Anda di halaman 1dari 13

40

KAJIAN KOMUNITAS FAUNA PADA PERTANAMAN BAWANG MERAH DENGAN DAN TANPA APLIKASI PESTISIDA
THE STUDY OF FAUNA COMMUNITY ON SHALLOT FIELDS WITH AND WITHOUT PESTICIDE APPLICATIONS Dwi Suheriyanto Mahasiswa Program Pascasarjana, Unibraw, Malang Lily Agustina dan Gatot Mudjiono Dosen Fakultas Pertanian, Unibraw, Malang ABSTRAK Tujuan penelitian ini adalah untuk mengidentifikasi berbagai jenis fauna yang ada di pertanaman bawang merah dengan dan tanpa aplikasi pestisida, serta menganalisis komunitas fauna (kesamaan komunitas, dominasi dan keragaman) di kedua pertanaman. Penelitian dilakukan di desa Siman, Kecamatan Kepung, Kabupaten Kediri, pada ketinggian 200 m dpl., pada bulan Desember 2000-Maret 2001. Penelitian menggunakan metode eksplorasi, yaitu dengan mengadakan pengamatan pada pertanaman bawang merah yang diaplikasi pestisida dan tanpa aplikasi pestisida. Pengamatan dilakukan secara sistematis terhadap komunitas fauna dengan metode mutlak (unit sampel adalah luas permukaan tanah 1 m x 1m) dan metode nisbi (light traps, pitfall traps, yellow sticky traps dan tullgren funnel), serta diamati juga pertumbuhan tanaman (panjang dan jumlah daun), tingkat serangan Spodoptera exigua dan produksi tanaman (bobot segar dan bobot kering umbi). Hasil penelitian menunjukkan bahwa fauna yang ada di pertanaman bawang merah tidak hanya dari kelompok insekta, tetapi ada juga fauna lainnya yaitu: Arachnida dan Diplopoda. Fauna-fauna tersebut ada yang berperan sebagai hama (13 jenis), predator (15 jenis), parasitoid (4 jenis), polinator (1 jenis) dan scavenger (10 jenis). Penggunaan pestisida secara langsung mengurangi jenis dan jumlah fauna. Jenis dan jumlah seluruh fauna dilahan yang tidak di aplikasi pestisida adalah 43 dan 1531, lebih tinggi dibandingkan jenis dan jumlah seluruh fauna di lahan yang diaplikasi pestisida yaitu 40 dan 1081. Kedua lahan mempunyai indeks kesamaanm komunitas 0,814 yang berarti bahwa komposisi fauna di kedua lahan hampir sama. Secara kumulatif dominasi fauna di kedua lahan adalah rendah, karena tidak ada fauna yang dominan. Keragaman di lahan yang tidak di aplikasi pestisida secara umum lebih tinggi dibandingkan lahan yang diaplikasi pestisida. Pertumbuhan tanaman di lahan yang diaplikasi pestisida lebih pesat dibandingkan lahan yang tidak diaplikasi pestisida. Tingkat serangan S. exigua di lahan yang tidak diaplikasi pestisida lebih tinggi, sehingga produksinya lebih rendah dibandingkan lahan yang diaplikasi pestisida. Kata Kunci: komunitas, keragaman, bawang merah, pestisida

41

ABSTRACT The purpose of this research is to identificate some kinds of fauna on shallot field with and without pesticide applications, also to analysis the community fauna (similarity, dominance and diversity) on both fields. The research had been conducted from December 2000 to March 2001 at the village Siman, Kepung, a region in Kediri at the 200 m elevation. The research use exploration methods that are by observation on shallot field with and without pesticide applications. Observations have been done systematically to the community of fauna with absolute method (sample unit is land square 1 m x 1 m) and relative method (light traps, pitfall traps, yellow sticky traps and tullgren funnel), also by monitoring the plant growth (leaf length and leaf number), damage level of S. exigua and the plant productions (fresh weight and dry weight tuber). The results of the study indicated that on the shallot field there are not only insects, but there are other fauna that are Arachnid and Diplopoda. The faunas have a role as pest (13 family), predator (15 family), parasitoid (4 family), pollinator (1 family) and scavenger (10 family). Pesticide application directly can reduce spesies and number of fauna. Spesies and number of fauna on the field without pesticide applications are 43 and 1531, higher than there are on field with pesticide applications, those are 40 and 1081. The coefficient of similarity from the both field are 0,814, this means that fauna composition on the both field are similar. Fauna dominance index on the both fields is small. Generally diversity on the field without pesticide application higher than field with pesticide application. Plant growth faster on the field with pesticide than on the field without pesticide application. Damage level of S. exigua on field without pesticide application higher, so its products lower than field with pesticide application. Key Word: community, diversity, shallot, pesticide PENDAHULUAN Bawang merah (Allium ascalonicum L.) merupakan komoditas sayuran yang banyak dibudidayakan di dataran rendah. Masalah utama usaha tani bawang merah adalah resiko kegagalan panen karena tingginya serangan hama. Hama utama yang menyerang tanaman bawang merah adalah ulat Spodoptera exigua (Lepidoptera: Noctuidae). Petani pada umumnya mengantisipasi serangan hama ini sejak dini, yaitu sejak awal tanam telah dilakukan penyemprotan dengan pestisida, dengan harapan tidak akan ada ulat di pertanamannya. Menurut penelitian Baswarsiati dan Nurbanah (1997), keberadaan ulat bawang di lahan pertanian akan mendorong petani untuk menggunakan pestisida secara berlebih, yaitu dengan meningkatkan takaran, frekuensi penyemprotan dan komposisi jenis campuran pestisida yang digunakan . Untung (1993) mengemukakan bahwa hal tersebut disebabkan karena kesadaran, pengertian dan pengetahuan petani tentang hama dan kerusakannya, cara aplikasi pestisida dan bahayanya terhadap lingkungan sangat terbatas. Cara pengendalian dengan menggunakan pestisida memberikan beberapa keuntungan, yaitu cara aplikasi mudah, mempunyai efektifitas tinggi, bekerja cepat, dapat digunakan setiap waktu dan mudah diperoleh. Penggunaan pestisida yang

42

berlebih dan tidak bijaksana akan memberikan efek yang sangat merugikan, yaitu timbulnya resistensi hama, berkurangnya musuh alami, timbulnya resurjensi hama dan munculnya hama-hama baru (Brown, 1978) Pengaruh pestisida terhadap ekosistem dapat dipelajari dengan membandingkan jumlah fauna pada tanaman yang diaplikasi pestisida dengan yang tidak diaplikasi pestisida (Croft, 1990). Brown (1978) melaporkan bahwa aplikasi pestisida menyebabkan berkurangnya jumlah spesies insekta di suatu pertanaman. Morin (1999) menyatakan bahwa penggunaan pestisida untuk menggendalikan hama dapat mengurangi keragaman, sehingga menyebabkan peledakan hama. Dengan semakin berkembangnya kesadaran manusia terhadap bahaya penggunaan pestisida, terutama bagi lingkungan hidup dan kesejahteraan manusia, maka berkembanglah konsep Pengendalian Hama Terpadu yang merupakan wujud dari pembangunan berkelanjutan yang berwawasan lingkungan (Untung, 1993; Untung, 1996). Salah satu konsep Pengendalian Hama Terpadu adalah pemahaman sifat dinamika agroekosistem. PHT merupakan bagian integral dari pengelolaan agroekosistem, oleh karena itu agar diperoleh hasil pengendalian hama yang optimal diperlukan pemahaman tentang sifat agroekosistem yang sedang dikelola. Agroekosistem merupakan salah satu bentuk ekosistem binaan manusia yang ditujukan untuk memperoleh produksi pertanian yang kualitas dan kuantitasnya sesuai dengan kebutuhan manusia. Dengan mempelajari struktur ekosistem, antara lain jenis tanaman, jenis hama dan musuh alaminya, serta interaksi satu dengan lainnya, dapat kita kelola suatu ekosistem pertanian yang populasi hamanya terkendali secara alami. Langkah awal yang perlu dilakukan dalam mengamati insekta di pertanaman adalah mengumpulkan semua jenis insekta dan mengidentifikasi insekta hama dan bukan hama, dari kegiatan ini akan diketahui berbagai jenis hama yang dapat mengakibatkan kerusakan bagi pertanaman yang sedang diusahakan, sehingga dapat ditetapkan tindakan pengendaliannya. Program penerapan dan pengembangan PHT tidak akan berjalan tanpa dukungan yang cukup dan terus-menerus dari program penelitian yang relevan, Untung (1993) menyatakan bahwa penelitian yang ada sekarang banyak yang bersifat terapan dan berjangka pendek, perhatian kurang diberikan pada penelitian dasar yang berjangka panjang, sehingga kurang mendukung penerapan dan pengembangan PHT pada masa mendatang. Beranjak dari latar belakang tersebut, maka perlu dilakukan penelitian yang bersifat mendasar tentang berbagai jenis fauna yang ada di pertanaman bawang merah, terutama sebagai komponen dalam pengembangan Pengendalian Hama Terpadu. METODE PENELITIAN Penelitian ini dilakukan di desa Siman, Kecamatan Kepung, Kabupaten Kediri, pada ketinggian 200 m dpl., pada bulan Desember 2000-Maret 2001. Alat yang digunakan adalah alat pengolah tanah, alat penanaman, alat pemeliharaan dan alat pengamatan (traping) yang terdiri dari yellow sticky traps, light traps, tullgren funnel dan pitfall traps (McEwen, 1997), penggaris, pinset, mikroskop binokuler, fial, termometer, lightmeter, hidrometer, alat tulis menulis dan buku identifikasi(Borror dkk., 1996).

43

Bahan yang digunakan dalam penelitian ini adalah umbi bawang merah varietas bauji. Pupuk yang digunakan adalah pupuk kandang, pupuk ZA, TSP dan KCL. Pestisida yang digunakan berbahan aktif profenofos 500 g/l dan mankozeb 80%. Penelitian menggunakan metode eksplorasi, yaitu dengan mengadakan pengamatan pada pertanaman bawang merah yang diaplikasi pestisida dan tanpa aplikasi pestisida. Pengamatan terhadap komunitas fauna dilakukan sejak tanaman berumur 1 hari setelah tanam dengan interval waktu pengamatan 7 hari. Pengambilan sampel menggunakan metode mutlak (unit sampel yang digunakan adalah luas permukaan tanah 1 m x 1 m, pengamatan dilakukan secara sistematis terhadap semua individu insekta yang ada pada unit sampel) dan metode nisbi (perangkap yang digunakan adalah light traps, pitfall traps, yellow sticky traps dan tullgren funnel). Pengamatan pertumbuhan tanaman dilakukan mulai tanaman berumur 8 hari setelah tanam, dengan interval waktu 7 hari. Pengamatan dilakukan terhadap panjang tanaman, jumlah daun dan produksi (bobot segar dan bobot kering), serta diamati juga tingkat serangan S. exigua. Data hasil pengamatan diuji dengan menggunakan uji T untuk mengetahui perbedaan nilai tengahnya. Komunitas fauna dianalisis dengan: 1. Indeks kesamaan 2 Lahan (Cs) dari Sorensen (Southwood, 1978) 2. Indeks dominasi (C) dari Simpson (Southwood, 1978; Ludwig dan Reynold, 1988) 3. Indeks keragaman (H) dari Shannon-Weaver (Southwood, 1978; Ludwig dan Reynold, 1988) 4. Tingkat kesamaan (E) dari Pielou (Ludwig dan Reynold, 1988) 5. Kekayaan jenis (R) dari Margalef (Ludwig dan Reynold, 1988) Tingkat serangan (P) dihitung dengan rumus dari Direktorat Jenderal tanaman Pangan dan Hortikultura (1994). HASIL DAN PEMBAHASAN Identifikasi Fauna Fauna yang diperoleh selama penelitian diidentifikasi untuk mengetahui kelompok dan peranannya di pertanaman bawang merah. Hasil identifikasi disajikan pada Tabel 1. Dari Tabel 1 dapat diketahui bahwa fauna yang ada di pertanaman bawang merah tidak hanya dari kelompok insekta, tetapi ada juga kelompok lainnya, yaitu: Arachnida dan Diplopoda. Fauna-fauna tersebut ada yang berperan sebagai hama (13 jenis), predator (15 jenis), parasitoid (4 jenis), polinator (1 jenis) dan scavenger (10 jenis). Dari Tabel 2 dapat diketahui bahwa secara umum jumlah fauna di lahan yang tidak diaplikasi pestisida lebih tinggi dibandingkan lahan yang diaplikasi pestisida. Hal ini disebabkan oleh penggunaan pestisida yang secara langsung mengakibatkan matinya beberapa jenis fauna yang ada. Dengan berkurangnya jenis dan jumlah fauna, menyebabkan rantai makanan yang terbentuk di lahan yang diaplikasi pestisida lebih sederhana dibandingkan lahan yang tidak diaplikasi pestisida (Gambar 1).

44

Tabel 1. Hasil Identifikasi Fauna yang Diperoleh dari Pertanaman Bawang Merah dengan dan Tanpa Aplikasi Pestisida
Kelas Insekta Insekta Insekta Insekta Insekta Insekta Insekta Insekta Insekta Insekta Insekta Insekta Insekta Insekta Insekta Insekta Diplopoda Insekta Insekta Insekta Insekta Insekta Insekta Arachnida Insekta Insekta Insekta Insekta Insekta Insekta Arachnida Diplopoda Insekta Arachnida Insekta Insekta Insekta Diplopoda Insekta Arachnida Insekta Insekta Arachnida Ordo Diptera Homoptera Homoptera Diptera Hymenoptera Coleoptera Dermaptera Homoptera Coleoptera Coleoptera Odonata Diptera Orthoptera Diptera Homoptera Hymenoptera Glomerida Orthoptera Orthoptera Collembola Hymenoptera Collembola Coleoptera Araneae Diptera Hymenoptera Orthoptera Lepidoptera Orthoptera Collembola Araneae Polydesmida Lepidoptera Araneae Collembola Hymenoptera Lepidoptera Spirobolida Diptera Acari Hymenoptera Orthoptera Acari Famili Agromyzidae Aleyrodidae Aphididae Asilidae Braconidae Carabidae Carcinophoridae Cicadellidae Cicindelidae Coccinellidae Corduliidae Culicidae Cyrtacanthacridinae Drosophilidae Flatidae Formicinae Glomeridae Gryllinae Gryllotalpidae Hypogastruridae Ichneumonidae Isotomidae Lampyridae Linyphidae Muscidae Myrmicinae Nemobiinae Noctuidae Oedopodinae Onychiuridae Oxyopidae Polydesmidae Pyralidae Salticidae Sminthuridae Spesidae Sphingidae Spirobolidae Tachinidae Tetranychidae Trichogrammatidae Tridactylidae Trombiculidae Keterangan Pengorok daun (Hama Minor) Kutu putih (Hama potensial) Hama cabai Lalat buas (Predator) Parasitoid pinggang pendek Kumbang tanah (Predator) Cocopet (Predator) Peloncat daun (Hama potensial) Kumbang macan (Predator) * Kumbang kubah (Predator) Capung (Predator) Nyamuk (Predator) Belalang hijau (Hama potensial) Lalat buah (Scavenger) Peloncat tumbuhan (Hama potensial) Semut hitam besar (Predator) Scavenger Cengkerik lapang (Hama potensial) Gangsir (Hama potensial) * Scavenger Parasitoid pinggang ramping Scavenger Kunang-kunang (Predator) Laba-laba kerdil (Predator) Lalat rumah (Scavenger) Semut merah (Predator) Cengkerik tanah (Hama potensial) * Spodoptera exigua (Hama utama) Belalang coklat (Hama potensial) Scavenger Laba-laba pemburu (Predator) Ulat gagak (Scavenger) Hama jagung Laba-laba peloncat (Predator) Scavenger Lebah pinggang ramping (Predator) Polinator Kaki seribu (Scavenger) Lalat Parasitoid Tungau (Scavenger) Parasitoid Cengkerik kecil (Hama potensial) Tungau (Predator)

Keterangan : * : tidak ditemukan pada lahan yang diaplikasi dengan pestisida

45

Price (1997) menyatakan bahwa peningkatan jumlah rantai makanan di dalam suatu ekosistem akan berdampak pada peningkatan stabilitas ekosistem tersebut. Dindal (1977) menambahkan bahwa stabilitas ekosistem dapat dibentuk oleh suatu kondisi organisme yang mantap dan ditunjukkan oleh keseimbangannya terhadap gangguan dari faktor luar. Oka (1995) menjelaskan bahwa apabila suatu predator hanya tergantung pada satu spesies mangsa, maka akibatnya kedua populasi akan sangat berfluktuasi terutama bila keduanya berada dalam lingkungan yang sederhana, sehingga dapat mengakibatkan musnahnya kedua populasi. Interaksi dengan predator akan lebih stabil apabila terdapat dua atau lebih spesies mangsa, karena bila spesies mangsa yang satu jumlahnya sangat turun maka spesies populasi mangsa yang lainnya mungkin akan naik jumlahnya karena tidak diperhatikan oleh predator. Polinat or Sphingi dae

Parasitoid Braconidae Ichneumonidae Tachinidae Trichogrammat idae

Hama Utama Spodoptera exigua

Bawang Merah
Predator Asilidae Carabidae Carcinophorida e Cicindelidae * Coccinelidae Cordulidae Culicidae Formicinae Lampyridae Linyphidae Myrmicinae Oxyopidae Salticidae Spesidae Trombiculidae

Hama Minor Agromyzi dae

Bahan Organik
Hama Potensial Aleyrodidae Aphididae Cicadellidae Cyrtacathacridi nae Flatidae Gryllinae Gryllotalpidae * Nemobinae * Oedopodinae Pyralidae Tridactylidae

Scavenger Drosophilidae Glomeridae Hypogastruri dae Isotomidae Muscidae Onychiuridae Polydesmidae Sminthuridae Spirobolidae Tetranychida e

Keterangan : * : tidak ditemukan pada lahan yang diaplikasi dengan pestisida : jalur pemangsaan : jalur penguraian Gambar 1. Jaring-jaring Makanan di Pertanaman Bawang Merah

46

Analisis Komunitas Berdasarkan Tabel 1 diketahui ada 43 jenis fauna di pertanaman bawang merah yang tidak diaplikasi pestisida, sedangkan di lahan yang diaplikasi pestisida hanya diperoleh 40 jenis. Jenis, jumlah dan kesamaan fauna secara kumulatif dan tiap perangkap dapat dilihat di Tabel 2. Secara umum jenis dan jumlah fauna di lahan yang tidak diaplikasi pestisida lebih tinggi dibandingkan lahan yang diaplikasi pestisida. Pada pengamatan dengan perangkap light dan funnel diperoleh jenis fauna yang sama untuk kedua lahan yaitu 9 jenis, namun jumlah fauna yang di tangkap di lahan yang tidak diaplikasi lebih banyak dibandingkan lahan yang diaplikasi pestisida. Dari uji statistik diketahui bahwa terdapat perbedaan nilai tengah jumlah fauna antara kedua lahan, yaitu untuk pengamatan langsung, pit fall trap, light trap, tullgren funnel dan nilai kumulatif. Uji statistik memberikan hasil yang tidak nyata pada pengamatan dengan menggunakan yellow sticky trap. Fauna yang diperoleh dari pengamatan menggunakan yellow sticky trap semuanya adalah insekta yang aktif terbang, hal ini kemungkinan disebabkan oleh beberapa insekta yang sedang terbang tertarik pada warna kuning dan terjebak. Kemungkinan lain adalah karena letak lahan penelitian berdekatan, sehingga fauna yang tertangkap cenderung menggambarkan keadaan kedua lokasi dibandingkan spesifik untuk tiap lahan. Tabel 2. Jenis Seluruh Fauna (S), Jumlah Seluruh Fauna (N) dan Indeks Kesamaan Komunitas (Cs) Peubah Jenis Seluruh Fauna (S) Perangkap Langsung Yellow Sticky Pitfall Light Funnel Kumulatif Langsung Yellow Sticky Pitfall Light Funnel Kumulatif Langsung Yellow Sticky Pitfall Light Tanpa Pestisida Pestisida 21 18 16 14 16 14 9 9 10 10 43 40 720 a 515 b 96 a 101 a 224 a 133 b 362 a 267 b 129 a 65 b 1531 a 1081 b 0,828 0,822 0,745 0,849

Jumlah Seluruh Fauna (N)

Indeks Kesamaan Komunitas (Cs)

Funnel 0,670 Kumulatif 0,814 Keterangan: angka yang diikuti oleh huruf yang sama pada baris yang bersesuaian menunjukkan tidak berbeda nyata pada uji T (=0,025)

47

Dari Tabel 2 diketahui bahwa secara kumulatif kedua lahan mempunyai indeks kesamaan komunitas 0,814, berarti komposisi fauna di kedua lahan hampir sama. Berdasarkan Tabel 3 diketahui bahwa secara kumulatif dominasi fauna di kedua lahan sangat kecil, hal ini disebabkan karena jumlah fauna yang ada hampir sama untuk setiap jenisnya sehingga tidak ada jenis yang mendominasi lahan. Oka (1995) dan Price (1997) menyatakan bahwa semakin banyak jumlah spesies yang ditemukan disuatu areal pertanaman, maka akan semakin besar atau tinggi tingkat keragaman komunitasnya. Dalam komunitas yang keragamannya tinggi, suatu spesies tidak dapat menjadi dominan, sebaliknya dalam komunitas yang keragamannya rendah, satu atau dua spesies dapat dominan. Secara umum indeks keragaman (H) untuk lahan yang tidak diaplikasi pestisida lebih tinggi dibandingkan lahan yang diaplikasi pestisida (Tabel 3). Keragaman akan cenderung rendah dalam ekosistem yang secara fisik terkendali (menjadi sasaran faktor pembatas fisik dan kimia yang kuat) dan tinggi dalam ekosistem yang diatur secara biologi (Odum, 1993). Keragaman yang tinggi menyebabkan jaring-jaring makanan yang terbentuk lebih kompleks, sehingga kestabilan meningkat. Hal tersebut sesuai dengan pernyataan Price (1997), yang menyatakan bahwa keragaman dapat menghasilkan kestabilan. Tabel 3.
Peubah

Dominasi (C), Indeks Keragaman (H), Tingkat Kesamaan (E) dan Kekayaan Jenis (R).
Perangkap Langsung Yellow Sticky Pitfall Light Funnel Kumulatif Langsung Yellow Sticky Pitfall Light Funnel Kumulatif Langsung Yellow Sticky Pitfall Light Funnel Kumulatif Langsung Yellow Sticky Pitfall Light Funnel Kumulatif Tanpa Pestisida 0,111 0,093 0,160 0,211 0,139 0,064 2,467 2,557 2,238 1,738 2,086 3,074 0,810 0,922 0,807 0,791 0,906 0,817 3,040 3,286 2,772 1,358 1,852 5,727 Dengan Pestisida 0,125 0,108 0,162 0,247 0,168 0,069 2,316 2,412 2,067 1,581 1,987 3,014 0,801 0,914 0,783 0,720 0,863 0,817 2,723 2,817 2,658 1,438 2,156 5,583

Dominasi (C)

Indeks Keragaman (H)

Tingkat Kesamaan (E)

Kekayaan Jenis (R)

48

Keragaman menurut Odum (1993) mempunyai beberapa komponen, komponen pertama adalah kekayaan jenis (richness) atau komponen varietas, seperti jenis seluruhnya (S) dan jumlah seluruhnya (N). Komponen kedua adalah kesamarataan (equitabilitas), yaitu pembagian individu yang merata diantara jenis. Tabel 4. Rata-rata Pertumbuhan Tanaman dan Tingkat Serangan Spodoptera exigua pada Berbagai Umur Pengamatan
Peubah Panjang Daun (cm) Jumlah Daun (helai) Tingkat Serangan (%) TP P TP P TP P Rata-rata Pertumbuhan Tanaman dan Tingkat Serangan 8 hst 15 22 29 36 43 hst hst hst hst hst 4,9 11,7 23,0 34,5 40,5 42,6 5,1 12,5 24,1 35,3 41,4 43,8 6,5 12,5 20,3 28,8 35,8 39,3 6,8 12,9 20,5 29,0 37,9 40,4 0,00 0,67 2,05 3,62 4,57 5,74 0,00 0,44 0,67 1,24 1,07 1,87 50 hst 44,3 45,4 40,5 41,5 5,92 2,08 57 hst 45,4 46,1 36,9 38,3 4,18 1,68 64 hst 46,0 46,4 30,5 32,4 3,12 0,84

* * *

Keterangan: hst: hari setelah tanam; TP: tanpa aplikasi pestisida; P: dengan aplikasi pestisida; *: berbeda nyata pada uji T (=0,025) Dari Tabel 3 dapat diketahui bahwa secara umum tingkat kesamaan di lahan yang tidak diaplikasi pestisida lebih tinggi dibandingkan lahan yang diaplikasi pestisida. Hal tersebut menunjukkan bahwa distribusi fauna pada lahan yang tidak diaplikasi pestisida lebih seragam dibandingkan lahan yang diaplikasi pestisida. Kekayaan jenis akan tinggi apabila jenis seluruh fauna yang ada tinggi, apabila jenis seluruh fauna sama, maka kekayaan jenis akan tinggi pada jenis yang mempunyai jumlah lebih sedikit. Kekayaan jenis fauna di lahan yang tidak diaplikasi pestisida secara kumulatif adalah 5,727 lebih tinggi dibandingkan lahan yang diaplikasi pestisida yaitu 5,583. Pada pengamatan dengan perangkap light dan funnel, lahan yang diaplikasi pestisida mempunyai kekayaan jenis yang lebih tinggi, hal ini disebabkan karena kedua lahan mempunyai jenis (S) yang sama dan jumlah (N) di lahan yang diaplikasi lebih kecil, sehingga di dalam perhitungan diperoleh nilai yang lebih besar. Pertumbuhan Bawang Merah dan Tingkat Serangan Spodoptera exigua Peubah yang diamati pada pertumbuhan bawang merah adalah panjang dan jumlah daun. Dari Tabel 4 dapat diketahui bahwa pertumbuhan tanaman di lahan yang diaplikasi pestisida lebih pesat dibandingkan lahan yang tidak diaplikasi pestisida. Hal ini sesuai dengan pendapat Croft (1990), yang menyatakan bahwa pestisida dapat mempengaruhi fisiologi tanaman. Hasil uji statistik menunjukkan adanya perbedaan yang nyata pada panjang daun dan jumlah daun di lahan yang tidak diaplikasi pestisida dengan yang diaplikasi pestisida. Pada awal pertumbuhan sampai dengan 8 hst di kedua lahan belum ada tanda-tanda serangan dari ulat Spodoptera exigua, serangan baru terlihat setelah 15 hst. Di lahan yang tidak diaplikasi pestisida tingkat serangan terus meningkat dan mencapai puncaknya pada 50 hst dengan tingkat serangan sebesar 5,92%. Lahan yang diaplikasi pestisida tingkat serangan berfluktusi dan mencapai puncaknya juga pada 50 hst dengan tingkat kerusakan 2,08%. Uji statistik terhadap tingkat serangan

49

memberikan hasil menolak Ho, yang berarti terdapat perbedaan yang nyata antara lahan yang diaplikasi dengan pestisida dengan yang tidak diaplikasi pestisida. Aplikasi pestisida mempengaruhi tingkat serangan Spodoptera exigua, namun tingkat serangan di lahan yang tidak diaplikasi pestisida tidak terlalu tinggi. Rendahnya tingkat serangan di lahan yang tidak diaplikasi pestisida ini kemungkinan disebabkan oleh pola tanam dan musuh alami yang ada dapat bekerja dengan baik. Lahan yang digunakan sebagai tempat penelitian sebelum ditanami bawang merah telah mengalami pemberoan dan ditanami jagung. Dengan adanya tanaman jagung ini kemungkinan menyebabkan jumlah fauna yang ada menjadi melimpah, sehingga pada saat lahan di tanami bawang merah memungkinkan telah tersedianya musuh-musuh alami dari hama yang akan datang. Produksi Bawang Merah Produksi bawang merah berupa bobot segar dan bobot kering umbi dari kedua lokasi penelitian dapat dilihat pada Gambar 2. Hasil uji statistik terhadap bobot segar dan bobot kering menunjukkan adanya perbedaan yang nyata antara bobot segar dan bobot kering umbi dari lahan yang tidak diaplikasi dengan yang diaplikasi pestisida. Lahan yang tidak diaplikasi pestisida produksinya lebih rendah, karena tingkat serangan Spodoptera exigua dilahan tersebut lebih tinggi dibandingkan lahan yang diaplikasi pestisida. Serangan ulat ini menyebabkan rusaknya daun, sehingga secara langsung mengurangi hasil fotosintesis yang akan di simpan dalam umbi.

Bobot Umbi (g)

100.0 80.0 60.0 40.0 20.0 0.0 BS (TP) BS (P) BK (TP) BK (P)

Gambar 2. Rata-rata Bobot Segar dan Bobot Kering Umbi Bawang Merah (g). Keterangan : BS: bobot segar; BK: bobot kering; TP: tanpa aplikasi pestisida; P: dengan aplikasi pestisida. Pembahasan Umum Croft (1990) menyatakan bahwa aplikasi pestisida di pertanian sering menunjukkan perubahan yang tidak terprediksi pada struktur komunitas. Hal ini

50

disebabkan karena adanya tekanan seleksi terhadap lingkungan, sehingga keberadaan spesies ditentukan oleh kemampuannya untuk beradaptasi terhadap perubahan tersebut. Aplikasi pestisida yang bertujuan untuk menjaga kualitas dan kuantitas tanaman budidaya secara langsung dan tidak langsung berdampak pada perubahan agroekosistem. Secara langsung pestisida berpengaruh terhadap fauna yang hidup di tanah (Brown, 1987) dan secara tidak langsung dampak penggunaan pestisida melalui rantai makanan (Croft, 1990). Peranan fauna tanah sangat besar dalam menjaga keseimbangan ekosistem, terutama scavenger yang berperan sebagai pengurai sehingga materi yang ada pada makhuk hidup dapat kembali ke alam. Pada penelitian diperoleh fauna yang berperan sebagai scavenger sebanyak 10 jenis, yang terdiri dari acarina 1 jenis, diptera 2 jenis, collembola 4 jenis dan dari kelas diplopoda 3 jenis. Jenis scavenger yang diperoleh di kedua lahan sama, perbedaannya hanya pada jumlah individu yaitu pada lahan yang tidak diaplikasi pestisida ditemukan lebih banyak. Materi yang telah kembali ke alam akan digunakan oleh tanaman untuk mensintesis produk dengan bantuan energi dari matahari. Energi yang tersimpan pada tanaman akan pindah ke organisme lain melalui rantai makanan. Herbivora yang secara langsung berhubungan dengan tanaman dapat memanfaatkan jaringan tanaman melalui mekanisme evolusi yang panjang. Levins dan Wilson (1980) menyatakan bahwa respon insekta terhadap tanaman yang pertama disebabkan oleh adanya signal kimia yang dikeluarkan oleh tanaman, seperti depresan, stimulator, atraktan dan repelen dan kedua karena adanya perubahan tanaman inang akibat pengaruh kandungan tanaman, seperti nitrogen, asam amino, fitohormon dan antifedan. Hal tersebut yang menyebabkan mengapa insekta tertentu menyukai tanaman tertentu sedangkan yang lainnya tidak. Dari hasil penelitian dapat diketahui ada 1 insekta yang berperan sebagai hama utama dipertanaman bawang merah, yaitu Spodoptera exigua, sedangkan hama yang mempunyai potensi besar sebagai penyebab kerusakan adalah Agromyzidae (Syariefa, 2000). Selain hama tersebut masih terdapat lagi 11 jenis insekta yang berpotensi sebagai hama, namun dari pengamatan di lapang keberadaannya dirasakan belum membahayakan. Hal tersebut mungkin disebabkan karena tersediaanya sumber pakan lain yang lebih sesuai disekitar tanaman bawang merah, yaitu beberapa jenis gulma. Keberadaan insekta-insekta tersebut dipertanaman tetap diperlukan sebagai komponen dari ekosistem. Hilangnya insekta herbivora dari pertanaman dapat menyebabkan terputusnya rantai makanan di komunitas tersebut, sehingga organisme yang berada pada tingkat trofi yang lebih tinggi akan terkena dampaknya, terutama yang berperan sebagai predator dan parasitoid. Predator dan parasitoid memegang peranan yang sangat penting pada agroekosistem, karena secara alami dapat mengendalikan keberadaan herbivora. Parasitoid yang ditemukan di pertanaman bawang merah sebanyak 4 jenis, sedangkan predator ada 14 jenis. Croft (1990) meyatakan bahwa predator dan parasitoid mempunyai jumlah besar dalam komunitas fauna pada sebagian besar agroekosistem. Jadi pengaruh samping dari penggunaan pestisida secara langsung maupun tidak langsung menyebabkan perubahan yang signifikan pada kuantitas energi dan aliran nutrisi di ekosistem. Berkurangnya jumlah dan jenis fauna akibat aplikasi pestisida menyebabkan keragaman fauna di lahan yang tidak diaplikasi pestisida lebih tinggi dibandingkan lahan yang diaplikasi pestisida, yang terlihat dari nilai indeks

51

keragaman (H). Pielou (1975) menyatakan bahwa stabilitas lingkungan yang tinggi didahului oleh tingginya keragaman. Suatu komunitas yang lebih kompleks, lebih tinggi kestabilan sistem komunitasnya, sehingga keragaman yang tinggi akan menyebabkan tingginya stabilitas komunitas. Tingkat serangan Spodoptera exigua yang tidak terlalu tinggi dapat digunakan sebagai salah satu indikator stabilitas komunitas. Tingkat serangan hama ini secara langsung mempengaruhi produksi bawang merah. Pada lahan yang tidak diaplikasi pestisida produksi bawang merah lebih rendah, karena tingkat serangan Spodoptera exigua lebih tinggi dibandingkan lahan yang diaplikasi pestisida. Dari analisis usaha tani bawang merah (Lampiran 4) diperoleh B/C rasio 1,36 untuk budi daya tanpa pestisida dan 1,27 untuk budi daya dengan pestisida. Jadi budi daya bawang merah tanpa pestisida lebih menguntungkan dibandingkan budi daya dengan pestisida, baik ditinjau dari kualitas produksi maupun dampak penggunaan pestisida terhadap lingkungan. Keuntungan usaha tani bawang merah tanpa pestisida dapat meningkat lagi, apabila terdapat harga jual yang lebih tinggi dibandingkan produk yang menggunakan pestisida. KESIMPULAN DAN SARAN Kesimpulan Dari hasil penelitian dapat disimpulkan sebagai berikut : Fauna yang berhasil diidentifikasi berasal dari kelas insekta, arachnida dan diplopoda. Peranan fauna tersebut adalah sebagai hama 13 famili, predator 15 famili, parasitoid 4 famili, polinator 1 famili dan scavenger 10 famili. Penggunaan pestisida untuk mengendalikan hama, secara langsung berdampak pada pengurangan jenis dan jumlah fauna. Keragaman fauna di lahan yang tidak diaplikasi pestisida lebih tinggi dibandingkan lahan yang diaplikasi pestisida. Lahan yang tidak diaplikasi pestisida dan yang diaplikasi pestisida dominasi faunanya kecil. Saran - saran Dari hasil penelitian diketahui bahwa budi daya bawang merah tanpa aplikasi pestisida masih dapat menghasilkan keuntungan, oleh karena itu penggunaan pestisida untuk mengendalikan hama sebaiknya dikurangi frekuensinya dari terjadwal menjadi bila diperlukan saja. Lahan yang digunakan untuk penelitian luasnya adalah 1.000 m2, untuk penelitian yang dilakukan di hamparan luas, sebaiknya didahului dengan penelitian terhadap metode pengambilan sampel. Penelitian dampak pestisida sebaiknya dilakukan di lahan yang terpisah jauh satu dengan yang lain, atau kedua lahan terhalang oleh suatu barier. DAFTAR PUSTAKA

52

Borror, D.J., C.A. Triplehorn. dan N.F. Johnson. (1996) Pengenalan Pelajaran Serangga. Edisi Keenam. Penerjemah drh. Soetiyono Partosoejono, MSc. Gadjah Mada University Press, Yogyakarta. Brown, A.W.A. (1978) Ecology of Pesticides. John Wiley & Sons, Inc., New York. Baswarsiati dan Nurbanah, S. (1997) Teknik Budidaya Bawang Merah di Luar Musim. BPTP Karangploso, Malang. Croft, B.A. (1990) Arthropod Biological Control Agents and Pesticides. John Wiley & Sons, Inc., New York. Dindal, D.L. and Clifford C. Wray. (1977) Community Structure and Role of Macroinvertebrate Decomposers in The Rehabilitation of Limestone Quarry. In Limstone Quarries: Responses to Land Use Pressure Allied Chem. Corp. (Eds. E.J. Perry and N.A. Richards), pp.72-99. SUNY Coll. Environm. Sci. and Foretry, New York. Direktorat Jenderal Tanaman Pangan dan Hortikultura Direktorat Bina Perlindungan Tanaman. (1994) Pedoman Rekomendasi Pengendalian Hama dan Penyakit Tanaman Pangan. Jakarta. Levins, R. and M. Wilson. (1980) Ecological Theory and Pest Management. Ann. Rev. Entomol 25, 287-308. Ludwig, J.A. and J.F. Reynolds. (1988) Statistical Ecology. John Wiley & Sons, New York. McEwen, P. (1997) Sampling, Handling and Rearing Insects. In Methods in Ecological and Agricultural Entomology (Eds D.R. Dent and M.P. Walton), pp.5-100. CAB International, New York. Morin, P.J. (1999) Community Ecology. Blackwell Science, Inc., New York. Odum, E.P. (1993) Dasar-dasar Ekologi. Penerjemah Ir. Tjahjono Samingan, MSc. Gadjah Mada University Press, Yogyakarta. Oka, I.N. (1995) Pengendalian Hama Terpadu dan Implementasinya di Indonesia. Gadjah Mada University Press, Yogyakarta. Pielou, E.C. (1975) Ecological Diversity. John Wiley & Sons, Inc., New York. Price, P.W. (1997) Insect Ecology. Third Edition. John Wiley & Sons, Inc., New York. Southwood, T.R.E. (1978) Ecological Methods. Second Edition. Chapman and Hall., New York. Syariefa, E. (2000) Ulat Lepra Serbu Bawang Merah. Trubus 373-Desember 2000/XXXI. Untung, K. (1993) Konsep Pengendalian Hama Terpadu. Penerbit Andi Offset, Yogyakarta. ________ . (1996) Pengantar Pengelolaan Hama Terpadu. Gadjah Mada University Press, Yogyakarta.