Anda di halaman 1dari 14

Bagian I

Good Corporate Governance, Pengertian dan Konsep


Dasar

Pengertian dan Prinsip Dasar


Good Corporate Governance (GCG)
‘The proper governance of companies will become as crucial to the world economies as
the proper governing of countries.’
(James D. Wolfensohn, President of the World Bank, c. 1999)

Sulit dipungkiri, selama sepuluh tahun terakhir ini, istilah Good Corporate Governance (GCG)
kian populer. Tak hanya populer, tetapi istilah tersebut juga ditempatkan di posisi terhormat. Hal
itu, setidaknya terwujud dalam dua keyakinan. Pertama, GCG merupakan salah satu kunci sukses
perusahaan untuk tumbuh dan menguntungkan dalam jangka panjang, sekaligus memenangkan
persaingan bisnis global - terutama bagi perusahaan yang telah mampu berkembang sekaligus
menjadi terbuka.
Kedua, krisis ekonomi dunia, di kawasan Asia dan Amerika Latin yang diyakini muncul
karena kegagalan penerapan GCG. Di antaranya, Sistem Regulatory yang payah, Standar
Akuntansi dan Audit yang tidak konsisten, praktek perbankan yang lemah, serta pandangan
Board of Directors (BOD) yang kurang peduli terhadap hak-hak pemegang saham minoritas.
Berdasarkan keyakinan-keyakinan di atas itulah maka tidak mengherankan jika selama
dasawarsa 1990-an, tuntutan terhadap penerapan GCG secara konsisten dan komprehensif datang
secara beruntun. Mereka yang menyuarakan hal itu di antaranya adalah berbagai lembaga
investasi baik domestik maupun mancanegara, termasuk institusi sekaliber World Bank, IMF,
OECD, dan APEC. Dengan melontarkan beberapa prinsip umum dalam CG seperti fairness,
transparency, accountability, stakeholder concern, dapat disimpulkan bahwa penerapan GCG
diyakini akan menolong perusahaan dan perekonomian negara yang sedang tertimpa krisis
bangkit menuju ke arah yang lebih sehat, maju, mampu bersaing, dikelola secara dinamis serta
profesional. Ujungnya adalah daya saing yang tangguh, yang diikuti pulihnya kepercayaan
investor.
Tentunya, lembaga-lembaga besar itu tak asal bicara. Namun, apa sebetulnya GCG itu
sendiri? Apa prinsip-prinsip dasar yang dikandungnya? Lantas, apa manfaat menerapkan GCG?
Sangat jelas bahwa perhatian terhadap corporate governance belakangan ini terutama
dipicu oleh skandal spektakuler perusahaan-perusahaan publik di Amerika dan Eropa,
seperti Enron, Worldcom, Tyco, London & Commonwealth, Poly Peck, Maxwell, dan
lain-lain.Cadbury Report (UK) dan Treadway Report (US) secara mendasar menyebutkan
bahwa keruntuhan perusahaan-perusahaan publik tersebut dikarenakan oleh kegagalan
strategi maupun praktik curang dari manajemen puncak yang berlangsung tanpa
terdeteksi dalam waktu yang cukup lama karena lemahnya pengawasan yang independen
oleh corporate boards.

Isu corporate governance itu sendiri muncul sejak diperkenalkannya pemisahan antara
kepemilikan dan pengelolaan perusahaan (Tri Gunarsih, 2003). Namun istilah corporate
governance itu sendiri secara eksplisit muncul pertama kali pada tahun 1984 dalam
tulisan Robert I. Tricker. Di dalam bukunya, Tricker memandang corporate governance
memiliki empat kegiatan utama sebagai berikut:

Direction: Formulating the strategic direction from the future of the


enterprise in the long term;
Executive action: Involvement in crucial executive decisions;
Supervision: Monitoring and oversight of management performance, and
Accountability: Recognizing responsibilities to those making legitimate
demand for accountability.

(Tricker, Robert I., 1984, Corporate Governance – Practices, Procedures, and


Power in British Companies and Their Board of Directors, UK, Gower)

Teori-teori Terkait
Dua teori utama yang terkait dengan corporate governance adalah stewardship theory
dan agency theory. Stewardship theory dibangun di atas asumsi filosofis mengenai sifat
manusia yakni bahwa manusia pada hakekatnya dapat dipercaya, mampu bertindak
dengan penuh tanggung jawab memiliki, integritas, dan kejujuran terhadap pihak lain.
Inilah yang tersirat dalam hubungan fidusia yang dikehendaki para pemegang saham.
Dengan kata lain, stewardship theory memandang manajemen sebagai dapat dipercaya
untuk bertindak dengan sebaik-baiknya bagi kepentingan publik pada umumnya maupun
shareholders pada khususnya.
Sementara itu, agency theory yang dikembangkan oleh Michael Johnson, seorang
professor dari Harvard, memandang bahwa manajemen perusahaan sebagai ‘agents’ bagi
para pemegang saham, akan bertindak dengan penuh kesadaran bagi kepentingannya
sendiri, bukan sebagai pihak yang arif dan bijaksana serta adil terhadap pemegang saham
sebagaimana diasumsikan dalam stewardship model. Bertentangan dengan stewardship
theory, agency theory memandang bahwa manajemen tidak dapat dipercaya untuk
bertindak dengan sebaik-baiknya bagi kepentingan publik pada umumnya maupun
shareholders pada khususnya. Dengan demikian, “managers could not be trusted to do
their job – which of course is to maximize shareholder value’ (Tricker, Opcit).

Dalam perkembangan selanjutnya, agency theory mendapat respons lebih luas karena
dipandang lebih mencerminkan kenyataan yang ada. Berbagai pemikiran mengenai
corporate governance berkembang dengan bertumpu pada agency theory di mana
pengelolaan perusahaan harus diawasi dan dikendalikan untuk memastikan bahwa
pengelolaan dilakukan dengan penuh kepatuhan kepada berbagai peraturan dan ketentuan
yang berlaku. Upaya ini menimbulkan apa yang disebut sebagai agency costs, yang
menurut teori ini harus dikeluarkan sedemikian rupa sehingga biaya untuk mengurangi
kerugian yang timbul karena ketidakpatuhan setara dengan peningkatan biaya
enforcement-nya.

‘Biaya’ yang harus dibayar tersebut, dalam konteks corporate governance, adalah biaya
untuk:

“…control managerial ‘opportunism’ by having a board chair independent of the


CEO and using incentives to bind CEO interests to those of shareholders (Jensen,
M.C., and W.H. Meckling (1986), ‘Theory of the firm – managerial behaviour,
agency costs and ownership structure, “ Journal of Financial Economics, No. 3,
pp. 305-60).

Agency costs ini mencakup biaya untuk pengawasan oleh pemegang saham; biaya yang
dikeluarkan oleh manajemen untuk menghasilkan laporan yang transparan, termasuk
biaya audit yang independen dan pengendalian internal; serta biaya yang disebabkan
karena menurunnya nilai kepemilikan pemegang saham sebagai bentuk ‘bonding
expenditures’ yang diberikan kepada manajemen dalam bentuk opsi dan berbagai manfaat
untuk tujuan menyelaraskan kepentingan manajemen dengan pemegang saham.

Meskipun demikian, potensi untuk munculnya agency problem tetap ada karena adanya
pemisahan antara kepengurusan dengan kepemilikan perusahaan, khususnya di
perusahaan-perusahaan publik.

Bagaimana perbandingan kegiatan antara corporate governance dan corporate


management memperlihatkan bahwa corporate governance sangat terkait dengan aspek
pengawasan dan akuntabilitas, sementara corporate management terkait dengan
keputusan-keputusan dan pengendalian eksekutif serta manajemen operasional.
Sementara itu, titik temu atau irisan antara keduanya dalam banyak hal terwujud dalam
pengambilan keputusan-keputusan strategik perusahaan sebagaimana terlihat pada
gambar berikut ini:

Pengawasan Keputusan dan


Keputusan- Pengendalian
keputusan Manajemen
Strategik
Akuntabilitas Manajemen
Operasional

Governance Management
Definisi Good Corporate Governance (GCG)

Sebagai sebuah konsep, GCG ternyata tak memiliki definisi tunggal. Komite Cadburry,
misalnya, pada tahun 1992 - melalui apa yang dikenal dengan sebutan Cadburry Report -
mengeluarkan definisi tersendiri tentang GCG. Menurut Komite Cadburry, GCG adalah prinsip
yang mengarahkan dan mengendalikan perusahaan agar mencapai keseimbangan antara kekuatan
serta kewenangan perusahaan dalam memberikan pertanggungjawabannya kepada para
shareholders khususnya, dan stakeholders pada umumnya. Tentu saja hal ini dimaksudkan
pengaturan kewenangan Direktur, manajer, pemegang saham, dan pihak lain yang berhubungan
dengan perkembangan perusahaan di lingkungan tertentu.
Center for European Policy Studies (CEPS), punya formula lain. GCG, papar pusat studi ini,
merupakan seluruh sistem yang dibentuk mulai dari hak (right), proses, serta pengendalian, baik
yang ada di dalam maupun di luar manajemen perusahaan. Sebagai catatan, hak di sini adalah hak
seluruh stakeholders, bukan terbatas kepada shareholders saja. Hak adalah berbagai kekuatan
yang dimiliki stakeholders secara individual untuk mempengaruhi manajemen. Proses,
maksudnya adalah mekanisme dari hak-hak tersebut. Adapun pengendalian merupakan
mekanisme yang memungkinkan stakeholders menerima informasi yang diperlukan seputar
aneka kegiatan perusahaan.
Sejumlah negara juga mempunyai definisi tersendiri tentang GCG. Beberapa negara
mendefinisikannya dengan pengertian yang agak mirip walaupun ada sedikit perbedaan istilah.
Kelompok negara maju (OECD), umpamanya mendefinisikan GCG sebagai cara-cara manajemen
perusahaan bertanggung jawab pada shareholder-nya. Para pengambil keputusan di perusahaan
haruslah dapat dipertanggungjawabkan, dan keputusan tersebut mampu memberikan nilai tambah
bagi shareholders lainnya. Karena itu fokus utama di sini terkait dengan proses pengambilan
keputusan dari perusahaan yang mengandung nilai-nilai transparency, responsibility,
accountability, dan tentu saja fairness.
Sementara itu, ADB (Asian Development Bank) menjelaskan bahwa GCG mengandung
empat nilai utama yaitu: Accountability, Transparency, Predictability dan Participation.
Pengertian lain datang dari Finance Committee on Corporate Governance Malaysia. Menurut
lembaga tersebut GCG merupakan suatu proses serta struktur yang digunakan untuk
mengarahkan sekaligus mengelola bisnis dan urusan perusahaan ke arah peningkatan
pertumbuhan bisnis dan akuntabilitas perusahaan. Adapun tujuan akhirnya adalah menaikkan
nilai saham dalam jangka panjang tetapi tetap memperhatikan berbagai kepentingan para
stakeholder lainnya.
Lantas bagaimana dengan definisi GCG di Indonesia? Di tanah air, secara harfiah,
governance kerap diterjemahkan sebagai “pengaturan.” Adapun dalam konteks GCG, governance
sering juga disebut “tata pamong”, atau penadbiran - yang terakhir ini, bagi orang awam masih
terdengar janggal di telinga. Maklum, istilah itu berasal dari Melayu. Namun tampaknya secara
umum di kalangan pebisnis, istilah GCG diartikan tata kelola perusahaan, meskipun masih rancu
dengan terminologi manajemen. Masih diperlukan kajian untuk mencari istilah yang tepat dalam
bahasan Indonesia yang benar.
Kemudian, “GCG” ini didefinisikan sebagai suatu pola hubungan, sistem, dan proses yang
digunakan oleh organ perusahaan (BOD, BOC, RUPS) guna memberikan nilai tambah kepada
pemegang saham secara berkesinambungan dalam jangka panjang, dengan tetap memperhatikan
kepentingan stakeholder lainnya, berlandaskan peraturan perundangan dan norma yang berlaku.
Dari definisi di atas dapat disimpulkan bahwa Good Corporate Governance merupakan:

1. Suatu struktur yang mengatur pola hubungan harmonis tentang peran dewan komisaris,
Direksi, Pemegang Saham dan Para Stakeholder lainnya.
2. Suatu sistem pengecekan dan perimbangan kewenangan atas pengendalian perusahaan
yang dapat membatasi munculnya dua peluang: pengelolaan yang salah dan
penyalahgunaan aset perusahaan.
3. Suatu proses yang transparan atas penentuan tujuan perusahaan, pencapaian, berikut
pengukuran kinerjanya.

Dari pengertian di atas pula, tampak beberapa aspek penting dari GCG yang perlu dipahami
beragam kalangan di dunia bisnis, yakni;

Adanya keseimbangan hubungan antara organ-organ perusahaan di antaranya Rapat


Umum Pemegang Saham (RUPS), Komisaris, dan direksi. Keseimbangan ini mencakup
hal-hal yang berkaitan dengan struktur kelembagaan dan mekanisme operasional ketiga
organ perusahaan tersebut (keseimbangan internal)
Adanya pemenuhan tanggung jawab perusahaan sebagai entitas bisnis dalam
masyarakat kepada seluruh stakeholder. Tanggung jawab ini meliputi hal-hal yang
terkait dengan pengaturan hubungan antara perusahaan dengan stakeholders
(keseimbangan eksternal). Di antaranya, tanggung jawab pengelola/pengurus
perusahaan, manajemen, pengawasan, serta pertanggungjawaban kepada para pemegang
saham dan stakeholders lainnya.
Adanya hak-hak pemegang saham untuk mendapat informasi yang tepat dan benar pada
waktu yang diperlukan mengenai perusahaan. Kemudian hak berperan serta dalam
pengambilan keputusan mengenai perkembangan strategis dan perubahan mendasar atas
perusahaan serta ikut menikmati keuntungan yang diperoleh perusahaan dalam
pertumbuhannya.
Adanya perlakuan yang sama terhadap para pemegang saham, terutama pemegang
saham minoritas dan pemegang saham asing melalui keterbukaan informasi yang
material dan relevan serta melarang penyampaian informasi untuk pihak sendiri yang
bisa menguntungkan orang dalam (insider information for insider trading).

Empat Prinsip Utama Corporate Governance

Setelah definisi serta aspek penting GCG terpaparkan di atas, maka berikut adalah prinsip yang
dikandung dalam GCG. Di sini secara umum ada empat prinsip utama yaitu: fairness,
transparency, accountability, dan responsibility.
1. Fairness (Kewajaran)
Secara sederhana kewajaran (fairness) bisa didefinisikan sebagai perlakuan yang adil dan setara
di dalam memenuhi hak-hak stakeholder yang timbul berdasarkan perjanjian serta peraturan
perundangan yang berlaku.
Fairness juga mencakup adanya kejelasan hak-hak pemodal, sistem hukum dan penegakan
peraturan untuk melindungi hak-hak investor - khususnya pemegang saham minoritas - dari
berbagai bentuk kecurangan. Bentuk kecurangan ini bisa berupa insider trading (transaksi yang
melibatkan informasi orang dalam), fraud (penipuan), dilusi saham (nilai perusahaan berkurang),
KKN, atau keputusan-keputusan yang dapat merugikan seperti pembelian kembali saham yang
telah dikeluarkan, penerbitan saham baru, merger, akuisisi, atau pengambil-alihan perusahaan
lain.
Biasanya, penyakit yang timbul dalam praktek pengelolaan perusahaan, berasal dari benturan
kepentingan. Baik perbedaan kepentingan antara manajemen (Dewan Komisaris dan Direksi)
dengan pemegang saham, maupun antara pemegang saham pengendali (pemegang saham pendiri,
di Indonesia biasanya mayoritas) dengan pemegang saham minoritas (pada perusahaan publik
biasanya pemegang saham publik). Di tengah situasi seperti ini, lewat prinsip fairness, ada
beberapa manfaat yang diharapkan bisa dipetik. Apa saja manfaat itu?
Fairness diharapkan membuat seluruh aset perusahaan dikelola secara baik dan prudent
(hati-hati), sehingga muncul perlindungan kepentingan pemegang saham secara fair (jujur dan
adil). Fairness juga diharapkan memberi perlindungan kepada perusahaan terhadap praktek
korporasi yang merugikan seperti disebutkan di atas. Pendek kata, fairness menjadi jiwa untuk
memonitor dan menjamin perlakuan yang adil di antara beragam kepentingan dalam perusahaan.
Namun seperti halnya sebuah prinsip, fairness memerlukan syarat agar bisa diberlakukan
secara efektif. Syarat itu berupa peraturan dan perundang-undangan yang jelas, tegas, konsisten
dan dapat ditegakkan secara baik serta efektif. Hal ini dinilai penting karena akan menjadi
penjamin adanya perlindungan atas hak-hak pemegang saham manapun, tanpa ada pengecualian.
Peraturan perundang-undangan ini harus dirancang sedemikian rupa sehingga dapat menghindari
penyalahgunaan lembaga peradilan (litigation abuse). Di antara (litigation abuse) ini adalah
penyalahgunaan ketidakefisienan lembaga peradilan dalam mengambil keputusan sehingga pihak
yang tidak beritikad baik mengulur-ngulur waktu kewajiban yang harus dibayarkannya atau
bahkan dapat terbebas dari kewajiban yang harus dibayarkannya.

2. Transparency (Keterbukaan Informasi)


Transparansi bisa diartikan sebagai keterbukaan informasi, baik dalam proses pengambilan
keputusan maupun dalam mengungkapkan informasi material dan relevan mengenai perusahaan.
Perbincangan prinsip ini sendiri sangatlah menarik. Pasalnya, isu yang sering mencuat adalah
pertentangan dalam menjalankan prinsip ini. Semisal, adanya kekhawatiran perusahaan bahwa
jika ia terlalu terbuka, maka strateginya dapat diketahui pesaing sehingga membahayakan
kelangsungan usahanya. Wajarkah kekhawatiran seperti itu?
Menurut peraturan di pasar modal Indonesia, yang dimaksud informasi material dan relevan
adalah informasi yang dapat mempengaruhi naik turunnya harga saham perusahaan tersebut, atau
yang mempengaruhi secara signifikan risiko serta prospek usaha perusahaan yang bersangkutan.
Mengingat definisi ini sangat normatif maka perlu ada penjelasan operasionalnya di tiap
perusahaan. Karenanya, kekhawatiran di atas, sebetulnya tidak perlu muncul jika kita mampu
menjabarkan kriteria informasi material secara spesifik bagi masing-masing perusahaan.
Dalam mewujudkan transparansi ini sendiri, perusahaan harus menyediakan informasi yang
cukup, akurat, dan tepat waktu kepada berbagai pihak yang berkepentingan dengan perusahaan
tersebut. Setiap perusahaan, diharapkan pula dapat mempublikasikan informasi keuangan serta
informasi lainnya yang material dan berdampak signifikan pada kinerja perusahaan secara akurat
dan tepat waktu. Selain itu, para investor harus dapat mengakses informasi penting perusahaan
secara mudah pada saat diperlukan.
Ada banyak manfaat yang bisa dipetik dari penerapan prinsip ini. Salah satunya, stakeholder
dapat mengetahui risiko yang mungkin terjadi dalam melakukan transaksi dengan perusahaan.
Kemudian, karena adanya informasi kinerja perusahaan yang diungkap secara akurat, tepat
waktu, jelas, konsisten, dan dapat diperbandingkan, maka dimungkinkan terjadinya efisiensi
pasar. Selanjutnya, jika prinsip transparansi dilaksanakan dengan baik dan tepat, akan
dimungkinkan terhindarnya benturan kepentingan (conflict of interest) berbagai pihak dalam
manajemen.

3. Accountability (Dapat Dipertanggungjawabkan)


Akuntabilitas adalah kejelasan fungsi, struktur, sistem dan pertangungjawaban organ perusahaan
sehingga pengelolaan perusahaan terlaksana secara efektif.
Masalah yang sering ditemukan di perusahaan-perusahaan Indonesia adalah mandulnya
fungsi pengawasan Dewan Komisaris. Atau justru sebaliknya, Komisaris Utama mengambil peran
berikut wewenang yang seharusnya dijalankan direksi. Padahal, diperlukan kejelasan tugas serta
fungsi organ perusahaan agar tercipta suatu mekanisme pengecekan dan perimbangan dalam
mengelola perusahaan.
Kewajiban untuk memiliki Komisaris Independen dan Komite Audit sebagaimana yang
ditetapkan oleh Bursa Efek Jakarta, merupakan salah implementasi prinsip ini. Tepatnya,
berupaya memberdayakan fungsi pengawasan Dewan Komisaris. Beberapa bentuk implementasi
lain dari prinsip accountability antara lain:

Praktek Audit Internal yang Efektif, serta


Kejelasan fungsi, hak, kewajiban, wewenang dan tanggung jawab dalam anggaran dasar
perusahaan dan Statement of Corporate Intent (Target Pencapaian Perusahaan di masa
depan)

Bila prinsip accountability ini diterapkan secara efektif, maka ada kejelasan fungsi, hak,
kewajiban, wewenang, dan tanggung jawab antara pemegang saham, dewan komisaris, serta
direksi. Dengan adanya kejelasan inilah maka perusahaan akan terhindar dari kondisi agency
problem (benturan kepentingan peran).
4. Responsibility (Pertanggungjawaban)
Pertanggungjawaban perusahaan adalah kesesuaian (patuh) di dalam pengelolaan perusahaan
terhadap prinsip korporasi yang sehat serta peraturan perundangan yang berlaku. Peraturan yang
berlaku di sini termasuk yang berkaitan dengan masalah pajak, hubungan industrial, perlindungan
lingkungan hidup, kesehatan/ keselamatan kerja, standar penggajian, dan persaingan yang sehat.
Beberapa contoh mengenai hal ini dapat dijelaskan sebagai berikut :

 Kebijakan sebuah perusahaan makanan untuk mendapat


sertifikat “HALAL”. Ini merupakan bentuk pertanggungjawaban
kepada masyarakat. Lewat sertifikat ini, dari sisi konsumen, mereka
akan merasa yakin bahwa makanan yang dikonsumsinya itu halal dan
tidak merasa dibohongi perusahaan. Dari sisi Pemerintah, perusahaan
telah mematuhi peraturan perundang-undangan yang berlaku
(Peraturan Perlindungan Konsumen). Dari sisi perusahaan, kebijakan
tersebut akan menjamin loyalitas konsumen sehingga kelangsungan
usaha, pertumbuhan, dan kemampuan mencetak laba lebih terjamin,
yang pada akhirnya memberi manfaat maksimal bagi pemegang
saham.
 Kebijakan perusahaan mengelola limbah sebelum dibuang ke
tempat umum. Ini juga merupakan pertanggungjawaban kepada
publik. Dari sisi masyarakat, kebijakan ini menjamin mereka untuk
hidup layak tanpa merasa terancam kesehatannya tercemar.
Demikian pula dari sisi Pemerintah, perusahaan memenuhi peraturan
perundang-undangan lingkungan hidup. Sebaliknya dari sisi
perusahaan, kebijakan tersebut merupakan bentuk jaminan
kelangsungan usaha karena akan mendapat dukungan pengamanan
dari masyarakat sekitar lingkungan.

Penerapan prinsip ini diharapkan membuat perusahaan menyadari bahwa dalam kegiatan
operasionalnya seringkali ia menghasilkan eksternalitas (dampak luar kegiatan perusahaan)
negatif yang harus ditanggung oleh masyarakat. Di luar hal itu, lewat prinsip responsibility ini
juga diharapkan membantu peran pemerintah dalam mengurangi kesenjangan pendapatan dan
kesempatan kerja pada segmen masyarakat yang belum mendapatkan manfaat dari mekanisme
pasar.

Prinsip-prinsip di atas perlu diterjemahkan ke dalam lima aspek yang dijabarkan oleh OECD
(Organization for Economic Cooperation and Development) sebagai pedoman pengembagan
kerangka kerja legal, institutional, dan regulatory untuk corporate governance di suatu negara.
Lima aspek tersebut antara adalah:
1. Hak-hak pemegang saham dan fungsi kepemilikan: Hak-hak pemegang saham harus
dilindungi dan difasilitasi.
2. Perlakuan setara terhadap seluruh pemegang saham: Seluruh pemegang saham
termasuk pemegang saham minoritas dan pemegang saham asing harus diperlakukan
setara. Seluruh pemegang saham harus diberikan kesempatan yang sama untuk
mendapatkan perhatian bila hak-haknya dilanggar.
3. Peran stakeholders dalam corporate governance: Hak-hak para pemangku kepentingan
(stakeholders) harus diakui sesuai peraturan perundangan yang berlaku, dan kerjasama
aktif antara perusahaan dan para stakeholders harus dikembangkan dalam upaya bersama
menciptakan kekayaan, pekerjaan, dan keberlanjutan perusahaan.
4. Disklosur dan transparansi: Disklosur atau pengungkapan yang tepat waktu dan akurat
mengenai segala aspek material perusahaan, termasuk situasi keuangan, kinerja,
kepemilikan, dan governance perusahaan.
5. Tanggung jawab Pengurus Perusahaan (Corporate Boards): Pengawasan Komisaris
terhadap pengelolaan perusahaan oleh Direksi harus berjalan efektif, disertai adanya
tuntutan strategik terhadap manajemen, serta akuntabilitas dan loyalitas Direksi dan
Komisaris terhadap perusahaan dan pemegang saham.

Manfaat dan Faktor Penerapan GCG

Esensi corporate governance adalah peningkatan kinerja perusahaan melalui sepervisi atau
pemantauan kinerja manajemen dan adanya akuntabilitas manajemen terhadap shareholders dan
pemangku kepentingan lainnya, berdasarkan kerangka aturan dan peraturan yang berlaku (Tri
Gunarsih, 2003). Untuk meningkatkan akuntabilitas, antara lain diperlukan auditor, komite audit,
serta remunerasi eksekutif. GCG memberikan kerangka acuan yang memungkinkan pengawasan
berjalan efektif sehingga tercipta mekanisme checks and balances di perusahaan.

Seberapa jauh perusahaan memperhatikan prinsip-prinsip dasar GCG telah semakin menjadi
faktor penting dalam pengambilan keputusan investasi. Terutama sekali hubungan antara praktik
corporate governance dengan karakter investasi internasional saat ini. Karakter investasi ini
ditandai dengan terbukanya peluang bagi perusahaan mengakses dana melalui ‘pool of investors’
di seluruh dunia. Suatu perusahaan dan atau negara yang ingin menuai manfaat dari pasar modal
global, dan jika kita ingin menarik modal jangka panjang yang, maka penerapan GCG secara
konsisten dan efektif akan mendukung ke arah itu. Bahkan jikapun perusahaan tidak bergantung
pada sumber daya dan modal asing, penerapan prinsip dan praktik GCG akan dapat
meningkatkan keyakinan investor domestik terhadap perusahaan.

Di samping hal-hal tersebut di atas, GCG juga dapat:


1. Mengurangi agency cost, yaitu suatu biaya yang harus ditanggung pemegang saham
sebagai akibat pendelegasian wewenang kepada pihak manajemen. Biaya-biaya ini dapat
berupa kerugian yang diderita perusahaan sebagai akibat penyalahgunaan wewenang
(wrong-doing), ataupun berupa biaya pengawasan yang timbul untuk mencegah
terjadinya hal tersebut.
2. Mengurangi biaya modal (cost of capital), yaitu sebagai dampak dari pengelolaan
perusahaan yang baik tadi menyebabkan tingkat bunga atas dana atau sumber daya yang
dipinjam oleh perusahaan semakin kecil seiring dengan turunnya tingkat resiko
perusahaan.
3. Meningkatkan nilai saham perusahaan sekaligus dapat meningkatkan citra perusahaan
tersebut kepada publik luas dalam jangka panjang.
4. Menciptakan dukungan para stakeholder (para pihak yang berkepentingan) dalam
lingkungan perusahaan tersebut terhadap keberadaan dan berbagai strategi dan kebijakan
yang ditempuh perusahaan, karena umumnya mereka mendapat jaminan bahwa mereka
juga mendapat manfaat maksimal dari segala tindakan dan operasi perusahaan dalam
menciptakan kemakmuran dan kesejahteraan.

Manfaat GCG ini bukan hanya untuk saat ini, tetapi juga dalam jangka panjang dapat
menjadi pilar utama pendukung tumbuh kembangnya perusahaan sekaligus pilar pemenang era
persaingan global.
Akan tetapi, keberhasilan penerapan GCG juga memiliki prasyarat tersendiri. Di sini, ada dua
faktor yang memegang peranan, faktor eksternal dan internal.

Faktor Eksternal
Yang dimakud faktor eksternal adalah beberapa faktor yang berasal dari luar perusahaan yang
sangat mempengaruhi keberhasilan penerapan GCG. Di antaranya:

a. Terdapatnya sistem hukum yang baik sehingga mampu menjamin berlakunya supremasi
hukum yang konsisten dan efektif.
b. Dukungan pelaksanaan GCG dari sektor publik/ lembaga pemerintahaan yang
diharapkan dapat pula melaksanakan Good Governance dan Clean Government menuju
Good Government Governance yang sebenarnya.
c. Terdapatnya contoh pelaksanaan GCG yang tepat (best practices) yang dapat menjadi
standard pelaksanaan GCG yang efektif dan profesional. Dengan kata lain, semacam
benchmark (acuan).
d. Terbangunnya sistem tata nilai sosial yang mendukung penerapan GCG di
masyarakat. Ini penting karena lewat sistem ini diharapkan timbul partisipasi
aktif berbagai kalangan masyarakat untuk mendukung aplikasi serta sosialisasi
GCG secara sukarela.
e. Hal lain yang tidak kalah pentingnya sebagai prasyarat keberhasilan
implementasi GCG terutama di Indonesia adalah adanya semangat anti korupsi
yang berkembang di lingkungan publik di mana perusahaan beroperasi disertai
perbaikan masalah kualitas pendidikan dan perluasan peluang kerja. Bahkan
dapat dikatakan bahwa perbaikan lingkungan publik sangat mempengaruhi
kualitas dan skor perusahaan dalam implementasi GCG.

Faktor Internal
Maksud faktor internal adalah pendorong keberhasilan pelaksanaan praktek GCG yang berasal
dari dalam perusahaan. Beberapa faktor dimaksud antara lain:

a. Terdapatnya budaya perusahaan (corporate culture) yang mendukung penerapan GCG


dalam mekanisme serta sistem kerja manajemen di perusahaan.
b. Berbagai peraturan dan kebijakan yang dikeluarkan perusahaan mengacu pada
penerapan nilai-nilai GCG.
c. Manajemen pengendalian risiko perusahaan juga didasarkan pada kaidah-kaidah standar
GCG.
d. Terdapatnya sistem audit (pemeriksaan) yang efektif dalam perusahaan untuk
menghindari setiap penyimpangan yang mungkin akan terjadi.
e. Adanya keterbukaan informasi bagi publik untuk mampu memahami setiap gerak dan
langkah manajemen dalam perusahaan sehingga kalangan publik dapat memahami dan
mengikuti setiap derap langkah perkembangan dan dinamika perusahaan dari waktu ke
waktu.

Di luar dua faktor di atas, aspek lain yang paling strategis dalam mendukung penerapan GCG
secara efektif sangat tergantung pada kualitas, skill, kredibilitas, dan integritas berbagai pihak
yang menggerakkan organ perusahaan. Yang pasti, jika berbagai prinsip dan aspek penting GCG
dilanggar suatu perusahaan, maka sudah dapat dipastikan perusahaan tersebut tidak akan mampu
bertahan lama dalam persaingan bisnis global dewasa ini, meski perusahaan itu memiliki
lingkungan kondusif bagi pertumbuhan bisnisnya, seperti yang dialami oleh raksasa bisnis Enron
Inc. di AS beberapa waktu lalu. Dalam kasus Enron ini, sistem kontrol berlapis-lapis ternyata tak
bisa mencegah sekelompok pimpinan yang memuaskan ketamakannya untuk kepentingan sendiri.
Eksekutif Enron Inc. yang seharusnya berkewajiban moral memberikan data keuangan yang jujur
- sebagaimana keharusan perusahaan publik, ternyata tidak melakukan tugas itu. Begitu pula,
independent auditor yang semestinya tidak hanya memastikan bahwa laporan keuangan sebuah
perusahaan sesuai aturan dan standar akuntansi, tetapi juga memberi investor maupun kreditor
gambaran yang fair serta akurat tentang apa yang sebenarnya terjadi, ternyata gagal menjalankan
perannya. Perusahaan Akuntan besar sekaliber Andersen gagal melakukannya (Lihat. Jatuhnya
Enron).

Jatuhnya Enron
(Harian Tempo, 23 Januari 2002)

Skandal keuangan Enron menguncang AS dengan akibat yang mencengangkan. Belum


lama berselang, perusahaan raksasa energi itu masih bertengger di peringkat 7 dalam
Fortune 500 (daftar perusahaan terkaya versi majalah Fortune). Omset bisnisnya pada
tahun 2000 lalu tercatat sekitar US$ 100 miliar, kurang lebih sama dengan total
pendapatan kotor negeri sebesar Indonesia pada tahun yang sama.
Enron dipandang sukses menyulap diri dari sekedar perusahaan pipanisasi gas alam
di negara bagian Texas pada tahun 1985 menjadi raksasa global dalam beberapa tahun
terakhir. Dia membeli perusahaan air minum di Inggris dan membangun pembangkit
listrik swasta di India. Konsep bisnisnya yang visioner dan futuristik membuatnya
menjadi bluechip di lantai bursa Wall Street. Harga sahamnya pun terus meroket. Akhir
tahun 1999, Enron meluncurkan Enron Online yang dianggap akan mengubah wajah
bisnis energi masa depan. Dengan memanfaatkan internet, divisi e-commerce itu
membeli gas, air minum, dan tenaga listrik dari produsen dan menjualnya kepada
pelanggan atau distributor besar.
Enron bahkan memperluas wilayah bisnisnya dengan membangun jaringan
telekomunikasi berkecepatan tinggi serta bertekad menjual bandwidth jaringan itu
seperti dia menjual gas dan listrik. Setelah itu mungkin dia akan berjual-beli online
untuk kertas daur ulang pabrik miliknya.
Tidak berapa lama setelah dia memasuki bisnis jasa video-on-demand, menjual
tayangan video kepada pelanggan via sambungan internet kecepatan tinggi, harga saham
Enron pun mencapai puncaknya, yaitu US$ 90 perlembarnya pada Agustus 2000. Meski
kemudian merosot bersama jatuhnya saham-saham teknologi dan internet lain,
pertengahan tahun 2001 nilai pasar Enron (jumlah lembar saham dikalikan harganya)
masih berkisar US$ 60 miliar, atau dua kali lipat anggaran belanja Indonesia kala itu.
Pada Oktober 2001, Enron menjatuhkan bom dahsyat di Wall Street dengan
melaporkan kerugian ratusan juta dolar pada kwartal itu. Akibatnya milyaran dolar
investasi para pemegang saham menguap hampir seketika. Sangat mengejutkan, karena
Enron hampir selalu membawa berita gembira ke lantai bursa dengan selama empat
tahun berturut-turut melaporkan keuntungan.
Kabar buruk itu membanting harga saham Enron dari sekitar US$ 30 menjadi
sekitar US$ 10 perlembar, hanya dalam hitungan hari. Securities Exchange Commission
(SEC), badan Pengawas pasar Modal AS mencium ada yang tidak beres dan mulai
menggelar penyidikan. Dalam kondisi terdesak, Enron menjatuhkan bom yang lebih
dahsyat lagi ke lantai bursa ketika pada tanggal 8 November 2001 mengakui bahwa
keuntungannya selama ini adalah fiksi belaka. Enron merevisi laporan keuangan lima
tahun terakhir dan membukukan kerugian sebesar US$ 586 juta serta tambahan catatan
hutang sebesar US$ 2,5 miliar. Salah satu episode paling menarik dipertontonkan saat
komite kongres mengundang aktor utama komedi, yaitu Kenneth L. Lay, Presiden
Komisaris sekaligus CEO Enron, pada Februari 2002.
Sejak akhir tahun 2000, ketika harga saham Enron di posisi
puncak, para eksekutif menjual saham yang mereka miliki dengan
total nilai US$ 1,1 miliar. Selama empat tahun terakhir, Kenneth
sendiri diperkirakan meraup untung US$ 205 juta dari penjualan
sahamnya. Dalam kurun waktu yang sama dia membujuk karyawan
dan para investornya untuk membeli saham Enron, antara lain dengan
iming-iming laporan keuangan yang menjanjikan, padahal palsu.
Bahkan, pada 26 September 2001, ketika harga saham jatuh menjadi
US$ 2,5 per lembar, Ken Lay masih mencoba menghibur karyawannya
untuk tidak menjual saham, sebaliknya membujuk mereka untuk
membeli lagi saham perusahaan. Dalam e-mail yang dikirimkan
kepada para karyawan yang risau, dia mengatakan perusahaan dalam
kondisi sehat secara keuangan dan bahwa harga saham Enron “luar
biasa murah” dalam posisi itu. Namun, hanya beberapa pekan
kemudian, Enron melaporkan kerugian yang bermuara pada
kebangkrutannya. Para karyawan tidak bisa menjual saham mereka
sampai semuanya sudah terlambat: “Enron kehilangan nilai sama
sekali”.

Rangkuman

Good Corporate Governance (GCG) telah menjadi sebuah istilah dan gerakan yang hangat
dibicarakan dalam 10 tahun terakhir ini. Tidak dapat dipungkiri, institusi-institusi seperti World
Bank, IMF, OECD, APEC, dan ADB turut mendorong tuntutan penerapan GCG secara konsisten
dan komprehensif di berbagai perusahaan, khususnya setelah krisis Asia dan collapse-nya
beberapa perusahaan raksasa di Amerika Serikat dan Eropa di penghujung tahun 90-an dan awal
tahun 2000-an.
Sehubungan dengan itu, hingga saat ini istilah GCG itu sendiri belum mendapatkan padanan
yang tepat dalam bahasa Indonesia. Banyak perusahaan tetap menggunakan istilah GCG. Untuk
buku ini, penulis akan menggunakan istilah - GCG - merujuk pada pengertian yang sama yakni
sebagai:

Suatu pola hubungan, sistem, dan proses yang digunakan oleh organ perusahaan (BOD,
BOC, dan RUPS) guna memberikan nilai tambah kepada pemegang saham secara
berkesinambungan dalam jangka panjang, dengan tetap memperhatikan kepentingan
para stakeholder lainnya, berlandaskan peraturan perundangan dan norma yang berlaku.

Penerapan GCG mengandung manfaat antara lain dapat mengurangi agency cost, biaya yang
harus ditanggung pemegang saham akibat pendelegasian wewenangnya kepada manajemen;
menurunkan cost of capital sebagai dampak dikelolanya perusahaan secara sehat dan bertanggung
jawab, meningkatkan nilai saham perusahaan, dan menciptakan dukungan stakeholders terhadap
perusahaan (license to operate).