Anda di halaman 1dari 28

LAPORAN KASUS ANESTESI I.

IDENTITAS PASIEN Nama Usia Jenis Kelamin Alamat Pekerjaan Status perkahwinan Pendidikan Suku Agama No. Rekam Madis : Tn. Daryono : 50 tahun : laki-laki : Jl. Kesatrian No.90, Ciputat Timur, Tangerang : PNS departement : Menikah : SLTP : Jawa : Islam : 062776

II.

EVALUASI PRE-ANESTESI 1. Anamnesis Keluhan Utama Nyeri BAK sejak 1 tahun SMRS

Keluhan tambahan BAK berdarah sejak 1 tahun SMRS

Riwayat Penyakit Sekarang Pasien laki-laki umur 50 tahun datang ke RSAL Dr. Mintohardjo dengan keluhan nyeri BAK sejak 1 tahun SMRS. Nyeri hilang timbul terutama saat kencing. BAK keluar darah kadang-kadang yang dirasakan sejak 1 tahun SMRS. Pasien pernah satu kali BAK keluar pasir beberapa bulan lepas. Pasien juga mengeluhkan nyeri pada kedua pinggang, nyeri bersifat hebat hingga pasien senang duduk membungkuk, nyeri hilang timbul, dan menjalar ke depan. Pasien tidak pernah mengeluhkan BAB tidak lancar.

Riwayat Penyakit Dahulu Keluhan yang sama sebelumnya : disangkal


1

Riwayat darah tinggi : (+) sejak 2 tahun Riwayat kencing manis : (+) sejak 2 tahun Riwayat asma : disangkal Riwayat alergi makan dan obat : disangkal Riwayat penyakit kuning : disangkal Riwayat penyakit ginjal : (+) sejak 2 tahun yang lalu dan ada riwayat disinar dua kali. Riwayat penyakit jantung : disangkal Riwayat penyakit paru : disangkal

Riwayat Penyakit Keluarga Keluarga pasien tidak ada yang mengalami keluhan seperti ini. Riwayat darah tinggi (+) dalam keluarga yaitu ibunya. Riwayat kencing manis dan asma dalam keluarga disangkal.

Riwayat Kebiasaan Pasien tidak merokok , tidak mengkonsumsi alkohol dan tidak menggunakan obat-obatan terlarang golongan narkotik.

Riwayat pengobatan Pasien belum pernah berobat sejak keluhannya timbul. Pasien

mengkonsumsi obat amlodipin dan metformin untuk darah tinggi dan kencing manis. Riwayat alergi obat disangkal.

Riwayat Anestesi Pasien tidak pernah dilakukan operasi dan anestesi sebelumnya.

2. Pemeriksaan Fisik Status generalis Keadaan umum Tinggi Badan : tampak sakit sedang : 156 cm

Berat Badan Tekanan Darah Nadi Suhu Pernafasaan Keadaan gizi Kesadaran Sianosis Udema umum Mobilitas ( aktif / pasif )

: 60 kg : 167/99 mmHg : 104x/menit : 36.2oC : 20x/menit : baik : compos mentis (gelisah) : Tidak ada : Tidak ada : aktif

Kulit Warna Effloresensi Jaringan Parut Pigmentasi : sawo matang : (-) : tidak ada : tidak ada

Pertumbuhan rambut : distribusi rambut baik dan merata Lembab/Kering Suhu Raba Pembuluh darah : lembab : hangat : tidak ada pelebaran pembuluh darah maupun pembuluh darah kolateral Keringat Turgor Ikterus Lapisan Lemak Lain-lain : umum : baik : tidak ada : distribusi merata : tidak ada
3

Kelenjar Getah Bening Submandibula Supraklavikula Lipat paha Leher Ketiak : tidak teraba membesar : tidak teraba membesar : tidak teraba membesar : tidak teraba membesar : tidak teraba membesar

Kepala Ekspresi wajah Simetri muka Rambut : wajar/normal : simetris : hitam dengan sedikit uban, merata

Pembuluh darah temporal: teraba dan tidak ada kelainan

Mata Exophthalamus Enopthalamus Kelopak Lensa Konjungtiva Sklera Nistagmus : tidak ada : tidak ada : oedem (-), hiperemis (-) : jernih : anemis -/: ikterik -/: tidak ada

Lapangan penglihatan : normal ke segala arah


4

Tekanan bola mata: normal Gerakan Mata : dapat digerakkan ke segala arah

Deviatio konjugae : tidak ada

Telinga Tuli Lubang Serumen Cairan Selaput pendengaran Penyumbatan Pendarahan : -/: Liang telinga lapang : -/: -/: utuh : -/: -/-

Mulut Bibir : tidak sianosis, lembab Tonsil : T1 T1 tenang Langit-langit Gigi geligi Faring Lidah : tidak ada kelainan : lengkap, tidak ada caries : tidak hiperaemis Bau pernapasan Trismus Selaput lendir : tidak ada : tidak ada : tidak ada

: tidak tampak papil atrofi, lidah kotor (-)

Leher
5

Tekanan Vena Jugularis (JVP) Kelenjar Tiroid Kelenjar Limfe kanan

: 5 -2 cm H2O. : tidak tampak membesar. : tidak tampak membesar

Dada Bentuk : datar, tidak cekung

Pembuluh darah : tidak tampak pelebaran dan vena kolateral Buah dada : simetris, benjolan (-)

Paru Paru Depan Inspeksi Kiri Kanan Palpasi Kiri Simetris saat statis dan dinamis Simetris saat statis dan dinamis - Tidak ada benjolan - Fremitus simetris Kanan - Tidak ada benjolan - Fremitus simetris Perkusi Kiri Kanan Auskultasi Kiri Sonor di seluruh lapang paru Sonor di seluruh lapang paru - Suara vesikuler - Wheezing (-), Ronki (-) Kanan - Suara vesikuler Belakang Simetris saat statis dan dinamis Simetris saat statis dan dinamis - Tidak ada benjolan - Fremitus simetris - Tidak ada benjolan - Fremitus simetris Sonor di seluruh lapang paru Sonor di seluruh lapang paru - Suara vesikuler - Wheezing (-), Ronki (-) - Suara vesikuler

- Wheezing (-), Ronki (-)

- Wheezing (-), Ronki (-)

Jantung
Inspeksi Palpasi : tidak tampak pulsasi iktus cordis : Teraba pulsasi iktus cordis 2cm medial linea midklavikula kiri setinggi ICS 4. Perkusi : Batas kanan Batas kiri Batas atas : sela iga V linea parasternalis kanan. : sela iga V, 1cm sebelah medial linea midklavikula kiri. : sela iga II linea parasternal kiri.

Auskultasi : Bunyi jantung I-II murni reguler, murmur (-) , gallop (-)

Perut Inspeksi : tidak ada lesi, tidak ada bekas operasi, datar, simetris, smiling umbilicus tidak ada, dilatasi vena tidak ada Palpasi Dinding perut Hati Limpa Ginjal : supel, datar, benjolan (-) : tidak teraba membesar, tidak ada nyeri tekan di hati : tidak teraba membesar : tidak ditemukan ballotement, nyeri ketok CVA (+) kiri

Nyeri tekan abdomen (-) Murphy sign negatif Nyeri lepas negatif Perkusi Auskultasi : timpani, Shifting dullness negatif : bising usus (+)

Refleks dinding perut: baik

Anggota Gerak Lengan Otot Tonus : Massa : Sendi : Gerakan: Kekuatan: Oedem : Lain-lain: Petechie baik tidak ada tidak ada kelainan baik baik tidak ada tidak ada tidak ada baik tidak ada tidak ada kelainan baik baik tidak ada tidak ada tidak ada Kanan Kiri

Tungkai dan Kaki Luka Varises Otot : : Tonus : Massa : Sendi : Gerakan: Kekuatan: Oedem:

Kanan tidak ada tidak ada baik tidak ada baik baik kuat tidak ada

Kiri tidak ada tidak ada baik tidak ada baik baik kuat tidak ada
8

Lain-lain Petechie

tidak ada tidak ada

tidak ada tidak ada

Status lokalis daerah CVA Regio Flank/CVA Tanda radang Ballotement Nyeri tekan Nyeri ketok Massa Jaringan parut/ bekas operasi kanan (-) (-) (-) (-) (-) (-) kiri (-) (-) (+) (+) (-) (-)

3. Pemeriksaan Laboratorium Tanggal 17 september 2012 Pemeriksaan Leukosit Eritrosit Haemoglobin Hematokirt Trombosit Glukotest Hasil 9800 5.19 14.1 41 350 000 266 Nilai normal 5000-10000/ul 4.5-5.5 jt/mm3 14-18g/dl 43-51% 150000-400000/mm3 80-125 mg%

Tanggal 18 september 2012 Pemeriksaan Bleeding time Hasil 2.3 Nilai normal 1-6Menit

Clothing time Trigliseride Kolesterol SGOT SGPT Asam urat Ureum Creatinin Glukotest

12 148 141 37 16 4.6 39 1.3 199

10-16Menit <170 mg/dl <200mg/dl <35u/l <41u/l 3.6-8.2mg/dl 17-43mg/dl 0.9-1.3mg/dl 80-125 mg%

Foto BNO

10

V.

KESIMPULAN Laki-laki umur 50 tahun datang dengan diagnosis batu ginjal sinistra. ASA II karena pasien dalam ganguan sistem ringan hingga sedang yaitu hipertensi

dan DM juga penyakit bedah adalah batu ginjal.

VI.

RENCANA Tindakan Operasi : Nefrolitotomi

Jenis anestesi : Anestesi umum endotrakeal tube napas kendali Alasan : pada pasien dilakukan anestesi umum karena operasi yang dilakukan adalah dalam posisi lateral dekubitus dan supaya pasien tidak bergerak sepanjang operasi dan operasi yang dilakukan mengambil waktu yang lama. Pada pasien tidak dilakukan anestesi spinal karena posisi sepanjang operasi tidak enak bagi pasien sehingga tangan pasien bisa bergerak semasa operasi dan mengganggu operasi. Selain itu jika dilakukan anestesi spinal, blok akan menjadi tinggi karena posisi kepala pasien sedikit ke bawah.

VII.

TINDAKAN ANESTESI PREOPERASI Persiapan alat Laringoskop Stetoskop ETT no. 6 1/2, 7, 7 1/2 Guedel Plester Suction Balon/pump Mesin anestesi dengan volatile liquid EKG monitor
11

Sfigmomanometer digital Oksimeter/saturasi Infuse set Spuit Gel Abocath no.18 Sungkup muka Connector Forcep mcgill Kasa steril

persiapan obat-obatan anestesi : premedikasi : midazolam (0,01-0,1 mg/kgBB) fentanyl (1-3ug/kgBB) fungsi premedikasi adalah : 1. menimbulkan rasa nyaman pada pasien menghilangkan rasa khawatir membuat sedatif membuat amnesia

2. memudahkan atau memperlancarkan induksi 3. mengurangi jumlah pemberian obat induksi 4. menekan refleks-refleks yang tidak diinginkan 5. mengurangi sekresi kelenjar saliva dan lambung 6. mengurangi rasa sakit induksi relaksan

: propofol (sebagai induksi yaitu membuat

pasien dari sadar ke tidak sadar. Dosis induksi = 1-2.5mg/kgBB) : rocuronium bromida (merupakan obat

pelumpuh otot non depolar yang relatif baru dan berfungsi untuk membuat napas kendali pada pasien saat operasi) obat anestesi : Isoflurane (salah satu efek isoflurane adalah

hipotensi tetapi pada pasien karena tekanan darahnya tinggi, masih bisa digunakan isoflurane. Selain itu pasien tidak mempunyai riwayat asma
12

atau penyakit paru sshingga bisa menggunakan isoflurane karena efek dari isoflurane adalah mendepresi respirasi)

N20 : O2 = 3 : 2 liter/menit (N20 adalah sebagai maintainance anestesi dan merupakan weak anestesi dan biasanya digabungkan volatile liquid) obat emergency : sulfas atropine (jika terjadi bradikardia dan juga dapat

sebagai reverse pelumpuh otot), efedrin( jika terjadi penurunan tekanan darah) anti emetic : ranitidine, ondancentron (untuk mencegah muntah,

jika terjadi muntah akan menyebabkan aspirasi sehingga menganggu pernapasan. Jadi lebih baik muntah dicegah sebelum timbul) analgetik post op : ketopain (sebagai anti nyeri setelah pasien sadar) Obat reverse : Prostigmin (untuk reversed pelumpuh otot jika pasien

masih belum bernapas spontan bila selesai operasi), sulfa atropine (disebabkan prostigmin mempunyai efek meningkatkan sekresi kelenjar saluran napas dan liur, maka SA berfungsi untuk menghambat efek tersebut dan biasanya diberikan bersamaan prostigmin).

persiapan pasien : 1. Surat persetujuan operasi : merupakan bukti tertulis dari pasien atau keluarga pasien yang menunjukkan persetujuan akan tindakan medis yang akan dilakukan sehingga bila terjadi hal-hal yang tidak diinginkan keluarga pasien tidak akan mengajukan tuntutan. 2. Pasien dipuasakan sejak pukul 0400 WIB tanggal 18 septemberi 2012 tujuannya untuk memastikan bahwa lambung pasien telah kosong sebelum pembedahan untuk menghindari kemungkinan terjadinya muntah dan aspirasi isi lambung yang akan membahayakan pasien. 3. Bila ada gigi palsu sebaiknya dilepaskan agar tidak mengganggu kelancaran proses intubasi (pasien tidak memakai gigi palsu) dan mengelakkan gigi palsu menjadi sumbatan jalan nafas jika terlepas. 4. Memakai pakaian operasi yang telah disediakan di ruang persiapan.
13

5. Memakai topi operasi.

Penatalaksanaan : 1. Pasien masuk ke ok I jam 12.00 2. Pemeriksaan tanda vital : tekanan darah 167/99 mmhg Nadi 104x/menit Saturasi oksigen 98% Masalah anestesi pada pasien adalah hipertensi dan takikardi karena pasien mempunyai riwayat hipertensi. Jadi harus hati-hati dengan pemberian obatobat yang meningkatkan tekanan darah 3. Premedikasi mulai jam 12.05 : miloz : 2.5 mg IV Fentanyl : 75 ug IV 4. Medikasi : safol 100mg Noveron 40mg 5. Setelah diberikan medikasi, ditunggu beberapa detik hingga refleks bulu mata menghilang. 6. Berikan O2 7L secara sungkup muka sambil memompa kantong udara +- 3 menit sebagai cadangan oksigen untuk dilakukan intubasi. 7. Dilakukan intubasi dengan endotrakeal tube kinking no 7.5 dan cuff dipompa. 8. ETT dihubungkan dengan mesin anestesi dan kantong udara dipompa. 9. Suara napas kanan dan kiri diperiksa dengan stetoskop dan hasilnya simetris. 10. ETT difiksasi dengan tape di sudut mulut pasien supaya tidak terlepas. 11. Dilakukan pemeliharaan dengan membuka N2O 2l/menit , O2 diturunkan ke 2L/menit dan isoflurane dibuka 2%. 12. Respirasi : kendali dengan O2 2l/menit, N2O 2l/menit, isoflurane 2% menggunakan ETT. 13. Kasa dimasukkan ke dalam laring untuk mencegah liur keluar karena posisi pasien miring. 14. Guedel dipasang untuk mencegah ETT digigit

14

15. Meletakkan tape di kedua kelopak mata supaya mata tidak terbuka. Disebabkan pasien dalam keadaan tidak sadar, matanya biasa tidak menutup sempurna sehingga dapat menyebabkan kornea menjadi kering. 16. Jam 12.10 dipasang kateter urin no.16 untuk observasi cairan yang keluar. 17. Pasien diposisikan miring. 18. Tekanan darah, nadi dan saturasi oksigen di observasi setiap 10 menit. Pemantauan : Pasien masuk Ok : jam 12.00 Anestesi dimulai jam 12.05 Operasi dimulai jam 12.35 Operasi selesai jam 15.25

Tekanan darah dan denyut nadi selama operasi :

Jam 12.00

13.00

14.00

15.00

Pada jam 12.20 diberikan efedrin 10mg IV karena tekanan darah pasien turun menjadi 81/51mmHg dan nadi 59x/mnt.
15

Pada jam 12.40 pasien terbangun dan diberikan noveron 10mg IV Pemberian medikasi : transamin 500mg IV jam 14.40 (untuk membantu pembekuan darah sepanjang operasi) Ranitidine 50mg IV jam 14.40 (sebagai obat mencegah muntah) Vometraz 4mg IV jam 14.40(sebagai obat mencegah muntah) Ketopain 30mg IV jam 15.10 (sebagai analgetik)

Pemberian cairan : BB : 60 kg EBV = 70cc/kgBB x 60 = 4200 cc ABL = 20% x 3900 = 780 Kebutuhan cairan pemeliharaan pada operasi besar: Maintainance : 8cc/kgBB/jam x 60 = 480 cc/jam

Pemberian cairan : I. Jam I (saat masuk OK) Diberikan RL mulai jam 12.00 II. Jam II : Diberikan RL mulai jam 12.50 III. Jam III : Diberikan RL mulai jam 14.15

Setelah selesai operasi : Gas anestesi diturunkan hingga 0 Gas N2O diturunkan hingga 0 Gas O2 dinaikkan menjadi 6l Diusahakan nafas spontan dengan cara mesin anestesi di set menjadi ventilasi manual.pernafasan pasien dibantu dengan memompa balon udara tetapi dilakukan hipoventilasi 6-8x/menit untuk memancing pasien bernapas sendiri. Jika balon mulai kembang kempis sendiri tetapi volume masih kecil, napas dibantu dengan memompa balon saat inspirasi. Dilakukan sehingga balon kembang kempis dengan volume
16

adequat. Jika pasien masih tidak bernapas spontan dapat diberikan obat reverse untuk menghentikan kerja obat muscle relaxant yang masih bekerja. Diberikan obat reverse prostigmin 0.1mg IV dan sulfa atrophine 0.5mg Ditunggu beberapa menit hingga napas spontan dan adekuat Mengeluarkan kasa di laring Lendir dikeluarkan dengan suction. Cuff ETT dikempiskan dan dilakukan ekstubasi. Ekstubasi dilakukan ketika pasien masih dalam anestesi dalam dan tidak sadar supaya tidak terjadi spasme laring. Memasukkan guedel ke dalam mulut untuk mempertahankan jalan napas Diberikan O2 7l/menit menggunakan sungkup muka +-4menit Setelah semua peralatan dilepaskan pasien dibawa ke recovery room.

POST OPERASI Pasien ditempatkan ke ruang recovery room jam 15.55 Tanda vital diobservasi di RR : tekanan darah 135/93mmHg, nadi 95x/mnt dan saturasi oksigen 98% Jumlah urin di urin bag jam 15.55 = 200 cc Guedel dicabut pasien jam 15.10 Kesadaran menjadi penuh jam 15.30 Keluar dari RR jam 16.00

Aldrete score saat pasien tiba di recovery room : No. 1. KESADARAN # sadar, orientasi baik (2) # dapat dibangunkan (1) # tidak dapat dibangunkan (0) 2. WARNA # merah muda (pink) tanpa O2, Sa O2 >92% (2) # pucat atau kehitaman, perlu O2 agar Sa O2> 90% (1) # sianosis, dengan O2 SaO2 tetap <90% (0) 3. AKTIVITAS / / NILAI 2 1 0

17

# 4 ekstrimitas bergerak (2) # 2 ekstrimitas bergerak (1) # tak ada ekstrimitas bergerak (0) 4. RESPIRASI # dapat nafas dalam, batuk (2) # nafas dangkal, sesak nafas (1) # apnoe atau obstruksi (0) 5. KARDIOVASKULAR # tekanan darah berubah <200% (2) # berubah 20-30% (1) # berubah >50 % (0) JUMLAH 8 / / /

Aldrete score saat pasien mahu dihantar ke ruangan: No. 1. KESADARAN # sadar, orientasi baik (2) # dapat dibangunkan (1) # tidak dapat dibangunkan (0) 2. WARNA # merah muda (pink) tanpa O2, Sa O2 >92% (2) # pucat atau kehitaman, perlu O2 agar Sa O2> 90% (1) # sianosis, dengan O2 SaO2 tetap <90% (0) 3. AKTIVITAS # 4 ekstrimitas bergerak (2) # 2 ekstrimitas bergerak (1) # tak ada ekstrimitas bergerak (0) 4. RESPIRASI # dapat nafas dalam, batuk (2) # nafas dangkal, sesak nafas (1) # apnoe atau obstruksi (0) / / / / NILAI 2 1 0

18

5.

KARDIOVASKULAR # tekanan darah berubah <200% (2) # berubah 20-30% (1) # berubah >50 % (0) JUMLAH 10 /

Total score 10, dapat dipindahkan dari recovery room.

19

TINJAUAN PUSTAKA

PENDAHULUAN Anestesi umum / General anestesi adalah suatu tindakan medis dimana tujuan utamanya adalah menghilangkan nyeri. Bedanya dengan anestesi regional adalah pada anestesi umum pasien dalam keadaan tidak sadar sedangkan pada anestesi regional pasien tidak merasakan nyeri tapi masih sadar. Anestesi umum juga mempunyai karakteristik menyebabkan amnesia bagi pasien yang bersifat anterograd yaitu hilang ingatan kedepan maksudnya pasien tidak akan bisa ingat apa yang telah terjadi saat dia dianestesi / operasi. Karakteristik selanjutnya adalah reversible yang berarti General anestesi akan menyebabkan pasien bangun kembali tanpa efek samping. General anestesi juga dapat diprediksi lama durasinya dengan menyesuaikan dosisnya.

20

Definisi Hilangnya rasa nyeri dan kesadaran secara reversible.

Trias anestesi 1. Hipnotik 2. Analgesi 3. Relaksasi otot

Note: General anestesi memiliki komponen ideal sperti yang disebutkan diatas, tetapi tidak semua General anestesi harus memiliki 3 pilar tersebut. Minimal yang harus ada adalah hipnotik dan analgesia. Secara klinis, anestesi untuk general anestesi menyebabkan4 1. Tidak berasa nyeri 2. Amnesia (tidak ingat kejadiaan saat operasi) 3. Tiba bisa bernapas spontan kerna penggunaan pelumpuh otot(untuk GA napas kendali)

METODE ANESTESI 1. Parenteral a) Intravenous anesthesia b) Intramuskular ( operasi singkat ) 2. Perektal (biasanya digunakan pada bayi atau anak-anak dalam bentuk suppositoria, tablet, semprotan yang dimasukan ke anus) 3. Perinhalasi (melalui isapan, pasien disuruh tarik nafas dalam kemudian berikan anestesi perinhalasi secara perlahan.) a) Sungkup muka napas spontan b) Intubasi trachea (perlu pelemas otot) -spontan -napas kendali (digunakan gas dan volatile liquid)

21

FAKTOR YANG MEMPENGARUHI 1. Respirasi gas Zat anestesi yang masuk ke saluran napas akan mencapai alveoli. Setelah dialveoli obat anestesi akan mencapai konsentrasi tertentu hingga cukup kuat untuk menyebabkan proses difusi kedalam sirkulasi dan disebarkan keseluruh tubuh / jaringan. 2. 3. Sirkulasi Jaringan - Kaya pembuluh darah ; otak, jantung, ginjal hati dan paru - Miskin pembuluh darah : jaringan lemak, tulang, tendo, subkutis dsb Apabila anestesi tersebut masuk ke organ yang kaya pembuluh darah akan cepat efek yang muncul seperti pada otak yang memiliki vaskularisasi yang banyak sehingga muncul efek hipnotik/tidur. 4. Zat anestesi Potensi macam-macam zat anestesi tergantung pada - MAC (minimal alveolar concentration) - Koefisien partial 5. Lain lain seperti : - ventilasi (Semakin sering kita memberikan ventilasi/ memberikan pernafasan melebihi pernafasan normal (menggunakan bag mask) maka efek anestesinya lebih cepat terjadi.) - curah jantung - suhu (semakin rendah suhu tubuh maka akan semakin cepat efek anestesi terjadi.)

STADIUM ANESTESI 1, 5 1. Stadium I ( analgesia sampai kesadaran hilang) 2. Stadium II ( sampai respirasi teratur) 3. Stadium III 4. Stadium IV ( henti nafas dan henti jantung)

Stadium I Stadium I (St. Analgesia/ St. Disorientasi) dimulai dari saat pemberian zat anestetik sampai hilangnya kesadaran. Pada stadium ini pasien masih dapat mengikuti perintah dan terdapat analgesi (hilangnya rasa sakit). Tindakan pembedahan ringan, seperti pencabutan gigi dan

22

biopsi kelenjar, dapat dilakukan pada stadium ini. Stadium ini berakhir dengan ditandai oleh hilangnya reflex bulu mata (caranya dengan raba bulu mata) Stadium II Stadium II (St. Eksitasi / St. Delirium) Mulai dari akhir stadium I dan ditandai dengan pernafasan yang irreguler, pupil melebar dengan refleks cahaya (+), pergerakan bola mata tidak teratur, lakrimasi (+), tonus otot meninggi dan diakhiri dengan hilangnya refleks menelan dan kelopak mata. Stadium III Stadium III yaitu stadium sejak mulai teraturnya lagi pernafasan hingga hilangnya pernafasan spontan. Stadia ini ditandai oleh hilangnya pernafasan spontan, hilangnya refleks kelopak mata dan dapat digerakkannya kepala ke kiri dan kekanan dengan mudah. Stadium IV Ditandai dengan kegagalan pernapasan (apnea) yang kemudian akan segera diikuti kegagalan sirkulasi/ henti jantung dan akhirnya pasien meninggal. Jika mencapai stadium 4 berarti kedalaman anestesi yang berlebihan.

MACAM & TANDA REFLEK PADA MATA 1 1. Reflek pupil 2. Reflek bulu mata 3. Reflek kelopak mata 4. Reflek cahaya

Reflek pupil Pada keadaan teranestesi maka reflek pupil akan miosis apabila anestesinya dangkal, midriasis ringan menandakan anestesi reaksinya cukup dan baik/ stadium yang paling baik untuk dilakukan pembedahan, midriasis maksimal menandakan pasien mati.

Reflek bulu mata Reflek bulu mata sudah disinggung tadi di bagian stadium anestesi. Apa bila saat dcek reflek bulu mata (-) maka pasien tersebut sudah pada stadium 1. Reflek kelopak mata

23

Pengecekan reflek kelopak mata jarang dilakukan tetapi bisa digunakan untuk memastikan efek anestesi sudah bekerja atau belum, caranya adalah kita tarik palpebra atas ada respon tidak, kalau tidak berarti menandakan pasien sudah masuk stadium 1 ataupun 2. Reflek cahaya Untuk reflek cahaya yang kita lihat adalah pupilnya, ada / respon tidak saat kita beri rangsangan cahaya.

INDIKASI ANESTESI UMUM 1. Bayi dan anak-anak 2. Dewasa yang memilih anestesi umum 3. Pembedahannya luas / ekstensif 4. Penderita sakit mental 5. Pembedahan lama 6. Pembedahan dimana anestesi lokal tidak praktis atau tidak memuaskan 7. Riwayat penderita toksik/ alergi obat anestesi lokal 8. Penderita dengan pengobatan antikoagulan

KONTRA INDIKASI ANESTESI UMUM 1. Mutlak :dekomp.kordis derajat III IV ; AV blok derajat II total (tidak ada gelombang P) 2. Relatif ; hipertensi berat/tak terkontrol (diastolic >110), DM tak terkontrol, infeksi akut, sepsis, GNA OBAT-OBAT ANESTESI INHALASI 3 Volatile liquid 1. chloroform 2. dietil eter 3. etil klorida 4. halotan 5. metoksifluran 6. trikoetilen 7. ensfluran
24

8. isofluran 9. densfluran gas anesthetic 1. cyclopropane 2. etilen 3. nitrogen oksida TEHNIK ANESTESI UMUM I. SUNGKUP MUKA (fask mask) nafas spontan Indikasi Tindakan singkat Keadaan umum baik ( ASA I II ) Lambung harus kosong (pasien disuruh puasa selama 6-8 jam dengan harapan lambung sudah kosong dalam rentang waktu tsb. Lambung harus kosong supaya tidak terjadi reflux/regurgitasi, Karena terjadi relaksasi semua otot diakibatkan efek anestesi umum khususnya otot yang bekerja di traktus digestivus sehingga makanan bisa naik dan bisa terjadi aspirasi.) Prosedur 1. Persiapan anestesi -persiapan pasien dan memasang IV line - persiapan alat - Persiapan obat 2. Melakukan premedikasi (petidin/morfin/fentanyl/diazepam/midazolam/dehydrbenzperidon) 3. Induksi (ketamin/pentotal/propofol) 4. Pemeliharaan - Pasang sungkup muka - berikan gas anestesi N2O/O2 dengan ratio 70% gas N2O dan 30% O2 dan tambahkan volatile agent 1%(halotan/isofluran/ensfluran) - kedalaman anestesi dapat diketahui dari bola mata terfiksir, refleks-refles negatif,guidel rahang lemas dan vital sign.
25

- volatile agent dipertahankan dan dimatikan sebelum operasi selesai. - Selesai operasi N2O dimatikan dan berikan O2 100%

II.

INTUBASI ENDOTRAKEA Dengan NAFAS SPONTAN Intubasi endotrakea adalah memasukkan pipa (tube) endotrakea (ET= endotrakheal tube) kedalam trakea via oral atau nasal Indikasi ; operasi lama, sulit mempertahankan airway (operasi di bagian leher dan kepala) , lambung penuh, operasi cyto/segera Prosedur : 1. Persiapan anestesi -persiapan pasien dan memasang IV line - persiapan alat - Persiapan obat 2. Melakukan premedikasi (petidin/morfin/fentanyl/diazepam/midazolam/dehydrbenzperidon) 3.Induksi (ketamin/pentotal/propofol) 4. preokgenasi 5. berikan muscle relaxant 6. pasang sungkup muka, pompa kantung udara 7. masukkan ETT/NT dan cuff dipompa 8. hubungkan ET dengan mesin anestesi 9. cek suara napas kanan dan kiri dengan stetoskop 10. pasang guedel 11. fiksasi ETT dengan plaster 12. pasang konektor antara ET dengan mesin anestesi yang telah dibuka N2O/O2 dan volatile liquid 13. pemeliharaaan N2O/O2 : 4/2 l/menit dan volatile liquid 0.5-4% tergantung dari respon masing-masing pasien.

III.

INTUBASI DENGAN NAFAS KENDALI (KONTROL) 1. Penderita diberikan muscle relaxant


26

2. Untuk pemeliharaan muscle relaxant diberikan 1/3 hingga dosis awal 3. Akhiri anestesi dengan napas spontan, gas anestesi diturunkan sampai 0. 4. Bila operasi selesai tetapi pasien belum napas spontan diberikan obat reverse 5. Dilakukan ekstubasi

POST OPERASI 1. Pasien diletakkan di recovery room 2. Observsi vital sign 3. Pasien gelisah kemungkinan karena nyeri. Hipoksia, hipotensi, stress psikologi 4. Penilaian pulih sadar berdasarkan aldrete score Yang harus dinilai pada aldrete score adalah: Kesadaran Pernapasan Tekanan darah Aktivitas Warna kulit

Jika nilai aldrete score 8-10, pasien boleh dipindahkan ke ruangan.

27

DAFTAR PUSTAKA

1. Muhiman M, Thaib MR, Sunatrio S, Dahlan R, editors. Anestesiologi. Jakarta: Bagian Anestesiologi dan Terapi Intensif FKUI; 1989.

2. General anesthesia drugs available at http://www.drugs.com/pro/ searched 1 october 2012.

3. General anesthesia available at http://emedicine.medscape.com/article/1271543overview searched 29 September 2012.

4. General

anesthesia

stage

available

at

http://medicine.tamhsc.edu/basic-

sciences/next/pdf/general-anesthesia.pdf searched 30 September 2012.

28