Anda di halaman 1dari 9

Evdeece-Bused Medcee (EBM]

Purudgmu buru peedekuIue medk berbuss bukI


Blok Blok Blok Blok
1

MugsIer Mueu[emee RumuhsukI Fakultas Keookteran UGM




FvllFN0F FvllFN0F FvllFN0F FvllFN0F- -- -B4SFl MFll0lNF B4SFl MFll0lNF B4SFl MFll0lNF B4SFl MFll0lNF (FBM) (FBM) (FBM) (FBM)
Paradigma baru pendekatan medik berbasis bukti Paradigma baru pendekatan medik berbasis bukti Paradigma baru pendekatan medik berbasis bukti Paradigma baru pendekatan medik berbasis bukti

lwan Uwiprahasto lwan Uwiprahasto lwan Uwiprahasto lwan Uwiprahasto
Clinioal Lpidemiology & Biostatistios unit Clinioal Lpidemiology & Biostatistios unit Clinioal Lpidemiology & Biostatistios unit Clinioal Lpidemiology & Biostatistios unit(CL&Bu)/MMR (CL&Bu)/MMR (CL&Bu)/MMR (CL&Bu)/MMR
lakultas Kedokteran u0M ogyakarta lakultas Kedokteran u0M ogyakarta lakultas Kedokteran u0M ogyakarta lakultas Kedokteran u0M ogyakarta


1. 1. 1. 1. PLNUAuLuAN PLNUAuLuAN PLNUAuLuAN PLNUAuLuAN

Ualam dua dekade terakhir telah terjadi perkembangan yang oukup dramatik dalam
bidang kedokteran. 1eknologi medik yang ditahun 1950 an lebih banyak
menggunakan pendekatan manual mulai tergeser dengan penggunaan teknologi
oanggih. Penegakan diagnosis yang semula lebih banyak melalui pendekatan klinik
telah beralih ke alat-alat diagnosis yang lebih akurat, praktis, dan dapat diandalkan.
Uemikian pula halnya dengan teknologi terapetik yang telah sedemikian majunya
sehingga berbagai jenis penyakit yang semula tidak dapat disembuhkan atau
menimbulkan keoaoatan dapat teratasi dengan temuan-temuan terapi baru yang
lebih menjanjikan seoara medik dan ilmiah.

Ualam perkembangannya, pendekatan medik yang berbasis empirisme mulai
dipertanyakan oleh karena prasat-prasat baru yang lebih eff|oao|ous dan dengan
risiko yang lebih minimal telah ditemukan dan senantiasa diperbaharui dari waktu ke
waktu. Magner|o resonanoe |mag|ng (MRl) dan whole body C1-soan merupakan
sedikit oontoh dari teknologi diagnostik modern yang memiliki akurasi tinggi. Ui
bidang bedah, teknologi m|n|ma||, aooess (|nvas|ve) surger, telah seoara bertahap
menggantikan teknologi laparotomi yang risikonya jauh lebih besar dan masih
dilakukan di banyak negara. Perkembangan obat baru jauh lebih pesat, khususnya
untuk terapi keganasan, penyakit-penyakit kardiovaskuler dan penyakit degenaratif.

1ika disimak lebih jauh maka terlihat bahwa berbagai temuan dan hipotesis yang
pada masa lampau diterima kebenarannya, seoara oepat digantikan dengan
hipotesis-hipotesis baru yang lebih sempurna. 3ebagai oontoh adalah episiotomi
yang selama ini dilakukan sebagai salah satu prosedur rutin persalinan khususnya
pada primigravida. Melalui studi meta analisis dan berbagai telaah sistematik,
ternyata terbukti bahwa episiotomi seoara rutin justru lebih merugikan bagi pasien
1 11 1
.
Uemikian pula halnya dengan temuan obat baru yang dapat saja segera ditarik dari
perederan hanya dalam waktu beberapa bulan setelah obat tersebut dipasarkan,
karena di populasi terbukti memberikan efek samping yang berat pada sebagian
penggunanya.


Evdeece-Bused Medcee (EBM]
Purudgmu buru peedekuIue medk berbuss bukI
Blok Blok Blok Blok
2

MugsIer Mueu[emee RumuhsukI Fakultas Keookteran UGM


Ui awal 1990an diperkenalkanlah suatu paradigma baru kedokteran yang disebut
sebagai ev|oenoe baseo meo|o|ne (LBM) atau kedokteran berbasis bukti
2 22 2
. Melalui
paradigma baru ini maka setiap pendekatan medik barulah dianggap aooounrab|e
apabila didasarkan pada temuan-temuan terkini yang seoara medik, ilmiah, dan
metodologi dapat diterima. Perlahan tapi pasti, LBM telah menjadi jiwa dari ilmu
kedokteran dan para klinisi maupun praktisi medik di seluruh dunia segera
mengadopsi LBM sebagai bagian dari implementasi pelayanan medik yang berbasis
bukti.

Ualam tulisan ini akan dibahas konsep-konsep dasar penggunaan ev|oenoe baseo
meo|o|ne dalam pengambilan keputusan klinik.

2. 2. 2. 2. APA AN0 UlMAK3uU ULN0AN LvlULNCL BA3LU MLUlClNL ? APA AN0 UlMAK3uU ULN0AN LvlULNCL BA3LU MLUlClNL ? APA AN0 UlMAK3uU ULN0AN LvlULNCL BA3LU MLUlClNL ? APA AN0 UlMAK3uU ULN0AN LvlULNCL BA3LU MLUlClNL ?

Menurut 3aokett er a|. (1996) Fv|oenoe-baseo meo|o|ne (LBM) adalah suatu
pendekatan medik yang didasarkan pada bukti-bukti ilmiah terkini untuk
kepentingan pelayanan kesehatan penderita. Uengan demikian, dalam praktek, LBM
memadukan antara kemampuan dan pengalaman klinik dengan bukti-bukti ilmiah
terkini yang paling dapat diperoaya.

Fv|oenoe baseo meo|o|ne (LBM) adalah proses yang digunakan seoara sistematik
untuk menemukan, menelaah/me-rev|ew, dan memanfaatkan hasil-hasil studi
sebagai dasar dari pengambilan keputusan klinik.

3eoara lebih rinoi LBM merupakan keterpaduan antara (1) bukti-bukti ilmiah yang
berasal dari studi yang terperoaya (besr researoh ev|oenoe), dengan (2) keahlian
klinis (o||n|oa| experr|se) dan (3) nilai-nilai yang ada pada masyarakat (par|enr
va|ues).

(1) Besr researoh ev|oenoe Besr researoh ev|oenoe Besr researoh ev|oenoe Besr researoh ev|oenoe. Ui sini mengandung arti bahwa bukti-bukti ilmiah
tersebut harus berasal dari studi-studi yang dilakukan dengan metodologi yang
sangat terperoaya (khususnya ranoom|zeo oonrro||eo rr|a|), yang dilakukan seoara
benar. 3tudi yang dimaksud juga harus menggunakan variabel-variabel penelitian
yang dapat diukur dan dinilai seoara obyektif (misalnya tekanan darah, kadar b,
dan kadar kolesterol), di samping memanfaatkan metode-metode pengukuran yang
dapat menghindari risiko 'b|as' dari penulis atau peneliti.

(2) 0|| 0|| 0|| 0||n|oa| experr|se n|oa| experr|se n|oa| experr|se n|oa| experr|se. untuk menjabarkan LBM diperlukan suatu kemampuan klinik
(o||n|oa| sk|||s) yang memadai. Ui sini termasuk kemampuan untuk seoara oepat
mengidentifikasi kondisi pasien dan memperkirakan diagnosis seoara oepat dan
tepat, termasuk mengidentifikasi faktor-faktor risiko yang menyertai serta
memperkirakan kemungkinan manfaat dan risiko (r|sk ano benef|r) dari bentuk
intervensi yang akan diberikan. Kemampuan klinik ini hendaknya juga disertai
dengan pengenalan seoara baik terhadap nilai-nilai yang dianut oleh pasien serta
harapan-harapan yang tersirat dari pasien.


Evdeece-Bused Medcee (EBM]
Purudgmu buru peedekuIue medk berbuss bukI
Blok Blok Blok Blok
3

MugsIer Mueu[emee RumuhsukI Fakultas Keookteran UGM

(3) lar|enr va|ues lar|enr va|ues lar|enr va|ues lar|enr va|ues. 3etiap pasien, dari manapun berasal, dari suku atau agama
apapun tentu mem-punyai nilai-nilai yang unik tentang status kesehatan dan
penyakitnya. Pasien juga tentu mempunyai harapan-harapan atas upaya
penanganan dan pengobatan yang diterimanya. al ini harus dipahami benar oleh
seorang klinisi atau praktisi medik, agar setiap upaya pelayanan kesehatan yang
dilakukan selain dapat diterima dan didasarkan pada bukti-bukti ilmiah juga
mempertimbangkan nilai-nilai subyektif yang dimilik oleh pasien.

Mengingat bahwa LBM merupakan suatu oara pendekatan ilmiah yang digunakan
untuk pengambilan keputusan terapi, maka dasar-dasar ilmiah dari suatu penelitian
juga perlu diuji kebenarannya untuk mendapatkan hasil penelitian yang selain up-
date, juga dapat digunakan sebagai dasar untuk pengambilan keputusan.

3. 3. 3. 3. MLN0APA ARu3 LvlULNCL BA3LU? MLN0APA ARu3 LvlULNCL BA3LU? MLN0APA ARu3 LvlULNCL BA3LU? MLN0APA ARu3 LvlULNCL BA3LU?

llmu Kedokteran berkembang sangat pesat. 1emuan dan hipotesis yang diajukan
pada waktu yang lalu seoara oepat digantikan dengan temuan baru yang segera
menggugurkan teori yang ada sebelumnya. 3ementara hipotesis yang diujikan
sebelumnya bisa saja segera ditinggalkan karena munoul pengujian-pengujian
hipotesis baru yang lebih sempurna. 3ebagai oontoh, jika sebelumnya diyakini bahwa
episiotomi merupakan salah satu prosedur rutin persalinan khususnya pada
primigravida, saat ini keyakinan itu digugurkan oleh temuan yang menunjukkan
bahwa episiotomi seoara rutin justru sering menimbulkan berbagai permasalahan
yang kadang justru lebih merugikan bagi qua||r, of ||fe pasien. Uemikian pula halnya
dengan temuan obat baru yang dapat saja segera ditarik dari perederan hanya
dalam waktu beberapa bulan setelah obat tersebut dipasarkan, karena di populasi
terbukti memberikan efek samping yang berat pada sebagian penggunanya.

Pada waktu yang lampau dalam menetapkan jenis intervensi pengobatan, seorang
dokter umumnya menggunakan pendekatan abdikasi abdikasi abdikasi abdikasi (didasarkan pada rekomendasi
yang diberikan oleh klinisi senior, supervisor, konsulen maupun dokter ahli) atau
induksi induksi induksi induksi (didasarkan pada pengalaman diri sendiri). Kedua pendekatan tersebut saat
ini (paling tidak, dalam 10 tahun terakhir) telah ditinggalkan dan digantikan dengan
pendekatan LBM, yaitu didasarkan pada bukti-bukti ilmiah yang ditemukan melalui
studi-studi yang terperoaya, valid, dan reliable.

Lfek dan khasiat obat yang ditawarkan oleh industri farmasi melalui duta-duta
farmasinya (oera||er) umumnya unba|anoeo dan oenderung m|s|eao|ng atau dilebih-
lebihkan dan lebih berpihak pada kepentingan komersial. Penggunaan informasi
seperti ini juga termasuk dalam pendekatan abdikasi, yang jika diterima begitu saja
akan sangat berisiko dalam proses terapi.

3eoara ringkas, ada beberapa alasan utama mengapa LBM diperlukan,
1. Bahwa informasi up-oare mengenai diagnosis, prognosis, terapi dan penoegahan
sangat dibutuhkan dalam praktek sehari-hari. 3ebagai oontoh, teknologi diagnostik
dan terapetik selalu disempurnakan dari waktu ke waktu.

Evdeece-Bused Medcee (EBM]
Purudgmu buru peedekuIue medk berbuss bukI
Blok Blok Blok Blok
4

MugsIer Mueu[emee RumuhsukI Fakultas Keookteran UGM

2. Bahwa informasi-informasi tradisional (misalnya yang terdapat dalam rexr-book)
tentang hal-hal di atas sudah sangat tidak adekuat pada saat ini, beberapa justru
sering keliru dan menyesatkan (misalnya informasi dari pabrik obat yang
disampaikan oleh duta-duta farmasi/oera||er), tidak efektif (misalnya oonr|nu|ng
meo|oa| eouoar|on yang bersifat didaktik), atau bisa saja terlalu banyak sehingga
justru sering membingungkan (misalnya journal-journal biomedik/ kedokteran yang
saat ini berjumlah lebih dari 25.000 jenis).
3. Uengan bertambahnya pengalaman klinik seseorang maka
kemampuan/ketrampilan untuk mendiagnosis dan menetapkan bentuk terapi
(o||n|oa| juogemenr) juga meningkat. Namun pada saat yang bersamaan,
kemampuan ilmiah (akibat terbatasnya informasi yang dapat diakses) serta kinerja
klinik (akibat hanya mengandalkan pengalaman, yang sering tidak dapat
dipertanggungjawabkan seoara ilmiah) menurun seoara signifikan.
4. Uengan meningkatnya jumlah pasien, waktu yang diperlukan untuk pelayanan
semakin banyak. Akibatnya, waktu yang dimanfaatkan untuk meng-up oare ilmu
(misalnya membaoa journal-journal kedokteran) sangatlah kurang.

4. 4. 4. 4. APA 1u1uAN LvlULNCL APA 1u1uAN LvlULNCL APA 1u1uAN LvlULNCL APA 1u1uAN LvlULNCL- -- -BA3LU MLUlClNL? BA3LU MLUlClNL? BA3LU MLUlClNL? BA3LU MLUlClNL?

1ujuan utama dari LBM adalah membantu proses pengambilan keputusan klinik,
baik untuk kepentingan penoegahan, diagnosis, terapetik, maupun rehabilitatif yang
didasarkan pada bukti-bukti ilmiah terkini yang terperoaya dan dapat
dipertanggungjawabkan.

Uengan demikian maka salah satu syarat utama untuk memfasilitasi pengambilan
keputusan klinik yang evidenoe-based, adalah dengan menyediakan bukti-bukti
ilmiah yang relevan dengan masalah klinik yang dihadapi serta diutamakan yang
berupa hasil meta-analisis, review sistematik, dan ranoom|seo oonrrro||eo rr|a|
(l01).

5. 5. 5. 5. LlMA LAN0KA LvlULNCL BA3LU MLUlClNL (LBM) LlMA LAN0KA LvlULNCL BA3LU MLUlClNL (LBM) LlMA LAN0KA LvlULNCL BA3LU MLUlClNL (LBM) LlMA LAN0KA LvlULNCL BA3LU MLUlClNL (LBM)

Lvidenoe based medioine dapat dipraktekkan pada berbagai situasi, khususnya jika
timbul keraguan dalam hal diagnosis, terapi, dan penatalaksanaan pasien. Adapun
langkah-langkah dalam LBM adalah sbb:
1. Memformulasikan pertanyaan ilmiah yang berkaitan dengan masalah penyakit
yang diderita oleh pasien
2. Penelusuran informasi ilmiah (ev|oenoe ev|oenoe ev|oenoe ev|oenoe) yang berkaitan dengan masalah yang
dihadapi
3. Penelaahan terhadap bukti-bukti ilmiah yang ada
4. Menerapkan hasil penelaahan bukti-bukti ilmiah ke dalam praktek pengambilan
keputusan
5. Melakukan evaluasi terhadap efikasi dan efektivitas intervensi



Evdeece-Bused Medcee (EBM]
Purudgmu buru peedekuIue medk berbuss bukI
Blok Blok Blok Blok
5

MugsIer Mueu[emee RumuhsukI Fakultas Keookteran UGM




Langkah l: Langkah l: Langkah l: Langkah l: Memformulasikan pertanyaan ilmiah Memformulasikan pertanyaan ilmiah Memformulasikan pertanyaan ilmiah Memformulasikan pertanyaan ilmiah

3etiap saat seorang dokter menghadapi pasien tentu akan munoul pertanyaan-
pertanyaan ilmiah yang menyangkut beberapa hal seperti diagnosis penyakit, jenis
terapi yang paling tepat, faktor-faktor risiko, prognosis hingga upaya apa yang dapat
dilakukan untuk mengatasi masalah yang dijumpai pada pasien.

Ualam situasi tersebut diperlukan kemampuan untuk mensintesis dan menelaah
beberapa permasalahan yang ada. 3ebagai oontoh, dalam s ss skenario 1 kenario 1 kenario 1 kenario 1 disajikan
suatu kasus dan bentuk kajiannya.

Pertanyaan-pertanyaan yang mengawali LBM selain dapat berkaitan dengan
diagnosis, prognosis, terapi, dapat juga berkaitan dengan risiko efek iatrogenik,
qua||r, of oare, hingga ke ekonomi kesehatan (hea|rh eoonom|os). ldealnya setiap
issue yang munoul hendaknya bersifat spesifik, berkaitan dengan kondisi pasien
saat masuk, bentuk intervensi terapi yang mungkin dan ouroome klinik yang dapat
diharapkan.

1enis 1enis 1enis 1enis- -- -jenis pertanyaan klinik jenis pertanyaan klinik jenis pertanyaan klinik jenis pertanyaan klinik

3eoara umum terdapat 2 jenis pertanyaan klinik yang biasanya diajukan oleh
seorang praktisi medik atau klinisi pada saat menghadapi pasien. Pertama, yang
disebut dengan 'baokgrouno quesr|on' merupakan pertanyaan-pertanyaan umum
yang berkaitan dengan penyakit. Contoh: (1) Apa yang menyebabkan terjadinya
pneumonia, (2) Bakteri apa saja yang dapat menyebabkan terjadinya oommun|r,
aoqu|reo pneumon|aCAP (pneumonia yang didapat dari komunitas).

Kedua, 'foregrouno quesr|on' merupakan pertanyaan-pertanyaan spesifik yang
berkaitan dengan upaya penatalaksanaan. Contoh: (1) Pada seorang penderita
hipertensi yang memiliki riwayat asma dan mendapat terapi propranolol, seberapa
besar kemungkinan risiko terjadinya serangan asma?, (2) Berapa besar penurunan
risiko terjadinya penyakit jantung koroner pada penderita yang diberikan profilaksi
aspirin 125 mg/hari.

Langkah ll: Langkah ll: Langkah ll: Langkah ll: Penelusuran informasi limiah untuk menoari ' Penelusuran informasi limiah untuk menoari ' Penelusuran informasi limiah untuk menoari ' Penelusuran informasi limiah untuk menoari 'ev|oenoe ev|oenoe ev|oenoe ev|oenoe' '' '

3etelah formulasi permasalahan disusun, langkah selanjutnya adalah menoari dan
menooba menemukan bukti-bukti ilmiah yang dapat menjawab pertanyaan-pertanyaan
tersebut. untuk ini diperlukan kemampuan penelusuran informasi ilmiah (searoh|ng
sk|||) serta kemudahan akses ke sumber-sumber informasi. Penelusuran kepustakaan
dapat dilakukan seoara manual di perpustakaan-perpustakaan fakultas Kedokteran
atau rumahsakit-rumahsakit pendidikan dengan menoari judul-judul artikel yang
berkaitan dengan permasalahan yang ada dalam journal-journal.

Pada saat ini terdapat lebih dari 25.000 journal biomedik di seluruh dunia yang dapat
di-akses seoara manual melalui bentuk reprint. Uengan berkembangnya teknologi
Evdeece-Bused Medcee (EBM]
Purudgmu buru peedekuIue medk berbuss bukI
Blok Blok Blok Blok
6

MugsIer Mueu[emee RumuhsukI Fakultas Keookteran UGM

informasi, maka penelusuran kepustakaan dapat dilakukan melalui internet dari
perpustakaan, kantor-kantor, warnet-warnet (warung internet), bahkan di rumah,
dengan syarat memiliki komputer dan seperangkat modem serta saluran telepon untuk
mengakses internet.

untuk e|eorron|o searoh|ng dapat digunakan Medline, yaitu CU Rom yang berisi judul-
judul artikel/publikasi disertai dengan abstrak atau ringkasan untuk masing-masing
artikel. Uatabase yang terdapat dalam Medline CU-Rom ini memungkinkan kita
melakukan penelusuran (searoh|ng) artikel dengan oara memasukkan 'kata kunoi' (ke,
woros) yang relevan dengan masalah klinik yang kita hadapi (misalnya pharyngitis,
tonsilitis, dan pneumonia). Uengan memasukkan kata kunoi maka Medline akan
menampilkan judul-judul artikel yang ada di sebagian besar journal biomedik lengkap
dengan nama pengarang (aurhors), sumber publikasi (souroe) (misalnya 1AMA, BM1,
Annals of lnternal Medioine), tahun publikasi hingga abstrak atau ringkasan dari artikel
yang bersangkutan.

Penelusuran kepustakaan dapat juga dilakukan melalui internet, misalnya dengan
mengakses 0oohrane larabase of S,sremar|o lev|ews, So|enr|f|o 4mer|oan Meo|o|ne
on CU-R0M, dan ACP 1ourna| 0|ub. Pada saat ini kita telah dapat mengakses beberapa
journal biomedik seoara gratis dan fu||-rexr, misalnya British Medioal 1ournal yang dapat
diakses melalui internet.

untuk menjawab 3kenario 1 di atas, misalnya dapat dilakukan penelusuran
kepustakaan melalui Medline dengan memasukkan kata kunoi 'arr|a| f|br||ar|on' dan
'oerebrovasou|ar o|soroers' dengan memasukkan tipe studi 'randomised oontrolled
trial' melalui menu pilihan yang tersedia. Kata kunoi lain yang kemudian juga
dimasukkan adalah 'prognosis' dan/atau 'rherap,'. Adapun tahun publikasi yang
dipilih, misalnya 1990-1994.

Uari penelusuran tersebut didapatkan 10 artikel, 6 di antaranya berkaitan dengan
'ranoom|seo oonrro||eo rr|a|' dan rherap, dan 2 berupa artikel 'prognosis'. Ke delapan
artikel tersebut selanjutnya digunakan untuk melakukan penelaahan untuk
mendapatkan bukti ilmiah yang terperoaya.

Langkah lll: Penelaahan terhadap bukti ilmiah ( Langkah lll: Penelaahan terhadap bukti ilmiah ( Langkah lll: Penelaahan terhadap bukti ilmiah ( Langkah lll: Penelaahan terhadap bukti ilmiah (ev|oenoe ev|oenoe ev|oenoe ev|oenoe) yang ada ) yang ada ) yang ada ) yang ada

Ualam tahap ini seorang klinisi atau praktisi dituntut untuk dapat melakukan penilaian
(appr|sa|) terhadap hasil-hasil studi yang ada. 1ujuan utama dari penelaahan kritis ini
adalah untuk melihat apakah bukti-bukti yang disajikan valid dan bermanfaat seoara
klinik untuk membantu proses pengambilan keputusan. al ini penting, mengingat
dalam kenyataannya tidak semua studi yang dipublikasikan melalui journal-journal
internasional memenuhi kriteria metodologi yang valid dan reliable.

untuk mampu melakukan penilian seoara ilmiah seorang klinisi atau praktisi harus
memahami metode yang disebut dengan 'or|r|oa| appra|sa|' atau 'penilaian kritis' yang
dikembangkan oleh para ahli dari Amerika utara dan lnggris. Critioal appraisal ini
Evdeece-Bused Medcee (EBM]
Purudgmu buru peedekuIue medk berbuss bukI
Blok Blok Blok Blok
7

MugsIer Mueu[emee RumuhsukI Fakultas Keookteran UGM



dilengkapi dengan pertanyaan-pertanyaan kunoi untuk menjaring apakah artikel-artikel
yang kita peroleh memenuhi kriteria sebagai artikel yang dapat digunakan untuk aouan.

Berdasarkan 3kenario 1 3kenario 1 3kenario 1 3kenario 1 dan hasil penelaahan, 2 artikel tentang prognosis
memenuhi kriteria va||o|, dan app||oab|||r,. 1erbukti dalam artikel bahwa jika tidak
dilakukan terapi maka pasien tersebut memiliki risiko tahunan 'stroke' (annua| r|sk)
sebesar 18. Berdasarkan data dari artikel yang ada ditemukan bahwa re|ar|ve r|sk
reouor|on (RRR) dengan terapi warfarin adalah 70. 3elanjutnya dihitung absolute
risk reduotion menggunakan kedua parameter di atas dan ditemukan bahwa ARR
adalah sebesar 0,13. Angka ini selanjutnya digunakan untuk menghitung 'number
neeoeo ro rrear' (NN1=1/ARR). Uitemukan angka 1/0,13. lni mengandung arti
bahwa jika terapi warfarin dilakukan selama satu tahun terhadap 8 orang dengan
diagnosis tersebut, maka paling tidak, ada 1 orang yang akan terhindar dari risiko
stroke. 4nnua| rare untuk terjadinya perdarahan pada pasien yang mendapat
warfarin adalah 1. Uengan kata lain, 1 di antara 100 orang yang diterapi dengan
warfarin selama satu tahun akan mengalami perdarahan.

Langkah lv: Langkah lv: Langkah lv: Langkah lv: Penerapan hasil penelaahan ke dalam praktek Penerapan hasil penelaahan ke dalam praktek Penerapan hasil penelaahan ke dalam praktek Penerapan hasil penelaahan ke dalam praktek

Uengan mengidentifikasi bukti-bukti ilmiah yang ada tersebut, seorang klinisi atau
praktisi dapat langsung menerapkannya pada pasien seoara langsung atau melalui
diskusi-diskusi untuk menyusun suatu pedoman terapi. Berdasarkan informasi yang
ada maka dapat saja pada 3kenario 1 diputuskan untuk segera memulai terapi
dengan warfarin. lni tentu saja didasarkan pada pertimbangan risiko dan manfaat
(r|sk-benef|r assessmenr) yang diperoleh melalui penelusuran bukti-bukti ilmiah yang
ada.

Ualam 1abel 1 dipresentasikan derajat evidenoe, yaitu kategorisasi dalam
menempatkan evidenoe berdasarkan kekuataannya. Lvidenoe level 1a misalnya,
merupakan evidenoe yang diperoleh dari meta-analisis terhadap berbagai uji klinik
aoak terkendali (ranoom|seo oonrro||eo rr|a|s). Lvidenoe level 1a ini dianggap
sebagai bukti ilmiah dengan derajat paling tinggi yang layak untuk diperoaya.

1abel 1 Levels of evidenoe 1abel 1 Levels of evidenoe 1abel 1 Levels of evidenoe 1abel 1 Levels of evidenoe











Level Level Level Level 1enis bukti ilmiah 1enis bukti ilmiah 1enis bukti ilmiah 1enis bukti ilmiah
la Bukti berasal dari suatu meta-analysis atau s,sremar|o rev|ew
lb Bukti berasal dari minimal 1 ranoom|seo oonrro||eo rr|a|
lla Bukti berasal dari minimal 1 studi non ranoom|zeo rr|a|
llb Bukti berasal dari minimal 1 studi quasi experimental
lll Bukti berasal dari studi non-experimental, seperti oomparative
studies, oorrelational studies, and oase studies, oohort, dan oase
oontrol study
lv Lvidenoe berasal dari laporan komite ahli (expert oommittee) atau
opini dan atau pengalaman klinis dari individu yang berkompeten

Evdeece-Bused Medcee (EBM]
Purudgmu buru peedekuIue medk berbuss bukI
Blok Blok Blok Blok
8

MugsIer Mueu[emee RumuhsukI Fakultas Keookteran UGM


Langka Langka Langka Langkah v: h v: h v: h v: lollow up dan evaluasi lollow up dan evaluasi lollow up dan evaluasi lollow up dan evaluasi

1ahap ini harus dilakukan untuk mengetahui apakah ourrenr besr ev|oenoe yang
digunakan untuk pengambilan keputusan terapi bermanfaat seoara optimal bagi
pasien, dan memberikan risiko yang minimal. 1ermasuk dalam tahap ini adalah
mengidentifikasi ev|oenoe yang lebih baru yang mungkin bisa berbeda dengan apa
yang telah diputuskan sebelumnya. 1ahap ini juga untuk menjamin agar intervensi
yang akhirnya diputuskan betul-betul do more good than harm".

6. 6. 6. 6. PLNLRAPAN LBM Ul PLNLRAPAN LBM Ul PLNLRAPAN LBM Ul PLNLRAPAN LBM Ul Pu3A1 PLLAANA Pu3A1 PLLAANA Pu3A1 PLLAANA Pu3A1 PLLAANAN KL3LA1AN N KL3LA1AN N KL3LA1AN N KL3LA1AN

untuk dapat menerapkan pola pengambilan keputusan klinik yang berbasis pada
bukti ilmiah terperoaya diperlukan upaya-upaya yang sistematik, terenoana, dan
melibatkan seluruh klinisi di bidang masing-masing. Pelatihan Fv|oenoe-baseo
meo|o|ne perlu didukung dengan perangkat lunak dan perangkat keras yang
memadai. Pada saat ini informasi-informasi ilmiah dapat diperoleh seoara mudah
dari journal-journal biomedik melalui internet. 0leh sebab itu sudah selayaknya
setiap rumah-sakit melengkapi diri dengan fasilitas-fasilitas untuk searoh|ng dan
brows|ng yang dapat diakses seoara mudah oleh para klinisi.

Pertemuan-pertemuan yang diselenggarakan untuk membahas masalah-masalah
klinik hendaknya difasilitasi dengan sumber-sumber informasi yang memadai. untuk
ini diperlukan staf pendukung yang mampu seoara kontinyu men-oown |oao fu|| rexr
paper dari berbagai journal biomedik. lnformasi-informasi yang ada kemudian dapat
digunakan untuk mem-baok-up keputusan-keputusan klinik agar dapat berbasis
pada bukti ilmiah yang terperoaya.

3udah saatnya pula dilakukan sosialisasi seoara sistematik kepada seluruh jajaran
pelayanan kesehatan untuk memanfaatkan hasil-hasil studi biomedik dalam
pengambilan keputusan klinik. Pusat-pusat pelayanan kesehatan dapat bekerjasama
dengan pusat-pusat pendidikan tinggi, khususnya lakultas-fakultas kedokteran
dalam memverifikasi dan menetapkan hasil-hasil penelitian yang valid yang dapat
digunakan untuk pengambilan keputusan klinik.
Evdeece-Bused Medcee (EBM]
Purudgmu buru peedekuIue medk berbuss bukI
Blok Blok Blok Blok
9

MugsIer Mueu[emee RumuhsukI Fakultas Keookteran UGM






UAl1AR Pu31AKA UAl1AR Pu31AKA UAl1AR Pu31AKA UAl1AR Pu31AKA
1. 3aokett UL, Rosenberg wMC, 0ray 1AM, aynes RB, Riohardson w3 (1996) Lvidenoe
based medioine: what it is and what it isn't. BM1 312:71-72
2. Lllis 1, Mulligan l, Rowe 1, 3aokett UL (1995) lnpatient general medioine is evidenoe
based. Lanoet 346:407-410
3. all 1C, Platell C (1997) alf-life truth in surgioal literature. Lanoet 350:1752
4. 3aokett UL, Riohardson w3, Rosen-berg wMC, aynes RB (2000) Lvidenoe-based
medioine. ow to praotioe and teaoh LBM. Churohill Livingstone, Ldinburgh
5. Antes 0 (1998) Lvidenoe-based medioine. lnternist 39:899-908
6. Uiokersin K, 3oherer R, Lefebvre C (1994) ldentifying relevant studies for systematio
reviews. BM1 309:1286-1291
7. Mulrow C, 0xman AU (1997) 1he Coohrane handbook. ln: 1he Coohrane Library, update
3oftware, 0xford
8. Lgger M, 3mith U3 (1998) Bias in looation and seleotion of studies. BM1 316:61-66
9. Moher U, 1adad AR, Niohol 0, Pen-man M, 1ugwell P, walsh 3 (1995) As-sessing the
quality of randomized oon-trolled olinioal trials: an annotated bib-liography of soales and
oheoklists. Control Clin 1rials 16:62-73
10. 1adad AR, Moore RA, Carroll U, 1en-kinson C, Reynolds U1M, 0avaghan U1, Nouay 1
(1996) Assessing the quality of reports of randomized olini-oal trials: is blinding
neoessary? Control Clin 1rials 17:1-12
11. 3ohulz Kl, Chalmers l, ayes R1, Alt-man U0 (1995) Lmpirioal evidenoe of bias. 1AMA
273:408-412
12. Begg C, Cho M, Lastwood 3, orton R, Moher U, 0lkin l, Pitkin R, 3ohulz Kl, 3imel U,
3troup Ul (1996) lm-proving the quality of reporting of ran-domized oontrolled trials. 1he
C0N30R1 statement. 1AMA 276:637-649
13. Culpepper L, 0ilbert 11(1999) Lvidenoe and primary oare: Lvidenoe and ethios. Lanoet
353: 829-31.
14. aynes B and aines A (1998) Barriers and bridges to evidenoe based olinioal praotioe.
BM1 317: 273-276 (25 1uly)
15. Mant U (1999) Lvidenoe and primary oare: Can randomized trials inform olinioal
deoisions about individual patients?. Lanoet 353: 743-46.
16. Rosenberg w and Uonald A (1995) Lvidenoe based medioine: an approaoh to olinioal
problem-solving. BM1 310: 1122-1126 (29 April).
17. Rosser ww (1999) Lvidenoe and primary oare: Applioation of evidenoe from randomized
oontrolled trials to general praotioe. Lanoet 353: 661-64
18. 3aokett UL, Rosenberg wMC, 0ray 1AM, aynes RB and Riohardson w3 (1996) Lvidenoe
based medioine: what is and what it isn't. BM1 312: 71-72 (13 1anuary). 3heldon 1A,
0uyatt 0 and aines A (1998) when to aot on the evidenoe. BM1 317: 139-142 (11
1uly).
19. van weel C and Knottnerus 1A (1999) Lvidenoe and Primary oare: Lvidenoe-based
interventions and oomprehensive treatment. Lanoet 353: 916-18.