Anda di halaman 1dari 8

http://mediatani.wordpress.

com/2008/02/20/tundakebijakan-persyaratan-mutu-gabah/ Tunda Kebijakan Persyaratan Mutu Gabah


February 20, 2008 Leave a Comment Sumber Suara Pembaruan [JAKARTA] Perum Bulog diminta untuk menunda penerapan kebijakan persyaratan mutu gabah petani hingga musim panen raya berikutnya. Hal itu untuk memberi kesempatan yang cukup kepada petani untuk meningkatkan kualitas gabah mereka. Penerapan mutu yang ketat saat ini dinilai tidak bijaksana, karena waktunya bersamaan dengan dimulainya panen raya, serta banyaknya musibah banjir yang menimpa lahan sawah di sejumlah daerah. Demikian pendapat yang disampaikan sejumlah pihak kepada SP, Selasa (19/2) terkait rencana Bulog memperketat persyaratan mutu beras petani. Sebelumnya, Dirut Perum Bulog Musthafa Abubakar mengatakan, tahun ini pihaknya akan memperketat persyaratan mutu gabah petani dari dua ketentuan menjadi lima ketentuan. Jika sebelumnya hanya kadar air dan kadar hampa ataupun kotoran, kini Bulog menambahkan tiga komponen, yakni derajat sosoh mencapai 95 persen, beras kuning maksimum tiga persen, dan kandungan menir maksimum dua persen. Dalam Inpres No 3 tahun 2007 disebutkan, untuk pembelian gabah kering panen (GKG) dari petani dengan kadar air maksimum 25 persen dan kadar hampa/kotoran maksimum 10 persen sebesar Rp 2.000/kg. Untuk gabah kering giling (GKG), kadar air maksimum 14 persen dan kadar hampa/kotoran maksimum tiga persen senilai Rp 2.575/kg. Sedangkan untuk pembelian beras oleh Bulog dengan syarat kualitas kadar air maksimum 14 persen dan butir patah maksimum 20 persen sebesar Rp 4.000/kg. Ketua Umum Wahana Masyarakat Tani Indonesia (Wamti), Agusdin Pulungan menilai, penerapan tambahan persyaratan saat ini, berpotensi memukul harga gabah di tingkat petani. Di saat panen melimpah, namun tiba-tiba Bulog menerapkan tambahan syarat mutu yang ketat, yang bisa berakibat jatuhnya harga gabah. Karena, jika Bulog tidak membeli gabah petani, maka yang bermain nantinya para tengkulak ataupun pedagang spekulan. Seharusnya, jauh-jauh hari Bulog sudah mensosialisasikan rencana pengetatan mutu ini agar petani bisa memenuhinya pada tahun ini. Dan Bulog juga berkewajiban membantu meningkatkan mutu gabah petani, ujar Agusdin. Bertahap Senada dengan Agusdin, Ketua Umum Kontak Tani dan Nelayan Andalan (KTNA), Winarno

Tohir meminta Bulog untuk menerapkan standar mutu yang ketat secara bertahap. Menurut Winarno, kendala peningkatan mutu gabah bukan karena budaya petani semata. Namun juga karena perlunya modal usaha tani yang besar, yang justru sulit didapatkan petani saat ini. Lihat saja, dukungan perbankan kita terhadap sektor pertanian, sangat minim, ujar Winarno. Ia mencontohkan, di saat musim hujan seperti saat ini di sejumlah sentra beras di Jawa, diperlukan alat pengering modern. Dan itu membutuhkan modal besar untuk pengadaannya. Jika pengeringan tidak maksimal, bagaimana petani bisa memenuhi mutu yang disayaratkan Bulog, ujarnya. Winarno berharap, persyaratan mutu diterapkan tidak dalam upaya mencari alasan untuk impor beras, karena dengan alasan rendahnya mutu beras petani. Namun itu dilakukan dalam upaya memperbaiki mutu gabah petani dan mengurangi tingkat kehilangan pascapanen. Menjawab hal itu, Musthafa mengatakan, Perum Bulog akan mengoptimalkan penggunaan alat pengering (dryer) untuk mempertahankan kualitas gabah petani pada saat panen raya, yang diperkirakan berlangsung sekitar Februari, Maret, dan April 2008. Upaya meningkatkan mutu gabah justru untuk mencegah harga beras jatuh. Dengan kondisi seperti itu, para spekulan mudah sekali mempermainkan harga, dan membuat petani kehilangan posisi tawar. Sementara itu, Dirjen Pengolahan dan Pemasaran Hasil Pertanian, Departemen Pertanian, Djoko Said Damarjati menjelaskan, gerakan penanganan pascapanen dan pemasaran dengan anggaran Rp 80 miliar, baru mampu mengamankan produksi gabah di lahan seluas 2 juta hektare. Anggaran sebesar itu, tambahnya, antara lain, untuk pengadaan alat-alat dan mesin pertanian pascapanen, seperti perontok dan pengering, terpal, sabit bergerigi. Djoko mengakui, upaya meningkatkan mutu gabah dan pengurangan kehilangan hasil, revitalisasi penggilingan padi, peningkatan kapasitas kelembagaan, dan pengembangan saat ini terkendala keterbatasan dana. Oleh karena itu, dia meminta pihak BUMN dan perbankan ikut terlibat dalam gerakan pascapanen ini. Djoko mengatakan, losses rata-rata nasional mencapai 21,5 persen. Dalam gerakan ini sasaran yang diharapkan adalah pengurangan losses sebesar 3 persen atau hanya tersisa 18,5 persen. [L11] Categories: Ekonomi Produksi Tagged: Padi, Produksi

http://agribisnis.net/Pustaka/makalah_terpalisasi-1.htm
Terpalisasi dalam Penanganan Pasca Panen Padi

Salah satu syarat untuk menstabilkan ketahanan pangan nasional adalah ketersediaan beras yang mencukupi. Kertersediaan beras tersebut dapat dipenuhi melalui produksi dalam negeri dan pengadaan luar negeri (impor). Pengadaan dalam negeri dilakukan dengan berbagai upaya seperti melalui peningkatan produksi padi yang telah mencapai swasembada pada tahun 1984. Namun dalam peningkatan produksi tersebut masih ditemukan permasalahan besar yang perlu perhatian khusus oleh semua pihak yaitu besarnya tingkat kehilangan hasil pada saat panen dan pasca panen serta mutu gabah/ beras yang relatif rendah dan variatif.

Data dari hasil pengukuran tingkat kehilangan hasil panen dan pasca panen padi oleh Biro Pusat Statistik (BPS) yang dilaksanakan 1995/1996 terhadap komoditi padi masih tinggi yaitu 20,51%. Tingkat kehilangan hasil tersebut terutama terjadi pada saat Hasil penelitian Litbang

perontokan sebesar 4,78 % dan pengeringan sebesar 2,13%.

pengukuran yang telah dilaksanakan dalam kurun waktu 2004 2006 menunjukkan bahwa tingkat kehilangan pasca panen padi antara 10,39 % hingga 15,26 %. Beberapa hasil survai bahkan menunjukkan bahwa angka kehilangan pasca panen tersebut berkisar antara 7,31 11,65 % di berbagai daerah. Angka yang berbeda dengan angka acuan tersebut dipandang cukup logis dari berbagai alasan. Selain disebabkan oleh adanya introduksi dan adopsi teknologi penekanan kehilangan hasil padi, pengenalan dan penataan kelembagaan pasca panen padi serta kebijakan yang dikembangkan Pemerintah Daerah secara bersama-sama juga telah memberikan dampak seperti diatas.

Tingginya kehilangan hasil ini disebabkan antara lain karena penanganan panen dan pasca panen hasil pertanian masih banyak ditangani secara tradisional dan relatif tertinggal jika dibandingkan kegiatan pra panen, hal ini antara lain ditandai dengan rendahnya penerapan sarana dan teknologi panen/pasca panen serta pengelolaan hasil panen yang belum optimal. Disamping itu waktu panen yang kurang tepat, terbatasnya peralatan pendukung, belum optimalnya pemanfaatan peralatan mesin pasca panen yang tersedia pada masyarakat tani, penempatan dan pengalokasian peralatan mesin pasca panen yang kurang tepat serta kemampuan dan pengetahuan petani dalam penanganan panen dan pasca panen masih terbatas juga merupakan faktor-faktor yang mempengaruhi tingginya tingkat kehilangan hasil padi serta rendahnya mutu gabah petani.

Padi setelah dipanen dan dirontok akan menghasilkan gabah yang mempunyai kadar air sekitar 20% sampai 25%. Gabah hasil panen tersebut baru dapat disimpan atau digiling dengan baik apabila kadar air diturunkan hingga mencapai kadar air optimum yaitu sekitar 14%.

Petani

padi

pada

umumnya

menjemur/mengeringkan

gabah

dengan

cara

menghamparkan gabah pada terpal plastik. Penjemuran/ pengeringan dengan alas terpal plastik merupakan cara konvensional pengeringan gabah yang paling popular di Indonesia, karena lebih murah dibandingkan pengeringan buatan (makanis atau semi mekanis) mengingat bahwa harga bahan bakar minyak (BBM) cenderung meningkat.

Menyadari tingginya kerugian yang ditimbulkan karena kesalahan penanganan pasca panen tersebut perlu adanya upaya untuk menurunkan tingkat kehilangan hasil, baik pada saat panen dan pasca panen serta peningkatan mutu untuk meningkatkan nilai tambah dan pendapatan petani. Oleh karena itu salah satu alternatif yang efektif dan efisien dapat dilakukan melalui : Terpalisasi Penanganan Pasca Panen Padi

Terpal dalam penanganan pasca panen mutlak diperlukan karena terpal selain digunakan untuk alas penjemuran juga dapat digunakan untuk alas perontok. Selama ini petani menggunakan alas perontok yang tidak sesuai sehingga kehilangan hasil besar. Dengan menggunakan terpal berukuran 8 x 8 m2 dengan spesifikasi yang sesuai

diharapkan dapat menekan kehilangan hasil.

Pelaksanaan penjemuran sangat tergantung cuaca. Gabah hasil panen yang tidak dapat dikeringkan segera dapat mengakibatkan gabah menjadi rusak, busuk, berjamur, berubah warna karena fermentasi, serta berkecambah. Hal ini banyak terjadi pada saat panen raya yang bertepatan jatuhnya musim penghujan. Kelemahan lain dari penjemuran adalah gabah mengalami deraan panas dan dingin silih berganti pada siang dan malam hari yang menimbulkan tegangan dalam sel gabah. Tegangan sel ini dapat mengakibatkan butir retak yang lebih lanjut lagi akan menimbulkan butir pecah pada saat digiling dan menurunkan rendeman beras.

Terpalisasi penanganan pasca panen padi adalah penggunaan terpal plastik untuk alas perontokan, penjemuran/ pengeringan gabah dan penutup/ pelindung gabah dari guyuran air hujan. Spesifikasi terpal plastik yang cocok digunakan adalah sebagai berikut :

Bahan plastik setebal 1 mm dan kedap air Warna gelap (hitam, biru atau coklat tua) Ukuran 8 x 8 meter2 Ada lubang di ujung dan tengah (min 8 buah lubang)

Fungsi terpalisasi penanganan pasca panen padi ini adalah :

Mengurangi/ menekan kehilangan butiran gabah pada saat perontokan dan pengeringan.

Untuk dinding dan alas dalam upaya mencegah bercampurnya kotoran dengan gabah

Memudahkan pengumpulan gabah dan penutup gabah pada waktu hujan turun

Untuk

menghasilkan

penyebaran

panas

yang

merata

pada

saat

penjemuran/pengeringan.

Keuntungan terpalisasai penanganan pasca panen padi adalah :

Memudahkan penyelamatan gabah bila dalam masa penjemuran/ pengeringan hujan turun secara tibatiba, misalnya dengan cara memasang tali pengikat untuk memudahkan menggulung terpal/ lembaran plastik kemudian menutup/ melindungi gabah dari hujan dengan cepat.

Memudahkan pengumpulan untuk pengarungan gabah pada akhir perontokan dan penjemuran.

Dapat mengurangi tenaga kerja buruh tani dilapangan.

Untuk menghasilkan gabah kering yang seragam, maka

unsur ketebalan pada

penjemuran gabah sangat besar pengaruhnya. Bila dipandang dari sudut kapasitas dan efisiensi, maka makin tebal padi yang di jemur makin tinggi kapasitas dan efisiensi penjemuran. Namun demikian, makin tebal padi yang di jemur makin besar pula

kemungkinan terjadi:

Pengeringan gabah tidak seragam, kadar air gabah pada lapisan bawah lebih tinggi dari lapisan atas.

Bila cuaca mendung atau berawan, penjemuran dapat berlangsung lama, lebih dari 7 (tujuh) hari. Penjemuran yang berlangsung terlalu lama dapat mengakibatkan

timbulnya butir kuning dan gabah berjamur.

Hasil giling gabahnya dapat menimbulkan beras pecah/ patah dan menurunkan rendemen giling.

Untuk mengamankan panen raya MT. 2005/2006, Ditjen PPHP telah menghambat Dinas Pertanian Pertanian dan Kabupaten/Kota *) agar mengkampanyekan penyediaan plastik untuk alas perontokan, alas pengeringan dan pelindung gabah gabah guna mengurangi dan menekan kehilangan hasil sekaligus menjaga mutu gabah/beras. Pada akhirnya upaya ini diharapkan akan berdampak kepada peningkatan pendapatan dan kesejahteraan petani padi.

http://www.sinartani.com/editorial/mutu-gabah-burukpun-perlu-diselamatkan1237182642.htm

MUTU GABAH BURUKPUN PERLU DISELAMATKAN


Petani Indonesia boleh berbangga hati. Berkat kerja kerasnya, tahun 2008 Indonesia berhasil meraih kembali swasembada beras. Bahkan tahun 2009 menargetkan mampu mengekspor beras ke beberapa negara di Asia secara bertahap sesuai dengan permintaan dari negara-negara tersebut. Di tengah-tengah kebanggaan itu, sekarang ini, panen raya padi yang terjadi saat musim hujan mengakibatkan kualitas gabah petani buruk sehingga harganya menjadi turun. Pemerintah-pun menyadari kondisi ini. Karena itulah Menteri Pertanian telah mengeluarkan Permentan No. 6/2009 tentang Pedoman Harga Pembelian Gabah di luar kualitas oleh pemerintah. Dalam Permentan disebutkan harga gabah kering panen (GKP) dengan kadar air maksimal 30% dan kadar hampa maksimal 15% dipatok Rp. 2.160 per kilogram. Walaupun sudah ada pedoman ini, namun fakta di lapangan banyak gabah petani yang tidak bisa terakomodasi dalam standar kualitas tersebut sehingga gabah petani dengan kualitas buruk tidak terserap. Dampak yang dikhawatirkan lebih luas lagi di samping kualitas gabah rusak, gabah menjadi hitam, busuk dan menjadi kecambah sehingga praktis tidak laku dijual, sehingga akan mengurangi tingkat kesejahteraan petani. Menanggapi tidak terserapnya gabah petani, Mentan menyatakan, isu itu sengaja disebarkan agar harga pembelian gabah petani rendah. Menurut Mentan isu panen buruk itu terjadi setiap tahun dan tidak sepenuhnya benar, hanya terjadi pada sebagian kecil saja.