Anda di halaman 1dari 8

Tujuan Penelitian Tujuan utama penulis untuk melakukan penelitian di Yogyakarta adalah untuk mengetahui aspek-aspek arsitektural pada

bangunan regionalism. Aspek-aspek tersebut akan menunjukkan adanya kesenyawaan antara yang lama dan yang baru. Ketiga aspek tersebut adalah komponen arsitektural, struktural dan konstruksi serta spasial kondisi meruang. Metode Penelitian Berikut ini adalah daftar metode yang penulis lakukan dalam pelaksanaan studi lapangan : 1. Data Kepustakaan : Mengumpulkan berbagai sumber pustaka yang bersangkutan terhadap regionalism untuk menyempurnakan laporan studi lapangan ini 2. Data lapangan : Pengamatan langsung terhadap obyek-obyek arsitektur regionalism 3. Wawancara : Wawancara secara langsung terhadap beberapa nara sumber seperti Pak Eugenius Pradipto dan Pak Dave.

2.3.1 Komponen Arsitektural pada Pendopo Keraton 2.3.2 Komponen Arsitektural pada Omah UGM 2.3.3 Komponen arsitektural pada Soko Tunggal 2.3.4 Komponen arsitektural pada Museum Tembi

Museum tembi merupakan salah satu bangunan pada area rumah budaya tembi yang digunakan untuk memajang benda-benda budaya jawa. Bangunan Museum Tembi merupakan banguan reguionalisme dengan senyawa inspiratif karena dibangun menggunakan teknologi terkini namun beberapa komponen terinsipirasi dari arsitektur tradisional. Komponen-komponen tersebut tidak seutuhnya persis dengan komponen tradisional, namun menganut atau menerapkan sebagian unsur seperti material, bentuk dasar dan elemen-elemen dekorasi. Komponen-komponen yang dipengaruhi oleh arsitektur tradisional antara lain jendela, bentuk kudakuda dan konsol. Ketiganya memiliki kesamaan terhadap komponen-komponen tradisional hanya saja tidak persis seutuhnya.

Kuda-kuda pada museum bermaterial beton namun bentuknya terinspirasi dari kuda-kuda kayu tradisional yang terekspos tanpa plafon

Museum tembi menggunakan konsol beton untuk menopang overstek atap. Dibandingkan dengan konsol tradisional, konsol pada rumah tembi bentuk modern yang lebih fungsional

Konsol tradisional menggunakan kayu, namun menggunakan unsur ukiran elemen jawa

Jendela pada museum tembi terinspirasi dari bentuk jendela tradisional joglo yang tiap jendela berupa dua daun jendela yang dapat terbuka keluar. Kisi-kisi pada jendela tembi terinspirasi jendera joglo

Disini terlihat bahwa yang menjadi inspirasi museum tembi adalah bentuk dasar, kisi-kisi dan arah bukaan daun jendela. Namun apabila pada jendela tradisional masih terdapat ukiran-ukiran khas jawa, maka pada jendela museum tembi tidak terdapat ukiran

Komponen Arsitektural pada Pendopo Keraton

Enam Soko Guru

Pendopo Keraton adalah salah satu bangunan regionalism yang mengalami pembangunan ulang setelah gempa yang melanda Jogja pada 27 Mei 2007. Pendopo dibangun kembali tanpa merubah desain maupun struktur. Struktur yang digunakan menggunakan portal dengan material kayu. Pendopo keraton memili 6 saka guru yang melambangkan 6 elemen pada bumi, yaitu kayu, tanah, air, api, logam dan udara. Hal ini berbeda dengan kebanyakan soko guru yang umumnya hanya berjumlah 4 tiang, dan juga menunjukkan adanya pengaruh ilmu modern kepada komponen-komponen bangunan.

Atap joglo mempergunakan bentuk aslinya dengan material tradisional

Kolom-kolom pendopo menggunakan pondasi umpak yang diberikan ornamen jawa

Lantai pendopo keraton setelah gempa dibangun kembali menggunakan ubin modern yang diimpor dari Belanda

Komponen Komponen Omah UGM Pada ujung-ujung tritisan atap diberikan ornamen tradisional jawa

Omah UGM merupakan suatu rumah joglo yang dibangun oleh dosen arsitektur UGM Pak Ikaputera. Rumah joglo dengan kesenyawaan regionalisme duplikatif ini dibangun dengan tujuan mempertahankan jumlah rumah joglo yang semakin berkurang akibat banyak dibeli oleh warga negara asing. HIngga sekarang rumah yang berlokasi di Kotagede, Yogyakarta ini difungsikan untuk menggelar berbagai acara bagi warga UGM maupun warga sekitar. Komponen-komponen Omah UGM ini sarat dengan arsitektur tradisional jawa, walaupun sudah dibangun teknologi modern yaitu dengan struktur beton. Namun, beberapa komponen terlihat jelas masih merupakan bentuk asli komponen arsitektur jawa, contohnya yaitu kolom-kolom pendopo, pintu, jendela serta tata ruang yang masih menganut tata ruang asli joglo. Hanya saja kini penggunaan ruang tersebut sudah dipergunakan untuk fungsi baru.

Pondasi Umpak pada kolom Omah UGM masih menggunakan bentuk tradisional jawa

Pintu pada Omah UGM menggunakan jenis pintu kupu-tarung dengan warna hijau yang melambangkan budaya jawa.

Jendela Omah UGM juga jenis jendela kupu tarung. Kesan tradisional didapat dari kisi-kisi vertikal khas Jawa dan juga warna hijau. Pintu-pintu dan jendela pada Omah UGM ini merupakan pintu-pintu khas Kotagede.

Bentuk atap Omah UGM, baik itu pendopo maupun bangunan sentong ( utama ) menggunakan bentuk atap joglo tradisional, dengan ornamen ujung tritisan yang merupakan pengaruh budaya cina

Seperti rumah jawa pada umumnya, konsol penyangga overstek berupa Bahu Donggol, dengan ornament ukiran jawa dan system sambungan cathokan

Ciri khas rumah joglo yang masih diterapkan pada Omah UGM juga terdapat tadhah lasm berupa tempat duduk di depan jendela

Komponen Arsitektural Masjod Soko Tunggal

Masjid Soko Tunggal merupakan masjid yang berada pada area Taman Sari. Masjid ini disebut masjid Soko Tunggal karena tidak seperti bangunan joglo pada umumnya yang memiliki 4 tiang utama, masjid ini memiliki satu tiang utama berukuran massive yang berada di tengah ruangan.

Tiang tunggal utama pada masjid disangga oleh 4 penahan tiang yang tersambung pada tumpang sari yang mengelilinginya. Baik kolom maupun penahan memiliki ornament ukiran khas Jawa.

Kolom Tunggal ini merupakan simbol dari Ketuhanan Yang Maha Esa

Contoh ukiran-ukiran Jawa