIR SOAL dan BANK SOAL

ANALISIS BUTIR SOAL dan BANK SOAL

dalam menyimpan informasi penting dari soal-soal. Ketika menggunakan bank soal yang dibangun dengan baik, soal yang memenuhi kriteria tertentu dapat dengan mudah diambil dan tes baru dengan karakteristik yang diinginkan dapat dengan mudah dibangun. Berikut adalah manfaat dari Bank Soal: 1. pengguna dalam jumlah yang besar dapat menggunakan butir-butir soal dalam bank soal tanpa harus membuatnya sendiri; 2. memungkinkan tersedianya soal-soal dengan keragaman yang tinggi dalam berbagai aspek; 3. pengguna yang beragam memungkinkan terjadinya reviu yang intensif, memperbarui dan menerima butir-butir soal baru; dan 4. pencarian butir-butir soal yang mudah dengan menggunakan berbagai dasar pencarian sesuai keperluan, misalnya berdasarkan mata pelajaran, topik (SK/KD), tingkat kesukaran. C. Bagaimana Mengelola Bank Soal Langkah yang paling penting dalam mengembangkan sebuah bank soal adalah

perencanaan. Hal ini meliputi persiapan SDM, identifikasi apa yang harus dimiliki untuk memulai sebuah bank soal, dan apa yang kita harapkan dari penggunaan bank soal. Semua orang yang terlibat dalam proses ini dengan cermat harus memahami tujuan, ruang lingkup, dan manfaat untuk menciptakan sebuah bank soal. Beberapa pelatihan formal biasanya diperlukan untuk memulai proses ini. Dalam konteks program BERMUTU, pelatihan bisa dilakukan saat in-service atau menjadi bagian dari kegiatan reguler di KKG/MGMP. Sebuah sistem bank soal yang baik haruslah memiliki narasumber senior yang menjawab maju dan pertanyaan-pertanyaan menggunakan Bank teknis Soal yang pasti akan timbul. Jika sudah dapat lebih

berbasis informasi teknologi (IT), diperlukan juga

seseorang dengan kemampuan IT yang mampu membangun dan mempertahankan sistem basis data. Selain itu juga dibutuhkan SDM yang mampu bersikap secara kritis atas berbagai kualitas dari bank soal tersebut. Untuk keperluan ini pengelola KKG/MGMP bisa mengorganisasikan SDM yang tersedia seperti guru pemandu, Kepala

BBM SUPLEMEN/ ANALISIS BUTIR SOAL dan BANK SOAL

33

Sekolah, Pengawas Sekolah atau pihak lain yang memiliki kompetensi sesuai yang diperlukan. Begitu sebuah bank soal selesai dibentuk, terdapat dua kegiatan yang harus dilakukan dalam menjalankan bank soal tersebut yaitu membuat sebuah deposit (dari soal-soal) dan mengambil soal-soal tersebut untuk membangun sebuah tes. Deposit dapat dibentuk dari kumpulan soal-soal yang sudah ada (deposit besar), atau dapat pula dibangun secara bertahap dimana soal-soal baru ditulis dan divalidasi (deposit kecil). Metode apapun yang digunakan, soal-soal yang berpotensi bisa digunakan harus dievaluasi terkait kualitas, kesesuaian dengan kurikulum, serta potensi bias. Yang perlu diingat adalah bahwa kegunaan dari bank soal akan langsung berhubungan dengan kualitas butir soal dalam bank soal. Untuk kepentingan di muka, tugas-tugas terstruktur dalam BBM ini dapat dijadikan satu sumber untuk membangun deposit tersebut. Cara lainnya adalah dengan menghimpun butir-butir soal (dengan data hasil penggunaan kepada siswa) yang dimiliki sekolah/ KKG/MGMP. Data ini selanjutnya dianalisis dan direvisi untuk mengetahui butir-butir soal mana yang berpotensi digunakan. Butir-butir soal dengan kualitas yang jelaslah yang kemudian dapat dihimpun di bank soal.

Memelihara Bank Soal Pengembangan bank soal menuntut banyak usaha. Perawatan harus diperhatikan untuk memastikan bahwa hanya butir-butir soal yang berkualitas yang dapat disimpan pada bank soal. Butir-butir soal harus dengan hati-hati ditulis, diuji lapangan, dan data statistik yang sesuai dikumpulkan dan disimpan untuk setiap butir soal. Informasi dari setiap butir soal harus diperbarui secara berkala dengan bertambahnya informasi yang didapat dari setiap butir soal. Beberapa tantangan yang perlu ditangani dalam mengelola bank soal adalah sebagai berikut. 1. Memperbaharui butir-butir dalam jumlah besar karena hanya butir soal yang sudah jelas kualitasnya dalam berbagai aspeklah yang dapat dihimpun ke dalam bank soal.

25
BBM SUPLEMEN/ ANALISIS BUTIR SOAL dan BANK SOAL

ANALISIS BUTIR SOAL dan BANK SOAL

2. Menjaga kualitas butir soal dalam berbagai aspek. Hal ini memerlukan uji lapangan dan analisis. 3. Menjaga penggunaan butir-butir soal agar digunakan hanya oleh yang berhak. 4. Menentukan kata kunci untuk keperluan klasifikasi soal agar mudah disimpan dan digunakan.

BBM SUPLEMEN/ ANALISIS BUTIR SOAL dan BANK SOAL

35

GLOSARIUM
(Daftar kata atau istilah dengan penjelasannya dalam bidang tertentu) Analisis butir soal Bahan ajar : suatu prosedur untuk menentukan spesifikasi serta karakteristik butir soal dan tes. : informasi ringkas dalam bentuk narasi atau powerPoint yang dimuat atau dilampirkan dalam Buku Bahan Belajar Mandiri yang digunakan secara langsung dalam kegiatan belajar (tatap muka) untuk memahami topik pembelajaran. : penggunaan tes untuk memperoleh umpan balik selama proses pembelajaran sedang berlangsung, sehingga hasil penilaiannya dapat digunakan untuk memperbaiki proses pembelajaran yang sedang berlangsung tersebut. : penilaian yang dilakukan pada akhir suatu satuan kegiatan pembelajaran tertentu untuk mengambil keputusan tentang berhasil tidaknya suatu proses pembelajaran secara keseluruhan. : (1) biasanya dikatakan pada pilihan jawaban dalam bentuk soal obyektif yang menunjukkan tingkat kemiripan dari semua alternatif pilihan jawaban yang disediakan, (2) ditujukan pada kemiripan satu soal dengan soal lain ketika menghitung reliabilitas belah paruh (split half) atau KR-20. : daya beda adalah angka yang menunjukkan kemampuan soal membedakan peserta tes pandai dari peserta tes kurang pandai. : tanda-tanda yang dapat memberikan (menjadi) petunjuk atau keterangan tentang ketercapaian tujuan pembelajaran. : tingkat kesukaran menunjukkan proporsi peserta tes yang menjawab benar pada suatu butir soal. Makin besar P artinya peserta tes dapat menjawab dengan benar soal tersebut dan dengan demikian tingkat kesukarannya dikatakan (makin) mudah. : salah satu kelemahan butir soal yang disebabkan kunci jawaban yang meragukan terutama jika kunci tersebut dinilai oleh ahli materi. : salah satu pilihan jawaban atau alternatif jawaban yang

Evaluasi Formatif

ANALISIS BUTIR SOAL

Evaluasi Sumatif

Homogenitas

DB

Indikator

Kemenduaan (ambiguitas) Kunci Jawaban

27
BBM SUPLEMEN/ ANALISIS BUTIR SOAL dan BANK SOAL

benar dalam suatu butir soal tes obyektif. Kompetensi : (competence=cakap); kemampuan guru untuk melaksanakan tugas pembelajaran dan pendidikan. Kompetensi dapat pula diartikan sebagai pengetahuan, keterampilan, dan nilai-nilai dasar yang direfleksikan dalam kebiasaan berpikir dan bertindak. : angka tertentu yang menggambarkan tingkat kemampuan peserta tes, menggambarkan kedudukannya di antara peserta tes lainnya atau menggambarkan tingkat penguasaannya pada suatu mata pelajaran tertentu. Nilai diperoleh melalui proses pengolahan skor atau hasil tes. : pemberian label atau angka pada suatu atribut atau karakteristik seseorang, peristiwa atau obyek menurut aturan, ketentuan atau formula tertentu. Penilaian (Evaluasi) : suatu proses pengolahan hasil tes dan/atau non-tes untuk mengambil keputusan tentang seorang atau sejumlah siswa. : alternatif atau pilihan jawaban yang disediakan dalam satu butir soal tes obyektif. : suatu koefisien yang menunjukkan sejauhmana suatu tes secara konsisten memberikan informasi sama. Koefisien reliabilitas dapat menunjukkan tingkat stabilitas (test retest), ekivalensi (tes paralel) dan konsistensi internal suatu tes. : angka yang diberikan pada peserta tes untuk mendeskripsikan secara kuantitatif kemampuannya menjawab satu atau sejumlah butir tertentu. : pernyataan terbuka atau pertanyaan adalam butir soal pilihan ganda yang berisi tugas atau masalah untuk mengantarkan peserta tes pada pemilihan jawaban. : semua bahan (cetak/tulis, softdocument, video, kaset, dsb.) yang dapat digunakan sebagai sumber informasi atau sarana untuk mempelejari sesuatu konsep oleh siswa atau peserta didik. Sumber belajar untuk mendukung implementasi Bahan Belajar Mandiri ini telah dikemas dalam bentuk Hardcopy (buku) dan Softcopy (file). : suatu atau seperangkat tugas/pertanyaan yang setiap butir soalnya mempunyai jawaban benar dan direncanakan untuk memperoleh informasi tentang pencapaian

Nilai (Grade)

Pengukuran

Pilihan Jawaban Reliabilitas

Skor

Stem (pokok soal)

Sumber belajar

Tes (Ujian)

28
BBM SUPLEMEN/ ANALISIS BUTIR SOAL dan BANK SOAL

kompetensi-kompetensi pembelajaran. Tes Hasil Belajar (THB)

tertentu

dari

hasil

:tes yang dirancang untuk mengukur pencapaian pembelajaran atau penguasaan/pemerolehan informasi, sikap atau keterampilan setelah dilakukan suatu proses pembelajaran. : tugas yang dilakukan secara individu oleh guru peserta belajar/pelatihan untuk memperluas wawasan atau pengetahuan tentang topik yang telah dipelajari, yang waktunya tidak dibatasi. : tugas yang harus dilakukan oleh guru peserta pelatihan sebagai tindak lanjut dari kegiatan tatap muka untuk menyelesaikan tahapan belajar agar diperoleh hasil yang maksimal, yang waktunya dibatasi sekitar 60% dari tatap muka.LISIS BUTIR SOAL
dan BANK S

Tugas mandiri

Tugas terstruktur

Validasi

: kegiatan untuk menguji atau memberikan bukti empirik apakah pernyataan keyakinan yang dirumuskan dalam bentuk hipotesis tindakan itu benar. Validasi instrumen adalah kegiatan untuk menguji kesesuaian alat ukur dengan apa yang seharusnya diukur. : kesahihan, atau sifat benar menurut bahan bukti yang ada. Validitas soal terdiri atas validitas muka yang ditetapkan secara sepintas namun oleh ahlinya, validitas isi dari sisi kebenaran materi pokok dan validitas konstruk psikologis. Validitas tes juga terdiri atas validitas muka, validitas isi dan validitas konstruk, tapi juga ada validitas prediktif dan validitas bersamaan (yang diperoleh dari korelasi pencapaian dua alat ukur).

Validitas

29
BBM SUPLEMEN/ ANALISIS BUTIR SOAL dan BANK SOAL

30
BBM SUPLEMEN/ ANALISIS BUTIR SOAL dan BANK SOAL