Anda di halaman 1dari 2

ARF Dikarakteristikkan dengan adanya rapid decline pada GFR mulai dari beberapa jam hingga berharihari.

Etiologi dan Patofisiologi 1. Prerenal ARF (Prerenal azotemia) Bentuk yang paling sering terjadi, biasanya pada kondisi renal hipoperfusi. Prerenal ini reversible jika hipoperfusinya bisa dikembalikan menjadi normal. Jika menjadi lebih parah, disebut sebagai acute tubular necrosis (atn).

Hipovolemiatekanan arteri sistemik turunpenurunan stretching arterial dan cardiac baroreceptortrigger respon hormonalaktivasi sistem saraf simpatetik dan RAASvasokontriksimenyelamatkan tekanan perfusi cardiac dan cerebral. Kalau hypoperfusionnya masih mild, perfusi glomerular dan fraksi filtrasinya masih bisa diselamatkan dengan beberapa mekanisme kompensasi. Respon adanya penurunan tekanan perfusi stretching receptor di afferent arteriolevasodilatasi afferent arteriole melalui refleks myogenic lokal. Kemudian adanya aktivasi dari angiotensin II mengakibatkan adanya biosintesis dari vasodilator prostaglandin yang berefek vasodilatasi pada afferent arteriole. Sebaliknya vasokonstriksi pada efferent arteriole. Sehingga fraksi plasma glomerulus meningkat, dan GFR bisa dipertahankan. Ketika hipotensi yang terjadi ini parah, mekanisme autoregulasi diatas akan gagal.

Hepatorenal syndrome merupakan bentuk unik dari prerenal ARF yang komplikasi biasanya adalah chirrosis. Pada HRS, ginjal secara struktural normal, tetapi gagal menjalankan fungsinya karena adanya vasodilatasi splanchic dan shunting arteriovenous sehingga terjadi vasokontriksi di renal. Ada dua bentuk HRS: tipe I dan tipe II. Yang membedakan adalah, tipe I ini lebih agrasif tampilan klinisnya. 2. Intrinsic ARF Secara konsep dibedakan menjadi : 1) Ischemic atau nephrotoxic tubular injury, 2) Tubulointerstitial disease, 3) Disease of larger renal microcirculation and glomeruli, and 4) Disease of larger renal vessels. Ischemic ATN. Ketika terjadi renal hipoperfusi yang ekstrem, akan terjadi necrosis cortical renal bilateral dan kegagalan ginjal yang sifatnya irreversible. Karakteristik utamanya digambarkan dalam 4 fase: inisiasi, ekstensi, maintenance, dan recovery.