Anda di halaman 1dari 24

Case Report Session

OTITIS MEDIA SUPURATIF KRONIS

Oleh : Ayuni Putri Utami Milya Sari Putri Ismul Sadly Putra 0810312054 0810312055 0810312056

Preseptor : Dr. Sukri Rahman, Sp.THT-KL

BAGIAN ILMU PENYAKIT TELINGA HIDUNG DAN TENGGOROK BEDAH KEPALA LEHER RUMAH SAKIT UMUM PUSAT DR M.DJAMIL PADANG FAKULTAS KEDOKTERAN UNIVERSITAS ANDALAS 2013

BAB I TINJAUAN PUSTAKA

1.1 Definisi Otitis media supuratif kronik ( OMSK ) ialah infeksi kronis di telinga tengah dengan perforasi membrane timpani dan sekret yang keluar dari telinga tengah terus-menerus atau hilang timbul, sekret dapat encer atau kental, bening atau berupa nanah, dan prosesnya sudah berlangsung lebih dari 2 bulan.1

1.2 Epidemiologi Insiden OMSK ini bervariasi pada setiap negara. Secara umum, insiden OMSK dipengaruhi oleh ras dan faktor sosioekonomi. Misalnya, OMSK lebih sering dijumpai pada orang Eskimo dan Indian Amerika, anak-anak aborigin Australia dan orang kulithitam di Afrika Selatan. Walaupun demikian, lebih dari 90% beban dunia akibat OMSK ini dipikul oleh negara-negara di Asia Tenggara, daerah Pasifik Barat, Afrika, dan beberapa daerah minoritas di Pasifik. Kehidupan sosial ekonomi yang rendah, lingkungan kumuh dan status kesehatan serta gizi yang jelek merupakan faktor yang menjadi dasar untuk meningkatnya prevalensi OMSK pada negara yang sedang berkembang.2 Survei prevalensi di seluruh dunia, yang walaupun masih bervariasi dalam hal definisi penyakit, metode sampling serta mutu metodologi, menunjukkan beban dunia akibat OMSK melibatkan 65330 juta orang dengan telinga berair, 60% di antaranya (39 200 juta) menderita kurang pendengaran yang signifikan. Secara umum, prevalensi OMSK di Indonesia adalah 3,8% dan pasien OMSK merupakan 25% dari pasien-pasien yang berobat di poliklinik THT rumah sakit di Indonesia. Usia terbanyak penderita infeksi telinga tengah adalah usia 7-18 tahun, dan penyakit telinga tengah terbanyak adalah OMSK.2 1.3 Etiologi OMSK hampir selalu dimulai dengan otitis media berulang pada anak, jarang dimulai setelah dewasa. Faktor infeksi biasanya berasal dari nasofaring (adenoiditis, tonsilitis, rinitis, sinusitis), mencapai telinga tengah melalui tuba Eustachius. Kelainan humoral (seperti hipogammaglobulinemia) dan cell-mediated (seperti infeksi HIV, sindrom kemalasan leukosit) dapat bermanifestasi sebagai sekresi telinga kronis.2

Penyebab OMSK antara lain: Lingkungan Genetik Otitis media sebelumnya. Infeksi Infeksi saluran nafas atas Autoimun Alergi Gangguan fungsi tuba eustachius.

Beberapa faktor-faktor yang menyebabkan perforasi membran timpani menetap pada OMSK : Infeksi yang menetap pada telinga tengah mastoid yang mengakibatkan produksi sekret telinga purulen berlanjut. Berlanjutnya obstruksi tuba eustachius yang mengurangi penutupan spontan pada perforasi. Beberapa perforasi yang besar mengalami penutupan spontan melalui mekanisme migrasi epitel. Pada pinggir perforasi dari epitel skuamous dapat mengalami pertumbuhan yang cepat diatas sisi medial dari membran timpani. Proses ini juga mencegah penutupan spontan dari perforasi.

1.4 Patofisiologi OMSK dimulai dengan sebuah episode dari infeksi akut. Patofisiologi OMSK dimulai dengan iritasi dan peradangan berikutnya dari mukosa telinga tengah. Respon inflamasi menciptakan edema mukosa. Peradangan berkelanjutan pada akhirnya menyebabkan ulserasi mukosa dan kerusakan lapisan epitel. Upaya host untuk mencegah infeksi atau inflamasi bermanifestasi sebagai jaringan granulasi, yang dapat berkembang menjadi polip dalam ruang telinga tengah. Siklus peradangan, ulserasi, infeksi, dan pembentukan jaringan granulasi dapat berlanjut terus, akhirnya menghancurkan margin tulang sekitarnya dan akhirnya menyebabkan komplikasi sebagai OMSK.3

1.5 Jenis OMSK

a. OMSK tipe aman (tipe mukosa = tipe benigna) Proses peradangan pada OMSK tipe aman terbatas pada mukosa saja, dan biasanya tidak mengenai tulang. Perforasi pada OMSK tipe aman terletak di sentral (perforasi terdapat di pars tensa, sedangkan di seluruh tepi perforasi masih ada sisa membran

timpani ). Umumnya perforasi tipe aman jarang menimbulkan komplikasi yang berbahaya dan tidak terdapat kolesteatoma.1 b. OMSK tipe bahaya (tipe tulang = tipe maligna) OMSK tipe maligna adalah OMSK yang disertai dengan kolesteatoma. Perforasi pada OMSK tipe bahaya letaknya di marginal atau di atik. Pada perforasi marginal sebagian tepi perforasi langsung berhubungan dengan anulus atau sulkus timpanikum. Sedangkan perforasi atik adalah perforasi yang terletak di pars flaksida.1

Gambar 1. Perforasi sentral dan marginal

Gambar 2. Perforasi atik

Kolesteatoma Kolesteatoma adalah suatu kista epitelial yang berisi deskuamasi jaringan epitel (keratin). Deskuamasi terbentuk terus lalu menumpuk sehingga kolesteatoma bertambah besar.1 Patogenesis kolesteatoma Teori Invaginasi Timbul akibat terjadi proses invaginasi dari membrana timpani pars flacida karena adanya tekanan negatif di telinga tengah akibat gangguan tuba. Teori Imigrasi Terbentuk akibat dari masuknya epitel kulit dari liang telinga atau dari pinggir perforasi membrana timpani ke telinga tengah. Migrasi ini berperan penting dalam akumulasi debris keratin dan sel skuamosa dalam retraksi kantong dan perluasan kulit ke dalam telinga tengah melalui perforasi membran timpani. Teori Metaplasi Akibat metaplasi mukosa kavum timpani karena iritasi infeksi yang berlangsung lama. Teori Implantasi Akibat adanya implantasi epitel kulit secara iatrogenik ke dalam telinga tengah waktu operasi, setelah blust injury, pemasangan ventilasi tube atau setelah miringotomi.2 Kolesteatoma merupakan media yang baik untuk tumbuhnya kuman, yang paling sering adalah Pseudomonas aerogenusa. Pembesaran kolesteatom menjadi lebih cepat apabila sudah disertai infeksi, kolesteatom ini akan menekan dan mendesak organ di sekitarnya serta menimbulkan nekrosis terhadap tulang.1 Klasifikasi Kolesteatom Kongenital Kolesteatoma kongenital terjadi karena perkembangan dari proses inklusi pada embrional atau dari sel-sel epitel embrional. Karena itu kolesteatoma ditemui di belakang dari membran tympani yang intak, tanpa berlanjut ke saluran telinga luar dengan tidak adanya faktor-faktor yang lain seperti perforasi dari membran tympani, atau adanya riwayat infeksi pada telinga. Kolesteatom kongenital ini ditemukan pada daerah petrosus mastoid,cerebellopontin angle, anterior mesotimpanum atau pada daerah tepi tuba austachii, dan seringkali teridentifikasi pada usia 6 bulan hingga 5 tahun.1 Kolesteatoma Akuisital Primer

Terbentuk tanpa didahului oleh perforasi membrane timpani, akan tetapi telah terjadi retraksi membran timpani. Sekunder Terbentuk setelah perforasi membran timpani. Terbentuk akibat dari masuknya epitel kulit dari liang telinga atau dari pinggir perforasi membrana timpani1 1.5 Diagnosis Diagnosis OMSK dibuat berdasarkan gejala klinik dan pemeriksaan THT-terutama pemeriksaan otoskopi. Bisa juga dilakukan pemeriksaan untuk mengetahui gangguan pendengran (tes penala, audiometri, atau BERA).1 a. Anamnesis Penyakit telinga kronis biasanya terjadi perlahan lahan dan penderita sering kali datang dengan gejala gejala penyakit yang sudah lengkap. Gejala yang paling sering dijumpai adalah telinga berair, adanya sekert di liang telinga yang pada tipe aman sekretnya lebih banyak dan seperti mukous, tidak berbau busuk dan intermitten sedangkan pada tipe bahaya sekretnya lebih sedikit barbau busuk kadang kala di sertai pembentukan jaringan granulasi atau polip maka sekret yang keluar dapat bercampur darah. Adakalanya ppenderita datang dengan keluhan kurang pendengaran atau telinga keluar darah. b. Pemeriksaan Autoskopi Pada pemeriksaan ini menunjukkan adanya letak perforasi. c. Pemeriksaan Audiologi Evaluasi audiometri, pembuatan audiogram nada murni untuk menilai hantaran udara dan tulang penting untuk evaluasi tingkat penurunan pendengaran d. Pemeriksaan Radiologi Radiologi konvensional, foto polos radiologi posisi Schuller berguna untuk menilai kasus kolesteatom sedangkan pemeriksaan CT Scan dapat lebih efektif menunjukkan anatomi tulang temporal dan koleasteatoma.2 Tanda-tanda klinis OMSK tipe maligna5 : Adanya Abses atau fistel retroaurikular Jaringan granulasi atau polip diliang telinga yang berasal dari kavum timpani. Pus yang selalu aktif atau berbau busuk ( aroma kolesteatom) Foto rontgen mastoid adanya gambaran kolesteatom.

1.7 Terapi OMSK Terapi OMSK biasanya memerlukan waktu lama dan berulang ulang. Sekret yang keluar tidak cepat kering atau selalu kambuh lagi. Keadaan ini antara lain disebabkan oleh : Adanya perforasi membran timpani yang permanen, sehingga telinga tengah berhubungan dengan dunia luar Terdapat sumber infeksi di faring, nasofaring, hidung, dan sinus paranasal Sudah terbentuk jaringan patologik yang ireversibel dalam rongga mastoid Gizi dan higiene yang kurang1

Prinsip terapi OMSK a. Terapi OMSK tipe aman Terapi pada otitis media supuratif kronik (OMSK) benigna bisa dengan konservatif (medikamentosa), yaitu : 1. Obat pencuci telinga. Bahannya H2O2 3%. Berikan selama 3-5 hari. Pengobatan ini kita berikan bila sekret telinga keluar terus-menerus. 2. Obat tetes telinga. Lanjutkan memberikan obat tetes telinga yang mengandung antibiotik & kortikosteroid setelah sekret yang keluar telah berkurang. Jangan berikan selama lebih 1-2 minggu secara berturut-turut,karena antibiotik tetes telinga bersifat ototoksik. 3. Obat antibiotik. Berikan antibiotik oral golongan ampisilin atau eritromisin sebelum hasil tes resistensi obat kita terima. Berikan eritromisin jika pasien alerg iterhadap golongan penisilin. Berikan ampisilin asam klavulanat bila terjadi resistensi ampisilin.1 Bila sekret telah kering, tetapi perforasi masih ada setelah diobservasi selama 2 bulan, maka idealnya dilakukan miringoplasti atau timpanoplasti. Operasi ini bertujuan untuk menghentikan infeksi secara permanen, memperbaiki membran timpani yang perforasi, mencegah terjadinya komplikasi atau kerusakan pendengaran yang lebih berat serta memperbaiki pendengaran. Bila terdapat sumber infeksi yang menyebabkan sekret tetap ada atau terjadinya infeksi berulang, maka sumber infeksi itulah yang diobati terlebih dahulu mungkin juga perlu melakukan pembedahan misalnya adenoidektomi dan tonsilektomi.1 b. Terapi OMSK tipe bahaya Prinsip terapi OMSK tipe bahaya adalah pembedahan yaitu mastoidektomi dengan atau tanpa timpanoplasti. Terapi konservatif dengan mendikamentosa hanyalah merupakan terapi sementara sebelum dilakukan pembedahan. Bila terdapat abses

subperiosteal retroaurikuler maka insisi abses sebaiknya dilakukan tersendiri sebelum mastoidektomi. 1 Tujuan operasi adalah menghentikan infeksi secara permanen, memperbaiki membran timpani yang perforasi, mencegah terjadinya komplikasi atau kerusakan pendengaran yang lebih berat, serta memperbaiki pendengaran. Ada beberapa jenis pembedahan atau tehnik operasi yang dapat dilakukan pada OMSK dengan mastoiditis kronis, baik tipe benigna atau maligna, antara lain: Mastoidektomi sederhana ( simple mastoidectomy) Bertujuan untuk mengevaluasi penyakit yang hanya terbatas pada rongga mastoid. Mastoidektomi radikal Bertujuan untuk mengeradikasi seluruh penyakit di mastoid dan telinga tengah, dimana rongga mastoid, telinga tengah dan liang telinga luar digabungkan menjadi satu ruangan sehingga drainase mudah. Mastoidektomi radikal dengan modifikasi Miringoplasti Timpanoplasti Pendekatan ganda timpanoplasti ( Combined approach tympanoplasty)

1.8 Komplikasi Adams dkk (1989) mengemukakan klasifikasi sebagai berikut :5 A.Komplikasi di telinga tengah 1. Perforasi membran timpani persisten 2. Erosi tulang pendengaran 3. Paralisis nervus fasialis B.Komplikasi di telinga dalam 1. Fistula labirin 2. Labirintis 3. Tuli saraf (sensorineural) C.Komplikasi ekstradural 1. Abses ekstradural 2. Trombosis sinus lateralis 3. Petrositis

D.Komplikasi ke susunan saraf pusat 1. Meningitis 2. Abses otak 3. Hidrosefalus otitis Souza dkk (1999) membagi komplikasi otitis media menjadi : Komplikasi Intratemporal Komplikasi di telinga tengah

Paresis nervus fasialis Kerusakan tulang pendengaran Perforasi membran timpani Komplikasi ke rongga mastoid Petrositis Mastoiditis koalesen Komplikasi ke telinga dalam Labirintis Tuli saraf/sensorineural

Komplikasi ekstratemporal Komplikasi intrakarnial


Abses ekstradura Abses subdura Abses otak Meningitis Tromboflebitis sinus lateralis Hidrosefalus otikus Komplikasi ekstrakaranial Abses retroaurikular Abses Bezolds Abses zigomaticus

Shambough (2003) membagi komplikasi otitis media sebagai berikut : Komplikasi intratemporal

Perforasi membran timpani Mastoiditis akut Paresis N.Fasialis Labirinitis Petrositis

Komplikasi ekstratemporal Abses subperiosteal Komplikasi intrakarnial


Abses otak Tromboflebitis Hidrosefalus otikus Empiema subdura Abses subdura/ekstradura

ILUSTRASI KASUS
BAGIAN TELINGA HIDUNG TENGGOROK BEDAH KEPALA LEHER FAKULTAS KEDOKTERAN UNIVERSITAS ANDALAS PADANG

IDENTITAS PASIEN Nama Umur : ID : 37 tahun Tanggal pemeriksaan : 9 Januari 2013

Jenis Kelamin : Perempuan Pekerjaan : Petani

Suku Bangsa : Indonesia Alamat : Lolo Hilir, Kerinci

ANAMNESIS Seorang pasien perempuan berumur 37 tahun dirawat di bangsal THT RSUP Dr M.Djamil Padang pada tanggal 7 Januari 2013 dengan :

Keluhan Utama : Keluar cairan dari telinga kanan sejak 2 bulan sebelum masuk rumah sakit Keluhan Tambahan : Pasien mengeluh telinga kiri tidak dapat mendengar

Riwayat Penyakit Sekarang :

Kedua telinga berair sejak kelas 5 SD, hilang timbul terutama bila cuaca panas. Keluar cairan terasa makin menggangu dari telinga kanan sejak 2 bulan yang lalu, cairan berwarna kuning kehijauan , Keluar darah dari telinga kiri 1 bulan yang lalu Telinga kiri tidak dapat mendengar sejak 1 bulan yang lalu Riwayat mengorek telinga kiri 1 bulan yang lalu Riwayat nyeri menelan tidak ada Sakit kepala bagian belakang hilang timbul sejak 2 bulan yang lalu Riwayat trauma tidak ada

Riwayat Penyakit Keluarga : Tidak ada anggota keluarga yang menderita keluhan yang sama.

Riwayat Pekerjaan, Sosial, Ekonomi, dan Kebiasaan: Pasien tamatan SD bekerja sebagai petani

PEMERIKSAAN FISIK Status Generalis Keadaan Umum Kesadaran Tekanan Darah : Tampak sakit sedang : CMC : 120/70

Frekuensi Nadi Frekuensi nafas Suhu Pemeriksaan sistemik Kepala Wajah Mata Paru Jantung Abdomen Extremitas

: 104x/menit : 22x/menit : 37,2 0C

: tidak ditemukan kelainan : tidak ditemukan kelainan : Konjungtiva tidak anemis, sklera tidak ikteri : Dalam batas normal : Dalam batas normal : Distensi tidak ditemukan : teraba hangat, refilling kapiler baik

STATUS LOKALIS THT Telinga Pemeriksaan Kelainan Kel. Kongenital Trauma Daun Telinga Radang Kel. Metabolik Tidak ada Tidak ada Tidak ada Tidak ada Dekstra Tidak ada Tidak ada Sinistra Tidak ada Tidak ada

Nyeri tarik Nyeri tekan Cukup lapang (N) Dinding liang telinga Hiperemi Edema Massa Sempit

Tidak ada Tidak ada Cukup lapang Tidak ada Tidak ada Tidak ada Tidak ada

Tidak ada Tidak ada Cukup lapang Tidak ada Tidak ada Tidak ada Tidak ada

Bau Sekret / Serumen Warna Jumlah Jenis Membran Timpani Warna Refleks cahaya Utuh Bulging Retraksi Atrofi Jumlah perforasi Jenis Perforasi Kwadran Pinggir

Bau kolesteatom Coklat kehitaman Sedikit Kering

Bau kolesteatom Coklat kehitman Sedikit Kering

1 total total Tidak rata

1 Total Total Tidak rata

Gambar

Tanda radang Fistel Mastoid Sikatrik Nyeri tekan Nyeri ketok Rinne

Tidak ada Tidak ada Tidak ada Tidak ada Tidak ada Negatif

Tidak ada Tidak ada Tidak ada Tidak ada Tidak ada Negatif

Schwabach Tes Garpu tala Weber 512 Hz Kesimpulan

Memanjang

Memanjang

Lateralisasi ke kanan Tuli campur telinga kiri Tuli konduktif telinga kanan

Audiometri

Tidak dilakukan pemeriksaan

Hidung Pemeriksaan Kelainan Deformitas Kelainan congenital Hidung luar Trauma Radang Dextra Tidak ada Tidak ada Ada Tidak ada Sinistra Tidak ada Tidak ada Ada Tidak ada

Massa

Tidak ada

Tidak ada

Sinus Paranasal Inspeksi Pemeriksaan Nyeri tekan Nyeri ketok Dextra Tidak ada Tidak ada Sinistra Tidak ada Tidak ada

Rinoskopi Anterior Vestibulum Vibrise Radang Kavum nasi Cukup lapang (N) Sempit Lapang Lokasi Sekret Jenis Jumlah Bau Konka inferior Ukuran Warna Permukaan Edema Konka media Ukuran Warna Permukaan Edema Ada Tidak ada Cukup lapang Tidak Ada Tidak Ada Tidak Ada Tidak Ada Tidak Ada Tidak Ada Eutrofi Merah muda Licin Tidak diperiksa Eutrofi Merah muda licin Tidak ada Ada Tidak ada Cukup lapang Tidak Ada Tidak Ada Tidak Ada Tidak Ada Tidak Ada Tidak Ada Eutrofi Merah muda Licin Tidak ada Eutrofi Merah muda Licin Tidak ada

Septum

Cukup lurus/deviasi Permukaan Warna Spina Krista Abses Perforasi

Tidak ada deviasi

Licin Merah muda Tidak ada Tidak ada Tidak ada Tidak ada Tidak ada Tidak ada Tidak ada Tidak ada Tidak ada Tidak ada Tidak ada Tidak ada

Licin Merah muda Tidak ada Tidak ada Tidak ada Tidak ada Tidak ada Tidak ada Tidak ada Tidak ada Tidak ada Tidak ada Tidak ada Tidak ada

Massa

Lokasi Bentuk Ukuran Permukaan Warna Konsistensi Mudah digoyang Pengaruh vasokonstriktor

Rinoskopi Posterior : Sulit Dilakukan Pemeriksaan Kelainan Cukup lapang (N) Koana Sempit Lapang Warna Mukosa Edema Jaringan granulasi Konka superior Ukuran Dekstra Sinistra

Warna Permukaan Edema Adenoid Muara tuba eustachius Ada/tidak Tertutup secret Edema mukosa Lokasi Ukuran Massa Bentuk Permukaan

Ada/tidak Post Nasal Drip Jenis

Orofaring dan Mulut Pemeriksaan Trismus Uvula Edema Bifida Palatum mole Arkus faring Simetris/tidak Warna Edema Bercak/eksudat Dinding Faring Warna Permukaan Tonsil Ukuran Warna Permukaan Muara kripti Tidak ada Tidak ada Simetris Merah muda Tidak ada Tidak ada Merah muda Licin T1 Merah muda Rata Tidak Melebar Kelainan Dekstra Tidak ada Tidak ada Tidak ada Simetris Merah muda Tidak ada Tidak ada Merah muda Licin T1 Merah muda Rata Sinistra

Detritus Eksudat Perlengketan dengan pilar Peritonsil Warna Edema Abses Tumor Lokasi Bentuk Ukuran Permukaan Konsistensi Karies/radiks Gigi Kesan Warna Bentuk Lidah Deviasi Massa Laringoskopi Indirek : Sulit dilakukan Pemeriksaan Kelainan Bentuk Warna Epiglotis Edema Pinggir rata/tidak

Tidak ada Tidak ada Tidak ada

Tidak ada Tidak ada Tidak ada

Merah muda Tidak ada Tidak ada Tidak ada Tidak ada Tidak ada Tidak ada Tidak ada 2 di molar II & III Tidak ada Tidak ada Tidak ada Tidak ada Tidak ada Tidak ada Tidak ada 1 di molar II

Merah muda Normal Tidak ada Tidak ada

Merah muda Normal Tidak ada Tidak ada

Dekstra

Sinistra

Massa Warna Aritenoid Edema Massa Gerakan Warna Ventrikular Band Edema Massa Warna Gerakan Plika Vokalis Pinggir medial Massa Massa Sekret ada/tidak Massa Sekret

Subglotis/trachea

Sinus piriformis

Valekule

Massa Sekret (jenisnya)

Pemeriksaan Kelenjar Getah Bening Leher Pada inspeksi tidak terlihat pembesaran kelenjar getah bening leher. Pada palpasi tidak teraba pembesaran kelenjar getah bening leher.

RESUME Anamnesis : :

- Keluar cairan dari telinga kanan dan di telinga kiri pasien , pasien mengeluh telinga kiri tidak dapat mendengar. Pasien mengeluh pusing berputar Pemeriksaan Fisik -KU : sakit ringan - KS : CMC - TD : 120/70 -Nadi : 104x/menit -Nfs : 22x/menit -T : 37,2 o c Telinga Kanan Telinga Kiri Tes penala : Liang telinga lapang, tidak ada sekret, perforasi MT total : Liang telinga lapang, tidak ada sekret,perforasi MT total : Rhine (-) telinga kiri dan kanan Webber lateralisasi ke kanan Swabach memanjang pada telinga kiri dan kanan Diagnosis Kerja : OMSK AS susp. Tipe bahaya fase tenang susp. Labirinitis + OMSK AD susp.Tipe aman fase tenang Diagnosis Tambahan Diagnosis Banding Pemeriksaan Anjuran Terapi : : : Foto Schuller, CT Scan : antibiotik, dekongestan, obat tetes telinga H2O2 3% :

Terapi anjuran

: Mastoidektomi radikal AD

Prognosis : Quo ad Vitam : dubia at bonam Quo ad Sanam : dubia at malam

Follow Up pasien 10-01-2013 s/ -tidak ada c airan keluar dari kedua telinga -telinga kiri tidak bisa mendengar -nyeri kepala daerah belakang masih terasa -demam (-), sesak nafas (-), batuk (-)

o/ KU sakit ringan Status Lokalis THT : -

Kes cmc

nadi 88x/ mnt

TD 120/70

nafas 20x/mnt

T 36,8oc

Telinga Kanan : Liang telinga lapang, tidak ada sekret Telinga Kiri : Liang telinga lapang, tidak ada sekret

Hidung Ka/Ki : Cavum lapang, tidak ada deviasi, tidak ada sekret Tenggorok: Tonsil T1-T1 tidak hiperemis, karies molar Ka/Ki Lidah tidak kotor tidak hiperemis

D/ OMSK AS susp. Tipe bahaya fase tenang susp. Labirinitis + OMSK AD susp.Tipe aman fase tenang Th/ - Ciprofloxacin 2 x 500mg - Rhinos 2 x 1 - Tanivid otic 2 gtt V ADS

DISKUSI

Telah diperiksa pasien perempuan usia 38 tahun. Pada kasus di atas, diagnosis ditegakkan berdasarkan anamnesis dan pemeriksaan fisik. Dari anamnesis didapatkan telinga kanan berair sejak 2 bulan makin lama makin mengganggu, telinga kiri tidak dapat mendengar. Dari pemeriksaan fisik telinga didapatkan baik membran timpani telinga kiri dan kanan mengalami perforasi. Berdasarkan pemeriksaan diatas ditegakkan diagnosis Otitis Media Supuratif Kronik ADS dengan suspek tipe bahaya fase tenang pada telinga kanan dan suspek tipe aman fase tenang pada telinga kiri. Pada pasien ini kami juga mendiagnosis dengan susp. Labirinitis berdasarkan anam nesis yaitu keluhan pusing berputar dan pasien mengeluh bertambah pusing setelah dilakukan tes fistula. Pengobatan yang diberikan pada pasien ini adalah Ciprofloxacin 2 x 500mg, Rhinos 2 x 1cap, Tanivid otic 2 gtt V ADS serta pada pasien dilakukan pengawasan dan perawatan terhadap kedua telinga pasien.

DAFTAR PUSTAKA 1. Djaafar ZA. Kelainan telinga tengah. Dalam: Soepardi EA, Iskandar N, Ed. Buku ajar ilmu kesehatan telinga hidung tenggorok kepala leher. Edisi kelima. Jakarta: FKUI, 2001. h. 69-72 2. Aboet A. Pidato Pengukuhan Jabatan Guru Besar Tetap : Radang TelingaTengah Menahun. Medan : Universitas Sumatera Utara; 2007 3. Parry D. Chronic suppurative otitis media. Diunduh dari http://emedicine.medscape.com/article/859501 pada tanggal 8 Januari 2013 4. Erasmus T. Chronic suppurative otitis media. Diunduh dari http://www.cmej.org.za/index.php/cmej/article/view/2464/2540 pada tanggal 8 januari 2013 5. Djaafar ZA. Komplikasi otitis media supuratif . Dalam: Soepardi EA, Iskandar N, Ed. Buku ajar ilmu kesehatan telinga hidung tenggorok kepala leher. Edisi kelima. Jakarta: FKUI, 2001. h. 78-85