Anda di halaman 1dari 34

BAB I PENDAHULUAN

1.1.........................................................................Latar Belakang Efusi pleura bukan merupakan suatu penyakit, akan tetapi merupakan tanda suatu penyakit(1,2). Pada keadaan normal, rongga pleura hanya mengandung sedikit cairan sebanyak 10-20 ml yang membentuk lapisan tipis pada pleura parietalis dan viseralis, dengan fungsi utama sebagai pelicin gesekan antara permukaan kedua pleura pada waktu pernafasan. Penyakit-penyakit yang dapat menimbulkan efusi pleura adalah tuberkulosis, infeksi paru non-tuberkulosis, keganasan, sirosis hati, trauma tembus atau tumpul pada daerah Ada, infark paru, serta gagal jantung kongestif(2,3,5). Di negana-negara barat, efusi pleura terutama disebabkan oleh gagal jantung kongestif, sirosis hati, keganasan, dan pneumonia bakteri, sementara di negara-negana yang sedang berkembang, seperti Indonesia, lazim diakibatkan oleh infeksi tuberkulosis(2,4). Efusi pleura keganasan merupakan salah satu komplikasi yang biasa ditemukan pada penderita keganasan dan terutama disebabkan oleh kanker paru dan kanker payudara(1). Efusi pleura merupakan manifestasi klinik yang dapat dijumpai pada sekitar 50-60% penderita keganasan pleura primer atau metastatik. Sementana 5% kasus mesotelioma (keganasan pleura primer) dapat disertai efusi pleura dan sekitar 50% penderita kanker payudara akhirnya akan mengalami efusi pleura. 1.2.........................................................................Tujuan Penulisan 1.2.1 Tujuan Umum Setelah menyusun makalah ini diharapkan mahasiswa dapat memahami tentang keperawatan medikal bedah khususnya tentang efusi pleura serta proses keperawatannya. 1.2.2 Tujuan Khusus Adapun tujuan khususnya adalah : 1 Mengetahui tentang pengertian dari efusi pleura

2 Mengetahui masalah-masalah yang terkait dengan efusi pleura 3 Mengetahui tentang penatalaksanaan klien dengan efusi pleura 4 Mengetahui asuhan keperawatan pada klien dengan efusi pleura

BAB II TINJAUAN TEORI


2.1 Definisi a. Efusi pleura adalah akumulasi cairan yang berlebihan pada rongga pleura, cairan tersebut mengisi ruangan yang mengelilingi paru. b. Efusi Pleura adalah pengumpulan cairan di dalam rongga pleura. Rongga pleura adalah rongga yang terletak diantara selaput yang melapisi paru-paru dan rongga dada. dimana kondisi ini jika dibiarkan penderitanya c. Efusi pleura adalah suatu keadaan dimana terdapat penumpukan cairan dari dalam kavum pleura diantara pleura parietalis dan pleura viseralis dapat berupa cairan transudat atau cairan eksudat Berdasarkan ketiga pengertian tersebut dapat disimpulkan bahwa efusi pleura merupakan penimbunan cairan di rongga pleura baik pleura viseralis maupun parietalis yang berupa cairan transudat maupun eksudat yang melebihi jumlah normalnya 10-15 ml. 2.2 Epidemiologi Efusi Pleura Di Indonesia sendiri, tercatat dari 229 kasus efusi pleura yang dirawat di RSP dari Juli 1994 Juni 1997, keganasan merupakan penyebab utama efusi pleura yaitu sebesar 52,4 %. Dari data yang diperoleh di RSP tercatat bahwa 50% kasus Efusi pleura terjadi pada pasien yang berumur 45 tahun. Dari penelitian retrospektif M.Marel dkk pada tahum 1986-1990 pada 171 pasien Efusi Pleura bahwa 44,6% diantaranya disebabkan oleh akan membahayakan jiwa

Efusi Pleura ganas. Dimana 75% dari Efusi Pleura Ganas disebabkan oleh karsinoma Paru, karsinoma mamae dan limfoma. 2.3 Anatomi Fisiologi Sistem Pernafasan System pernafasan terdiri dari hidung , faring , laring ,trakea , bronkus , sampai dengan alveoli dan paru-paru. Hidung didalamnya terdapat bulu yang berguna untuk menyaring udara , debu dan kotoran yang masuk dalam lubang hidung. Faring terdapat dibawah dasar tengkorak , dibelakang rongga hidung dan mulut sebelah depan ruas tulang leher . faring dibagi atas tiga bagian yaitu nasofaring, orofaring , laringofaring. Trakea merupakan cincin tulang rawan yang tidak lengkap (16-20cincin). Trakea dibagi menjadi bronkus kanan dan bronkus kiri. Bronkus kanan lebih pendek dan lebih besar daripada bronkus kiri cabang bronkus yang lebih kecil disebut bronkiolus yang pada ujung ujung nya terdapat gelembung paru atau gelembung alveoli. Paru- paru merupakan sebuah alat tubuh yang sebagian besar terdiri dari gelembung gelembung .paru-paru terbagi menjadi dua yaitu paru-paru kanan tiga lobus dan paru-paru kiri dua lobus. Paruparu adalah struktur elastic yang dibungkus dalam sangkar thorak yang merupakan suatu bilik udara kuat dengan dinding yang dapat menahan tekanan. Permukaan datar paru menghadap ke tengah rongga dada atau kavum mediastinum. Pada bagian tengah terdapat tampuk paru-paru atau hillus paru-paru dibungkus oleh selaput yang tipis disebut Pleura. Pleura merupakan membran tipis, transparan yang menutupi paru dalam dua lapisan : Lapisan viseral, yang dekat dengan permukaan paru dan lapisan parietal menutupi permukaan dalam dari dinding dada. Kedua lapisan tersebut berlanjut pada radix paru. Rongga pleura adalah ruang diantara kedua lapisan tersebut. Permukaan rongga pleura berbatasan lembab sehingga mudah bergerak satu ke yang lainnya Dalam keadaan normal seharusnya tidak ada rongga kosong diantara kedua pleura karena biasanya hanya terdapat sekitar 10-20 cc cairan yang merupakan lapisan tipis serosa yang selalu bergerak secara teratur Setiap saat jumlah cairan dalam rongga pleura bisa menjadi lebih dari cukup untuk memisahkan kedua pleura, maka

kelebihan tersebut akan dipompa keluar oleh pembuluh limfatik (yang membuka secara langsung) dari rongga pleura ke dalam mediastinum. Permukaan superior dari diafragma dan permukaan lateral dari pleura parietis disamping adanya keseimbangan antara produksi oleh pleura parietalis dan absorbsi oleh pleura viseralis . Oleh karena itu ruang pleura disebut sebagai ruang potensial. Karena ruang ini normalnya begitu sempit sehingga bukan merupakan ruang fisik yang jelas. Terdapat perbedaan antara pleura viseralis dan parietalis, diantaranya : Pleura visceralis Permukaan luarnya terdiri dari selapis sel mesothelial yang tipis <30mm. Dimana diantara pleura ini terdapat celah-celah yang berisi sel limfosit. Di bawah sel mesothelial terdapat endopleura yang berisi fibrosit dan histiosit. Di tengahnya terdapat lapisan tengah berupa jaringan kolagen dan serat-serat elastic. Lapisan terbawah terdapat jaringan interstitial subpleura yang banyak mengandung pembuluh darah kapiler dari arteri pulmonalis dan arteri brakhialis serta pembuluh limfe. Menempel kuat pada jaringan paru. Fungsinya untuk mengabsorbsi cairan pleura. Pleura parietalis Merupakan jaringan tebal yang terdiri dari sel-sel mesothelial dan jaringan ikat (kolagen dan elastis). Dalam jaringan ikat tersebut banyak mengandung kapiler dari arteri arteri intercostalis dan arteri mamaria interna, pembuluh limfe, dan banyak reseptor saraf sensoris yang peka terhadap rasa sakit dan perbedaan temperature. Keseluruhan berasal dari intercostalis dinding dada dan alirannya sesuai dengan dermatom dada. Mudah menempel dan lepas dari dinding dada diatasnya. Fungsinya untuk memproduksi cairan pleura. Pernafasan ( respirasi ) adalah peristiwa menghirup udara dari luar yang mengandung oksigen ke dalam tubuh (inspirasi) serta mengeluarkan udara yang mengandung karbondioksida sisa oksidasi keluar tubuh (ekspirasi) yang terjadi karena adanya perbedaan tekanan antara rongga pleura dan paru-paru . Ventilasi membutuhkan

gerakan dinding thorak dan diafragma. Efek dari gerakan ini adalah secara bergantian meningkatkan dan menurunkan kapasitas dada. Ketika dalam kapasitas dada meningkat, udara masuk melalui trakea (inspirasi), karena penurunan tekanan di dalam, dan mengembangkan paru, Ketika dinding dada dan diafragma kembali ke ukuran semula (ekspirasi), paru-paru yang elastis tersebut mengempis, dan mendorong udara keluar melalui bronkus dan trakea. Gambar Anatomi Sistem Pernafasan

2.4 Etiologi Ada beberapa penyebab terjadinya efusi pleura, diantaranya : a. Hambatan resorbsi cairan dari rongga pleura, karena adanya bendungan seperti pada dekompensasi kordis, penyakit ginjal, tumor mediatinum, sindroma meig (tumor ovarium) dan sindroma vena kava superior. b. Pembentukan cairan yang berlebihan, karena radang (tuberculosis, pneumonia, virus), bronkiektasis, abses amuba subfrenik yang menembus ke rongga pleura, karena tumor dimana masuk cairan berdarah dan karena trauma. Di Indonesia 80% karena tuberculosis. Kelebihan cairan rongga pleura dapat terkumpul pada proses penyakit neoplastik, tromboembolik, kardiovaskuler, dan infeksi. Ini disebabkan oleh sedikitnya satu dari empat mekanisme dasar : 1. Peningkatan tekanan kapiler subpleural atau limfatik

2. Penurunan tekanan osmotic koloid darah 3. Peningkatan tekanan negative intrapleural 4. Adanya inflamasi atau neoplastik pleura Bisa terjadi 2 jenis efusi yang berbeda: 1. Efusi pleura transudativa, biasanya disebabkan oleh suatu kelainan pada tekanan normal di dalam paru-paru. Jenis efusi transudativa yang paling sering ditemukan adalah gagal jantung kongestif. 2. Efusi pleura eksudativa terjadi akibat peradangan pada pleura, yang seringkali disebabkan oleh penyakit paru-paru. Kanker, tuberkulosis dan infeksi paru lainnya, reaksi obat, asbetosis dan sarkoidosis merupakan beberapa contoh penyakit yang bisa menyebabkan efusi pleura eksudativa. Terdapat empat tipe cairan yang dapat ditemukan pada efusi pleura, yaitu : 1. Cairan serus (hidrothorax) 2. Darah (hemothotaks) biasanya terjadi karena cedera di dada. Penyebab lainnya adalah:

pecahnya sebuah pembuluh darah yang kemudian mengalirkan darahnya ke dalam rongga pleura kebocoran aneurisma aorta (daerah yang menonjol di dalam aorta) yang kemudian mengalirkan darahnya ke dalam rongga pleura

gangguan pembekuan darah. Darah di dalam rongga pleura tidak membeku secara sempurna, sehingga biasanya mudah dikeluarkan melalui sebuah jarum atau selang.

3. Chyle (chylothoraks) cairan seperti susu di dalam rongga dada disebabkan oleh suatu cedera pada saluran getah bening utama di dada (duktus torakikus) atau oleh penyumbatan saluran karena adanya tumor. 4. Nanah (pyothoraks atau empyema) bisa terjadi jika pneumonia atau abses paru menyebar ke dalam rongga pleura. Empiema bisa merupakan komplikasi dari Infeksi pada cedera di

dada, pembedahan dada, pecahnya kerongkongan Manifestasi Klinis, abses di perut dan Pneumonia 2.5 Manifestasi Klinis Pada anamnesis lazim ditemukan keluhan nyeri dada dan sesak. Rasa nyeri membuat penderita membatasi pergerakan rongga dada dengan bernafas dangkal atau tidur miring ke sisi yang sakit. Sesak nafas dapat ringan atau berat, tergantung pada proses pembentukan efusi, jumlah cairan efusi pleura, dan kelainan yang mendasari timbulnya efusi. Selain itu, dapat dijumpai keluhan yang berkaitan dengan keganasan penyebab efusi pleura. Pasien dengan efusi pleura akan menunjukkan gejala klinis seperti : 1. adanya timbunan ciran mengakibatkan perasaan sakit karena pergesekan, setelah cairan cukup banyak rasa sakit hilang. Bila cairan banyak, penderits akan sesak nafas. 2. Adanya gejala-gejala penyakit penyebab seperti demam, menggigil dan nyeri dada pleuritis (pneumonia), panas tinggi (kokus), subfebril (tuberculosis) banyak keringat, batuk, banyak riak. 3. Deviasi trakea menjauhi tempat yang sakit dapat terjadi jika terjadi penumpukan cairan pleura yang signifikan. 4. Pemeriksaan fisik dalam keadaan berbaring dan duduk akan berlainan, karena cairan akan berpindah tempat. Bagian yang sakit akan kurang bergerak dalam pernafasan, fremitus melemah (raba dan vocal). 5. cegukan 6. Dispnea bervariasi 7. Pada efusi yang berat terjadi penonjolan ruang interkosta. 8. Pergerakan dada berkurang dan terhambat pada bagian yang mengalami efusi. 9. Perkusi meredup diatas efusi pleura. 10. 11. 12. Egofoni diatas paru yang tertekan dekat efusi. Suara nafas berkurang diatas efusi pleura. Jari tabuh merupakan tanda fisik yang nyata dari karsinoma

bronkogenik, bronkiektasis, abses dan TB paru. 2.6 Patofisiologi

Patofisiologi

terjadinya

effusi

pleura

tergantung

pada

keseimbangan antara cairan dan protein dalam rongga pleura. Dalam keadaan normal cairan pleura dibentuk secara lambat sebagai filtrasi melalui pembuluh darah kapiler. Filtrasi yang terjadi karena perbedaan tekanan osmotic plasma dan jaringan interstitial submesotelial kemudian melalui sel mesotelial masuk ke dalam rongga pleura. Selain itu cairan pleura dapat melalui pembuluh limfe sekitar pleura. Pada kondisi tertentu rongga pleura dapat terjadi penimbunan cairan berupa transudat maupun eksudat. Transudat terjadi pada peningkatan tekanan vena pulmonalis, misalnya pada gagal jatung kongestif. Pada kasus ini keseimbangan kekuatan menyebabkan pengeluaran cairan dari pmbuluh darah. Transudasi juga dapat terjadi pada hipoproteinemia seperti pada penyakit hati dan ginjal. Penimbunan transudat dalam rongga pleura disebut hidrotoraks. Cairan pleura cenderung tertimbun pada dasar paru akibat gaya gravitasi. Penimbunan eksudat disebabkan oleh peradangan atau

keganasan pleura, dan akibat peningkatan permeabilitas kapiler atau gangguan absorpsi getah bening.Jika efusi pleura mengandung nanah, keadaan ini disebut empiema. Empiema disebabkan oleh prluasan infeksi dari struktur yang berdekatan dan dapat merupakan komplikasi dari pneumonia, abses paru atau perforasi karsinoma ke dalam rongga pleura. Bila efusi pleura berupa cairan hemoragis disebut hemotoraks dan biasanya disebabkan karena trauma maupun keganasan. Efusi pleura akan menghambat fungsi paru dengan membatasi pengembangannya. Derajat gangguan fungsi dan kelemahan bergantung pada ukuran dan cepatnya perkembangan penyakit. Bila cairan tertimbun secara perlahan-lahan maka jumlah cairan yang cukup besar mungkin akan terkumpul dengan sedikit gangguan fisik yang nyata. Kondisi efusi pleura yang tidak ditangani, pada akhirnya akan menyebabkan gagal nafas. Gagal nafas didefinisikan sebagai kegagalan pernafasan bila tekanan partial Oksigen (Pa O2) 60 mmHg

atau tekanan partial Karbondioksida arteri (Pa Co2) 50 mmHg melalui pemeriksaan analisa gas darah. 2.7 Pemeriksaan Penunjang 1. Rontgen Toraks Dalam foto thoraks terlihat hilangnya sudut kostofrenikus dan akan terlihat permukaan yang melengkung jika jumlah cairan > 300 cc. Pergeseran mediastinum kadang ditemukan. 2. CT Scan Thoraks Berperan penting dalam mendeteksi ketidaknormalan konfigurasi trakea serta cabang utama bronkus, menentukan lesi pada pleura dan secara umum mengungkapkan sifat serta derajat kelainan bayangan yang terdapat pada paru dan jaringan toraks lainnya. 3. Ultrasound Ultrasound dapat membantu mendeteksi cairan pleura yang timbul dan sering digunakan dalam menuntun penusukan jarum untuk mengambil cairan pleura pada torakosentesis 4. Torakosentesis Penyebab dan jenis dari efusi pleura biasanya dapat diketahui dengan melakukan pemeriksaan terhadap contoh cairan yang diperoleh melalui torakosentesis( pengambilan cairan melalui sebuah jarum yang dimasukkan diantara sela iga ke dalam rongga dada dibawah pengaruh pembiusan local). 5. Biopsi Jika dengan torakosentesis tidak dapat ditentukan penyebabnya, maka dilakukan biopsi, dimana contoh lapisan pleura sebelah luar diambil menyeluruh, ditentukan. penyebab untuk dari efusi pleura tetap dianalisa. tidak dapat Pada sekitar 20% penderita, meskipun telah dilakukan pemeriksaan

6. Analisa cairan pleura Efusi pleura didiagnosis berdasarkan anamnesis dan pemeriksaan fisik, dan di konfirmasi dengan foto thoraks. Dengan foto thoraks posisi lateral decubitus dapat diketahui adanya cairan dalam rongga pleura sebanyak paling sedikit 50 ml, sedangkan dengan posisi AP atau PA paling tidak cairan dalam rongga pleura sebanyak 300 ml. Pada foto thoraks posisi AP atau PA ditemukan adanya sudut costophreicus yang tidak tajam.

2.8 Komplikasi 1. Fibrotoraks Efusi pleura yang berupa eksudat yang tidak ditangani dengan drainase yang baik akan terjadi perlekatan fibrosa antara pleura parietalis mekanis dan yang pleura berat viseralis. pada Keadaan ini disebut yang dengan berada perlu fibrotoraks. Jika fibrotoraks meluas dapat menimbulkan hambatan jaringan-jaringan pengupasan dibawahnya. Pembedahan (dekortikasi)

dilakukan untuk memisahkan membrane-membran pleura tersebut. 2. Atalektasis Atalektasis adalah pengembangan paru yang tidak sempurna yang disebabkan oleh penekanan akibat efusi pleura. 3. Fibrosis paru Fibrosis paru merupakan keadaan patologis dimana terdapat jaringan ikat paru dalam jumlah yang berlebihan. Fibrosis timbul akibat cara perbaikan jaringan sebagai kelanjutan suatu proses penyakit paru yang menimbulkan peradangan. Pada efusi pleura, atalektasis yang berkepanjangan dapat menyebabkan penggantian jaringan paru yang terserang dengan jaringan fibrosis.

10

4. Kolaps Paru Pada efusi pleura, atalektasis tekanan yang diakibatkan oleh tekanan ektrinsik pada sebagian / semua bagian paru akan mendorong udara keluar dan mengakibatkan kolaps paru. 2.9 Penatalaksanaan Medis Pada efusi yang terinfeksi perlu segera dikeluarkan dengan memakai pipa intubasi melalui selang iga. Bila cairan pusnya kental sehingga sulit keluar atau bila empiemanya multiokuler, perlu tindakan operatif. Mungkin sebelumnya dapat dibantu dengan irigasi cairan garam fisiologis atau larutan antiseptik. Pengobatan secara sistemik hendaknya segera dilakukan, tetapi terapi ini tidak berarti bila tidak diiringi pengeluaran cairan yang adequate. Untuk mencegah terjadinya lagi efusi pleura setelah aspirasi dapat dilakukan pleurodesis yakni melengketkan pleura viseralis dan pleura parietalis. Zat-zat yang dipakai adalah tetrasiklin, Bleomicin, Corynecbaterium parvum dll. 1. Pengeluaran efusi yang terinfeksi memakai pipa intubasi melalui sela iga. 2. Irigasi cairan garam fisiologis atau larutan antiseptik (Betadine). 3. Pleurodesis, untuk mencegah terjadinya lagi efusi pleura setelah aspirasi. 4. Torasentesis: dimana sebuah jarum (atau selang) dimasukkan ke dalam rongga pleura. Torakosentesis biasanya dilakukan untuk menegakkan diagnosis, tetapi pada prosedur ini juga bisa dikeluarkan cairan sebanyak 1,5 liter. Jika jumlah cairan yang harus dikeluarkan lebih banyak, maka dimasukkan sebuah selang melalui dinding dada. untuk membuang cairan, mendapatkan spesimen (analisis), menghilangkan dispnea. 5. Water seal drainage (WSD), Drainase cairan jika efusi menimbulkan gejala subyektif seperti nyeri, dispnea, dll. Cairan efusi sebanyak 1 1,2 liter perlu dikeluarkan segera

11

untuk mencegah meningkatnya edema paru, jika jumlah cairan efusi lebih banyak maka pengeluaran cairan berikutya baru dapat dilakukan 1 jam kemudian. 6. Antibiotika jika terdapat empiema. Pada empiema diberikan antibiotik dan dilakukan pengeluaran nanah. Jika nanahnya sangat kental atau telah terkumpul di dalam bagian fibrosa, maka pengaliran nanah lebih sulit dilakukan dan sebagian dari tulang rusuk harus diangkat sehingga bisa dipasang selang yang lebih besar. Kadang perlu dilakukan pembedahan untuk memotong lapisan terluar dari pleura (dekortikasi). 7. Operatif.

12

2.10 Pathway
TB, Pneumonia Gagal (jtg kiri, ginjal,hati) (mediastinum, paru) Karsinoma

Atelektasis, hipoalbuminemia Inflamasi paru

Tek.hidrostatis di pembuluh darah

permeabilitas kapiler

Tek.osmotik koloid

Ketidakseimbangan jml produksi cairan dgn absorpsi yg bisa dilakukan pleura viseralis

Akumulasi/penimbunan cairan di kavum pleura

Gangg. Ventilasi (pengembangan paru tdk optimal), gang. Difusi distribusi, dan transportasi oksigen

Sst pernafasan psikososial

Sst saraf pusat

Sst pencernaan

Sst musculoskeletal

Respon

Pa O2 Suplai O2 ke otak Efek PCO2 hipoventilasi Sesak nafas Sesak nafas tindakan invasif Produksi secret, Imunitas Hipoksia serebral Produksi asam lambung, Koping tdk efektif peristaltic

Suplai O2 ke jaringan

Metabolisme anaerob

Pola nafas tdk efektif Jalan nafas tdk efektif Risiko terpapar infeksi

Pusing, disorientasi

Mual, nyeri lambung, konstipasi

Produksi asam laktat Kecemasan

Risiko gangg. Perfusi serebral

Kelemahan fisik umum

Ketidakseimbang an nutrisi, Nyeri lambung Gangg eliminasi alvi

Intoleransi aktivitas

13

2.11 Dokumentasi Asuhan Keperawatan 1. Anamnesis: Pada umumnya tidak bergejala . Makin banyak cairan yang tertimbun makin cepat dan jelas timbulnya keluhan karena menyebabkan sesak, disertai demam sub febril pada kondisi tuberkulosis. 2. Kebutuhan istrahat dan aktifitas

Klien mengeluh lemah, napas pendek dengan usaha sekuatkuatnya, kesulitan tidur, demam pada sore atau malam hari disertai keringat banyak.

Ditemukan adanya tachicardia, tachypnea/dyspnea dengan usaha bernapas sekuat-kuatnya, perubahan kesadaran (pada tahap lanjut), kelemahan otot, nyeri dan stiffness (kekakuan).

3. Kebutuhan integritas pribadi

Klien mengungkapkan faktor-faktor stress yang panjang, dan kebutuhan akan pertolongan dan harapan

Dapat ditemukan perilaku denial (terutama pada tahap awal) dan kecemasan

4. Kebutuhan Kenyamanan/ Nyeri

Klien melaporkan adanya nyeri dada karena batuk

14

Dapat ditemukan perilaku melindungi bagian yang nyeri, distraksi, dan kurang istrahat/kelelahan

5. Kebutuhan Respirasi

Klien melaporkan batuk, baik produktif maupun non produktif, napas pendek, nyeri dada

Dapat ditemukan peningkatan respiratory rate karena penyakit lanjut dan fibrosis paru (parenkim) dan pleura, serta ekspansi dada yang asimetris, fremitus vokal menurun, pekak pada perkusi suara nafas menurun atau tidak terdengan pada sisi yang mengalami efusi pleura. Bunyi nafas tubular disertai pectoriloguy yang lembut dapat ditemukan pada bagian paru yang terjadi lesi. Crackles dapat ditemukan di apex paru pada ekspirasi pendek setelah batuk.

Karakteristik sputum : hijau/purulen, mucoid kuning atau bercak darah

Dapat pula ditemukan deviasi trakea

6. Kebutuhan Keamanan

Klien mengungkapkan keadaaan imunosupresi misalnya kanker, AIDS , demam sub febris

Dapat ditemukan keadaan demam akut sub febris

7. Kebutuhan Interaksi sosial

Klien mengungkapkan perasaan terisolasi karena penyakit yang diderita, perubahan pola peran.

Pemeriksaan Fisik Pada pemeriksaan fisik didapatkan perkusi pekak, fremitus vokal menurun atau asimetris bahkan menghilang, bising napas juga menurun atau hilang. Gerakan pernapasan menurun atau asimetris,

15

lenih rendah terjadi pada sisi paru yang mengalami efusi pleura. Pemeriksaan fisik sangat terbantu oleh pemeriksaan radiologi yang memperlihatkan jelas frenikus kostalis yang menghilang dan gambaran batas cairan melengkung. Pemeriksaan Diagnostik Kultur sputum : dapat ditemukan positif Mycobacterium

tuberculosis Apusan darah asam Zehl-Neelsen : positif basil tahan asam Skin test : positif bereaksi (area indurasi 10 mm, lebih besar, terjadi selama 48 72 jam setelah injeksi. Foto thorax : pada tuberkulosis ditemukan infiltrasi lesi pada lapang atas paru, deposit kalsium pada lesi primer, dan adanya batas sinus frenikus kostalis yang menghilang, serta gambaran batas cairan yang melengkung. Biopsi paru : adanya giant cells berindikasi nekrosi (tuberkulosis) Elektrolit : tergantung lokasi dan derajat penyakit, hyponatremia disebabkan oleh retensi air yang abnormal pada tuberkulosis lanjut yang kronis ABGs : Abnormal tergantung lokasi dan kerusakan residu paru-paru Fungsi paru : Penurunan vital capacity, paningkatan dead space, peningkatan rasio residual udara ke total lung capacity, dan penyakit pleural pada tuberkulosis kronik tahap lanjut. B Diagnosa Keperawatan yang mungkin muncul : 1. Pola napas tidak efektif b.d penurunan ekspansi paru (akumulasi udara/cairan), gangguan musculoskeletal, nyeri/ansietas, proses inflamasi. 2. Cemas sehubungan dengan adanya ancaman kematian yang dibayangkan (ketidakmampuan untuk bernafas). 3. Intoleransi aktifitas berhubungan dengan kelemahan umum

16

4. Perubahan nutrisi kurang dari kebutuhan tubuh ditandai dengan kelemahan, dispnea dan anoreksia C. Intervensi 1. Pola napas tidak efektif b.d penurunan ekspansi paru (akumulasi udara/cairan), gangguan musculoskeletal, nyeri/ansietas, proses inflamasi. Kemungkinan dibuktikan oleh : dispneu, takipneu, perubahan kedalaman pernapasan, penggunaan otot aksesori, gangguan pengembangan dada, sianosis, GDA taknormal. Tujuan : pola nafas efektif Kriteria hasil : Menunjukkan pola napas normal/efektif dng GDA normal Bebas sianosis dan tanda gejala hipoksia

Intervensi : 1. Identifikasi factor penyebab Rasional : Dgn mengidentifikasi factor penyebab, kita dapat menentukan jenis efusi pleura sehingga dapat mengambil tindakan yang tepat 2. Kaji kualitas, frekuensi dan kedalaman pernafasan, serta melaporkan setiap perubahan yg terjadi Rasional : Peningkatan frekuensi nafas dan takikardi merupakan indikasi adanya penurunan fungsi paru 3. Observasi TTV Rasional : Untuk mengetahui sejauh mana perubahan kondisi klien 4. Berikan klien posisi yang nyaman, posisi fowler Rasional : Penurunan diafragma dapat memperluas daerah dada sehingga ekspansi paru bisa maksimal 5. Lakukan auskultasi suara nafas tiap 2-4 jam Rasional : Untuk menentukan kelainan suara nafas pada bagian paru 6. Kolaborasi dengan tim medis lain untuk pemberian O2, dan obatobatan serta foto thoraks Rasional : Pemberian O2 dapat menurunkan beban pernafasan dan mencegah terjadinya sianosis dan hipoksia. Dgn foto

17

thoraks dapat memonitor kemajuan dan berkurangnya cairan dan kembalinya daya kembang paru 7. Kolaborasi untuk tindakan thorakosentesis Rasional : Untuk menghilangkan sesak nafas yg disebabkan oleh akumulasi cairan dlm rongga pleura. 2. Cemas sehubungan dengan adanya ancaman kematian yang dibayangkan permenit. (ketidakmampuan untuk bernafas). Tujuan : Pasien mampu memahami dan menerima keadaannya : Pasien mampu bernafas secara normal, pasien sehingga tidak terjadi kecemasan. Kriteria hasil mampu beradaptasi dengan keadaannya. Respon non verbal klien tampak lebih rileks dan santai, nafas teratur dengan frekuensi 16-24 kali permenit, nadi 80-90 kali Rencana tindakan : a. Berikan posisi yang menyenangkan bagi pasien. Biasanya dengan semi fowler. b. Jelaskan mengenai penyakit dan diagnosanya. Rasional : pasien mampu menerima keadaan dan mengerti sehingga dapat diajak kerjasama dalam perawatan. c. Ajarkan teknik relaksasi Rasional : Mengurangi ketegangan otot dan kecemasan d. Bantu dalam menggala sumber koping yang ada. Rasional : Pemanfaatan sumber koping yang ada secara konstruktif sangat bermanfaat dalam mengatasi stress. e. Pertahankan hubungan saling percaya antara perawat dan pasien. Rasional Hubungan saling percaya membantu proses terapeutik f. Kaji faktor yang menyebabkan timbulnya rasa cemas. Rasional : Tindakan yang tepat diperlukan dalam mengatasi masalah yang dihadapi klien dan membangun kepercayaan dalam mengurangi kecemasan. g. Bantu pasien mengenali dan mengakui rasa cemasnya.

18

Rasional : Rasa cemas merupakan efek emosi sehingga apabila sudah teridentifikasi dengan baik, perasaan yang mengganggu dapat diketahui.

3. Intoleransi aktifitas berhubungan dengan kelemahan umum. NOC :

Mentoleransi aktifitas yang biasa dilakukan dan ditunjukkan dengan daya tahan, penghematan energi dan aktifitas kehidupan seharihari.

Menunjukkan penghematan energi ditandai dengan indicator : > Menyadari keterbatasan energi. > Menyeimbangkan aktifitas dan istirahat. > Tingkat daya tahan adekuat untuk beraktifitas. NIC :

Kaji respon emosi, sosial dan spiritual terhadap aktifitas. Tentukan penyebab keletihan. Pantau respon kardiorespiratori terhadap aktivitas. Pantau asupan nutrisi untuk memastikan keadekuatan sumber energi.

Pantau pola istirahat pasien dan lamanya istirahat. Ajarkan kepada pasien dan keluarga tentang teknik perawatan diri yang akan meminimalkan konsumsi oksigen.

Ajarkan tentang pengaturan aktivitas dan teknik manajemen waktu untuk mencegah kelelahan.

Hindari menjadwalkan aktivitas perawatan selama periode istirahat.

19

Bantu pasien untuk mengubah posisi tidur secara berkala dan ambulasi yang dapat ditolerir.

Rencanakan aktifitas dengan pasien / keluarga yang meningkatkan kemandirian dan daya tahan.

Bantu pasien untuk mengidentifikasi pilihan aktifitas. Rencanakan aktivitas pada periode pasien mempunyai energi paling banyak.

4. Perubahan nutrisi kurang dari kebutuhan tubuh ditandai dengan kelemahan, dispnea dan anoreksia. Tujuan : Kebutuhan nutrisi terpeniuhi. Kriteria : Kriteria berat badan naik, klien mau mengkonsumsi makanan yang di sediakan. Intervensi : 1) Kolaborasi dengan dokter dalam pemberian vitamin. Rasional : Dengan pemberian vitamin membantu proses metabolisme, mempertahankan fungsi berbagai jaringan dan membantu pembentukan sel baru. 2) Jelaskan pada klien tentang pentingnya nutrisi bagi tubuh dan diit yang di tentukan dan tanyakan kembali apa yang telah di jelaskan. Rasional : Pengertian klien tentang nutrisi mendorong klien untuk mengkonsumsi makanan sesuai diit yang ditentukan dan umpan balik klien tentang penjelasan merupakan tolak ukur penahanan klien tentang nutrisi 3) Bantu klien dan keluarga mengidentifikasi dan memilih makanan yang mengandung kalori dan protein tinggi. Rasional : Dengan mengidentifikasi berbagai jenis makanan yang telah di tentukan. 4) Identifikasi busana klien buat padan yang ideal dan tentukan kenaikan berat badan yang diinginkan berat badan ideal. Rasional : Diharapkan klien kooperatif. 5) Sajikan makanan dalam keadaan menarik dan hangat.

20

Rasional : Dengan penyajian yang menarik diharapkan dapat meningkatkan selera makan. 6) Anjurkan pada klien untuk menjaga kebersihan mulut. Rasional : Dengan kebersihan mulut menghindari rasa mual sehingga diharapkan menambah rasa. 7) Monitor kenaikan berat badan Rasional : dengan monitor berat badan merupakan sarana untuk mengetahui perkembangan asupan nutrisi klien. 2.12 Pelaksanaan Implementasi merupakan pelaksanaan rencana keperawatan oleh perawat terhadap pasien. Ada beberapa hal yang perlu diperhatikan dalam pelaksanaan rencana keperawatan diantaranya : Intervensi dilaksanakan sesuai dengan rencana setelah dilakukan validasi ; ketrampilan interpersonal, teknikal dan intelektual dilakukan dengan cermat dan efisien pada situasi yang tepat, keamanan fisik dan psikologis klien dilindungi serta dokumentasi intervensi dan respon pasien. Pada tahap implementasi ini merupakan aplikasi secara kongkrit dari rencana intervensi yang telah dibuat untuk mengatasi masalah kesehatan dan perawatan yang muncul pada pasien (Budianna Keliat, 1994,4). 2.13 Evaluasi Evaluasi merupakan langkah terakhir dalam proses keperawatan, dimana evaluasi adalah kegiatan yang dilakukan secara terus menerus dengan melibatkan pasien, perawat dan anggota tim kesehatan lainnya. Tujuan dari evaluasi ini adalah untuk menilai apakah tujuan dalam rencana keperawatan tercapai dengan baik atau tidak dan untuk melakukan pengkajian ulang (US. Midar H, dkk, 1989). Kriteria dalam menentukan tercapainya suatu tujuan, pasien : 1. Mampu mempertahankan fungsi paru secara normal. 2. Kebutuhan nutrisi terpenuhi. 3. Tidak terjadi gangguan pola tidur dan kebutuhan istirahat terpenuhi.

21

4. Dapat memenuhi kebutuhan perawatan diri sehari-hari untuk mengembalikan aktivitas seperti biasanya. 5. Menunjukkan melaporkan merawatnya. 6. Mampu menerima keadaan sehingga tidak terjadi kecemasan. 7. Menunjukkan pengetahuan tentang tindakan pencegahan yang berhubungan dengan penatalaksanaan kesehatan, meliputi kebiasaan yang tidak menguntungkan bagi kesehatan seperti merokok, minum minuman beralkohol dan pasien juga menunjukkan pengetahuan tentang kondisi penyakitnya. pengetahuan segera ke dan dokter gejala-gejala atau gangguan yang pernafasan seperti sesak nafas, nyeri dada sehingga dapat perawat

22

BAB III ASUHAN KEPERAWATAN 3.1 Kasus Terkait Tn. S berumur 35 tahun dilarikan ke RS B oleh istrinya pada pukul 03.00. Istri klien mengatakan, 3 minggu belakangan suaminya mengalami batuk kering kemudian disertai nyeri di dada kanan dan puncaknya sesak nafas. Istri klien juga mengatakan nafsu makan suaminya menurun sesekali disertai mual dan muntah. Klien terlihat pucat. Dari hasil pengkajian, terlihat bahwa klien mengalami nyeri dada. Skala nyeri 5 dan serasa ditusuk-tusuk di dada kanan. TTV menunjukkan S 38 C; N 110 x/menit, TD 140/ 90 mmHg; RR 35 x/menit. BB klien sebelum sakit 68 kg dan stelah sakit 65 kg. konjungtiva dan membrane mukosa tampak pucat. Klien juga terlihat murung dan keluar keringat dingin. Dari hasil pengkajian fisik diperoleh bahwa pengembangan dada asimetris, pergerakan dada kanan tertinggal dimana napas pendek dan cepat dengan menggunakan cuping hidung dan otot bantu pernafasan. Klien batuk produktif dengan warna sputum kuning dan kental. Fremitus taktil menurun. Suara perkusi paru redup di lobus kanan paru. Dari auskultasi terdengar vesikuler melemah pada paru kiri. Dari hasil radiology terlihat bahwa lesi pada lapang atas paru, dan adanya batas sinus frenikus kostalis yang menghilang, serta gambaran batas cairan yang melengkung. Data penunjang berupa hasil laboratorium yaitu : cairan kuning Hb : 8 g/dl pleura berupa eksudat sebanyak 300 cc berwarna

23

Ht Leukosit

: 36% : 15 rb/mmk

Trombosit : 5,4 jrb/mmk Eritrosit : 3,6 jt/mmk

3.2 Dokumentasi Asuhan Keperawatan Kasus Pengkajian : Nama Perawat Tanggal Pengkajian Jam Pengkajian 1. Biodata Pasien Nama Umur Agama Pendidikan Pekerjaan Status Pernikahan Alamat : Tn. S : 40 tahun : Hindu : SD : Pedagang : Menikah : Jalan ABC no 1 : Efusi Pleura : Romani : 22 Maret 2010 : 07.10 WIB

Tanggal masuk RS: 22 Maret 2010 Diagnosa Medis Penanggung Jawab Nama Agama Pendidikan Pekerjaan Status Pernikahan Alamat : Ny. S : Hindu : SD : Pedagang : Menikah : Jalan ABC n0 1 24

Hubgn dgn klien

: Istri

2. Keluhan Utama Klien adalah Sesak nafas dan nyeri pada dada kanan

3. Riwayat kesehatan : a. Riwayat Penyakit Sekarang Ny. S mengatakan klien mulai mengalami batuk serta sesak nafas sejak 3 minggu lalu. Lalu tanggal 21 maret 2010 pada malam hari sekitar pukul 10.00, klien mulai batuk-batuk disertai sesak nafas ringan. Istri klien membujuk untuk pergi ke Rumah sakit, tetapi klien tidak mau dan mengatakan tidak apa-apa dan minta dibuatkan teh hangat saja. Pada malam hari tersebut, klien tidak bisa tidur dan terus batuk disertai sesak nafas hingga dini hari. Dini hari sekitar pukul 02.45, sesak nafas klien menghebat disertai nyeri di dada kanan. Klien lalu di bawa ke IGD di Rumah Sakit oleh istrinya. Setelah klien lebih stabil, oleh petgas IGD klien di tempatkan di bangsal Anggrek. Klien diberikan terapi oksigen 2liter/mnt. b. Riwayat Penyakit Dahulu

Klien mengatakan sering mengalami sesak nafas diserti batuk dan nyeri dada kanan sekitar 2 minggu belakangan. Pada masa kecil klien mengaku mendapat imunisasi lengkap. Klien juga mengatakan pernah dirawat di RS karena mengalami kecelakaan sehingga dadanya terbentur keras. Klien mengaku terbiasa minum kopi 2 kali sehari, serta tidak merokok maupun mengkonsumsi alcohol. Klien

25

mengaku selama mengalami sesak nafas sulit tidur dengan posisi telentang karena sesak nafas semakin memberat. c. Riwayat Penyakit Keluarga Klien mengatakan dalam keluarganya tidak ada keluarga yang menderita penyakit keturunan seperti asma, diabetes, maupun hipertensi. Dalam keluarganya juga tidak ada yang menderita penyakit seperti yang ia derita saat ini.

GENOGRAM

Keterangan: : Laki-laki : Perempuan meninggal : Perempuan : Klien ( Tn.S ) : Tinggal serumah 26

4. Basic Promoting Physiologi of Health a) Aktivitas dan Latihan N o 1 2 3 4 5 6 7 8 9 Aktivitas Makan Mandi Berpakaian Toileting Tingkat mobilitas tempat tidur Berpindah Kemampuan ROM Berjalan Kekuatan otot Sebelum sakit 0 0 0 0 0 0 0 0 0 Selama sakit 0 2 0 1 0 0 0 1 0

di

b) Tidur dan Istirahat Sebelum sakit klien bisa tidur nyenyak selama 7-8 jam/hari. Selama sakit klien mengatakan tidak dapat tidur nyenyak karena sesak nafas dan batuk. Tn. S mengatakan hanya dapat tidur sekitar 5-6 jam/hari dan tidak terbiasa untuk tidur siang karena sibuk berdagang. c) Kenyamanan dan Nyeri Tn.S mengatakan tidak nyaman dikarenakan batuk dan sesak nafas disertai nyeri dada kanan. terhadap nyeri diperoleh : o Profokative/Palliative: Tn.S merasa nyeri saat batuk dan bernafas. beristirahat o Quality : nyeri seperti ditusuk-tusuk sehingga sulit untuk bernafas o Region : nyeri dirasakan di dada sebelah kanan 27 Nyeri berkurang setelah Pengkajian

o Scale

: dalam rentang nyeri 1-10, Tn.S mengatakan skala nyerinya berada di skala 5 dengan interpretasi nyeri sedang

o Time d) Nutrisi

: nyeri berlangsung selama 4-6 menit.

Tn.S mengatakan sebelum ia sakit, ia terbiasa makan 3 kali sehari dengan porsi nasi, sayur, lauk pauk tahu tempe, kadang-kadang menghabiskan daging porsi dan telor dan mampu Tn.S makannya. Setelah sakit

memperoleh diet makanan dari ahli gizi. Frekuensi makan klien 3 kali sehari sesuai makan jadwal di RS. Tetapi setiap kali klien makan, klien hanya menghabiskan porsi makan yang terdiri dari nasi, sayur, telur yang disediakan oleh RS . Saat makan klien mampu melakukannya secara mandiri. Tinggi badan klien 170 cm dengan BB klien sebelum sakit 68 kg, dan setelah sakit 65 kg. IMT klien 22,83 dan masih berada dalam rentang normal (18-25) Klien mangatakan memiliki alergi terhadap ikan dan udang. Nafsu makan klien menurun dikarenakan mual dan muntah. Terapi medis yang diberikan yaitu infuse RL 10 tetes/mnt. e) Oksigenasi Klien mengalami sesak nafas dengan frekuensi 2-3 kali sehari sebelum masuk ke RS. RR klien 35 x/mnt dengan cepat dan pendek. Saat bernafas klien menggunkan otot bantu pernafasan dan cuping hidung.. Faktor pencetus sesak nafas klien adalah penumpukan cairan di rongga pleura. Faktor yang memperberat sesak nafas klien adalah kelelahan dan tidur dalam poisi yang terlentang. Sesak 28

nafas berkurang saat klien duduk dan istirahat. Klien juga mengalami batuk kering disertai nyeri dada. Tidak terdengar suara nafas tambahan seperti wheezing, ronchi. Saat dirawat di RS, klien diberikan terapi oksigen 2 liter/mnt. f) Eliminasi fekal/bowel Klien mengatakan terbiasa BAB sehari 1 kali pada pagi hari dengan konsistensi padat tapi tidak keras dengan warna kuning tanpa disertai darah. Eliminasi klien dilakukan dengan pispot.

g) Eliminasi urine Klien mengatakan BAK 3-4 kali sehari menggunakan pispot. Urine klien berwarna kuning tanpa disertai adanya darah dan tanpa ada rasa nyeri, rasa terbakar maupun sebagainya yang berkaitan dengan eliminasi urine saat berkemih. Klien juga tidak memiliki riwayat penyakit ginjal. h) Sensori, persepsi, dan kognitif Selama pengkajian, klien tidak menunjukkan gangguan kognitif, tidak ada gangguan pada kelima alat indera yakni penciuman, pendengaran, penglihatan, pengecap dan perabaan. Menurut Tn.S dia sakit karena adalah akibat dia tidak menjaga kesehatannya dengan baik. Kini klien pasrah pada Tuhan dan berjanji akan menerapkan hidup sehat jika sudah keluar dari RS nanti. i) Pemeriksaan Fisik 29

Keadaan Umum. Compos mentis dengan GCS ; E=4 ; M=6 ; V=5. Vital sign ; S 38 C; N 110 x/menit Dengan irama teratur, kuat, TD 140/ 90 mmHg; RR 35 x/menit nafas cepat dangkal.

Kepala Kulit kepala terlihat normal tanpa adanya hematom,lesi,. Rambut klien terlihat berminyak dan tidak mudah patah tetapi sedikit rontok. Muka klien tampak normal tanpa adanya hematom maupun lesi. Konjungtiva mata tampak pucat. Sklera klien berwarna putih. Pupil mata klien isokor serta respon terhadap cahaya (+). Palpebra klien tampak normal. Lensa mata terlihat jernih dan mengkilat. Visus mata klien normal mata kanan/kiri; 6/6. Pada hidung klien tidak terdapat secret maupun kotoran serta tanpa polip. Gigi klien tampak bersih dan tidak menggunakan gigi palsu. Mukosa bibir tampak pucat. Telinga klien tampak simetris bersih tanpa adanya gangguan. Ekspresi wajah klien tampak meringis menahan nyeri.

Leher Leher klien tampak normal dengan kulit berwarna bersih tanpa adanya pembesaran thyroid, pelebaran JVP maupun hematom dan lesi. Kondisi tenggorokan normal tanpa adanya nyeri saat menelan maupun pembesaran tonsil.

Dada Pada saat inspeksi dada nampak penggunaan otot Bantu pernafasan, gerakan naik turun dada saat respirasi tampak asimetris dimana dada kanan

30

tertinggal.

Dari

auskultasi

terdengar

vesikuler

melemah pada paru kanan.

Fremitus taktil

menurun. Suara perkusi paru redup di lobus kanan paru. Dari hasil radiology terlihat adanya batas sinus frenikus kostalis yang menghilang, serta gambaran batas cairan yang melengkung. Pada saat inspeksi jantung, tampak tidak ada benjolan. Ictus cordis tidak tampak. Saat dipalapasi ictus cordis teraba pada mid clavicula 5 (antara costa 5 dan 6). Dari perkusi bunyi jantung redup dimana batas jantung normal pada ruang intercostals 4 dan 5. Auskultasi bunyi jantung SI ada murni SII ada murni. SIII dan murmur tidak ada. Abdomen Inspeksi abdomen menunjukkan kulit abdomen bersih, bentuk datar, tidak ada hematom, tidak ada luka, tidak ada bekas operasi. Auskultasi terdengar suara peristaltic usus 15 x/mnt. Saat palpasi tidak ada benjolan dan tidak ada pembengkakan hati dan tidak ada tumor. Saat diperkusi terdengar bunyi timpani.

Genitalia Tidak dikaji karena klien malu dan tidak bersedia diperiksa pada area genitalia

Rectum Tidak dikaji karena klien malu dan tidak bersedia diperiksa pada area genitalia

Ekstremitas - Atas

31

Klien dapat melakukan ROM pasif dengan tonus otot 2. Capillary refill menunjukkan kembali dalam waktu 3 detik. Kulit tampak bersih dan tidak ada benjolan. - Bawah Klien dapat melakukan ROM pasif dengan tonus otot 2. Capillary refill menunjukkan kembali dalam waktu 3 detik. Kulit tampak bersih dan tidak ada benjolan. j) Psiko sosio budaya dan spiritual Psikologis Perasaan klien setelah mengalami masalah ini adalah cemas dan takut mati. Karena klien kurang tahu mengenai penyakit yang dideritanya. Klien terlihat murung dan keluar keringat dingin. Rencana klien setelah masalah ini terselesaikan adalah melakukan aktivitas sehari-hari sperti sebelum dia sakit. Sosio Gaya antara klien berinteraksi dan klien menggunakan baik. Bahasa saat Indonesia dengan nada bicara sopan dan pola interaksi perawat terlihat pemeriksaan klien kooperatif dengan keluarga dnan

perawat. Sesekali klien tampak murung dan tegang. Budaya Budaya yang diikuti klien adalah budaya orang Bali yang kental akan adat istiadat serta keagamaan. Klien tidak menganut budaya yang dapat merugikan kesehatan.

32

Spiritual Aktivitas ibadah sehari-hari adalah bersama keluarga sembahyang ke pura. Begitu pula kegiatan keagamaan yang dilakukan bersama-sama di pura bersama masyarakat di lingkungannya mempersiapkan upacara yang akan diadakan. Pasien mengaku pasrah tentang penyakit yang dia alami sekarang. k) Pemeriksaan Penunjang Radiologi tanggal 22 Maret 2010 jam 08.00 WIB Foto Thorak : terlihat dan adanya batas sinus frenikus kostalis yang menghilang, serta gambaran batas cairan yang melengkung.paru kanan hanya terlihat sampai iga ke lima, sedang paru kiri terlihat sampai iga ke delapan. Laboratorium tanggal 22 Maret 2010 jam 08.00 WIB N o 1 2 3 Jenis Pemeriksaan cairan pleura Hb (g/dl) Ht (%) Nilai Normal 10-20 cc 14-16 g/dl 40-48 % Hasil Interpretasi

300 cc warna Penumpukan kuning 8 g/dl 36% cairan eksudat Penurunan Hb (anemia) Konsentrasi darah menurun/ kandungan

Eritrosit (jt/mmk)

4,6-6,2 jt/mmk 4-10 rb/mmk

3,6 jt/mmk

eritrosit rendah Jumlah eritrosit menurun

Leukosit (rb/mmk)

15 rb/mmk

Jumlah

leukosit

meningkat adanya infeksi

33

Trombosit (rb/mmk)

150-450 rb/mmk

5,4 rb/mmk

trombositopenia

l) Terapi Medis Infuse RL 10 tetes/mnt Terapi oksigen 2 liter/mnt

34