Anda di halaman 1dari 59

PROYEK AKHIR

RANCANG BANGUN RANGKAIAN FULL BRIDGE CONVERTER DAN THREE PHASE INVERTER SEBAGAI PENGGERAK MOBIL LISTRIK BERBASIS MIKROKONTROLLER (THREE PHASE INVERTER)
Dimas Pungky Pradana NRP.7307.030.017

Dosen Pembimbing : Ir. M. Zaenal Effendi, MT. NIP. 19681208 199303 1 001 Ir. Era Purwanto, M.Eng NIP. 19610601 198701 1 001

JURUSAN TEKNIK ELEKTRO INDUSTRI POLITEKNIK ELEKTRONIKA NEGERI SURABAYA INSTITUT TEKNOLOGI SEPULUH NOPEMBER 2010 1

PROYEK AKHIR

RANCANG BANGUN RANGKAIAN FULL BRIDGE CONVERTER DAN THREE PHASE INVERTER SEBAGAI PENGGERAK MOBIL LISTRIK BERBASIS MIKROKONTROLLER (THREE PHASE INVERTER)
Dimas Pungky Pradana NRP.7307.030.017

Dosen Pembimbing : Ir. M. Zaenal Effendi, MT. NIP. 19681208 199303 1 001 Ir. Era Purwanto, M.Eng NIP. 19610601 198701 1 001

JURUSAN TEKNIK ELEKTRO INDUSTRI POLITEKNIK ELEKTRONIKA NEGERI SURABAYA INSTITUT TEKNOLOGI SEPULUH NOPEMBER SURABAYA 2010

RANCANG BANGUN RANGKAIAN FULL BRIDGE CONVERTER DAN THREE PHASE INVERTER SEBAGAI PENGGERAK MOBIL LISTRIK BERBASIS MIKROKONTROLLER (THREE PHASE INVERTER) Oleh: Dimas Pungky Pradana NRP.7307.030.017 Proyek Akhir ini Diajukan Sebagai Salah Satu Syarat Untuk Memperoleh Gelar Ahli Madya (A.Md) Di Politeknik Elektronika Negeri Surabaya Institut Teknologi Sepuluh Nopember Disetujui oleh : Dosen Pembimbing Tim Penguji Proyek Akhir

1. Ainur Rofiq Nansur, ST, MT NIP. 19640713198903 1 005

1.

Ir. M. Zaenal Effendi, MT. NIP.19681208199303 1 001

2. Renny Rakhmawati, ST. MT. NIP. 19721024199903 2 001 Ir Abdul Nasi31 964 534 3. Epyk Sunarno, SST. MT. NIP. 19620723199103 1 002

2.

Ir. Era Purwanto, M.Eng NIP. 19610601 198701 1 001

Surabaya, 30 Juli 2010 Mengetahui, Ketua Jurusan Teknik Elektro Industri

Ainur Rofiq Nansur, ST, MT NIP. 19640713198903 1 005

iii

ABSTRAK Pada Proyek akhir ini dibuat sebuah modul inverter 3 fasa berbasis mikrokontroler sebagai penggerak mobil listrik yang digunakan untuk mengatur kecepatan motor induksi 3 fasa pada mobil listrik sebagai mesin penggerak. Rangkaian inverter 3fasa sebagai masukan motor induksi 3 fasa ini menggunakan Mikrokontroller ATMega 16 dengan menggunakan bahasa C untuk menghasilkan PWM(Pulse Width Modulation) yang nantinya sinyal PWM digunakan untuk masukan rangkaian IR2130 sebagai driver inverter 3 phasa yang menyediakan virtual ground dan death time antar pulsa sehingga memberikan faktor kemudahan dan keamanan lebih pada rangkaian inverter 3phasa. Hasil dari keluaran rangkaian IR2130 akan digunakan untuk menyulut mosfet pada rangkaian inverter 3 fasa dengan mode konduksi 180 dan frekuensi penyulutan yang variable yaitu 10 - 50Hz. Kata kunci: Inverter 3 fasa, Mikrokontroller, ATMega16, IR2130

iv

ABSTRACT At this final project had created 3 phase inverter module based microcontroller as electric vehicle mover that used to control 3 phase induction motor speed in electric vehicle. This 3 phase inverter circuit using microcontroller ATMEGA16 programmed by C Language to produce PWM(Pulse Width Modulation) signal, that will be an input of 3 phase Inverter driver IR2130 as 3 phase inverter driver that provide virtual ground and dead time of each pulse at once, this ability bring easiness and safeness in 3 phase inverter circuit. The Output signal will be used to trigger mosfet in Inverter circuit with 1800conduction mode and variable trigger frequency between 10-50 Hz. Key Words: : 3 Phase Inverter, Microcontroller, ATMega16, IR2130

KATA PENGANTAR

Syukur Alhamdulillah kami panjatkan kepada Allah SWT karena hanya dengan rahmat, hidayah dan inayah-Nya kami dapat menyelesaikan proyek akhir ini dengan judul: RANCANG BANGUN RANGKAIAN FULL BRIDGE CONVERTER DAN THREE PHASE INVERTER SEBAGAI PENGGERAK MOBIL LISTRIK BERBASIS MIKROKONTROLLER (THREE PHASE INVERTER) Dalam menyelesaikan proyek akhir ini, penulis berpegang pada teori yang pernah didapatkan dan bimbingan dari dosen pembimbing proyek akhir. Dan pihak pihak lain yang sangat membantu hingga sampai terselesaikannya proyek akhir ini. Proyek akhir ini merupakan salah satu syarat akademis untuk memperoleh gelar Ahli Madya (Amd) di Politeknik Elektronika Negeri Surabaya, Institut Teknologi Sepuluh Nopember Surabaya. Penulis menyadari bahwa masih banyak kekurangan pada perancangan dan pembuatan buku proyek akhir ini. Oleh karena itu, besar harapan penulis untuk menerima saran dan kritik dari para pembaca. Semoga buku ini dapat memberikan manfaat bagi para mahasiswa Politeknik Elektronika Negeri Surabaya pada khususnya dan dapat memberikan nilai lebih untuk para pembaca pada umumnya.

Surabaya, Juli 2010

Penulis

vi

UCAPAN TERIMA KASIH


Puji syukur kehadirat Allah S.W.T. dan tanpa menghilangkan rasa hormat yang mendalam, saya selaku penyusun dan penulis mengucapkan terima kasih yang sebesar-besarnya kepada pihak-pihak yang telah membantu penulis untuk menyelesaikan proyek akhir ini, penulis mengucapkan terima kasih kepada : Allah SWT, karena Perlindungan, Pertolongan, dan Ridho-Nya saya mampu menyelesaikan Proyek Akhir ini serta hambanya yang termulia Nabi Besar Muhammad SAW. 2. Bapak dan Ibuku tercinta yang selalu memberikan doa dan perhatiannya kepadaku. 3. PENS-ITS yang telah membesarkan dan memberikan banyak pelajaran yang sangat berharga dalam hidupku. 4. Jurusan Elektro Industri yang telah memberikan ruang bagiku untuk belajar dan berkarya. 5. Bapak Dr. Ir. Dadet Pramadihanto, M.Eng, selaku Direktur Politeknik Elektronika Negeri Surabaya. 6. Bapak Ainur Rofiq Nansur, ST. MT, selaku Ketua Jurusan Teknik Elektro Industri. 7. Bapak Ir. Zaenal Effendi, MT dan bapak Ir. Era Purwanto, M.Eng selaku dosen pembimbing Proyek Akhir saya serta para dosen penguji yang memberikan tambahan-tambahan dalam penyempurnaan proyek akhir saya. 8. Bapak/ Ibu dosen pengajar Jurusan Elektro Industri yang menyumbangkan ilmunya kepadaku. 9. Rekan kerja TA, Anintiya, Hari, Helmi, Cipto, Asrul yang telah tulus ikhlas bersama-sama mengerjakan Proyek Akhir. 10. Teman-teman Elektro Industri angkatan 2007 terutama kelas D3 ELIN A yang selalu menemani penyelesaian Proyek Akhir ini. 11. Semua pihak yang telah membantu penulis hingga terselesainya proyek akhir ini yang tidak dapat penulis sebutkan. Semoga Allah S.W.T selalu memberikan perlindungan, rahmat dan nikmat-Nya bagi kita semua. Amin. 1.

vii

DAFTAR ISI
HALAMAN JUDUL ....................................................................... HALAMAN PENGESAHAN ......................................................... ABSTRAK ....................................................................................... ABSTRACT..................................................................................... KATA PENGANTAR..................................................................... UCAPAN TERIMA KASIH .......................................................... DAFTAR ISI ................................................................................... DAFTAR GAMBAR....................................................................... DAFTAR TABEL ........................................................................... BAB I. PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang ........................................................... 1.2 Tujuan ........................................................................ 1.3 Perumusan Masalah ..................................................... 1.4 Batasan Masalah ......................................................... 1.5 Metodologi. ................................................................. 1.6 Tinjauan Pustaka ......................................................... 1.7 Sistematika Pembahasan ............................................. i ii iii iv v vi vii xi xiv

1 1 2 2 2 3 4

BAB II. DASAR TEORI 2.1 Inverter 2.1.1 Inverter 3 Phasa 2.1.1.1 Mode Konduksi 120 o 2.1.1.2 Mode Konduksi 180 o. 2.2 Metode switching 2.2.1 Square wave 2.2.2 Single Pulse Width Modulation (PWM) 2.2.3 Multiple Pulse PWM 2.2.3 Sinusoidal PWM a. Unipolar SPWM b. Bipolar SPWM 2.3 Metaloxide Semiconductor Fet (MOSFET) 2.3.1 Simbol Rangkaian MOSFET 2.3.2 MOSFET Sebagai Switch

6 7 7 9 10 10 11 12 13 13 15 16 16 17

viii

2.3.3 Karakteristik MOSFET 2.4 MIKROKONTROLER 2.4.1. Gambaran Umum 2.4.2.1. CPU 2.4.2.2. Alamat 2.4.2.3. Data 2.4.2.4. Pengendali 2.4.2.5. Memori 2.4.2.6. RAM 2.4.2.7. ROM 2.4.2.8. Input / Output 2.4.3. Mikrokontroller AVR 2.4.4. Mikrokontroler AVR ATmega 16 2.4.5. Konfigurasi Pin AVR ATmega 16 2.5 Liquit Crystal Display (LCD 16x2) BAB III. PERENCANAAN DAN PEMBUATAN 3.1 Perencanaan Sistem Hardware 3.2 Motor Induksi 3 fasa 3.3 Perencanaan Baterai (Accu) ......................................... 3.4 Perencanaan Inverter 3 Phase ....................................... 3.5 Perencanaan Sistem Software ....................................... BAB IV. PENGUJIAN DAN ANALISA 4.1 Pendahuluan 4.2 Tujuan Pengujian ......................................................... 4.2 Pengujian Inverter .......................................................

18 19 20 20 20 20 21 21 21 21 21 21 22 22 25

27 27 28 29 32

33 33 43

BAB V.

PENUTUP 5.1 Kesimpulan 5.2 Saran ............................................................................

61 62 63

DAFTAR PUSTAKA .....................................................................

ix

BAB II TEORI PENUNJANG


Dalam bab ini akan dijelaskan tentang teori-teori yang mendukung dalam pembuatan rangkaian mikrokontroler sebagai driver inverter 3fasa. Inverter1 Inverter adalah rangkaian konverter dari DC ke AC, yang mempunyai fungsi mengubah tegangan input DC menjadi tegangan output AC simetri dengan besar dan frekuensi yang diinginkan. Tegangan outputnya bisa tertentu ataupun berubah-ubah, dengan frekuensi tertentu ataupun dengan frekuensi yang berubah-ubah. Tegangan output variabel didapat dengan mengubah-ubah tegangan input DC dan agar inverter konstan. Disisi lain apabila tegangan input DC adalah tertentu dan tidak bisa diubah-ubh, bisa didapatkan tegangan output yang variabel dengan mengubah-ubah gain dari inverter yang biasanya dilakukan dengan kontrol PWM. Didalam inverter. Gain inverter didefinisikan sebagai rasio tegangan output AC terhadap tegangan output DC. Bentuk gelombang tegangan output inverter ideal adalah sinus.Tetapi kenyataannya bentuk gelombang tegangan output inverter tidaklah sinus dan mengandung harmonisa tertentu. Untuk penerapan dengan daya rendah dan menengah, gelombang kotak simetri ataupun tidak simetri bisa digunakan, sedangkan untuk penerapan tegangan tinggi dibutuhkan untuk gelombang sinus dengan sedikit distorsi. Dengan kemampuan piranti semikonduktor daya kecepatan tinggi yang tersedia, kandungan harmonisa dalam bentuk gelombang output bias dikurangi dengn teknik penyakelaran. Beberapa tipe inverter adalah Inverter Sumber Tegangan (VoltageSource Inverter VSI) dan Inverter Sumber Arus (Current Source InverterCSI). Tetapi karena hanya digunakan terbatas pada motor berdaya sangat tinggi, CSI tidak banyak didiskusikan. 2.1

Muhammad H. Rashid, Power Electronics Circuits, Devices, and Applications 3, Prentice Hall, 2004

Ada dua jenis inverter yang sering digunakan pada sistem tenaga listrik yaitu: 1. Inverter dengan tegangan dan frekuensi yang konstan CVCF (Constant Voltage Constant frequency). 2. Inverter dengan tegangan dan frekuensi keluaran yang Berubah-ubah. 2.1.1 Inverter 3 fasa2 Inverter 3 fasa digunakan untuk penerapan daya tinggi. Keluaran 3 fasa didapat dari sebuah konfigurasi dari enam transistor dan enam buah dioda, seperti yang terlihat pada Gambar 2.1. Apabila transistor Q1 di-ON-kan, terminal a dihubungkan ke terminal positif tegangan sumber DC. Apabila transistor Q4 di-ON-kan, terminal a dihubungkan ke terminal negatif sumber DC.

Gambar 2.1 Rangkaian inverter 3 fasa Ada enam mode kerja dalam satu siklus dan lama masing-masing mode adalah 60o. Pada proses penyulutan terdapat dua mode konduksi penyalaan, yaitu mode konduksi 120o dan 180o. 2.1.1.1 Mode konduksi 120 o Transistor diberi nomor dalam urutan penyalaan transistor yaitu 12, 23, 34, 45, 56 dan 61. Hal ini dapat dilihat pada Gambar 2.2 yang disertai dengan bentuk gelombang tegangan dan arus keluaran inverter.

Ibid, Hal 235

Gambar 2.2 mode konduksi 1200 keenam mosfet

Untuk menghitung tegangan line to netral dan tegangan line to line, mengikuti persamaan berikut:

Ibid, Hal 236

Van = Vab =

n =3,5,...

2V s

cos

n sin(t + )......................................2.1 6 6

2 3V s n cos sin(t + )..................................2.2 6 6 n n =3,5,...

Keterangan: Vab = tegangan line-line, Van = tegangan line-netral Vs = tegangan sumber 2.1.1.2 Mode Konduksi 180 o Pada konduksi 180 o, urutan penyalaan / switch mosfet adalah sepanjang 180 derajat dan selisih 60 derajat mosfet no.2 konduksi, 120 derajat kemudian mosfet no.3 konduksi, begitu seterusnya. seperti yang terlihat pada Gambar 2.3.

Gambar 2.3 mode konduksi 1200 keenam mosfet


3

Ibid, Hal 238

10

Untuk lebih jelasnya urutan penyalaan Mosfet dapat dilihat pada Tabel 2.1 : Tabel 2.1 urutan penyalaan mosfet mode konduksi 1800 No. 1. 2. 3. 4. 5. 6. Derajat 0 - 60 60 - 120 120 - 180 180 - 240 240 300 300 360 Kondisi Mosfet On Mosfet 5, 6,1 Mosfet 6,1,2 Mosfet 1,2,3 Mosfet 2,3,4 Mosfet 3,4,5 Mosfet 4,5,6

2.2

Metode Switching Ada beberapa teknik yang digunakan dalam metode switching inverter, yaitu: 1. Square-wave 2. Single Pulse Width Modulation (PWM) 3. Multiple Pulse PWM 4. Sinusoidal PWM 5. Modified SPWM

2.2.1

Square-wave Adalah metode penyulutan inverter 3 fasa menggunakan gelombang kotak. Bentuk metode switching square wave terdapat pada Gambar 2.4.

Gambar 2.4 Gelombang persegi Nilai tegangan output untuk fase positif :

11

Vo (t ) = Vdc untuk 0 t Nilai tegangan output untuk fase negative : Vo (t ) = Vdc untuk t 2
Fourier series:

Vo =

4Vdc

sin nt ................................................ (2.3) n n =3,5,...

V1rms =

4Vdc

................................................................ (2.4)

2.2.2 Single Pulse Width Modulation (PWM) Penyulutan Mode ini hanya menggunakan pulsa trigger berupa gelombang kotak. Gambar 2.5 adalah contoh gelombang PWM.

Gambar 2.5 Pembentukan gelombang single PWM

n sin 2 Vo = n =3,5,... n Sehingga didapatkan Voutput: 4Vdc

sin nt .................................... (2.5)

12

V1rms =

4Vdc sin

n 2 .......................................................... (2.6)

Pada kontrol gelombang persegi, hanya terdapat satu periode positif dan negatif per-setengah siklus dan besar frekuensi bergantung dari besar frekuensi dari sinyal pembawa, untuk mengontrol tegangan output inverter. Pengelompokan sinyal dikerjakan dengan membandingkan sebuah sinyal referensi sumber dc amplitudo Ar, dengan amplitudo gelombang pembawa segitiga, Ac. Frekuensi sinyal pembawa menunjukkan frekuensi dasar tegangan output. Dengan mengubah-ubah Ar sampai Ac, lebar gelombang dapat diubah dari 0 sampai 180. Perbandingan Ar dan Ac ialah variabel kontrol dan diartikan sebagai amplitude index modulation. Amplitudo indeks modulasi atau indeks modulasi sederhana. Ar ......................................................................... (2.7) M = Ac 2.2.3 Multiple Pulse PWM Isi harmonisa dapat dikurangi dengan menggunakan beberapa pulsa pada masing-masing setengah periode tegangan output. Dengan membandingkan sinyal referensi dengan sebuah gelombang pembawa segitiga. Frekuensi sinyal referensi mengatur frekuensi output, fo, dan frekuensi pembawa, fc, menunjukkan jumlah pulsa per-setengah siklus, p. Indeks modulasi mengontrol tegangan output. Tipe modulasi ini dengan Uniform Pulse Width Modulation (UPWM). Jumlah pulsa persetengah siklus dapat dicari dari Gambar 2.6 : P=nomor pulsa setengah periode P

Gambar 2.6 Pembentukan gelombang multiple PWM

13

V0rms =

2p 2

+ 2p 2
2p 2

dc dt

............................................ (2.8)

Vdc =

................................................................... ... (2.9)

Faktor distorsi berkurang drastis dibanding modulasi satu pulsa. Bagaimanapun juga, karena jumlahnya besar proses switching on dan off dari transistor daya, rugi switching akan bertambah. Dengan nilai p yang lebih besar, amplitudo harmonisa orde rendah akan lebih rendah, tetapi amplitudo harmonisa orde tinggi akan meningkat. Bagaimanapun juga harmonisa orde tinggi menghasilkan ripple yang dapat diabaikan atau dapat difilter keluar dengan mudah. 2.2.4 Sinusoidal PWM SPWM sendiri terdiri dari 2 metode yaitu: a. Unipolar SPWM b. Bipolar SPWM a.Unipolar SPWM Disamping mengatur lebar semua pulsa sama seperti pada multiple PWM, lebar masing-masing pulsa bermacam-macam dalam proporsi amplitudo gelombang sinus yang dievaluasi pada pulsa-pulsa yang sama. Faktor distorsi dan harmonisa orde rendah dikurangi secara drastis. Proses pembentukan dikerjakan dengan membandingkan sinyal referensi sinusoida dengan frekuensi gelombang pembawa segitiga, fc. Tipe modulasi ini biasanya digunakan pada aplikasi industri dan disingkat SPWM. Frekuensi sinyal referensi, fr menunjukkan frekuensi output inverter, fo, dan amplitudo puncaknya, Ar, mengatur indeks modulasi, m, dan menentukan tegangan output rms, Vo. Besar pulsa persetengah siklus bergantung pada frekuensi pembawa. Dengan pemaksaan dua transistor dengan lengan yang sama (Q1 & Q4) tidak terbias bekerja pada waktu bersamaan, tegangan output. Pengelompokan sinyal yang sama dapat dijalankan dengan menggunakan gelombang pembawa segitiga sama kaki. Gambar 2.7 menunjukkan bagian-bagian unipolar SPWM.

14

Gambar 2.7 Bentuk gelombang unipolar SPWM Keterangan gambar : a. Sinyal carier dan modulasi b. Switch state c. Switch 2+ state d. Vout ac e. Spektrum vout ac f. Iout ac g. Arus dc h. Spektrum arus dc i. Switch 1+ current j. Diode 1+ current Tegangan output rms dapat diubah dengan mengubah indeks modulasi, m. Hal ini dapat diamati bahwa daerah masing-masing pulsa berhubungan mendekati daerah dibawah gelombang sinus diantara mendekati titik tengah periode off pada pengelompokan sinyal. Jika m ialah lebar pulsa mth .

15

Bipolar SPWM Bentuk gelombang daripada Sinusoida PWM bipolar sebenarnya hampir sama dengan bentuk gelombang dari tegangan persegi (square wave). Bedanya, pada gelombang sinusoida PWM bipolar terdapat perbedaan lebar pulsa pada fase positif dan fase negatifnya, dan akan periodik sesuai dengan frekuensi dari tegangan referensinya. Bentuk gelombang sinusoida PWM bipolar ini diperoleh dengan mengkomparasi antara gelombang segitiga (triangle wave) dengan gelombang sinusoida murni. Lebar daripada fase positif dan fase negatifnya dapat diatur dengan mengontrol besarnya indeks modulasi, yaitu perbandingan amplitudo dari tegangan carrier (gelombang segitiga) terhadap amplitudo tegangan referensi (gelombang sinusoida murni). Proses terjadinya bentuk gelombang sinusoida PWM bipolar ini dapat dilihat pada gambar berikut :

b.

Gambar 2.8 Bentuk gelombang bipolar SPWM Dari bentuk gelombang sinusoida PWM bipolar ini, besar harmonisa orde tertentu dapat direduksi dengan menetukan derajat dan lebar dari masing-masing fasa positif dan negatifnya.

16

Metaloxide Semiconductor Fet (MOSFET) Dalam JFET, besar keefektifan pada channel dikontrol oleh medan listrik yang diberikan ke channel melalui P-N junction. Bentuk lain dari piranti pengaruh medan dicapai dengan penggunaan bahan elektroda gate yang dipisahkan oleh lapisan oxide dari channel semikonduktor. Pengaturan metal oxide semikonduktor (MOS) mengijinkan karakteristik channel dikontrol oleh medan listrik dengan memberikan tegangan diantara gate dan body semikonduktor dan pemindahan melalui lapisan oxide. Seperti halnya piranti yang disebut dengan MOSFET atau MOS Transistor. Hal ini penting digaris bawahi dengan kenyataan bahwa IC lebih banyak dibuat dengan piranti MOS dari pada jenis piranti semikonduktor lain. Ada dua tipe MOSFET. Deplesi MOSFET mempunyai tingkah laku yang sama dengan JFET pada saat tegangan gate nol dan tegangan drain tetap, arus akan maksimum dan kemudian menurun dengan diberikan potensial gate dengan polaritas yang benar (piranti normally on). Jenis yang lain dari piranti ini disebut dengan Enhancement MOSFET yang menunjukkan tidak ada arus pada saat tegangan gate nol dan besar arus keluaran besar dengan bertambah besar potensial gate (normally off). Kedua tipe dapat berada dalam salah satu jenis channel P atau N. 2.3.1. Simbol Rangkaian MOSFET Terdapat 4 simbol yang digunakan untuk MOSFET yang ditunjukkan pada Gambar 2.9. Simbol-simbol pada Gambar (a) dan (b) merupakan Mosfet tipe N yang digunakan untuk enhancement dan depletion device. Simbol pada Gambar (c) dan (d) merupakan Mosfet tipe P yang digunakan pada mode enhancement dan depletion device .

2.3

Gambar 2.9 Simbol MOSFET Pengertian positif untuk semua terminal arus menuju ke dalam piranti. Kemudian MOSFET chanel N, Id adalah positif dan Is adalah

17

negatif. Ketika Id = Is, Ig sebenarnya berharga nol. Tegangan drop diantara drain dan source didesain oleh Vds, Vgs digunakan untuk menunjukkan tegangan drop dari gate ke source. Untuk MOSFET channel P digunakan dengan arah reverse. Terminal arus dan terminal tegangan adalah negatif sebanding dengan kualitas MOSFET channel N. Source dan substrate dihubung singkatkan di dalam MOSFET channel P yang standard. 2.3.2 MOSFET Sebagai Switch MOSFET digunakan secara ekstensif dalam rangkaian digital, piranti ini memiliki karakteristik switch. Rangkaian yang ditunjukkan pada Gambar 2.10. menunjukkan pengoperasian switch pengendali.

Gambar 2.10 Rangkaian Switch Pengendali Bentuk gelombang tegangan masukan dan keluaran rangkaian pada Gambar 2.10 adalah seperti terlihat pada Gambar 2.11. Untuk t<T, tegangan input 1,5 Volt, kemudian karakteristik V0 V1 pada Gambar 2.11, dapat diketahui bahwa V0 = 4 Volt. Arus ada rangkaian ID1 adalah nol. Karakteristik switch open ini seperti tegangan yang melewati switch cukup besar, sedangkan arus adalah nol. Untuk t>T, tegangan masukan adalah 5 Volt, Vo = 1,5 Volt dan ID1 = 250 A. Bentuk gelombang output ditampilkan pada Gambar 2.11.(b).

18

Gambar 2.11 Bentuk Gelombang Tegangan Input dan Output. 2.3.3. Karakteristik MOSFET MOFSET adalah semikonduktor FET oksida logam yang mempunyai sumber, gerbang dan penguras. Akan tetapi berbeda dengan JFET, gebang MOSFET diisolasikan dengan saluran. Maka arus gerbang sangat kecil, untuk gerbang positif atau negatif. MOSFET yang sangat penting dalam rangkaian-rangkaian digital dikenal dengan MOSFET jenis pengisian pada Gambar 2.12.

Gambar 2.12 MOSFET Jenis Pengisian (a) Struktur (b) Prategangan normal (c) Pembentukan ion negatif (d) Pembentukan Lapisan Inversi tipe-n Untuk memperoleh arus penguras, harus menerapkan tegangan yang cukup positif pada gerbang. Gerbang bekerja sebagai sebuah pelat kapasitor, dioksida silikon bekerja sebagai bahan dielektrik dan subtrat-p sebagai pelat kapasitor yang lain. Lapisan elektron bebas yang terbentuk berdampingan dengan dioksida silikon. Lapisan ini tidak bekerja sebagai suatu semikonduktor

19

tipe-p melainkan nampak sebagai konduktor tipe-n disebabkan oleh elektron-elektron bebas yang diimbas. Maka lapisan bahan p yang bersinggungan dengan dioksida silikon disebut sebuah lapisan inversi tipe-n. Tegangan gerbang sumber minimum yang menghasilkan lapisan inversi tipe-n disebut tegangan ambang (threshold voltage) dinyatakan dengan Vgs. Apabila tegangan gerbang kurang dari tegangan ambang, tidak ada arus yang mengalir dari sumber ke penguras. Tetapi apabila tegangan gerbang lebih besar dari tegangan ambang, lapisan inversi tipen menghubungkan sumber ke penguras dan diperoleh arus. Tegangan ambang tergantung pada tipe khusus dari MOSFET. Untuk MOSFET IRF 840 tegangan ambangnya 2v 4v. Gambar 2.13. memperlihatkan suatu kumpulan dari kurva kurva penguras MOSFET jenis pengisian. Lengkungan yang paling bawah adalah kurva Vgs. Apabila Vds kurang dari Vgs, arus penguras secara ideal sama dengan nol dan MOSFET berada pada keadaan tertentu. Apabila Vds lebih besar dari Vgs arus penguras muncul.

Gambar 2.13 Karakteristik Keluaran MOSFET Tipe Enchancement.

MIKROKONTROLER Mikrokomputer, mikroprosesor, dan mikrokontroler merupakan salah satu teknologi yang sudah banyak dikembangkan di dunia. Mikroprosesor adalah bagian CPU (central processing unit) dari sebuah komputer, tanpa memori, I/O, dan periferal yang dibutuhkan oleh suatu sistem lengkap. Supaya dapat bekerja, mikroprosesor memerlukan perangkat pendukung seperti RAM, ROM dan I/O.

2.4

20

2.4.1. Gambaran Umum Bila sebuah miroprosesor dikombinasi dengan I/O dan memori(RAM/ROM) akan dihasilkan sebuah mikrokomputer. Sebagai terobosan mikrokomputer ini dapat juga dibuat dalam bentuk single chip yaitu Single Chip Microcomputer (SCM) yang selanjutnya disebut sebagai mikrokontroler. Perbedaan yang menonjol antara mikrokomputer dengan mikrokontroler (SCM) adalah pada penggunaan perangkat I/O dan media penyimpan program. Bila mikrokomputer menggunakan disket atau hard drive lainnya maka mikrokontroler menggunakan EPROM sebagai penyimpan programnya. Sedangkan keuntungan mikrokontroler dibandingkan dengan mikroprosesor adalah pada mikrokontroler sudah terdapat RAM dan peralatan I/O pendukung sehingga tidak perlu menambahkannya. 2.4.2. Perlengkapan Dasar Mikrokontroller Sebuah mikrokontroller mempunyai beberapa perlengkapan dasar untuk membangun sebuah komunikasi dengan plant diantaranya yaitu central processor unit (CPU), alamat, data, pengendali, memori, RAM, ROM,dan Input/Output. 2.4.2.1. CPU Unit pengolah pusat (CPU) terdiri atas dua bagian yaitu unit pengendali (CU) serta unit aritmatika dan logika (ALU). Fungsi utama unit pengendali adalah untuk mengambil, mengkode, dan melaksanakan urutan instruksi sebuah program yang tersimpan dalam memori. Sedangkan unit aritmatika dan perhitungan bertugas untuk menangani operasi perhitungan maupun bolean dalam program. 2.4.2.2. Alamat Pada mikroprosesor/mikrokontroler, apabila suatu alat dihubungkan dengan mikrokontroler maka harus ditetapkan terlebih dahulu alamat (address) dari alat tersebut. Untuk menghindari terjadinya dua alat bekerja secara bersamaan yang mungkin akan meyebabkan kerusakan. 2.4.2.3. Data Mikrokontroler ATmega16 mempunyai lebar bus data 8 bit. Merupakan mikrokontroler CMOS 8-bit daya-rendah berbasis arsitektur RISC yang ditingkatkan.

21

2.4.2.4. Pengendali Selain bus alamat dan bus data mikroprosesor atau mikrokontroller dilengkapi juga dengan bus pengendali (control bus), yang fungsinya untuk menyerempakkan operasi mikroprosesor/mikrokontroler dengan operasi rangkaian luar. 2.4.2.5. Memori Mikroprosesor/mikrokontroler memerlukan memori untuk menyimpan program/data. Ada beberapa tingkatan memori, diantaran register internal, memori utama, dan memori massal. Sesuai dengan urutan tersebut waktu aksesnya dari yang lebih cepat ke yang lebih lambat. 2.4.2.6. RAM RAM (Random Acces Memory) adalah memori yang dapat dibaca atau ditulisi. Data dalam RAM akan terhapus bila catu daya dihilangkan. Oleh karena itu program mikrokontroller tidak disimpan dalam RAM. Ada dua teknologi yang dipakai untuk membuat RAM, yaitu RAM static dan RAM dynamic. 2.4.2.7. ROM ROM (Read Only Memory) merupakan memori yang hanya dapat dibaca. Data dalam ROM tidak akan terhapus meskipun catu daya dimatikan. Oleh karena itu ROM dapat digunakan untuk menyimpan program. Ada beberapa jenis ROM antara lain ROM murni, PROM, EPROM, EAPROM. ROM adalah memori yang sudah diprogram oleh pabrik, PROM dapat diprogram oleh pemakai sekali saja. Sedangkan EPROM merupakan PROM yang dapat diprogram ulang. 2.4.2.8. Input / Output I/O dibutuhkan untuk melakukan hubungan dengan piranti di luar sistem. I/O dapat menerima data dari alat lain dan dapat pula mengirim data ke alat lain. Ada dua perantara I/O yang dipakai, yaitu piranti untuk hubungan serial (UART) dan piranti untuk hubungan paralel (PIO). 2.4.3. Mikrokontroller AVR AVR merupakan seri mikrokontroller CMOS 8 bit buatan Atmel, berbasis RISC ( Reduced Instruction Set Computer ). Hampir semuainstruksi dieksekusi dalam satu siklus clock. AVR mempunyai 32 register general purpose ,timer/counter fleksibel dengan mode

22

compare,interrupt internal dan eksternal ,serial UART programmable Watchdog Timer, dan mode power saving. Beberapa diantaranya mempunyai ADC dan PWM internal. AVR juga mempunyai In-System Programmable Flash on chip yang mengijinkan memori program untuk diprogram ulang dalam sistem menggunakan hubungan serial SPI. Dibawah ini adalah langkah-langkah pemrogaman mikrokontroler avr : 1. Rangkaian Tanpa AVR

2. Membuat progam yang akan di download ke AVR

3 Gambar 2.14 Langkah- langkah pemrogaman mikrokontroler 2.4.4. Mikrokontroler AVR ATmega 16 AVR merupakan seri mikrokontroler CMOS 8-bit buatan Atmel, berbasis arsitektur RISC (Reduced Instruction Set Computer) yang ditingkatkan. Hampir semua instruksi dieksekusi dalam satu siklus clock. AVR mempunyai 32 register general-purpose, timer/counter fleksibel dengan mode compare, interrupt internal dan eksternal, serial UART, programmable Watchdog Timer, dan mode power saving. Mempunyai ADC dan PWM internal. AVR juga mempunyai In-System Programmable Flash on-chip yang mengijinkan memori program untuk diprogram ulang dalam sistem menggunakan hubungan serial SPI. ATmega16 adalah mikrokontroler CMOS 8-bit daya-rendah berbasis arsitektur RISC yang ditingkatkan. Untuk lebih jelas tentang arsitektur dari ATmega16 ditunjukan pada gambar 2.1.1. ATmega16 mempunyai throughput mendekati 1 MIPS per MHz membuat disainer sistem untukmengoptimasi komsumsi daya versus kecepatan proses. Beberapa keistimewaan dari AVR ATmega16 antara lain: 1. Advanced RISC Architecture

23

a. 130 Powerful Instructions Most Single Clock Cycle Execution b. 32 x 8 General Purpose Fully Static Operation c. Up to 16 MIPS Throughput at 16 MHz d. On-chip 2-cycle Multiplier 2. Nonvolatile Program and Data Memories a. 8K Bytes of In-System Self-Programmable Flash b. Optional Boot Code Section with Independent Lock Bits c. 512 Bytes EEPROM d. 512 Bytes Internal SRAM e. Programming Lock for Software Security 3. Peripheral Features a. Two 8-bit Timer/Counters with Separate Prescalers and Compare Mode b. Two 8-bit Timer/Counters with Separate Prescalers and Compare Modes c. One 16-bit Timer/Counter with Separate Prescaler, Compare Mode, and Capture Mode d. Real Time Counter with Separate Oscillator e. Four PWM Channels f. 8-channel, 10-bit ADC g. Byte-oriented Two-wire Serial Interface h. Programmable Serial USART 4. Special Microcontroller Features a. Power-on Reset and Programmable Brown-out Detection b. Internal Calibrated RC Oscillator c. External and Internal Interrupt Sources d. Six Sleep Modes: Idle, ADC Noise Reduction, Power-save, Power-down, Standby and Extended Standby. 5. I/O and Package a. 32 Programmable I/O Lines b. 40-pin PDIP, 44-lead TQFP, 44-lead PLCC, and 44-pad MLF 6. Operating Voltages a. 2.7 - 5.5V for ATmega16L b. 4.5 - 5.5V for Atmega16 2.4.5. Konfigurasi Pin AVR ATmega 16 Pin-pin pada ATmega16 dengan kemasan 40-pin DIP (dual in-line package) ditunjukkan oleh Gambar 2.15. Kemasan pin tersebut terdiri dari 4 Port yaitu Port A, Port B, Port C,Port D yang masing masing Port

24

terdiri dari 8 buah pin. Selain itu juga terdapat RESET, VCC, GND 2buah, VCC, AVCC, XTAL1, XTAL2 dan AREF.

Gambar 2.15 Pin-pin ATmega16 kemasan 40-pin Diskripsi dari pin-pin ATmega 16 adalah sebagai berikut : 1. VCC : Supply tegangan digital. 2. GND : Ground 3. Port A : Port A sebagai input analog ke A/D konverter. PortA juga sebagai 8-bit bi-directional port I/O, jika A/D konverter tidak digunakan. Pin-pin port dapat menyediakan resistor-resistor internal pull-up. Ketika port A digunakan sebagai input dan pull eksternal yang rendah akan menjadi sumber arus jika resistor-resistor pull-up diaktifkan. Pin-pin port A adalah tri-state ketika kondisi reset menjadi aktif sekalipun clock tidak aktif. 4. Port B : Port B adalah port I/O 8-bit bi-directional dengan resistorresistor internal pull-up. Buffer output port B mempunyai karaketristik drive yang simetris dengan kemampuan keduanya sink dan source yang tinggi. Sebagai input, port B yang mempunyai pull eksternal yang

25

rendah akan menjadi sumber arus jika resistor-resistor pull-up diaktifkan. Pin-pin port B adalah tri-state ketika kondisi reset menjadi aktif sekalipun clock tidak aktif. 5. Port C : Port C adalah port I/O 8-bit bi-directional dengan resistorresistor internal pull-up. Buffer output port C mempunyai karaketristik drive yang simetris dengan kemampuan keduanya sink dan source yang tinggi. Sebagai input, port C yang mempunyai pull eksternal yang rendah akan menjadi sumber arus jika resistor-resistor pull-up diaktifkan. Pin-pin port C adalah tri-state ketika kondisi reset menjadi aktif seklipun clock tidak aktif. Jika antarmuka JTAG enable, resistorresistor pull-up pada pin-pin PC5(TDI), PC3(TMS), PC2(TCK) akan diktifkan sekalipun terjadi reset. 6. Port D : Port D adalah port I/O 8-bit bi-directional dengan resistorresistor internal pull-up. Buffer output port D mempunyai karaketristik drive yang simetris dengan kemampuan keduanya sink dan source yang tinggi. Sebagai input, port D yang mempunyai pull eksternal yang rendah akan menjadi sumber arus jika resistor-resistor pull-up diaktifkan. Pin-pin port D adalah tri-state ketika kondisi reset menjadi aktif seklipun clock tidak aktif. 7. Reset : Sebuah low level pulsa yang lebih lama daripada lebar pulsa minimum pada pin ini akan menghasilkan reset meskipun clock tidak berjalan. 8. XTAL1 : Input inverting penguat Oscilator dan input intenal clock operasi rangkaian. 9. XTAL2 : Output dari inverting penguat Oscilator. 10. AVCC : Pin supply tegangan untuk PortA dan A/D converter .Sebaiknya eksternalnya dihubungkan ke VCC meskipun ADC tidak digunakan. Jika ADC digunakan seharusnya dihubungkan ke VCC melalui low pas filter. 11. AREF : Pin referensi analog untuk A/D konverter. Liquit Crystal Display (LCD 16x2) Penggunaan LCD bertujuan untuk memudahkan pemakai dalam berkomunikasi dengan peralatan yang sedang dikerjakan. Beberapa keuntungan dari penggunaan LCD antara lain : a. Dapat menampilkan karakter ASCII, sehingga memudahkan untuk membuat program tampilannya. b. Mudah diinterfacekan (dihubungkan) dengan port I/O, karena hanya menggunakan 8 Bit dan 3 Bit control. 2.5

26

c.

LCD TM162ABC-2 adalah LCD dengan karakter 16x2 baris. LCD ini dapat menampilkan 16 karakter per baris dan mempunyai ROM pembangkit karakter sebanyak 192 tipe karakter dengan font 5x7dot matrix.

Operasi dasar dari LCD ini terdiri dari empat kondisi, yaitu instruksi mengakses proses internal, instruksi menulis data, instruksi membaca kondisi sibuk dan instruksi membaca data. Tabel 2.1 memperlihatkan operasi dasar LCD Sedangkan alamat untuk tiap baris adalah sebagai berikut : 1. Baris 1, alamat 00H sampai 0FH 2. Baris 2, alamat 40H sampai 50H Tabel 2.1 Operasi dasar LCD

Gambar 2.16 Rangkaian LCD Gambar 2.16 adalah rangkaian skematik LCD 16 karakter serta gambar input dan output yang digunakan pada rangkaian LCD.

27

Halaman ini sengaja dikosongkan

28

BAB III PERENCANAAN DAN PEMBUATAN ALAT


Perencanaan Sistem Hardware Kendaraan Listrik yang kami rancang menggunakan sumber tegangan berupa 6 buah aki 12 volt 36 Ah dipasang seri dan dinaikkan dengan rangkaian penaik tegangan fullbridge dc-dc converter dari 72 volt dc menjadi 311 volt ac sebagai masukan rangkaian inverter 3 fasa yang digunakan untuk masukan motor induksi 3 fasa. Gambar 3.1 adalah blok diagram sistem mobil listrik secara utuh, tapi kami disini hanya mengerjakan rangkaian yang diblok. 3.1

Ket : Gambar 3.1 Blok Diagram Sistem Mobil Listrik Dalam merencanakan daya setiap rangkaian, kita menghitung mundur terlebih dahulu dari daya beban yang dalam proyek akhir ini menggunakan motor induksi 3 fasa dengan daya 2HP, tapi kita hanya menggunakan sebesar 1 kW. 3.2. Motor Induksi 3 fasa Pada proyek akhir ini dipilih motor induksi 3 fasa jenis asinkron dengan spesifikasi daya maksimum sebesar 2 HP yang dikopel dengan gear roda pada mobil listrik. Pada motor induksi 3 phase ini dihubungkan secara Delta, karena besar tegangan keluaran dari rangkaian inverter 3 phase kurang lebih 220 Volt.

29

Perencanaan Baterai (Accu) Pada proyek akhir ini dipilih baterai dengan spesifikasi tegangan 12V/36Ah yang diseri sebanyak 6 buah menjadi 72 volt. Hal ini dikarenakan untuk menaikkan tegangan dengan perbandingan terlalu besar yaitu 1:3 namun mampu dioperasikan dalam sistem hingga sekitar 1 jam. Namun sebenarnya dalam perancangan secara teoritis dibutuhkan baterai dengan kapasitas 60Ah. Perhitungan kapasitas ini didasarkan pada kebutuhan dari waktu pengoperasian atau pemakaian dalam sistem yang membutuhkan arus input 21,7 A. Desain Perhitungan Inverter 3 fasa dan pemakaian aki Efisiensi Inverter = 80 % Efisiensi = Pout Inverter/ Pin Inverter Pin Inverter = Pout Inverter/Eefisiensi = 1000/0,8 = 1250 Watt ; Pin Inverter = Pout Full bridge Efisiensi Full Bridge = 80 % Efisiensi = Pout Full Bridge/Pin Full Bridge Pin Full Bridge = Pout Full Bridge/Efisiensi = 1250 / 0,8 = 1562,5 Wattt Dari perhitungan diatas kita dapat mengetahui Arus masukan Full Bridge yang nilainya sama dengan arus yang dikeluarkan aki: Pin Full Bridge = Vin . In Iin = Pin Full Bridge/Vin = 1562,5/72 = 21,7 A Jika Asumsi lama pemakaian dari mobil listrik sekitar 3 jam, maka kapasitas aki harus :
Ta

3.3.

= m g Cg cos

= Iin Full Bridge x Lama Pemakaian (jam) = 21,07 x 3 = 63 AH Maka kapasitas baterai yang dibutuhkan adalah 63 Ah, namun baterai yang tersedia adalah dengan kapasitas 36 Ah sehingga memungkinkan beroperasi sekitar selama 1 jam. Keterangan : Ta

30

3.4

Perencanaan inverter 3 fasa

Untuk merancang inverter 3 fasa yang dapat disulut melalui mikrokontroller kami menggunakan rangkaian IR2130 sebelum masuk ke rangkaian inverter untuk menghasilkan pulsa penyulutan yang menyediakan death time antara pulsa Hi dan Low, rangkaian IR213, skematik dari rangkaian driver IR2130 bisa dilihat pada Gambar 3.2 :

31

Gambar 3.2 Rangkaian IR2130 Driver Inverter 3 fasa Keluaran dari rangkaian ini akan digunakan untuk mendrive rangkaian inverter yang terdiri dari 6 MOSFET.

32

Pada inverter 3 fasa yang akan kita buat terdiri dari 6 mosfet dengan konfigurasi seperti pada Gambar 3.3:

Gambar 3.3 Konfigurasi Rangkaian Inverter Untuk penyulutan inverter ini ada tiga masukan penyulutan yaitu Qa, Qb dan Qc ketika Qa on maka Q1 akan on dan Q4 akan off, ketika Qb on maka Q3 akan on dan Q6 off dan ketika Qc on maka Q5 on dan Q2 off, dari karakteristik tersebut maka untuk mendrive inverter ini dibutuhkan rangkaian logika not untuk mendrive Q2, Q6 dan Q2. Gambar 3.4 adalah blok diagram sistem keseluruhan :

Gambar 3.4 Rangkaian Perencanaan Inverter 3 fasa Untuk mendesain rangkaian inverter 3 fasa yang baik diperlukan perhitungan nilai komponen-komponen yang tepat. Karena nilai

33

komponen yang tidak tepat, dapat menyebabkan hasil output yang kurang baik, seperti keluarnya ripple tegangan dan arus yang terlalu besar. Untuk mendesain rangkaian inverter 3 fasa, perlu ditetapkan terlebih dahulu beberapa variable, yaitu: Frekuensi inverter : 50Hz Tegangan output : 220 V Tegangan input : 311 V Perhitungan Rangkaian Inverter Daya motor : 1 KW Daya Inverter : 1,25 KW Tegangan motor : 220 V ( dihubungkan Delta ) Arus keluaran inverter: I = 1000/220 = 4,5 Ampere Tegangan antar line bisa dihitung secara teori dengan rumus berikut : VL-L Inverter :
VL-L(rms)= VLN Vdc 2 VLL 3 = ( = ,77 311 ) = 219.75V 220V 2 219,75 3

=126.87V 127V

Jadi untuk mendapatkan tegangan nominal 220 V untuk supply motor induksi 3 fasa kita harus memberi input tegangan dc sebesar 311,7 volt Frekuensi inverter : 50 Hz MOSFET yang digunakan adalah IRFP460

34

Untuk lebih memperjelas perencanaan, kami buat simulasi rangkaian inverter 3 fasa terlebih dulu seperti terlihat pada Gambar 3.5.

Gambar 3.5. Rangkaian Simulasi inverter 3 fasa pada PSIM Sedangkan untuk pulsa switching tiap-tiap Mosfet, bisa dilihat padaGambar3.6:

Gambar 3.6. Pulsa switching tiap-tiap Mosfet

35

Gambar 3.7. Tegangan keluaran line to lne Inverter 3 fasa.

36

Perencanaan Sistem Software Pada proyek akhir ini kami menggunakan software CodeVision C Compiler dan bahasa C sebagai bahasa pemrograman yang akan digunakan untuk memprogram ATMEGA16 untuk menyulut tiap-tiap mosfet pada rangkaian inverter 3 fasa. Flowchart pnyulutan pulsa untuk inverter 3 fasa adalah Gambar 3.8. berikut ;

3.5

Gambar 3.8. Gambar flowchart penyulutan Inverter

37

Dalam proyek akhir ini digunakan mikrokontroler AVR ATMEGA16 sebagai penyulutan mosfet pada rangkaian inverter 3 fasa dengan ketentuan-ketentuan pin-pin yang digunakan adalah sebagai berikut : Untuk penyulutan inverter digunakan mikrokontroler AVR ATMEGA16 Memory SRAM 1 Kbytes, EEPROM 512 Bytes, 32 KB ISP. 1. Clock yang digunakan 8 MHz 2. 32 programmable I/O lines 3. Tegangan operasi 4,5 5 volt. Perencanaan penggunaan port mikrokontroler dimaksudkan agar tidak terjadi kesalahan dalam pengalamatan saat pembuatan program. Berikut Tabel 3.1 adalah table perencanaan penggunaan port : Tabel 3.1 Perencanaan penggunaan port Nama ADC Enable Sinyal PWM U Sinyal PWM V Sinyal PWM W Timer LCD 16 karakter Port Port A Port C Port C Port C Port C Port C Port D I/O Input Output Output Output Output Output Output Keterangan Bit O Bit 2 Bit 3 Bit 4 Bit 5 Bit 6 -

Dari Tabel 3.1 bisa mempermudah dalam membuat program pada mikrokontroler ATMEGA16 menggunakan bahasa C dengan software Code AVR C Compiler.

38

BAB IV PENGUJIAN DAN ANALISA


Dalam bab ini akan dibahas tentang pengujian berdasarkan perencanaan dari sistem yang dibuat. Pengujiaan ini dilakukan untuk mengetahui unjuk kerja dari sistem dan untuk mengetahui apakah sudah sesuai dengan perencanaan atau belum. Pengujian terlebih dahulu dilakukan secara terpisah pada masing-masing unit rangkaian dan kemudiaan dilakukan ke dalam sIstem yang telah terintegrasi. Pengujian yang dilakukan dalam setiap tahap ini antara lain adalah : A. Pengujian rangkaian mikrokontroler. B. Pengujian rangkaian driver 2130. C. Pengujian rangkaian inverter Peralatan yang dipakai untuk pengukuran dan pengujiaan : 1. Multimeter digital 2. Rangkaian yang akan diuji 3. Motor induksi 3 fasa 4. DC supply 5. Kabel penghubung 6. Oscilocope Pendahuluan Dalam bab ini penulis melakukan pengujian pertama yaitu pengujian pembacaan ADC pada mikrokontroler ATMEGA16, hubungannya dengan perubahan frekuensi penyulutan inverter 3 fase serta pengujian rangkaian driver inverter 3 fasa IR2130. Tujuan Pengujian Tujuan dari pengujian ini adalah untuk mendapatkan suatu informasi data-data yang dibutuhkan untuk program, dan memperoleh data keakuratan sensor yang akan digunakan serta mengetahui performa dari integrasi sistem yang telah dibuat. Pengujian Driver IR 2130 Untuk pengujian inverter kami membutuhkan sumber penyulutan sumber DC. dengan memberikan data penyulutan pada Qa,Qb dan Qc 4.3 4.2 4.1

39

maka penulis dapat menguji keluaran dari inverter untuk masing-masing tabel switching. Pengaturan frekuensi pada inverter dilakukan dengan mengatur perubahan frekuensi pada sinyal PWM 3 fasa. Amplitudo PWM pada proyek akhir ini sebesar 15 V, dipilih besar tegangan 15V karena MOSFET IRFP460 bekerja pada 15 V. Untuk mengamankan rangkaian switching dan beban dari arus lebih dan gangguan lainnya maka digunakan IC driver IR2130. Driver ini juga menyediakan dead time, sehingga tidak memerlukan lagi dead time pada pembangkitan PWM 3 fasa. Gambar 4.1 sampai Gambar 4.6 adalah gambar gelombang tegangan pada saat percobaan :

Gambar 4.1 Gelombang PWM keluaran IR2130, fasa R-S frekuensi 10Hz

Gambar 4.2 Gelombang PWM keluaran IR2130, fasa R-S frekuensi 20 Hz

40

Gambar 4.3 Gelombang PWM keluaran IR2130 fasa R-S frekuensi 30 Hz

Gambar 4.4 Gelombang PWM keluaran IR2130 fasa R-S frekuensi 40 Hz

Gambar 4.5 Gelombang PWM keluaran IR2130 fasa R-S frekuensi 50 Hz

41

Data hasil pengujian rangkaian inverter ditunjukkan di dalam Tabel 4.1. Pengujian yang dilakukan dengan merubah frekuensi inverter dan melakukan pengukuran putaran kecepatan motor induksi 3 fasa, tegangan masukan rangkaian inverter, arus masukan rangkaian inverter, tegangan keluaran rangkaian inverter, dan arus keluaran rangkaian inverter. Pada pengujian rangkaian inverter ini dilakukan dengan memberikan frekuensi 10 sampai 50 Hz. Tabel 4.1 Data hasil pengujian rangkaian inverter 3 fasa Frekuensi (Hz) 10 20 30 40 50 50 50 50 Vdc (Volt) 258.7 269.2 272 285.2 298 125 158 183 Vl-l rms praktek (Vac) 190,4 198,4 204,3 213,7 231,1 102 129 148.5 Vl-l rms teori (V) 201.786 209.97 212.16 222,45 232.44 97.5 123,24 142,7 % Error (%) 5.6 5.5 3.6 3.3 0.56 4.3 4.67 4.07

Dari Tabel 4.1 kita bisa melihat semakin rendah frekuensi inverter 3 fasa arus keluaran Inverter 3 fasa jadi semakin besar, hal ini disebabkan metode switching inverter menggunakan PWM untuk itu V/f =konstan belum tercapai. Jadi pada frekuensi rendah dan tegangan tetap

42

Analisa data : Untuk inverter 3 fasa dengan metode switching 1800, rumus yang digunakan adalah : Vab(rms) = (43/22) x (Vdc/) = 0,78.Vdc Vab(rms)1= 0.78 x 258.7 = 201.786 Volt Vab(rms)2= 0.78 x 269.2 = 209.97 Volt Vab(rms)3= 0.78 x 272 = 212.16 Volt Vab(rms)4= 0.78 x 285.2 = 222,45 Volt Vab(rms)5= 0.78 x 298 = 232.44 Volt Vab(rms)6= 0.78 x 125 = 97.5 Volt Vab(rms)7= 0.78 x 158 = 123,24Volt Vab(rms)8= 0.78 x 183= 142,7 Volt

% Error =

Vllrms _ teori Vllrms _ praktek 100% Vllrms _ teori

% Error1 =

201,78 190.4 100% = 5.6% 201.78 209,97 198.4 100% = 5.5% 209.97 212,16 204.4 100% = 3.6% 212.16 222.45 213.7 100% = 3.3% 222.45

% Error 2 =

% Error 3 =

% Error 4 =

43

% Error 5 =

232,44 231.1 100% = 0.56% 232.44


97,5 102 100% = 4.3% 97,5 123,24 129 100% = 4,67% 123,24 142,7 148.5 100% = 4.07% 142,7

% Error 6 =

% Error 7 =

% Error 8 =

Gambar 4.6 Tegangan keluaran VR-S dan VS-T Dari data hasil pengujian rangkaian inverter 3 fasa dengan memberikan tegangan masukan inverter berasal dari rangkaian penyearah gelombang penuh sebesar 220 Vac. Beban yang digunakan adalah motor induksi 3 fasa dengan daya 373 Watt 220V. pengujian dilakukan dengan memberikan frekuensi mulai 10 Hz sampai dengan 50 Hz pada inverter. Pada saat frekuensi inverter sebesar 10 Hz maka dihasilkan tegangan keluaran VR-S sebesar 190,2 Volt, VR-T sebesar 190,5 Volt dan VS-T sebesar 190,4 volt dengan kecepatan putaran 379 Rpm. Kemudian frekuensi dinaikkan menjadi 20 Hz dan tegangan dari rangkain penyearah gelombang penuh konstan 220 Vac. Pada saat 20 Hz didapatkan nilai tegangan VR-S sebesar 198,8 Volt, VR-T sebesar 198,7 Volt dan VS-T sebesar 198,4 volt dengan kecepatan putaran 578 Rpm. Frekuensi terus dinaikkan dengan sekala 10 Hz hingga 50Hz, dari hasil

44

pengukuran ternyata nilai tegangan keluaran rangkaian inverter serta kecepatan putaran motor terus meningkat. Pada saat frekuensi 50 Hz didapatkan kecepatan putaran motor sebesar 1459 rpm dan VR-S sebesar 231,2 Volt, VR-T sebesar 230 Volt dan VS-T sebesar 231,1 Volt. Pada pengujian rangkaian inverter ketika frekuensi di ubah-ubah dan tegangan masukan tetap maka tegangan keluaran rangkaian inverter tetap namun arus keluaran dan kecepatan putaran motor semakin besar. Hal ini dikarenakan penggunaaan switching inverter dengan metode PWM. Sehingga perubahan perbandingan tegangan keluaran dengan frekuensi tidak konstan. Kerugian dari hal ini adalah akan mempermudah merusak motor induksi dan komponen rangkaian inverter lainnya karena arus yang semakin meningkat ketika frekuensi semakin dibawah frekuensi nominal. Demikian adalah data hasil pengujian keseluruhan rangkaian Fullbridge converter serta inverter 3 fasa dengan beban motor 1 Hp 220 V/3,3A. Gambar 4.7 adalah rangkaian kesulurahn Inverter 3 fasa yang terdiri dari LCD 16 karakter, ATMEGA16, rangkaian Driver Inverter 3 fasa IR2130, dan 6 mosfet.

Gambar 4.7 Rangkaian inverter 3 fasa Gambar 4.8 adalah gambar rangkaian minimum system ATMEGA16, mikrokontroler yang digunakan untuk menghasilkan pulsa trigger inverter 3 fasa, lewat program dengan bahasa C.

45

Gambar 4.8 Minimum system ATMEGA16 Untuk rangkaian Driver Inverter 3 fasa dengan IR2130 bisa dilihat pada Gambar 4.9

Gambar 4.9 Rangkaian driver IR2130 Terdapat 6 unit MOSFET tipe IRFP460 yang digunakan pada switching Inverter 3 fasa, bisa dilihat pada Gambar 4.10

46

Gambar 4.10 Rangkaian mosfet sebagai switching inverter 3 fasa Dari mikrokontroler ATMEGA16 kita bisa memprogram LCD 16 karakter sehingga terlihat seperti Gambar 4.11.

Gambar 4.11 Tampilan LCD 16 karakter

47

Halaman ini sengaja dikosongkan

48

BAB V PENUTUP
5.1 KESIMPULAN

Setelah melalui beberapa proses perencanaan, pembuatan dan pengujian alat serta dari data yang didapat dari perencanaan dan pembuatan Three phase Inverter, maka dapat disimpulkan: 1. Karena metode switching pada proyek akhir ini menggunakan metode PWM maka V/F konstan belum tercapai, jadi semakin rendah frekuensi switching inverter, arus yang dihasilkan menjadi cukup besar. 2. Three Phase Inverter yang dibuat hanya mampu mencatu tegangan stabil hingga 298,5 volt dc dengan kemampuan arus maksimum 4 A. 3. Untuk mendapatkan daya keluaran maksimal pada Three Phase Inverter bisa didapat dari pemilihan komponen switching yang tepat, dalam hal ini adalah tipe transistor. 5.2 SARAN-SARAN

Dalam pengerjakan dan penyelesaian Proyek Akhir ini tentu tidak lepas dari berbagai macam kekurangan dan kelemahan, baik itu pada sistem maupun pada peralatan yang telah dibuat. Untuk memperbaiki kekurangan-kekurangan dari peralatan, maka perlu melakukan hal-hal sebagai berikut: 1. Desain Three phase Inverter yang lebih baik, baik dalam segi pemilihan komponen. 2. Desain PCB harus lebih efisien dan tepat agar didapat tampilan yang maksimal dan kekuatan yang optimal. 3. Perencanaan yang tepat dan kesesuaian pembuatan dengan perencanaan.

49

Daftar Pustaka [1] Afif Salakhudin,Rancang Bangun Inverter Satu Fase pada Daya Cadangan Rumah Tangga(switching PWM),Proyek Akhir PENS-ITS 2007. [2] Hasna Abadiningrum , Sepeda Elektrik Menggunakan Penggerak Motor Induksi Tiga Fasa (Mikrokontroller sebagai Driver pada BuckBoost Konverter Inverter Tiga Fasa), Proyek Akhir PENS ITS 2008. [3] Muhammad H.Rashid,Power Electronics Application 3, Prentice Hall 2004. Circuits,Devices,and

[4] Datasheet ATMega8535 8-bit Microcontroller with 16K Bytes InSystem Programmable Flash diakses 1 Maret 2010,dari alldatasheet. http://www.alldatasheet.com/datasheetpdf/pdf/78532/ATMEL/ATMEGA8535.html

[5] Datasheet AVR ISP Programmer, diakses 1 Maret 2010, http://www.avrispprogrammer.com/literature.

LAMPIRAN LISTING PROGRAM /********************************************* This program was produced by the CodeWizardAVR V1.24.0 Standard Automatic Program Generator Copyright 1998-2003 HP InfoTech s.r.l. http://www.hpinfotech.ro e-mail:office@hpinfotech.ro Project : Version : Date : 7/11/2010 Author : Dimas Pungky Pradana Company : PENS-ITS Comments: Program 3 Phase Inverter

Chip type : ATmega16 Program type : Application Clock frequency : 8.000000 MHz Memory model : Small External SRAM size : 0 Data Stack size : 256 *********************************************/ #include <mega16.h> #include <delay.h> #include <stdio.h> #define U PORTC.3 #define V PORTC.4 #define W PORTC.5 #define Timer PORTC.6 #define Enable PORTC.2 // Alphanumeric LCD Module functions #asm .equ __lcd_port=0x12 #endasm #include <lcd.h>

unsigned char T; unsigned char buffer[33]; int a[10][10],nilai,frek1; float b; int x; int konter=0; int maks=8; void setfrek(int frek); void H2BCD(int bilangan) { int ratusan,puluhan,satuan; ratusan= bilangan/100; // misal bilangan=231 // 231/100= 2 puluhan = (bilangan - (ratusan*100))/10; // (231-(2*100))/10 // (231-200)/10 = 31/10 = 3 satuan = bilangan - (puluhan*10) - (ratusan*100); lcd_putchar(ratusan+0x30); lcd_putchar(puluhan+0x30); lcd_putchar(satuan+0x30); } // Timer 0 overflow interrupt service routine interrupt [TIM0_OVF] void timer0_ovf_isr(void) { // Place your code here ++konter; TCNT0=204; if (konter == maks ) {

#asm("cli") if(T>6)T=1; U=a[T][0]; V=a[T][1]; W=a[T][2]; T++; #asm("sei") konter =0;

//TCNT0=0; } } #define ADC_VREF_TYPE 0x60 // Read the 8 most significant bits // of the AD conversion result unsigned char read_adc(unsigned char adc_input) { ADMUX=adc_input|ADC_VREF_TYPE; // Start the AD conversion ADCSRA|=0x40; // Wait for the AD conversion to complete while ((ADCSRA & 0x10)==0); ADCSRA|=0x10; return ADCH; } // Declare your global variables here void main(void) { // Declare your local variables here // Input/Output Ports initialization // Port A initialization // Func0=In Func1=In Func2=In Func3=In Func4=In Func5=In Func6=In Func7=In // State0=T State1=T State2=T State3=T State4=T State5=T State6=T State7=T PORTA=0x00; DDRA=0x00; // Port B initialization // Func0=In Func1=In Func2=In Func3=In Func4=In Func5=In Func6=In Func7=In // State0=T State1=T State2=T State3=T State4=T State5=T State6=T State7=T PORTB=0x00; DDRB=0x00;

// Port C initialization // Func0=In Func1=In Func2=In Func3=In Func4=In Func5=In Func6=In Func7=In // State0=T State1=T State2=T State3=T State4=T State5=T State6=T State7=T PORTC=0x00; DDRC=0xFF; // Port D initialization // Func0=In Func1=In Func2=In Func3=In Func4=In Func5=In Func6=In Func7=In // State0=T State1=T State2=T State3=T State4=T State5=T State6=T State7=T PORTD=0x00; DDRD=0x00; // Timer/Counter 0 initialization // Clock source: System Clock // Clock value: 125.000 kHz // Mode: Normal top=FFh // OC0 output: Disconnected TCCR0=0x03; TCNT0=0x00; OCR0=0x00; // Timer/Counter 1 initialization // Clock source: System Clock // Clock value: Timer 1 Stopped // Mode: Normal top=FFFFh // OC1A output: Discon. // OC1B output: Discon. // Noise Canceler: Off // Input Capture on Falling Edge TCCR1A=0x00; TCCR1B=0x00; TCNT1H=0x00; TCNT1L=0x00; OCR1AH=0x00; OCR1AL=0x00; OCR1BH=0x00; OCR1BL=0x00;

// Timer/Counter 2 initialization // Clock source: System Clock // Clock value: Timer 2 Stopped // Mode: Normal top=FFh // OC2 output: Disconnected ASSR=0x00; TCCR2=0x00; TCNT2=0x00; OCR2=0x00; // External Interrupt(s) initialization // INT0: Off // INT1: Off // INT2: Off MCUCR=0x00; MCUCSR=0x00; // Timer(s)/Counter(s) Interrupt(s) initialization TIMSK=0x01; // Analog Comparator initialization // Analog Comparator: Off // Analog Comparator Input Capture by Timer/Counter 1: Off // Analog Comparator Output: Off ACSR=0x80; SFIOR=0x00; // ADC initialization // ADC Clock frequency: 125.000 kHz // ADC Voltage Reference: AVCC pin // ADC High Speed Mode: Off // ADC Auto Trigger Source: None // Only the 8 most significant bits of // the AD conversion result are used ADMUX=ADC_VREF_TYPE; ADCSRA=0x86; SFIOR&=0xEF; // LCD module initialization lcd_init(16);

// Global enable interrupts #asm("sei") a[1][0]=1; a[1][1]=0; a[2][0]=1; a[2][1]=1; a[3][0]=0; a[3][1]=1; a[4][0]=0; a[4][1]=1; a[5][0]=0; a[5][1]=0; a[6][0]=1; a[6][1]=0;

a[1][2]=0; a[2][2]=0; a[3][2]=0; a[4][2]=1; a[5][2]=1; a[6][2]=1;

Timer = 1; Enable =1; while (1) { // Place your code here

x=read_adc(0); H2BCD(x); b=(x/255)*50; setfrek(b); sprintf(buffer,"frek: %.4f",b); lcd_gotoxy(0,1); lcd_puts(buffer); }; }

void setfrek(int frek) { if (frek < 1) maks =1; else maks = 1/(0.004896*frek); }