Anda di halaman 1dari 6

Stres adalah model adaptasi yang dapat mengintegrasi faktor biologis, psikologis, dan sosial budaya, lingkungan, legal

etik (Stuart & Laraia, 2005). Stres atau ketegangan timbul sebagai suatu hasil ketidakseimbangan antara persepsi orang tersebut mengenai tuntutan yang dihadapinya dan persepsinya mengenai kemampuannya untuk menanggulangi tuntutan tersebut. Orang tidak dapat melihat pembangkit stres (stressor), yang dapat dilihat adalah akibat dari pembangkitan stres. Model adalah suatu cara mengorganisasi kumpulan pengetahuan yang kompleks. Penggunaan model dapat membantu perawat dalam mengembangkan dasar untuk melakukan proses keperawatan mulai dari pengkajian hingga mengevaluasi keefektifan terapi yang diberikan. 1. Model Berdasarkan Respons Model stress ini menjelaskan respons atau pola respons tertentu yang dapat mengidentifikasikan stressor. Model stress yang dikemukakan oleh Hens Selye pada tahun 1976. Selye menguraikan stress sebagai respons yang tidak spesifik dari tubuh terhadap tuntutan yang dihadapinya. Stress ditunjukkan oleh reaksi fisiologis tertentu yang disebut sindrom adaptasi umum ( general adaptation syndrome-GAS ). Model ini mencoba untuk mengidentifikasikan pola-pola kejiwaan dan respon-respon kejiwaan yang diukur pada lingkungan yang sulit. Pusat perhatian dari model ini adalah bagaimana stressor yang berasal dari peristiwa lingkungan yang berbeda-beda dapat menghasilkan respon stress yang sama. 2. Model Berdasarkan Adaptasi Model stress ini memusatkan perhatian pada sifat-sifat stimulus stress. Tiga karekteristik penting dari stimulus stress antara lain : stimulus datang secara intens dan individu tidak dapat mengadaptasi lebih lama lagi ( Overload); stimulus membangkitkan dua atau lebih respon yang tidak sesuai (Conflict); peristiwa yang merupakan stimulus dan mengakibatkan tidak dapat mengontrol diri (Uncontrollability). Model ini juga menyebutkan empat faktor yang menentukan apakah suatu situasi menimbulkan stress atau tidak ( Mechanic, 1962 ), yaitu: a. Kemampuan untuk mengatasi stress, bergantung pada pengalaman seserang dalam menghadapi stress serupa, sistem pendukung, dan persepsi keseluruhan terhadap stress. b. Praktik dan norma dari kelompok atau rekan-rekan sebaya individu. c. Pengaruh lingkungan sosial dalam membantu seseorang menghadapi stressor.

d. Sumber daya dapat digunakan untuk mengatasi stressor. 3. Model Berdasarkan Stimulasi Model ini berfokus pada karakteristik yang bersifat menggangu atau merusak dalam lingkungan. Stress sebagai stimulus telah menghasilkan skala penyesuaian ulang sosial, yang mengukur dampak dari peristiwa-peristiwa besar dalam kehidupan seseorang terhadap penyakit yang dideritanya (Holmes dan Rahe, 1976). Asumsi-asumsi yang mendasari model ini adalah: peristiwa-peristiwa yang mengubah hidup seseorang merupakan hal normal yang membutuhkan jenis dan waktu penyesuaian yang sama; orang adalah penerima stress yang pasif, persepsi mereka terhadap suatu peristiwa tidak relevan.; semua orang memiliki ambang batas stimulus yang sama dan sakit akan timbul setelah ambang batas tersebut terlampaui. Ada beberapa model teoritis yang diuraikan oleh beberapa peneliti terkemuka antara lain : 1. Syndrome Adaptasi Umum dari Selye (Selyes General Adaptation Syndrom) Dalam model Stres dari Selye, Stres adalah reaksi pertahanan umum badan terhadap suatu stressor. Pokok dasar fisiologi stress adalah perpanjangan pergerakkan dari hormon tertentu dan mekanisme system saraf pusat. Dampak dari stress sangat tergantung pada susunan sifat dasar atau pergerakkan badan individu. Sindrom adaptasi umum adalah suatu konsep di mana Selye menggunakan untuk menggambarkan stress. Syndrome adaptasi umum terdiri dari kurang lebih tiga tahap: (1) reaksi awal alarm/tanda bahaya (the initial alarm reaction), (2) tahap perlawanan (the resistence phase), (3) tahap peredaan (the exhaustion phase). Adapun uraian secara sederhana menurut (Berry, 1999) mengenai sindrom adaptasi umum dari Selye adalah selama tahap alarm ( alarm stage), terjadi pengerahan badanmelalui bermacam-macam hormon dan perubahan system saraf pusat. Jika stress dapat dikurangi, badan akan kembali kepada keadaan normal. Akan tetapi jika stress berkembang ketahap berikutnya, kemungkinan besar memiliki konsekuensi yang lebih serius. Selama tahap perlawanan (resistence stage), beberapa tanda-tanda sederhana memberi kesan bahwa badan mulai kembali lagi kepada keadaan normal. Sebagai contoh, hati dan pernafasan memiliki kemunduran. Tetapi tanda lainnya adalah badan masih dalam keadaan mempertahanan diri. Dalam kondisi ini tingkat hormonal tetap tinggi. Akhirnya,

jika stress terus belangsung, individu masuk ketahap peredaan (exhaustion stage). Munandar (2001) memperjelas bahwa jika exposure (paparan) terhadap pembangkit stress berkesinambung dan badan mampu menyesuaiakan, maka terjadi perlawanan terhadap sakit. Reaksi badan yang khas terjadi untuk menahan akibat-akibat dari pembangkit stress Tetapi jika paparan terhadap stress berlanjut, maka mekanisme pertahanan badan secara perlahan-lahan menurun sampai menjadi tidak sesuai dan satu dari organ-organ gagal untuk berfungsi sepatutnya. Pada tahap peredaan ( exhaustion stage), seseorang sudah mengalami kelelahan yang tinggi di dalam mengadakan perlawanan terhadap stress akhirnya menyerah (proses secara jasmani mulai menurun), dan terjadi sakit. Jika stress berlanjut individu akan meninggal. 2. Model Peristiwa Tekanan Kehidupan (The Stressful Life Events Model) Holmes dan Rahe (dalam Berry, 1999) sependapat dengan Selye bahwa peristiwa kehidupan dapat memiliki efek fisik. Peneliti menunjukkan seperangkat peristiwa kehidupan yang menyebabkan reaksi stress. Holmes dan Rahe mengatakan bahwa suatu peristiwa yang terjadi dalam kehidupan seseorang dapat menyebabkan stres. Model ini secara singkat mengumpamakan bahwa suatu reaksi stress terjadi sewaktu-waktu/kapan saja ketika pengalaman individu terkadang membutuhkan respon penyesuaian atau perilaku coping (penanggulangan). Peristiwa yang dapat menyebabkan stres dapat positif dan negatif dengan melibatkan aspek-aspek kehidupan seseorang, seperti keluarga dan pekerjaan. Rahe dan kawan-kawan menggambarkan proses hidup yang dapat menyebabkan stres terjadi. Mereka mengidentifikasi antara stressor dan dasar penyebab sakit fisik. Pengalaman masa lalu adalah filter pertama yang dapat menambah atau mengurangi dampak dari peristiwa yang penuh dengan tekanan. Jika suatu peristiwa sama dengan peristiwa masa lalu yang berbahaya, kemudian individu mempersepsi peristiwa sebagai sesuatu yang mengancam. Kedua, pertahanan diri. Defense mechanisms menangkis beberapa kejadian yang penuh dengan stress. Filter ketiga adalah reaksi fisiologis. Di sini, peristiwa kehidupan akan di ubah ke dalam respon-respon fisiologis. Filter terakhir adalah coping. Filter terakhir menentukan apakah individu berusaha untuk coping (mengatasi) dan/atau apakah akan menghasilkan gejala-gejala sakit. Dengan demikian respon individu terhadap stres tergantung dari bagimana ia mempersepsi dan menyikapi kejadian yang dialaminya dan tentunya tidak terlepas dari peristiwa dan pengalaman masa lalu. Respon

individu akan baik ketika individu mampu melakukan mekanisme pertahanan diri dan melakukan coping atau ia berusaha untuk dapat mengatasi permasalahannya sehingga tidak berakibat pada munculnya penyakit, karena peristiwa-peristiwa yang menyebabkan stres sangat berperan atas munculnya penyakit. Kejadian-kejadian yang dimaksud dapat berupa kejadian sosial juga kejadian interpersonal termasuk perbedaan aspek kehidupan seseorang. 3. Teori Kesesuaian Lingkungan Dengan Individu (Person-Environment Fit Theory) Teori Kesesuaian Lingkungan Individu dikembangkan oleh Frech dan kawankawannya pada tahun 1970 pada penelitian bagaimana lingkungan social mempengaruhi penyesuaian social individu dan kesehatan fisik dan mental. Teori ini secara spesifik berorientasi kepada stress kerja. Proporsi central teori ini adalah sumber dan tuntutan lingkungan kerja yang tidak sesuai dengan kebutuhan, tujuan dan kemampuan karyawan. Ketika tuntutan kerja tidak sesuai dengan kemampuan dan kebutuhan individu, individu akan menunjukkan tanda- tanda ketegangan yang pada akhirnya mengarah pada sakit. Tujuan utama model ini adalah mengidentifikasi macam-macam kondisi yang memungkinkan menghasilkan ketegangan. Terdapat empat dasar konsep di dalam teori ini: stress organisasi, ketegangan, coping dan dukungan social. Stress organisasi didefinisikan sebagai kondisi yang secara potensial mengancam pekerjaan (atau stressor). Kondisi stress kerja yang penting meliputi kompleksitas pekerjaan, beban kerja, ambiguitas peran, dan rendahnya kemampuan. 4. Model Facet dari Rangkaian Stres Kerja (A Facet Model of Job Stress Sequence) Beehr dan Newman (dalam Berry, 1999), mengembangkan suatu model untuk mengidentifikasi dan menyusun seluruh bidang atau komponen dari stress kerja. Model bidang memasukkan lebih dari 150 variabel yang sudah diteliti atau dinyatakan yang dinyatakan oleh peneliti berkaitan dengan stress. Variabel- variabel ini dikategorikan kedalam beberapa kelompok atau bidang berbeda, yaitu: a. Personal facet meliputi beberapa karakteristik yang memiliki dampak pada bagaimana pengalaman stress individu. Contohnya kepribadian dan fisik yang sehat. Karakter pribadi/individu dapat mempengaruhi interaksi dengan lingkungan melalui variabel ini.

b. Process facet yang meliputi persepsi dan evaluasi kognitif dari situasi yang penuh stress. c. Environmental facet berkaitan terhadap lingkungan kerja dan meliputi tuntutan peran kerja, seperti peran yang berlebih; karakteristik organisasi, seperti ukuran perusahaan; dan tuntutan eksternal, seperti pelanggan. Antara individu dan organisasi memiliki konsekuensi terhadap hasil dari proses interaksi individu dan lingkungan. d. Human consequences meliputi dampak dari fungsi psikologis, seperti kecemasan; dampak dari kesehatan fisik, seperti gangguan lambung atau usus besar; dan dampak dari perilaku yang terbuka seperti penggunaan drug dan agresi. e. Organizational consequences dari stress meliputi seperti efek dari ketidakhadiran, pergantian, dan hilangnya produktivitas. f. Adaptive responses, mengikuti konsekuensi, menunjukkan bermacam-macam usaha untuk menangani stress. Sebagai contoh, karyawan akan membuat respon adaptif dengan mencari dukungan social; organisasi dapat membuat respon adaptif dengan merubah jadwal kerja; dan bagian ketiga dapat membuat respon adaptif dengan menawarkan perlakuan/pengobatan. Beehr dan Newman menambahkan element waktu untuk stress bidang ini untuk menunjukkan bahwa stress adalah serangakaian proses interaksi dalam jangka waktu yang panjang. Berawal dari pengalaman stress yang dirasakan, dan stress langsung memiliki konsekuensi manusia (human consequences). Individu membuat beberapa respon adaptif permulaan (initial) yang bertujuan untuk mengurangi stress. Jika sepanjang waktu, respon permulaan tidak sukses, konsekuensi selanjutnya bagi individu dan organisasi.

Berry, M.L. 1999. Psychology at Work: an Introduction to Industri and Organizational Psychology. Boston : McGraw-Hill Book Co. Lazarus, Richard. S & Folkman, Susan. (1984). Stress, Appraisal, and Coping. New York: Springer Publishing Company. Lehrer, et al.(2007). Principle and Practice of Stress Management Third Ed. New York: The Guild for Press Robbins, S.P. (2003). Organizational Behavior. Jakarta: PT Indeks kelompok Gramedia. Stuart, G. W., & Laraia, M. T. (2005). Principles and practice of Psychiatric Nursing (8th ed.). St. Louis: Mosby, Elsevier.