Anda di halaman 1dari 6

DISKUSI SEMINAR FMB ISMKI, 23 OKTOBER 2011

1. Pengambilan keputusan yang krusial berdasarkan rapat kerja. Problemnya dalam panja adalah tersusun ke bawah. Jadi jika ada pengambilan suatu keputusan, maka dikembalikan lagike dalam rapat kerja. Penyelesaian RUU BPJS terganjal karena Pansus sebagian besar dari Komisi IX yang juga memiliki kewajiban dalam penyusunan RUU lain. Sehingga pro aktif mahasiswa lah yang sangat dibutuhkan di sini. Jadi, jangan hanya menunggu tanggal 28 Oktober, karena besok sudah ada raker. 2. Political will jaminan sosial merupakan masalah yang kompleks. Tidak semua pihak cukup paham, sehingga lebih sulit. Tim yang dahulu sudah belajar dari negara lain, untuk memahami sistem. Namun sekarang kesempatan untuk belajar menjadi sedikit. Tunjukkan bukti negara mana yang bangrut setelah melaksanakan Jaminan Sosial! Sehingga JANGAN RAGU LAGI! Sistem jaminan sosial di Malaysia sudah lebih maju. Sehingga perekonomian mereka pun ikut terdorong maju. Karena ada dana iuran yang dimanfaatkan. Hal ini berbeda sekali dengan persepsi orang di Indonesia, yang menganggap bahwa sistem jaminan sosial ini justru membebani. 3. Jaminan sosial tapi maknanya mirip asuransi. Makna jaminan sosial itu luas. Kata jaminan di Indonesia punya banyak makna. Wajar kalau banyak perbedaan persepsi. Kemudian istilah sosial, ada 2 makna : paham sosialis dan makna miskin. Ini kekeliruan. Tugas kita menjelaskan bahwa jaminan sosial adalah kolektif bersama untuk memenuhi kebutuhan sosial, berupa sistem kegotongroyongan. Pemerintah tidak bisa dibebankan sepenuhnya, kita juga turut berkontribusi. Saran : dibutuhkan modal untuk sosialisasi dari pemerintah,ketika masyarakat paham dan ini sudah berjalan. Maka perekonomian akan berkembang. Jangan ditunda lagi ! Tidak ada yang sempurna dan memuaskan semua pihak, tapi itu bisa kita perbaiki setelah dijalankan. Sehingga butuh monitoring dan evaluasi dari semua pihak.

Nabila FK UI 2010
Ada kepentingan politikkah? Maksud pernyataan negara tidak akan diobral asing dan negara yang tidak meminta-minta? Kuatkah APBN menjamin bangsanya tanpa iuran warga negaranya? Dengan SJSN, selama uang belum dipakai, uang tersebut bisa dipakai untuk membangun bangsa. Sehingga peminjaman ke World Bank bisa ditahan. Negara akan kuat jika punya simpanan dana dari iuran. Jadi meminta-minta itu maksudnya adalah, lebih baik negara meminjam dari bangsanya sendiri daripada meminta-minta dari asing. Dari 1300 triliun, 25%nya adalah pinjaman, dan tidak memungkinkan untuk membiayai sendiri. Beberapa obat-obatan pun kita peroleh dari luar negeri. Sehingga konsep kita unutk memandirikan negara masih perlu dipikirkan lagi. Saat ini Jamkesmas masih 6000/orang/bulan. 2012 masih 5,9 triliun untuk Jamkesmas ditambah 1,3 triliun untuk Jampersal. Tetapi masyarakat masih belum paham tentang Jampersal. Inilah problem yang akan terus mengikuti. Problem lainnya adalah, setiap daerah mempunyai peraturan daerah yang berbeda. Misalnya ada Perda di beberapa daerah, tidak tepat pelaksanannya. Perlu kerja yang profesional dengan sistem yang lebih baik. Perlu satu kesatuan sehingga seluruh implementasinya bisa berjalan dengan baik. Memang ada kepentingan politik. Dalam politik selalu ada kekuasaan, dan itu semua terkait dengan keuangan. APBN tidak cukup kuat. Penerimaan negara terbesar dari PPh, kurang lebih 600 triliun. Dari PPn, tidak sebesar PPh. Anggaran kesehatan tidak sebanding dengan cukai rokok. Anggaran kesehatan dibandingkan dengan APBN tidak lebih dari 2,7%. Negara lain mengalokasikan 4-5%. Kita punya anggaran kesehatan 1300 triliun. APBN kuat jika political will juga kuat. Tapi sulit untuk mencapai political will. Dokter dan mahasiswa kedokteran harus mendesak pemerintah, supaya menaikkan APBN untuk anggaran kesehatan. Kualitas yang baik juga harus diimbangi dengan anggaran yang baik. Muangthai pada tahun 2001 menjamin kerja informal, dengan iuran bantuan 30.000 per bulan per orang. Sekarang sudah mencapai 75.000/orang/bulan. Hasilnya dokter menjadi lebih sejahtera, dan pelayanan kesehatan pun menjadi maksimal.

Tidak ada trust dari pemerintah, sehingga banyak prakter kotor, sehingga masyarakat kurang pro ke pemerintah Terlepas dari pemerintah, kita harus tetap berjalan.

FRANZ SINATRA YOGA SC KASTRATNAS ISMKI Aset BUMN yang sudah cukup besar bukankah sudah cukup besar? Dengan terbentuknya BPJS, peran pemerintah belumlah selesai. Lalu BPJS pertanggungjawabannya kemana? Sementara pemerintah tidak turut campur terhadap BPJS. dr. Masoed BPJS hanyalah operator. Dahulu namanya DJS yang di bawah Depnaker. Menjadi PT Jamsostek tahun 1975. Betapa pentingnya jamsos ini, mengingat dana Jamsostek terus berkembang tiap tahunnya. Salah satu indikator kemajuan dan perkembangan suatu negar diliha tdari sistem jaminan sosialnya. Sehingga sangatlah baik, bagi cita-cita bangsa untuk mengembangkan negaranya. Segmen kepesertaan sulit diubah menjadi segmen program. Banyak hal yang perlu disesuaikan. Rekomendasinya adalah berupa konsep transformasi. Akan lebih mudah dijalankan jika tidak dilebur, melainkan memaksimalkan segmen yang ada. Tapi nyatanya ini dilebur, wajarlah jika menemui kesulitan. Law re-inforcement tidak berjalan karena ada kepentingan profit. Inilah problem utamanya! dr. Yani Mohon dipahami latar belakang SJSN dengan baik. Dibutuhkan sistem gotong royong agar penghasilan yang rendah tidak menghalangi akses ke kesehatan. Untuk kepentingan efisiensi, jangan banyak-banyak direksi, kantor cabang, dan perangkat BPJS lain, 1 saja. Bu Ledia Problem yang harus dipahami, ini adalah sebuah proses menuju pengelolaan yang lebih baik. Dalam rancangan UU 2 thn hrs diselesaikan. Soal menambah 1 badan tidak semudah itu, harus diubah jadi BPJS, hal ini terkait dengan program bukan kepesertaan. Utk memenuhi asas portabilitas ASABRI juga harus dipindah (kalau tidak mereka hanya bisa ke RS Polri/TNI). Soal kecelakaan kerja, TNI juga memiliki risiko kecelakaan kerja yang berbeda. Problem-problem ini yang masih harus diselesaikan, transformasi coba dilaksanakan dengan bertahap. PP dalam 2 tahun, harus mempertimbangkan APBN juga namun ada siklusnya sehingga tidak bisa asal masuk. Juga harus dipertimbangkan orang-orang yang tidak tercover jamsostek, etc., namun ingin masuk ke dalam JKH, pembicaraannya belum tuntas. Kesertaan modal pemerintah juga belum terbahas. Bu Wahyu Pemerintah sudha berusaha bekerja dnegan serius untuk melakukan upaya perbaikan. Dalam UU 40 dijelaskan bahwa bantuan iuran pembiayaan kesehatan untuk pertama kali akan dibayarkan pemerintah (fakir miskin dan orang tidak mampu) wujud upaya pemerintah. Prof. Hasbullah Secara teknis manajerial, 1 BPJS untuk semua pun bisa, contohnya, AS. Jangan lupa yang dilakukan BPJS bukan pelayanan namun pendanaan. 1 badan akan memudahkan semua orang aturannya hanya 1, kalau 2 badan mengurusi 1 jaminan kebijakannya bisa berbeda. Misalnya di Jerman, tadinya tidak efisien. Di Korea hanya 1 badan, pegawai negeri & swasta jadi 1 badan dan hal tersebut lebih mudah. Proses merjer untuk jadi 1 bukan hanya persoalan teknik namun

juga persoalan kepercayaan. Sistem yang mudah efisien, single payer system, spt yang ada di Korea, Taiwan, Kanada, etc. Namun sekali lagi, keputusan akhirnya seperti apa tergantung politik. Melati dari Universitas Islam Indonesia 1. Apakah ada target pasti sistem ini harus sudah difinalkan? Lalu kalau iya apa langkah nyatanya? 2. Tindakan promotif nyata apa dari mahasiswa yang bisa dilakukan untuk mengikuti jaminan sosial? 3. Dalam UU SJSN masih sering tertulis akan diatur lebih lanjut dalam PP sehingga sulit memberikan penjelasan, kira-kira kapan PP ini akan keluar? Bu Wahyu Untuk pertanyaan ketiga Sedang dibahas PP utk Jaminan Kecelakaan Kerja beserta tahapantahapannya. Untuk penerima bantuan iuran juga sedang dipersiapkan. Bu Ledia Untuk pertanyaan pertama DPR menginginkan 2012 sudah bisa jalan, namun prosesnya tertunda hingga 2014 (untuk BPJS 1 dan BPJS 2). Mengapa 2014? Banyak RPP yang sudah disiapkan namun terhalang masalah belum sah-nya RUU BPJS. Soal kepesertaan yang bertahap menjadi bahan diskusi berikutnya. Sebetulnya akan diatur lebih lanjut dalam PP diupayakan seminimal mungkin karena peroses pengeluaran PP yang lama. Mahasiswa silahkan promosi SJSN terlebih dahulu, mempromosikan kesadaran bahwa ini adalah hak kita sebagai warga negara, urgensi jaminan sosial, etc., sebagai pemahaman sampai sistemnya sudah bisa diimplementasikan. Prof. Hasbullah Untuk UU SJSN, PP yang diperlukan sudah siap draftnya, sudah dibahas antar beberapa kementrian, namun belum ditandatangani untuk difinalkan krn menunggu keputusan UU BPJS. Mahasiswa tetap punya peran untuk mempercepat proses ini dengan mengingatkan. PP itu milik publik sehingga memang seharusnya accessible untuk siapapun. Soal target, untuk kepesertaan seluruhnya tidak mungkin 2 tahun, sekitar 25 tahun. Kalau untuk kesehatan saja bisa sekitar 5 tahun. Jangan lupa dibutuhkan pengawalan lebih lanjut juga dari pihak mahasiswa. Mala dari UnPad 1. Prof Hasbullah Bagaimana untuk orang yang sudah tua dan tidak bekerja, apakah ada batasan umurnya? Bagaimana dengan batasan penghasilan 1 juta? 2. Bu Ledia Apakah untuk setiap jaminan ada pembayarannya masing-masing? Jika RUU BPJS belum disahkan apakah akan pindah dibahas ke periode presiden (DPR) berikutnya? 3. Dr. M. Yani Standar kebutuhan dasar yang layak seperti apa?

UMI Di kawasan timur Indonesia banyak permasalahan: 1. Terkait fasilitas (diatur pasal 24) ironis jika hak jaminan sosial seseorang terbatas oleh fasilitas. Sementara itu rujukan dari aspek beneficence kurang baik karena membutuhkan waktu. 2. Syarat kepesertaan (diatur di pasal 20) WNI yang kurang cerdas lebih cenderung mencari nafkah dibanding mengurus jaminan kesehatan. Harus ada pelayanan dan wadah untuk mengakomodir kepengurusan masyarakat yang kurang paham SJSN. Victor dari Unand 1. Prof. Hasbullah Seperti apa transparansi yang optimal? Lalu, transparansi seperti apakah yang diharapkan dari BPJS? 2. Bu Ledia a. Seandainya pada tgl 28 Oktober ini BPJS disahkan, bagaimana dengan daerah yang sudah nyaman dengan Jamkesda sehingga menolak pengesahan BPJS? b. Apakah evaluasi dan monitoring DJSN termasuk mutu & pelayanan yang diberikan? Ataukah akan ada badan pengawas lain untuk fungsi ini? Fahid dari UB 1. Bu Wahyu Pekerja informal banyak yang belum tercover. Kira-kira kemungkinan berlakunya sistem menggait pekerja informal bagaimana? 2. Dr. Masoed Seberapa jauh kesiapan Jamsostek dari segi teknis perihal peleburan dan transisi ke BPJS? Putri dari UnHas 1. Permenkes tahun 2006 tentang pekerja informal belum memiliki PP yang jelas, apa saja kendalanya? 2. Bagaimana agar iuran yang dibayarkan sesuai dengan penghasilan pegawai tersebut? Muslim dari Unila 1. Jaminan kesehatan sebagai prioritas utama SJSN, bagaimana pelaksanaannya agar tidak ada monopoli? Pemisahan aset antar BPJS bagaimana? Bagaimana agar tidak ada penyimpangan dalam pengelolaan dana? 2. Apakah batas seseorang dinyatakan miskin? Zuldi dari UnSoed 1. UU sudah ada namun jika PP lama terselesaikannya, apakah realistis sistem ini akan terimplementasikan tahun 2014? 2. Tahun 2014 BPJS akan dilaksanakan oleh Askes, apakah Askes sudah siap? 3. Investasi apa yang dilakukan Jamsostek sehingga asetnya bisa berkembang dari 4 trilyun ke 105 trilyun?

Bu Ledia 1. RUU seharusnya selesai dibahas dalam 2 kali masa sidang (3-4 bulan). Pimpinan DPR sudah menetapkan bahwa tanggal 28 Oktober ini substansi sudah harus terselesaikan. Uji publik akan dilaksanakan setelah masa reses yang baru. Jika kesepakatan tidak diperoleh, masih diperdebatkan kapan akan diselesaikan, masa sidang berikutnya atau periode pemerintahan berikutnya. 2. Persebaran memang sebuah isu yang diperhatikan. Anggaran di tahun 2012 sudah memperhitungkan pembangunan fasilitas untuk DTPK. 3. Sosialisasi tidak cukup lewat TV, ujung tombaknya adalah di kelurahan, puskesmas, dsb. 4. Pelayanan mutu memang harus menjadi bagian evaluasi, namun pelayanan kesehatan adalah porsi Menteri Kesehatan. 5. Ada beberapa pilihan dalam Jamkesda, DPRD tidak dapat menolak UU jika nanti telah disahkan: a. Jamkesda dapat mengcover yang tidak mendapat bantuan iuran dari pusat. b. Pemerintah daerah menambahkan bantuan peningkatan kenyamanan pelayanan di daerah tersebut. 6. 2014 bukan berarti semuanya terselesaikan, namun itu adalah titik start. 7. Kita harus mendorong bersama agar BPJSnya segera disahkan dan rancangan PPnya dapat juga segera diselesaikan. Bu Wahyu 1. Kenapa 1 juta? Sebenarnya situasi sudah berbeda karena tidak mengcover penyakit-penyakit katastrofik. Iuran ini sudah tidak sesuai dan diusahakan akan dinaikkan, namun menunggu pengesahan UU BPJS. 2. Mengapa pencover-an pekerja informal kecil? Karakteristiknya berbeda dan sulit diatur. Sosialisasi sudah diupayakan (pilot project) agar ada kesadaran pekerjsa informal untuk membayar iuran jaminan sosial. 3. PP masih menunggu UU BPJS disahkan. Dr. Masoed 1. SJSN akan terlaksana dengan baik terkait dengan komitmen semua pihak. UU392 mewajibkn seluruh tenakga kerja dan keluarkan untuk mengikuti JPK. Jamsostek memang memperbolehkan perusahaan yg mempunyai jamkes yang lebih baik untuk tidak mengikuti jamsostek. Jangan sampai kalau diubah menjadi SJSN ini akan merugikan peserta. Kendala ini harus diatu, siap2 kalo ada yang patuh / tidak patuh. Harus ada law enforcement