Anda di halaman 1dari 7

PeeelIue Epdemolog Klek

Blok Blok Blok Blok




MugsIer Mueu[emee RumuhsukI Fakultas Keookteran UGM




PLNLLl1lAN LPlULMl0L00l KLlNlK PLNLLl1lAN LPlULMl0L00l KLlNlK PLNLLl1lAN LPlULMl0L00l KLlNlK PLNLLl1lAN LPlULMl0L00l KLlNlK

1. u1l UlA0N031lK 1. u1l UlA0N031lK 1. u1l UlA0N031lK 1. u1l UlA0N031lK

lwan Uwiprahasto
lakultas Kedokteran universitas 0adjah Mada


PLN0AN1AR PLN0AN1AR PLN0AN1AR PLN0AN1AR

Penegakan diagnosis menjadi bagian terpenting dalam proses terapetik. Agar terapi
yang diberikan tepat, maka diagnosis harus ditetapkan seoara baik dan benar. asil
diagnosis yang baik dan benar adalah yang memiliki akurasi tinggi serta
meminimalkan risiko terjadinya hasil positif palsu (fa|se pos|r|ve) maupun negatif
palsu (fa|se negar|ve). 3ebab kalau tidak, tentu akan sangat merugikan pasien.
3ebagai oontoh adalah ketika seseorang dinyatakan menderita Ca pulmo, sehingga
harus dilakukan kemoterapi. 1ika ternyata dengan pemeriksaan yang lebih seksama
ternyata terbukti tidak ditemukan adanya Ca pulmo, maka pasien tersebut tentu
akan sangat dirugikan, karena di samping efek samping kemoterapi sangat berat
dari segi ekonomi biaya yang dikeluarkan sangat mahal. Belum lagi hal-hal lain
seperti misalnya beban psikologis akibat divonis menderita kanker.

uji diagnostik bertujuan untuk mendapatkan suatu pendekatan diagnostik yang
paling sensititif atau spesifik, dengan nilai duga positif atau negatif yang tinggi
sehingga diperoleh akurasi yang tinggi.

1u1uAN

3etelah menyelesaikan modul ini peserta diharapkan mampu untuk:
1. Memahami manfaat uji diagnostik
2. Menginterpretasikan hasil suatu uji diagnostik
3. Menggunakan hasil uji diagnostik sebagai salah satu pendekatan medik untuk
meningkatkan mutu terapi

PeeelIue Epdemolog Klek

Blok Blok Blok Blok


MugsIer Mueu[emee RumuhsukI Fakultas Keookteran UGM


PLNUAuLuAN PLNUAuLuAN PLNUAuLuAN PLNUAuLuAN

Ualam praktek sehari-hari para klinisi aoap kali dihadapkan pada keadaan-keadaan yang
mengharuskan untuk tetap memutuskan suatu tindakan meskipun penegakan diagnosis
seoara definitif belum bisa dilakukan karena terbatasnya sarana atau fasilitas penunjang
yang ada. Beberapa alasan untuk melakukan tindakan segera antara lain adalah (1) sifat
kasus yang ||ve rhrearen|ng, atau membahayakan jiwa pasien jika tidak dilakukan tindakan
segera, (2) seoara empirio diyakini bahwa gambaran kasus yang dihadapi umumnya
memerlukan tindakan medik segera, meskipun diagnosis definitif belum ditegakkan, (3)
gejala-gejala dan tanda-tanda klinik yang ditemukan selama pemeriksaan telah oukup
mendukung untuk ditegakkannya diagnosis dan tindakan terapi segera.

Perkembangan teknologi yang demikian pesat memang tidak selalu dapat segera diadopsi
oleh semua unit pelayanan kesehatan. 3ebagai oontoh adalah trauma kepala dalam bentuk
subdural hematom. Pada fase awal, gambaran subdural hematom tidak mudah dideteksi
dengan hanya menggunakan foto rontgen kepala. 3ebaliknya, pemeriksaan C1-soan atau
MRl akan segera dapat menunjukkan adanya subdural hematom ini. 3ayangnya tidak semua
unit pelayanan kesehatan memiliki C1 soan apalagi MRl (magner|o resonanoe |mag|ng),
karena di samping biaya investasinya sangat besar, biaya operasional dan perawatannyapun
sangat mahal. Namun demikian ada suatu perangkat metodologi yang disebut dengan uji
diagnostik, yang dapat digunakan untuk mengetahui keakuratan suatu penegakan diagnosis
dengan oara sederhana dibandingkan dengan gold standard, seperti misalnya C1 soan dan
MRl tersebut di atas.

1. 1. 1. 1. MANlAA1 UAN Rl3lK0 3uA1u u1l UlA0N031lK MANlAA1 UAN Rl3lK0 3uA1u u1l UlA0N031lK MANlAA1 UAN Rl3lK0 3uA1u u1l UlA0N031lK MANlAA1 UAN Rl3lK0 3uA1u u1l UlA0N031lK

1ika digunakan seoara tepat, uji diagnostik akan sangat membantu klinisi untuk
menegakkan diagnosis dalam situasi keterbatasan fasilitas dan informasi. uji diagnostik
antara lain bermanfaat untuk soreening soreening soreening soreening, misalnya mengidentifikasi faktor risiko suatu
penyakit dan mendeteksi adanya suatu penyakit yang sifatnya asimptomatik pada seorang
pasien. Contoh untuk ini adalah pemeriksaan pap smear pada wanita menikah dengan usia
di atas 40 tahun. 1ujuannya adalah untuk menjaring seawal mungkin jika ditemukan tanda-
tanda awal suatu tumor ataupun keganasan.

uji diagnostik juga bermanfaat untuk menegakkan diagnosis menegakkan diagnosis menegakkan diagnosis menegakkan diagnosis pada diri seseorang atau justru
sebaliknya menyimpulkan bahwa seseorang tidak menderita suatu penyakit sama sekali.
Beberapa uji diagnostik dapat membantu menegakkan diagnosis awal suatu penyakit
setelah munoulnya gejala dan tanda-tanda klinis, sedangkan beberapa yang lain dapat
digunakan untuk menentukan derajat atau progresifitas suatu penyakit. uji diagnostik juga
membantu dalam manajemen pasien manajemen pasien manajemen pasien manajemen pasien, yaitu untuk: (1) menilai keparahan suatu penyakit, (2)
memperkirakan prognosis, (3) memantau perjalanan penyakit ( progresifitas, stabil atau
mengalami resolusi), (4) mendeteksi kekambuhan suatu penyakit, (5) menetapkan jenis
terapi dan dosis yang paling tepat.

Ualam kenyataannya, uji diagnostik juga tidak selalu menguntungkan. uji diagnostik bisa
saja sangat mahal, sebagai oontoh adalah penggunaan MRl atau PCR (polimerized ohain
reaotion) yang biayanya tentu sangat mahal. Ui Amerika 3erikat misalnya, uji diagnostik
menghabiskan sekitar seperlima dari keseluruhan pembelanjaan untuk sektor kesehatan.
Kedua, beberapa uji diagnostik juga mengandung risiko morbiditas dan mortalitas. 3ebagai
oontoh adalah pemeriksaan C1 soan menggunakan bahan kontras yang disuntikkan
PeeelIue Epdemolog Klek

Blok Blok Blok Blok


MugsIer Mueu[emee RumuhsukI Fakultas Keookteran UGM

intravenosa, bisa saja mengakibatkan syok anafilaksis hingga kematian. 3atu di antara
30.000 pemeriksaan dengan kontras berakhir dengan kematian. Ketiga, beberapa uji
diagnostik juga menimbulkan rasa tidak nyaman bagi pasien. Pemeriksaan melalui
oolonosoopy atau pemberian barium enema untuk tujuan yang sama akan sangat tidak
nyaman bagi pasien. Keempat, hasil suatu uji diagnostik seringkali tidak memberikan
jawaban seperti yang diharapkan, karena masih diperlukan pemeriksaan diagnostik lain,
atau memerlukan follow up, yang di samping oukup panjang, juga sering membuat pasien
frustasi untuk melanjutkan ke uji diagnostik yang berikutnya.

0leh sebab itu setiap klinisi harus benar-benar mempertimbangkan manfaat-risiko dari
suatu uji diagnostik sebelum diputuskan untuk dilakukan pada pasien.

2. 2. 2. 2. ClRl ClRl ClRl ClRl- -- -ClRl u1l UlA0N031lK ClRl u1l UlA0N031lK ClRl u1l UlA0N031lK ClRl u1l UlA0N031lK

Ciri-oiri suatu uji diagnostik yang bermanfaat bagi klinisi antara lain adalah.
1. Metodologi dari uji diagnostik telah dijelaskan seoara rinoi sehingga dapat dikatakan
akurat dan dapat direplikasi.
2. Akurasi dan presisi uji diagnostik telah diketahui.
3. Rentang nilai telah disebutkan seoara tepat.
4. 3ensitivitas dan spesifisitas ditetapkan setelah membandingkannya dengan
pemeriksaan yang 0old standard. Ualam uji diagnostik digunakan sekelompok
pasien yang tidak saja dengan tanda-tanda spesifik yang jelas, tetapi juga yang
memiliki tanda dan gejala yang meragukan, dengan derajat penyakit mulai dari
ringan, sedang hingga berat. 3eleksi pasien dilakukan seoara benar sehingga tidak
meragukan untuk membuat jeneralisasi.
5. Peran masing-masing uji diganostik telah dikonfirmasikan seoara benar, khususnya
untuk uji diagnostik yang melibatkan beberapa uji.


Aoouraoy (akurasi) Aoouraoy (akurasi) Aoouraoy (akurasi) Aoouraoy (akurasi)
3uatu uji diagnostik dikatakan akurat apabila memberikan hasil yang merupakan nilai
sebenarnya (rrue value). 3uatu uji diagnostik dikatakan tidak akurat apabila hasilnya
berbeda seoara signifikan dengan nilai sebenarnya (rrue value), meskipun uji diagnostiknya
sendiri dapat dilakukan berulang-ulang (reproouo|b|e).

Preoision (presisi) Preoision (presisi) Preoision (presisi) Preoision (presisi)
3uatu uji dikatakan tinggi presisinya apabila ketika diulang beberapa kali pada subyek yang
sama akan memberikan hasil yang sama. 3edangkan suatu uji dikatakan tidak presisi jika
uji berulang pada satu sampel memberikan hasil yang berbeda-beda. untuk
menggambarkan akurasi dan presisi suatu uji diagnostik dapat dilihat pada diagram di
bawah ini.
PeeelIue Epdemolog Klek

Blok Blok Blok Blok


MugsIer Mueu[emee RumuhsukI Fakultas Keookteran UGM












0ambar 1. ubungan antara akurasi dan presisi dalam uji diagnostik 0ambar 1. ubungan antara akurasi dan presisi dalam uji diagnostik 0ambar 1. ubungan antara akurasi dan presisi dalam uji diagnostik 0ambar 1. ubungan antara akurasi dan presisi dalam uji diagnostik

0ambar (A AA A) mewakili suatu uji diagnostik dengan presisi tinggai tetapi tidak akurat.
Pemeriksaan berulang memberikan hasil yang (hampir) sama, tetapi semua hasil
jauh dari true value.
0ambar (B BB B) mewakili suatu uji diagnostik yang selain presisinya rendah juga tidak
akurat. Ualam hal ini pemeriksaan berulang memberikan hasil yang berbeda-beda
dan jauh dari true value.
0ambar (C CC C) menunjukkan suatu uji diagnostik yang ideal, karena selain presisinya
tinggi, juga akurat.


3. 3. 3. 3. 3LN3l1lvl1A3, 3PL3lll3l1A3, PRLUlC1lvL vALuL, UAN LlKLLl00U RA1l0 3LN3l1lvl1A3, 3PL3lll3l1A3, PRLUlC1lvL vALuL, UAN LlKLLl00U RA1l0 3LN3l1lvl1A3, 3PL3lll3l1A3, PRLUlC1lvL vALuL, UAN LlKLLl00U RA1l0 3LN3l1lvl1A3, 3PL3lll3l1A3, PRLUlC1lvL vALuL, UAN LlKLLl00U RA1l0

1abel 1. uji diagnos 1abel 1. uji diagnos 1abel 1. uji diagnos 1abel 1. uji diagnostik dalam tabel 2 x 2 tik dalam tabel 2 x 2 tik dalam tabel 2 x 2 tik dalam tabel 2 x 2

Uisease Uisease Uisease Uisease
present present present present absent absent absent absent
positive positive positive positive
1rue
positives
lalse
positives
1est 1est 1est 1est
negative negative negative negative
lalse
negative
1rue
negatives

3ensitivitas dan 3pesifisitas 3ensitivitas dan 3pesifisitas 3ensitivitas dan 3pesifisitas 3ensitivitas dan 3pesifisitas

3uatu uji dikatakan sensitif sensitif sensitif sensitif apabila memberikan hasil positif pada sebagian besar orang
yang sakit. 1ika pada saat dilakukan uji diagnostik semua penderita yang sakit memberikan
hasil positif (tidak satupun pasien yang sakit yang hasil ujinya negatif), maka uji tersebut
dikatakan memiliki sensitivitas 100.

3uatu uji dikatakan sangat sp sangat sp sangat sp sangat spesifik esifik esifik esifik (h|gh|, speo|f|o) apabila pemeriksaan pada orang yang
tidak sakit memberikan hasil negatif. 1ika semua orang yang sehat memberikan hasil test
negatif (tidak satupun yang memberikan hasil positif) maka uji tersebut dikatakan memiliki
spesifisitas 100.

untuk memahami lebih jauh mengenai oara menghitung sensitivitas, spesifisitas, pos|r|ve
dan negar|ve preo|or|ve va|ue serta ||ke||hooo rar|o positif dan negatif.

PeeelIue Epdemolog Klek

Blok Blok Blok Blok


MugsIer Mueu[emee RumuhsukI Fakultas Keookteran UGM


Uisease Uisease Uisease Uisease
present present present present absent absent absent absent
positive positive positive positive a b
1est 1est 1est 1est
negative negative negative negative o d



3ensitivitas merupakan proporsi pasien yang sakit yang memberi hasil uji positif.




3pesifisitas 3pesifisitas 3pesifisitas 3pesifisitas merupakan proporsi pasien tanpa penyakit (sehat) yang memberikan
hasil uji negatif.




Positive Prediotive value (PPv) atau nilai duga positif Positive Prediotive value (PPv) atau nilai duga positif Positive Prediotive value (PPv) atau nilai duga positif Positive Prediotive value (PPv) atau nilai duga positif merupakan proporsi pasien
dengan hasil uji positif dan benar-benar sakit.



Negative Prediotive value (NPv) atau nilai duga negatif Negative Prediotive value (NPv) atau nilai duga negatif Negative Prediotive value (NPv) atau nilai duga negatif Negative Prediotive value (NPv) atau nilai duga negatif merupakan proporsi pasien
dengan hasil uji negatif dan benar-benar tidak sakit.


Likelihood Ratio positive (LR+) Likelihood Ratio positive (LR+) Likelihood Ratio positive (LR+) Likelihood Ratio positive (LR+) merupakan probabilitas suatu hasil test positif pada
orang yang sakit









Likelihood Ratio negative (LR Likelihood Ratio negative (LR Likelihood Ratio negative (LR Likelihood Ratio negative (LR- -- -) )) ) merupakan probabilitas suatu hasil test negatif pada
orang yang tidak sakit
Sensitivitas = a/(a+c)

Sensitivitas = d/(b+d)
PPV = a/(a+b)

NPV = d/(c+d)

a/(a+c)
LR (+) = ----------
b/(b+d)
LR (+) = Sensitivity / (1 - Specificity)
PeeelIue Epdemolog Klek

Blok Blok Blok Blok


MugsIer Mueu[emee RumuhsukI Fakultas Keookteran UGM










4. 4. 4. 4. PLMANlAA1AN A3lL u1l UlA0N031lK PLMANlAA1AN A3lL u1l UlA0N031lK PLMANlAA1AN A3lL u1l UlA0N031lK PLMANlAA1AN A3lL u1l UlA0N031lK

asil suatu uji diagnostik dikatakan bermanfaat apabila memenuhi beberapa persyaratan
berikut.

asil uji diagnostik yang sensitif asil uji diagnostik yang sensitif asil uji diagnostik yang sensitif asil uji diagnostik yang sensitif
a. umumnya diperlukan untuk mendeteksi penyakit yang berbahaya tetapi masih dapat
diobati. 3ebagai oontoh adalah tuberkulosis dan limfona non hodgkin
b. sangat membantu pada fase awal diagnosis
o. bermanfaat untuk menjaring penyakit yang asimptomatik

asil uji diagnostik yang spesifik asil uji diagnostik yang spesifik asil uji diagnostik yang spesifik asil uji diagnostik yang spesifik
a. umumnya diperlukan untuk konfirmasi suatu diagnosis
b. sangat bermanfaat terutama jika hasil false positif akan membahayakan pasien.
Contoh, pada penderita yang diduga menderita keganasan, jika hasil uji
diagnostiknya positif palsu akan sangat merugikan dan bahkan membahayakan
pasien, karena pemberian kemoterapi dan radiasi akan memberikan risiko yang
sangat besar untuk terjadinya efek samping medik maupun sosial.

Prediotive value (nilai ramal atau nilai duga) (1abel 1) Prediotive value (nilai ramal atau nilai duga) (1abel 1) Prediotive value (nilai ramal atau nilai duga) (1abel 1) Prediotive value (nilai ramal atau nilai duga) (1abel 1)
a. Probabilitas ada/tidaknya penyakit berdasarkan hasil test
b. Uisebut: posterior/post-test probability
o. Uitentukan oleh sensitivitas, spesifisitas, dan prevalensi (prior/pretest probability)
d. 3emakin meningkat prevalensi, positive prediotive value juga meningkat

1abel 2. Prediotive value fosfatase asam prostat untuk Ca prostat 1abel 2. Prediotive value fosfatase asam prostat untuk Ca prostat 1abel 2. Prediotive value fosfatase asam prostat untuk Ca prostat 1abel 2. Prediotive value fosfatase asam prostat untuk Ca prostat

3etting Prevalensi
(kasus/100.000)
PPv
()
Populasi 35 0,4
Pria, > 75 tahun 500 5,6
Keourigaan klinis adanya nodul prostat 50.000 93

LR (-) = (1 - Sensitivity) / (Specificity)
c/(a+c)
LR (+) = ----------
d/(b+d)
PeeelIue Epdemolog Klek

Blok Blok Blok Blok


MugsIer Mueu[emee RumuhsukI Fakultas Keookteran UGM




Uaftar pustaka Uaftar pustaka Uaftar pustaka Uaftar pustaka


Anonymous. Assessing the aoouraoy of diagnostio tests (Lditorial) (1998). 3tatistioal Methods
in Medioal Researoh, 7: 323

Lijmer 10, Mol Bw, eisterkamp 3, Bonsel 01, Prins M, van der Meulen 1, (1999) Lmpirioal
evidenoe of design-related bias in studies of diagnostio tests. 14M4, 282:1061-6

Niooll U and Uetmer wM, (2001) Basio Prinoiples of Uiagnostio 1est use and lnterpretation.
1ohn willey and 3on, Philadelphia

Reid ML, Laohs M3, leinstein AR. (1995) use of methodologioal standards in diagnostio
researoh. 0etting better but still not good. 14M4,274:645-51.

3toffers L1, Kester AUM, Kaiser v, Rinkens PLLM, Knottnerus 1A. (1997) Uiagnostio value
of signs and symptoms assooiated with peripheral arterial obstruotive disease seen in
general praotioe: a multivariable approaoh. Meo leo|s Mak|ng,17:61-70.

1aner 1 and Anthony 1 (2000) 1he assessment of quality in medioal diagnostio tests: a
oomparison of R0C/ouden and 1aguohi methods. lnt 1 of ealth Care uality Assuranoe
13/7, 300-307