Anda di halaman 1dari 13

TEKNOLOGI PENGOLAHAN CAIRAN KULIT BIJI JAMBU METE (CNSL) DAN PEMANFAATANNYA UNTUK INDUSTRI Edy Mulyono dan

Abubakar
Balai Besar Penelitian dan Pengembangan Pascapanen Pertanian

ABSTRAK Salah satu komoditas perkebunan yang cukup penting dalam menyumbang perolehan devisa negara adalah jambu mete dengan sentra produksinya Jawa Tengah, Jawa Timur, Yogyakarta, Bali, Sulsel, Sultra, dan NTB. Tanaman jambu mete (Anacardium occidentale Linn) menghasilkan buah semu jambu mete (cashew apple) dan biji jambu mete (raw nut). Buah semu jambu mete dimanfaatkan sebagai bahan untuk membuat manisan, minuman, campuran makanan ternak dan lain-lain. Dari biji mete diperoleh kacang mete (karnel) sebagai bahan perdagangan langsung dan cairan kulit biji mete atau minyak laka (Cashew Nut Shell Liquid atau CNSL). CNSL merupakan cairan sekresi alami yang bersifat korosif yang terdapat di dalam jaringan kulit biji mete yang berstruktur menyerupai sarang lebah. Cairan ini dapat diperoleh dengan jalan me ngeluarkannya dari kulit biji mete baik melalui roasting gelondong mete, atau pengepresan kulit biji maupun ekstraksi menggunakan pelarut. Hasil teknologi pengolahan CNSL dapat digolongkan menjadi produk polimer dan produk industri lainnya. Produk polimer CNSL diantaranya adalah: Friction lining materials untuk rem dan kopling kendaraan, Surface coating, Cashew cements, Speciality coating, Adhesives and binder resins. Produk industri lain CNSL diantaranya adalah: Bakterisida, fungisida, insektisida, desinfektan, pengemulsi dan Surface Active Agents (SAA), bahan pewarna, antioksida, pemlastis, stabiliser, akselerator, curatives, reclaiming agent, dan resin penukar ion. Kelebihan sifat-sifat kimiawi CNSL sebagai senyawa fenol alami yang murah merupakan aset yang cukup potensial dalam pemanfaatan dan pengembangannya di bidang industri. Hal ini berhubungan dengan sifatnya yang memiliki derajat polimerisasi dan kondensasi tinggi, serta tahan terhadap asam dan basa. Kata kunci : CNSL, teknologi pengolahan

ABSTRACT One of the plantation commodity which important enough in contributing acquirement of state's stock exchange is cashew apple with its production sentra of Central Java, East Java, Yogyakarta, Bali, Sulsel, Sultra, and NTB. Crop cashew apple (Occidentale Linn Anacardium) yielding sham fruit of apple cashew and cashew apple seed (nut raw). Sham fruit of cashew apple exploited upon which to make candy, beverage, livestock food mixture and others. From cashew seed obtained by mete bean (karnel) upon which direct commerce and mete seed husk dilution or laka oil (Cashew Nut Shell Liquid or CNSL). CNSL represent natural sekresi dilution which have the character of corrosive which there are in cashew seed husk network which is have structure to look like bee hive. This dilution can be obtained by way it from cashew seed husk either through cashew roasting, of seed husk and also ekstraktion use solvent. Result of technology processing of CNSL can be classified to become polymer product and other industrial product. Polymer CNSL product among others is: Lining materials Friction for the rem of vehicle coupling and, Coating Surface, Cashew Cements, Speciality Coating, Adhesives And resins binder. other Industrial product of CNSL among others is: Bakterisida, fungicide, insektisida, desinfektan, Surface Active Agents and emulsifier (SAA), colourant materials, antioksida, pemlastis, stabiliser, akselerator, curatives, agent reclaiming, and ion exchanger resin. Excess is nature of CNSL chemical as cheap natural fenol compound represent asset which enough exploiting inner potential and its development in industrial area. This matter relate to in character owning degree of high condensation and polymerize, and also hold up to basa and acid Key words : CNSL, processing technology

PENDAHULUAN Sektor pertanian memberikan sumbangan dan peran yang sangat strategis dalam kegiatan pembangunan nasional. Peran sektor pertanian terhadap Produk Domestik Bruto (PDB) menunjukkan pertumbuhan yang cukup baik selama sepuluh tahun terakhir ini, yaitu rata-rata 4% per tahun. Selain dituntut mampu menciptakan swasembada pangan, sektor ini diharapkan mampu menyediakan lapangan dan kesempatan kerja serta pengadaan bahan baku bagi industri hasil pertanian. Sektor ini juga dituntut untuk meningkatkan perolehan devisa negara dengan jalan meningkatkan volume dan nilai ekspor hasil pertanian. Salah satu sub sektor dari sektor pertanian adalah sub sektor perkebunan. Sub sektor perkebunan ini memiliki beberapa keunggulan komparatif yang dapat menunjang daya saing produk perkebunan Indonesia di pasaran dunia. Keunggulan tersebut diantaranya adalah lahan yang cukup luas yang belum termanfaatkan secara optimal dan berada di kawasan dengan iklim menunjang, serta ketersediaan tenaga kerja. Perkebunan jambu mete sebagian besar ( 98%) merupakan perkebunan rakyat, yang dikembangkan dengan menggunakan bahan tanaman bukan unggul pada wilayah-wilayah dengan tingkat kesesuaian yang terbatas (Zaubin dan Mulyono, 2002). Sentra-sentra pengembangan jambu mete adalah Sulawesi Tenggara (30,3%). Sulawesi Selatan (15,1 %), Nusa Tenggara Timur (20,0%), Nusa Tenggara Barat (7,4%), Jawa Timur (8,7%), dan Bali (3,7%). Pada tahun 1999 areal jambu mete Indonesia adalah 535 745 ha dengan produksi gelondong 86 924 ton (Ditjenbun, 2000). Tanaman jambu mete (Anacardium occidentale Linn) menghasilkan daging jambu mete (cashew apple) dan biji jambu mete (raw nut). Daging jambu mete dimanfaatkan sebagai bahan untuk membuat manisan, minuman, campuran makanan ternak dan lain-lain. Dari biji mete diperoleh kacang mete (karnel) sebagai bahan perdagangan langsung dan cairan kulit biji mete (minyak laka) (Cashew Nut Shell Liquid atau CNSL). Pohon industri mete ini dapat dilihat pada Gambar 1.

Gambar 1. Pohon industri mete

- CAT - VERNIS - TINTA - ADHESIVES & BINDER

Gambar 1. Pohon industri mete Mencermati peranan Cashew Nut Shell Liquid (CNSL) atau cairan kulit mete sebagai bahan baku industri di Indonesia tidak mungkin dilepaskan begitu saja perhatian kita terhadap prospek pengembangan komoditas mete yang secara ekonomi menghasilkan kacang mete sebagai produk utamanya, dan buah semu serta CNSL sampai saat ini masih merupakan produk ikutan. Potensi komoditas jambu mete Indonesia tercermin antara lain dari keragaan luas penanaman, produksi serta hasil olahannya yang meningkat dari tahun ke tahun (Tabel 1) dan kesesuaian lahan pengembangan pertanaman (Abdullah dan Las, 1985). Tabel 1. Perkembangan areal dan produksi jambu mete Tahun Luas areal (ha) 1978 82.511 1983 193.563 1988 23.777 1993 400.279 499.279 1997 1998 503.878 499.959 1999 2000 560.813 2001 588.853 618.296 2002 2003*) 649.211 Sumber : Statistik Perkebunan 2002, Ditjenbun Keterangan : *) Estimasi Produksi (ton) 8.800 18.047 23.305 69.751 73.732 76.047 76.659 92.390 97.009 101.860 106.953

Sampai saat ini permintaan pasar dunia masih terbuka, namun Indonesia belum dapat memanfaatkannya dengan baik. Indonesia baru memasok 6% dari permintaan mete dunia (Dit. Tek. Agroindustri, 1999), karena produksi dan produktivitas perkebunan mete masih rendah. Produk jambu mete sebagian besar masih berupa produk primer dan sekitar 46% diekspor. Ekspor mete sebagian besar (94,44%) dalam bentuk gelondong (belum terkupas) dan sebagian kecil (5,56%) dalam bentuk kacang (telah terkupas). Ekspor jambu mete pada tahun 2000 mencapai 25 620.573 kg dalam bentuk gelondong dan 1 997 909 kg dalam bentuk kacang mete dengan nilai US$ 31,502,068 (Ditjenbun, 2000). Namun demikian secara nasional, rata-rata produksi masih rendah (332,6 kg gelondong/ha/tahun) lebih rendah dibanding India (1.000 kg/ha/tahun) dan Australia (4.000 kg/ha/tahun). Rendahnya produksivitas mete Indonesia antara lain disebabkan kurang tersedianya benih bermutu dan varietas unggul (Sukarman, 2002; Zuabin, 2002). India merupakan negara tujuan ekspor (96,6%). Selain memanfaatkan kacangnya India juga memperoleh nilai tambah dari minyak laka (Cashewnut Shell Liquid=CNSL) yang terdapat dalam kulit gelondong. Disisi lain India juga mengekspor kacang mete ke Indonesia sebanyak 15 876 kg (Ditjenbun, 2000; Said, 2000). Pada posisi seperti ini, Indonesia sebenarnya merugi mengingat nilai tambah akibat proses pengolahan tidak dinikmati sendiri melainkan oleh India. Dominasi pasar mete oleh India tampak nyata pada volume ekspor Indonesia, yaitu sebesar 25 075 ton atau 97,66% diekspor ke India, dan sisanya ke USA, Taiwan, Selandia Baru, Hongkong, dan Emirat Arab (Ditjenbun 2000; Said, 2000). Ekspor mete Indonesia melonjak cukup pesat, baik volume maupun nilainya. Hal ini mulai dirasakan sesudah tahun 1990 dengan dipacunya program pengembangannya secara intensif. Sampai dengan tahun 1994 ekspor mete Indonesia mencapai volume 38.620 ton, yang senilai dengan 43 juta US$. Kemudian terjadi penurunan ekspor sekitar rata-rata 26 % sampai dengan tahun 1997, kemudian meningkat kembali hingga mencapai volume 45.450 ton dengan nilai 39,892 US$ pada tahun 2003. Meskipun demikian, bila diperhatikan perkembangan ekspor mulai dari tahun 1990 sampai dengan tahun 2003, ekspor mete Indonesia masih cukup tinggi (Tabel 2). Negara-negara tujuan ekspor gelondong mete Indonesia adalah Hongkong, Singapura, India dan China. Sedangkan negara-negara tujuan ekspor kacang mete Indonesia adalah Jepang, Amerika Serikat, Tanzania, Jerman Barat dan Belanda. Tabel 2. Volume dan nilai ekspor mete Indonesia Tahun Volume (ton) Nilai (000US$) 8,243 24,561 24,854 23,144 43,401 21,308 23,751 19,152 20,110 21,115 32,136 37,941 38,916 39,892

1990 3.218 1991 14.600 1992 19.278 1993 18.155 1994 38.620 1995 28.105 1996 27.886 1997 29.666 1998 31.149 1999 32.707 2000 37.023 2001 38.433 2002 41.986 2003* 45.540 Sumber : Statistik Perkebunan 2003, Ditjenbun (data diolah) Keterangan : *) Estimasi

Potensi produksi CNSL cukup besar, karena dari setiap gelondong mete dapat dihasilkan 4550 % kulit mete yang mengandung CNSL 18 23 % (Muljohardjo, 1991). Kulit gelondong mete mengandung minyak yang kegunaannya cukup luas dalam industri. Minyak kulit biji mete (CNSL) mengandung senyawa fenolik sehingga berpeluang dimanfaatkan untuk mensubstitusi senyawa fenol pada berbagai produk yang berbasis resin fenolik. CNSL dapat dimanfaatkan sebagai bahan baku berbagai produk dengan nilai tambah yang tinggi seperti: insektisida, kanvas rem, minyak peleburan logam, mineral oil additives, wax, rubber compounding resin, resin laminating, vernis, cat dan sebagainya (Menon, et al., 1985: Sanoor Cashew & Adarsh Industrial Chemical, 2003). Buah jambu mete yang diperoleh sebagai hasil ikutan pada saat panen gelondong, dapat diolah menjadi beberapa produk antara lain sari buah, sirup, minuman anggur, bubur buah (jam) dan manisan atau asinan akan tetapi sampai saat ini secara komersial masih banyak mengalami kendala dalam pemasarannya. Sedangkan CNSL yang diperoleh dari ekstraksi kulit biji mete merupakan sumber phenol alami yang murah dan memiliki potensi pemakaian dalam industri yang cukup luas. Hal ini disebabkan CNSL merupakan campuran senyawa dengan derajat polimerisasi dan kondensasi yang tinggi serta tahan terhadap asam , basa dan minyak (Nair, et a.l, 1979). Secara tradisional CNSL telah dikenal untuk dimanfaatkan sebagai pelumas, anti serangga, pengawet kayu serta jaring ikan. Sedangkan dalam industri, CNSL banyak digunakan antara lain dalam pembuatan cat, pernis, perekat, pelunak gesekan, pelapis rem serta pengawet kayu dan bambu. Sebagai gambaran tentang permintaan dan pemanfaatan CNSL di bidang industri ditunjukkan pada Table 3. Dari Table tersebut terlihat bahwa sepanjang tahun tujuh puluhan permintaan akan produk yang dihasilkan dari CNSL untuk keperluan industri terus meningkat. Tabel 3. Konsumsi CNSL dengan berbagai kebutuhan di bidang industri(dalam metrik ton)

Kebutuhan industri

1974

1975

1976

1977 1978

2001* 2002*

2003*

Brake linings 1.000 1.100 1.200 1.350 1.500 4.355 Paint and varnishes 900 1.100 1.300 1.600 1.900 7.610 Chemical resistant cement 60 75 95 120 130 558,5 Oil tempered hardboars 60 50 70 80 100 347 Foundry core oil 700 850 1.050 1.300 1.600 6.725 Water proofing compound 16 20 20 30 32 128,6 Filter paper 150 150 150 150 225 CNSL based resin 20 50 50 50 50 168,33 Kardanol 850 1.100 1.340 1.900 2.280 10.644 Total 3.606

4.480 4.605 7.860 8.110 577 595,5 358 369 6.950 7.175 132,8 137 228 231 173,33 178,33 11.010 11.376

4.495 5.275 6.580 7.742 30.761 31.769 32.777

Sumber : Nair et al, (1979 dan 2000) Keterangan : *) Estimasi Pengembangan CNSL di Indonesia masih sangat terbatas karena belum ada industri yang menggunakan bahan baku minyak kulit mete tersebut, meskipun potensi bahan baku CNSL cukup besar. Sebagai gambaran dapat ditunjukkan, pada tahun 1990 ekspor kacang dan gelondong mete Indonesia masing-masing sebesar 1.222 dan 1.197 ton. Hal ini berarti tersedia bahan baku untuk CNSL sekitar 4.101,10 ton (sekitar 77%) yang setara dengan 615,16 ton CNSL yang dihitung pada rendemen sekitar 15% (Mulyono dan Yanti 1994). Jumlah tersebut belum dikonversikan dengan

konsumsi kacang mete di dalam negeri. Sedangkan ekspor kacang mete Indonesia dari tahun ke tahun terus meningkat. Dengan demikian posisi ketersediaan bahan baku menjadi semakin mantap dan ini merupakan aset yang belum banyak mendapat perhatian. Komposisi Kimia CNSL, Ekstraksi Dan Produk Yang Dihasilkan Buah mete gelondong adalah buah sejati yang berbentuk seperti hati atau ginjal dan terletak pada dasar buah semu yang merupakan pembesaran tangkai bunga (Damitz, 1941 dan Ohler, 1979). Cairan kulit biji mete (Cashew Nut Shell Liquid CNSL) terdapat di dalam lapisan mesokarp yang berstruktur seperti sarang lebah, lunak dan elastis dari susunan kulit biji mete (Gambar 2).
Cashew apple Cashew nut epikarp biji mesokarp endokarp testa

Gambar 2. Struktur anatomi irisan membujur dari biji mete (gelondong) (Muljohardjo, 1990) Di dalam lapisan mesokarp, terdapat cairan kental berwarna coklat pucat yang kemudian disebut sebagai CNSL yang berfungsi memberikan perlindungan terhadap kernel dari serangga (Hall dan Banks, 1965 dan Nair, et al., 1979). Disamping itu CNSL mempunyai sifat korosif dan toksik pada kulit manusia, sehinga dapat menyebabkan radang dan gatal-gatal. Hal ini disebabkan oleh kandungan urushiolnya (sejenis cathecol), tetapi dengan dekarboksilasi dan pemurnian sifat toksik dapat dihilangkan. CNSL yang dikandung di dalam kulit biji mete gelondong berkisar antara 25 30 persen. Menurut Tyman dan France (1979), kadar CNSL yang berasal dari India, Mozambik, dan Brazil berturut-turut adalah 27,2; 22,5; dan 27,2 persen. Kandungan bahan kimia utama dari CNSL yang diperoleh dari ekstraksi dingin terdiri atas asam anakardat (90%) dan kardol (10%). Kedua senyawa ini merupakan campuran dari senyawa fenol yang masing-masing mempunyai rantai cabang dengan 15 atom C dengan derajat ketidakjenuhan yang berlainan (Nair. et al., 1979). Hasil analisis CNSL menggunakan gas kromatografi, diketahui bahwa komponen fenolnya mengandung susunan asam anakardat, kardol, 2-metil kardol, dan kardanol, walaupun berasal dari daerah yang berlainan ( Tyman dan France, 1979). Pada Tabel 4 ditunjukkan komposisi kimia CNSL yang berasal dari berbagai tempat.

Tabel 4. Komposisi kimia CNSL dari berbagai tempat Komposisi (%) Kardol 2-Metil kardol 13.70 13.90 13.60 2.50 2.80 2.90

Tempat asal India Mozambik Brazilia

Asam anakardat 87.80 79.90 79.80

Kardanol 2.10 3.40 3.70

Sumber: Tyman dan France (1979) Komponen CNSL yaitu, asam anakardat dan kardol merupakan senyawa turunan fenol yang mempunyai ikatan rangkap pada rantai cabangnya dan terletak pada cincin benzen dalam posisi meta terhadap gugus hidroksilnya (Gambar 3). Gugus fungsional ini berguna untuk keperluan reaksi polimerisasi yang penerapan pada produknya tergantung pada jenis reaktan dan kondisi reaksinya. Sehungga CNSL dan turunannya dapat dikondensasikan dengan formaldehid melalui inti fenolik dan dipolimerisasikan melalui rantai samping yang tak jenuh. Dari kedua reaksi tersebut dibuat produk komersial yang lebih berdaya guna. OH COOH C15H25-31 HO Asam anakardat Kardol C15H25-31 Kardanol OH OH C C15H25-31

Gambar 3. Rumus molekul senyawa asam anakardat, kardol dan kardanol (Cornellius, 1966) Pada ekstraksi CNSL dengan menggunakan panas pada temperatur tinggi (diatas 150oC), asam anakardat akan mengalami dekarboksilasi yang menghasilkan kardanol. Pada umumnya CNSL yang diperdagangkan tersusun dari senyawa kardanol dan kardol sebagai komponen utama, serta asam anakardat, galat, dan glukosida dalam jumlah sedikit (Nair, et al., 1979). Ekstraksi CNSL Proses ekstraksi CNSL pada dasarnya tidak dapat dipisahkan dari pengolahan biji mete, karena sebagian CNSL yang dihasilkan merupakan hasil ikutannya. Sedangkan proses pengolahannya dapat dilakukan baik dengan proses dingin ataupun panas. Pada proses dingin ekstraksi dilakukan terhadap kulit biji mete yang masih segar. Sedangkan pada proses panas, ekstraksi dilakukan pada kulit biji mete yang sudah mengalami pemanasan. Pengolahan CNSL secara tradisional untuk pertama kali dilakukan di India, yaitu dengan cara pemanasan. CNSL diperoleh diperoleh sebagai hasil samping penyangraian biji mete dalam wajan terbuka atau drum berpori yang berputar. Selama penyangraian dinding kulit terbakar hangus dan CNSL keluar dari kulit yang rusak tersebut. Dalam proses ini dihasilkan CNSL yang telah mengalami polimerisasi dan terkontaminasi oleh bahan-bahan lain. Metode yang lebih baik yaitu metode minyak panas (Hot-oil process) yang telah digunakan secara komersial. Dalam metode ini biji mete dilalukan ke dalam CNSL pada suhu 180 190 oC pada konveyor sabuk yang bergerak dengan kecepatan 3m/menit. Proses ini hanya menghasilkan 50% total CNSL. Untuk mendapatkan CNSL yang tersisa, kulit biji mete (setelah dikupas) diberikan beberapa perlakuan (J.S. Aggarwal, 1972) : (i) Pengempaan. Dengan perlakuan ini hampir sebagian besar CNSL

yang tersisa dapat dikeluarkan dari kulit dengan menggunakan kempa ulir. (ii) Pemanasan Sederhana. Dengan memanaskan kulit biji mete secara langsung, CNSL yang tersisa akan mengalir keluar.(iii) Pemanasan Uap. Kulit dipanaskan dalam uap lewat jenuh (superheated steam), selanjutnya CNSL dipisahkan dari air yang terembunkan. (iv) Ekstraksi Pelarut. Kulit biji mete diekstrak dengan pelarut heksan (teknis) . Proses tersebut belum diterapkan secara komersial. Di Indonesia di pabrik-pabrik pengolahan mete, CNSL dihasilkan dengan cara pengepresan kulit mete segar menggunakan kempa ulir yang berjalan secara kontinyu. Dan setiap ton kulit mete segar akan dihasilkan sekitar 200 kg CNSL kasar. Selanjutnya hasil pengepresan disaring, diendapkan dan dipanaskan.

BERBAGAI PRODUK CNSL Penggunaan monomer karbon berbahan dasar fosil dalam pembuatan polimer diperkirakan akan menurun dalam beberapa tahun mendatang karena harganya yang semakin tinggi dan ketersediaannya yang semakin berkurang. Oleh karena itu diperlukan sumber monomer alami lain yang bersifat terbarukan. CNSL yang merupakan produk samping pertanian mempunyai prospek yang menjanjikan sebagai sumber monomer yang unggul karena merupakan fenol tak jenuh dan ketersediaannya melimpah. Polimer CNSL mempunyai fleksibilitas dan kemampuan proses yang lebih baik dibandingkan dengan resin fenolik konvensional. Hal ini disebabkan oleh adanya efek plastisasi internal rantai sampingnya yang panjang. Selain itu, polimer CNSL mempunyai rantai samping yang bersifat hidrofobik sehingga tahan terhadap perubahan cuaca dan dapat menolak air (water repellent). Polimer CNSL juga bersifat tahan gesekan sehingga merupakan komponen yang penting dalam formulasi sepatu rem kendaraan. Polimer ini bersifat kompatibel dengan berbagai jenis polimer lain seperti plastik dan karet. Namun demikian, karakteristik tersebut belum dimanfaatkan secara intensif dalam pegembangan produk-produk polimer CNSL selain untuk sepatu rem dan plat kopling kendaraan. Produk CNSL dapat digolongkan menjadi produk polimer dan produk industri lainnya. Produk polimer CNSL diantaranya adalah: Friction lining materials untuk rem dan kopling kendaraan Konsumen terbesar CNSL adalah industri sepatu rem dan plat kopling kendaraan. Resin CNSL mempunyai kelebihan dalam menyerap panas yang diakibatkan oleh gesekan dalam pengereman serta dapat memperpanjang efisiensi pengereman. Selain keawetannya, bahan friksi dari CNSL menghasilkan aksi pengereman dengan suara yang lebih halus. Bahan ini cocok digunakan untuk kendaraan yang berkecepatan rendah dan panas yang ditimbulkan oleh gesekan pengereman tidak lebih dari 250C. Surface coating Konsumsi CNSL terbesar kedua setelah untuk friction lining materials adalah untuk surface coating. Cat dan vernis yang dibuat dari CNSL mempunyai sifat-sifat yang lebih unggul daripada minyak konvensional atau resin sintetik. Karena warnanya yang gelap, CNSL pada umumnya hanya digunakan untuk cat yang berwarna gelap dan enamel hitam. Produk-produk yang penting diantaranya adalah cat antikorosi, enamel hitam, cat kapal, vernis penginsulasi listrik dan pelapis perabot rumah tangga, banggunan dan mobil. Lapisan film yang dihasilkan mempunyai kekerasan dan elastisitas yang optimum, kilap dan daya lekat yang baik.

Cashew cements Polimer CNSL jika direaksikan dengan formaldehid menghasilkan gel yang bersifat rubbery dan dapat digunakan sebagai pengeras semen. Massa yang dihasilkan dapat melekat dengan baik pada bata berpori, baja dan karbon serta tahan asam dan alkali. Semen tersebut dapat digunakan untuk lantai yang tahan bahan kimia. Speciality coating Pelapis ini diperlukan untuk melindungi permukaan dari kondisi yang ekstrim. Resin vinil yang dibuat dari kardanol mempunyai daya lekat dan fleksibilitas yang sangat baik, tahan minyak dan greases, air serta bahan kimia. Selain itu, pelapis ini juga mempunyai sifat sebagai insektisida. Adhesives and binder resins CNSL atau turunan kardanol digunakan secara ekstensif dalam industri laminasi untuk mengurangi kerapuhan dan memperbaiki fleksibilitas bahan laminasi. Resin untuk keperluan ini diperoleh dengan kondensasi fenol, CNSL dan formaldehid. Resin yang dihasilkan mempunyai ketahanan panas, meminimasi age-hardening dan memperbaiki daya ikat bahan-bahan seperti serat kertas, kain dan gelas dengan matriks. Poduk-produk yang penting diantaranya adalah resin epoksi dan pengikat pada peleburan bijih (foundry core binders). Produk industri lain CNSL diantaranya adalah: Bakterisida, fungisida, insektisida, desinfektan. Produk klorinasi dan hidrogenasi kardanol mempunyai daya pestisida. Pengemulsi dan Surface Active Agents (SAA). SAA dibuat dengan sulfonasi dan netralisasi kardanol, tetrahidrokardanol dan etereternya. Produk SAA dari CNSL sesuai untuk pemakaian pada suhu tinggi seperti kier boiling dalam industri tekstil. SAA nonionik merupakan pengemulsi yang baik untuk sistem minyak dalam air atau air dalam minyak. Bahan pewarna. Bahan pewarna azo dibuat dengan cara menggabungkan komponen fenolik CNSL terhidrogenasi dengan garam diazonium aromatik dalam larutan alkoholik. Asam tetrahidoanakardat dipasangkan dengan amina-terdiazotisasi untuk mendapatkan pewarna dan pigmen. Antioksidan. Senyawaa sulfida fenolik yang dibuat dari tetrahidroanakardol mempunyai sifat antioksidan yang efektif untuk gum karet alami (natural rubber gum) dan senyawa channel black. CNSL terdekarboksilasi yang terdiri atas kardanol dan kardol merupakan antioksidan untuk rubber vulcanizates.

Pemlastis. Reaksi CNSL-stiren menghasilkan produk yang berfungsi sebagai pemlastis untuk polimer, memperbaiki filler uptake dan sifat-sifat fisik lainnya. CNSL akan terpolimerisasi dengan adanya H2SO4 dan bereaksi dengan heksamin pada 135C. Stabiliser. Kardanol yang direaksikan dengan epikhlorhidrin dan dipoliepoksidasikan dapat berfungsi sebagai stabiliser untuk PVC. Akselerator. Thiourea asimetri yang dibuat dari 4-amino-3-pentadesil fenol dapat berfungsi sebagai akselerator sekunder dan formulasi karet alam dengan sulfenamida sebagai akselerator primer. Curatives. 2-pentadeil benzokuinon-dioksin yang disintesis dari CNSL mempunyai ketahanan vulkanisasi panas untuk stiren-butadien serta karet butil. Reclaiming agent. Reclaiming agent dari CNSL seperti di-tetrahidroanakardol disulfida dalam kombinasinya dengaan garam logam seperti ZnCL2, CuCl2, Fe2O3, Fe2SO4, K2Cr2O7 dan lain-lain memberikat sifat reklaim yang baik. Resin penukar ion. Resin penukar kation diperoleh dengan sulfonasi CNSL polimer formaldehid berpori dengan H2SO4 pekat dengan keberadaan HCl. Resin penukar anion dibuat dengan cara mereaksikan CNSL dengan tetrakloroetilen dan formalin. Resin penukar kation karboksilat dibuat dari CNSL yang diperoleh dari ekstraksi dingin (terutama mengandung asam anakardat).

MASALAH DAN PELUANG PENGEMBANGAN Ketersediaan bahan baku yang berupa kulit mete merupakan faktor penting yang menentukan kelangsungan industri pengolahan dalam mencukupi kapasitas produksinya. Kenyataan menunjukkan bahwa industri pengolah CNSL mengalami hambatan produksi karena bahan baku yang dibutuhkan tidak tersedia secara kontinyu. Kondisi yang demikian itu serta terbatasnya pemasaran di luar negeri mengakibatkan pengolahan CNSL tidak berkembang. Sebenarnya penyediaan bahan baku (kulit mete) yang optimal dapat diatasi antara lain mengurangi ekspor gelondong serta meningkatkan ekspor kacang mete. Namun hal ini harus ditunjang oleh kebijaksanaan dari pemerintah yang dapat menjamin mekanisme pasar yang positif. Selama ini sekitar 40% volume biji mete dari produksi seluruhnya diekspor ke India (Simanungkalit, 1997). Di pihak lain pabrik pengolah mete di dalam negeri selalu kekurangan bahan baku sehingga tidak dapat beroperasi secara optimal. Hal lain yang menyebabkan CNSL Indonesia kurang kompetitif diluar negeri adalah masih rendahnya mutu produk yang dihasilkan. Kenyataan ini diakibatkan karena bahan baku yang tidak seragam kemasakannya serta asalnya

(Hardiman et al., dalam Mulyono dan Yanti, 1994). Disamping itu harga yang sangat rendah yang diterima tidak merangsang penjualan kulit oleh pengolah mete. Faktor lain yang sangat mempengaruhi tinggi rendahnya harga CNSL Indonesia di luar negeri adalah mutu produk yang dihasilkan. Selama ini penjualan CNSL Indonesia keluar negeri terutama ke Jepang didasarkan atas permintaan dengan beberapa persyaratan mutu yang telah ditentukan. Sehingga tidak jarang produk kita mengalami penurunan harga karena kreteria mutu yang disepakati tidak terpenuhi. Beberapa perusahaan di Indonesia yang telah memproduksi CNSL antara lain, PT. Guna Mete Solo; PT Alam Solo yang merupakan anak perusahaan PT. Sekar Alam, Surabaya; dan PT. Ponix Mas, Mataram (NTB). Terlepas dari permasalahan yang telah disebutkan diatas, bila dicermati kebutuhan dan kegunaan CNSL yang demikian luas serta potensi produksi mete Indonesia, CNSL masih mempunyai prospek yang cukup baik untuk dikembangkan. Kondisi yang demikian itu menuntut pemilihan teknologi yang tepat dan efisien dalam penanganannya sehingga potensi kersediaan bahan baku yang ada dapat dimanfaatkan secara optimal sebagai upaya pendayagunaan produk ikutan dari pengolahan jambu mete. Perkembangan penelitian baik yang bersifat penelitian dasar maupun terapan masih sedikit sekali dilakukan di dalam negeri. Hal ini kemungkinan akan sangat berpengaruh terhadap pertumbuhan industri yang memproduksi CNSL. Hasil penelitian dari luar negeri menunjukkan bahwa baik CNSL maupun turunannya secara menguntungkan dapat dimanfaatkan dalam berbagai kegunaan, sehingga peluang teknologi yang mungkin dikembangkan dan digali baik dari sifat-sifat kimia CNSL maupun komponen penyusun CNSL masih cukup besar. Namun demikian hal ini akan menuntut pengkajian yang lebih intensif dan berkesinambungan tidak saja pada ketersediaan bahan baku yang potensial tetapi juga kemampuan ekonomi yang mungkin dapat dijangkau. Oleh karena itu, pertimbangan dasar yang perlu dilakukan adalah pemilihan yang tepat dari berbagai alternatif teknologi yang tersedia maupun yang perlu disediakan dengan tetap mempertimbangkan pada efisiensi baik secara teknis maupun ekonomis. Selain dari pada itu corak produk yang akan dihasilkan dapat mengacu pada bentuk yang berupa produk baru atau subtitusi bagi kebutuhan dalam negeri, seperti misalnya bubuk friksi sebagai bahan baku pelunak gesekan pada sepatu rem atau vernis untuk keperluan produk furnitur.

KESIMPULAN Cairan kulit biji mete atau yang dikenal dengan CNSL merupakan cairan sekresi alami yang bersifat korosif terdapat di dalam jaringan kulit biji mete yang berstruktur menyerupai sarang lebah. Cairan ini dapat diperoleh dengan jalan mengeluarkannya dari kulit biji mete baik melalui roasting gelondong mete, atau pengepresan kulit biji maupun ekstraksi menggunakan pelarut. Hasil teknologi pengolahan CNSL dapat digolongkan menjadi produk polimer dan produk industri lainnya. Produk polimer CNSL diantaranya adalah: Friction lining materials untuk rem dan kopling kendaraan, Surface coating, Cashew cements, Speciality coating, Adhesives and binder resins. Produk industri lain CNSL diantaranya adalah: Bakterisida, fungisida, insektisida, desinfektan, pengemulsi dan Surface Active Agents (SAA), bahan pewarna, antioksida, pemlastis, stabiliser, akselerator, curatives, reclaiming agent, dan resin penukar ion. Kelebihan sifat-sifat kimiawi CNSL sebagai senyawa fenol alami yang murah merupakan aset yang cukup potensial dalam pemanfaatan dan pengembangannya di bidang industri. Hal ini berhubungan dengan sifatnya yang memiliki derajat polimerisasi dan kondensasi tinggi, serta tahan terhadap asam dan basa. Dalam rangka diversifikasi produk jambu mete serta untuk meningkatkan peranannya sebagai produk ekspor perlu diupayakan suatu alternatif teknologi penanganan yang tepat dan efisien. Sebagai langkah awal yang dapat ditempuh, antara lain mengumpulkan informasi yang akurat tentang kebutuhan CNSL dan nilainya di pasar dunia secara kontinyu serta kebutuhan

produknya di bidang industri, sehingga alternatif penggunaan teknologi yang mungkin diadopsi dapat mencapai sasaran baik secara teknis maupun ekonomis.Untuk penyediaan bahan baku CNSL yang berupa kulit mete yang dapat tersedia dalam jumlah yang memadai dan kontinyu disarankan agar ekspor kacang mete lebih ditingkatkan daripada ekspor gelondong dengan kompensasi kemudahan fasilitas ekspor bagi eksportir mete Indonesia.

DAFTAR PUSTAKA Abdullah, A. dan I. Las. 1985. Peta dan kesesuaian iklim lahan untuk pengembangan tanaman jambu mete di Indonesia. Departemen Pertanian. Badan Litbang Pertanian. Cornellius, J.A. 1966. Cashew Nut Shell Liquid and Related Material. in: Tropical Science. (Ed. G.B. Pickering and M. Kershaw). Vol VIII. No. 2. Her Majestys Stationary Office. London. Damitz, F.M. 1941. Cashew Nut Shell Liquid. dalam: Protective and Decorative Coatins. (Ed. J.J. Matiello). John Wiley and Sons Inc. New York. Direktorat Jenderal Perkebunan. 1998. Statistik Perkebunan Indonesia Tahun 1997-1999. Jakarta. Direktorat Teknologi Agroindustri. 1999. Rangkuman Hasil Diskusi Pengembangan Agroindustri Mente. Badan Pengkajian Dan Penerapan Teknologi. Jakarta. Direktorat Jenderal Perkebunan. 2000. Statistik Perkebunan Indonesia. Departemen Perkebunan dan Kehutanan, Jakarta. Hall, F.J. and Banks, L. 1956. Cashew Nut Processing. in: Tropical Science. (Ed. G.B. Pickering and M. Kershaw). Vol VII. Her Majestys Stationary Office. London. Hardiman, M. Muljohardjo, M. Gardjito, dan K. Rahayu. 1983. Pengolahan biji, kulit, dan buah mete, hambatan dan pemecahannya. Makalah pada Pertemuan Teknis Penerapan Teknologi Hasil Perkebunan II, Ditjen Perkebunan, Jakarta. J.S. Aggarwal. 1972. Chemistry and uses of cashewnut shell liquid. Paint Manufacture. Hal. 2830. Khumar, Phani P., R. Paramashivappa, R. J. Vithayathil, P. V. Subba Rao, dan A. Srinivasa Rao. 2002. Process for Isolation of Cardanol from Technical Cashew (Anacardium occidentale L.) Nut Shell Liquid. Journal Agriculture Food Chemistry, Vol. 50, 4705-4708. Mulyono, E. dan Yanti, L. 1994. Keragaan Pengolahan Cashew Nut Shell Liquid (CNSL) Jambu Mete dan Prospek Pengembangannya. Jurnal Penelitian & Pengembangan Pertanian. Badan Penelitian dan Pengembangan Pertanian. Vol. XIII, Nomor 3. Mulyohardjo, M. 1991. Jambu Mente dan Teknologi Pegolahannya (Anacardium occidentale L). Liberty, Yogyakarta.

Nair, M.K., Baskara Rao, E.V.V., Nambiar, K.K.N., and Nambiar, M.C. 1979. Cashew ( Anacardium occidentale L.).Monograph on Plantation Crops I. Central Plantation Crops Research Institute, Kerala. India. Nogoseno. 1996. Pengembangan Jambu Mete di Indonesia. Prosiding Forum komunikasi Ilmiah Komoditas Jambu Mete. Bogor, 5-6 Maret 1996. Hal. 37-44. Said, E. G. 2000. Menguak Potensi Pengembangan Industri Hilir Perkebunan Indonesia. Makalah Seminar Sehari Kebijakan Industri Hilir Perkebunan di Jakarta 14 September 2000. Simanungkalit, T. 1997. Membangun Industri Mete Nasional Jangka Panjang. Asosiasi Industri Mete Indonesia. Sukmadinata. T. 1996. Pengembangan Jambu Mete di Indonesia. Prosiding Forum komunikasi Ilmiah Komoditas Jambu Mete. Bogor, 5-6 Maret 1996. Hal. 63-68. Tyman, J.H.P. and France, A.P. 1979. Compositional Studies on Natural Indian Cashew Nut Shell Liquid. Brunel University, Great Britain. Zaubin, R. dan E. Mulyono. 2000. Peningkatan Daya Saing Jambu Mente Menunjang Agribisnis. Perspektif, Review Penelitian Tanaman Industri. Vol.1 No. 2. Pusat Penelitian Dan Pengembangan Perkebunan. Bogor.