Anda di halaman 1dari 18

BAB I PENDAHULUAN

I.1 Latar belakang Sepanjang telaah tentang sejarah hukum di Indonesia, nampak jelas bahwa sejak berabad-abad yang lalu, hukum Islam itu telah menjadi hukum yang hidup di tengah-tengah masyarakat di Indonesia. Ajaran Islam, sebagaimana dalam beberapa ajaran agama lainnya, mengandung aspek-aspek hukum yang kesemuanya dapat dikembalikan kepada sumber ajaran Islam itu sendiri, yakni Al-Quran dan al-Hadits. Dalam menjalankan kehidupan seharihari, baik sebagai pribadi, anggota keluarga dan anggota masyarakat, di mana saja di dunia ini, umat Islam menyadari ada aspek-aspek hukum yang mengatur kehidupannya, yang perlu mereka taati dan mereka jalankan. I.2 Perumusan Masalah 1. Apa saja sumber hukum islam? 2. Bagaimana fungsi hukum islam dalam kehidupan masyarakat Indonesia? 3. Apa kontribusi umat islam dalam perumusan hukum di Indonesia? I.3 Tujuan Untuk mengetahui apa saja sumber-sumber hukum islam dan kontribusi umat islam dalam sistem hukum di Indonesia.

I.4 Metode

Pengumpulan data

BAB II PEMBAHASAN

II.1 Sumber Hukum Islam Hukum Islam adalah hukum yang ditetapkan oleh Allah melalui wahyuNya yang kini terdapat dalam Al Quran dan dijelaskan oleh Nabi Muhammad sebagai rasul-Nya melalui sunnah beliau yang kini tersimpan baik dalam kitabkitab hadits. Sumber hukum Islam antara lain : II.1.a Al-Quran Alquran bukanlah tulisan hukum, namun di dalam Alquran terkandung setidaknya 500 perintah Allah SWT yang sifatnya berkaitan dengan hukum. Abdur Rahman i Doi (Shariah: The Islamic Law, 1989) membuat klasifikasi atas aturan-aturan yang terkait dengan hukum ke dalam empat bagian besar yaitu:

a) The concise injunctions, atau perintah-perintah Allah yang tertulis di dalam Alquran namun tidak ditemui penjelasan tentang tata cara pelaksanaan atas perintah tersebut. Sebagai contoh adalah perintah Allah untuk mendirikan shalat, berpuasa atau mengeluarkan zakat; b) The concise and detailed injunctions, atau perintah-perintah Allah yang secara jelas tertulis dalam Alquran, dan penjelasan atas ayat-ayat tersebut bisa didapati dari hadits atau sumber hukum Islam lainnya. Sebagai contoh adalah aturan mengenai hubungan muslim dengan non-muslim; c) The detailed Injuctions, yaitu dimana Alquran telah memberikan penjelasan yang detail berkaitan dengan satu perintah Allah SWT, dan tidak diperlukan adanya lagi suatu penjelasan tambahan. Sebagai contoh adalah hukum hadd (huddud); dan d) Fundamental principles of Guidance, prinsip-prinsip ini tidak memiliki penjelasan yang terperinci dan pasti (clear cut), sehingga untuk menetukan hukum atas hal-hal tersebut perlu diambil melalui suatu proses yang dinamakan ijtihad. II.1.b Al Hadits dan Sunnah Sunnah adalah segala perbuatan dan perkataan Rasulullah, termasuk segala sesuatu yang disetujui oleh Beliau. Hadits sendiri berarti segala hikayat atau pembicaraan yang digunakan dalam meriwayatkan segala sesuatu tindak tanduk Rasulullah, sehingga sunnah dapat berarti sebuah contoh perbuatan atau hukum yang diambil dari adanya suatu hadits. Di dalam Al-Quran banyak ayat-ayat menerangkan dan posisi Rasul dalam syariat Islam, sebagai contoh dan teladan. Firman Allah surat al-Ahzab ayat 21.

Artinya: Sesungguhnya telah ada pada (diri) Rasulullah itu suri teladan yang baik bagimu (yaitu) bagi orang yang mengharap (rahmat) Allah dan (kedatangan) hari kiamat dan dia banyak menyebut Allah. Dalam Al Quran Surat al-Hasyr ayat 7

Artinya : Dan apa yang dilarangnya bagimu, Maka tinggalkanlah. Dan bertaqwalah kepada Allah. Sesungguhnya Allah amat keras hukumannya. Berkaitan dengan Shariah, hanya sunnah yang berkaitan dengan hukum sajalah yang dikategorikan sebagai suatu sumber hukum Islam, sehingga sunnah yang tidak langsung berkaitan seperti bagaimana teknik pertanian, strategi peperangan, dan lain sebagainya tidak dianggap sebagai sebuah sumber hukum Islam atau hukum pidana Islam. Sunnah sendiri digunakan dalam berbagai keperluan diantaranya adalah untuk mengkonfirmasi hukum-hukum yang sudah disebutkan dalam Al-Quran, untuk memberikan penjelasan tambahan bagi ayat Al-Quran yang menjelaskan sesuatu secara umum, untuk mengklarifikasi ayat-ayat Alquran yang mungkin dapat menerbitkan keraguan bagi umat, dan memperkenalkan hukum baru yang tidak disebutkan dalam Al-Quran. Kompilasi atas hadits dilakukan oleh para ulama dan cendekiawan muslim yang secara umum dikumpulkan oleh empat periwayat hadits terkemuka yaitu kompilasi hadits yang diriwayatkan oleh AlBukhari (870M), Muslim (875M), Abu Dawud (888M), dan At-Tirmidhi (892M). Mungkin masih ada hadits yang diriwayatkan oleh selain empat ulama terkemuka ini, namun secara umum umat muslim mengenal empat kompilasi hadits yang
5

dikumpulkan atau diriwayatkan ulama di atas. Hadits sendiri diklasifikasikan berdasarkan kualitas dari periwayatnya (bisa dipercaya) dan kekuatan dari isnad atau bagaimana hubungan antara para periwayat itu sendiri, sehingga dapat digolongkan dalam tiga jenis: Muwatir, Mashhur, dan Ahad. Masing-masing memiliki arti sendiri-sendiri yang menandakan kualitas dari hadits-hadits tersebut. II.1.c Ijtihad Ijtihad berarti mencurahkan segenap kemampuan berfikir dalam menggali dan merumuskan syar'i yang bersifat dhanni dengan menggunakan metode tertentu yang dilakukan oleh yang berkompeten baik secara metodologis maupun permasalahan. Posisi ijtihad bukan sebagai sumber hukum melainkan sebagai metode penetapan hukum, sedangkan fungsi ijtihad adalah sebagai metode untuk merumuskan ketetapan-ketetapan hukum yang belum terumuskan dalam AlQur'an dan Al-Sunnah. Ruang lingkup Ijtihad : 1.Masalah-masalah yang terdapat dalam dalil-dalil dhanni. 2.Masalah-masalah yang secara eksplisit tidak terdapat dalam AlQur'an dan Al-Sunnah. II.2 Fungsi Hukum Islam dalam Kehidupan Masyarakat 1. Fungsi Ibadah Fungsi paling utama hukum Islam adalaah untuk beribadah kepada Allah SWT. Kepatuhan terhadap hukum tersebut sekaligus merupakan indikasi keimanan seseorang. 2. Fungsi Amar Maruf Nahi Munkar 3. Fungsi Zawajir

Fungsi ini terlihat dalam pengharaman membunuh dan berzina, yang disertai ancaman hukuman atau sanksi hukum. 4. Fungsi tandzim wa ishlah al-ummah Sebagaui sarana mengatur dan memperlancar proses interaksi sosial sehingga terwujud masyarakat yang harmonis, aman dan sejahtera. Fungsi keempat ini dapat dijabarkan sebagai berikut : a. Memupuk persatuan dan kesatuan. Hukum Islam merupakan hukum yang bersifat universal (berlaku bagi seluruh umat manusia) b. Mengarahkan dan mengatur segala tindak tanduk manusia bermasyarakat. c. Ikut mengambangkan ilmu pengetahuan, karena hukum Islam ini bersifat fleksibel dan bisa disesuaikan dengan perkembangan zaman. d. Merealisasikan kemaslahatan manusia dengan menjamin kebutuhan pokoknya dan memenuhi kebutuhan sekunder serta kebutuhan pelengkap mereka.

II.3 Kontribusi Umat Islam dalam Perumusan Sistem Hukum di Indonesia Umat Islam tidak hanya berperan dalam hukum hukum Islam saja, melainkan juga dalam perumusan sistem hukum nasional negara kita. Dalam menyelesaikan hubungan hukum Islam dengan nilai nilai pra-islam dan hukum Islam dengan perubahan sosial di dalam masyarakat, sebetulnya sudah lama digerakkan Gerakan Pembaharuan atau bisa juga disebut Gerakan Tajdid bertujuan untuk memurnikan hukum dan ajaran Islam dengan kemajuan zaman. Berbagai gerakan pembaharuan telah digencarkan, akan tetapi perombakan yang cukup fundamental sebagaimana yang diharapkan belum juga dapat direalisasikan.
7

Kegunaan pembaharuan hukum Islam akan dapat ditemukan dasar dasar konsepsionalnya dari prinsip prinsip hukum islam, karena melalui penerapan prinsip prinsip filsafat hukum islam ini persoalan hubungan antara hukum islam dan nilai tradisional, dan hukum islam dengan perubahan dan kemajuan zaman akan dapat dipecahkan sebaik-baiknya. Karena pembaharuan hukum Islam diharapkan dapat menjadi proporsi yang mantap sehingga dapat dipakai sebagai fundamen hukum nasional yang aspiratif. Di kenyataannya, hukum Islam sudah bekerja sama dengan hukum nasional. Kita sebut saja kerja sama antara Mahkamah Agung dengan Departemen Agama di Indonesia. Kedua badan tersebut bekerja sama untuk mengadakan kompilasi hukum Islam yang diatur dalam Instruksi Presiden Nomor 1 Tahun 1991, terutama mengenai hukum perkawinan yang tercantum dalam Undang Undang Republik Indonesia Nomor 1 Tahun 1974, kewarisan, Peraturan Pemerintah Nomor 28 Tahun 1977 tentang pewakafan tanah milik, dan Undang Undang Republik Indonesia Nomor 1999 tentang penyelenggaraan Haji dan sebagainya. Sebenarnya, keberadaan sistem hukum Islam sudah lama berdiri sejalan dengan berdirinya sistem peradilan agama yang diakui dalam sistem peradilan nasional di Indonesia. Kekuatan Pengadilan Islam pun semakin kokoh dengan diundangkannya UU tentang Peradilan Agama tahun 1988. Untuk menegakkan hukum Islam dalam praktik bermasyarakat dan bernegara, memang harus melalui beberapa proses tertentu. Proses proses tersebut antara lain cultural dan dakwah. Apabila Islam sudah bisa bermasyarakat, maka sebagai konsekuensinya hukum harus ditegakkan. Di dalam negara yang kebanyakan warganya beragama Islam, kebebasan mengeluarkan pendapat atau kebebasan berpikir wajib ada. Kebebasan mengeluarkan pendapat ini wajib ada karena dapat mengembangkan pemikiran hukum Islam yang betul betul teruji, baik dari sudut pandang pemahaman, maupun dari sudut pandang pengembangannya. Dalam ajaran agama Islam ditetapkan bahwa umat Islam mempunyai kewajiban untuk menaati hukum yang ditetapkan Allah SWT. Masalahnya kemudian,

bagaimanakah sesuatu yang wajib menurut hukum Islam menjadi wajib pula menurut perundang- undangan. Namun, semua itu tidak dapat direalisasikan secara instan. Semua itu perlu waktu dan proses untuk mewujudkan semuanya. II.3.a. Lahirnya UUD 1945 Pada 29 Mei-1 Juni 1945, beberapa bulan sebelum pencetusan proklamasi kemerdekaan Indonesia, para pemimpin, para founding-father yang tergabung dalam organisasi Badan Penyelidik Usaha-usaha Persiapan Kemerdekaan Indonesia (BPUPKI) melangsungkan sidangnya untuk merumuskan falsafah negara bagi Negara Indonesia. Selama tiga hari, 3 orang pembicara, yaitu Muhammad Yamin, Soepomo dan Soekarno sama-sama mengemukakan lima azas bagi negara Indonesia merdeka. Pada hari ketiga, Soekarno yang juga mengusulkan dan memberikan lima azas, dengan menambahkan bahwa kelima azaz yang adalah tata-cara tatanan hidup, prinsip hidup bangsa sejak turun terumurun, merupakan satu kesatuan utuh yang disimpulkan dan disebut dengan nama Pancasila. Dan pidato atau sambutannya ini diterima baik oleh siding. Oleh karena itu, tanggal 1 Juni 1945 dikenal anggota BPUPKI sebagai Hari Lahirnya Pancasila. Setelah proklamasi 17 Agustus 1945, beberapa orang utusan dari daerah, di antaranya: Sam Ratulangi (Sulawesi), Tadjoedin Noor dan Ir. Pangeran Noor (Kalimantan), I. Ktut Pudja (Nusatenggara) dan Latu Harhary (Maluku), menyatakan keberatan akan bagian kalimat rancangan Pembukaan UUD yang juga sila pertama Pancasila sebelumnya yang berbunyi: "Ketuhanan dengan kewajiban menjalankan syariat Islam bagi para pemeluknya". Pada 18 Agustus 1945, setelah berkonsultasi dengan empat orang tokoh Islam yaitu Kasman Singodimedjo, Wahid Hasyim, Ki Bagus Hadikusumo dan Teuku M.Hasan, maka demi persatuan dan kesatuan bangsa, Mohammad Hatta mengusulkan agar kalimat yang menjadi keberatan utusan daerah itu diubah menjadi "Ketuhanan Yang Maha Esa".

Dalam sidang PPKI tanggal 18 Agustus 1945, rancangan UUD 1945 diterima, dan Pancasila yang digali, dicetuskan, dan dilahirkan pada 1 Juni 45 itu, ditetapkan sebagai dasar Negara Indonesia. Pancasila terdiri dari lima, yang dapat diterangkan sebagai berikut :
1. Ketuhanan Yang Maha Esa. Makna dari sila ini adalah: Percaya dan

taqwa kepada Tuhan Yang Maha Esa sesuai dengan agama dan kepercayaan masing-masing menurut dasar kemanusiaan yang adil dan beradab.
2. Kemanusaan yang Adil dan Beradab. Makna dari sila ini adalah:

Mengakui persamaan derajad, persamaan hak dan persamaan kewajiban antara sesama manusia, saling mencintai sesama manusia, tidak semenamena terhadap orang lain, menjunjung tinggi nilai kemanusiaan.
3. Persatuan Indonesia. Makna dari sila ini adalah: Menjaga persatuan dan

Kesatuan Negara Kesatuan Republik Indonesia, memajukan pergaulan demi persatuan dan kesatuan bangsa yang ber Bhinneka Tunggal Ika.
4. Kerakyatan

Yang

Dipimpin

Oleh

Kebijaksanaan bermakna:

Dalam

Permusyawatan/Perwakilan,

yang

mengutamakan

kepentingan negara dan masyarakat, tidak memaksakan kehendak kepada orang lain, mengutamakan musyawarah dalam mengambil keputusan.
5. Keadilan Sosial Bagi Seluruh Rakyat Indonesia. Ini bermakna:

Bersikap adil terhadap sesama, menghormati hak-hak orang lain, menolong sesama dan menghargai orang lain Pancasila diyakini sebagai landasan pembentukan UUD 1945. Terbukti di dalam UUD 1945 mengandung diktum-diktum tentang dasar negara Pancasila, yang sila pertamanya adalah Ketuhanan Yang Maha Esa, dan tentang kedudukan agama dalam pasal 29. Ini diperkuat dengan Maklumat Presiden No. 2/1945 tanggal 10 Oktober 1945, yang memberikan batasan bahwa hukum yang berlaku hanyalah hukum yang tidak bertentangan dengan UUD 1945 saja. Di bawah naungan UUD
10

1945, hukum Islam mendapat kedudukan mandiri yang tidak lagi disandarkan keberlakuannya pada hukum adat. Teori ini juga didukung oleh berbagai hasil penelitian yang dilakukan terutama oleh BPHN (Badan Pembinaan Hukum Nasional) dan Fakultas Hukum Universitas Indonesia. Penelitian tersebut menunjukkan adanya kecenderungan kuat bahwa orang Islam menghendaki dan memperlakukan hukum Islam dalam kehidupannya, termasuk dalam bidang hukum perkawinan dan kewarisan. Posisi hukum selanjutnya tidak lagi ditentukan oleh politik hukum kolonial, tetapi diselaraskan dengan kebijakan hukum nasional, terutama sebagaimana digariskan dalam GBHN (Garis-garis Besar Haluan Negara). Kebijakan yang kelihatannya telah diterima adalah bahwa dalam konteks pembinaan hukum nasional, hukum Islam menjadi salah satu bahan dan sumber, selain dari hukum adat dan hukum Barat. Pada penggal terakhir masa Orde Baru, ketika tuntutan keadilan mayoritas bangsa Indonesia yang beragama Islam tidak bisa diabaikan lebih lama lagi, kedudukan hukum Islam semakin mencuat. Titik-balik kebijaksanaan barangkali bisa diwakili dengan gejolak yang mendahului lahirnya UU No. 1/1974 tentang Perkawinan, kemudian disusul oleh UUD No. 7/1989 tentang Peradilan Agama. Gelombang reformasi yang diperjuangkan mahasiswa, akhirnya makin mempertegas supremasi hukum dan perundang-undangan serta memperkuat kedudukan nilai-nilai agama dalam berbangsa dan bernegara.

II.3.b Lahirnya UU Perkawinan, Peradilan Agama, Pengelolaan Zakat, dll. Negara kita menghormati adanya pluralitas hukum bagi rakyatnya yang majemuk, sejalan dengan prinsip Bhinneka Tunggal Ika. Bidang hukum perkawinan dan kewarisan termasuk bidang hukum yang sensitif, yang keterkaitannya dengan agama dan adat suatu masyarakat. Oleh sebab itu, hukum perkawinan Islam dan hukum kewarisan diakui secara langsung berlaku, dengan cara ditunjuk oleh undang-undang. Undang-Undang Nomor 1 Tahun 1974 misalnya, secara tegas menyebutkan bahwa perkawinan adalah sah dilakukan menurut hukum agamanya
11

masing-masing dan kepercayaannya itu. Di sini bermakna, keabsahan perkawinan bagi seorang Muslim/Muslimah adalah jika sah menurut hukum Islam, sebagai hukum yang hidup di dalam masyarakat. Contoh Undang-Undang Perkawinan adalah sebagai berikut. BAB I DASAR PERKAWINAN Pasal 1 Perkawinan ialah ikatan lahir bathin antara seorang pria dengan seorang wanita sebagai suami isteri dengan tujuan membentuk keluarga (rumah tangga) yang bahagia dan kekal berdasarkan Ketuhanan Yang Mahaesa. Pasal 2 (1). Perkawinan adalah sah, apabila dilakukan menurut hukum masing-masing agamanya dan kepercayaannya itu. (2). Tiap-tiap perkawinan dicatat menurut peraturan perundang-undangan yang berlaku. Pasal 3 (1). Pada azasnya dalam suatu perkawinan seorang pria hanya boleh mempunyai seorang isteri. Seorang wanita hanya boleh mempunyai seorang suami. (2). Pengadilan, dapat memberi izin kepada seorang suami untuk beristeri lebih dari seorang apabila dikehendaki oleh fihak-fihak yang bersangkutan. Pasal 4

12

(1). Dalam hal seorang suami akan beristeri lebih dari seorang, sebagaimana tersebut dalam Pasal 3 ayat (2) Undang-undang ini, maka ia wajib mengajukan permohonan kepada Pengadilan di daerah tempat tinggalnya. (2). Pengadilan dimaksud data ayat (1) pasal ini hanya memberikan izin kepada seorang suami yang akan beristeri lebih dari seorang apabila: a. isteri tidak dapat menjalankan kewajibannya sebagai isteri; b. isteri mendapat cacat badan atau penyakit yang tidak dapat disembuhkan; c. isteri tidak dapat melahirkan keturunan. Pasal 5 (1). Untuk dapat mengajukan permohonan kepada Pengadilan, sebagaimana dimaksud dalam Pasal 4 ayat (1) Undang-undang ini, harus dipenuhi syarat-syarat sebagai berikut: a. adanya persetujuan dari isteri/isteri-isteri; b. adanya kepastian bahwa suami mampu menjamin keperluan-keperluan hidup isteri-isteri dan anak-anak mereka; c. adanya jaminan bahwa suami akan berlaku adil terhadap isteri-isteri dan anakanak mereka. (2). Persetujuan yang dimaksud pada ayat (1) huruf a pasal ini tidak diperlukan bagi seorang suami apabila isteri/isteri-isterinya tidak mungkin dimintai persetujuannya dan tidak dapat menjadi pihak dalam perjanjian, atau apabila tidak ada kabar dari isterinya selama sekurang-kurangnya 2 (dua) tahun, atau karena sebab-sebab lainnya yang perlu mendapat penilaian dari Hakim Pengadilan. BAB II

13

SYARAT-SYARAT PERKAWINAN (1). Perkawinan harus didasarkan atas persetujuan kedua calon mempelai. (2). Untuk melangsungkan perkawinan seorang yang belum mencapai umur 21 (duapuluh satu) tahun harus mendapat izin kedua orang tua. (3). Dalam hal salah seorang dari kedua orang tua telah meninggal dunia atau dalam keadaan tidak mampu menyatakan kehendaknya, maka izin dimaksud ayat (2) pasal ini cukup diperoleh dari orang tua yang masih hidup atau dari orang tua yang mampu menyatakan kehendaknya. (4). Dalam hal kedua orang tua telah meninggal dunia atau dalam keadaan tidak mampu untuk menyatakan kehendaknya, maka izin diperoleh dari wali, orang yang memelihara atau keluarga yang mempunyai hubungan darah dalam garis keturunan lurus keatas selama mereka masih hidup dan dalam keadaan dapat menyatakan kehendaknya. (5). Dalam hal ada perbedaan pendapat antara orang-orang yang disebut dalam ayat (2), (3) dan (4) pasal ini, atau salah seorang atau lebih diantara mereka tidak menyatakan pendapatnya, maka Pengadilan dalam daerah hukum tempat tinggal orang yang akan melangsungkan perkawinan atas permintaan orang tersebut dapat memberikan izin setelah lebih dahulu mendengar orang-orang tersebut dalam ayat (2), (3) dan (4) pasal ini. (6). Ketentuan tersebut ayat (1) sampai dengan ayat (5) pasal ini berlaku sepanjang hukum masing-masing agamanya dan kepercayaannya itu dari yang bersangkutan tidak menentukan lain.

14

BAB III PENUTUP

III.1 Kesimpulan Ada empat sumber hukum Islam, yaitu, Al Quran, Al Hadist, dan Ijtihad. Beberapa fungsi hukum islam dalam masyarakat, yaitu: Fungsi Ibadah

15

Fungsi Amar Maruf Nahi Munkar Fungsi Zawajir Fungsi tandzim wa ishlah al-ummah

Beberapa kontribusi umat Islam dalam perumusan sistem hukum di Indonesia, di antaranya adalah: Menyelesaikan masalah yang ada di masyarakat yang disebabkan oleh kemajuan zaman dengan menggunakan nilai nilai pra-Islam dan hukum Islam. Memasukkan unsur hukum Islam dalam hukum nasional dengan proporsi yang tepat sehingga dapat digunakan bersama. Menggunakan hukum Islam sebagai asas undang undang beberapa perihal di Indonesia, seperti, pernikahan, pewakafan tanah, penyelenggaraan haji, dan lain sebagainya.

III.2 Saran Agar masyarakat dapat mengamalkan hukum Islam sebagaimana mestinya dalam kehidupan beragama. Agar masyarakat dapat mengamalkan hukum Islam dalam kehidupan berbangsa dan bernegara.

16

17

DAFTAR PUSTAKA

BSOM NADWAH.2009.Asistensi Mata Kuliah Agama Islam (AMKAI).Palembang:BSOM NADWAH.

www.almanhaj.or.id www.ditpertais.com www.myjourney.com www.tarjihmuhammadiyah.com

www.theceli.com www.yusril.ihzamahendra.com

18