Anda di halaman 1dari 10

ADAT ISTIADAT

A. Pengertian Adat Adat istiadat adalah aturan adat yang dirumuskan berdasarkan kata mufakat oleh ninik matnak dalam suatu nagari. Aturan ini menampung segala kcmauan dan aspirasi anak nagari mcnurut alua jo patuik, patuik jo mungkin. Peraturan tersebut berbeda antara satu nagari dengan nagari lainnya, sebab kemauan dan keinginan masyarakat nagari berbeda-beda. Adat istiadat merupakan realisasi dari ajaran Dt. Parpatih Nan Sabatang yaitu nan tabasuik ka bumi, naiak dari janjang nan dibawah. Jadi adat Minangkabau dapat menampung keinginan dan kehendak masyarakat. Aspirasi yang disalurkan sesuai dengan adaik jo limbago manuruik barih jo balabeh, manuruik cupak jo gantang dan manuruik alua jo patuik.

B. Proses Terbentuknya Adat Istiadat Proses terbentuknya adat istiadat ada 2, yakni : 1. Berdasarkan usul nagari dan anak kemenakan 2. Berdasarkan fenomena atau gejala-gejala yang tumbuh dan berkembang di dalam masyarakat. Sesuai dengan ungkapan adat : Tumbuah bak padi digaro (tumbuh padi dipelihara) Tumbuah bak bijo disiang (tumbuh seperti biji disiang) Elok dipakai buruak dibuang (mana yang baik dipakai yang buruk dibuang). Elok dipakai jo mufakat (yang baik dipakai dengan kesepakatan) Buruak dibuang jo rundingan (yang jelek dibuang setelah dirundingkan).

C. Perubahan Adat Istiadat Adat Minangkabau bersumber dari alam yang mcmiliki dua sifat yaitu sifat yang tetap dan bcrubah. Sifat alam yang tetap merupakan sumber adat

yang babuhua mati, sedangkan sifat alam yang berubah dijadikan sebagai sumber adat nan babuhua sintak. Adat istiadat lahir dari masyarakat yang kemauannya selalu berubah, oleh sebab itu adat istiadat juga terjadi perubahan-perubanan dalam adat istiadat. Beberapa penyebab terjadinya perubahan adat: 1. Keinginan atau tuntutan masyarakat itu sendiri 2. Pengaruh dari luar. Pengaruh luar tidak sernuanya diterima, melainkan melalui proses penyaringan yang ketat, masyarakat Minangkabau menghindari hal-hal yang akan mcrusak tatanan kehidupan masyarakat yang sudah ada, seperti diungkapkan dalam kato pusako: Jalan dialiah urang lalu (jalan dialih orang lalu) Cupak dipapek urang panggaleh (ukuran dipapek pedagang)

D. Contoh Adat istiadat Aspirasi masyarakat dapat diterima jika tidak bertentangan dengan adat yang berlaku: a. Bidang Kesenian b. Olah raga c. Pakaian d. Tertib sopan santun e. Permainan anak nagari f. Makanan khas g. Acara keramaian h. Acara syukuran atau perhelatan Salah satu contoh adat istiadat adalah masalah perhelatan dan perjamuan. Baik itu perhelatan perkawinan, batagak gala, akikah, dll. Pengaturan acara perhelatan dan pemanggilan dilakukan sesuai dengan adat istiadat masing-masing daerah, nagari. Secara umum berdasarkan besar kecilnya perhelatan menurut adat Minangkabau dapat dibedakan atas:

1. Gontoh pucuak (petik pucuak) maksudnya: perhelatan yang dilakukan secara sederhana. Makanan yang dihidangkan hanya seperti ikan, ayam. Hal ini dikiaskan dalam ungkapan: Salingkuang salingka parik (selingkungan parit) Sadusun duo dusun (sedusun dua dusun) Dihimbau sado nan patuik (dipanggil semua yang patut) Dipanggia sado nan tapek (dipanggil semua yang tepat) Saseba jalo ikan (selebar jala ikan) Jo lantak sapanjang galah. 2. Kabuang Batang (kabung batang) yaitu perjamuan yang lebih besar. Pada perjamuan ini biasanya dipotong sapi, dan diundang semua kerabat dan kenalan, baik yang dekat maupun yang jauh, seperti diungkapkan dalam kato adat: Sakato dua kato (satu kata dtta kata) Dihimbau ilia jo mudiak (dipanggil hilir dan mudik) Dipangia suok jo kida (dipanggil kanan dan kiri) Manamo alek saleba alam (bernama pesta selebar alam) Nan sabateh tanggua (yang sebatas tanggul) Jikok dakek diimbau jo carano (yang dekat diundang dengan carano) Kok jauah surek dilayangkan (yang jauh di undang dengan surat undangan) 3. Lambang urek, yaitu perjamuan yang diadakan besar-besaran, seperti dikiaskan dalam kato adat : Acak sakato sanagari (diikut sertakan seluruh nagari) Sebuah rumah tak buliah tingga (satu rumah tak buleh tingga) Panggilan sisiak palapehan (panggilan sisik palapehan) Dipanggia sampai tabao (diundang sampai terbawa) Tapancang murawa dihalaman (terpancang marawa di halaman) Langkok jo gong jo talempongnyo (lengkap dengan gong dan telempong) Dilapeh jo latuih badi (dilepas dengan letusan senapan) Bapakaian adaik salangkoknyo (berpakaian adat lengkap).

ADAT BASANDI SYARAK

Empat jenis adat

di Minangkabau yang tclah kita pelajari, pada

hakikatnya jenis adat ini menaungi keempat jenis adat itu. Yakni adat basandi syarak, syarak basandi kitabullah. A. Pengertian Adat Adat basandi syarak adalah adat Minangkabau yang. berdasarkan kepada ajaran-aaama Islam, artinya ajaran adat yang diterapkan dalam masyarakat harus berpedornan kepada ajaran agama Islam yang berdasarkan Kitabullah. Kitabullah adalah wahyu Allah dan suruh Rasulullah SAW sesuai dengan ungkapan syarak mangato adat mamakai.

B. Adat dan Islam Sebelum Islam masuk ke Minangkabau, orang Minangkabau memanfaatkan alam sebagai sumber ajarnya. Mereka menggali nilai-nilai

alam ciptaan Allah sebagai sumber ajarnya. Hal itu diungkapkan dalam falsafah alam takambang jadi guru, artinya alam sebagai pedoman dan ditiru dalam kehidupan masyarakat Minangkabau. Masuknya Islam ke Minangkabau pada hakekatnya tidak ada bertentangan dengan adat Minangkabau, karena adat Minangkabau Yang mereka jalankan berdasarkan dari ciptaan Allah. Itulah sebabnya masyarakat langsung menerima Islam di Minangkabau. Belanda masuk ke tanah air dan juga memasuki Wilayah Minangkabau dengan politik "adu domba". Ia memanfaatkannya untuk mencari hal-hal yang bertentangan, Belanda berhasil mengadu domba antara kaum adat dan kaum agama. Salah satu penyebab Perang Paderi ialah pertentangan antara kaum adat dan kaum agama di Minangkabau. Awal abad ke XIX dilaksanakan pertemuan penghulu tigo luhak beserta ulamanya. Pertemuan ini melahirkan Piagam Bukit Marapalam yang menegaskan bahwa adat dan Islam tidak bertentangan. Isi piagam itu adalah: Adat bapaneh syarak balindung Syarak mangato adat mamakai

Maksudnya: a. Adat bapaneh adalah, adat bagaikan tubuh sedangkan syarak balindung adalah syariat (agama) sebagai jiwa, antara tubuh dan jiwa tidak bisa dipisahkan b. Syarak mangato maksudnya, syariat memberi hukum-hukum, sedangkan adat mamakai adalah adat melaksanakan apa yang difatwakan oleh agama. Kesimpulan dari isi piagam Bukik Marapalam itu lazim disebut adat jo syarak sanda manyanda dan dikenal dengan adat basandi syarak, syarak basandi Kitabullah.

C. Adat dan Akhlak Inti ajaran adat Minangkabau adalah "Budi". Budi yang dianut oleh masyarakat Minangkabau berpedoman kepada alarn ciptaan Allah. Sedangkan inti (hakikat) ajaran agama Islam adalah "akhlak". Akhlak berpedoman kepada syariat Islam. Antara akhlak dan budi hampir bersamaan, yakni aturan dan ketentuan yang diberikan kepada manusia untuk berhubungan dengan maha pencipta, berhubungan dengan sesamanya dan berhubungan dengan alam lingkungannya. Dalam kehidupan masyarakat Minangkabau mengutamakan "budi". Sejak kecil, nilai budi sudah tanamkan kepada anak-anak. Ajaran tentang budi disampaikan dalam "kato-kato", setiap tindakan dan perbuatan dalam aspek kehidupan, selalu berdasarkan kepada budi baik dan budi luhur. Ungkapan yang mengandung nilai-nilai budi antara lain : Nan kuriak iyolah kundi (yang belang adalah kundi) Nan merah iyolah sago (yang merah adalah saga) Nan baik iyolah budi (yang baik adalah budi ) Nan indak iyolah baso (yang indah adalah basa-basi) Dek ribuik rabahlah padi (karena ribut rebahlah padi) Di cupak Datuak Katumanggungan (di cupak Datuk Katumanggungan) Hiduik kok indak babudi (jika hidup tak berbudi) Daduak tagak kamari cangguang (kemanapun akan merasa canggung)

Babelok babilin-bilin (berbelok berpilin) Batungkek batang kaladi (bertongkat batang keladi) Rupo elok kami tak ingin (paras cantik kami tak ingin) Budi baiak nan kami cari (budi baik yang kami cari) Hubungan manusia sesama manusia diikat oleh budi, dari ikatan budi itu lahirlah kato nan ampek, yaitu kato mandata, kato manurun, kato mandaki, kato malereang. Artinya: Kato mandata artinya kata yang digunakan untuk sesama besar. Kato manurun artinya kata yang gunakan oleh orang yang lebih tua kepada orang yang lebih muda. Kato mandaki artinya kata yang akan oleh orang yang lebih muda kepada orang yang lebih tua, kato malereang adalah kata yang digunakan untuk orang yang kita segani seperti Sumando.

D. Sumbang Duo Baleh Di Minangkabau ajaran adat dilaksanakan, ajaran agama diamalkan, keduanya berjalan seimbang. Hal inni dapat dilihat dari adanya ikatan pemimpin " Tungku Tigo Sajarangan " yakni, Penghulu, Alim Ulama dan CadiakPandai sebagai cendekiawan. Persyaratan berdirinya nagari di Minangkabau juga nienunjukkan bahwa adat dan Islam menjadi patokan. Syarak itu diantaranya adalah babalai bamusajik berdirinya balai tempat bermusyawarah bagi pemangku adat, musajik tempat melaksanakan ajaran agama Islam/beribadah kepada Allah memperdalani ajaran agama Islam. Jika diteliti satu persatu, hampir semua gerak dan alur kehidupan masyarakat Minangkabau dipandu oleh ajaran adat dan agama Islam dalam ungkapan adat basandi syarak, syarak basandi Kitabullah. Adat basandi syarak, syarak basandi Kitabullah dalam pelaksanaannya di Minangkabau menunjukkan bahwa setiap manusia normal selalu ingin mendapatkan tiga nilai utama dalam kehidupan yaitu "kebeenaran. kebaikan dan keindahan". Kebenaran secara logika melahirkan etika yaitu undangundang, hukum, peraturan, moral dan budi. Keindahan adalah estetika. Antara

etika dan estetika tampaknya tidak tepisah, seperti ungkapan nan kuriak kundi, nan merah sago, nan baiak budi, nan indak baso. Etika di Minangkabau sangat diutamakan, apalagi untuk perempuan, jika seorang peretnpuan tidak punye etika, maka dikatakan tidak punya malu atau padusi indak pamalu (wanita yang rusak). Peribahasa mengatakan, jika rusak perempuan, maka rusak lah negara. Syariat mengatakan bahwa rasa malu itu sebagian dari iman. Perempuan dalam rumah tangga sangat diutamakan, jika rusak perempuan maka rusaklah anak dan generasinya. Ini juga dikatakan bahwa perempuan itu tiang negara. Rusak wanita, rusaklah negara. Membahas etika perempuan Minangkabau ditinjau dari sudut ajaran "adat basandi syarak, syarak basandi kitabuilah, terlebih dahulu dikemukakan tentang sumbang duo baleh (salah nan duo baleh), yakni: 1. Sumbang duduak, adalah laki-laki dan perempuan yang bukan muhrimnya duduk, bermain tanpa ada keperluan. 2. Sumbang tagak, adalah sumbang berdiri (perempuan berdiri di atas tangga, dipinggir jalan, ditempat lengang, ditempat gelap) 3. Sumbang diam, sumbang tempat tinggal (perempuan bermalam, menginap ditempat laki-laki yang bukan familinya, tinggal bersama bapak tiri, masuk ke kamar ayah dan ibu, ayah masuk ke kamar anak perempuan yang telah dewasa, mertua masuk ke kamar menantu atau sebaliknya). 4. Sumbang bajalan, yaitu perempuan berjalan sendirian diwaktu malam atau berjalan dengan laki-lak tanpa ditemani oleh familinya. 5. Sumbang bakato, yaitu sumbang berbicara (perempuan tertawa terbahakbahak ditempat umum) 6. Sumbang caliak, sumbang melihat (perempuan berpandangan terlalu lama dengan lelaki memandang yang menimbulkan mudarat) 7. Sumbang berpakaian: Perempuan berpakaian tembus pandang, ketat, minim, keluar pusat, keluar celana dalam, atau tidak menutupi aurat. 8. Sumbang bagaua: Sumbang bergaul (bergaul babas perempuan dengan laki-laki, bertamu ke rumah laki-laki atau sebaliknya)

9. Sumbang karajo: Seorang perempuan memanjat pohon, main sepak bola atau mengerjakan apa yang biasa dikerjakan laki-laki khususnya. 10. Sumbang batanyo: Perempuan bertanya yang menimbulkan salah paham dan menimbulkan yang tidak baik. 11. Sumbang manjawek: Sumbang menjawab (perempuan memberi jawaban yang menimbulkan salah paham dari yang sebenarnya atau disebut juga sumbang kato) 12. Sumbang kurenah: Sumbang tingkah laku (berbisik-bisik, ketawa-ketawa bila seseorang lewat di depart kita, bercumbu di depan umum). Sumbang duo baleh = salah 12 bentuk perbuatan atau ucapan dan perbuatan. Hal ini merupakan adat Minangkabau yang sejalan dengan ajaran agama Islam. Disini letaknya adat basandi syarak, syarak basandi kitabullah. Beberapa adat Minangkabau seiring dengan Al Qur'an dan sunah Rasulullah diantaranya: 1. Etika memandang dan berpakaian (Qs. AnNur ayat 31) Artinya : Katakanlah kepada wanita yang beriman, hendaklah mereka menahan pandangannya, kemaluannya, dan janganlah mereka

mencampakkan perhiasannya kecuali yang biasa tampak dari padanya, hendaklah mereka menutup kain kerudung ke dadanya. 2. Etika Bepergian (Hadist Rasulullah: Riwayat Muslim ) Perempuan jangan melakukan perjalanan tanpa muhrim" Jangan kamu berdua saja (laki-laki dan perempuan karena yang ketiga adalah setan, kecuali ada orang ketiga yang menemani. 3. Etika Berbicara (Qs. Al-Hujarat ayat 12 ) Artinya: Hai orang yang beriman, jauhilah berburuk sangka karena itu perbuatan dosa. Jangan mencari-cari keburukan orang serta bergunjing satu sama lainnya. Adakah diantara kamu suka memakan daging saudaranya sendiri yang sudah mati? Maka tentulah kamu merasa jijik kepadanya, bertakwalah kepada Allah, sesungguhnya Allah Maha Penerima Tobat dan Maha Penyayang. Kesimpulan dari materi ini dapat dilihat pada inti ajaran adat adalah budi sedangkan inti dari ajaran agama Islam adalah akhlak.

Akhlak yang mulia ialah kepribadian utuh yang melekat pada diri manusia terhadap penanaman nilai-nilai agama Islam yang bersumber dari AlQur'an dan sunah Rasul,yaitu seseorang yang masuk Islam secara kaffah atau keseluruhan (Qs. Al Baqarah ayat 208) Akhlak terletak dalam batin manusia untuk mengumandangkan jasmaniah dalam berbuat yang baik dan menghindari segala yang tidak baik. Jika umat Islam pengikut Nabi Muhammad SAW, maka akhlak rasul itu adalah Al Qur'an. Di dalam karya sastra minangkabau banyak kita temukan ungkapanungkapan yang berkaitan dengan "budi" yang perlu disampaikan kepada masyarakat dan masyarakat perlu memahaminya, sebagai aturan dalam hidup bermasyarakat. Contoh: 1. "Hancua badan dikanduang tanah Budi baiak dikanang juo" (Apabila seseorang berbuat baik terhadap orang lain, walaupun dia sudah tiada kebaikannya selalu di ingat) 2. Sakali lancuang ka ujian Saumua hiduik urang tak picayo (Apabila seseorang berbuat salah, jahat sekali saja, maka perbuatan jahat itu sudah teiukir di hati orang lain yang menyebabkan hilangnya kepercayaan terhadap orang tersebut.

TUGAS

BAM
ADAT ISTIADAT DAN ADAT BASANDI SYARAK

NAMA KELOMPOK IV: 1. 2. 3. 4. LHOLA ASTONIA LIRA AZMITHA PUTRI HARAFIT HARIANTO KHRISMONI

Kelas IX 2
Pembimbing : AFRIDA AHMAD, S.Ag

MTsN KEPALA HILALANG 2013