Anda di halaman 1dari 21

1

BAB IV HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN b. 1) Hasil Observasi, Kuis dan Angket Hasil Observasi Peneliti mengamati proses pembelajaran di kelas menggunakan lembar observasi yang telah disusun dengan aspek-aspek yang berhubungan dengan aktivitas siswa dan pemberian kuis pada saat pembelajaran menggunakan metode untuk meningkatkan motivasi belajar siswa. Berdasarkan pengamatan pada pertemuan pertama, siswa masih belum terbiasa dengan pemberian kuis tetapi sudah menunjukkan rasa senang dengan adanya kuis, meskipun ada beberapa siswa yang bekerja sama dalam mengerjakan soal kuis. Pada saat pembelajaran berlangsung masih ada sebagian siswa yang terlihat berbicara sendiri dengan temannya. Pengamatan pada pertemuan kedua, selama pembelajaran berlangsung terlihat bahwa siswa lebih antusias berdiskusi dengan teman sebangku saat mengerjakan latihan soal, meskipun ada beberapa yang terlihat malas mengerjakan. Siswa sudah mulai berani mengerjakan soal di depan meskipun tidak ditunjuk guru. Siswa juga sudah mulai terbiasa dengan pemberian kuis. Pengamatan (observasi) ini dilakukan untuk mengatahui peningkatan motivasi belajar siswa terhadap pembelajaran dengan pemberian kuis. Selanjutnya, data yang menunjukkan jumlah keterlibatan siswa tersebut dihitung untuk setiap pertemuan dan dicari persentasenya. Dibawah ini tabel analisis hasil observasi motivasi belajar siswa siklus I.

A B C D E 2)

Tabel 4.15. hasil Observasi Motivasi Belajar Siswa Siklus I Aspek yang Diamti Siklus I Kualifikasi Guru membimbing siswa dalam proses 87,5% Tinggi belajar mengajar Guru memotivasi siswa dalam meningkatkan 75% Tinggi belajar matematika dengan pemberian kuis Sikap siswa saat pembelajaran 66,67% Sedang Sikap siswa saat diberikan kuis 66,67% Sedang Bentuk motivasi yang diberikan guru 60% Sedang Hasil Angket

Angket diberikan pada akhir siklus I, yaitu pada pertemuan kedua. Berdasarkan angket dari 37 siswa menunjukkan motivasi belajar matematika siswa belum mencapai indicator keberhasilan. Dibawah ini tabel analisis hasil angket motivasi belajar siswa siklus I. Tabel 7. Hasil Angket Motivasi Belajar Siswa Siklus II Indikator Siklus I A Motivasi mengerjakan kuis matematika 66,39% B C D Ketekunan dalam mengerjakan dan menyelesaiakan kuis matematika Usaha untuk meningkatkan prestasi belajar Besarnya perhatian matematika terhadap kuis 67,68% 54,19% 65,71% Kualifikasi Sedang Tinggi Sedang Sedang

Rata-rata persentase motivasi belajar siswa sebesar 63,49% dalam katergori sedang. Dari hasil angket motivasi belajar siswa belum sesuai harapan. Karena pada aspek motivasi mengerjakan kuis, usaha untuk meningkatkan prestasi belajar dan besarnya perhatian terhadap kuis matematika masih pada kategori sedang. c. Refleksi Pelaksanaan tindakan yang telah dilakukan pada siklus I ternyata masih mengalami kekurangan dan hambatan yang mengakibatkan upaya meningkatkan

motivasi belajar matematika siswa kelas XI SMK Negeri 7 Yogyakarta melalui pemberian kurang optimal. Oleh karena itu, diperlukan refleksi atau kajian kembali terhadap hasil pengamatan yang diperoleh. Refleksi kemudian dilaksanakan oleh penelitidan guru. Permasalahanpermasalahan yang muncul selama pembelajaran

berlangsung pada siklus I adalah sebagai berikut. a. Beberapa siswa kurang aktif apabila guru menyuruh menyelesaikan soal di depan. Siswa yang maju didominasi oleh siswa yang pandai dalam menyelesaikan masalah. b. Kurangnya latihan soal, karena waktu terpotong untuk kuis dan menjelaskan materi pelajaran. c. Kuis dikerjakan kurang optimal karena guru tidak memberitahukan kepada siswa pada pertemuan sebelumnya bahwa akan diberikan kuis pada setiap pertemuan materi matriks sehingga masih ada siswa yang bekerja sama saat menyelesaikan soal kuis. d. Siswa guru, sehingga guru dan peneliti harus pemahaman siswa. e. Ketika mengerjakan latihan soal, masih ada siswa yang berbicara sendiri dengan temannya. Dari akhir siklus I ini, dapat dikatakan bahwa motivasi belajar matematika siswa selama proses pembelajaran masih kurang optimal. Hal ini dikarenakan pada pertemuan sebelumnya guru tidak memberitahukan kepada siswa bahwa belum memahami penjelasan

berkeliling untuk mengetahui

akan diberikian kuis matematika pada setiap pertemuan. Nilai dari soal kuis juga menurun dari kuis 1 ke kuis 2 dan kuis 3, hal ini juga menunjukkan motivasi belajar siswa kurang optimal. a. Hasil Observasi, , Angket dan Wawancara 1) Hasil Observasi Peneliti dan observer lain mengamati proses pembelajaran matematika di kelas menggunakan lembar observasi yang telah disusun dengan memuat aspek-aspek yang berhubungan dengan metode pembelajaran eskpositori dengan pemberian kuis untuk meningkatkan motivasi belajar matematika siswa. Pada siklus II, pengamatan pada pertemuan pertama siswa sudah semakin terbiasa dengan pemberian kuis dan minat yang lebih terhadap pemberian kuis. Selama pembelajaran berlangsung siswa terlihat semakin lebih antusias berdiskusi dengan teman sebangku saat mengerjakan latihan soal, meskipun ada beberapa yang masih terlihat malas mengerjakan latihan soal. Siswa juga sudah siap apabila diberikan kuis oleh guru. Apabila ada materi yang kurang jelas, siswa lebih berani untuk menanyakan kepada guru. Pada pertemuan kedua, siswa sudah berani untuk mengerjakan latihan soal di depan kelas tanpa ditunjuk oleh guru. Pada saat mengerjakan kuis, hanya 2 orang saja yang terlihat bekerja sama. Selama pembelajaran berlangsung pun siswa terlihat semakin lebih

antusias berdiskusi dengan teman sebangku saat mengerjakan latihan soal. Secara umum, motivasi belajar matematika siswa mengalami peningkatan dari siklus I ke siklus II . Dengan demikian, berdasarkan hasil observasi motivasi belajar siswa sudah mengalami peningkatan setelah diberikan kuis matematika. Di bawah ini tabel analisis hasil observasi motivasi belajar siswa siklus II.

Tabel 8. hasil Observasi Motivasi Belajar Siswa Siklus II Aspek yang Diamti Siklus II Kualifikasi A Guru membimbing siswa dalam 93,75% Tinggi proses belajar mengajar B Guru memotivasi siswa dalam 87,5% Tinggi meningkatkan belajar matematika dengan pemberian kuis C Sikap siswa saat pembelajaran 83,33% Tinggi D Sikap siswa saat diberikan kuis 83,33% Tinggi E Bentuk motivasi yang diberikan guru 90% Tinggi 2) Hasil Angket Angket diberikan pada akhir akhir siklus II. Hasil angket dari 37 siswa, menunjukkan adanya respons yang baik terhadap pemberian kuis. Di bawah ini tabel analisis hasil angket motivasi belajar siswa siklus II. Tabel 10. Hasil Angket Motivasi Belajar Siswa Siklus II Indikator Siklus II A Motivasi mengerjakan kuis 70,54% matematika B Ketekunan dalam mengerjakan dan 70,70% menyelesaiakan kuis matematika Kualifikasi Tinggi Tinggi

Usaha untuk meningkatkan prestasi 66,89% Tinggi belajar D Besarnya perhatian terhadap kuis 70,19% Tinggi matematika Rata-rata persentase motivasi belajar siswa sebesar 69,58% dalam katergori tinggi. Dari hasil angket motivasi belajar siswa pada sikulus I belum sesuai harapan. Karena pada aspek usaha untuk meningkatkan prestasi belajar masih pada kategori sedang. Akan tetapi pada angket siklus II ini, semua indikator telah masuk dalam kualifikasi tinggi. 3) Hasil Wawancara Berdasarkan hasil wawancara, siswa tertarik dengan pembelajaran menggukan metode ekspositori dengan pemberian kuis pada materi matriks. Siswa merasa semakin bersemangat dalam belajar matematika karena mereka merasa tertantang dengan latihan soal dan soal kuis yang diberikan. Bagi siswa, pembelajaran dengan pemberian kuis dapat meningkatkan pemahaman siswa tentang materi matriks karena soal kuis menantang siswa untuk mengerjakan kuis dengan tidak membuka buku dan dikerjakan secara mandiri. Beberapa siswa kurang menyukai pelajaran matematika karena mereka menganggap matematika itu sulit dan tidak menyenangkan. Sedangkan sebagian siswa berpendapat bahwa matematika

menyenangkan karena soal latihannya membuat penasaran dalam mencari penyelesaiannya. Pada pembelajaran matematika materi matriks, siswa lebih memperhatikan dan keinginan untuk mempelajari matematika menjadi lebih tinggi. Hal ini dikarenakan dorongan dan

motivasi yang diberikan guru membuat siswa menjadi lebih senang dan tertarik terhadap matematika, sehingga mendorong mereka untuk belajar matematika. Selain itu, siswa lebih nyaman dan senang karena guru memberikan kesempatan berdiskusi dengan teman sebangku saat mengerjakan latihan soal dan guru juga memberikan kesempatan untuk bertanya apabila siswa tidak dapat mengerjakan soal kuis. Guru lebih bersikap ramah dan bersahabat sehingga siswa tidak takut untuk bertanya atau mengerjakan soal di depan kelas. Pembelajaran matematika menggunakan metode ekspositori

dengan pemberian kuis matematika, motivasi belajar siswa menjadi lebih meningkat. Pada akhir pembelajaran siswa semakin menyenangi dan berminat terhadap kuis matematika, meskipun pada awalnya siswa merasa kurang menyukai kuis karena pada saat mengerjakan kuis tidak boleh membuka buku. c. Refleksi Hasil refleksi yang dilakukan oleh peneliti bersama guru pada akhir siklus II menunjukkan bahwa secara umum pembelajaran yang dilaksanakan pada siklus II telah berjalan sesuai dengan yang direncanakan. Motivasi belajar matematika siswa dalam pembelajaran siklus II mengalami peningkatan. Adapun beberapa permasalahan yang timbul selama proses pembelajaran berlangsung beserta langkah perbaikan yang dapat dilakukan berdasarkan hasil refleksi siklus I adalah sebagai berikut.

1. Dengan pemberian kuis, motivasi belajar siswa meningkatkan dan membantu guru untuk mengetahui tingkat pemahaman siswa. 2. Nilai tambahan yang diberikan oleh guru meningkatkan motivasi siswa untuk mengerjakan latihan soal dan mengerjakan soal di depan dengan benar. 3. Dengan dibahasnya latihan soal yang tidak dapat dikerjakan oleh siswa dan ditambahnya pemberian pekerjaan rumah, semakin menambah motivasi belajar siswa karena banyak latihan soal. 4. Guru memberitahukan kepada siswa untuk mengulang materi sebelumnya dan mempelejari materi berikutnya, karena setiap pertemuan akan diberikan kuis untuk meningkatkan motivasi belajar matematika. 5. Siswa lebih berkonsentrasi mengerjakan latihan soal dan kuis karena dipantau oleh peneliti dan guru. Pada pelaksanaannya, tindakan yang dilakukan pada siklus II juga masih mengalami hambatan. Hambatan tersebut diantaranya adalah masih ada siswa yang bekerja sama atau membuka buku dalam menyelesaikan kuis matematika. Siswa merasa kesulitan dalam menentukan langkah-langkah mencari invers matriks ordo 3 3 bila tanpa bimbingan dari guru. Hal ini dikarenakan kurangnya waktu untuk membahas semua soal. Setelah tindakan dilakukan pada siklus II berakhir, peneliti bersama dengan guru melakukan refleksi terhadap data yang diperoleh

selama pelaksanaan tindakan. Refleksi yang dilakukan sekaligus merupakan kegiatan akhir dari rangkaian tindakan yang telah dilakukan. Berdasarkan pengamatan, baik dilihat dari perilaku dan

keterampilan siswa yang ditunjukkan di kelas, pemberian kuis pada pembelajaran matematika materi menghitung determinan, mencari operasi invers suatu matriks dan menyelesaikan sistem persamaan linear dengan menggunakan metode matriks dapat meningkatkan keinginan siswa untuk belajar matematika. Hal ini disebabkan kesadaran siswa akan manfaat mempelajari matematika menjadi lebih tinggi. Siswa termotivasi mengerjakan soal kuis karena bila jawabannya benar akan mendukung penilaian akhir. Jadi, pemberian kuis dapat meningkatkan motivasi belajar matematka siswa kelas XI Penjualan SMK Negeri 7 Yogyakarta. 3. Hasil Tes Prestasi Pada akhir siklus I diadakan tes, begitu pula pada akhir silkus II. Berdasarkan nilai yang didapat siswa, rata-rata tes pada akhir siklus I adalah 55,7 dan meningkat menjadi 66,89 pada akhir siklus II. Pada akhir siklus I siswa yang mencapai nilai di atas rata-rata adalah 14 siswa, sedangkan pada siklus II terdapat 27 siswa yang siswa yang mencapai nilai di atas rata-rata sehingga 72,97% siswa telah mencapai ketuntasan belajar individu. Berikut grafik nilai hasil belajar matematika siswa.

10

100 90 80 70 60 Nilai 50 40 30 20 10 0 1 3 5 7 9 11 13 15 17 19 21 23 25 27 29 31 33 35 37 No Absen Sisw a Siklus I Siklus II

Gambar 2. Grafik Nilai Hasil Belajar Siswa C. Pembahasan Berdasarkan hasil penelitian diperoleh kesimpulan pembelajaran

ekspositori dengan pemberian kuis materi matriks pada siswa kelas XI Penjualan dapat meningkatkan motivasi belajar matematika siswa. Metode pembelajaran ekspositori dengan pemberian kuis dapat juga meningkatkan minat, perhatian, rasa senang siswa, keinginan untuk mempelajari matematika. Pelaksanaan pembelajaran matematika menggunakan metode ekspositori dengan pemberian kuis di SMK Negeri 7 Yogyakarata kelas XI Penjualan yang dapat meningkatkan motivasi belajar matematika sebagai berikut. 1. Guru menggunakan metode pembelajaran Ekspositori Guru membimbing siswa dalam memahami materi dan memberikan kesempatan kepada siswa untuk bertanya. Dengan metode ekspositori ini siswa menjadi lebih aktif dalam pembelajaran dan siswa menjadi lebih berani dalam menyampaikan pertanyaan dan pendapat yang

11

menumbuhkan rasa percaya diri. Hal ini disebabkan pembelajaran tidak lagi terpusat pada guru, siswa sudah diberi kesempatan untuk menyampaikan pertanyaan dan pendapat. Menurut Constance Frith dalam Motivation to Learn, dengan memberikan peluang atau kesempatan kepada siswa, maka siswa akan memeproleh kepercayaan diri mereka 2. Guru memberikan contoh soal yang relevan dalam kehidupan sehari-hari Dengan contoh soal yang relevan dalam kehidupan sehari-hari akan memudahkan siswa memahami materi yang diajarkan. Erman Suherman (2003:151) berpenadapat bahwa implementasi pembelajaran matematika berdasarkan realistik sekurang-kurangnya telah mengubah sikap siswa menjadi lebih tertarik terhadap matematika. 3. Guru memberikan latihan soal kepada siswa yang dikerjakan dengan berdiskusi Dalam diskusi siswa dapat berlatih kerja sama dan tanggung jawab dalam kelompoknya. Dengan demikian siswa dapat menemukan sendiri jawaban soal dan tidak tergantung pada guru serta siswa dapat menanggapi pendapat orang lain. Menurut Herman Hudojo (2001: 113) dengan berdiskusi siswa terlibat aktif dalam proses belajarnya dan berkesempatan berlatih berani mengemukakan pendapat di depan umum secara sistematik serta dapat menanggapi pendapat orang lain. 4. Pemberian kuis yang dikerjakan oleh siswa secara mandiri dan close book

12

Dalam mengerjakan kuis, siswa tidak

boleh membuka buku dan

bekerja sama karena kuis digunakan untuk mengetahui tingkat penguasaan siswa terhadap materi yang telah atau baru diajarkan. Selain itu, kuis dapat merangsang siswa agar lebih termotivasi dalam belajar. Menurut Suryawahyuni Latief, teknik motivasi yang dapat dilakukan guru salah satunya dengan memberikan tugas dalam setiap kegiatan yang dilakukan, di mana siswa dalam melakukan tugasnya tidak bekerjasama dengan siswa yang lainnya. Dengan demikian siswa akan dapat membandingkan hasil pekerjaan yang dilakukannya dengan hasil siswa lainnya 5. Kuis yang diberikan berupa pertanyaan singkat yang terdiri dari satu soal yang dikerjakan selama 5 10 menit. Tingkat kesulitan soal kuis ditingkatkan dari pertemuan 1 ke pertemuan berikutnya dengan tujuan untuk bahan pertimbangan untuk melakukan perbaikan. Pada saat diberikan kuis 6 (materi invers matriks), sebagian siswa tidak dapat mengerjakan kuis 6 secara keseluruhan karena waktu yang diberika kurang dan invers termasuk sub pokok bahasan yang sulit. Sehingga, semakin tinggi tingkat kesulitan suatu soal, memerlukan waktu yang lebih lama untuk mengerjakannya. Berdasarkan hasil penelitian, motivasi belajar matematika siswa mengalami peningkatan yang cukup baik. Hasil observasi yang dilakukan dengan menggunakan aspek-aspek yang diteliti yang berhubungan dengan aktivitas dan motivasi belajar siswa menunjukkan adanya peningkatan. Hal ini terlihat hasil observasi motivasi belajar siswa mengalami peningkatan dari

13

siklus I ke siklus II pada setiap aspek-aspeknya. Guru membimbing siswa dalam proses belajar mengajar mengalami peningkatan persentase dari 87,5% pada siklus I menjadi 93,75% pada siklus II. Guru memotivasi siswa dalam meningkatkan belajar matematika dengan pemberian kuis meningkat dari 75% menjadi 87,5%. Sikap siswa saat pembelajaran mengalami peningkatan persentase dari siklus I 66,67% menjadi 83,33% pada siklus II. Sikap siswa saat diberikan kuis mengalami peningkatan persentase dari siklus I 66,67% menjadi 83,33% pada siklus II. Bentuk motivasi yang diberikan guru meningkat dari 60% menjadi 90%. Berikut grafik perkembangan aktivitas dan motivasi belajar matematika berdasarkan hasil observasi.
100 90 80 70 Persentase 60 50 40 30 20 10 0 A B C Aspek yang Diteliti D E Siklus I Siklus II

Gambar 3. Grafik Hasil Observasi Motivasi Belajar Siswa Keterangan : A. Guru membimbing siswa dalam proses belajar mengajar B. Guru memotivasi siswa dalam meningkatkan belajar dengan pemberian kuis C. Sikap siswa saat pembelajaran D. Sikap siswa saat diberikan kuis E. Bentuk motivasi yang diberikan guru

14

Berdasarkan hasil angket motivasi belajar siswa mengalami peningkatan dari siklus I ke siklus II pada setiap indikator-indikatornya dan hasil nilai ratarata kuis. Motivasi mengerjakan kuis matematika mengalami peningkatan dengan persentase 66,39% menjadi 70,54%. Ketekunan siswa dalam mengerjakan dan menyelesaiakan kuis matematika meningkat dari 67,68% menjadi 70,7%. Persentase usaha siswa untuk meningkatkan prestasi belajar dari 54,19% meningkat menjadi 66,89%. Dan besarnya perhatian siswa terhadap kuis matematika juga meningkat dengan persentase 65,71% menjadi 70,19%. Berikut grafik hasil angket motivasi belajar siswa yang mengalami peningkatan dari siklus I ke siklus II.

100 90 80 70

Persentase(%)

60 50 40 30 20 10 0 A B C D

Siklus I Siklus II

Indikator

Gambar 4. Grafik Perkembangan Motivasi Belajar Siswa Keterangan: A. Motivasi mengerjakan kuis B. Ketekunan dalam mengerjakan dan menyelesaiakan kuis C. Usaha untuk meningkatkan prestasi belajar D. Besarnya perhatian terhadap kuis Peningkatan motivasi belajar matematika siswa terlihat dari sikap siswa yang memperhatikan guru yang sedang menjelaskan, menjawab pertanyaan

15

dari guru, rasa senang, keinginan yang besar dan ketekunan untuk menyelesaikan kuis dan soal matematika. Hasil pengamatan yang didukung oleh hasil angket dan wawancara yang menunjukkan bahwa siswa senang dan berminat apabila diberikan kuis pada saat pembelajaran sehingga memotivasi siswa dalam belajar matematika. Suryawahyuni Latief mengungkapkan peran motivasi yaitu menentukan ketekunan dalam belajar . Seseorang yang telah termotivasi untuk belajar sesuatu akan berusaha mempelajari sesuatu dengan baik dan tekun, dan berharap memperoleh hasil yang baik. Pada pertemuan I siklus I, siswa masih kurang berminat terhadap kuis, hal ini disebabkan siswa belum ada persiapan dalam mengerjakan kuis. Pada pertemuan berikutnya siswa sudah mulai tertantang untuk menyelesaikan soal kuis yang diberikan selama pembelajaran. Keinginan siswa yang besar untuk mempelajari matematika membuat semangat belajar siswa menjadi tinggi, sehingga meningkatkan motivasi untuk belajar matematika. Rata-rata nilai kuis meningkat dari siklus I ke siklus II, yaitu 79,6 meningkat menjadi 82,5. Setelah siswa-siswa menyelesaikan permasalahan, kemudian diadakan pembahasan secara bersama-sama. Soal yang dibahas merupakan soal yang tidak dapat dikerjakan oleh siswa atau soal yang dirasa sulit oleh siswa. Guru selalu menyuruh siswa ke depan kelas untuk mengerjakan soal kemudian dibahas secara bersama-sama. Langkah akhir dari pembelajaran ini yaitu membuat kesimpulan dari materi yang telah diberikan dengan bimbingan guru.

16

Pada akhir siklus I diadakan tes, begitu pula pada akhir silkus II. Berdasarkan nilai yang didapat siswa, rata-rata tes pada akhir siklus I adalah 55,7 dan meningkat menjadi 66,89 pada akhir siklus II. Pada akhir siklus I siswa yang mencapai nilai di atas rata-rata adalah 14 siswa, sedangkan pada siklus II terdapat 27 siswa yang siswa yang mencapai nilai di atas rata-rata sehingga 72,97% siswa telah mencapai ketuntasan belajar individu. Berdasarkan pembahasan di atas dapat disimpulkan bahwa penggunaan metode ekspositori dengan pemberian kuis terhadap materi matriks dapat meningkatkan motivasi belajar dan hasil belajar matematika siswa.

BAB V KESIMPULAN DAN SARAN A. Kesimpulan Berdasarkan hasil penelitian dan pembahasan dapat disimpulkan: 1. Pelaksanaan pembelajaran matematika menggunakan metode ekspositori dengan pemberian kuis di SMK Negeri 7 Yogyakarata yang dapat meningkatkan motivasi belajar matematika sebagai berikut. a. Guru membimbing siswa dalam memahami materi dan memberikan kesempatan kepada siswa untuk bertanya.

17

b. Siswa mengerjakan laithan soal dengan berdiskusi. c. Pemberian kuis yang dikerjakan oleh siswa secara mandiri dan close book. d. Kuis yang diberikan berupa pertanyaan singkat yang terdiri dari satu soal yang dikerjakan selama 5 10 menit. Tingkat kesulitan soal kuis ditingkatkan dari pertemuan 1 ke pertemuan berikutnya. e. Soal kuis diambil dari materi yang sudah diajarkan atau materi yang baru saja dipelajari. f. Adanya pemberitahuan dari guru bahwa akan diberikan kuis pada setiap pertemuan, agar siswa lebih siap menghadapi soal kuis. 2. Pada penelitian ini, hasil angket dan hasil nilai rata-rata tes evaluasi matriks dapat disimpulkan sebagai berikut. a. Berdasarkan angket yang diberikan kepada siswa, motivasi belajar siswa mengalami peningkatan. Hal ini terlihat dari peningkatan persentase pada setiap indikator. Motivasi mengerjakan kuis matematika mengalami peningkatan dengan persentase 66,39% pada kategori sedang menjadi 70,54% pada kategori tinggi. Ketekunan siswa dalam mengerjakan dan menyelesaikan kuis matematika meningkat dari 67,68% pada kategori tinggi menjadi 70,7% kategori tinggi. Persentase usaha siswa untuk meningkatkan prestasi belajar dari 54,19% pada kategori kurang baik meningkat menjadi 66,89% pada kategori tinggi. Dan besarnya perhatian siswa terhadap kuis

18

matematika juga meningkat dengan persentase 65,71% kategori sedang menjadi 70,19% kategori tinggi. b. Berdasarkan nilai rata-rata kelas tes prestasi matriks mengalami peningkatan dari siklus I ke siklus II yaitu dari 55,7 menjadi 66,89 dan 72,97% siswa telah mencapai ketuntasan belajar individu pada siklus II. B. Saran Berdasarkan penelitian ini, ada beberapa saran yang perlu

dipertimbangkan dalam pembelajaran matematika dengan pemberian kuis, yaitu: 1. Bagi Guru a. Pemberian kuis hendaknya diberikan pada setiap pertemuan agar siswa termotivasi untuk belajar terlebih dahulu sebelum menerima pelajaran. b. Guru dapat memberikan kuis pada setiap pertemuan sehingga guru mengetahui tingkat pemahaman siswa tentang materi yang diberikan. c. Memberikan persoalan yang menarik pada soal kuis, sehingga siswa merasa senang dan ingin menyelesaikan kuis yang diberikan. Dan diharapkan kuis tersebut dapat meningkatkan mitivasi belajar matematika siswa. d. Guru menggunakan metode pembelajaran yang menarik untuk mengajar. 2. Bagi Peneliti Lainnya

19

a. Pemberian kuis setiap pertemuan dengan menggunakan metode pembelajaran yang lain. b. Membuat soal-soal kuis yang menarik agar dapat digunakan untuk mengatasi kesulitan belajar dan siswa senang terhadap matematika.

DAFTAR PUSTAKA

Annonim. 2004. Model Matematika SMK. http://www.google.co.id/search?hl= en&cr=countryID&q=model-model+pembelajaran&start=10&sa=N. Diakses 2 April 2008 Annonim. 2005. Membangkitkan Motivasi Belajar Siswa. http://www.bruderfic.or.id/h-129/peran-guru-dalam-membangkitkanmotivasi-belajar-siswa.html. Diakses 28 Juni 2008 Edy Suranto. 2006. Matematika Bisnis dan Manajemen untuk SMK Kelas 3 . Wonogiri: Yudhistira.

20

Elida Prayitno. 1989. Motivasi dalam Belajar. Jakarta: Depdikbud. Endang Supartini. 2001. Diagnosis Kesulitan Belajar dan Pengajaran Remedial . Yogyakarta: FIP-UNY. Erman Suherman, Turmudi, Didi Suryadi, Tatang Herman, Suhendra, Sufyani Prabawanto, Nurjanah, Ade Rohayat. 2003. Strategi Pembelajaran Matematika Kontemporer. Bandung: Jurusan Pendidikan Matematika FMIPA UPI. Frith, Constance. Motivation to Learn. http://www.usask.ca/education/ coursework/802papers/ Frith/Motivation.HTM. Diakses 1 September 2008

Herman Hudojo. 1988. Megajar Belajar Matematika. Jakarta: Depdikbud. _____________. 2001. Pengembangan Kurikulum dan Pembelajaran Matematika. Jurusan Pendidikan Matematika FMIPA Universitas Negeri Malang. Moh. Uzer Usman. 1993. Upaya Optimalisasi Kegiatan Belajar Mengajar . Bandung: Rosdakarya. Muhibbin Syah, M.Ed. 2002. Psikologi Belajar. Jakarta: Rajawali Pers. Nana Sudjana dan Ibrahim. 2001. Penelitian dan Penilaian Pendidikan. Bandung: Sinar Baru Bandung. Ratna Willis Dahar. 1996. Teori-teori Belajar. Jakarta: Erlangga. Rochiati Wiriatmadja. 2006. Metode Penelitian Tindakan Kelas. Bandung: Remaja Rosdakarya. Saifuddin Azwar. 1996. Tes Prestasi Fungsi dan Pengembangan Pengukuran Prestasi Belajar. Yogyakarta: Pustaka Belajar. Sardiman A. M. 1996. Interaksi dan Motivasi Belajar Mengajar. Jakarta: Raja Grafindo Persada.

21

Sartono Wirodikromo. 2004. Matematika untuk SMA Kelas XII. Jakarta: Erlangga. Slameto. 1991. Evaluasi Pendidikan. FKIP UKSW Salatiga: Bumi Aksara. Sri Rumini. 2003. Diagnosis Kesulitan Belajar. Yogyakarta: FIP-UNY Suharsimi Arikunto. 2003. Dasar-dasar Evaluasi Pendidikan. Jakarta: Rineka Cipta Suryawahyuni Latief. 2008. Meningkatkan Motivasi Belajar. http://202.152.33.84/index.php? option=com_content&task=view&id=13377&Itemid=46. Diakses 26 Mei 2008 Susiyana. 2006. Upaya Meningkatkan Motivasi Belajar Matematika Siswa melelui Model Pembelajaran Kooperatif Tipe TGT (Teams-GamesTournaments) di SMP Muhammadiyah 4 Yogyakarta Kelas VII. Skripsi. Yogyakarta: Jurdik Matematika FMIPA UNY. Utami Munandar. 1992. Mengembangkan Bakat dan Kreatifitas Anak sekolah. Jakarta: Gramedia. Winkel. 1991. Psikologi Pembelajaran. Jakarta: Grasindo.