Anda di halaman 1dari 12

BAB II PT.

PERTAMINA (Persero) DEPOT TERMINAL BBM BOYOLALI

2.1 Sejarah Singkat dan Perkembangan PT. PERTAMINA (Persero) Sejarah perminyakan di Indonesia dimulai pada abad ke VIII ketika penduduk yang bermukim di Selat Sumatera menggunakan minyak bumi sebagai bahan baku untuk pertempuran di laut. Sejak saat itu makin banyak sumber minyak bumi yang ditemukan di Indonesia, namun sumber tersebut beberapa kali berpindah tangan bahkan dikuasai asing (seperti Belanda, Amerika dan Inggris) dan berganti nama. Setelah semua sumber minyak berhasil diambil alih dan menjadi milik Indonesia maka didirikanlah Perusahaan Nasional yang terdiri atas :

1. PN. PERMINA Merupakan penggabungan dari lapangan minyak Sumatera (PTMNRI) dengan lapangan minyak di Aceh (Langkat dan Langsa). Tahun 1954 berganti nama menjadi Tambang Minyak Sumatera Utara (TSMU). Pada tahun 1956, tambang tersebut ditetapkan oleh Pemerintah Indonesia dan tidak akan dikembalikan oleh perusahaan minyak Shell. Pada tahun 1957 TSMU diserahkan pada Kasad dan berubah nama menjadi Eksploitasi Tambang Minyak Sumatera (ETMSU) yang dipimpin oleh Kolonel Dr.Ibnu Sutowo. Tanggal 10 Desember 1957, ETSMU berganti nama menjadi PT.Perusahaan Minyak Nasional (PERMINA). Tanggal tersebut di tetapkan sebagai Hari Lahirnya PERTAMINA. Pada tahun 1961, PT. PERMINA berubah nama menjadi PN. PERMINA dengan PP No.198 tahun 1961.

2. PN. PERTAMIN Merupakan pengalihan nama perusahaan minyak NIAM yang daerah kosesinya meliputi daerah Jambi, Ogan (Sumatera Selatan) dan Banyu (Kalimantan Timur). Pada tahun 1959, NIAM diubah menjadi Pertambangan Minyak Indonesia (PT. PERMINDO). Berdasarkan PP No.3 tahun 1961, PT. PERMINDO diubah lagi menjadi Pertambangan Minyak Indonesia (PN. PERTAMIN).

3. PN. PERMIGAN Merupakan hasil dari pengambilalihan tambang minyak di Jawa Tengah yaitu PTMRI, yang daerah kerjanya meliputi Jawa dan Pulau Indonesia Bagian Timur (Pulau Seram dan Maluku). Berdasarkan PP No.199 tahun 1961, PTMRIO berubah nama menjadi Pertambangan Minyak dan Gas Bumi Nasional (PN. PERMIGAN), namun pada tahun 1966 PN. PERMIGAN dibubarkan oleh Pemerintah Indonesia, sehingga fasilitas pemasarannya diserahkan kepada PN. PERTAMIN dan fasilitas produksinya diserahkan kepada PN. PERMINA. Dari hasil pendiriannya perusahaan nasional PN. PERMINA dan PN. PERTAMIN, maka pemerintah melebur dua perusahaan tersebut menjadi PN. PERTAMINA (Perusahaan Negara Pertambangan Minyak dan Gas Bumi Negara).

4. PN. PERTAMINA PN. PERTAMINA yang sekarang bernama PT. PERTAMINA (Persero) merupakan perusahaan minyak milik negara yang mempunyai daerah pemasaran dan produksi yang cukup luas. Oleh karena itu didirikan kantor cabang (kantor pemasaran) diseluruh Indonesia berdasarkan Keppres No.44 Tahun 1975 tentang pokok-pokok organisasi Pertamina dimana Unit Operasi terbagi menjadi 8 Unit Pemasaran antara lain :

1) Unit Pemasaran I Medan. 2) Unit Pemasaran II Palembang. 3) Unit Pemasaran III Jakarta. 4) Unit Pemasaran IV Semarang DIY. 5) Unit Pemasaran V Surabaya. 6) Unit Pemasaran VI Balik Papan. 7) Unit Pemasaran VII Makasar. 8) Unit Pemasaran VIII Jayapura.

2.2 PT. PERTAMINA (Persero) Depot Terminal BBM Boyolali 2.2.1 Profil PT. PERTAMINA (Persero) Depot Terminal BBM Boyolali yang beralamat di Jl. Solo Semarang KM 18 Boyolali, merupakan bagian dari Unit Operasi Pemasaran IV di bawah Direktorat Pembekalan dan Pemasaran Dalam Negeri, yang mengadakan pemasaran sesuai kebutuhan masyarakat dengan wilayah kerja meliputi provinsi Jawa Tengah dan DIY. Depot Boyolali mulai dibangun tahun 2002, dan resmi beroperasi sejak 24 Oktober 2008, dengan luas area 11,2 Ha.Depot Boyolali adalah salah satu Depot Pertamina di Jawa Tengah yang secara

10

operasional menggunakan sistem TAS (Terminal Automation System). Gambar 2.1 menunjukan bangunan PT. PERTAMINA (Persero) Depot Terminal BBM Boyolali.

Gambar 2.1. PT. PERTAMINA (Persero) Depot Terminal BBM Boyolali Tugas pokok Depot Boyolali adalah melaksanakan aktivitas penerimaan, penimbunan, dan penyaluran BBM (Premium, Kerosin, dan Solar) untuk masyarakat (209 SPBU, 50/3 PT PMT) dan industri. Wilayah operasi Depot Boyolali meliputi Karesidenan Surakarta (Surakarta, Boyolali, Klaten, Wonogiri, Sukoharjo, Karanganyar), Salatiga, Semarang Selatan (Ungaran Ambarawa Banyubiru), dan Purwodadi. Di samping itu, untuk saat ini Depot Boyolali juga menjadi suplai point untuk SPBU di wilayah Ngawi, Magetan, dan Pacitan.

Secara geografis, Terminal BBM Boyolali terletak di Kabupaten Boyolali diantara wilayah: Di sebelah barat berbatasan dengan Desa Mojolegi-Kecamatan Teras. Di sebelah timur berbatasan dengan Desa Ketaon-Kecamatan Banyudono. Polsek Teras dan Banyudono. Koramil Teras dan Banyudono.

2.2.2

Bidang Usaha

11

Sesuai dengan tugas pokok serta untuk menempati tujuan dari PT. PERTAMINA (Persero) Depot Terminal BBM Boyolali. Maka kegiatan atau bidang usaha yang dilakukan adalah sebagai berikut : Bidang usaha dan/atau kegiatan : Pertambangan dan Energi. Jenis Usaha : Penimbunan dan penyaluran BBM

2.2.3

Suplai Poin TBBM Boyolali

1. Suplai bahan bakar minyak berupa Premium, Solar, Kerosene, dan Pertamax ke Terminal BBM Boyolali menggunakan jalur pipa CY II 12 dengan flow rate rata-rata 300 KL/jam mulai dari Terminal BBM Lomanis di Cilacap-Terminal BBM Rewulu di Yogya sepanjang 180 KM 12 kemudian dilanjutkan dari Terminal BBM Rewulu di Yogya-Terminal BBM Boyolali sepanjang 66,463 KM 12 dengan isi pipa 4.850 Kl. Flow rate rata rata 300Kl/jam. 2. Untuk suplai FAME sebagai bahan bakar organik tambahan pada Solar untuk produk BioSolar disuplai melalui angkutan mobil tangki dan ISO tank dari beberapa produsen FAME.

2.2.4

Oprasi Penerimaan TBBM Boyolali Penerimaan BBM dari Terminal Transit Lomanis dengan

menggunakan sarana underground pipeline system (pemipaan bawah tanah). Sistem penerimaan BBM melalui pipeline dilakukan dengan cara product by product pumping sebagai berikut: BBM (misalnya solar) dari

12

Terminal Transit Lomanis dipompa menuju tangki solar melalui pipa, setelah tangki solar penuh, maka pemompaan dilanjutkan dengan pengisian BBM ke tangki lainnya yang masih kosong. Setelah pipa digunakan untuk mengisi solar, , maka pada awal pemompaan untuk kerosene, aliran sementara dimasukkan dalam tangki solar. Dan dengan menggunakan densitometer, dapat diketahui kapan solar sudah habis dan selanjutnya aliran diarahkan ke tangki lain (kerosene). Operasi penerimaan bahan bakar minyak Premium, Solar, Kerosene, dan Pertamax melalui jalur pipa dilakukan sebagai berikut: Penerimaan Premium dan Solar dilakukan secara direct blending dengan interface Feed Stock C (Premium/Solar). Penerimaan Kerosene diupayakan dilakukan dengan disekat Solar di kedua ujung, serta meminta minimum batch sebesar mungkin untuk menekan losses blending interface sekat. Penerimaan Pertamax dilakukan dengan disekat Premium di kedua ujung dengan mengamati perubahan warna yang terjadi di sample point Densito-2 sebagi cutting point dan menjaga minimum batch sebesar mungkin untuk menekan losses blending interface sekat.

Pelaksanaan penerimaan belum dapat dilakukan secara full otomatis dikarenakan kerusakan sarana Densito-1 dan belum adanya metode yang fix untuk pengenalan batas cutiinhg point penerimaan Pertamax (masih mengandalkan warna dengan parameter warna yang mungkin terjadi tidak konsisten dari Kilang atau selama pemompaan).

2.2.5

Operasi Penimbunan TBBM Boyolali

13

Penyimpanan BBM pada tangki-tangki timbun dengan total kapasitas 100.000 KL. Setelah BBM melalui manifold dialirkan ke tangki yang sesuai dengan jenis produknya isi tangki di-setling (didiamkan) selama satu jam sebelum dijual, saat itu juga dilaksanakan pengukuran di tangki. Bila didalamnya terdapat air, maka dibuang melalui pipa pembuangan (drain pipe). Pelaksanaan drain tangki timbun berdasarkan SOP yang ada. Indikator dan ukuran keberhasilan drain untuk tangki timbun adalah :
1.

Tidak terdapat cairan BBM yang lolos pada saat drain. Tercapainya kegiatan operasi yang aman tanpa kecelakaan. Tercapainya lingkungan kerja yang bersih bebas dari tumpahan/ ceceran minyak.

2.

3.

2.2.6

Operasi Penyaluran TBBM Boyolali Sarana tranportasi yang digunakan untuk kegiatan distribusi BBM

dengan mobil tangki dan Iso tank. Yang dimaksud dengan mobil tangki adalah mobil yang dilengkapi dengan tangki tetap yang melekat pada chasis dengan spesifikasi khusus untuk mengangkut BBM, yang masih berlaku dan layak operasi. Perangkat pengamanan volume BBM berupa baut tera dan segel plastik yang akan dipasang ketika mobil keluar dalam pendistribusian BBM ke pelanggan oleh petugas Gate Keeper. Indikator dan ukuran keberhasilan penyaluran BBM adalah : 1. Tercapainya realisasi penyaluran BBM/BBK sesuai dengan SMS permintaan pengiriman dari SPBU. 2. Realisasi through-put BBM/BBK dibandingkan dengan Obyektif through-put BBM/BBK masih dalam batas toleransi.

14

3. Meminimalisir keluhan pelanggan mengenai keterlambatan pengiriman BBM. Penyaluran melalui mobil tangki di PT. Pertamina (Persero) Terminal BBM Boyolali rata-rata 4.300 KL yang diangkut dengan 75 mobil tangki SPBU per hari, mobil tangki dan iso tank milik Terminal BBM lainnya dan milik konsumen sendiri (TNI dan Industri), sedangkan untuk pengisian ke mobil tangki disediakan 3 (tiga) bangsal pengisian (filling shed). Pengoperasian mobil tangki SPBU dilaksanakan oleh PT. Patra Niaga yang merupakan anak perusahaan PT. Pertamina (Persero).

Operasi penyaluran kepada konsumen retail, industri dan konsinyasi antar Terminal BBM dilakukan dengan mobil tangki dan ISO Tank dengan Throughtput harian rata-rata per April 2011 sebagai berikut: Premium : 3000 KL/ hari Solar : 1400 KL/hari

Kerosene : 50 KL/hari Pertamax : 32 KL/hari FAME : 60 KL/hari

Kenaikan Throughput selama signifikan selama 1 tahun terakhir dari konstribusi angkutan konsinyasi dengan kenaikan lebih dari 3x lipat bila dibanding dengan awal Januari 2010. Penyaluran Premium, Biosolar, dan Pertamax kepada SPBU dilakukan setiap hari dengan penerapan beberapa perubahan dan peningkatan layanan dengan ketentuan berikut :

15

Sudah dilakukan pemetaan rute angkutan SPBU yang optimal sesuai rute dan manuver maksimal mbil tangki serta percabangan alur. Tidak melayani pemetaan setor angkut kecuali atas pertimbangan khusus (misal masa satgas lebaran) atau ada force majeur (misal bencana alam). Batas waktu penerimaan setoran baik elektronik maupun setoran manual ke kasir bank adalah pukul 15.30 untuk dicetak Loading Order. Jumlah Loading Order yang dicetak adalah berdasar MS2, SPBU yang tidak melakukan pemesanan melalui MS2 dianggap tidak meminta pengiriman walaupun ada SO. Penjadwalan angkutan dilakukan dengan Sistem Zonasi dengan kesepakatan mengabaikan jadwal permintaan ritase dari MS2 karena tidak Controlable.

Pelaksanaan Zonasi dilakukan untuk meningkatkan efisiensi waktu operasi Terminal BBM agar lebih pendek serta efiensi angkutan agar kilometer tempuh dan waktu tempuh minimal dengan jaminan kepastian jam penerimaan BBM di SPBU. Zonasi dibagi atas tiga zona meliputi: Zona I Zona II : 78 SPBU, penerimaan BBM sebelum pukul 10.00. : 73 SPBU, penerimaan BBM sebelum pukul 15.00.

Zona III : 59 SPBU, penerimaan BBM sebelum pukul 23.00.

Ketepatan pelaksanaan waktu Zonasi dapat ditingkatkan dengan empat cara utama, yaitu:

16

Pemerataan setoran tebusan SPBU setiap hari, berkoordinasi dengan fungsi Sales Area. Peningkatan flow rate pembongkaran mobil tangki dari 3 menjadi 4 dan jika dapt diupayakan simultan. Penerapan GPS untuk monitoring waktu istirahat awak MT berlebih selama di jalan, in progres ujicoba bersama Patra Niaga. Standarisasi angkutan mobil tangki dengan perubahan ukuran mobil tangki menjadi ukuran bulk sampai dengan jumlah optimal untuk menekan waktu tempuh per trip.

2.3 Struktur Organisasi dan Tugas fungsi-fungsi Semakin banyak kegiatan yang dilakukan dalam perusahaan semakin banyak pula orang-orang yang terlibat dan semakin kompleks pula hubungan yang ada. Untuk itulah perlu dibuat suatu bagan yang menggambarkan tentang hubungan masing-masing kegiatan atau fungsi. Pengertian organisasi adalah suatu struktur tata hubungan kerja dan struktur tata pembagian kerja antara sekelompok orang pemegang posisi yang bekerja secara tertentu untuk bersamasama mencapai suatu tujuan tertentu. Dalam suatu organisasi dengan segala aktivitasnya terdapat hubungan antara orang-orang yang menjalankan aktivitas tersebut. Tujuan dibentuknya organisasi adalah untuk mengatur struktur tata pembagian tugas dan struktur tata hubungan kerja dalam perusahaan.

Struktur organisasi yang digunakan oleh PT. PERTAMINA (Persero) yaitu organisasi garis dan staf. Pada bentuk organisasi ini, daerah bekerjanya mempunyai bidang tugas yang beraneka ragam dan jumlah karyawan yang banyak serta terdapat staf yang lebih. Dengan terbentuknya susunan organisasi ini, maka pihak pimpinan S & D Region II Depot Area JBT Terminal BBM

17

Boyolali dapat dengan mudah mengambil langkah-langkah yang tepat dalam kebijakan perusahaan serta pengawasannya. Struktur organisasi di PT. PERTAMINA (Persero) mempunyai ciri sebagai berikut : a) Mempunyai wewenang yang jelas dari masing-masing jabatan. b) Adanya uraian tugas dan tanggungjawab dari masing-masing jabatan. c) Jenjang kepangkatan atau karir sudah diatur dengan jelas. Adapun struktur organisasi PT. PERTAMINA (Persero) S & D Region II Depot Area JBT Terminal BBM Boyolali dapat dilihat pada lampiran.

2.4 Visi dan Misi 2.4.1 Visi Visi yang telah ditetapkan di PT. PERTAMINA (Persero) S&D Region II Depot Area JBT Terminal BBM Boyolali adalah : Menjadi perusahaan minyak nasional kelas dunia. 2.4.2 Misi Misi yang dipunyai PT. PERTAMINA (Persero) S&D Region II Depot Area JBT Terminal BBM Boyolali, yaiti melaksanakan aktivitas penerimaan, penimbunan, dan pendistribusian BBM, secara aman, tepat mutu, jumlah, dan waktu, serta memenuhi aspek K3LL dan mendukung terealisasinya transformasi budaya di lingkungan Pertamina melalui budaya Clean, Competitive, Confidence, dan Customer Focus.

18

Untuk mencapai visi dan misi PT. PERTAMINA (Persero) S&D Region II Depot Terminal BBM Boyolali menerapkan tata nilai. Tata nilai tersebut adalah sebagai tersebut : 1) Clean (bersih) Dikelola secara profesional, menghindari benturan kepentingan, tidak menoleransi suap, menjunjung tinggi kepercayaan dan integritas. Berpedoman pada asas asas tata kelola korporasi yang baik. 2) Competitive (kompetitif) Mampu berkompetisi dalam skala regional maupun internasional, mendorong pertumbuhan melalui investasi, membangun budaya sadar biaya dan menghargai kinerja. 3) Confident (percaya diri) Berperan dalam pembangunan ekonomi nasional, menjadi pelopor dalam reformasi BUMN, dan membangun kebanggaan bangsa. 4) Costumer Focused (focus pada pelanggan) Berorientasi pada kepentingan pelanggan, dan berkomitmen untuk memberikan pelayanan terbaik untuk pelanggan. 5) Commersial (komersial) Menciptakan nilai tambah dengan orientasi komersial, mengambil keputusan berdasarkan prinsip prinsip bisnis yang sehat. 6) Capable (berkemampuan) Dikelola oleh pemimpin dan bekerja dengan professional dan memiliki talenta dan penguasaan teknis tinggi, berkomitmen dalam membangun kemampuan riset dan pengembangan.