Anda di halaman 1dari 20

BAB I PENDAHULUAN

1.1

Latar Belakang Masalah Sejak dahulu Indonesia terkenal dengan kekayaan alam yang

berlimpah ruah sehingga para pemburu rempah rempah berdatangan ke Indonesia. Kekayaan alam yang dimiliki Indonesia sangat banyak. Diantaranya kekayaan hayati, kekayaan tanaman, kekayaan bahan alam dan lain lain. Kegunaan dari kekayaan itu pun bermacam macam. Untuk hiasan, pajangan dirumah, untuk di konsumsi, untuk dipergunakan sebagai bahan baku, ataupun dibuat menjadi obat tradisional. Pengobatan dengan memanfaatkan aneka tanaman yang terdapat di alam, yang dilakukan secara turun temurun diajarkan oleh generasi yang terdahulu ke generasi selanjutnya. Di daerah pedesaan, tradisi itu sebagian besar masih dipertahankan. Namun, masyarakat perkotaan umumnya sudah melupakannya. Tanaman obat tidak berarti tumbuhan yang ditanam hanya tanaman hias yang berkhasiat obat. Tanaman obat yang tergolong rempah-rempah atau bumbu dapur, tanaman pagar, tanaman buah, tanaman sayur atau bahkan tanaman liar pun dapat ditata di pekarangan sebagai tanaman obat, dapat dimanfaatkan untuk mengobati dan aneka keperluan sesuai dengan kegunaan lainnya. Tanaman obat menjadi alternatif obat yang paling mudah dicari. Tidak perlu menghabiskan uang untuk membeli dan hanya cukup dengan memetik tanaman di pekarangan, lalu meraciknya, tanaman tersebut dapat menjadi obat yang mujarab. Penemuan-penemuan kedokteran modern yang berkembang pesat menyebabkan pengobatan tradisional berkesan kampungan atau ketinggalan zaman. Banyak obat-obatan modern yang dibuat dari tanaman obat. Hanya saja peracikannya dilakukan secara klinis laboratories sehingga terkesan modern. Penemuan kedokteran modern
1

pun ternyata mendukung penggunaan obat tradisional. T r e n g a y a hidup yang mengarah kembali ke ala m (back to

n a t u r e ) membuktikan bahwa hal-hal yang alami bukanlah hal yang kampungan atau ketinggalan zaman. Dunia kedokteran modern pun banyak kembali mempelajari obat-obatan tradisional. Tanaman berkhasiat ditelaah dan dipelajari secara ilmiah, hasilnya ternyata mendukung bahwa tanaman obat memang memiliki kandungan zat-zat atau senyawa yang secara klinis terbukti bermanfaat bagi kesehatan. Wortel adalah sayur sayuran yang termasuk baik untuk kesehatan. Bagi masyarakat, wortel sudah terkenal berguna untuk kesehatan mata. Karena wortel kaya akan vitamin A. Sedangkan buah leunca telah dikenal sebagai tanaman obat selamat lebih dari 2000 tahun yang lalu. 1. 2. Rumusan Masalah Berikut ini rumusan masalah yang akan dikaji dalam makalah ini,yaitu : 1. Bagaimana mengenal tanaman wortel? 2. Bagaimana habitat dari tanaman wortel? 3. Bagaimana dekripsi dari tanaman wortel? 4. Bagaimana kandungan kimia dalam wortel? 5. Bagaimana budidaya tanaman wortel? 6. Bagaimana cara mengolah wortel sebagai obat? 7. Bagaimana khasiat dari tanaman wortel? 8. Bagaimana mengenal leunca? 9. Bagaimana klasifikasi leunca? 10. Bagaimana morfologi leunca? 11. Bagaimana habitat leunca? 12. Bagaimana budidaya leunca? 13. Bagaimana cara mengolah leunca sebagai obat?

14. Bagaimana khasiat dari leunca? 15. Bagaimana konraindikasi leunca?

1.3. Tujuan Tujuan penyusunan makalah ini : 1. Mengenal tanaman wortel 2. Mengetahui habitat dari tanaman wortel 3. Mengetahui deskripsi dari tanaman wortel 4. Mengetahui kandungan kimia dalam wortel 5. Mengetahui budidaya tanaman wortel 6. Mengetahui cara mengolah wortel sebagai obat 7. Mengetahui khasiat daun wortel 8. Mengenal leunca 9. Mengenal klasifikasi leunca 10. Mengenal morfolgi leunca 11. Mengetahui habitat leunca 12. Mengetahui budidaya duan salam 13. Mengetahui cara mengolah leunca sebagai obat 14. Mengetahui khasiat dari leunca 15. Mengetahui kontraindikasi leunca

1.4.Metode dan Teknik Penulisan Untuk mendapatkan data dan informasi yang diperlukan dengan metode studi pustaka dan juga dengan metode pengamatan langsung. Tekik penulisan makalah merupakan jenis penelitian literature yaitu setiap pembahasan dalam makalah ini dijelaskan berdasarkan pustaka.

1.5.Sistematika Penulisan Sistematika penyusunan makalah ini dibagi menjadi tiga bagian utama. Bagian I adalah pendahuluan yaitu latar belakang,rumusan

masalah,tujuan,metode dan teknik penulisan,dan sistematika pembahasan. Bagian II yaitu pembahasan yang berisi kami membahasan secara keseluruhan masalah yang diangkat. Dimana kami menyimpulkan dan memberikan saran mengenai masalah yang telah diangkat.

BAB II PEMBAHASAN
2.1 WORTEL 2.1.1. Mengenal Tanaman Wortel

Wortel (Daucus carota) adalah tumbuhan sayur yang ditanam sepanjang tahun. Terutama di daerah pegunungan yang memiliki suhu udara dingin dan lembab, kurang lebih pada ketinggian 1200 meter di atas permukaan laut. Tumbuhan wortel mernbutuhkan sinar matahari dan dapat turnbuh pada semua musim. Wortel mempunyai batang daun basah yang berupa sekumpulan pelepah (tangkai daun) yang muncul dari pangkal buah bagian atas (umbi akar), mirip daun seledri.

Wortel menyukai tanah yang gembur dan subur. Menurut para botanis, wortel (Daucus carota) dapat dibedakan atas beberapa jenis, di antaranya: WORTEL (Daucus carota, Linn.) jenis imperator, yakni wortel yang memiliki umbi akar berukuran panjang dengan ujung meruncing dan rasanya kurang manis. jenis chantenang, yakni wortel yang memiliki umbi akar berbentuk bulat panjang dan rasanya manis. - jenis mantes, yakni wortel hasil kombinasi dari jenis wortel imperator dan chantenang. Umbi akar wortel berwarna khas oranye. Nama Lokal Carrot (Inggris), Carotte (Perancis), Bortel (Belanda); Wortel (Indonesia), Bortol (Sunda), Wortel, Ortel (Madura); Wortel, Wortol, Wertol, Wertel, Bortol (Jawa) ( Anonym, 2010).

2.1.2. Habitat Wortel Wortel merupakan tanaman subtropis yang memerlukan suhu dingin (22-24 C), lembap, dan cukup sinar matahari. Di Indonesia kondisi seperti itu biasanya terdapat di daerah berketinggian antara 1.200- 1.500 m dp seperti didaerah Lembang dan Cipanas. Selain itu, keadaan tanah yang cocok untuk tanaman wortel adalah subur, gembur, banyak mengandung bahan organik. Keadaan iklim yang sangat mempengaruhi pertumbuhan wortel adalah suhu, curah hujan, kelembapan udara, cahaya matahari, dan angin.

2.1.3. Deskrispsi Wortel

Wortel mempunyai batang daun basah yang berupa sekumpulan pelepah (tangkai daun) yang muncul dari pangkal buah bagian atas (umbi

akar), mirip daun seledri. Wortel menyukai tanah yang gembur dan subur. Menurut para botanis, wortel (Daucus carota) dapat dibedakan atas beberapa jenis, di antaranya: WORTEL (Daucus carota, Linn.) jenis imperator, yakni wortel yang memiliki umbi akar berukuran panjang dengan ujung meruncing dan rasanya kurang manis. jenis chantenang, yakni wortel yang memiliki umbi akar berbentuk bulat panjang dan rasanya manis. jenis mantes, yakni wortel hasil kornbinasi dari jenis wortel imperator dan chantenang. Umbi akar wortel berwarna khas oranye.

2.1.4. Kandungan kimia

Wortel (Daucus carota) mempunyai nilai kandungan Vitamin A yang tinggi yaitu sebesar 12000 SI. Sementara komposisi kandungan unsur yang lain adalah kalori sebesar 42 kalori, protein 1,2 gram, lemak 0,3 gram, hidrat arang 9,3 gram, kalsium 39 miligram, fosfor 37 miligram, besi 0,8 miligram, vitamin B 1 0,06 miligram, dan vitamin C 6 miligram. Komposisi di atas diukur per 100 gram.

2.1.5. Budidaya Wortel

Pedoman Budidaya Wortel PENGOLAHAN TANAH Tanah yang akan ditanami wortel diolah sedalam 30-40 cm. Tambahkan pupuk kandang sebanyak 1,5 kg/m2 agar tanah cukup subur. Bila tanah termasuk miskin unsur hara dapat ditambahkan pupuk urea 100 kg/ha, TSP 100 kg/ha, dan KCl 30 kg/ha. Selanjutnya dibuatkan bedengan selebar 1,5-2 m dan panjangnya disesuaikan dengan lahan. Tinggi bedengan di tanah kering adalah 15 cm, sedangkan untuk tanah yang terendam, tinggi bedengan dapat lebih tinggi lagi. Di antara bedengan perlu dibuatkan parit selebar sekitar 25 cm untuk memudahkan penanaman dan pemeliharaan tanaman. PENANAMAN Kebutuhan benih wortel adalah
7

15-20 g/10 m2 atau 15-20 kg/ha. Benih wortel yang baik dapat dibeli di tokotoko tanaman atau membenihkan sendiri dari tanaman yang tua. Jika membeli, pilihlah benih yang telah bersertifikat. Benih wortel dapat langsung disebarkan tanpa disemai dahulu. Sebelumnya, benih direndam dalam air sekitar 12-24 jam untuk membantu proses pertumbuhan. Kemudian, benih dicampur dengan sedikit pasir, lalu digosok-gosokkan agar benih mudah disebar dan tidak melekat satu sama lain. Benih ditabur di sepanjang alur dalam bedengan dengan bantuan alat penugal, lalu benih ditutupi tanah tipistipis. Berikutnya, bedengan segera ditutup dengan jerami atau daun pisang untuk menjaga agar benih tidak hanyut oleh air. Jika tanaman telah tumbuh (antara 10-14 hari), jerami atau daun pisang segera diangkat. Pemeliharaan Setelah tanaman tumbuh segera dilakukan pemeliharaan. Pemeliharaan pertama adalah penyiraman yang dapat dilakukan sekali sehari atau dua kali sehari jika udara sangat kering. Cara pemberian air yang lain ialah dengan jalan menggenangi parit di antara bedengan. Cara seperti ini dapat dilakukan bila terdapat saluran drainase. Tanaman yang telah tumbuh harus segera diseleksi. Caranya cabutlah tanaman yang lemah atau kering, tinggalkan tanaman yang sehat dan kokoh. Tindakan ini sekaligus diikuti dengan penjarangan yang berguna untuk memberikan jarak dalam alur dan menjaga tercukupinya sinar matahari sehingga tanaman tumbuh subur. Penjarangan menghasilkan alur yang rapi berjarak antara 5- 10 cm. Pemeliharaan selanjutnya adalah pemupukan yang sudah dapat dilakukan sejak tanaman berumur dua minggu berupa 50 kg Urea/ha, disusul pemberian kedua (1 atau 1,5 bulan kemudian) berupa urea sebanyak SO kg/ha dan KCl 20 kg/ha. Dosis dapat berubah sesuai kondisi tanah dan rekomendasi pemupukan yang ada. Cara pemupukan adalah dengan menaburkan pupuk pada alur sedalam 2 cm yang dibuat memanjang berjarak sekitar 5 cm dari alur tanaman. Ketika tanaman berumur satu bulan perlu dilakukan penyiangan dan pendangiran.

Tujuannya agar tanaman tidak terganggu oleh gulma dan menjaga agar akar tanaman tidak terkena sinar matahari secara langsung (Anonym, 2011).

2.1.6. Cara Mengolah Wortel untuk Obat 1. Kejang Jantung Bahan: umbi wortel, 2 sendok madu, dan 1 potong gula aren; Cara membuat: wortel diparut dan diperas dengan 2 gelas air, kemudian dioplos dengan bahan lainnya sampai merata; Cara menggunakan: diminum 1 kali sehari. 2. Eksim a. Bahan:1 umbi wortel dan 1 sendok teh kapur sirih; Cara membuat: wortel diparut dan dicarnpur dengan kapur sirih sampai merata; Cara menggunakan: ditempelkan pada bagian yang sakit dan dibalut dengan verban. b. Bahan: 3 umbi wortel; Cara membuat: diparut dan disedu dengan 2 gelas air masak; Cara menggunakan: diminum 2 kali sehari. 3. Cacing Kremi Bahan: 5-7 umbi wortel, garam dan santan kelapa secukupnya; Cara membuat: wortel diparut, kemudian ditambah dengan bahan lainnya; Cara menggunakan: diperas dan disaring, kemudian diminum menjelang tidur malam. 4. Mata Minus Bahan: umbi wortel secukupnya; Cara membuat: diparut dan diperas untuk diambil airnya; Cara menggunakan: diminurn setiap pagi hari secara teratur.

(Anonym, 2009)

2.1.7. Khasiat Wortel

1. Baik Untuk Penglihatan dan Imunitas Wortel merupakan jenis sayuran terpopuler kedua setelah kentang. Wortel mengandung vitamin A yang tinggi. Vitamin A dan Beta karoten kadangkadang diresepkan untuk hal yang sama, karena beta karoten di dalam tubuh dikonversi menjadi vitamin A. 2. Mencegah kanker Penelitian dari National Cancer Institute mengaitkan kandungan tinggi beta karoten dengan pencegahan kanker, karena sifat antioksidannya yang melawan kerja destruktif sel-sel kanker. Di samping itu beta karoten membantu sistem kekebalan tubuh yang menghasilkan 'killer cell' alami. 3. Mencegah rabun senja Karoten juga baik untuk kesehatan mata. Membantu mencegah terjadinya rabun senja dan memperbaiki penglihatan yang lemah. Kekurangan vitamin A atau yang dikenal dalam istilah kedokteran sebagai Avitaminosis A dapat menyebabkan buta ayam atau rabun senja. 4. Menurunkan kolesterol darah Di dalam wortel juga terkandung pectin yang baik untuk menurunkan kolesterol darah. Serat yang tinggi juga bermanfaat untuk mencegah terjadinya konstipasi. 5. Mencegah Stroke Khasiat antistroke timbul karena aktivitas beta karoten yang mencegah terjadinya plak atau timbunan kolesterol dalam pembuluh darah. Beta karoten merupakan pigmen paling aktif apabila dibandingkan dengan alpha dan gamma karoten. Biasanya beta karoten lebih dikenal sebagai provitamin A yang akan menjadi vitamin A pada dinding usus halus.

10

6. Mengatasi Masalah kulit Seperti jerawat, bengkak bernanah ataupun kulit kering. Masalah-masalah tersebut biasa timbul karena diet dan kebiasaan minum alkohol, obatobatan, dan rokok, sehingga menimbulkan kondisi asam yang tinggi dalam darah, kesemuanya dapat dicegah dengan rutin minum jus wortel. 7. Membantu menetralkan asam dalam darah dan menghilangkan toksin dalam tubuh Adanya kandungan kalium dalam wortel. Wortel mentah atau dimasak merupakan sumber kalium dan vitamin C. Mendapatkan dan mengonsumsi wortel sangatlah mudah, dapat dicampur berbagai variasi makanan, minuman jus ataupun suplemen. (Anonym, 2009)

2.2 TANAMAN LEUNCA/RANTI 2.2.1. Mengenal Tanaman Leunca Leunca dalam bahasa botaninya dikenal sebagai Solanum Nigrum L, dan digolongkan dalam keluarga solanaceae (labu-labuan). Tanaman ini berasal dari Eropa dan Asia Barat, kemudian menyebar secara luas melalui Malaysia. Tumbuhan ini digunakan sebagai obat-obatan sejak lebih dari 2.000 tahun lalu. Di Indonesia, leunca banyak dikonsumsi sebagai lalapan atau sayuran. Nama umum Indonesia : Ranti, Leunca (Sunda) Inggris : Black Nightshade Melayu : Ranti Pilipina : Kama-kamatisan Cina : Long kui Latin : Solanum nigrum L

11

2.2.2. Klasifikasi Tanaman Leunca

Kingdom Subkingdom Super Divisi Divisi Kelas Sub Kelas Ordo Famili Genus Spesies

: Plantae (Tumbuhan) : Tracheobionta (Tumbuhan berpembuluh) : Spermatophyta (Menghasilkan biji) : Magnoliophyta (Tumbuhan berbunga) : Magnoliopsida (berkeping dua / dikotil) : Asteridae : Solanales : Solanaceae (suku terung-terungan) : Solanum : Solanum nigrum L. (Anonim, 2012)

2.2.3. Morfologi Tanaman Leunca

Tanaman ini termasuk ke dalan golongan semak, dengan tinggi lebih kurang 1,5 m. Berupa akar tunggang, dengan warna putih kocoklatan. Mempunyai batang tegak, berbentuk bulat, lunak, dan berwarna hijau. Berdaun tunggal, lonjong, dan tersebar dengan panjang 5 7,5 cm ; lebar 2,5 3,5 cm. Pangkal dan ujung daun meruncing dengan tepi rata. Pertulangan daun menyirip. Daun mempunyai tangkai dengan panjang 1 cm dan berwarna hijau. Mempunyai bunga berupa bunga majemuk dengan mahkota kecil, bangun bintang, berwarna putih, benang sari berwarna kehijaunan dengan jumlah 5 buah.

12

Tangkai bunga berwarna hijau pucat dan berbulu. Mempunyai buah berupa buah buni berbentuk bulat, jika masih muda berwarna hijau, dan berwarna hitam mengkikat jika sudah tua. ukurannya kira-kira sebesar kacang kapri. Biji berbentuk bulat pipih, kecil- kecil, dan berwarna putih (Garay, 2013).

2.2.4. Habitat Tanaman Leunca Tumbuh liar di berbagai tempat pada dataran rendah sampai 3000 m dpl (Asesa, 2011).

2.2.5. Kandungan Kimia Tanaman Leunca Kandungan kimia: Glikoalkaloid solanin; Solasonin; Solamargin; Solasodin; Solanidin; Diosgenin; Tigogenin; Atropin; Saponin; Zat samak; Minyak lemak; Kalsium; Fosfor; Zat besi; Vitamin A dan C (Asesa, 2011). Ekstrak air leunca terdiri dari 20.4 0.97% total fenolik menggunakan asam galat sebagai standar, 14.9 1.3% polisakarida dan 4.8 0.4% protein. Analisis lebih lanjut menggunakan high-performance liquid chromatography (HPLC) terhadap senyawa antioksidan, seperti asam galat, procatechuic acid (PCA), katekin, asam kafeat, epikatekin, rutin, dan narigenin. Diperoleh hasil bahwa ekstrak air leunca mengandung 2.90% asam galat, 1.98% PCA, 2.53% katekin, 1.99% asam kafeat, 0.39 epikatekin, 0.84% rutin, dan 5.11% naringenin (Lin et al., 2007). Leunca telah dilaporkan mengadung banyak senyawa polifenolik terutama flavonoid dan steroid. Aktivitas antioksidan dan antitumor dihubungkan dengan kandungan polifenol. Keberadaan glikosida steroid,

13

alkaloid steroid, oligoglikosida steroid, solamargine dan solasonin juga telah dideteksi (Ikeda et al., 2000). Dua seyawa saponin steroid baru, dinamakan nigrumnin I and II, bersama dengan saponin lain yang telah diketahui di peroleh dari tanaman utuh Solanum nigrum L. Nigrumnin I ditentukan sebagai (25R)-5alphaspirostan-3beta-ol arabinopyranosyl-(1 3-O-betaD-xylopyranosyl-(1>3)-[alpha-L-->2)]-beta-Dglucopyranosyl-(1>4)-[alpha-L-

rhamnopyranosyl(1-->2)]-beta-D- galactopyranoside (1), dan nigrumnin II dielusidasi sebagai (25R)-3beta,17alpha-dihydroxy-5alpha-spirostan-1 2-one 3-O-beta-D-xylopyranosyl-(1>3)-[alpha-L-arabinopyranosyl-(1--> 2)]-betaD-glucopyranosyl-(1>4)-[alpha-L-rhamnopyragalactopyranoside (2) (Ikeda et al., 2000). Leunca mengandung solanine, solasonine, solamargine dan chaconine (Everist, 1974; Wetter dan Phipps, 1979; Cooper dan Johnson, 1984). Serta diketahui pada buah leunca yang belum matang mengandung steroidal alkaloid solasodine serta steroidal sapogenin diosgenin dan tigogenin. Pushpa Khanna dan Rathore (1977) melaporkan bahwa terdapat kandungan signifikan dari diosgenin (1,2%) dan solasodine (0,65%) pada buah leunca yang masih hijau (belum matang). Saijo et al. (1982) meneliti pada buah leunca yang belum matang mengandung steroidal dan glikosida yaitu proto-desgalactotigonin, tigogenin3-O--D-glucopyra-nosyl-(1->2)-[-Dnosyl-(1-->2)l-beta-D-

desgalactotigonin

glucopyranosyl-(1->3)]--Dglucopyranosyl-(1->4)--D-galactopyranoside.

2.2.6. Budidaya Tanaman Leunca Tumbuhan Leunca termasuk tumbuhan liar. Karena merupakan tumbuhan liar, maka panennya pun berdasarkan musim. Kalau musim penghujan tanaman ini
14

akan menjamur di tanah tanah hutan, sedangkan kalau kemarau akan sulit ditemui (Garay, 2013).

2.2.7. Cara Mengolah Tanaman Leunca sebagai Obat 1. Infeksi saluran kencing Rebus masing masing 30 g leunca, rumput lidah ular, meniran dengan 3 gelas air sampai tersisa separuh. Saring dan minum 3 kali sehari setengah gelas. 2. Eksem, radang kulit Rebus 60 g herba segar atau 30 g herba kering. Minum 2 kali sehari. Akan menghilangkan rasa gatal dan lebih efektif pada pasien pasien dengan lesi yang luas dengan pembengkakkan kulit, rasa gatal dan status mental yang buruk. Pada lesi setempat bubuhi dengan tunas dan daun yang dilumatkan 3. Disentri Rebus 50-60 g daun segar yang ditambah 25 g gula putih, minum. 4. Biduran Giling seluruh tanaman (tanpa akar), lalu gosok ke daerah yang biduran sampai kulit berwarna hijau. Lakukan 2-3 kali sehari. Pada sebagian kasus penyakit sembuh dalam 4-5 hari. 5. Keputihan Bahan dan cara pakai: daun leunca, bunga putih jengger ayam, masing-masing 30 gram, direbus dengan 3 gelas hingga tersisa 1 gelas. Minum sehari 2 kali 6. Mata kering (xerophthalmia) Kunyah 15 buah leunca masak, lalu telan. Lakukan 3 kali sehari. (Dalimartha, 2008)

15

2.2.8. Khasiat Tanaman Leunca Diketahui bahwa leunca (Solanum nigrum L.) mengandung bahan sebagai antiseptik, anti inflammasi dan antidisentri (Heiser 1969; Vogel 1990). Menurut Akhtar dan Mohammad (1989) bahwa serbuk dari tanaman dapat sebagai ulcerogenik. Selain itu juga dapat dimanfaatkan sebagai antimalaria (Watt dan Breyer-Brandwijk,1962) Bijinya dapat digunakan untuk pengobatan gonorrhea dan disuria (Jain dan Borthakur, 1986). Tandon dan Rao (1974) melaporkan bahwa buah dan jusnya dapat menyembuhkan penyakit perut dan demam sedangkan tunasnya dapat digunakan untuk penyakit kulit. Selain itu, bunga dan daunnya dapat digunakan sebagai penurun panas dan melawan efek overdosis dari alkohol (Heiser, 1963). Daunnya yang di jus digunakan sebagai obat cacing, nyeri pada sendi serta sakit telinga (Grieve, 1931). Luar Negeri :

buah dan daunnya sebagai obat pusing (di Meksiko) mengurangi radang ginjal, kandung kemih, dan antidiare (di Cina) menyembuhkan penyakit anjing gila (di India) getahnya dapat dapakai sebagai obat kutilan (gangguan pada kulit) rebusan air daunnya dapat melancarkan buang air kecil, batuk, menurunkan tekanan darah tinggi, dan dapat mengurangi jumlah sel darah putih dalam tubuh

sebagai zat antirematik (di Nigeria)

Indonesia :

16

Buahnya yang agak pahit bisa buat obat herpes simpleks Daunnya buat nyembuhin borok atau kelainin pada kulit Daun dan buahnya yang telah dikeringkan bisa dikonsumsi untuk mengobati sakit pinggang, encok dan nyeri otot. secara empiris tumbuhan ini bahkan mampu mengobati cacar air atau campak, ketergantungan alkohol, gastritis dan bekas luka bakar

Obat hipertensi Obat sembelit Peluruh air seni Menghilangkan bengkak (antiswelling) Melancarkan darah Peluruh dahak Pereda batuk Antimitosis Antineoplastik Antibakteri Menghilangkan gatal (antipritus)

2.2.9. Kontraindikasi Tanaman Leunca Tanaman leunca juga mengandung racun, baik buah dan daunnya. Mengkonsumsi leunca, buah maupun daunnya dapat menyebabkan keracunan. Pada daun yang tua mengandung glikoalkaloid solanin. Begitu juga buah yang dikonsumsi mentah konsentrasi alkaloid sangat tinggi. Mengkonsumsi daun maupun buah lenuca dalam jumlah banyak atau besar dapat menyebabkan muntah, iritasi lambung, banyak keluar air liur , mengantuk, sakit perut, diare, lemas, gemetar serta gangguan pernafasan (Zenit, 2011).

17

BAB III PENUTUP

3. 1. Kesimpulan Wortel dan tanaman Leunca merupakan contoh dari tanaman obat asli Indonesia yang telah dimanfaatkan sejak ribuan tahun yang lalu oleh nenek moyang kita. Wortel (Daucus carota) dan Leunca (Solanum nigrum)

memiliki banyak kandungan zat aktif yang berkhasiat meningkatkan fungsi fisiologis tubuh untuk mencegah dan menyembuhkan berbagai penyakit. Cara pemakaian kedua tanaman tersebut sebagai racikan obat terbilang cukup sederhana dan mudah dibuat oleh banyak orang. 3. 2. Saran Farmasis adalah salah satu pekerjaan dibidang kesehatan. Maka dari itu farmasis harus lebih menggali, mencari tahu dan menguasai kekayaan alam Indonesia. Sehingga kekayaan alam Indonesia dapat dimanfaatkan dan dipergunakan dengan baik dan benar. Dengan begitu, Indonesia tidak akan kekurangan bahan obat obatan tradisional yang cenderung lebih sedikit efek samping yang terbuat. Selain itu, farmasis juga sebaiknya mensosialisasikan hal ini sehingga masyarakat luas dapat

memanfaatkannya secara benar.

18

DAFTAR PUSTAKA

Anonym. 2010. Mengenal Khasiat Wortel. Available online at http://esmartschool.co.id/index.php?option=com_content&task=view&id=163&Itemid =1 Anonym. 2011. Cara Budidaya Wortel. Available online at http://tipspetani.blogspot.com/2011/01/cara-budidaya-wortel.html Anonym. 2009. Wortel dan Manfaatnya untuk Pengobatan. Availabel online at http://khasiat-obatherbal.blogspot.com/2009/07/wortel-dan-manfaatnya.html

Anonim. 2012. Informasi Spesies: Ranti. Available online at http://www.plantamor.com/index.php?plant=1168

Garay. 2013. Ranti. Available online at http://kalderaprau.wordpress.com/tag/solanum-nigrum/

Asesa. 2011. Leunca. Available online at http://tanamanherbalobat.blogspot.com/2011/07/leunca.html

Dalimartha, Setiawan. 2008. Atlas Tumbuhan Obat Indonesia Jilid 5. Jakarta: Pustaka Bunda. Istiaji, Raditya Prima. 2012. Leunca (Solanum nigrum). Available online at http://www.ccrc.farmasi.ugm.ac.id/?page_id=2339

Zenit, Iman. 2011. Manfaat dan Khasiat Ranti/Leunca. Available online at http://www.jadilah.com/2011/06/manfaat-dan-khasiat-rantileunca.html

19

Redaksi AgroMedia. 2008. Buku Pintar Tanaman Obat. Jakarta: Agromedia Pustaka.

Adi, Lukas Tersono. 2007. Sehat Berdasarkan Golongan Darah. Jakarta: AgroMedia Pustaka. Ikeda, T.; Tsumagari, H.; Nohara, T. Steroidal oligoglycosides from Solanum nigrum. Chem. Pharm. Bull. (Tokyo) 2000, 48, 1062-1064.

Lin, H. M.; Tseng, H. C.; Wang, C. J.; Chyau, C. C.; Liao, K. K.; Peng, P. L.; Chou, F. P. Induction of autophagy and apoptosis by the extract of Solanum nigrum Linn in HepG2 cells. J. Agric. Food Chem. 2007, 55 (9), 36203628.

Lin, H. M.; Tseng, H. C.; Wang, C. J.; Lin, J. J.; Lo, C. W.; Chou, F. P. Hepatoprotective effects of Solanum nigrum Linn extract against CCl(4)induced oxidative damage in rats. Chem. Biol. Interact. 2008, 171 (3), 283293.

20