Anda di halaman 1dari 15

Oleh : Frengki A.

Sakan NIM : 0528 1110

BAB I PENDAHULUAN
A.

Latar Belakang Penyakit Paru Obstruksif Kronik (PPOK) merupakan sejumlah gangguan yang mempengaruhi pergerakan udara dari dan ke luar paru. Gangguan yang penting adalah Bronkhitis Kronis, Emfisema, dan Asma Bronkhial (Black,1993). Penyakit Paru Obstruktif Kronik merupakan salah satu penyakit penyebab kematian ke 5 di seluruh dunia, dan menurut WHO, diprediksikan pada tahun 2020 akan menjadi penyebab kematian ketiga di seluruh dunia. Sebagai pengingat pentingnya masalah PPOK, WHO menetapkan hari PPOK sedunia (COPD day) diperingati setiap tanggal 18 November.

Menurut Departemen Kesehatan


Direktorat Jenderal Pemberantasan

Republik
Penyakit

Indonesia, hasil survei


dan Penyehatan

Menular

Lingkungan (PPM&PL) di 5 rumah sakit propinsi di Indonesia yaitu Jawa Barat, Jawa Tengah, Jawa Timur, Lampung, dan Sumatera Selatan pada tahun 2004 menunjukkan bahwa PPOK menempati urutan pertama penyumbang angka kesakitan (35%), diikuti asma bronkial bronkial (33%), kanker paru (30%) dan lainnya (2%) . Berdasarkan data profil kesehatan Riau tahun 2007 jumlah kasus pasien PPOK adalah 196 kasus.

Hubungan antara kebiasaan merokok dengan PPOK merupakan hubungan dose response yang artinya semakin banyak batang rokok yang dihisap setiap hari dan semakin lama kebiasaan merokok tersebut maka risiko terjadinya PPOK akan lebih besar. Berdasarkan penelitian

Widodo SY tahun 2009 di Rumah Sakit Paru Batu sejumlah 77,8% pasien PPOK mempunyai
kebiasaan merokok, bahkan 59,3% mempunyai kebiasaan merokok lebih dari 20 tahun. Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa terdapat hubungan kebiasaan merokok dengan kejadian PPOK. Hasil penelitian lain yang dilakukan oleh Prabaningtyas O di RSUD Dr. Moewardi Surakarta pada tahun 2010 terdapat hubungan yang signifikan antara derajat merokok dengan

kejadian PPOK dan kecenderungan penderita PPOK mempunyai riwayat merokok sebesar (73,10%)
lebih besar dibanding non PPOK (26,90%). Orang dengan derajat merokok berat memiliki kecenderungan terkena PPOK 3 kali lebih besar dibandingkan dengan perokok ringan dan sedang. Berdasarkan data yang diperoleh dari ruangan Teratai, RSUD Prof. Dr. W. Z Johannes Kupang, jumlah pasien PPOK dari bulan Januari-Desember tahun 2012 yaitu 20 orang, sedangkan pada bulan Januari-Juli tahun 2013 adalah sebanyak 12 orang yang di diagnosa PPOK. Melihat pentingnya peran perawat dalam menangani pasien yang mengalami masalah sistem pernapasan dalam hal ini PPOK dan mencegah komplikasi lebih lanjut maka penulis tertarik untuk melakukan studi kasus pada pasien Tn. T. R dengan PPOK di ruangan Teratai, RSUD Prof. Dr. W. Z. Johannes Kupang.

B.

Tujuan
a.

Tujuan Umum Mahasiswa/I dapat mengembangkan pola pikir ilmiah dalam memberikan asuhan

keperawatan pada pasien Penyakit Paru Obstruktif Kronik (PPOK).


b.

Tujuan Khusus Agar mahasiswa/I mampu :


Melakukan pengkajian pada pasien dengan diagnosa PPOK. Merumuskan diagnosa keperawatan pada pasien dengan diagnosa PPOK. Membuat rencana tindakan keperawatan sesuai yang ditegakan pada pasien dengan diagnosa PPOK. Melakukan tindakan keperawatan berdasarkan rencana tindakan keperawatan yang ditetapkan pada pasien dengan diagnosa PPOK. Melakukan evaluasi tindakan yang diberikan pada pasien dengan diagnosa PPOK. Melakukan dokumentasi keperawatan pada pasien dengan diagnosa PPOK.

C.

Metode Penelitian Penulisan ini menggunakan metode melalui studi pustaka dengan

mempelajari literature dan studi kasus yang dilakukan pada pasien Tn. T. R di
ruangan Teratai RSUD. Prof. Dr. W. Z Johannes kupang yang dirawat tanggal 28-30 Juli 2013 dengan diagnosa PPOK.

BAB II TINJAUAN TEORI


I.

Konsep Dasar A. Pengertian Penyakit Paru Obstruksif Kronik (PPOK) merupakan sejumlah gangguan yang mempengaruhi pergerakan udara dari dan ke luar paru. Gangguan yang penting adalah Bronkhitis Kronis, Emfisema, dab Asma Bronkhial (Black,1993). Penyakit Paru Obstruktif Kronik ( PPOK ) adalah klasifikasi luas dari gangguan yang mencakup bronkitis kronis, bronkiektasis, emfisema dan asma (Bruner & Suddarth, 2002). PPOK adalah klasifikasi luas dari gangguan, yang mencakup bronkitis kronis, emfisema, dan asma. PPOK merupakan kondisi ireversibel yang berkaitan dengan dipsnea saat aktivitas dan penurunan aliran masuk dan keluar udara paru-paru. PPOK merupakan penyebab kematian kelima terbesar di Amerika Serikat. Penyakit ini menyerang lebih dari 25% populasi dewasa. (Smeltzer dan Bare. 2002. hal.595). Penyakit paru obstruktif kronik adalah satu kelompok penyakit paru yang terdiri dari bronchitis kronis, emfisema dan asma kronis ditandai dengan dispnoe, pembatasan aliran udara dan gangguan pertukaran gas (Marc Sabatine,Hipokrates 2003). Dari pengertian-pengertian diatas, maka dapat di simpulkan bahwa Penyakit Paru Obstruktif Kronik (PPOK) yaitu kondisi dimana terjadi bronkhitis kronis, emfisema dan asma bronkial, sehingga menyebabkan terjadinya gangguan pertukaran udara dari dan keluar paru

Patwhay PPOK

(sylvia Anderson, 1995)


Faktor Intristik : Infeksi, Latihan Fisik, Rokok, Faktor Psikologis Faktor Ekstrinsik : Alergen (debu, asap) Semetisasi mukosa bronkial oleh IgE IgE menempel pada sel mast cabang trakeobronkial

Respon parasimpatis
Stimulus saraf aferen oleh stimulus kimia Pelepasan asetilkolin dalam jumlah banyak

Respon simpatis

Menekan aktivitas alfa antrypsin


Ketidak seimbangan elastase antielastase Kerusakan struktur elastin pada bagian perenkian distal dan alveoli Hancurnya dinding septal dan kepadatan pembulih darah menurun Gangguan difusi O dan CO CO dan O Sesak napas, retraksi dinding dada, pernapasan cuping hidung, ekspansi paru , wheezing 1. Perubahan pola napas. 2. Intoleransi aktivitas. 3. Gangguan pola tidur. 4. Kecemasan.

Stimulus alfa adrenergik Sel mast melepaskan nediator kimia

Pelepasan mediator kimia seperti histarian bradikin, protaglandin


Respon dinding bronkial : vasodilatasi, dengan mukus, hiperplasia, dan metaplasia pada sel gobet Manifestasi klinis : sesak napas, wheezing, retraksi dinding dada, kelemahan, sputum purulent kental, ekspansi paru , tidak dapat tidar karena sesak dan batuk

1. Inefektif bersihan jalan napas. 2. Gangguan pertukaran gas. 3. Perubahan nutrisi kurang dari kebutuhan tubuh. 4. Resiko tinggi infeksi

BAB III TINJAUAN KASUS


I.

Pengkajian

Pengkajian dilakukan tanggal 28 Juli 2013 jam 11.00 wita, Klien yang dirawat
berinisial Tn. T. R berumur 71 tahun, suku Rote, agama Kristen Protestan, pendidikan klien tidak tamat SD, pekerjaan klien wiraswasta, alamat Kel. Liliba, status perkawinan klien sudah menikah. Klien adalah anak ke 2 dari 5 orang bersaudara. Klien masuk rumah sakit di IRD tanggal 20 Juli 2013 pukul 08.00 wita. Klien masuk ke ruangan Teratai tanggal 21 Juli 2013 pukul 09.00 dengan diagnosa medik PPOK. Keluhan utama klien : sesak napas, batuk berlendir, demam dan perut mules. Riwayat keluhan : Pada tanggal 19 Juli 2013 ( Jumat ) saat pasien sedang duduk (istirahat) tiba-tiba pasien merasakan sesak napas, batuk berlendir dan disertai demam sehingga keluarga membawa pasien ke Dokter praktek di Penfui, karena keluarga melihat tidak ada perubahan maka pada tanggal 20 Juli 2013 keluarga membawa pasien ke RSUD Prof. Dr. W. Z Johannes Kupang. Keluhan saat ini : klien mengatakan sesak napas, batuk berlendir.

Pada pemeriksaan fisik klien tampak lemah, kesadaran composmentis, TTV : TD


:160/80 mmHg, Nadi : 108 x/mnt, RR : 31 x/mnt, Suhu : 368 C, TB : 163 cm, BB : 41 kg.

lanjutan..... Pada pemeriksaan pernapasan (B1) di dapat klien sesak napas, batuk, lendir kental, warna putih bercampur kuning, irama pernapasan tidak teratur, jenis pernapasan Dyspneu, kecepatan pernapasan Thacipnea, bunyi napas ronki. Sehingga masalah keperawatan yang muncul : Ketidak efektifan bersihan jalan napas. Pola napas tidak efektif. pada pemeriksaan kardiovaskuler (B2), pemeriksaan persyarafan dan penginderaan (B3), pemeriksaan perkemihan (B4), pemeriksaan pencernaan (B5) tidak ditemukan masalah keperawatan. pada pemeriksaan muskuloskletal (B6), kemampuan pergerakan sendi (ROM) : bebas, parese : ya, paralisis : tidak ada, kekuatan otot : kiri dan kanan atas : 5, kiri dan kanan bawah : 5, tonus otot normal, turgor kulit sedang. Sehingga masalah keperawatan yang muncul : Intoleransi aktivtas.

II.

Analisa Data Dari pengkajian yang dilakukan pada tanggal 28 juli 2013 ditemukan ada 3 masalah keperawatan yaitu sebagai berikut : Masalah yang pertama : tidak efektifnya bersihan jalan napas, data subyektif pasien mengatakan batuk berlendir,kental, berwarna putih campur kuning, sulit di keluarkan. Data obyektif pasien tampak sesak napas, batuk berlendir, lendir berwarna putih campur kuning, RR 31 x/m. Etiologi peningkatan produksi sputum. Masalah yang kedua : Pola napas yang tidak efektif, data subyektif pasien mengatakan sesak napas, tidak ada nyeri dada, batuk berlendir, data obyektif napas pasien tampak terengah- engah terpasang 0/ 2 liter, pasien tampak pucat, tidak ada sianosis, RR 31 x /m. Etiologi bronkokontriksi. Masalah yang ketiga intoleransi aktivitas, data subyektif pasien mengatakan badan terasa lemah, tidak mampu melakukan aktivitas seara mandiri, data obyetif pasien tampak lemah, aktivitas di bantu keluarga. Etiologi ketidakseimbangan antara suplai dengan kebutuhan oksigen.

III.

Diagnosa Keperawatan

Ketidak efektifan bersihan jalan napas b/d peningkatan produksi sputum.


Pola napas tidak efektif b/d bronkokontriksi. Intoleransi aktivitas b/d ketidakseimbangan antara suplai dengan kebutuhan oksigen.

IV.

Intervensi Keperawatan
1.

Ketidak efektifan bersihan jalan napas b/d peningkatan produksi sputum.


Goal : Klien akan meningkatkan kepatenan jalan napas. Obyektif : Klien akan menunjukan pola napas yang efektif. Kriteria hasil : Tidak sesak napas, Pengeluaran sekret meningkat. Rencana tindakan :
1.

Kaji frekuensi pernapasan, batuk dan pengeluaran sputum. R/ : Mengetahui tingkat pernapasan klien, dan menentukan tindakan selanjutnya.

2.

Atur posisi klien menjadi posisi semi fowler R/ : Peninggian kepala tempat tidur mempermudah fungsi pernapasan.

3.

Anjurkan klien untuk minum air hangat (6-8 gelas/hari) R/ : Penggunaan air hangat dapat menurunkan spasme bronkus dan dapat membantu mengencerkan sekret.

4.

Ajarkan klien untuk menggunakan metode batuk efektif. R/ : Batuk efektif membantu dalam proses pengeluaran sekret.

5.

Kolaborasi pemberian nebulizer combiven R/ : Pemberian nebulizer combiven bertujuan untuk mengencerkan sekret yang menumpuk dan melonggarkan jalan napas.

2.

Pola napas tidak efektif b/d bronkokontriksi Goal : Klien akan mempertahankan pola napas yang efektik. Obyektif : Klien akan menunjukan bebas dari sesak napas. Kriteria hasil : Tidak sesak napas, RR dalam batas normal. Rencana tindakan :
1.

Kaji tingkat kedalaman pernapasan klien. R/ : Mengetahui sejauh mana tingkat kedalaman pernapasan klien dan menentukan intervensi selanjutnya.

2.

Auskultasi bunyi napas klien. R/ : Mengidentifikasi adanya spasme broncus dan mengetahui bunyi napas klien.

3.

Ajarkan klien untuk melakukan teknik relaksasi napas dalam. R/ : Teknik napas dalam dapat membantu meningkatkan ventilasi pernapasan.

4.

Tinggikan kepala tempat tidur untuk memudahkan pola napas klien.

R/ : Posisi duduk dapat membantu pengiriman O.


5.

Kolarasi pemberian O 2-3 liter/mnt. R/ : Memaksimalkan pernapasan dan menurunkan kerja napas.

3.

Intoleransi aktivitas b/d ketidakseimbangan antara suplai dengan kebutuhan oksigen.

Goal : Klien akan mempertahankan toleransi terhadap aktivitas. Obyektif : Klien akan bebas dari kelemahan fisik. Kriteria hasil : - Klien bebas beraktivitas, Bebas dari kelemahan fisik. Rencana tindakan :
1.

Kaji respon klien terhadap aktivitas.

R/ : Mengetahui tingkat kemampuan klien dalam beraktivitas.


2.

Anjurkan klien untuk banyak beristrahat. R/ : Tirah baring yang cukup menghemat energi untuk proses penyembuhan.

3.

Beritahu keluarga untuk membantu klien dalam beraktivitas. R/ : Untuk mengurangi resiko cedera pada klien.

4.

Berikan dorongan aktivitas secara bertahap jika di toleransi. R/ : Mendorong kemandirian klien dalam beraktivitas.

5.

Evaluasi peningkatan atau penurunan aktivitas klien.


R/ : Mengetahui perkembangan klien dalam beraktivitas.

V.

Implementasi Implementasi untuk diagnosa prioritas :


1.

2.

3.

4.

5.

Jam 08.00 Mengkaji frekuensi pernapasan, batuk dan pengeluaran sputum. Respon : Pasien kooperatif, dan siap untuk melakukan tindakan. Hasil : Irama pernapasan pasien teratur, pasien sesak napas, pasien batuk dan terdapat sekret, konsistensi kental dan berwarna putih bercampur kuning, kecepatan 28 x/ menit. Jam 08.10 Mengatur posisi klien menjadi posisi semi fowler. Respon : Pasien siap untuk melakukan posisi semi fowler. Hasil : Pasien merasa lebih rileks. Jam 08.15 Menganjurkan klien untuk minum air hangat (6-8 gelas/hari). Respon : Pasien bersedia mengikuti anjuran. Hasil : Pasien mengatakan sekret dapat dikeluarkan. Jam 08.20 Mengajarkan klien untuk melakukan teknik batuk efektif. Respon : Pasien mau untuk melakukan teknik batuk efektif. Hasil : Sekret dapat dikeluarkan. Jam 12.00 Melakukan nebuliser dengan obat Berotek 20 tetes Respon : Pasien setuju untuk dilakukan nebulizer. Hasil : Pasien mengatakan sesak napas berkurang, jalan napas menjadi longgar, sekret dapat dikeluarkan.

Catatan : Untuk implementasi kedua dan ketiga dapat dilihat pada Lampiran II.

VI.

Evaluasi Evaluasi yang dilakukan pada tanggal 29 Juli 2013 adalah sebagai berikut : 1. Diagnosa 1. Ketidak efektifan bersihan jalan napas b/d peningkatan produksi sputum. S : Pasien mengatakan setelah dilakukan nebuliser lendir berkurang. O : Setelah dilakukan nebuliser lendir dapat dikeluarkan. A : Masalah belum teratasi. P : Intervensi 1, 2, 3, 4, 5 dilanjutkan. I : Jam 08.00 Mengkaji frekuensi pernapasan, batuk dan pengeluaran sputum. Hasilnya : Irama pernapasan pasien teratur, pasien sesak napas, pasien batuk dan terdapat sekret, konsistensi kental dan berwarna putih bercampur kuning, kecepatan 28 x/ menit. Jam 08.10 Mengatur posisi klien menjadi posisi semi fowler, Hasilnya : Pasien merasa lebih rileks. Jam 08.15 menganjurkan klien untuk minum air hangat (6-8 gelas/hari). Hasilnya : Pasien mengatakan sekret dapat dikeluarkan. Jam 08.20 Mengajarkan klien untuk melakukan teknik batuk efektif. Hasilnya : Sekret dapat dikeluarkan. Jam 12.00 Melakukan nebuliser dengan obat Berotek 20 tetes. Hasilnya : Pasien mengatakan sesak napas berkurang, jalan napas menjadi longgar, sekret dapat dikeluarkan. E : Masalah ketidak efektifan bersihan jalan napas belum teratasi. Catatan : Untuk evaluasi diagnosa kedua dan ketiga dapat dilihat pada Lampiran II.

SEKIAN & TERIMA KASIH

By : BandeL AKM 10