Anda di halaman 1dari 10

Skenario 1 Pasangan suami (35 tahun) dan istri (27 tahun) menikah 4 tahun, datang memeriksakan diri dengan

keluhan ingin punya anak, istri mengeluh riwayat haid tidak teratur dan fluor albus gatal. Hubungan suami istri berlangsung secara normal dan teratur tetapi setiap buang air kecil suami mengeluh terasa nyeri pada alat kelamin. Suami mempunyai riwayaat kehidupan seksual yang aktif sejak memasuki masa pubertas. Hasil pemeriksaan analisis sperma menunjukan kualitas sperma abnormal (konsentrasi,motilitas, dan morfologi). Suami istri mempunyai hobi memelihara anjing dan kucing, serta tidak pernah menggunakan alat kontrasepsi. Kata Sulit : (-) Kata Kunci : Laki-laki (35 tahun) Perempuan (27 tahun) Sudah menikah selama 4 tahun Keluhan ingin punya anak Perempuan mengeluh haid tidak teratur dan fluor albus gatal Laki-laki mengeluh nyeri alat kelamin saat BAK dan pemeriksaan kualitas sperma abnormal Memiliki hewan peliharaan : kucing dan anjing Serta tidak pernah pakai alat kontrasepsi

Masalah Dasar : Pasangan suami-istri sudah menikah 4 tahun, namun belum mempunyai anak Pertanyaan : 1. Anamnesis a. Wanita: - Identitas pasien (Nama, alamat, pekerjaan) - Riwayat penyakit dahulu (DM, PMS, Mioma) - Riwayat penyakit sekarang (Flour Albus: warna, bau, disertai gatal) - Riwayat Perkawinan (sudah berapa lama, dan sah atau tidak) - Riwayat hubungan seksual (berapa kali bersenggama dalam seminggu) - Riwayat obstetri (kehamilan, abortus) - Riwayat haid(normal atau terganggu) - Pemeriksaan/ pengobatan infertilitas sebelumnya - Riwayat senggama (Nyeri atau tidak) - Riwayat tempat tinggal b. Pria: - Identitas (Nama, Alamat, Pekerjaan) - Riwayat penyakit dahulu (DM, PMS, Vasektomi, Radiasi) - Riwayat penyakit sekarang (Disuria) - Riwayat Perkawinan (sudah berapa lama, dan sah atau tidak) - Riwayat hubungan seksual (berapa kali bersenggama dalam seminggu)

Riwayat Ereksi dan Ejakulasi(volume) Pemeriksaan/ pengobatan infertilitas sebelumnya Riwayat senggama (Nyeri atau tidak) Riwayat tempat tinggal

2. Pemeriksaan Pemeriksaan pada pria : Tanda vital Genital : Pemeriksaan penis dan lubang penis apakah terjadi sumbatan/penyempitan tidak. Pemeriksaan kulit kulup yang dapat menimbulkan gangguan ejakulasi. Pemeriksaan ukuran testis, bila testis ukuran kecil dan lunak menunjukkan testis yang kurang sensitif dan gagal membentuk sperma. Pemeriksaan saluran sperma, kelenjar prostat yang kadangkadang menyebabkan kemandulan. Pemeriksaan air mani, untuk mengetahui sifat fisik baik jumlah maupun kualitas sperma. Jumlah sperma berkisar 20 juta/ml atau lebih. Persentase sperma yang bergerak maju sekitar 40 persen atau lebih, persentase sperma dalam bentuk normal sekitar 60 persen atau lebih Pemeriksaan hormon FSH, LH prolaktin dan testosteron, untuk menentukan fungsi kelenjar pembentuk hormon, sehingga dapat diketahui dimana letak penyebab gangguan kualitas sperma, apakah di kepala atau di buah pelir. Pemeriksaan penetrasi sperma (PS), untuk mengetahui sebab kepana uji pasca hubungan intim tetap abnormal walaupun telah dilakukan pengobatan.

Pemeriksaan pada wanita : Tanda vital Genital : Pemeriksaan ini untuk mengetahui terdapat radang atau cacat bawaan, seperti polip leher rahim, tumor indung telur dan sebagainya. Menilai siklus haid, antara lain untuk menentukan secara tidak langsung kapan terjadinya ovulasi, apakah indung telur berfungsi dengan baik, apakah selaput lendir rahim mempunyai respon terhadap rangsangan hormon progesteron dan siap menerima pembuahan, untuk menilai apakah terhadap kelainan atau radang pada selaput lendir leher rahim. Pemeriksaan kadar hormon progesteron darah, untuk menentukan apakah telah terjadi ovulasi dan bagaimana fungsi indung telur setelah terjadinya ovulasi. Pemeriksaan ultrasonografi, untuk melihat secara lebih dalam keadaan alatalat di dalam tubuh rongga panggul terutama alat kelamin dalam seperti rahim dan indung telur. Pemeriksaan kadar hormon prolaktin, untuk menilai hormonhormon prolaktin, testosteron TSH, T3 dan T4 dalam darah istri apakah mencapai kadar tertentu yang dapat mengganggu kesuburan. Pemeriksaan histerosalpingografi, untuk mengetahui keadaan saluran leher rahim, rongga rahim dan saluran telur, apakah ada kelainan bentuk atau adanya sumbatan.

Pemeriksaan laparaskopi, untuk mengetahui secara langsung dengan teropong/laparaskop keadaan alatalat kelamin dalam dan keadaan rongga panggul.

3. Diagnosis dan Diagnosis Banding, Manifestasi Klinik Diagnosis : INFERTILITAS PRIMER ET CAUSA TRICHOMONAS VAGINALIS Diagnosis banding : 1. infertilitas primer e.c toxoplasma 2. infertilitas primer e.c chlamidya trachomatis 3. infertilitas primer e.c Neisseria Gonnorheae Manifestasi klinis : Perempuan : fluor albus , rasa panas,sekret encer,berbusa,bau tidak sedap,sekret warna kuning kehijauan,strawberry cervix , radang porsio , pruritis vagina , disuria, Laki-laki : nyeri BAK , duh tubuh, uretritis, prostatitis,epididimitis dan infertilitas Penjelasan Dasar Diagnosis : Infertilitas Ketidaksuburan atau infertil adalah ketidakmampuan sepasang suami istri untuk memiliki keturunan dimana wanita belum mengalami kehamilan setelah bersenggama secara teratur 2-3 x/minggu, dengan tanpa menggunakan alat kontrasepsi dalam bentuk apapun selama 1 tahun. Klasifikasi Infertilitas terbagi atas 2 bagian, yaitu : a. Infertilitas primer Yaitu pasangan suami istri belum mampu dan belum pernah memiliki anak setelah 1 tahun berhubungan seksual sebanyak 2-3 kali per minggu tanpa menggunakan alat kontrasepsi dalam bentuk apapun. b. Infertilitas sekunder Yaitu pasangan suami istri telah atau pernah memiliki anak sebelumnya, tetapi saat ini belum mampu memiliki anak lagi setelah 1 tahun berhubungan seksual tanpa menggunakan alat atau metode kontrasepsi dalam bentuk apapun. Trichomonas vaginalis Laki-laki : iritasi pada penis , sedikit nyeri setelah BAK Wanita : Kuning kehijauan, vagina berbusa dengan bau yang kuat ,nyeri buang air kecil, Vagina gatal dan iritasi, ketidaknyamanan selama hubungan seksual, Nyeri perut bagian bawah (jarang) Toxoplasma Infeksi parasit golongan protozoa yaitu toxoplasma gondii , mempunyai daur hidup seksual (gol.felidae : kucing ) dan aseksual (hospes perantara: manusia dan hewan ) Faktor resiko terkena infeksi toxoplasma : Paparan atau konsumsi daging mentah atau setengah matang Minum dipasteurisasi susu kambing

Kontak dengan tanah Makan sayuran mentah dicuci atau buah-buahan Membersihkan kotak kotoran kucing Orang dengan toksoplasmosis kadang sulit untuk hamil dan menyebabkan infertilitas . Chlamydia trachomatis Chlamydia trachomatis, sebuah patogen manusia intraseluler obligat, adalah satu dari tiga spesies bakteri dalam genus Chlamydia. C. trachomatis merupakan bakteri gram negatif, sehingga komponen dinding sel yang mempertahankan safranin kontra-noda dan tampak merah muda di bawah cahaya mikroskop. Hal ini dapat muncul sebagai salah coccoid atau bentuk batang . C. trachomatis adalah patogen intraseluler obligat (yaitu, kehidupan bakteri dalam sel manusia) dan dapat menyebabkan berbagai kondisi penyakit pada pria dan wanita. Kedua jenis kelamin dapat menampilkan uretritis, proktitis (penyakit dubur dan pendarahan), trachoma, dan infertilitas. Bakteri dapat menyebabkan prostatitis dan epididimitis pada pria. Pada wanita, servisitis, pelvic inflammatory disease (PID), kehamilan ektopik, nyeri panggul dan akut atau kronis adalah komplikasi yang sering . Neisseria Gonnorhoae Respons peradangan yang cepat disertai destruksi sel menyebabkan keluarnya secret purulen kuning-kehijauan khas dari uretra pada pria. ostium serviks pada perempuan. Gejala dan tanda pada laki-laki dapat muncul sedini mungkin dengan pajanan dan mulai dengan uretritis, diikuti oleh secret purulen, disuria, dan seRing berkemih serta malase. Pada perempuan, gejala dan tanda timbul dalam 7 sampai 21 hari, dimulai dengan secret vagina. Pada pemeriksaan, serviks yang terinfeksi tampak edematosa dan rapuh dengan drainase mukopurulen dari ostium. Tempat penyebaran tersering pada perempuan adalah ke uretra, dengan gejala uretritis, disuria, dan sering berkemih serta ke kelenjar Bartholin dan Skene yang menyebabkan pembengkakan dan nyeri 4. Etiologi Faktor penyebab infertilitas pada suami disebabkan karena : Ketidak mampuan suami/pria untuk menyampaikan sel sperma ke dalam mulut leher rahim istrinya, karena impotensi atau ejakulasi dini dan juga karena adanya kelainan bentuk penis Adanya sumbatan saluran yang dilalui sperma, disebabkan infeksi atau penyakit yang ditularkan melalui hubungan intim. Adanya kelainan gerakan sperma, yang disebabkan infeksi kelenjar prostat menahun, auto aglutinasi (air mani terlalu pekat atau terlalu encer). Adanya kelainan produksi dan pematangan sperma yang dapat disebabkan oleh infeksi yang terjadi pada masa remaja, seperti gondongan, buah pelir tidak turun

semestinya, faktor lingkungan seperti suhu panas, radiasi/penyinaran terhadap testis (buah zakar/pelir) dan pengaruh obatobatan lainnya. Adanya konsumsi nutrisi gizi yang kurang baik atau pengaruh kesehatan yang kurang bagus

Faktor penyebab infertilitas pada istri/wanita disebabkan karena : Adanya kelainan bentuk rahim, seperti cacat bawaan, adanya tumor pada mulut leher rahim atau dalam rahim, polip dalam rongga rahim dan lainlain. o Adanya gangguan pada ovarium/indung telur seperti : Anovulasi merupakan gangguan pematangan sel telur pada ovarium politistis/banyak benjolan pada indung telur Menstruasi yang terganggu seperti digomenoria/haid sedikit, amenoria/tidak haid, dan metroragia/haid tidak teratur/lebih dari satu kali dalam satu periode masa haid Penggunaan obatobatan hormonal seperti estrogen dan progesteron, obat anti hipertensi, dan obat anti depresi o Adanya gangguan tuba fallopi/saluran indung telur seperti penyempitan yang disebabkan oleh infeksi rongga panggul. o Adanya gangguan servik/leher rahim dan uterus/rahim yang disebabkan oleh sumbatan dan penyempitan saluran leher rahim, lendir leher rahim dengan keasaman tinggi, posisi leher rahim tidak normal, pelengketan dan infeksi endometrium/bagian dalam rahim. o Adanya gangguan liang sanggama seperti radang vagina yang menimbulkan keputihan yang berlebih, gatal dan berbau. o Adanya kelainan akibat zatzat kimia seperti penggunaan obatobatan, antiseptik vagina, pengaruh radiasi, adanya kontaminasi limbah industri. 5. Faktor Resiko Faktor yang mempengaruhi Infertilitas Lingkungan, Pekerjaan, Lifestyle (Narkoba,Merokok,Alkohol), Multiple Sex Partners. Sejumlah faktor telah dikaitkan dengan peningkatan risiko terlular trikomoniasis, antara lain: Multiple Sex Partners (pasangan seks lebih dari satu) Sebelumnya atau sedang terinfeksi PMS lain Bakterial vaginosis (derajat keasaman) pH vagina yang tingg 6. Epidemiologi Trichomonas vaginalis biasanya ditularkan melalui hubungan seksual. Dan ternnyata organisme ini dapat bertahan hidup selama 45 menit di tempat dudukan toilet, baju mandi, pakaian dan air hangat. Penularan perinatal ditemukan sekitar 5% dari ibu yang terinfeksi trichomoniasis, tetapi biasanya self-limited oleh karena metabolisme dari hormon ibu. (1,3,10) tetapi pernah dilaporkan suatu kasus respiratory distress bayi laki-laki cukup bulan, dimana pada sediaan basah sputum kentalnya dijumpai sedkit leukosit dan organisme Trichomonas vaginalis. (8) o

Trichomoniasis menyebar luas di seluruh dunia, baik it dipedesaan maupun perkotaan. Pada tahun 1970-an, WHO memperkirakan angka kejadian trichomoniasis mencapai 180 juta. Di Amerika Serikat trichomoniasis menginfeksi sekitar 2-3 juta wanita, dan organisme ini dijumpai pada 30-40% pria yang merupakan pasangan seksual penederita trichomoniasis ini (1,3,7,11) Tiga penilitian di Nigeria pada tahun 1993 menyebutkan angka prevalensi di Afrika Barat 24,7% (505) dari 2048 spesimen urine yang diambil dari siswa yang memiliki pendidikan yang tinggi dimana 74% (375) pada wanita dan 26% (131) pada pria. Pada populasi dengan resiko rendah umumnya angka kejadian trichomoniasis rendah, lebih kurang 1%. Tetapi pada mereka yang berisiko tinggi seperti pekerja seks, gaya hidup seks bebas, angka kejadiaanya menjadi cukup tinggi yaitu sekitar 10-50% pada wanita. Suatu studi di california menyebutkan 12% dari 204 pria positif trichomoniasis setelah dilakukan kultur dari urinenya. Suatu pelitian di Dares-Salam, Tanzania, dari 359 pasien ginekologi yang diperiksa , ternya mereka yang terinfeksi Trichomoniasis vaginalis memiliki resiko 3 kali lipat lebih tinggi terinfeksi HIV. Akhir-akhir ini telah di temukan studi di New Orlens tentang hubungan antara HIV dan Trichomoniasis vaginalis, ternyata setelah di kumpulkan data dari tahun 1990 sampai 1998 ditemukan sekitar 16,1% wanita per tahun adalah penderita co-infected HIV dan Trichomoniasis vaginalis(3,5). 7. Patogenesis dan Daur Hidup Siklus Hidup Trichomonas vaginalis Pada wanita tempat hidup parasit ini di vagina dan pada pria di uretra dan prostat.Parasit ini hidup di mukosa vagina dengan makan bakteri dan lekosit Trichomonas vaginalis bergerak dengan cepat berputarputar diantara sel-sel epitel dan lekosit dengan menggerakkan flagel anterior dan membran bergelombang. Trichomonas vaginalis berkembang biak secara belah pasang longitudinal, diluar habitatnya parasit mati pada suhu 500C, tetapi dapat hidup selama 5 hari pada suhu 00C. Dalam perkembangbiakannya parasit ini mati pada PH kurang dari 4,9 inilah sebabnya parasit ini tidak dapat hidup disekret vagina yang asam (PH : 3,8-4,4), parasit ini tidak tahan pula terhadap desinfektan zat pulasan dan antibiotik. Meskipun organisme ini dapat ditemukan dalam urine sekret uretra/setelah masase prostat, PH yang disukai pada pria belum diketahui. Pada sebagian besar kasus Trichomonas vaginalis ditransmisikan saat terjadi hubungan kelamin,pria sering berperan sebagai pembawa parasit. Parasit ini berada pada saluran uretra pada pria, seorang pria yang membawa parasit akan menularkan pada pasangannya saat terjadihubungan seksual, selanjutnya wanita pasangannya tersebut akan terinfeksi oleh parasit dan berkembang biak didaerah genital. Apabila wanita tersebut kemudian berhubungan seksual dengan pria yang sehat maka akan terjadi penularan kembali,mengamati proses penularan parasit ini maka kelompok resiko tinggi untuk mengidap Trichomoniasis adalah para wanita pekerja seks komersial dan pria yang suka berganti-ganti pasangan dalam berhubungan seks serta semua orang yang memiliki kebiasaan seksbebas.

Patogenesis dan Patologi Dalam kondisi normal, pH vagina berada di kisaran 3,8-4,4 yang disebabkan oleh adanya asam laktat yang dihasilkan oleh lactobacillus Doderlein. Lactobacillus ini dalam hidupnya menggunakan suplai glikogen yang terdapat pada sel-sel vagina. Jadi, dalam pemeriksaan sitologi vagina normal tidak terdapat bakteri atau mikroorganisme lain kecuali laktobacillus Doderlein. Trichomonas vaginalis masuk ke dalam vagina melalui hubungan seksual, yang kemudian menyerang epitel squamosa vagina dan mulai bermultiplikasi secara aktif. Hal ini menyebabkan suplai glikogen untuk lactobacillus menjadi berkurang bahkan menjadi tidak ada sama sekali. Dan diketahui secara in vitro ternyata Trichomonas vaginalis ini memakan dan membunuh lactobacillus dan bakteri lainnya. Akibatnya jumlah lactobacillus menjadi sedikit dan dapat hilang sama sekali sehingga produksi asam laktat akan semakin menurun. Akibat kondisi ini, pH vagina akan meningkat antara 5,0-5,5. Dan pada suasana basa seperti ini selain Trichomonas vaginalis berkembang semakin cepat, akan memungkinkan untuk berkembang mikroorganisme patogen lainnya seperti bakteri dan jamur. Sehingga pada infeksi trichomoniasis sering dijumpai bersamaan dengan infeksi mikroorganisme patogen lainnya pada vagina. Pada kebanyakan wanita yang menderita trichomoniasis sering dijumpai bersamaan dengan infeksi oleh mikroorganisme yang juga patogen seperti Ureaplasma urealyticum dan atau Mycoplasma hominis sekitar lebih dari 90%, Gardnerella vaginalis sekitar 90%, Neisseria gonorrhea sekitar 30%, jamur sekitar 20%, dan Chlamydia trachomatis sekitar 15%. Suatu penelitian in vitro terhadap Trichomonas vaginalis menunjukkan bahwa organisme ini memiliki kemampuan untuk menghancurkan sel target dengan kontak langsung tanpa harus melalui proses phagocytosis. Organisme ini menghasillkan suatu faktor pendeteksi sel (cell-detaching factor) yang menyebabkan kehancuran sel sehingga mengelupas epitel vagina. Suatu penelitian juga menunjukkan bahwa gejala trichomonas dipengaruhi oleh konsentrasi esterogen vagina, makin tinggi kadarnya, makin berkurang gejala yang ditimbulkannya. -estradiol diteliti dapat mengurangi aktivitas cell-detaching factor dari Trichomonas vaginali. Hal ini menjelaskan mengapa pemakaian estradiol intravaginal dapat mengurangi gejala klinis Trichomonas vaginitis. 8. Penatalaksanaan Penanganan pada Istri : Istri Mengeluh riwayat haid tidak teratur dapat ditangani dengan clomifen sitrat yang membantu menstimulasi terjadinya ovulasi pada wanita dengan menstruasi tidak teratur. Clomifen bekerja dengan berkompetensi dengan hormon esterogen untuk menempati reseptornya di otak. Dopamin agonist seperti bromokroptin dan cabergolin yang dapat menurunkan produksi prolaktin sehingga ovarium dapat bekerja dengan baik dan dapat mengatasi menstruasi yang tidak teratur. Pemberian gonadotropin Pemberian Gonadotropin releasing hormone (GnRH) pulstatil Pemberian Gonadotropin releasing hormone analogue (GnRH agonist)

Penanganan pada suami Pemberian preparat hormon seperti LH dan FSH,ataupun GnRH Pengobatan dengan bromokriptin untuk memperbaiki spermatogenesis Penekanan produksi sperma untuk mengurangi jumlah antibodi autoimun, diharapkan kualitas sperma meningkat Testosterone Enantat dan Testosteron Spionat

Penanganan Trikomoniasis (Trichomonas vaginalis) Untuk pengobatan hingga saat ini metrodinazol merupakan antimikroba yang efektif untuk mengobati trikomoniasis. Dosis metronidazol yang dianjurkan adalah dosis tunggal 2g secara oral atau juga dapat diberikan dalam dosis harian 2 x 500 mg/hari selama 7 hari. Pemberian metrodinazol telah direkomendasikan oleh FDA selama masa kehamilan. Peningkatan peluang hamil Intrauterine Insemination : proses memasukan sperma melalui serviks ke dalam uterus In vitro fertilisation : Pengobatan untuk menstimulasi ovarium memproduksi lebih banyak sel telur Intracytoplasmic Sperm Injection (ICSI) : Teknik reproduksi buatan dengan memasukan sebuah sperma secara langsung ke sitoplasma dari sel telur 9. Komplikasi dan Prognosis komplikasi trikomoniasis : tersering pada wanita adalah pelvic inflammatory disease (PID) dan pada wanita hamil yang terinfeksi sering mengalami ruptur membrane yang prematur, bayi lahir premature atau bayi lahir dengan berat badan rendah. Pada laki-laki pula komplikasi yang terjadi termasuk prostatitis, ependydimitis, striktur urethra dan infertilitas. Infeksi T.vaginalis turut meningkatkan resiko mendapat infeksi HIV, gonnorhoea dan Chlamydia (Handsfield, 2001). Trikomoniasis merupakan penyakit menular seksual yang dapat diobati jika didiagnosa awal. Maka penting agar masryarakat umum untuk mengetahui tentang trikomoniasis agar komplikasi penyakit ini dapat dihindari dan mengurangkan resiko penularan HIV. Prognosis : Metronidazol menunjukkan angka kesembuhan 95 %. Angka kesembuhan meningkat bila kontak seksual memakai pengaman. Pada wanita terjadi penyembuhan spontan kira-kira sebesar 20-25 % setelah 6 minggu pengobatan 10. Edukasi dan Pencegahan I. Edukasi: Jelaskan ttg penyakit Komplikasi yang bisa terjadi Cara penularannya Pentingnya pengobatan pasangan

Pentingnya penggunaan alat kontrasepsi Kemungkinan risiko tertular HIV Mengkonsumsi makanan yang meningkatkan kesuburan Membiasakan pola hidup sehat II. Pencegahan: Abstinensia sampai benar- benar sembuh secara laboratories Kondom (bila tidak dapat menahan diri) Berlaku setia pada pasangan Tidak melakukan transfuse darah atau menggunakan jarum yang tidak steril 11. Hubungan hewan peliharaan dengan penyakit Hubungan memelihara anjing dan kucing dengan infertilitas yaitu : Toxoplasma adalah sejenis hewan bersel satu yang sering juga disebut dengan protozoa.sering menyerang anjing, kucing, babi, kuda, domba, tikus, burung, hamster, dll. Apabila anjing dan kucing peliharaan suami dan istri sering diberi makan daging mentah atau mencari makan sendiri dengan memakan tikus atau burung liar yang terinfeksi toxoplasma ataupun hewan peliharaan ini mengorek-ngorek tempat sampah yang didalamnya terdapat feses yang mengandung ookista, maka kucing atau anjing ini bisa terinfeksi toxoplasma. Ookista dari tubuh kucing atau anjing dapat dikeluarkan melalui feses, apabila istri dan suami yang kurang pendidikan tidak menjaga sanitasi atau kebersihan diri dan rumah dengan baik misalnya setelah membersihkan hewan peliharaan atau feses anjing dan kucing lalu tidak mencuci tangan kemudian makan dengan tangan yang tidak dicuci maka bisa saja ookista tersebut termakan oleh suami dan istri, atau suami dan istri memakan daging yang belum matang, maka mreka bisa terinfeksi toxoplasma. Orang yang terinfeksi toxoplasma dapat menimbulkan gejala ringan mirip influenza, bisa timbul rasa lelah, malaise, demam ringan, sakit kepala, nyeri otot, dan umumnya tidak menimbulkan masalah yang berat. Kecurigaan terhadap toxoplasmosis baru timbul bila gejala klinis disertai pembesaran kelehjar limfe, khususnya di sudut rahang, di daerah depan dan belakang telinga, dan tidak nyeri tekan dan lama-kelamaan, toxoplasma itu dapat menyebabkan kemandulan., karena infeksi toxoplasma akut dapat menyebabkan peradangan pada saluran sperma. Radang yang berlebihan dapat menyebabkan penyempitan saluran sperma bahkan penyumbatan . Akibatnya pria tersebut menjadi mandul, karena sperma yang diproduksi tidak dapat dialirkan untuk membuahi sel telur.. Sedangkan pada wanita terinfeksi toxoplasma yang berlangsung terus menerus dapat menginfeksi saluran sel telur wanita. Apabila di biarkan terus menerus maka saluran ovarium akan menyempit bahkan tertutup yang menyebabkan indung telur yang dihasilkan tidak dapat sampai ke rahim untuk di buahi oleh sperma. Namun, infeksi toxoplasma ini akan sangat berbahaya pada janin yang ditularkan melalu ibunya yang terinfeksi toxoplasma karena wanita dengan reaktivasi infeksi T . gondii dapat mentransmisikan secara transplasental. Sehingga angka kejadian infeksi toxoplasma pada janin sangatlah tinggi. Akibat yang dapat terjadi adalah abortus atau keguguran (sekitar 4%), lahir mati (3%) atau bayi menderita toxoplasmosis bawaan. Pada toxoplasmosis bawaan, gejala dapat langsung terlihat adanya masalah klinis dan atau kecacatan seperti splenomegali (pembesaran limpa), hepatomegali (pembesaran hati), ikterik (bayi kuning), demam, pneumonia (radang paru), konvulsi (kejang), hidrocepalus (pembesaran ukuran kepala), mikrocephalus (ukuran kepala kecil) dan sebagainya. Sedangkan toxoplasmosis bawaan yang asimptomatik (gejala tidak langsung nampak), gejala baru muncul/tampak

beberapa hari, minggu, atau bulan, bahkan beberapa tahun kemudian seperti kelainan mata dan telinga, kelainan otak, ensefalitis (radang otak), keterbelakangan mental, kelainan jantung dan sebagainya.