Kebijakan Pengelolaan Persampahan di Indonesia: PENGELOLAAN SAMPAH YANG BERBASISKAN REDUKSI DAN DAUR-ULANG MERUPAKAN KEHARUSAN Oleh

: Enri Damanhuri Pendahuluan Penanganan sampah khususnya di kota-kota besar di Indonesia merupakan salah satu permasalahan perkotaan yang sampai saat ini merupakan tantangan bagi pengelola kota. Pertambahan penduduk dan peningkatan aktivitas yang demikian pesat di kota-kota besar, telah mengakibatkan meningkatnya jumlah sampah disertai permasalahannya. Diprakirakan rata-rata hanya sekitar 40% - 50 % yang dapat terangkut ke Tempat Pemerosesan Akhir (TPA) oleh institusi yang bertanggung jawab atas masalah sampah dan kebersihan, seperti Dinas Kebersihan. Kemampuan pengelola kota menangani sampahnya dalam 10 tahun terakhir cenderung menurun, antara lain karena era otonomi dan kemampuan pembiayaan yang rendah. Diperkirakan pengelola sampah kota hanya mampu melayani sampah kurang dari 50% penduduk kota, dari lebih dari 380 kota di Indonesia. Sisa sampah yang belum terangkut ke TPA, pada umumnya ditangani oleh penghasil sampah dengan berbagai cara, seperti dibakar, ditimbun dalam tanah, dikomposkan dan beragam upaya, termasuk daur-ulang, atau dibuang di mana saja seperti di tanah kosong, drainase atau badan air lainnya. Sampai saat ini andalan utama sebuah kota dalam menyelesaikan masalah sampahnya adalah pemusnahan dengan landfilling pada sebuah TPA. Biasanya pengelola kota cenderung kurang memberikan perhatian yang serius pada TPA tersebut. Aktivitas utama pemusnahan sampah di TPA adalah dengan landfilling. Beragam tingkat teknologi landfilling, diantaranya yang paling sering disebut adalah sanitary landfill. Dapat dipastikan bahwa yang digunakan di Indonesia adalah bukan landfilling yang baik, karena hampir seluruh TPA di kota-kota di Indonesia hanya menerapkan apa yang dikenal sebagai open-dumping, yang sebetulnya tidak layak disebut sebagai sebuah bentuk teknologi penanganan sampah. Bahkan TPA Bantar Gebang yang menerima sampah dari Jakarta sebetulnya selama ini belum dioperasikan secara sanitary landfill, walaupun sarana dan prasarana yang tersedia sudah cukup memadai. Dapat dikatakan bahwa hampir semua pengelola kota tidak mempunyai alternatif lain bila TPA mereka mengalami gangguan, dan sekaligus tidak mempunyai pengalaman dalam menangani sampah dengan cara lain yang lebih baik dan berkesinambungan. Selama ini TPA yang ada belum disiapkan dan belum dioperasikan secara baik dan profesional, sehingga kasus-kasus TPA bermasalah selalu muncul. Di sisi lain, masyarakat di sekitar TPA telah menyadari hak-haknya untuk mendapatkan kualitas lingkungan yang baik dalam kehidupannya. Mereka menolak keberadaan daerahnya sebagai lokasi TPA, termasuk juga sebagai lokasi pemerosesan sampah dengan teknologi yang lebih baik. Mereka tetap curiga bahwa sarana ini adalah sejenis TPA yang mereka kenal selama ini. UU 18/2008: Pengelolaan Persampahan sebuah Harapan UU 18/2008 yang telah diberlakukan sejak tanggal 18 Mei 2008 diharapkan akan mampu mengarahkan pengelolaan sampah secara baik dan konsisten. Konsep dasar hierarhi pengelolaan sampah menurut UU 18/2008 adalah pengurangan sampah sebagai prioritas pertama, dan prioritas berikutnya adalah penanganan sampah.

Disampaikan pada Focus Group Discussion (FGD), Kementerian Koordinator Bidang Perekonomian, Jakarta 22 Juni 2009

Pengertian pengurangan sampah dalam UU tersebut adalah: • Pembatasan timbulan sampah (= reduce) • Pendauran ulang sampah (= reuse) • Pemanfaatan kembali sampah (= recycle) Pemerintah dan Pemerintah Daerah dalam hal ini diwajibkan melakukan kegiatan: • Menetapkan target pengurangan sampah secara bertahap dalam jangka waktu tertentu • Memfasilitasi penerapan teknologi yang ramah lingkungan • Memfasilitasi penerapan label produk yang ramah lingkungan • Memfasilitasi kegiatan mengguna ulang dan mendaur ulang, dan • Memfasilitasi pemasaran produk-produk daur ulang Sedangkan Pelaku usaha dalam hal ini diarahkan untuk menggunakan bahan produksi yang: • Menimbulkan sampah sesedikit mungkin, • Dapat diguna ulang, • Dapat didaur ulang, dan/atau • Mudah diurai oleh proses alam. Hal yang sama dituntut dari masyarakat untuk menggunakan bahan yang dapat diguna ulang, didaur ulang, dan/atau mudah diurai oleh proses alam. Dalam hal ini Pemerintah diarahkan untuk memberikan insentif kepada setiap penghasil sampah yang melakukan pengurangan sampah, serta disinsentif kepada setiap penghasil sampah yang tidak melakukan pengurangan sampah Pengertian penanganan sampah dalam UU tersebut adalah kegiatan teknis operasional yang meliputi: • Pemilahan dalam bentuk pengelompokan dan pemisahan sampah sesuai dengan jenis, jumlah, dan/atau sifat sampah, • Pengumpulan dalam bentuk pengambilan dan pemindahan sampah dari sumber sampah ke tempat penampungan sementara atau tempat pengolahan sampah terpadu, • Pengangkutan dalam bentuk membawa sampah dari sumber dan/atau dari tempat penampungan sampah sementara atau dari tempat pengolahan sampah terpadu menuju ke tempat pemrosesan akhir, • Pengolahan dalam bentuk mengubah karakteristik, komposisi, dan jumlah sampah, dan/atau

Pemrosesan akhir sampah dalam bentuk pengembalian sampah dan/atau residu hasil pengolahan sebelumnya ke media lingkungan secara aman.

3R sebagai dasar pengelolaan sampah Sebelum UU 18/2008 tersebut diundangkan, sebetulnya dalam setiap pertemuan yang membicarakan bagaimana pengelolaan sampah yang baik, dapat dipastikan bahwa semuanya sepakat bahwa reduksi dan daur-ulang (Reduce, reuse dan recycling atau 3R) merupakan kunci jawaban atas pemecahan masalah sampah perkotaan. Tapi sampai saat ini konsep tersebut masih belum terlihat realisasinya secara nyata, khususnya di tingkat kota. Beberapa contoh keberhasilan yang telah dilakukan, baik oleh kelompok masyarakat maupun upaya-upaya yang difasilitasi oleh Pemerintah memang telah banyak diperlihatkan. Tetapi efek duplikasinya secara nyata di tingkat kota secara menyeluruh nampaknya masih membutuhkan upaya, kerja keras dan kemauan dari seluruh fihak terkait. Semua fihak telah sepakat bahwa daur-ulang sampah merupakan
Disampaikan pada Focus Group Discussion (FGD), Kementerian Koordinator Bidang Perekonomian, Jakarta 22 Juni 2009

cara terbaik untuk mengurangi sampah, diantaranya melalui upaya pengomposan yang sangat cocok untuk menangani sampah Indonesia. Konsep tersebut selama ini belum berjalan lancar karena memang membutuhkan kesiapan semua fihak untuk merubah cara fikir dan cara pandang dalam penanganan sampah. Berdasarkan pengalaman di negara lain, target optimis untuk mencapai partisipasi dari seluruh penghasil sampah di sebuah kota dalam jangka waktu 10 tahun tidak akan lebih dari 50%. Penulis teringat pada sebuah paparan dalam sebuah seminar internasional tentang pengelolaan sampah beberapa tahun yang lalu, dimana seorang pembicara dari Amerika Serikat mengemukanan bahwa walaupun sistem dan sarana yang ada telah diarahkan untuk mendukung upaya 3R seperti di Amerika Serikat, dan menetapkan target reduksi dalam 10 tahun sampai 50%, namun untuk mencapai rencana tersebut tidak mudah. Dia mengatakan : I don’t think it will happen. We are not dealing with garbage, we are dealing with lifestyle. Banyak pengelola kota di Indonesia yang pernah mencoba konsep 3R ini mempertanyakan keberhasilan reduksi sampah dengan pengomposan atau daur-ulang, karena sampah yang harus diangkut ke TPA oleh truk-truk yang tersedia dirasakan tidak mengalami penurunan. Sementara itu kompos yang dihasilkannya sulit dipasarkan, dan dianggap hanya membebani dana Pemda dalam pengelolaan sampah, yang memang sampai saat ini sangat minim dan selalu berada pada prioritas yang rendah dalam skala anggaran sebuah kota. Perlu dicatat bahwa selama ini jumlah sampah yang dapat dikelola oleh Pemda jauh dari 100%. Sekecil apapun peran reduksi sampah, itu berarti sebetulnya telah menambah kemampuan Pemda dalam menangani sampah. Dalam pengelolan sampah skala kota, dengan kemampuan membayar retribusi yang masih rendah serta belum terbentuknya sistem pengelolaan sampah yang tertata secara baik, maka pengomposan janganlah ditekankan sebagai sebuah sektor yang dapat menambah pendapatan Pemda. Paling tidak dengan upaya tersebut, volume sampah akan berkurang, yang berarti Pengelola Kota telah menghemat biaya pengangkutan sebagian sampahnya yang seharusnya diangkut ke TPA. Disamping itu, dengan adanya pengalaman dalam menerapkan sistem ini serta disertai adanya kebijakan dan strategi yang jelas dalam pengelolaan sampah ke depan, maka secara bertahap diharapkan banyaknya sampah yang harus diangkut ke TPA akan berkurang, sehingga TPA bukan lagi menjadi andalan satu-satunya. Dengan diterapkannya UU 18/2008 tersebut, nantinya Pemda Kota/Kabupaten diharapkan mempunyai kebijakan dan strategi serta menyusun sebuah organisasi dan institusi yang pas untuk mengelola sampah kota yang berbasiskan daur-ulang, dimana penghasil sampah diposisikan sebagai salah satu mitra penting yang berperan dalam pengelolaan ini. Yang paling utama adalah adanya pengakuan secara formal dan dukungan penuh dari Pemda, dan bukan hanya sekedar dukungan sebatas informal agreement. Pemda hendaknya juga siap membeli produk kompos yang dihasilkan, sebagai bagian dari biaya pengelolaan sampah kotanya. Selama ini dukungan yang diberikan masih bersifat provisional, dan belum secara institusional masuk ke dalam fungsi reguler pengelolaan sampah kota. Mereka dibiarkan sendiri dalam meneruskan unit-unit daur-ulangnya. Diperlukan adanya kemauan politik dari Pemda, eksekutif maupun legislatif, yang bersifat berkesinambungan, yang diwujudkan dalam kebijakan kebijakan yang mendukung konsep ini. Pengembangan strategi dan rencana kegiatan untuk menjamin pengelolaan yang tepat guna ini jelas membutuhkan waktu untuk berhasil. Pengelolaan sampah dari sebuah kota adalah sebuah sistem yang kompleks, dan tidak dapat disejajarkan atau disimplifikasikan begitu saja misalnya dengan penanganan sampah daerah pedesaan. Keberhasilan upaya-upaya sektor informal saat ini tidak dapat begitu saja diaplikasikan dalam menggantikan sistem formal yang selama ini ada. Tetapi
Disampaikan pada Focus Group Discussion (FGD), Kementerian Koordinator Bidang Perekonomian, Jakarta 22 Juni 2009

perannya patut diperhitungkan oleh pengelola sampah kota. Dibutuhkan waktu yang lama karena menyangkut juga perubahan perilaku masyarakat serta kemauan semua fihak untuk menerapkannya. Sedangkan sampah akan terus muncul dalam skala yang besar sesuai besaran kota tersebut yang perlu setiap hari ditangani. Keduanya diharapkan berjalan bersama, tetapi dalam sebuah kerjasama dan koordinasi yang baik agar sasaran penanganan sampah dapat berjalan sesuai rencana. Pengelolaan sampah pada masyarakat perkotan bertambah lama bertambah kompleks sejalan dengan kekomplekan masyarakat itu sendiri. Dibutuhkan keterlibatan beragam teknologi dan beragam disiplin ilmu, termasuk di dalamnya teknologi-teknologi yang terkait dengan bagaimana mengontrol timbulan (generation), pengumpulan (collection), pemindahan (transfer), pengangkutan (transportation), pemerosesan (processing), pembuangan akhir (final disposal) sampah yang dihasilkan pada masyarakat tersebut. Pendekatannya tidak lagi sesederhana menghadapi masyarakat di perdesaan. Seluruh proses tersebut perlu diselesaikan dalam rangka bagaimana melindungi kesehatan masyarakat, pelestarian lingkungan hidup, namun secara estetika dan juga secara ekonomi dapat diterima. Beragam pertimbangan perlu dimasukkan, seperti aspek adminsitratif, finansial, legal, planning, kerekayasaan. Tingkat pemahaman dan peran koordinasi antar lembaga di Pemerintahan yang ada nampaknya juga belum semuanya mendukung ke arah terbentuknya sudut pandang pengelolaan sampah yang efektif, baik di tingkat Pemerintah Pusat maupun di tingkat Pemerintah Daerah. Belum lagi kalau kita bicara sudut pandang antar fihak eksekutif dan legislatif. Sudah disepakati bersama bahwa 3R merupakan konsep dasar dalam pengelolaan sampah di Indonesia. Bila kita bicara sampah dengan 3R-nya, itu berarti bukan hanya berbicara tentang bagaimana mengomposkan dan memanfaatkan sampah. Bukan hanya sekedar mengumpulkan, mengangkut dan memusnahkan sampah yang terkait dengan infrastruktur sebuah kota, atau bagaimana agar sampah tidak menimbulkan permasalahan kesehatan, lingkungan dan keselamatan. Ada mata rantai yang selama ini belum banyak terdengar, yaitu institusi di luar Kementerian Lingkungan Hidup dan Departemen Pekerjaan Umum. Sudah diketahui bersama, bahwa dalam timbunan sampah yang harus disingkirkan, ternyata tersembunyi potensi ekonomi yang tidak dapat diabaikan. Selama ini peluang bisnis telah dilakukan oleh berbagai fihak, khususnya yang bergerak di sektor informnal. Namun fokus perhatian kita selama ini nampaknya hanya terbatas pada kenyataan bahwa sebagian sampah sudah dapat dimanfaatkan. Sementara fihak industri daur-ulang tentunya mempunyai pertimbangan ekonomi tersendiri, yang tidak selalu harus terkait dengan permasalahan sampah itu sendiri. Paling tidak di sana seharusnya terlibat secara sistematis peran Departemen Perindustrian dan Perdagangan, serta fihak lain khususnya bila menyangkut perdagangan antar negara. Pada kenyataannya impor dan ekspor barang yang disebut sampah, khususnya di kawasan Asia, merupakan bisnis yang banyak diminati seperti besi, plastik, komponen elektronik, kertas dsb. Bila semua fihak terkait dapat berkoodinasi, maka mungkin di Indonesia suatu saat akan tenbentuk semacam bursa sampah, seperti yang telah ada di negara Filipina dan Thailand. Dengan demikian, permasalahan sampah di Indonesia bukan hanya dilihat sebagai cost center, tetapi mungkin sebagian dapat dilihat sebagai profit center oriented. Penutup Pengelolaan sampah yang hanya mengandalkan proses kumpul-angkut-buang menyisakan banyak permasalahan antara lain ketersediaan lahan untuk pembuangan akhirnya. Salah satu upaya yang dapat dilakukan untuk mengurangi beban penanganan sampah adalah dengan reduksi volume sampah yang harus ditangani. Konsep daur ulang sampah merupakan salah satu solusi yang dapat diandalkan sehingga nilai ekonomis yang masih terkandung di dalam sampah dapat lebih dimanfaatkan. Saat ini
Disampaikan pada Focus Group Discussion (FGD), Kementerian Koordinator Bidang Perekonomian, Jakarta 22 Juni 2009

pengelolaan sampah di kota-kota di Indonesia biasanya bukanlah merupakan prioritas penting dari sekian banyak permasalahyan kota yang harus ditangani. Tugas pengelola persampahan bukanlah menjadi ringan di masa datang. Diperlukan sebuah kebijakan yang bersifat menyeluruh dan konsisten dalam penanganan sampah, sehingga arah penanganan sampah tidak bersifat temporer semata. Pengembangan teknologi yang sesuai dengan kondisi Indonesia perlu digalakkan, khususnya yang mudah beradaptasi dengan kondisi sosio-ekonomi masyarakat Indonesia. Teknologi yang berbasis pada peran serta masyarakat tampaknya perlu mendapat prioritas, agar keterlibatan mereka menjadi lebih berarti dan terarah dalam penanganana sampah. Seiring dengan pertambahan penduduk, tambah lama akan tambah banyak jumlah sampah yang harus ditangani. Defisit anggaran dalam penanganan sampah kota merupakan hal yang biasa terdengar, sehingga agak sulit bagi pengelola sampah untuk berfikir ke depan dalam upaya pengembangan. Prasarana yang tersedia tambah lama akan tambah tua dan tambah terbatas kemampuannya. Perbaikan tidak dapat dilakukan dalam waktu sekejap, karena menyangkut pula perubahan cara pandang masyarakat penghasil sampah, dan yang penting juga adalah menyangkut perubahan cara pandang pengambil keputusan baik eksekutif maupun legislatif. Peran dan kemauan politis Pemerintah, baik eksekutif maupun legislatif, mulai dari kebijakan yang terarah, adanya rencana strategis yang tepat, kesungguhan dalam mengaplikasikan peraturan-peraturan yang relevan, sampai kepada kemauan untuk menyediakan anggaran dsb dalam pengelolaan sampah di daerahnya akan sangat menentukan keberhasilan sistem itu sendiri. Sudah waktunya Pemerintah mempunyai kebijakan dan strategi serta menyusun sebuah organisasi dan institusi yang pas untuk mengelola sampah kota yang berbasiskan daur-ulang, dimana penghasil dan pemanfaat sampah diposisikan sebagai salah satu mitra penting yang berperan dalam pengelolaan ini. Yang paling utama adalah adanya pengakuan secara formal dan dukungan penuh, khususnya dari Pemda, dan bukan hanya sekedar dukungan sebatas informal agreement, bila perlu disertai insentif yang menarik. Pemda hendaknya juga siap membeli produk kompos yang dihasilkan, sebagai bagian dari biaya pengelolaan sampah kotanya. Selama ini dukungan yang diberikan masih bersifat provisional, dan belum secara institusional masuk ke dalam fungsi reguler pengelolaan sampah kota. Mereka dibiarkan sendiri dalam meneruskan unit-unit daur-ulangnya. Pengembangan strategi dan rencana kegiatan untuk menjamin pengelolaan yang tepat guna ini jelas membutuhkan waktu untuk berhasil. Bandung, 22/6/09 Enri Damanhuri Guru Besar pada Fakultas Teknik Sipil dan Lingbkungan ITB Jalan Ganesa 10 – Bandung 40132 E-mail : enri.damanhuri@gmail.com

Disampaikan pada Focus Group Discussion (FGD), Kementerian Koordinator Bidang Perekonomian, Jakarta 22 Juni 2009

Sign up to vote on this title
UsefulNot useful