Anda di halaman 1dari 24

LAPORAN PENDAHULUAN STASE KEPERAWATAN ANAK ENSEFALITIS

OLEH: APRILIANI YULIANTI W., S.Kep G1B210067

KEMENTERIAN PENDIDIKAN NASIONAL UNIVERSITAS JENDERAL SOEDIRMAN FAKULTAS KEDOKTERAN DAN ILMU-ILMU KESEHATAN JURUSAN KEPERAWATAN PROGRAM PROFESI NERS PURWOKERTO 2011

BAB I PENDAHULUAN
A. Latar Belakang Ensefalitis adalah inflamasi pada jaringan otak dan kemungkinan meninges. Ensefalitis disebabkan oleh bakteri, virus, protozoa, atau jamur. Enterovirus adalah penyebab paling sering diikuti dengan arbovirus. Banyak virus dapat ditularkan melalui nyamuk. Ensefaitis juga dapat disebabkan oleh invasi langsung cairan serebrospinal selama pungsi lumbal. Ensefalitis juga dapat terjadi sebagai komplikasi campak, gondongan atau cacar. Komplikasi awal ensefalitis meliputi sistem jantung, pernapasan, dan neurologik biasanya mengenai batang otak. Ensefalitis dapat menyebabkan defek neurologi sisa setelah pemulihan. Pemulihan komplit dapat terjadi, namun kebanyakan kondisi kesehatan dan kemampuan anak mungkin berubah selamanya. B. Tujuan
1. Mahasiswa dapat menjelaskan pengertian ensefalitis 2. Mahasiswa dapat menjelaskan klasifikasi ensefalitis 3. Mahasiswa dapat menjelaskan etiologi ensefalitis 4. Mahasiswa dapat menjelaskan pathogenesis ensefalitis 5. Mahasiswa dapat menjelaskan tanda dan gejala ensefalitis 6. Mahasiswa dapat menjelaskan pathway ensefalitis 7. Mahasiswa dapat menjelaskan pemeriksaan penunjang 8. Mahasiswa dapat menetapkan diagnosa keperawatan 9. Mahasiswa dapat menentukan tujuan dan kriteria hasil keperawatan 10. Mahasiswa dapat menentukan intervensi keperawatan

BAB II TINJAUAN PUSTAKA


A. Pengertian Ensefalitis adalah radang jaringan otak yang dapat disebabkan oleh bakteri, cacing, protozoa, jamur, ricketsia, atau virus. Ensefaitis adalah infeksi yang mengenai CNS yang disebabkan oleh virus atau mikro organisme lain yang non purulent. Ensefalitis juga dapat berarti ada inflamasi jaringan otak, seringkali sebagai akibat infeksi virus. Selain itu juga disebabkan oleh bakteri bakteri, cacing, protozoa, jamur, ricketsia. Ensefalitis adalah inflamasi pada jaringan otak dan kemungkinan meninges. Invasi susunan saraf pusat oleh virus dapat menimbulkan sindrom berikut ini 1. Sindrome meningitis: identik dengan meningitis aseptik 2. Sindrome ensefalitis: adanya gejala nyeri kepala mengantuk sampai koma, demam, delirium, paralisis otot, dan ganguan otonom. Pemulihan bisa terjadi tetapi biasanya ada gejala sisa seperti hemiplegia, gangguan tingkah laku dan cacat mental. 3. Sindrome mielitik: medula spinalis yang lebih dominan diserang oleh virus dapat terjadi parestesia dan kelemahan ekstremitas, gangguan sphincter, vesika urinaria 4. Sindrome radikular: adanya peningkatan yang khas protein tanpa leiositosis otot-otot lemah. B. Klasifikasi 1. Ensefalitis spuratif akut 2. Ensefalitis virus C. Etiologi 1. Ensefalitis spuratif akut Bakteri penyebab ensefalitis adalah Staphylococcus aureus, streptokok, E. coli, M. tuberculosa, dan T. pallidum. Tiga bakteri pertama merupakan penyebab ensefalitis bakterial akut yang menimbulkan pernanahan pada

korteks serebri sehingga terbentuk abses serebri. Ensefalitis bakterial akut sering disebut ensefalitis supuratif akut. 2. Ensefalitis virus Virus yang menimbulkan ensefalitis virus adalah virus RNA (virus parotitis, virus morbili, virus rabies, virus rubella, virus ensefalitis Jepang B, virus dengue, virus polio, Cocksakie A, Cosksakie B, echovirus, dan virus coriomeningesti limfositaria) dan virus DNA (virus herpes zoster, varisella, Herpes simpleks, sitomegalovirus, variola, vaksinia, dan AIDS) D. Patogenesis 1. Ensefalitis spuratif akut Pada ensefalitis supuratif akut, peradangan dapat berasal dari radang, abses di dalam paru-paru, brokiektasis, empiema, osteomielitis tengkorak, fraktur terbuka, trauma tembus otak atau penjalaran langsung ke dalam otak dari otitis media, mastoiditis, sinusitis. Akibat proses ensefalitis supuratif akut ini akan terbentuk abses serebri yang biasanya terjadi di substansia alba karena perdarahan di sini kurang intensif dibandingkan dengan substansia grisea. Reaksi dini jaringan otak terhadap kuman yang bersarang adalah edema dan kngesti yang disusul dengan pelunakan dan pembentukan nanah. Fibroblas sekitar pembuluh darah bereaksi dengan proliferasi. Astroglia ikut juga dan membentuk kapsul. Bila kasul pecah, nanah masuk ke ventrikel dan menimbulkan kematian. 2. Ensefalitis virus Vius masuk tubuh pasien melalui kulit, saluran napas, dan saluran cerna. Setelah masuk ke dalam tubuh virus akan menyebar ke dalam tubuh melalui beberapa cara a. Setempat: virus alirannya terbatas menginfeksi selaput lendir permukaan atau organ tetentu. b. Penyebaran hematogen primer virus masuk ke daam darah kemudian menyebar ke organ dan berkembang biak di organ tersebut.

c. Penyebaran melalui saraf-saraf: virus berkembang biak di permukaan selaput lendir dan menyebar melalui sistem saraf d. Masa prodromal berlangsung 1- 4 hari ditandai dengan demam, sakit kepala, pusing, muntah, nyeri tenggorokan, malaise, nyeri ekstremitas, dan pucat. Gejala lain berupa geisah, iritabel, perubahan perilaku, gangguan kesadaran, kejang, kadang-kadang disertai gangguan neurologis lokal berupa afasia, hemiparesis, hemiplegia, ataksia, paralisis saraf otak. E. Tanda dan Gejala Panas badan meningkat, photofobia, sakit kepala, muntah-muntah, letargi, kadang disertai infeksi apabila infeksi mengenai meningen. Anak tampak gelisah kadang disertai gangguan penglihatan, pendengaran, bicara, dan kejang. 1. Ensefalitis spuratif akut Secara umum gejala berupa trias ensefalitis yang terdiri dari demam, kejang, dan kesadaran menurun. Pada ensefalitis supuratif akut yang berkembang menjadi abses serebri akan timbul gejala-gejala sesuai dengan proses patologik yang terjadi di otak. Gejala-gejala tersebut adalah gejalagejala infeksi umum. Tanda-tanda meningkatnya tekanan intrakranial yaitu nyeri kepala yang kronik progresif, muntah, penglihatan kabur, kejang, kesadaran menurun. Pada pemeriksaan mungkin terdapat edema papil. Tanda-tanda defisit neurologis tergantung pada lokasi dan luas abses. 2. Ensefalitis virus Proses radang pada ensefalitis virus banyak mengenai jaringan dan selaput jaringan otak. Oleh karena itu, ensefalitis virus disebut juga dengan meningo ensefalitis. Manifestasi utamanya adalah konvulsi, gangguan kesadaran (acute organic brain syndrome), hemiparesis, paralisis bulbaris (meningo-encephalomyelitis), gejala-gejala cerebelar, nyeri, dan kaku kuduk

F. Pathway Terlampir G. Pemeriksaan Penunjang Gambaran cairan serebrospinal dapat dipertimbangkan meskipun tidak begitu membantu. Biasanya berwarna jernih ,jumlah sel 50-200 dengan dominasi limfasit. Kadar protein kadang-kadang meningkat, sedangkan glukosa masih dalam batas normal. Gambaran EEG memperlihatkan proses inflamasi difus (aktifitas lambat bilateral).Bila terdapat tanda klinis flokal yang ditunjang dengan gambaran EEG atau CT scan dapat dilakukan biopal otak di daerah yang bersangkutan. Bila tidak ada tanda klinis flokal, biopsy dapat dilakukan pada daerah lobus temporalis yang biasanya menjadi predileksi virus Herpes Simplex. 1. Ensefalitis supuratif akut a. Pemeriksaan elektroensefalogram (EEG) b. Foto rontgen kepala c. CT-Scan otak atau arteriografi d. Pungsi lumbal (tidak dilakukan bila terdapat edema papil) e. Pemeriksaan cairan serebrospinal, dapat diperoleh hasil berupa peningkatan tekanan intracranial, pleiositosis polinuklearis, jumlah protein yang lebih besar daripada normal, dan kadar klorida serta glukosa dalam batas-batas normal. 2. Ensefalitis virus a. Pemeriksaan darah rutin b. Titer antibody terhadap virus c. Pemeriksaan cairan otak: limfosit, monosit meningkat, kadar protein meninggi ringan, kadar glukosa normal. d. Kultur virus jika memungkinkan e. EEG dan CT-Scan jika memungkinkan

Pada ensefalitis yang disebabkan oleh herpes simpleks tipe I, gambaran EEG khas berupa aktivitas gelombang tajam periodic di temporal dengan latar belakang vocal atau difus. H. Prognosis Prognosis ensefalitis akut buruk karena angka kematian mencapai 50%. I. Proses Keperawatan 1. Pengkajian a. Identitas Ensefalitis dapat terjadi pada semua kelompok umur. b. Keluhan Utama Panas badan meningkat, kejang, kesadaran menurun c. Riwayat Penyakit Sekarang Mula-mula anak rewel, gelisah, muntah-muntah, panas badan meningkat kurang lebih 1-4 hari, sakit kepala. d. Riwayat Penyakit Dahulu Klien sebelumnya menderita batuk, pilek kurang lebih 1-4 hari, pernah menderita penyakit Herpes, penyakit infeksi pada hidung, telinga dan tenggorokan. e. Riwayat Kesehatan Keluarga Keluarga ada yang menderita penyakit yang disebabkan oleh 1) Virus contoh : Herpes. 2) Bakteri contoh : Staphylococcus Aureus, Streptococcus , E. Coli. f. Imunisasi Kapan terakhir diberi imunisasi DTP Karena ensefalitis dapat terjadi post imunisasi pertusis. - Pertumbuhan dan Perkembangan Pola-Pola Fungsi Kesehatan a. Pola Persepsi dan Tata Laksana Hidup Sehat Kebiasaan sumber air yang dipergunakan dari PAM atau sumur ,kebiasaan buang air besar di WC, lingkungan penduduk yang berdesakan (daerah kumuh)

b. Status Ekonomi Biasanya menyerang klien dengan status ekonomi rendah. c. Pola Nutrisi dan Metabolisme Menyepelekan anak yang sakit, tanpa pengobatan yang sesuai. Pemenuhan Nutrisi, biasanya klien dengan gizi kurang asupan makana dan cairan dalam jumlah kurang dari kebutuhan tubuh. Pada pasien dengan Ensefalitis biasanya ditandai dengan adanya mual, muntah, kepalah pusing, kelelahan. Status Gizi yang berhubungan dengan keadaan tubuh. Postur tubuh biasanya kurus ,rambut merah karena kekurangan vitamin A, berat badan kurang dari normal. Menurut rumus dari BEHARMAN tahun 1992, umur 1 sampai 6 tahun Umur (dalam tahun) x 2 + 8 Tinggi badan menurut BEHARMAN umur 4 sampai 2 x tinggi badan lahir. Perkembangan badan biasanya kurang karena asupan makanan yang bergizi kurang. Pengetahuan tentang nutrisi biasanya pada orang tua anak yang kurang pengetahuan tentang nutrisi. Gizi kurang bila berat badan kurang dari 70% berat badan normal. d. Pola Eliminasi Kebiasaan Defekasi sehari-hari Biasanya pada pasien Ensefalitis karena pasien tidak dapat melakukan mobilisasi maka dapat terjadi obstipasi. Kebiasaan Miksi sehari-hari Biasanya pada pasien Ensefalitis kebiasaan mictie normal frekuensi normal. Jika kebutuhan cairan terpenuhi. Jika terjadi gangguan kebutuhan cairan maka produksi irine akan menurun, konsentrasi urine pekat. e. Pola Tidur dan Istirahat Biasanya pola tidur dan istirahat pada pasien Ensefalitis biasanya tidak dapat dievaluasi karena pasien sering mengalami apatis sampai koma.

f. Pola Aktivitas 1) Aktivitas sehari-hari: klien biasanya terjadi gangguan karena bx Ensefalitis dengan gizi buruk mengalami kelemahan. 2) Kebutuhan gerak dan latihan : bila terjadi kelemahan maka latihan gerak dilakukan latihan positif. 3) Upaya pergerakan sendi : bila terjadi atropi otot pada px gizi buruk maka dilakukan latihan pasif sesuai ROM 4) Kekuatan otot berkurang karena px Ensefalitisdengan gizi buruk . 5) Kesulitan yang dihadapi bila terjadi komplikasi ke jantung, ginjal, mudah terkena infeksi berat, aktifitas togosit turun, Hb turun, punurunan kadar albumin serum, gangguan pertumbuhan. g. Pola Hubungan dengan Peran Interaksi dengan keluarga biasanya pada klien dengan Ensefalitis kurang karena kesadaran klien menurun mulai dari apatis-koma. h. Pola Persepsi dan Pola Diri Pada klien Ensenfalitis umur > 4 ,pada persepsi dan konsep diri yang meliputi Body Image ,seef Esteem ,identitas deffusion deper somalisasi belum bisa menunjukkan perubahan. i. Pola Sensori dan Kognitif 1) Sensori: Daya penciuman, Daya rasa, Daya raba, Daya penglihatan, Daya pendengaran. 2) Kognitif : j. Pola Reproduksi Seksual Bila anak laki-laki apakah testis sudah turun ,fimosis tidak ada. k. Pola Penanggulangan Stress 1) Pada pasien Ensefalitis karena terjadi gangguan kesadaran: Biasanya anak hanya dapat mengeluarkan air mata Stress fisiologi saja ,tidak bisa menangis dengan keras (rewel) karena terjadi afasia. 2) Stress Psikologi tidak di evaluasi. l. Pola Tata Nilai dan Kepercayaan Anak umur 3-4 tahun belumbisa dikaji

2. Diagosa Keperawatan a. Risiko infeksi dengan faktor risiko pertahanan tubuh yang tidak adekuat. b. Risiko ketidakefektifan perfusi jaringan otak dengan faktor risiko aneurisma serebri dan koagulopati (anemia sel sabit) c. Resiko trauma dengan faktor risiko aktivitas kejang umum. d. Nyeri akut atau kronik berhubungan dengan agen injuri biologis adanya proses infeksi yang ditandai dengan anak menangis, gelisah. e. Gangguan mobilitas fisik berhubungan dengan penurunan kekuatan otot yang ditandai dengan ROM terbatas. f. Ketidakseimbangan nutrisi kurang dari kebutuhan tubuh berhubungan dengan mual muntah. g. Gangguan saraf pusat. h. Resiko kerusakan integritas kulit berhubungan dengan daya pertahanan tubuh terhadap infeksi turun. i. Hipertermi berhubungan dengan penyakit ensefalitis sensori persepsi (Tipe: penglihatan, pendengaran, kinestetik, taktil, olfaktori) berhubungan dengan kerusakan susunan

3. Rencana Tindakan Keperawatan

XV.

RENCANA KEPERAWATAN
N O 1. HARI/TGL Jumat, 26-08-11 NO DX I TUJUAN Setelah dilakukan tindakan keperawatan selama 3x24 jam, klien dapat mencapai keluaran jantung yang terkontrol, dengan kriteria hasil: a. INTERVENSI Perawatan Jantung 1) Catat adanya tanda dan gejala penurunan cardiac output 2) Monitor status pernapasan yang menandakan gagal jantung 3) Monitor adanya dyspneu, fatigue, takipneu, dan orthopneu 4) Monitor status kardiovaskuler 5) Catat adanya disritmia jantung Monitor Cairan 1) Tentukan kemungkinan dari factor risikodari ketidakseimbangan cairan 2) Monitor berat badan 3) Monitor elektrolit dan serum air 4) Catat secara akuran intake dan output 5) Monitor membrane mukosa, turgor kulit serta rasa haus Monitor Tanda-Tanda Vital 1) Monitor TD, N, T, dan RR 2) Monitor bunyi jantung 3) Monitor bunyi paru 4) Monitor suhu, warna, dan kelembaban kulit 5) Identifikasi penyebab terjadinya perubahan TTV

Cardiac Pump Effectiveness N o 1. 2. 3. 4. 5. Indikator Heart rate dalam batas yang diharapkan Aktivitas toleran Nadi perifer kuat Tidak terdapat suara jantung abnormal Tidak terdapat edema paru-paru Awal 1 2 Tujuan 3 4 5 b.

c.

Keterangan: 1. 2. 3. 4. 5. Keluhan ekstrim Keluhan berat Keluhan sedang Keluhan ringan Tidak ada keluhan

2.

Jumat, 26-08-11

II

Setelah dilakukan tindakan keperawatan selama 3x24 jam, klien dapat mencapai bersihan jalan napas yang efektif, dengan kriteria hasil:

a.

Respiratory Status: Airway patency N o 1. 2. 3. 4. 5. Indikator Tidak ada demam Tidak ada cemas Irama napas sesuai yang diharapkan Frekuensi pernapasan sesuai yang diharapkan Bebas dari suara napas tambahan Awal 1 Tujuan 2 3 4 b. 5

Manejemen Jalan Napas 1) Buka jalan napas, gunakan tekhnik chin lift atau jaw thrust bila perlu 2) Posisikan pasien untuk memaksimalkan ventilasi. Identifikasi pasien untuk perlunya pemasangan alat jalan napas buatan 3) Keluarkan secret dengan batuk atau suctionAuskultasi suara napas, catat bila ada suara napas tambahan 4) Monitor status respirasi dan saturasi O2 5) Berikan pelembab udara 6) Atur intake cairan untuk mengoptimalkan keseimbangan Suction Jalan Napas 1) Pastikan kebutuhan oral atau tracheal suction 2) Auskultasi jalan napas sebelum dan sesudah suction 3) Informasikan keluar tentang prosedur suction 4) Berikan O2 dengan menggunakan nasal untuk memfasilitasi suksion nasotrakheal 5) Hentikan suksion dan berikan oksigen bila pasien menunjukkan bradikardi peningkatan saturasi oksigen 6) Gunakan peralatan yang sterill disetiap melakukan tindakan

Keterangan: 1. 2. 3. 4. Keluhan ekstrim Keluhan berat Keluhan sedang Keluhan ringan

5. 3. Jumat, 26-08-11 III

Tidak ada keluhan a. Manajemen Jalan Napas 1) Buka jalan napas, gunakan tekhnik chin lift atau jaw thrust bila perlu 2) Posisikan pasien untuk memaksimalkan ventilasi. Identifikasi pasien untuk perlunya pemasangan alat jalan napas buatan 3) Keluarkan secret dengan batuk atau suctionAuskultasi suara napas, catat bila ada suara napas tambahan 4) Monitor status respirasi dan saturasi O2 5) Berikan pelembab udara 6) Atur intake cairan untuk mengoptimalkan keseimbangan

Setelah dilakukan tindakan keperawatan selama 3x24 jam, klien dapat mencapai napas efektif, dengan kriteria hasil:

Respiratory Status: Ventilation N o 1. Indikator Awal 1 2 Tujuan 3 4 5

Frekuensi pernapasan sesuai yang diharapkan 2. Irama napas sesuai yang diharapkan 3. Kedalaman inspirasi 4. Bernapas mudah 5. Tidak didapatkan penggunaan otot tambahan Keterangan: 1. 2. 3. 4. 5. 4. Jumat, 26-08-11 IV Keluhan ekstrim Keluhan berat Keluhan sedang Keluhan ringan Tidak ada keluhan a.

Setelah dilakukan tindakan keperawatan selama 3x24 jam, klien dapat mencapai pertukaran gas efektif, dengan kriteria

Manajemen Jalan Napas 1) Buka jalan napas, gunakan tekhnik chin lift atau jaw

hasil:

Respiratory Status: Gas Exchange N o 1. 2. 3. 4. 5. Indikator Dispneu saat bernapas tidak ada Tidak terdapat kelemahan Sianosis tidak ada Somnolen tidak ada Status mental dalam rentang yang diharapkan Awal 1 2 Tujuan 3 4 5 b.

Keterangan: 1. 2. 3. 4. 5. 5. Jumat, 26-08-11 V Keluhan ekstrim Keluhan berat Keluhan sedang Keluhan ringan Tidak ada keluhan a.

thrust bila perlu 2) Posisikan pasien untuk memaksimalkan ventilasi. Identifikasi pasien untuk perlunya pemasangan alat jalan napas buatan 3) Keluarkan secret dengan batuk atau suctionAuskultasi suara napas, catat bila ada suara napas tambahan 4) Monitor status respirasi dan saturasi O2 5) Berikan pelembab udara 6) Atur intake cairan untuk mengoptimalkan keseimbangan Monitor Respirasi 1) Monitor rata-rata, kedalaman dan usaha respirasi 2) Catat pergerakan dada, amati kesimetrisan, penggunaan otot tambahan, retraksi otot supraclavicular dan intercostals 3) Monitor suara napas 4) Monitor pola napas: bradipnea, takipnea, kusmaull, hiperventilasi, cheyne stokes, biot 5) Palpasi ekspansi paru 6) Auskultasi suara paru sebelum dan setelah dilakukan tindakan suksion 7) Monitor kelelahan otot diafragma

Setelah dilakukan tindakan keperawatan selama 3x24 jam, klien dapat menurunkan risiko cedera, dengan kriteria hasil:

Menejemen Lingkunagn 1) Sediakan lingkungan yang aman bagi pasien 2) Mengidentifikasi kebutuhan keamanan pasien, sesuai dengan kondisi fisik, kognitif, dan riwayat penyakit klien 3) Menghindarkan lingkungan yang berbahaya 4) Memberikan penerangan yang cukup

Kontrol Risiko N o 1. 2. 3. 4. 5. Indikator Pengetahuan tentang risiko Memonitor factor risiko dari lingkungan Mengembangkan strategi control risiko yang efektif Memperoleh imunisasi yang sesuai Memonitor perubahan status kesehatan Awal 1 2 Tujuan 3 4 5

5) Memasang side rail tempat tidur 6) Membatasi pengunjung

Keterangan: 1. 2. 3. 4. 5. 6 Jumat, 26-08-11 VI Tidak pernah menunjukkan Jarang menunjukkan Kadang-kadang menunjukkan Selalu menunjukkan Selalu menunjukkan Regulasi Temperatur 1) Monitor secara teratur temperatur tubuh 2) Monitor warna kulit 3) Monitor tanda dan gejala terjadinya hipotermia dan hipertermia 4) Dorong masukan nutrisi dan cairan yang adekuat 5) Kolaborasi enggunaan obat-obatan antipiretik

Setelah dilakukan tindakan keperawatan selama 3x24 jam, a. klien dapat mencapai suhu tubuh yang terkontrol, dengan kriteria hasil:

Thermoregulation: Neonatus N o 1. 2. 3. 4. 5. 6. Indikator Temperatur tubuh sesuai yang diharapkan Temperatur kulit sesuai yang diharapkan Denyut nadi sesuai yang diharapkan Menggigil saat kedinginan Tidak ada perubahan warna kulit Pernapasan sesuai yang diharapkan Awal 1 2 Tujuan 3 4 b. 5 Monitor Tanda-Tanda Vital 1) Ukur tekanan darah, respirasi, nadi dan suhu 2) Monitor irama dan frekuensi jantung 3) Monitor irama dan frekuensi paru-paru

Keterangan: 1. 2. 3. 4. 5. 7. Jumat, 25-08-11 VII Keluhan ekstrim Keluhan berat Keluhan sedang Keluhan ringan Tidak ada keluhan a. Perlindungan terhadap Infeksi 1) Monitor secara sistemik dan lokal tanda dan gejala infeksi 2) Monitor kadar granulocyte, WBC, dan hasil yang

Setelah dilakukan tindakan keperawatan selama 3x24 Jam Klien dapat menurunkan terjadinya risiko infeksi, dengan kriteria hasil:

a. Status Imun N Indikator o 1. Tanda dan gejala infeksi berulang tidak ada 2. Status respirasi 3. Suhu tubuh 4. Integritas kulit 5. Integritas membran mukus Keterangan: 1. 2. 3. 4. 5.

Awal

Tujuan 3 4

3) 4) 5) 6) 7)

berbeda Batasi jumlah pengunjung Kaji proses penyebaran infeksi pada klien Anjurkan masukan nutrisi yang adekuat Anjurkan masukan cairan yang adekuat Instruksikan klien untuk mengonsumsi antibiotik sesuai dengan order

b.

Tidak pernah menunjukkan Jarang menunjukkan Kadang-kadang menunjukkan Sering menunjukkan Selalu menunjukkan

Kontrol Infeksi 1) Bersihkan ruangan sebelum digunakan oleh klien 2) Gunakan universal precaution 3) Anjurkan pengunjung untuk mencuci tangan sebelum dan sesudah menemui klien 4) Gunakan sabun antimikrobial untuk membersihkan tangan 5) Lakukan proses imunisasi 6) Lanjutkan pemberian imunisasi

b. Kontrol Terhadap Risiko N Indikator Awal o 1. Pemahaman mengenai 2 risiko 2. Memonitor faktor 3 risiko lingkungan

Tujuan 3 4 *

5 *

3. 4.

Memonitor faktor risiko kebiasaan individu Menggunakan teknik untuk mengontrol risiko

3 3

* *

Keterangan: 1. 2. 3. 4. 5. Tidak pernah dilakukan Jarang dilakukan Kadang-kadang dilakukan Sering dilakukan Selalu dilakukan

DAFTAR PUSTAKA

Johnson, M., Meriden M.,Sue M. 2000. Nursing Outcome Classification (NOC). St. Louis Baltimore: Mosby. Mansjoer, A., Kuspuji T, Rakhmi S, Wahyu IW, Wiwiek S. 2001. Kapita Selekta Kedokteran Jilid 2. Jakarta: Media Aesculapius FK UI Mc Closkey, JC., Gloria MB. 2000. Nursing Intervention Classification (NIC). St. Louis Baltimore: Mosby. NANDA. 2011. Nursing Diagnosis: Definition and Classification. Philadelphia: NANDA International

LAMPIRAN

Lampiran 1. Pathway Ensefalitis supuratif akut Bakteri: Staphylococcus aureus Streptokok E coli M. tuberculosa T. pallidium Pernanahan kortek serebri Abses serebri Abses: Paru-paru Bronkiektasis Empiema Osteomielitis tengkorak Fraktur terbuka Trauma tembus otak Penjalaran langsung dari otak (otitis media, mastoiditis, sinusitis) Ensefalitis virus Virus RNA: Virus parotitits Virus morbili Virus rabies Virus rubella Virus ensefalitis Jepang B Virus dengue Virus polio Cocksakie A Cosksakie B Echovirus Virus coriomeningest i limfositaria Virus DNA: Virus herpes zoster Varisella, Herpes simpleks Sitomegalovirus Variola Vaksinia AIDS

Masuk melalui kulit, saluran napas, dan saluran cerna Penyebaran: setempat, hematogen primer, dan saraf-saraf Peradangan jaringan otak Trias Ensefalitis: Deman Kejang Kesadaran menurun Peningkatan TIK: Nyeri kepala yang kronik Papil edema Muntah proyektil Ensefalitis supuratif akut Hipertermi Risiko trauma Nyeri kronik Risiko ketidakseimbangan nutrisi: kurang dari kebutuhan tubuh Risiko infeksi Gangguan mobiitas fisik Gangguan sensori persepsi Risiko kerusakan integritas kulit Risiko ketidakefektifan jaringan otak Peradangan jaringan otak Konvulsi Gangguan kesadaran Hemiparesis Paralisis Bulbaris Nyeri Kaku Kuduk Penurunan daya tahan tubuh Ensefalitis virus