Anda di halaman 1dari 87

LAPORAN HASIL PENELITIAN TINDAKAN KELAS

DISUSUN OLEH NAMA NIP : :

LAPORAN HASIL PENELITIAN TINDAKAN KELAS

DISUSUN OLEH NAMA NIP : :

KOP SEKOLAH
PENGESAHAN

Yang bertanda tangan di bawah ini Kepala SMA Negeri ............ menerangkan bahwa:

Nama NIP Jabatan

: ....................................... : ........................................ : ........................................

Memang benar yang tersebut di atas telah melakukan penelitian tentang ..............................................................................................................................

Mengetahui Kepala Dinas Pendidikan Kab. ..........

......................, ...................... Kepala SMA Negeri..............

................................................... NIP.

......................................... NIP.

ii

KOP SEKOLAH
PERNYATAAN

Yang bertanda tangan di bawah ini Pengelola Perpustakaan SMA Negeri ............ menyatakan bahwa:

Nama NIP Jabatan

: ................................ : ................................ : .................................

Memang benar yang tersebut di atas telah mempublikasikan Penelitian Tindakan Kelas dengan judul.............................................. di sekolah kami dan menaruh 1 (satu) buah karyanya di perpustakaan SMA Negeri ..............................................

Demikian pernyataan ini dibuat agar dapat dipergunakan dimana mestinya.

Mengetahui Kepala SMA Negeri ..........

......................, ...................... Pengelola Perpustakaan SMA Negeri..................

................................................... NIP.

......................................... NIP.

iii

PERNYATAAN KEASLIAN TULISAN

Saya menyatakan bahwa Karya Tulis Ilmiah ini asli dan tidak berisi materialmaterial yang telah dipublikasikan di tempat lain, terkecuali yang dikutip sebagai sumber referensi dan digunakan dalam teks tulisan ini, yang sumbernya sudah dinyatakan. Karya Tulis Ilmiah ini tidak pernah diajukan untuk memperoleh derajat kesarjanaan atau diploma pada institusi tertentu, begitu juga tidak ada kolaborasi yang telah dibuat dengan orang lain.

Penulis

......................................

iv

KATA PENGANTAR
Puji dan syukur penulis panjatkan kehadapan Tuhan Yang Maha Kuasa, karena berkat rahmatNya penulis mendapat kekuatan, semangat, pikiran yang kuat sehingga karya tulis yang berjudul ......................................................................., dapat terselesaikan sesuai jadwal waktu yang telah direncanakan. Karya ini penulis kerjakan dengan sekuat tenaga, dengan pengorbanan material dan pemikiran untuk dapat memperoleh angka kredit pengembangan profesi sebagai syarat bagi seorang guru untuk bisa naik ke jenjang kepangkatan setingkat lebih tinggi dengan kewajiban mengumpulkan angka kredit minimal 12 poin. Rasa terimakasih perlu penulis sampaikan kepada Bapak-bapak, Ibu-ibu yang telah membantu sehingga karya ilmiah ini dapat terselesaikan. Untuk itu terimakasih yang sebanyak-banyaknya penulis lanjut sampaikan kepada: 1. Kepala Sekolah SMA Negeri ................................ 2. Para siswa dan siswi, yang telah menunjukkan objektivitas yang tinggi sehingga data-data hasil penelitian ini benar-benar dapat

dipertanggungjawabkan. Demikian secara singkat pengantar yang dapat penulis sampaikan, semoga karya ini bermanfaat dalam meningkatkan efektifitas proses belajar mengajar di SMA Negeri ...........................

......................, ...................... Penyusun

DAFTAR ISI Halaman HALAMAN JUDUL................................................................................... PENGESAHAN KEPALA SEKOLAH ...................................................... PERNYATAAN PERPUSTAKAAN ......................................................... PERNYATAAN KEASLIAN TULISAN .................................................. KATA PENGANTAR ................................................................................ DAFTAR ISI ............................................................................................... DAFTAR TABEL ....................................................................................... DAFTAR GAMBAR .................................................................................. DAFTAR LAMPIRAN ............................................................................... ABSTRAK .................................................................................................. BAB I PENDAHULUAN ................................................................... A. Latar Belakang................................................................... B. Rumusan Masalah ............................................................. C. Tujuan Penelitian ............................................................... D. Manfaat Penelitian ............................................................. i ii iii iv v vi viii ix xi xii 1 1 4 5 5

vi

DAFTAR TABEL

Halaman Tabel 1. Tabel 2. Tabel 3. Tabel 4. Tabel 5. Nama-nama Siswa Kelas ....................................................... Kisi-kisi Instrumen Wawancara ............................................. Kisi-kisi Instrumen Observasi Proses Pembelajaran.............. Instrumen Wawancara ............................................................ Instrumen Observasi Proses Pembelajaran ............................ 12

vii

DAFTAR GAMBAR

Halaman Gambar 1. Gambar 2. Rancangan Penelitian ............................................................. 5

viii

DAFTAR LAMPIRAN

Halaman Lampiran 1. Lampiran 2. Pedoman Wawancara .......................................................... Jawaban-jawaban yang Penting dari Pertanyaan Tentang Wawancara ..........................................................................

ix

ABSTRAK

Penelitian ini dilaksanakan di SMA Negeri .................................. di Kelas ........ yang kemampuan siswanya untuk materi .................. cukup rendah. Tujuan penulisan penelitian tindakan kelas ini adalah untuk mengetahui apakah model pembelajaran Co-Op Co-Op dapat meningkatkan aktivitas dan prestasi belajar siswa. Metode pengumpulan datanya adalah observasi dan tes prestasi belajar. Metode analisis datanya adalah deskriptif baik untuk data kualitatif maupun untuk data kuantitatif. Hasil yang diperoleh dari penelitian ini adalah Co-Op Co-Op dapat meningkatkan aktivitas dan prestasi belajar siswa. Ini terbukti dari hasil yang diperoleh pada Siklus I meningkat ........% untuk keaktifan belajar siswa dan .....% untuk prestasi belajar. Dari Siklus I ke Siklus II naik .......% untuk aktivitas belajar dan ....... untuk prestasi belajar. Kesimpulan yang diperoleh dari penelitian ini adalah model pembelajaran Co-Op Co-Op dapat meningkatkan aktivitas dan prestasi belajar.

BAB I PENDAHULUAN

A. Latar Belakang Proses pembelajaran di kelas akan sangat efektif apabila guru melaksanakannya dengan memahami peran, fungsi dan kegunaan mata pelajaran yang diajarnya. Selain pemahaman akan hal-hal tersebut keefektipan itu juga ditentukan oleh kemampuan guru untuk merubah model pengajaran menjadi model pembelajaran sesuai yang diharapkan oleh Permen No. 41 tahun 2007 tentang Standar Proses. Peran mata pelajaran .................. adalah untuk pengembangan intelektual, sosial dan emosional siswa serta berperan sebagai kunci penentu menuju keberhasilan dalam mempelajari suatu bidang tertentu. Fungsi mata pelajaran .................. adalah sebagai suatu bidang kajian untuk mempersiapkan siswa mampu merefleksikan pengalamannya sendiri dan pengalaman orang lain, mengungkapkan gagasan-gagasan dan perasaan serta memahami beragam nuansa makna, sedang kegunaannya adalah untuk membantu siswa mengenal dirinya, budayanya, budaya orang lain, mengemukakan gagasan dan perasaan, berpartisipasi dalam masyarakat, membuat keputusan yang bertanggung jawab pada tingkat pribadi, sosial, menemukan serta menggunakan kemampuan analitic dan imajinatif yang ada dalam dirinya. Disamping mengetahui peran, fungsi dan kegunaan mata pelajaran, sebagai seorang guru juga diperlukan untuk mampu menerapkan beberapa metode ajar sehingga paradigma pengajaran dapat dirubah menjadi paradigma pembelajaran sebagai tuntutan peraturan yang disampaikan pemerintah (Permen No. 41 tahun 2007 tentang Standar Proses, Permen No. 16 tahun 2007 tentang Standar Kualifikasi Guru). Kelemahan-kelemahan yang terjadi selama proses pembelajaran yang dilakukan selama ini yang menyebabkan rendahnya prestasi belajar siswa tentu tidak sepenuhnya disebabkan oleh faktor luar seperti kesibukan guru, keadaan rumah tangga, lingkungan dan lain-lain. Kelemahan-kelemahan yang ada tentu banyak pula dipengaruhi oleh faktor dari dalam guru itu sendiri seperti kemauan menyiapkan bahan yang lebih baik, termasuk kemauan guru

itu sendiri untuk menerapkan metode-metode ajar yang telah didapat di bangku kuliah. Selain itu guru juga kurang mampu untuk dapat mengembangkan keterampilan mengajar yang dapat menarik perhatian siswa dan merangsang siswa untuk belajar. Keterampilan yang mesti dikuasai guru dalam melaksanakan pembelajaran ada 7, yaitu: 1) keterampilan bertanya, 2) keterampilan memberi penguatan, 3) keterampilan mengadakan variasi, 4) keterampilan menjelaskan, 5) keterampilan membuka dan menutup pelajaran, 6) keterampilan membimbing diskusi, 7) keterampilan mengelola kelas. Keterampilan-keterampilan ini berhubung dengan kemampuan guru untuk menguasai dasar-dasar pengetahuan yang berhubungan dengan persiapan dan pelaksanaan proses pembelajaran yang akan memberikan dukungan terhadap cara berpikir siswa yang kreatif dan imajinatif. Hal inilah yang menunjukkan profesionalisme guru (I G. A. K. Wardani dan Siti Julaeha, Modul IDIK 4307: 1-30). Penggunaan model-model pembelajaran juga merupakan hal yang sangat penting dalam upaya memajukan suatu bidang tertentu. Model sangat berkaitan dengan teori. Model merupakan suatu analog konseptual yang digunakan untuk menyarankan bagaimana meneruskan penelitian empiris sebaiknya tentang suatu masalah. Jadi model merupakan suatu struktur konseptual yang telah berhasil dikembangkan dalam suatu bidang dan sekarang diterapkan, terutama untuk membimbing penelitian dan berpikir dalam bidang lain, biasanya dalam bidang yang belum begitu berkembang (Mark 1976 dalam Ratna Wilis Dahar, 1989: 5). Cuplikan di atas menunjukkan betapa pentingnya model untuk diterapkan dalam mencapai suatu keberhasilan, begitu pula terhadap kegunaan modelmodel pembelajaran. Sebelum ada model, dikembangkan terlebih dahulu teori yang mendasari model tersebut, sehingga boleh dikatakan bahwa teori lebih luas daripada model. Model-model, baik model fisika, model-model komputer, model-model matematika, semua mempunyai sifat jika maka, dan model-model ini terkait sekali pada teori (Shelbeeker, 1974 dalam Ratna Wilis Dahar, 1989: 5).

Dari semua uraian di atas dapat diketahui hal-hal yang perlu dalam upaya meningkatkan aktivitas dan prestasi belajar siswa seperti penguasaan metodemetode ajar; penguasaan model-model pembelajaran; penguasaan teori-teori belajar; penguasaan teknik-teknik tertentu; penguasaan peran, fungsi serta kegunaan mata pelajaran. Apabila betul-betul guru menguasai dan mengerti tentang hal-hal tersebut dapat diyakini bahwa prestasi belajar peserta didik pada mata pelajaran ........................ tidak akan rendah. Namun kenyataannya keaktifan belajar dan prestasi belajar siswa kelas....................... di semester ........... tahun ajaran ................... baru mencapai nilai D dan untuk keaktifan belajar dan untuk prestasi belajar baru mencapai rata-rata...... Melihat kesenjangan antara harapan-harapan yang telah disampaikan dengan kenyataan lapangan sangat jauh berbeda, dalam upaya memperbaiki mutu pendidikan utamanya pada mata pelajaran.........................., sangat perlu kiranya dilakukan perbaikan cara pembelajaran. Salah satunya adalah perbaikan pembelajaran dengan menggunakan model pembelajaran Co-Op Co-Op. Oleh karenanya penelitian ini sangat penting untuk dilaksanakan.

B. Rumusan Masalah dan Cara Pemecahannya 1. Rumusan Masalah Melihat adanya kesenjangan antara harapan dengan kenyataan yang ada di lapangan seperti yang sudah dipaparkan pada latar belakang masalah, maka rumusan penelitian ini dapat disampaikan sebagai berikut: 1) Apakah model pembelajaran Co-Op Co-Op dapat meningkatkan aktivitas belajar siswa kelas ..... SMA Negeri ................. 2) Apakah model pembelajaran Co-Op Co-Op dapat meningkatkan prestasi belajar siswa kelas ..... SMA Negeri ..................

2. Cara Pemecahan Masalah Model pembelajaran Co-Op Co-Op merupakan salah satu dari banyak cara yang bisa dilakukan guru dalam upaya meningkatkan mutu pembelajaran. Model ini mempunyai langkah-langkah yang mendorong keaktifan siswa dalam belajar dengan cara memberikan kesempatan bagi

siswa untuk siap tampil dihadapan teman-temannya. Untuk mampu tampil dihadapan orang banyak bukanlah hal yang gampang. Untuk mampu tampil dihadapan orang banyak bukanlah hal yang gampang. Hal itu memerlukan persiapan yang matang. Untuk persiapan yang matang ini, guru memberik kesempatan yang sebanyak-banyaknya, guru memberi kesempatan agar siswa menyiapkan sebaik-baiknya apa yang akan ditampilkan dihadapan siswa-siswa yang lain. Model Co-Op Co-Op ini mampu merangsang siswa untuk dapat bertanggung jawab terhadap pekerjaannya, menuntut persiapan yang sangat matang, menuntut kemampuan yang matang dalam presentasi, menutut semangat yang tinggi untuk mengikuti pelajaran agar dapat mempersiapkan tampilan yang diharapkan, menuntut sebab akibat dari pelaksanaan diskusi. Contoh sebab akibat tersebut adalah, apabila siswa giat mengikuti pelajaran, akibatnya adalah mampu memberi tampilan yang diharapkan. Siswa akan menjadi aktif akibat diberikan giliran untuk berbicara di depan teman-temannya, yang sudah pasti akan menimbulkan tuntutan-tuntutan kemampuan yang tinggi baik dalam penampilan maupun keilmuan. Tanpa keilmuan yang mencukupi tidak akan mungkin tampilannya akan memuaskan, dalam hal ini siswa tidak bisa sembarangan saja, mereka harus betul-betul mampu menyimpulkan terlebih dahulu apa yang mereka akan bicarakan. Tuntunan langkah-langkah, motivasi, interpretasi yang inovatif dipihak guru akan menentukan keberhasilan pelaksanaan model ini. Dari uraian singkat ini jelas bahwa model pembelajaran Co-Op Co-Op menuntut kemampuan siswa untuk giat mempelajari apa yang disampaikan guru, mampu menampilkan dirinya di depan siswa-siswa yang lain. Dipihak lain, untuk dapat menyelesaikan tuntutan tersebut, inovasi yang dilakukan guru akan sangat menentukan. Inovasi tersebut berupa tuntunan-tuntunan, motivasi-motivasi, interpretasi serta

kemampuan implementasi yang tinggi. Cara inilah yang dapat digunakan sebagai dasar pemecahan masalah yang ada.

C. Tujuan Penelitian Berdasar rumusan masalah yang telah disampaikan, rumusan masalah yang dapat disampaikan adalah: 1. Untuk mengetahui seberapa tinggi peningkatan aktivitas belajar yang akan dicapai siswa setelah diterapkan model pembelajaran Co-Op Co-Op dalam pembelajaran. 2. Untuk mengetahui seberapa tinggi peningkatan prestasi belajar siswa akan terjadi setelah diterapkan model pembelajaran Co-Op Co-Op dalam pembelajaran.

D. Manfaat Penelitian Secara teoritis, hasil penelitian ini diharapkan akan bermanfaat sebagai acuan dalam memperkaya teori dalam rangka peningkatan kompetensi guru. Sedangkan secara praktis penelitian ini diharapkan bermanfaat bagi sekolah, khususnya SMA Negeri ........ dalam rangka meningkatkan kompetensi guru IPS/IPA/................... Di samping itu, penelitian ini juga diharapkan bermanfaat sebagai informasi yang berharga bagi teman-teman guru, kepala sekolah di sekolahnya masing-masing.

BAB II KAJIAN TEORI

A. Tinjauan Umum Pembelajaran Kooperatif Kebanyakan sekolah yang belajar pada kompetisi individu belajar kooperatif merupakan suatu strategi pembelajaran di mana siswa dalam kelompok kecil yang heterogen saling bertukar tanggung jawab. Akhirnya, siswa belajar dari seseorang ke yang lainnya. Mereka belajar untuk menghargai perbedaan pada masing-masing yang lainnya dan membangun kekuatan individu termasuk kekuatan kelompok. Beberapa peneliti telah menemukan bahwa strategi belajar kooperatif mendorong harga-diri individu dan menganjurkan siswa untuk mengambil kendali dari belajarnya sendiri. Tuntutan ini melengkapi suatu ringkasan dan strategi belajar kooperatif dan menunjukkan bagaimana guru-guru dapat mengintegrasikan strategi-strategi tersebut dalam rencana pembelajaran mereka (Hilke, 1998: 3). Lebih lanjut Hilke mengemukakan tujuan utama dari belajar kooperatif adalah: (1) untuk membantu perkembangan kerjasama akademik di antara siswa, (2) untuk menganjurkan hubungan kelompok yang positif, (3) untuk mengembangkan harga-diri siswa, dan (4) untuk meningkatkan pencapaian akademik. Siswa dapat mengejar tujuan pembelajaran melalui tiga cara: secara kompetitif, secara individu, dan secara kerjasama. Pada tahun 1940, Morton Deutsch (1949) menyusun suatu teori tentang bagaimana orang-orang berhubungan dan berinteraksi pada masing-masing susunan tersebut. Pada susunan kompetitif, seorang siswa bekerja melawan masing-masing yang lainnya dan tampilan mereka dibandingkan. Beberapa siswa mengalami kekeliruan dalam susunan ini, hasilnya kehilangan harga-diri dan kadangkadang berperasaan negatif terhadap teman sebaya mereka secara bebas pada langkah mereka sendiri untuk mencapai tujuan yang ditetapkan oleh guru. Guru selanjutnya mengevaluasi sekelompok tujuan untuk masing-masing individu.

Dalam susunan kooperatif, kelompok siswa yang heterogen bekerja bersama untuk menemukan tujuan. Masing-masing pribadi

mempertanggungjawabkan pembelajarannya sendiri dan membantu yang lainnya. Kekuatan yang dapat dicapai untuk setiap pribadi dalam kelompok. Keterampilan komunikasi dan sosial yang baik di-butuhkan dalam urut-urutan perkembangan hubungan kerja yang baik. Dalam ke-lompok belajar kooperatif, di sana cenderung terjadi peraturan teman sebaya, umpan balik, dukungan, dan anjuran belajar yang agak beragam. Dukungan akademik teman sebaya demikian tidak tersedia pada situasi belajar kompetitif dan individualistik (Johnson and Johnson, 1987: 28). Pembelajaran dengan menggunakan metode pembelajaran kooperatif adalah strategi pembelajaran yang memusatkan perhatian pada proses penalaran nilai-nilai moral, melalui diskusi dan proses tanya jawab dialektis yang bersifat mengajar dan menantang proses pemahaman (Lickona, 1992: 236-238). Menurut Slavin (1995: 2), metode pembelajaran kooperatif menunjuk pada bermacam-macam model pembelajaran, di mana para siswa bekerja dalam kelompok kecil untuk saling membantu, berdiskusi dan saling memberi argumentasi, untuk saling menilai pengetahuan yang dimiliki sekarang dan mengisi kesenjangan pemahaman di antara mereka. Dari kedua pendapat di atas mengenai model pembelajaran kooperatif, maka dapat dikatakan bahwa model pembelajaran kooperatif merupakan kegiatan siswa, yaitu belajar dalam kelompok kecil yang heterogen, di mana setiap siswa memiliki kesempatan untuk memberikan atau menyampaikan argumentasinya, sehingga terjadi interaksi antara guru dengan siswa, antara siswa dengan siswa lainnya, komunikatif dan bersifat multi arah. Menurut Slavin (1995: 5), terdapat enam metode utama dalam pembelajaran bertim (Student Teams Learning). Empat di antaranya, berlaku secara umum pada semua bidang studi, yaitu sebagai berikut : Student

Teams-Achievement Divisions (STAD), Teams Games Tournaments (TGT), Jigsaw II, dan Co-Op Co-Op. Sedangkan dua metode lainnya hanya berlaku secara khusus, yaitu: Cooperative Integrated Reading and Composition (CIRC).

Dengan menggunakan model pembelajaran kooperatif tipe ini, maka dapat meningkatkan interaksi antara guru dengan siswa, dan antara siswa dengan siswa lainnya, komunikatif, dan bersifat multi arah. Johnson and Johnson (1984: 15) mengidentifikasi lima elemen dasar dalam belajar kooperatif, yaitu: (1) saling ketergantungan tujuan yang positif, (2) memajukan interaksi tatap muka, (3) pertanggungjawaban individu, (4) keterampilan sosial, dan (5) proses kelompok. Pembicaraan masing-masing elemen tersebut seperti berikut.

1) Saling ketergantungan yang positif Saling ketergantungan tujuan yang positif terjadi bila siswa melaksanakan tugas kelompok dengan perasaan saling menguntungkan. Mereka perlu mengerjakan bagian mereka sendiri, untuk keuntungan seluruh kelompok. Sebagai contoh, bila tugas kelompok untuk meneliti dan menulis laporan, nilai untuk laporan merupakan nilai kelompok. Pencapaian yang rendah dalam kelompok menimbulkan usaha kerja terbaik mereka untuk keselamatan seluruh kelompok. Pencapaian yang tinggi, ingin

mempertahankan kualitas kerja mereka yang tinggi, akan membantu yang lainnya dalam menyelesaikan tugas kelompok. Selanjutnya masing-masing individu memperoleh manfaat yang penting dan harga-diri. Johnson et al. (1984) berpendapat bahwa saling ketergantungan yang positif dicapai: melalui tujuan yang saling menguntungkan (saling ketergantungan tugas); pembagian material, sumber-sumber, atau informasi di antara anggota kelompok (saling ketergantungan sumber); pemberian peranan siswa yang berbeda (saling ketergantungan peran); dan melalui pemberian penguatan bersama (saling ketergantungan penguatan). Dalam urutan untuk situasi belajar menjadi kooperatif, siswa harus bersedia bahwa mereka secara positif saling ketergantungan dengan anggota lainnya dari kelompok belajar mereka.

2) Memajukan interaksi tatap muka Kemajuan interaksi terjadi bila pertukaran verbal mengambil tempat di mana siswa menjelaskan bagaimana mereka memperoleh suatu jawaban atau

bagaimana suatu masalah bisa dipecahkan. Mereka juga dapat membantu masing-masing yang lainnya untuk memahami suatu tugas. Siswa memeriksa masing-masing pemahaman yang lainnya dan menyatakan pertanyaan pada anggota kelompok sebelum menyatakan pada guru untuk klarifikasi. Bila sebuah tugas sudah lengkap, anggota kelompok meringkaskan apa yang telah dipelajari.

3) Pertanggungjawaban individu Pertanggungjawaban individu merupakan pengambilan pertanggungjawaban pribadi untuk materi belajar. Sebagai tambahan untuk kontribusi kelompok, masing-masing siswa memerlukan penguasaan material tertentu. Salah satunya guru menentukan tingkat penguasaan, anggota kelompok sering mendukung dan membantu masing-masing yang lainnya dalam mencapai tingkat penguasaan tersebut. Suatu pertanyaan yang sering muncul dalam diskusi tentang belajar kooperatif adalah apa yang dikerjakan siswa yang tidak berpartisipasi, membiarkan yang lainnya untuk bekerja, dan memastikan untuk belajar materi dasar. Untuk mencegah kejadian ini, seorang guru dapat merata-ratakan skor ujian individu untuk nilai kelompok. Selanjutnya bila seseorang skor ujiannya lebih rendah dari rata-rata teman sebaya bukan hanya mendesak bahkan secara halus menekan individu untuk belajar lebih giat. Atau mereka akan melihat perlunya bekerja dengan individu dalam urutan untuk mencapai tingkat ketuntasan. Juga dari waktu ke waktu, guru bisa menyeleksi penempatan nilai individu, yang menganjurkan semua anggota kelompok untuk

mengerjakannya secara langkap dalam waktu yang tepat dan dengan cara yang wajar.

4) Keterampilan sosial Kritik untuk kesuksesan belajar kooperatif adalah keterampilan sosial demikian seperti mengetahui bagaimana berkomunikasi secara efektif dan bagaimana mengembangkan rasa hormat dan kepercayaan dalam kelompok. Kelompok yang bertugas dengan baik tidak terjadi secara wajar; siswa

memerlukan petunjuk bagaimana mengikuti dan juga berperan. Bila pertanggungjawaban belajar diperlukan, siswa membutuhkan anjuran masingmasing anggota lainnya untuk melengkapi tugas yang diberikan. Mereka perlu mengetahui bagaimana meminta bantuan bila mereka membutuhkannya. Bila muncul konflik (dan konflik memang akan muncul), siswa perlu mengetahui bagaimana menggunakan strategi resolusi konflik.

5) Proses kelompok Secara periodik siswa memerlukan pencerminan pada bagaimana kelompok yang baik bekerja dan menganalisis bagaimana keefektifan mereka bisa diperbaiki. Ini disebut proses kelompok. Pengamatan oleh anggota kelompok, guru, atau seorang individu yang berperan sebagai pengamat dapat melengkapi umpan-balik yang esensial untuk proses kelompok. Seorang pengamat bisa mencatat apa yang terjadi dalam kelompok bila rencana suatu projek mengenai adanya kekuatan perbedaan pendapat. Dengan umpan-balik ini, siswa dapat bergerak untuk menemukan suatu pemecahan dan menawarkan usul untuk menangani perselisihan tersebut di masa yang akan datang. Keluaran dari proses ini, kelompok bisa bersimpulan: Kita telah membuat permulaan yang baik dalam rencana projek, tetapi kita perlu bekerja lebih giat untuk mendengar ide-ide setiap orang. B. Model Pembelajaran Kooperatif Tipe Co-Op Co-Op Co-Op Co-Op benar-benar sama untuk investigasi kelompok. Ini Menempatkan tim dalam kooperasi dengan yang lainnya untuk mempelajari suatu topik kelas. Bahkan Slavin (1995: 111) menyatakan bahwa tiga tipe belajar kooperatif yang bisa diterapkan dalam spesialisasi tugas adalah investigas kelompok (group investigation), Co-op Co-op, dan jigsaw. Co-Op Co-Op mengizinkan siswa untuk bekerja bersama dalam kelompok kecil, pertama untuk kemajuan pemahaman mereka mengenai diri mereka sendiri dan dunia, dan selanjutnya untuk kesediaan mereka dengan kesempatan untuk berbagi pemahaman baru itu dengan teman-teman sebaya mereka. Metodenya sederhana dan felskibel. Suatu situasi seorang guru

10

memegang filosofi di belakang Co-Op Co-Op, dia bisa memilih sejumlah cara untuk menerapkan pendekatan yang akan diberikan di dalam ruang-kelas. Slavin (1995: 119-122) mengemukakan sembilan tahapan spesifik dalam peningkatan kemungkinan kesuksesan dari metode ini.

Tahap 1: Diskusi kelas yang terpusat pada siswa Pada awalnya, suatu unit kelas yang menggunakan metode Co-Op Co-Op menganjurkan siswa untuk mengungkapkan dan minatnya dalam subjek yang akan dipelajari. Suatu inisial kelompok membaca, ceramah, atau eksperimen dapat tersimpan pada tujuan ini. Selanjutnya lakukan diskusi kelas yang berpusat pada siswa. Tujuan dari diskusi ini akan meningkatkan keterlibatan siswa dalam mempelajari suatu unit melalui penemuan dan stimulasi kuriositas, bukan membawa mereka ke topik studi. Diskusi akan membawa ke suatu pemahaman di antara guru dan semua siswa tentang apa yang siswa inginkan untuk dipelajari dan pengalaman dalam hubungan ke topik yang akan dipelajari. Waktu yang dibutuhkan untuk tahap pertama ini bergantung pada bagian tingkatan perbedaan minat yang dimiliki siswa pada suatu topik. Manfaat awal dari diskusi yang berpusat pada siswa tidak dapat diremehkan; ini tidak memungkinkan bahwa Co-Op Co-Op akan menjadi berhasil untuk beberapa siswa yang tidak berminat secara aktif dalam suatu topik yang dihubungkan ke suatu unit dan tidak termotivasi untuk belajar lebih banyak tentang suatu topik.

Tahap 2: Pemilihan tim belajar siswa dan pembentukan tim Bila siswa tidak siap bekerja dalam tim, tandai mereka dan distribusikan ke dalam 4-5 anggota tim yang heterogen seperti dalam STAD. Gunakan latihan pembentukan tim yang digunakan dalam STAD atau mereka telah bekerja beberapa minggu pada unit STAD atau jigsaw II sebelum memulai

11

unit Co-Op Co-Op. Siswa dituntut sudah mengembangkan kejujuran dan keterampilan bekerja kelompok yang baik sebelum memulai Co-Op Co-Op.

Tahap 3: Pemilihan topik Izinkan siswa memilih topik untuk tim mereka. Bila pemilihan topik tim tidak secara langsung mengikuti diskusi kelas yang berpusat pada siswa, mengingatkan siswa (lewat papan tulis, overhead, atau ringkasan) mengenai topik kelas secara keseluruhan yang telah ditunjukkan dan paling diminati. Penunjukkan bahwa tim dapat bekerjasama sangat penuh dalam mewujudkan tujuan kelas bila mereka memilih topik yang dihubungkan kepada minat kelas. Doronglah siswa untuk mendiskusikan variasi topik di antara diri mereka juga dapat menyelesaikan topik yang paling diminati untuk tim mereka. Seperti diskusi tim yang menjadi minat mereka dan mulai menyelesaikan suatu topik, sebarkan di antara mereka dan bertindak sebagai fasilitator. Bila dua tim mulai menyelesaikan pada topik yang sama, Anda dapat menunjukkan hasil ini dan mendorong tim untuk mencapai kompromi, melalui pembagian topik itu atau melalui pengalihan salah satu tim memilih topik yang diminati lainnya. Bila tidak ada tim yang menyelesaikan pada suatu topik berarti kelas menganggap penting, Anda dapat menunjuk hasil ini dan mendorong siswa untuk merespon yang dibutuhkan. Bila tahap ketiga dari Co-Op Co-Op ini berhasil secara lengkap, masingmasing tim mempunyai sebuah topik dan merasa kenal dengan topik tersebut. Guru bisa memfasilitasi kesatuan kelas melalui penunjukan masing-masing topik yang membuat kontribusi yang penting untuk tujuan kelas, yakni ketuntasan unit belajar.

Tahap 4: Pemilihan minitopik Seperti kelas sebagai keseluruhan membagi unit belajar ke dalam bagianbagian topik untuk menciptakan suatu pembagian kerja di antara anggota.

12

Masing-masing siswa memilih minitopik yang mengungkap satu aspek dari topik tim. Minitopik bisa tumpang tindih, dan anggota tim didorong untuk berbagi referensi dan sumber, tetapi masing-masing minitopik harus menyediakan kontribusi yang unik untuk usaha tim. Guru melibatkan siswa dalam pemilihan minitopik yang bervariasi, bergantung pada tingkat kemampuan siswa. Guru perlu mengetahui bahwa minitopik sesuai dengan siswa atau siswa cocok dan menerimanya. Dengan kata lain, minitopik-minitopik tersebut cocok untuk level minat siswa atau cukup sumber-sumber yang tersedia pada mereka. Karena perbedaan dalam kemampuan dan minat, ini dapat diterima dan alami untuk beberapa siswa berkontribusi lebih daripada yang lainnya untuk usaha tim, tetapi semua anggota perlu untuk membuat suatu kontribusi yang bermanfaat. Guru-guru dapat mengerjakan ini melalui: (1) mengizinkan siswa untuk mengevaluasi kontribusi teman yang menjadi anggota tim mereka; (2) menandai kertas kerja individu atau projek untuk siswa pada minitopik mereka; dan (3) memantau kontribusi individu. Bila minitopik dipilih dengan tepat, masing-masing siswa akan membuat kontribusi yang unik untuk usaha kelompok, dan dengan demikian anggota kelompok mempunyai sumbangan untuk ketuntasan minitopik mereka.

Tahap 5: Persiapan minitopik Setelah siswa membagi topik tim ke dalam minitopik, mereka bekerja secara individu. Mereka masing-masing mengetahui bahwa mereka dapat mengerjakan untuk minitopik mereka dan kelompok bergantung pada mereka untuk mengungkap suatu aspek penting dari usaha tim. Penyediaan minitopik mengambil bentuk yang berbeda-beda, bergantung pada sifat-sifat unit kelas yang akan diungkap. Penyediaan bisa melibatkan penelitian perpustakaan, pengumpulan data melalui wawancara atau eksperimentasi, kreasi projek individu, atau suatu aktivitas ekspresif seperti menulis atau melukis. Aktivitas tersebut mengambil minat yang sangat tinggi 13

karena siswa tahu mereka akan berbagi produk mereka dengan anggota tim mereka dan pekerjaan mereka itu akan berkontribusi untuk presentasi tim.

Tahap 6: Presentasi minitopik Setelah siswa bekerja sendiri secara lengkap, mereka menampilkan minitopik mereka untuk anggota timnya. Presentasi minitopik dalam tim akan menjadi formal, yaitu masing-masing anggota tim memberikan waktu yang khusus, dan menunggu saat menampilkan minitopiknya. Presentasi minitopik dan diskusi dalam tim dilakukan dalam suatu cara yang sesuai dengan pengetahuan atau pengalaman semua anggota tim yang diperlukan oleh masing-masing anggota. Mengikuti presentasi, anggota lain mendiskusikan topik tim seperti suatu panel ahli. Siswa mengetahui minitopik-minitopik itu, seperti irisan teka-teki jigsaw, harus diambil bersamasama seluruhnya bertalian untuk keberhasilan presentasi tim untuk kelas. Interaksi dengan teman sebaya atas suatu topik umum berkenaan dengan melengkapi suatu kesempatan untuk beberapa pembelajaran yang sangat penting untuk terjadi. Selama presentasi minitopik, pembagian kerja dalam tim mungkin dianjurkan juga bahwa salah satu anggota tim membuat catatan, yang lainnya mengajukan kritik, yang lainnya berperan sebagai pendukung, dan yang lainnya mengecek bagian-bagian pendapat yang benar dan yang keliru dalam informasi yang dipresentasikan. Waktu mungkin disediakan untuk umpan-balik, siswa bisa melaporkan kembali kepada tim setelah mereka meneliti, memperbaiki, atau memikirkankembali minitopik mereka dalam penjelasan dari umpan-balik yang mereka terima dari tim. Anggota mendorong anggota tim untuk mengetahui sisa pertanyaan yang berkenaan dengan minitopik yang tidak terjawab; anggota tim dapat merespon untuk kelompok mereka.

14

Tahap 7: Persiapan presentasi tim Siswa didorong untuk mengintegrasikan semua material minitopik dalam presentasi tim. Di sini harus terjadi suatu sintesis aktif dari minitopik yaitu selama diskusi tim, tampilan tim akan menjadi lebih dari seluruh presentasi minitopik. Diskusi dalam bentuk presentasi tim akan mengikuti sintesis material minitopik. Presentasi panel yang mana masing-masing laporan anggota tim pada minitopik juga mengecilkan hati, seperti mereka bisa menampilkan suatu kesalahan untuk mendekati sintesis kooperatif tingkat tinggi. Bentuk tampilan akan ditentukan oleh isi material. Sebagai contoh, bila suatu kelompok tidak dapat datang untuk suatu konsensus, bentuk ideal untuk presentasi mereka akan menjadi tampilan suatu debat untuk kelas. Format tanpa-ceramah, seperti pameran, demonstrasi, pusat belajar, lakon pendek yang lucu, dan tim yang berhubungan dengan diskusi kelas sangat didorong. Penggunaan papan tulis, overhead, media pandang-dengar, dan ringkasan juga didorong.

Tahap 8: Presentasi tim Selama presentasi, tim mengambil kontrol ruangan-kelas. Anggota tim dapat merespon mengenai waktu, ruangan, dan sumber-sumber kelas yang digunakan selama presentasi mereka; dan mereka didorong untuk membuat penggunaan penuh dari fasilitas-fasilitas ruang-kelas. Karena tim sulit mengelola waktu secara umum harus menunjuk seorang pencatat waktu kelas yang bukan anggota dari tim yang tampil. Pencatat waktu mengangkat kartu perhatian bila ada lima, satu, dan tidak ada menit yang tersisa. Tim bisa masuk dalam periode menjawab-pertanyaan presentasinya dan/atau waktu untuk mengomentari dan umpan-balik. Sebagai tambahan, selama mengikuti presentasi guru bisa menemukan manfaat presentasi untuk membawa suatu bagian umpan-balik dan/atau untuk wawancara tim, yaitu tim lainnya dapat belajar sesuatu dari apa yang terlibat dalam pengembangan

15

presentasi. Teristimewa tim yang berhasil diangkat sebagai model. Selama wawancara di akhir-presentasi, guru mengungkap strategi-strategi yang bisa berguna untuk tim lainnya pada unit Co-Op Co-Op yang akan datang.

Tahap 9: Evaluasi Evaluasi mengambil tempat pada tiga tingkatan, yaitu: (1) tampilan tim dievaluasi oleh kelas; (2) kontribusi individu untuk usaha tim dievaluasi oleh anggota tim; dan (3) tulisan atau presentasi minitopik dari masing-masing siswa dievaluasi oleh guru. Mengikuti masing-masing presentasi, guru bisa menunjukkan suatu diskusi kelas mengenai kekuatan dan kelemahan isi dan format presentasi. Bentuk evaluasi formal juga kadang-kadang digunakan untuk anggota tim dan kontribusi tim. Beberapa cara pembelajaran CO-Op Co-Op menyatakan bahwa guru dan kelas menyukai untuk aktif belajar dan berbagi hadiah; yang lainnya menyukai evaluasi formal. Dalam kasus lainnya, kelas akan dapat mempunyai

pertimbangan pernyataan dalam menentukan bentuk evaluasi. Dalam penelitian ini digunakan model pembelajaran kooperatif tipe Co-op Coop di dalam pembelajaran sejarah pada siswa kelas II SMP untuk kelompok eksperimen. Hal ini disebabkan karena pada dasarnya model pembelajaran kooperatif tipe Co-op Co-op dapat berlaku secara umum dalam semua bidang studi dan penelitian ini menggunakan spesialisasi tugas untuk setiap anggota kelompok.

16

C. Prestasi Belajar Prestai belajar dimulai dengan kegiatan atau aktivitas, setelah itu belajar dan terakhir baru prestai belajar. 1. Aktivitas Kata Aktivitas berasal dari Bahasa Inggris activity yang artinya state of action, lireliness or ingorous mation (Webster New American Dictionary: 12). Apabila diartikan dalam Bahasa Indonesia kata ini berarti kebenaran dari perlakuan, kegiatan yang aktif, kegiatan yang aktual atau giat dalam melakukan gerak-gerik, usul. Dalam bahasa Indonesia aktif berarti giat belajar, giat berusaha, dinamis, mampu berkreasi dan beraksi (Kamus Besar Bahasa Indonesia: 32). Aktivitas merupakan kegiatan yang dilaksanakan oleh siswa, baik dalam aktivitas jasmani maupun dalam aktivitas rohani. Aktivitas ini jelas merupakan ciri bahwa siswa berkeinginan untuk mengikuti proses. Siswa dikatakan memiliki keaktifan apabila ditemui ciri-ciri seperti berikut (Tim Instruktur PKG, 1992: 2): 1. Antusiasme siswa dalam mengikuti pembelajaran 2. Terjadi interaksi siswa dengan guru, siswa dengan siswa 3. Siswa terlibat dan bekerjasama dalam diskusi kelompok 4. Terjadi aktivitas siswa dalam pelaksanaan pembelajaran 5. Siswa berpartisipasi dalam menyimpulkan materi. Keaktifan siswa dalam proses belajar mengajar dapat dilihat dari (Nana Sudjana, 2000: http://www.scribd.com/doc/90372008): 1. Turut serta dalam melaksanakan tugas belajarnya 2. Terlibat dalam pemecahan masalah 3. Bertanya pada siswa lain atau kepada guru apabila tidak memahami persoalan yang dihadapinya 4. Berusaha mencari berbagai informasi yang diperlukan untuk memecahkan masalah 5. Melaksanakan diskusi kelompok sesuai dengan petunjuk guru 6. Menilai kemampuan dirinya dan hasil-hasil yang diperolehnya 7. Melatih diri dalam memecahkan soal atau masalah yang sejenis

17

8. Kesempatan menggunakan atau menerapkan apa yang diperolehnya dalam menyelesaikan tugas atau persoalan yang dihadapinya.

2. Belajar Belajar dalam Bahasa Inggris adalah Study yang artinya The act of using the mind to require knowledge (Webster New American Dictionary: 1993). Apabila diartikan dalam Bahasa Indonesia, belajar adalah perbuatan menggunakan ingatan/pikiran untuk mendapatkan/ memperoleh pengetahuan. Belajar artinya berusaha untuk memperoleh ilmu atau menguasai suatu keterampilan; juga berarti berlatih (Kamus Besar Bahasa Indonesia: 27). Selanjutnya belajar juga berarti perubahan yang relatif permanen dalam kapasitas pribadi seseorang sebagai akibat pengolahan atas pengalaman yang diperolehnya dari praktek yang dilakukannya (Glosarium Standar Proses, Permen Diknas No. 41 tahun 2007). Dari ketiga pengertian tersebut dapat disimpulkan bahwa belajar adalah penggunaan pikiran untuk memperoleh ilmu. Ini berarti bahwa belajar adalah perbuatan yang dilakukan dari tahap belum tahu ke tahap mengetahui sesuatu yang baru. Prinsip belajar yang dapat menunjang tumbuhnya cara belajar siswa aktif adalah: stimulus, perhatian dan motivasi, respon, penguatan dan umpan balik (Sriyono, 1992: http://www.scribd.com/doc/90372081). Juga dikatakan bahwa ativitas belajar berupa keaktifan jasmani dan rohani yang meliputi keaktifan panca indra, keaktifan akal, keaktifan ingatan dan keaktifan emosi. Pendapat lain menyatakan bahwa aktivitas belajar dilakukan dalam bentuk interaksi antara guru dengan siswa dan antara siswa siswa dengan siswa lain (Abdul, 2002 dalam

http://www.scribd.com/doc/90372081/). Dari kedua pendapat di atas, dapat dipahami bahwa belajar sebenarnya merupakan cara yang membuat siswa aktif, baik dengan penggunaan cara simulasi, respon, motivasi, penguatan, umpan balik yang dapat membangkitkan keaktifan jasmani dan rohani siswa sehingga

18

muncul interaksi antar siswa dengan guru begitu juga interaksi antara siswa yang satu dengan siswa lainnya. Dengan menggabungkan semua pendapat yang telah disampaikan serta pengertian-pengertian tentang belajar dapat disimpulkan bahwa belajar adalah penggunaan ingatan atau pikiran untuk memperoleh pengetahuan baru yang belum diketahui sebelumnya dengan penggunaan cara-cara tertentu seperti Inquiri, simulasi, respon, motivasi, penguatan, umpan balik yang dapat membangkitkan keaktifan siswa baik jasmani maupun rohani yang dapat membangun interaksi positif bagi para siswa.

3. Prestasi Belajar Prestasi belajar ................ sama dengan prestasi belajar bidang studi yang lain merupakan hasil dari proses belajar siswa dan sebagaimana biasa dilaporkan pada wali kelas, murid dan orang tua siswa setiap akhir semester atau akhir tahun ajaran. Prestasi belajar mempunyai arti dan manfaat yang sangat penting bagi anak didik, pendidik, orang tua/wali murid dan sekolah, karena nilai atau angka yang diberikan merupakan manifestasi dari prestasi belajar siswa dan berguna dalam pengambilan keputusan atau kebijakan terhadap siswa yang bersangkutan maupun sekolah. Prestasi belajar merupakan

kemampuan siswa yang dapat diukur, berupa pengetahuan, sikap dan keterampilan yang dicapai siswa dalam kegiatan belajar mengajar. Djamarah (1994:23) mendefinisikan prestasi belajar sebagai hasil yang diperoleh berupa kesan-kesan yang mengakibatkan perubahan dalam diri individu sebagai hasil dari aktivitas dalam belajar. Kalau perubahan tingkah laku adalah tujuan yang mau dicapai dari aktivitas belajar, maka perubahan tingkah laku itulah salah satu indikator yang dijadikan pedoman untuk mengetahui kemajuan individu dalam segala hal yang diperolehnya di sekolah. Dengan kata lain prestasi belajar merupakan kemampuankemampuan yang dimiliki oleh siswa sebagai akibat perbuatan belajar

atau setelah menerima pengalaman belajar, yang dapat dikatagorikan menjadi tiga ranah, yakni ranah kognitif, afektif, dan psikomotor.

19

Dengan mengkaji hal tersebut di atas, maka faktor-faktor yang dapat mempengaruhi prestasi belajar menurut Purwanto (2000: 102) antara lain: (1) faktor yang ada pada diri organisme itu sendiri yang dapat disebut faktor individual, seperti kematangan/pertumbuhan, kecerdasan, latihan, motivasi, dan faktor pribadi, (2) faktor yang ada diluar individu yang disebut faktor sosial., seperti faktor keluarga/keadaan rumah tangga, guru dan cara mengajamya, alat-alat yang dipergunakan dalam belajarmengajar, lingkungan dan kesempatan yang tersedia dan motivasi sosial. Dalam penelitian ini factor ke 2 yaitu factor yang dari luar seperti guru dan cara mengajarnya yang akan menentukan prestasi belajar siswa. Guru dalam hal ini adalah kemampuan atau kompetensi guru, pendidikan dan lain-lain. Cara mengajarnya itu merupakan factor kebiasaan guru itu atau pembawaan guru itu dalam memberikan pelajaran. Juga dikatakan oleh Slamet (2003: 54-70) bahwa faktor-faktor yang mempengaruhi belajar banyak jenisnya, tetapi dapat digolongkan menjadi dua golongan saja, yaitu faktor intern dan faktor ekstem. Faktor intern diklasifikasi menjadi tiga faktor yaitu: faktor jasmaniah, faktor psikologis dan faktor kelelahan. Faktor jasmaniah antara lain: kesehatan, cacat tubuh. Faktor psikologis antara lain: intelegensi, perhatian, minat, bakat, motif, kematangan, kesiapan. Faktor kelelahan antara lain: kelelahan jasmani dan rohani. Sedangkan faktor ekstern digolongkan menjadi tiga faktor yaitu: faktor keluarga, faktor sekolah, faktor masyarakat. Faktor keluarga antara lain: cara orang tua mendidik, relasi antara keluarga, suasana rumah tangga dan keadaan ekonomi keluarga. Faktor sekolah antara lain: metode mengajar, kurikulum, relasi guru dengan siswa, relasi siswa dengan siswa, disiplin sekolah, pelajaran dan waktu sekolah, standar pelajaran, keadaan gedung, metode belajar dan tugas rumah. Faktor masyarakat antara lain: kegiatan siswa dalam masyarakat, mass media, teman bergaul, bentuk kehidupan masyarakat. Peningkatan prestasi belajar yang penulis teliti dalam hal ini dipengaruhi oleh factor ekstern yaitu metode mengajar guru. Sardiman (1988: 25) menyatakan prestasi belajar sangat vital dalam dunia pendidikan, mengingat prestasi belajar itu dapat berperan sebagai

20

hasil penilaian dan sebagai alat motivasi. Adapun peran sebagai hasil penilaian dan sebagai alat motivasi diuraikan seperti berikut. Dalam pembahasan sebelumnya telah dibicarakan bahwa prestasi belajar adalah hasil penilaian pendidikan tentang kemajuan prestasi siswa setelah melakukan aktivitas belajar. Ini berarti prestasi belajar tidak akan bisa diketahui tanpa dilakukan penilaian atas hasil aktivitas belajar siswa. Fungsi prestasi belajar bukan saja untuk mengetahui sejauhmana kemajuan siswa setelah menyelesaikan suatu aktivitas, tetapi yang lebih penting adalah sebagai alat untuk memotivasi setiap siswa agar lebih giat belajar, baik secara individu maupun kelompok. Dalam pembahasan ini akan dibicarakan mengenai prestasi belajar sebagai hasil penilaian dan pada pembahasan berikutnya akan dibicarakan pula prestasi belajar sebagai alat motivasi. Prestasi belajar sebagai hasil penilaian sudah dipahami. Namun demikian untuk mendapatkan pemahaman, perlu juga diketahui, bahwa penilaian adalah sebagai aktivitas dalam menentukan rendahnya prestasi belajar itu sendiri. Abdullah (dalam Mamik Suratmi, 1994: 22), mengatakan bahwa fungsi prestasi belajar adalah: (a) sebagai indikator dan kuantitas pengetahuan yang telah dimiliki oleh pelajar, (b) sebagai lambang pemenuhan keingintahuan, (c) informasi tentang prestasi belajar dapat menjadi perangsang untuk peningkatan ilmu pengetahuan dan (d) sebagai indikator daya serap dan kecerdasan murid. Mohammad Surya (1979), mengatakan bahwa faktor-faktor yang mempengaruhi prestasi belajar dapat dilihat dari berbagai sudut pandang, antara lain dari sudut si pebelajar, proses belajar dan dapat pula dari sudut situasi belajar. Bila kita coba lihat lebih dalam dari pendapat di atas, maka prestasi belajar dipengaruhi banyak faktor. Faktor-faktor dari si pebelajar sendiri atau faktor dalam diri siswa dan faktor luar. Faktor dalam diri siswa seperti IQ, motivasi, etos belajar, bakat, keuletan, berpengaruh pada prestasi belajar siswa. dan lain-lain sangat

21

Penjelasan Surya selanjutnya adalah: dari sudut si pembelajar (siswa), prestasi belajar seseorang dipengaruhi antara lain oleh kondisi kesehatan jasmani siswa, kecerdasan, bakat, minat, motivasi, penyesuaian diri dan kemampuan berinteraksi siswa. Sedangkan yang bersumber dari proses belajar, maka kemampuan guru dalam mengelola proses pembelajaran sangat menentukan prestasi belajar siswa. Guru yang menguasai materi pelajaran dengan baik, menggunakan metode dan media pembelajaran yang tepat, mampu mengelola kelas dengan baik dan memiliki kemampuan untuk menumbuhkembangkan motivasi belajar siswa untuk belajar, akan memberi pengaruh yang positif terhadap prestasi belajar siswa. Sedangkan situasi belajar siswa, meliputi situasi lingkungan keluarga, sekolah dan masyarakat sekitar. Dari uraian di atas, dapat disimpulkan bahwa prestasi belajar adalah hasil yang dicapai siswa setelah melakukan kegiatan belajar yang berbentuk angka sebagai simbol dari ketuntasan belajar bidang studi sejarah. Prestasi belajar ini sangat dipengaruhi oleh factor luar yaitu guru dan metode. Hal inilah yang menjadi titik perhatian peneliti di lapangan. Terkait dengan penelitian ini, untuk mengukur prestasi belajar ................... digunakan tes hasil belajar, dengan mengacu pada materi pelajaran .................. pada Kurikulum Tingkat Satuan Pendidikan (KTSP) yang berlaku di sekolah ini.

D. Kerangka Berpikir Kemampuan menampilkan sesuatu yang baik di depan orang lain bukan merupakan hal yang gampang untuk dilakukan. Hal ini memerlukan pelatihanpelatihan yang perlu dimatangkan, dilatih, diulang serta dicoba beberapakali tampilan. Kemampuan menampilkan sesuatu yang baik tentu memerlukan bimbingan orang lain, dalam hal ini adalah bimbingan guru terhadap siswanya. Apabila guru telah melakukan inovasi-inovasi untuk mematangkan siswanya memperoleh kemampuan yang diharapkan dalam menampilkan sesuatu tentu dapat diharapkan para siswa akan memiliki kebiasaan-kebiasaan,

22

keterampilan-keterampilan yang dibutuhkan. Untuk dapat terwujudnya apa yang diharapkan tersebut, inovasi langkah-langkah yang diupayakan guru akan dapat memecahkan permasalahan yang ada. Langkah-langkah Co-Op Co-Op tersebut meliputi: diskusi kelas yang terpusat pada siswa, pemilihan tim belajar, pemilihan topik, pemilihan mini topik, persiapan mini topik, presentasi mini topik, persiapan presentasi tim, presentasi tim, dan evaluasi. Dasar berpikir inilah yang dijadikan acuan dalam memecahkan masalah yang sedang diteliti.

E. Hipotesis Tindakan Melihat langkah-langkah model pembelajaran Co-Op Co-Op yang ampuh dalam memecahkan masalah yang ada, yang lebih diyakini lagi dengan kebenaran teori yang disampaikan, maka hipotesis tindakan ini dapat dirumuskan seperti berikut: Langkah-langkah Model Pembelajaran Co-Op Co-Op dapat

Meningkatkan Aktivitas dan Prestasi Belajar Siswa Kelas...... SMA Negeri ...................................

23

BAB III METODOLOGI PENELITIAN

A. Rancangan Penelitian Penelitian yang dilakukan termasuk penelitian tindakan. Oleh karenanya, rancangan yang khusus untuk sebuah penelitian tindakan sangat diperlukan. Penelitian tindakan didasarkan pada filosofi bahwa setiap manusia tidak suka atas hal-hal yang statis, tetapi selalu menginginkan sesuatu yang lebih baik. Peningkatan diri untuk hal yang lebih baik ini dilakukan terus menerus sampai tujuan tercapai (Suharsimi Arikunto, Suhardjono, Supardi, 2006: 6-7). Dalam melaksanakan penelitian, rancangan merupakan hal yang sangat penting untuk disampaikan. Tanpa rancangan, bisa saja alur penelitian akan ngawur dalam pelaksanaannya. Untuk penelitian ini penulis memilih rancangan penelitian tindakan yang disampaikan oleh ........................ seperti terlihat pada gambar berikut.

24

Model No. 1 (Model Ebbut) (Desain 1) Model Ebbut merupakan salah satu model PTK yang dikembangkan oleh Dave Ebbut. Gambar 1 Penelitian Tindakan Model Ebbut (1985)
IDE AWAL

Temuan dan Analisa

D A U R

Rencana Umum
Langkah Tind. 1 Langkah Tind. 2 Langkah Tind. 3 Minitor Implementasi dan Efeknya Implementasi Langkah Tindk. 1

Penjelasan kegagalan untuk implementasi

Revisi rencana umum

Rencana diperbaiki Langkah Tind. 1 Langkah Tind. 2 Langkah Tind. 3

D A U R

Monitor implementasi dan efek

Implementasi langkah berikut

Jelaskan setiap implementasi dan efek

Revisi ide umum Rencana diperbaiki Langkah Tind. 1

D A U R Monitor implementasi dan efek Implementasi langkah berikut Langkah Tind. 2 Langkah Tind. 3

25

Model No. 2 (Kemmis dan Mc. Taggart) (Desain 2)

Gambar 2 Penelitian Tindakan Model Spiral (Kemmis & Mc Taggart, 1988)

Plan
R 4 1

Plan

E F L E 2

C T

T 8

Plan
5

Plan

R E F L

E C T

Sebagai alur PTK, Kemmis dan Mc. Taggart memberi contoh sebagai
A

berikut: 1. Siswa mengira bahwa sain sekedar mengingat fakta dan bukan proses inkuiri. Bagaimana saya dapat merangsang inkuiri pada siswa? Apakah dengan mengubah teknik bertanya? Teknik bertanya yang sama?

Menukar strategi bertanya agar siswa dapat menggali jawaban atas pertanyaan sendiri.

26

Model No. 3 (Elliot) (Desain 3)

Gambar 3 Penelitian Tindakan Model Elliot (1991)

Ide Umum

Memperbaiki/ Mengubah

Reconnaissance

Pengintaian/ Peninjauan

Rencana Menyeluruh

Rencana Menyeluruh

Rencana Menyeluruh

Tindakan 2 dst

Tindakan 1

Tindakan 3 dst

atau

Monitor dan reconnaissance

atau

atau

Tindakan 2 dst

Ada hal-hal penting yang perlu diperhatikan dalam memahami langkahlangkah yang ada di dalam model PTK yang dikembangkan oleh Ebbut, Elliot, dan Kemmis. Bila guru akan menerapkan atau mengadopsi untuk penelitian tindakan kelas.

27

Model No. 4 (Mc. Kernan) (Design 4)

Gambar 4 Penelitian Tindakan Model Mc. Kernan ((1991)

TINDAKAN DAUR I Tindakan perlu perbaikan

DAUR 2

dst
Penerapan Definisi masalah Penerapan Redefine problem

Evaluasi tindakan

Need assessement

Evaluate action

Need assessement

Implementasi tindakan

Hipotesis ide

Impl. Revise plan

New hypothesis

Develop action plan T 1

Revise action plan T 2

Diadopsi dari (Sukidin, Basrowi, Suranto, 2002: 46 54) Perlu diketahui bahwa sebenarnya model-model ini lebih memberikan gambaran garis besar proses daripada suatu teknologi. Urutan langkah-langkah memang diperlihatkan, tetapi hanya sedikit sekali yang menyinggung soal apanya dan bagaimana antara langkah-langkah ini. Tidak mengherankan kalau model-model ini dapat membingungkan para praktisi. Bahkan Ebbut sendiri mengakui bahwa gambar Elliot cenderung sulit untuk dimengerti.

28

Model No. 5

Gambar 5. Rancangan Penelitian Perencanaan Tindakan I Pelaksanaan Tindakan I

Permasalahan

Siklus I Refleksi I Permasalahan baru hasil refleksi Perencanaan Tindakan II Pelaksanaan Tindakan II Pengamatan/ Pengumpulan Data I

Siklus II Refleksi II Pengamatan/ Pengumpulan Data II

Apabila permasalahan belum terselesaikan

Dilanjutkan ke siklus berikutnya

Diadopsi dari Suharsimi Arikunto, Suhardjono, Supardi (2006)

29

B. Subjek dan Objek Penelitian 1. Subjek Penelitian Subjek penelitian ini adalah semua siswa kelas......... SMA Negeri ................................... Untuk lebih jelasnya dapat dilihat pada tabel berikut. Tabel 01. Nama-nama siswa Kelas ..... SMA Negeri .......................... No 1 2 3 4 5 6 7 8 9 10 11 12 13 14 15 16 17 18 19 20 21 22 23 24 25 26 27 28 29 30 Nama Siswa Abdurrahman Saleh

2. Objek Penelitian Yang menjadi objek penelitian ini adalah peningkatan aktivitas dan prestasi belajar siswa kelas ....... SMA Negeri ............................. setelah diterapkan model Co-Op Co-Op dalam proses pembelajaran.

30

C. Waktu Penelitian Penelitian ini dilakukan dari bulan .................... sampai bulan

...................... Sebagai gambaran dari pelaksanaan penelitian ini dapat dilihat pada tabel berikut:

31

Tabel 02. Jadwal Penelitian No 1. Penyusunan Kegiatan proposal dan 1 2 3 4 1 2 3 4 1 2 3 4 1 2 3 4 1 2 3 4 1 2 3 4 1 2 3 4

perencanaan tindakan I 2. Pelaksanaan tindakan I 3. Pengamatan/pengumpulan data I 4. Refleksi I

5. Perencanaan tindakan II 6. Pelaksanaan tindakan II 7. Pengamatan/ pengumpulan data II 8. Refleksi II 9. Penulisan laporan/ penjilidan

32

D. Metode Pengumpulan Data Untuk mengumpulkan data penelitian ini digunakan observasi dan tes prestasi belajar.

E. Metode Analisis Data Metode yang digunakan untuk menganalisis data hasil penelitian ini

adalah metode deskriptif baik untuk data kualitatif maupun untuk data kuantitatif. Untuk data kualitatif dianalisis dengan memberi pertimbanganpertimbangan, memberi komentar-komentar, mengklasifikasikan data,

mencocokan dengan validitas internal dan validitas eksternal, mencari hubungan-hubungan, mencari perbandingan-perbandingan, mengkategorikan data dan selanjutnya membuat kesimpulan refleksi dengan mencari makna dari kesimpulan hubungan antarkategori. Sebelum melakukan analisis kualitatif sebaiknya kita mencoba melihat pendapat para ahli analisis. Menurut Matthew B. Miles dan A. Michael Hubberman (1992: 390), dalam penelitian kualitatif cendrung diabaikan. Ini terjadi karena inti penelitian kualitatif adalah menjangkau sesuatu yang lebih dari sekedar, yang dapat dikatakan kepada kita akan pentingnya kualitas tersebut. Selanjutnya dikatakan, akan tetapi sebagaimana yang kita perhatikan sebelumnya, terjadi banyak perhitungan pada saat penentuan kualitas dibuat. Jadi dalam penelitian kualitatif perlu diketahui, yang pertama-tama adalah bahwa kita juga menghitung. Untuk data kuantitatif dianalisis dengan mencari mean, median, modus, standar deviasi, membuat interval kelas dan melakukan penyajian dalam bentuk tabel dan grafik.

33

F. Kisi-kisi dan Instrumen Penelitian 1. Kisi-kisi Instrumen Penelitian Tabel 2. Kisi-kisi Tes Prestasi Belajar
No Standar Kompetensi Kompetensi Dasar Materi Indikator Bentuk Tes

2. Instrumen Penelitian Instrumen Penilaian Prestasi Belajar Siswa Instrumen yang digunakan untuk menilai prestasi belajar siswa kelas......... adalah tes. Tes ini terdiri dari...... soal dengan bentuk tes adalah......., seperti terlihat di bawah ini.

34

Tes Prestasi Belajar :..................... Hari/Tanggal Petunjuk : : Jawablah ...................................

35

G. Indikator Keberhasilan Penelitian Dalam penelitian ini diusulkan tingkat keberhasilan per siklus yaitu untuk prestasi belajar siswa diharapkan pada siklus I mencapai nilai 6,5 dan pada siklus II mencapai nilai 8,5.

36

BAB IV HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN

A. Hasil Penelitian Pada bagian ini, akan dipaparkan data yang diperoleh dari penelitian tindakan ini secara rinci berdasarkan penelitian yang dilakukan di SMA Negeri ................................ Sebelum menyampaikan hasil-hasil penelitian ada baiknya dilihat dahulu pendapat para ahli pendidikan berikut: dalam menyampaikan hasil penelitian dan pembahasan, perlu menyajikan uraian masing-masing siklus dengan data lengkap mulai dari perencanaan, pelaksanaan, pengamatan dan refleksi yang berisi penjelasan tentang aspek keberhasilan dan kelemahan yang terjadi. Perlu ditambahkan hal yang mendasar, yaitu hasil pembahasan (kemajuan) pada diri siswa, lingkungan, guru, motivasi dan aktivits belajar, situasi kelas dan hasil belajar, kemukakan grafik dan tabel hasil analisis data yang menunjukkan perubahan yang terjadi disertai pembahasan secara sistimatis dan jelas (Suharsimi Arikunto, Suhardjono, Supardi, 2006: 83). Melihat paparan ini jelaslah apa yang harus dilihat dalam Bab ini yaitu menulis lengkap mulai dari apa yang dibuat sesuai perencanaan, hasilnya apa, bagaimana pelaksanaanya, apa hasil yang dicapai, sampai pada refleksi berikutnya semua hasilnya. Oleh karenanya pembicaraan pada bagian ini dimulai dengan apa yang dilakukan dari bagian perencanaan. 1. Siklus I 1. Rencana Tindakan I Hasil yang didapat dari kegiatan perencanaan meliputi: a. Peneliti membuat Rencana Pelaksanaan Pembelajaran (RPP) yang akan dilaksanakan dengan metode Co-Op Co-Op sepeti terlihat pada lampiran 8. Berdasar hasil awal kemampuan siswa kelas..... yang tertera pada latar belakang, peneliti merencanakan kegiatan yang lebih intensif seperti berkonsultasi dengan teman-teman guru dan kepala sekolah tentang persiapan pelaksanaan pembelajaran menggunakan metode Co-Op Co-Op .

37

b. Menentukan waktu pelaksanaan, yang menyangkut hari, tanggal, sesuai dengan jadwal penelitian yaitu pada minggu ke..... bulan.... c. Meminta kepada teman-teman guru bidang studi sejenis dan kepala sekolah sebagai mitra kesejawatan dalam pelaksanaan RPP yang sudah direncanakan. Hasilnya adalah kesiapan teman-teman guru untuk ikut melaksanakan supervisi kunjungan kelas. d. Menentukan yang menjadi prinsip supervisi teknik kunjungan kelas. Hasilnya adalah format-format perencanaan teknik

kunjungan kelas untuk penilaian guru (terlampir di lampiran 7). e. Sebelum masuk kelas, peneliti meminta guru untuk membawa lembar penilaian yang berisikan tentang penilaian proses pembelajaran. Berdasar format yang sudah dibawa guru, peneliti melakukan pembelajaran sesuai rencana pelaksanaan pembelajaran yang telah dibuat. Hal-hal yang perlu diperhatikan dalam melakukan supervisi kelas adalah: a) Supervisor sudah diberitahu terlebih dahulu untuk memahami metode pembelajaran yang menggunakan Co-Op Co-Op dan kehadirannya di kelas bukan mencari kesalahan, tetapi untuk kepentingan bersama yaitu memperbaiki pembelajaran. b) Supervisor telah diberitahu untuk lebih memahami tentang prinsip-prinsip supervisi sehingga tidak lagi cenderung instruktif dan lebih bersahabat dengan prinsip kesejawatan. c) Dalam pelaksanaan supervisi, supervisor diharapkan

menunjukkan rasa kesejawatan yang akrab. d) Guru yang disupervisi diharap tidak selalu memperhatikan supervisor, tetapi tetap berkonsentrasi pada pelaksanaan pembelajaran. f. Peneliti memberikan penjelasan pada siswa bahwa kehadiran supervisor ke kelas bukan untuk mencari kesalahan atau kelemahan guru dalam pembelajaran, tapi untuk meningkatkan kemampuan menguasai ilmu.

38

g. Memperbanyak jumlah/frekuensi kunjungan kelas dalam siklus berikutnya sehingga kedekatan supervisor dengan guru dan siswa akan terjalin dengan baik. h. Merencanakan bahan pelajaran dan merumuskan tujuan.

Menentukan bahan pelajaran, dengan cara menyesuaikan dengan silabus yang berlaku dan penjabarannya dengan cukup baik. i. Memilih dan mengorganisaasikan materi, media, dan sumber belajar. Pada siklus pertama ini, peneliti mengorganisasikan materi pembelajaran dengan baik. Urutan penyampaiannya dari yang mudah ke yang sulit, cakupan materi cukup bermakna bagi siswa, menentukan alat bantu mengajar. Sedangkan dalam penentuan sumber belajar sudah disesuaikan dengan tujuan, materi

pembelajaran dan tingkat perkembangan peserta didik. j. Merancang skenario pembelajaran. Skenario pembelajaran disesuikan dengan tujuan, materi dan tingkat perkembangan siswa, diupayakan variasi dalam

penyampaian. Susunan dan langkah-langkah pembelajaran sudah disesuaikan dengan tujuan, materi, tingkat perkembangan siswa, waktu yang tersedia, sistematiknya adalah menaruh siswa dalam posisi sentral, mengikuti perubahan strategi pendidikan dari pengajaran ke pembelajaran sesuai Permen Diknas No. 41 Tahun 2007.

2. Pelaksanaan Tindakan I a. Pengelolaan Kelas Mengelola kelas dengan persiapan yang matang, mengajar materi dengan benar sesuai perencanaan di RPP. b. Alat Penilaian Pembahasan dan jenis penilaian, terlampir di RPP berikut format penilaian, memulai dengan pembukaan, pembelajaran inti, pembelajaran penutup dan dilanjutkan dengan penilaian. 39

c. Penampilan Penampilan secara umum, peneliti berpakaian rapi, menggunakan bahasa yang santun, menuntun siswa semaksimal mungkin dengan penggunaan metode Co-Op Co-Op, peneliti mengupayakan strategi agar mudah mengamati siswa yang sedang belajar. Setelah pembelajaran selesai dilakukan, dilanjutkan dengan mengadakan pertemuan dengan guru yang mengawasi proses pembelajaran untuk mendiskusikan hasil pengamatan d. Dari diskusi dengan guru, terungkap bahwa: 1. Pembelajaran yang dilakukan belum maksimal, karena peneliti baru pertamakali mencoba metode ini. 2. Siswa-siswa memang belum aktif menerima pelajaran dan memberi tanggapan, ini sesuai dengan tujuan metode Co-Op Co-Op. 3. Peneliti mengusulkan agar guru yang mengamati mau kembali dan bersedia mengamati kembali pada kesempatan di siklus II. 4. Untuk sementara, peneliti belum yakin bahwa pelaksanaan supervisi kunjungan kelas akan meningkatkan aktivitas dan prestasi belajar siswa, tetapi menurut pengamat, cara yang dilakukan peneliti cukup mampu mendorong meningkatkan kreativitas dan prestasi belajar. 5. Penyampaian pengamat pada peneliti dapat disampaikan sebagai berikut: Pengelolaan ruangan, waktu, dan fasilitas belajar Dalam mengelola ruang kelas, waktu serta fasilitas belajar, dapat dipaparkan sebagai berikut: 1) 2) Peneliti menyediakan alat bantu/media pembelajaran. Peneliti kurang memperhatikan kebersihan papan tulis, kebersihan seragam siswa, dalam hal lain yang berguna untuk menumbuhkan motivasi belajar dan disiplin siswa. 3) Peneliti belum begitu baik dalam waktu. Memulai pelajaran tidak tepat waktu akibat hal-hal tertentu. 40

6. Penggunaan strategi pembelajaran 1) Jenis kegiatan sesuai dengan tujuan serta lingkungan siswa. Namun, guru kurang memperhatikan kebutuhan siswa, guru masih menerapkan gaya pembelajaran tradisional. Guru juga kurang memperhatikan disiplin siswa. Banyak siswa yang tidak memperhatikan

penjelasan guru. 2) Guru sama sekali tidak menggunakan alat bantu pelajaran, walaupun sekolah telah menyediakannya. 3) Dalam menjelaskan pelajaran, guru kurang

memperhatikan keterkaitan materi yang satu dengan materi yang lain. Guru tidak memberikan kesimpulan dan tindak lanjut pada akhir pelajaran. 4) Kelebihannya, guru telah menggunakan cara

pembelajaran yang baru yaitu Co-Op Co-Op. 7. Pengelolaan interaksi kelas 1) Penjelasan guru cukup dimengerti oleh siswa. Hal ini bisa dilihat dari respon siswa. Jika ada siswa yang belum mengerti, guru berusaha menjelaskan ulang. 2) Dalam bertanya, guru menggunakan kata atau tindakan yang mengurangi keberanian siswa untuk bertanya atau menjawab pertanyaan guru. Guru mengabaikan partisipasi aktif siswa. 3) Dalam menyajikan pelajaran, guru menggunakan

komunikasi lisan, tulisan, isyarat, token atau gerakan badan. Pembicaraan guru cukup lancar dan dimengerti siswa, namun gerakan badan atau tangan guru kurang menunjukkan keantusiasan dalam mendorong siswa untuk berpartisipasi aktif. 4) Guru tidak membantu siswa dalam mengingat kembali pengalaman atau pengetahuan yang telah diperoleh siswa dan kurang memberikan peluang kepada siswa yang pasif 41

untuk berpartisipasi. Guru tidak memberi pertanyaan yang menggali reaksi siswa. Cara guru merespon siswa yang berpartisipasi aktif masik kurang baik. 5) Dalam mengakhiri pelajaran, guru kurang mengupayakan kesimpulan yang lengkap. Guru juga kurang melibatkan siswa dalam membuat kesimpulan. Dengan demikian, pembelajaran kurang bermakna bagi siswa. 8. Sikap guru 1) Dalam kegiatan pembelajaran, kadang-kadang guru kurang bersikap ramah. Guru kurang menunjukkan sikap bersahabat dengan siswa. Dalam menegur siswa yang berbuat salah, guru menggunakan kata yang kurang sopan. Jika ada pendapat siswa yang kurang sesuai dengan pendapat guru, guru langsung menepis begitu saja. 2) Guru sangat bergairah dalam mengajar. Hal itu terlihat dari ekspresi wajah dan pandangan matanya. Tetapi, suara monotun, isyarat tangan dan gerakan tubuh kurang beraturan. 3) Dalam membantu siswa yang menghadapi kesulitan, bantuan guru kurang maksimal. Guru juga tidak mendorong siswa untuk memecahkan masalah sendiri. 4) Guru tidak memperhatikan perbedaan individual siswa. Guru tidak memberi perhatian khusus kepada siswa yang memiliki kelainan, misalnya yang suka usil, pembohong yang pura-pura ikut bekerjasama, tapi dia ngomong lainlain dari pelajaran. Guru juga tidak memberikan penghargaan kepada siswa yang memiliki kelebihan. Guru tidak membina kerjasama diantara siswa. 9. Pelaksanaan penilaian Guru mengadakan apersepsi penilaian awal sehingga guru mengetahui kesiapan siswa terhadap materi pelajaran yang

42

akan diajarkan. Penilaian juga dilakukan dalam proses pembelajaran. 10. Kesan umum dalam proses 1) Penggunaan Bahasa Indonesia sebagai bahasa pengantar cukup jelas, tetapi kurang baku karena bercampur dengan bahasa daerah. Demikian juga Tata Bahasa Indonesianya kurang baik. 2) Penampilan guru dilihat dari perkataan, rambut dan perlengkapan yang lain cukup rapi. Suara cukup jelas tetapi kurang bervariasi. Posisi guru juga kurang ada variasi.

3. Refleksi Siklus I Sebelum memulai refleksi, ada baiknya melihat pendapat para pakar pendidikan tentang apa yang dimaksud dengan refleksi. Pendapat ini akan merupakan panduan terhadap cara atau hal-hal yang perlu dalam menulis refleksi. Refleksi merupakan kajian secara menyeluruh tindakan yang telah dilakukan berdasarkan data yang telah terkumpul, kemudian dilakukan evaluasi guna menyempurnakan tindakan. Refleksi menyangkut analisis, sintesis, dan penilaian terhadap hasil pengamatan atas tindakan yang dilakukan (Hopkin, 1993 dalam Suharsimi Arikunto, Suhardjono, Supardi, 2006: 80). 1) Analisis kuantitatif prestasi belajar siswa siklus I Sesuai data pada lampiran .......... 1. Rata-rata (mean) yang diperoleh adalah................................. 2. Median (titik tengahnya) adalah ............................................ 3. Modus (angka yang paling banyak muncul).............................. 4. Standar deviasi dihitung dengan rumus: SD SD SD = = = 1,549 43

No

Nama Siswa

Nilai (X)

(X-x)

(X-x)2

X 5. Untuk persiapan penyajian dalam bentuk grafik maka hal-hal berikut dihitung terlebih dahulu. 1. Banyak kelas (K) = 1 + 3,3 x Log (N) = ........ 2. Rentang kelas (r) = skor maksimum skor minimum 3. Panjang kelas interval (i) = 4. Tabel data kelas interval
No Urut Interval Nilai Tengah Frekuensi Absolut Frekuensi Relatif

1 2 3 4

4.0 4.95 5.0 5.95 6.0 6.9 7.0 8.0 Total

3 1 3 3 ...........

30 10 30 30 100 x 100

Frekuensi Relatif = 5. Penyajian dalam bentuk grafik/histogram Contoh Histrogram


10 9 8 7 6 5 4 3 2 10 0 4 5 6 7 8

Grafik 01. ....................................................... 44

Untuk penyajian tabel rekapitulasi hasil penelitian ini sekaligus disampaikan pada akhir analisis refleksi siklus II.

2. Siklus II 1. Perencanaan Dengan melihat semua hasil yang didapat pada siklus I, baik refleksi data kualitatif maupun refleksi data kuantitatif, maka untuk perencanaan pelaksanaan penelitian di siklus II ini ada beberapa hal yang perlu dilakukan yaitu: a. Peneliti merencanakan kembali jadwal untuk melakukan

pembelajaran di kelas dengan melihat jadwal penelitian pada Bab III dan waktu dalam kalender pendidikan. Hasil dari refleksi siklus i merupakan dasar dari pembuatan perencanaan di siklus ini. b. Menyusun rencana pelaksanaan pembelajaran yang baik serta

membuat instrumen pengumpulan data. Instrumen pengumpulan data yang dibuat seperti instrumen-instrumen sebelumnya yang meliputi instrumen observasi keaktifan belajar dan instrumen tes prestasi belajar. c. Merencanakan kunjungan kelas bersama-sama guru dan kepala sekolah sebagai upaya trianggulasi data. Untuk ini peneliti berkonsultasi dengan kepala sekolah, minta kesediaannya untuk ikut proses pembelajaran yang dilakukan. Inovasi ini dilakukan agar peneliti dapat berupaya lebih maksimal untuk melaksanakan pembelajaran yang lebih baik dan lebih berkualitas. Hasil konsultasi dengan kepala sekolah adalah adanya kesiapan kepala sekolah untuk ikut melakukan supervisi kunjungan kelas. Guru yang akan mengobservasi diberitahu bahwa kepala sekolah akan ikut berpartisipasi, masuk ke ruangan untuk bersama-sama melakukan supervisi. Hal ini diberitahukan pada guru dengan harapan agar guru yang akan mengobservasi bisa lebih siap lagi untuk melakukan supervisi yang lebih berkualitas.

45

d. Bersama guru merancang skenario penerapan pembelajaran dengan melihat kekurangan-kekurangan yang ada pada siklus I dengan mengidentifikasi hal-hal yang bisa dilakukan untuk peningkatan pembelajaran. Untuk hal ini, semua catatan tentang kekurangan yang ada di siklus I yang merupakan hasil refleksi disampaikan pada guru untuk dipelajari. Memberitahu guru apa-apa yang perlu dilaksanakan, apa saja yang siswa mesti kerjakan, cara penerapan metode Co-Op Co-Op yang benar sesuai dengan yang diharapkan.

2. Pelaksanaan Tindakan Uraian tentang pelaksanaan tindakan pada siklus II ini disampaikan sebagai berikut: a. Pada hari yang sudah ditentukan sesuai jadwal, peneliti memulai tahap pelaksanaan tindakan dengan membawa semua persiapan yang sudah dibuat. Terkait Co-Op Co-Op mulai diupayakan dalam pembelajaran, pada kali yang kedua ini peneliti mengajak kepala sekolah untuk ke kelas dan ikut melakukan pengamatan. Hal ini dilakukan dengan harapan peneliti akan lebih bersemangat untuk dapat melaksanakan pembelajaran lebih serius. Dengan kepala sekolah ikut mengamati berarti ada orang lain yang mesti dilihat oleh siswa yang akan menimbulkan keseriusan mereka yang lebih dari biasanya. Peneliti membawa instrumen pengamatan observasi keaktifan belajar dan instrumen tes prestasi belajar. Setelah masuk kelas bersama guru yang akan mengamati proses pembelajaran memulai aktivitas pembelajaran sambil mempersilahkan kepala sekolah dan guru yang mengamati duduk di bangku paling belakang yang sudah disediakan. Setelah pelaksanaan

pembelajaran berjalan, tiba-tiba kepala sekolah dicari oleh pegawainya karena ada urusan kantor, sehingga pengamatan melaksanakan pembelajaran hanya dilanjutkan oleh guru yang penulis minta untuk mengobservasi proses selanjutnya. Di

belakang, guru yang mengamati proses pembelajaran sangat aktif 46

menulis hal-hal yang terjadi di kelas untuk memberi penilaian terhadap kemampuan dan profesionalisme guru sedangkan di depan kelas peneliti sibuk dengan pelaksanaan pembelajaran yang dilaksanakan di kelas. Pada pembelajaran inti peneliti

melaksanakan explorasi, elaborasi dan konfirmasi dengan membagi siswa menjadi kelompok-kelompok kecil untuk siap menerima pembelajaran, dan terakhir peneliti melaksanakan penutupan pembelajaran. Untuk pelaksanaan explorasi, elaborasi dan

konfirmasi bagian-bagiannya cukup banyak dan penulis tidak paparkan panjang lebar karena kegiatan yang mesti dilakukan seperti diskusi, presentasi dan lain-lain sudah bisa dibaca pada instrumen rencana pelaksanaan pembelajaran yang dilampirkan di lampiran 8.

3. Observasi/Penilaian Penilaian terhadap aktivitas belajar siswa dilakukan pada saat peneliti melakukan tindakan. Peneliti menilai keaktifan belajar siswa sesuai format penilaian aktivitas belajar yang dibawa. Dari catatancatatan yang cepat tersebut penulis mengetahui dibagian mana diperbaiki, dibagian mana diperlukan penekanan-penekanan, dibagian mananya perlu diberi saran-saran serta penguatan-penguatan.

Disamping itu pada catatan cepat yang dilakukan peneliti, dicatat juga kreativitas siswa, kemauan siswa untuk ikut berpartisipasi dalam pembelajaran, kontribusi diantara para siswa. Apabila semua ini

terlaksana dengan baik sudah pasti guru dalam melaksanakan tugas pembelajaran akan cukup profesional. Pelaksanaan penilaian akhirnya dilanjutkan minggu depannya karena setelah guru melakukan proses pembelajaran, waktu untuk memberikan tes tidak mencukupi sehingga dilaksanakan pada pertemuan selanjutnya.

47

4. Refleksi Siklus II Analisis Kuantitatif untuk Perolehan Nilai Tes Prestasi Belajar Siklus II Sesuai data pada lampiran 13. 1. Rata-rata (mean) hasil tes prestasi belajar siswa adalah ............ 2. Median (titik tengahnya) adalah ............................................ 3. Modus (atau angka yang paling sering muncul) adalah....... 4. Standar deviasinya adalah: ............................ 5. Untuk menyajikan data tersebut dalam bentuk grafik maka dilakukan perhitungan-perhitungan sebagai berikut: 1) Banyak kelas dihitung dengan rumus STURGES: K = 1 + 3,3 x log N = ....................... = ....................... = ....................... 2) Rentangan dihitung dengan: r = skor maksimum skor minimum = ................ - ................ = ............. 3) Panjang kelas interval dihitung dengan: i i = = ...................

4) Tabel data kelas interval disajikan sebagai berikut: No Urut 1 2 3 4 5 Interval 16 17,20 Nilai Tengah Frekuensi Absolut Frekuensi Relatif

Total

...........

100

48

6. Penyajian dalam bentuk grafik/histogram Contoh Histrogram


100 90 80 70 60 50 40 30 20 10 0 100 200 300 400 500 600 700

Grafik 02. .......................................................

49

Tabel ....... Rekapitulasi Hasil Penelitian dari Siklus I sampai Siklus II Siklus I Variabel Prestasi Belajar Awal Skor ratarata Rata-rata kenaikan % kenaikan Siklus II Skor Rata% ratarata kenaikan rata kenaikan

50

B. Pembahasan 1. Pembahasan Hasil yang Diperoleh dari Siklus I Hal-hal yang perlu diperhatikan dalam pembahasan data kualitatif adalah: kelemahan-kelemahan yang ada, kelebihan-kelebihan, perubahanperubahan, kemajuan-kemajuan, efketivitas waktu, keaktifan yang dilakukan, konstruksi, kontribusi, diskripsi fakta, pengecekan validitas internal dan validitas eksternal, identifikasi masalah, faktor-faktor yang berpengaruh, cara-cara untuk memecahkan masalah, pertimbanganpertimbangan, perbandingan-perbandingan, tambahan pengalaman, komentar-komentar, summary, pendapat-

tanggapan-tanggapan,

pendapat, gambaran-gambaran, interpretasi/penafsiran-penafsiran, makna di belakang perbuatan, trianggulasi, hubungan antaraspek, klasifikasi, standar-standar penetapan nilai, alasan-alasan penggunan teknik tertentu, alasan penggunaan langkah-langkah tertentu, penggolonganpemakaian,

penggolongan,

penggabungan-penggabungan,

tabulasi,

kriteria-kriteria, katagorisasi, pengertian-pengertian, hubungan antar kategori. Hasil tes prestasi belajar yang merupakan tes ....................... memforsir siswa untuk betul-betul dapat memahami apa yang sudah dipelajari. Nilai rata-rata siswa di siklus I sebesar...... menunjukkan bahwa siswa setelah menguasai materi yang diajarkan walaupun belum begitu sempurna. Hasil ini menunjukkan peningkatan kemampuan siswa menguasai mata pelajaran ..................... Apabila dibandingkan dengan nilai awal siswa sesuai data yang sudah disampaikan dalam analisis sebelumnya. Hasil tes prestasi belajar di siklus I telah menemukan efek utama bahwa penggunaan metode tertentu akan berpengaruh terhadap prestasi belajar siswa yang dalam hal ini adalah metode Co-Op Co-Op. Hal ini sesuai dengan hasil meta analisis metode pembelajaran yang dilakukan oleh Soedomo, 1990 (dalam Puger, 2004) yang menyatakan bahwa metode pembelajaran yang diterapkan oleh seorang guru berpengaruh terhadap prestasi belajarnya.

51

Seperti telah diketahui bersama bahwasannya mata pelajaran....... menitikberatkan pembelajaran pada aspek kognitif, .............., dan ....... sebagai pedoman prilaku kehidupan sehari-hari siswa. Untuk penyelesaian kesulitan yang ada maka penggunaan metode ini dapat membantu siswa untuk berkreasi, bertindak aktif, bertukar pikiran, mengeluarkan pendapat, bertanya, berdiskusi, berargumentasi, bertukar informasi dan memecahkan masalah yang ada bersama dengan anggota kelompok diskusinya. Hal inilah yang membuat siswa berpikir lebih tajam, lebih kreatif dan kritis sehingga mampu untuk memecahkan masalah-masalah yang kompleks dan efek selanjutnya adalah para siswa akan dapat memahami dan meresapi mata pelajaran ........... lebih jauh. Kendala yang masih tersisa yang perlu dibahas adalah prestasi belajar yang dicapai pada siklus I ini belum memenuhi harapan sesuai dengan tuntutan KKM mata pelajaran............ di sekolah ini yaitu...... Oleh karenanya upaya perbaikan lebih lanjut masih perlu diupayakan sehingga perlu dilakukan perencanaan yang lebih matang untuk siklus selanjutnya.

2. Pembahasan Hasil yang Diperoleh dari Siklus II Hasil yang diperoleh dari tes prestasi belajar di siklus II menunjukkan bahwa kemampuan siswa dalam mengikuti pelajaran sudah cukup baik. Ini terbukti dari rata-rata nilai siswa mencapai.......... Hasil ini menunjukkan bahwa metode Co-Op Co-Op telah berhasil meningkatkan kemampuan siswa menempa ilmu sesuai harapan. Co-Op Co-Op merupakan model yang cocok bagi siswa apabila guru menginginkan mereka memiliki kemampuan berkreasi, berargumentasi, mengeluarkan pendapat secara lugas, bertukar pikiran, berargumentasi, mengingat penggunaan metode ini adalah untuk memupuk kemampuan berbicara dihadapan orang banyak. Hasil penelitian ini ternyata telah memberi efek utama bahwa model yang diterapkan dalam proses pembelajaran berpengaruh secara signifikan terhadap prestasi belajar siswa. Temuan ini membuktikan bahwa guru 52

sudah tepat memilih metode dalam melaksanakan proses pembelajaran karena pemilihan metode merupakan hal yang tidak boleh

dikesampingkan. Hal ini sejalan pula dengan temuan-temuan peneliti lain seperti yang dilakukan oleh Inten (2004) dan Puger (2004) yang pada dasarnya menyatakan bahwa metode pembelajaran yang diterapkan berpengaruh terhadap prestasi belajar siswa. Mata pelajaran............ menitikberatkan kajiannya pada aspek kognitif, ............. sebagai pedoman atas kemampuan siswa baik pikiran, prilaku maupun keterampilan yang dimiliki. Untuk semua bantuan terhadap hal ini, model Co-Op Co-Op menempati tempat yang penting karena dapat mengaktifkan siswa secara maksimal. Dari nilai yang diperoleh siswa, lebih setengah siswa mendapat nilai ........, ........ siswa memperoleh nilai menengah dan ...... siswa memperoleh nilai rendah. Dari perbandingan nilai ini sudah dapat diyakini bahwa prestasi belajar siswa dapat ditingkatkan dengan penggunaan model Co-Op Co-Op. Walaupun penelitian ini sudah bisa dikatakan berhasil, namun pada saat-saat peneliti mengajar di kelas cara selanjutnya, cara ini akan terus dicobakan termasuk di kelas-kelas lain yang peneliti ajar. Setelah dibandingkan nilai awal, nilai siklus I dan nilai siklus II, terjadi kenaikan yang signifikan, yaitu dari rata-rata nilai awal adalah ..... naik di siklus I menjadi........ dan di siklus II naik menjadi ....... Kenaikan ini tidak bisa dipandang sebelah mata karena kenaikan nilai ini adalah dari upayaupaya yang maksimal yang dilaksanakan peneliti demi peningkatan mutu pendidikan dan kemajuan pendidikan khususnya di SMA Negeri ................................

53

BAB V PENUTUP

A. Simpulan Bertitik tolak dari pemicu rendahnya aktivitas belajar dan prestasi belajar ada pada faktor-faktor seperti metode yang digunakan guru, sehingga penggunaan atau penggantian metode konvensional menjadi metode-metode yang sifatnya konstruktivis sangat diperlukan, akibatnya peneliti mencoba metode Co-Op Co-Op dalam upaya untuk dapat memecahkan permasalahan yang ada. Bertumpu pada rendahnya aktivitas belajar dan prestasi belajar siswa yang disampaikan pada latar belakang masalah, penggunaan model pembelajaran Co-Op Co-Op diupayakan untuk dapat menyelesaikan tujuan penelitian yaitu untuk mengetahui peningkatan prestasi belajar. Seberapa besar peningkatan yang dicapai sudah dipaparkan dengan jelas pada akhir analisis. Dari hasil penelitian yang telah disampaikan di Bab IV dan dengan melihat semua data yang telah dipaparkan, dapat disampaikan bahwa pencapaian tujuan penelitian di atas dapat dibuktikan dengan argumentasi sebagai berikut: Untuk pencapaian tujuan peningkatan prestasi belajar dapat dilihat buktibukti: a. Dari data awal ada ....... siswa mendapat nilai di bawah 25 dan pada siklus I menurun menjadi ...... siswa dan siklus II hanya ....... siswa mendapat nilai 5. b. Dari rata-rata awal ....... naik menjadi ...... pada siklus I dan pada siklus II naik menjadi..... c. Dari data awal siswa yang tuntas hanya ...... orang sedangkan pada siklus I menjadi lebih banyak yaitu ...... siswa dan pada siklus II menjadi cukup banyak yaitu ...... siswa. Dari semua data pendukung pembuktian pencapaian tujuan

pembelajaran dapat disampaikan bahwa model Pembelajaran Co-Op Co-Op dapat memberi jawaban yang diharapkan sesuai tujuan penelitian ini. Semua ini dapat dicapai adalah akibat kesiapan dan kerja keras peneliti dari sejak 54

pembuatan proposal, review hal-hal yang belum bagus bersama teman-teman guru, penyusunan kisi-kisi dan instrumen penelitian, penggunaan sarana trianggulasi data sampai pada pelaksanaan penelitian yang maksimal.

B. Saran Berdasarkan temuan yang sudah disimpulan dari hasil penelitian, dalam upaya mencapai tujuan pembelajaran dalam bidang studi..............................., dapat disampaikan saran-saran sebagai berikut: 1. Dalam melaksanakan proses pembelajaran pada mata pelajaran..............., penggunaan model pembelajaran Co-Op Co-Op semestinya menjadi pilihan dari beberapa metode yang ada mengingat metode ini telah terbukti dapat meningkatkan kerjasama, berkreasi, bertindak aktif, bertukar informasi, mengeluarkan pendapat, bertanya, berdiskusi, berargumentasi dan lain-lain. 2. Walaupun penelitian ini sudah dapat membuktikan efek utama dari model pembelajaran Co-Op Co-Op dalam meningkatkan aktivitas dan prestasi belajar, sudah pasti dalam penelitian ini masih ada hal-hal yang belum sempurna dilakukan, oleh karenanya kepada peneliti lain yang berminat meneliti topik yang sama untuk meneliti bagian-bagian yang tidak sempat diteliti. 3. Selanjutnya untuk adanya penguatan-penguatan, diharapkan bagi peneliti lain untuk melakukan penelitian lanjutan guna verifikasi data hasil penelitian.

55

DAFTAR PUSTAKA

Abdul. 2002. http://www.scribd.com/doc/9037208/ Adnyani, Nyoman. 2002. Kelemahan-Kelemahan Penerimaan Siswa SMP yang Beracuan pada NUAN. Makalah yang Disampaikan dalam Seminar Ilmiah Universitas Mahasaraswati, September 2003. Anastasi, Anne. 1976. Psychological Testing. Fifth Edition. New York: Macmillan Publishing Co., Inc. Ardana, Nengah. 1999. Hubungan antara Motivasi Belajar dan Pola Pemberian Tugas dengan Prestasi Belajar Bidang Studi Fisika pada Siswa SMP Negeri 1 Denpasar. Skripsi. IKIP Mahasaraswati Tabanan. Arikunto, Suharsimi; Suhardjono; Supardi. 2006. Penelitian Tindakan Kelas. Jakarta: PT Bumi Aksara. Aryana, Wayan. 2003. Pengaruh Motivasi Belajar terhadap Prestasi Belajar IPA pada Siswa SMP Negeri 1 Denpasar. Ringkasan Hasil Penelitian yang Disampaikan dalam Seminar Hasil Penelitian Dosen Kopwil VIII, Tanggal 22-24 September 2003. Azwar, Saifuddin. 2003. Penyusunan Skala Psikologi. Yogyakarta: Pustaka Pelajar. Badan Standar Nasional Pendidikan. 2007. Peraturan Menteri Pendidikan Nasional Republik Indonesia Nomor 41 Tahun 2007. Jakarta: BSNP.

Budiadnya, Made. 2004. Ujicoba Model Pembelajaran Generatif dalam Pembelajaran Pendidikan Pancasila dan Kewarganegaraan (PPKn) di SMP Negeri 5 Singaraja. Tesis. Singaraja: Program Pascasarjana IKIP Negeri Singaraja. Budiadnyana, Putu. 2004. Pengaruh Model Pembelajaran Kooperatif Bermodul yang Berwawasan SMK Terhadap Hasil Belajar Biologi (Eksperimen pada Siswa Kelas II SMA di Singaraja). Disertasi. Program Pascasarjana Universitas Negeri Malang. Dahar, Ratna Wilis. 1989. Teori-Teori Belajar. Jakarta: Penerbit Erlangga. Departemen Pendidikan Nasional. 2003. Kurikulum 2004. Jakarta: Depdiknas. Depdiknas. 2002. Co-Op Co-Op . Jakarta: Dirjen Pendidikan Dasar dan Menengah. 56

Depdikbud. 1994. Petunjuk Pelaksanaan Proses Belajar-Mengajar. Jakarta: Direktorat Pendidikan Menengah Umum. -------. 1996. Petunjuk Teknis Mata Pelajaran IPS-Sejarah. Jakarta: Direktorat Pendidikan Menengah Umum. -------. 1984/1985. Program Akta Mengajar V-B Komponen Dasar Kependidikan: Penilaian Program Pendidikan. Jakarta: Universitas Terbuka. Dimyati dan Mudjiono. 2001. Belajar dan Pembelajaran. Jakarta: Dirjen Dikti. Direktorat Tenaga Kependidikan, Direktorat Jendral Peningkatan Mutu Pendidik dan Tenaga Kependidikan. 2008. Metode dan Teknik Supervisi. Jakarta: Depdiknas. Djamarah, Syaful Bahri. 2002. Prestasi Belajar dan Kompetensi Guru. Surabaya: Usaha Nasional. Fernandes, H.J.X. 1984. Testing and Measurement. Jakarta. National Education Planning, Evaluation and Curriculum Development. Fraenkel, Jack R. and Norman E. Wallen. 1993. How to Design and Evaluate Research in Education. Second Edition. New York: McGraw-Hill, Inc. Good, Thomas L. & Jere E. Brophy. 1990. Educational Psychology, A Realistic Approach. New York: Longman. Gagne, Robert M. 1977. The Conditions of Learning. Third Edition. New York: Holt, Reinhart and Winston. Gay, L. R. 1987. Educational Research: Competencies for Analysis and Application. Seventh Edition. Columbus, Ohio: Merrill Publishing Company. Gregory, Robert J. 2000. Psychological Testing: History, Principles, and Applications. Boston: Allyn and Bacon. Gronlund, Norman E. 1982. Constructing Achievement Tests. Third Edition. London: Prentice-Hall, Inc., Englewood Cliffs. Hamalik, Oemar. 2002. Psikologi Belajar dan Mengajar. Bandung: Sinar Baru. Herrhyanto, Nar dan Hamid, Akib. 2006. Statistika Dasar. Jakarta: Universitas Terbuka. Hilke, Eileen Veronica. 1998. Fastback Cooperative Learning. New York: McGraw-Hill, Inc. 57

INTEN, I Gede. 2004. Pengaruh Model Pembelajaran dan Pengetahuan Awal Siswa Terhadap Prestasi Belajar PKN dan Sejarah Pada Siswa Kelas II SMU Laboratorium IKIP Negeri Singaraja. Tesis. Singaraja. Program Pascasarjana IKIP Negeri Singaraja. Irianto, Agus. 1989. Bahan Ajaran Statistika Pendidikan (Buku Kedua). Jakarta: Proyek Pengembangan Lembaga Pendidikan Tenaga Kependidikan. Johnson, David W. and Roger T. Johnson. 1984. Cooperation in the Classroom. Edina,Minnesota: A publication Interaction Book Company. ------- et al. 1984. Circles of Learning. Fairfax, Va.: Association for Supervision and Curriculum Development. ------- and R.T. Johnson. 1987. Learning Together and Alone: Cooperation, Competition, and Individualistic Learning. Englewood Cliffs, N.J.: Prentice-Hall. Lickona, Thomas. 1992. Educating For Character. How Our Schools Can Teach Respect and Responsibility. New York: Bantam Books. Lie, Anita. 2002. Cooperative Learning: Mempraktikkan Cooperative Learning di Ruang-Ruang Kelas. Jakarta: PT Gramedia Widiasarana Indonesia. Maba, Wayan. 2002. Evaluasi Pembelajaran. Makalah yang disampaikan dalam penataran PBM Dosen Kopertis Wilayah VIII, Tanggal 27-30 Oktober 2002. Marhaeni, A.A.I.N. 2005. Pengaruh Asesmen Portofolio dan Motivasi Berprestasi dalam Belajar Bahasa Inggris Terhadap Kemampuan Menulis Bahasa Inggris (Studi Eksperimen pada Mahasiswa Jurusan Pendidikan Bahasa Inggris IKIP Negeri Singaraja, 2004). Desertasi: IKIP Negeri Jakarta. Miles, Matthew, B. Dan A. Michael Hubberman. 1992. Analisis Data Kualitatif. Terjemahan Tjetjep Roheadi Rohidi. Jakarta: Penerbit Universitas Indonesia. Modern Educators and Lexicographers. 1939. Websters New American Detionary. New York: 140 Broadway, Books, Inc. Modern Educators and Lexicographers. 1939. Websters New American Detionary. New York: 140 Broadway, Books, Inc. Montgomery, Douglas C. 1991. Design and Analysis of Experiments. Third Edition. Canada: John Willy & Sons, Inc. 58

Murwansyah dan Mukaram. 2002. Manajemen Sumber Daya Manusia. Bandung: Pusat Penerbit Administrasi Niaga Politeknik Negeri Bandung, Indonesia.. Nana Sudjana. 2000. http//www.scribd.com/doc/9037208/ Nasution, S. 1972. Didaktik Sekolah Pendidikan Guru: Asas-Asas Didaktik Metodologi Pengajaran dan Evaluasi. Depdikbud: Jakarta. Nur, Mohamad et al. 2001. Teori Belajar. Surabaya: University Press. Nurkancana, Wayan dan P.P.N. Sunartana. 1990. Evaluasi Pendidikan. Surabaya: Usaha Nasional. Popham, W. James dan Eva L. Baker. 1984. Bagaimana Mengajar Secara Sistematis. Diterjemahkan Oleh R.H. Dj. Sinurat et al. Yogyakarta: Kanisius. Puger, I Gusti Ngurah. 2004. Belajar Kooperatif. Diktat Perkuliahan Mahasiswa Unipas. -------. 2004. Pengaruh Metode Pembelajaran dan Kemampuan Berpikir Silogisme Terhadap Prestasi Belajar Biologi pada Siswa Kelas III SMP Negeri Seririt (Eksperimen pada Pokok Bahasan Reproduksi Generatif Tumbuhan Angiospermae). Tesis. Program Pascasarjana IKIP Negeri Singaraja. Purwanto, Ngalim. 1997. Psikologi Pendidikan. Bandung: Rosdakarya. Peraturan Menteri Pendidikan Nasional No. 41 Tahun 2007 Tanggal 23 November 2007. Jakarta: Depdiknas. Puger, I Gusti Ngurah. 2004. Pengaruh Model Pembelajaran dan Kemampuan Berpikir Silogisme Terhadap Prestasi Belajar Biologi Pada Siswa Kelas III SMP Negeri Seririt (Experimen Pada Pokok Bahasan Reproduksi Generatif Tumbuhan Angiospermae). Tesis. Singaraja: IKIP Negeri Singaraja. Sahertian, Piet A & Aleida Sahertian. 1992. Supervisi Pendidikan dalam Rangka Program Inservice Education. Jakarta: Rineka Cipta. Sardiman, A.M. 1988. Interaksi dan Motivasi Belajar-Mengajar Pedoman bagi Guru dan Calon Guru. Jakarta: Rajawali Pers. Sax, Gilbert. 1979. Foundations of Educational Research. New Jersey: PrenticeHall, Inc., Englewood Cliffs. Silverius, Suke. 1991. Evaluasi Hasil Belajar dan Umpanbalik. Jakarta: PT Grasindo. 59

Slameto. 2000. Belajar dan Faktor-Faktor yang Mempengaruhinya. Jakarta: Rineka Cipta. Slavin, Robert E. 1995. Cooperative Learning : Theory, Research, and Practice. Boston: Allyn and Bacon. Soedomo, M. 2001. Landasan Pendidikan. Malang: Penyelenggara Pendidikan Pascasarjana Proyek Peningkatan Perguruan Tinggi. Soemanto, Wasty. 2001. Pengantar Psikologi Pendidikan. Surabaya: Usaha Nasional. Soetomo. 1993. Dasar-Dasar Interaksi Belajar-Mengajar. Surabaya: Usaha Nasional. Sriyono. 1992. http://www.scribd.com/doc/9037208/ Sudiarta, Wayan. 1996. Pengaruh Penyisipan Berpikir Silogisme dalam Proses Pembelajaran terhadap Prestasi Belajar IPA pada Siswa SMP Negeri 1 Denpasar. Ringkasan Hasil Penelitian yang Disampaikan dalam Seminar Hasil Penelitian Dosen Kopwil VIII, Tanggal 22-24 September 1996.

Sudijono, Anas. 2001. Pengantar Evaluasi Pendidikan. Jakarta: Rajawali Pers. -------. 2001. Pengantar Statistik Pendidikan. Jakarta: Rajawali Pers. Sudjana. 1996. Metoda Statistika. Bandung: Tarsito. Sudjana, Nana. 2002. Penilaian Hasil Proses Belajar Mengajar. Bandung: PT Remaja Rosdakarya. Sugiarto et al. 2001. Teknik Sampling. Jakarta: PT Gramedia Pustaka Utama. Sukarta, Wayan. 2005. Pengaruh Pemberian Pretest Terhadap Prestasi Belajar PKPS pada Siswa Kelas V SD Lab. Singaraja. Laporan Penelitian. Denpasar: IKIP PGRI. Sukidin, Basrowi, Suranto. 2002. Menajemen Penelitian Tindakan Kelas. Penerbti: Insan Cendekia ISBN: 979 9048 33 4. Supardi, 2005. Pengembangan Profesi dan Ruang Lingkup Karya Ilmiah. Jakarta: Depdiknas. Suryabrata, Sumadi. 2000. Pengembangan Alat Ukur Psikologis. Yogyakarta: Penerbit Andi. 60

Tim Prima Pena. Kamus Besar Bahasa Indonesia. Gramedia Press. Tim Redaksi Focus Media. 2006. Undang-Undang Republik Indonesia No. 20 Tahun 2003 tentang Sistim Pendidikan Nasional. Bandung: Focus Media. Tim Redaksi Fokus Media. 2006. Himpunan Perundang-Undangan dan UndangUndang Republik Indonesia No. 20 Tahun 2003 dan Peraturan Pemerintah No. 19 Tahun 2005. Bandung: Focus Media. Tuckman, Bruce W. 1972. Conducting Educational Research. New York: Harcourt Brace Javonovich, Inc. Universitas Negeri Jakarta. 2000. Aplikasi Komputer: Kalibrasi Instrumen, Pengolahan Data, dan Pemanfaatan Internet. Jakarta: Laboratorium Komputer UNJ. Uno, B. Hamzah, et. al. 2001. Pengembangan Instrumen Untuk Penelitian. Jakarta: Delima Press. Wardani, I. G. A. K Siti Julaeha. Modul IDIK 4307. Pemantapan Kemampuan Mengajar. Jakarta: Universitas Terbuka. Wartawan, I Wayan. 2004. Pembinaan Kualitas Pembelajaran Fisika Melalui Penerapan Model Pembelajaran Kooperatif Tipe Jigsaw dalam Upaya Meningkatkan Hasil Belajar Siswa Kelas II SMU Negeri 2 Singaraja. Dalam Jurnal IKA, Vol. 2 No.1 Mei 2004 Institut Keguruan dan Ilmu Pendidikan Negeri Singaraja. Wojowasito. 1982. Kamus Umum Lengkap Inggris Indonesia Indonesia Inggris. Malang: Delta Citra Grafindo. Woolfolk, Anita E. 1993. Educational Psychology. Fifth Edition. Boston: Allyn and Bacon.

61

Lampiran 1.

Rencana Pelaksanan Pembelajaran (RPP) yang Digunakan dalam Pembelajaran untuk Memperoleh Data Awal

62

Lampiran 2.

Tes Prestasi Belajar ...................................... (tes yang digunakan untuk mencari data awal penelitian)

63

Lampiran 3.

Data Awal Siswa yang Diambil dari Semester lalu

NO

NAMA SISWA

NILAI BAHASA INGGRIS SEMESTER ....... TAHUN AJARAN ........./........

64

Lampiran 4. Penilaian Guru oleh Teman Sejawat

FORMAT B OBSERVASI BELAJAR MENGAJAR

Instrumen Penilaian Profesionalisme Guru sesuai Standar Proses

NO INDIKATOR 1 Persiapan

2 3 4

SUB INDIKATOR Program Tahunan Program Semesteran Silabus RPP Daftar Nilai Format Analisis Hasil Penilaian Program Remedial Program Pengayaan Agenda/Jurnal SK Ada Standar Kompetensi KD Ada Kompetensi Dasar Indikator Pencapaian Ada minimal 3 buah indikator Kompetensi Ada indikator mengukur kognitif Ada indikator mengukur afektif/ psikomotorik Tujuan Pembelajaran Ada tujuan yang mengukur kognitif Ada tujuan yang mengukur afektif/ psikomotorik Tujuan teratur, berurut-urut sesuai tingkat kognitif, afektif, dan psikomotor Materi Ajar Materi dibuat dengan melihat indikator Materi bisa kognitif, bisa afektif, bisa psikomotor Materi sistimatis (teratur, bersistim, berurut-urut) dan sistemik (saling terkait, holistik atau satu kesatuan lebih penting daripada bagian-bagian; tidak terpisah, explorasi, elaborasi dan konfirmasi) Materi bermanfaat sehingga dapat memberi inspirasi/cita-cita kelak dan menyenangkan Berhubungan dengan kehidupan siswa sehari-hari, sesuai karakteristik siswa dan lingkungan Alokasi Waktu Alokasi waktu pertemuan keseluruhan di RPP 65

SKOR

8 Metode Pembelajaran

9 Kegiatan Pembelajaran Pendahuluan

Kegiatan Pembelajaran Inti/Explorasi (kegiatan pembelajaran yang memberi kesempatan kepada siswa untuk mencaritemukan berbagai informasi, pemecahan masalah dan inovasi) Kompetensi Evaluasi Pendidikan (Depdiknas, 2009) Kegiatan Pembelajaran Inti/Elaborasi (yang memungkinkan siswa mengekspresikan dan mengaktualisasikan diri melalui berbagai kegiatan dan karya yang bermakna)

Kompetensi Evaluasi Pendidikan (Depdiknas, 2009)

Ketepatan penggunaan waktu di pembukaan Ketepatan penggunaan waktu di inti Ketepatan penggunaan waktu di penutup Ada strategi/model pembelajaran yang digunakan Ada minimal 3 metode ajar Discovery Inquiry Ada salam pendahuluan Ada motivasi/apresiasi Ada apersepsi yang dilakukan Ada penyampaian tujuan, ada uraian cakupan materi Ada pelibatan siswa mencari informasi Ada ragam pendekatan pembelajaran Ada guru memberi penjelasan bahwa materi yang sedang diexplorasi sangat bermanfaat untuk memecahkan kehidupan sehari-hari siswa Ada upaya guru memfasilitasi terjadinya interaksi antar siswa, antar siswa dan guru, siswa dengan lingkunga dan sumber belajar Ada upaya guru melibatkan seluruh siswa secara aktif Upaya guru memfasilitasi siswa membuat percobaan-percobaan, melakukan tindakan-tindakan Ada kegiatan yang membuat siswa terbiasa membaca dan menulis Adatugas yang diberikan yang membuat gagasan-gagasan siswa muncul Ada kegiatan-kegiatan seperti diskusi, tanya jawab, presentasi, dll Ada pemberian kesempatan berpikir, menganalisis, menyelesaikan masalah Ada cara pembelajaran kooperatif (kerjasama) dan kolaboratif (bekerja bersama) Ada cara membuat kompetisi yang sehat Ada pembahasan laporan explorasi Ada perintah-perintah yang jelas diucapkan guru dalam menuntun keberhasilan pencapaian KD

66

Ada aktivitas oleh siswa baik individual maupun kelompok Ada penyampaian produk oleh siswa pada guru Ada kegiatan yang menimbulkan kebanggaan dan rasa percaya diri Ada kegiatan guru yang menuntut kreativitas, prakarsa, perkembangan minat, bakat, serta perkembangan fisik peserta didik Ada kegiatan guru yang mengarah pada penempatan siswa sebagai posisi sentral Dalam penggunaan metode tanya jawab ada terlihat yang dilakukan adalah tanya jawab lebih dari dua arah yang membuat siswa interaktif dan tertantang Kegiatan Ada umpan balik, penguatan yang (baik Pembelajaran lisan, tulisan, isyarat, token atau hadiah Inti/Konfirmasi (yang bagi siswa yang berhasil) memungkinkan ada Ada konfirmasi terhadap hasil explorasi kesepakatan dan elaborasi (menggunakan berbagai penilaian, penguatan, sumber) umpan balik) Ada refleksi yang digunakan Ada memfasilitasi siswa dalam menjawab pertanyaan Ada upaya guru membantu penyelesaian masalah Ada pemberian acuan untuk mencek hasil explorasi Ada pemberian motivasi bagi siswa yang kurang/belum berpartisipasi Kegiatan Ada pembuatan rangkuman/simpulan Pembelajaran Ada refleksi terhadap kegiatan yang telah Penutup dilakukan Ada pemberian tindak lanjut seperti remidi dan pengayaan, tugas-tugas individual maupun kelompok Ada penyampaian rencana pembelajaran pada pertemuan selanjutnya Ada kegiatan guru menyuruh siswa mengatakan dan melakukan, untuk 90% pencapaian penguasaan Ada tugas tidak terstruktur Ada salam penutup Guru melakukan penilaian proses atau penilaian akhir

67

10 Penilaian Belajar

Hasil Penilaian yang dilakukan hierarchinya benar (bertahap, misalnya: C1, terus C2, dst.) Penilaian yang dilakukan sistimatiknya benar (penggolongan, misalya: beberapa soal mudah, beberapa sedang, beberapa sulit) Penggunaan index sensitivitas bagi yang menggunakan pre test post test Ada penilaian yang digunakan bisa test, bisa non test Penilaian mengacu pada tujuan Test tepat mengukur kognitif, afektif, psikomotor yang dituju Terbukti bahwa test yang dilakukan berdasar acuan kriteria pada sistim penilaian yang berkelanjutan Ada minimal 2 penilaian seperti penugasan, fortofolio, proyek dan/atau produk, penilaian diri, kinerja, pengukuran sikap, tugas, observasi, laporan praktikum, unjuk kerja, performansi, responsi (ujian praktek), dll. Tambahan Penilaian Ada pengajaran interaktif yaitu Guru oleh Pengawas memfasilitasi terjadinya interaksi yang bermakna antara siswa dengan siswa, siswa dengan guru dan siswa dengan lingkungan dan sumber belajar Ada cara pengajaran inspiratif yaitu mendorong dan memicu siswa agar aktif mencaritemukan hal-hal yang baru dan inovatif, misalnya penggunaan pendekatan, metode dan teknik-teknik tertentu Ada pembelajaran yang memotivasi yaitu mendorong dan memberi semangat untuk mencapai prestasi, berkompetisi, berani mengekspresikan dan mengaktualisasikan diri dengan materi pelajaran Mengupayakan pembelajaran yang menyenangkan yaitu memungkinkan siswa belajar dalam suasana tanpa tekanan, bebas, terlibat secara psikis dan fisik

68

11 Sumber Belajar

Ada pembelajaran yang menantang yaitu menghadapkan siswa pada masalah, persoalan-persoalan delematis, yang jawabannya membutuhkan kreativitas dan kemungkinan-kemungkinan baru sesuai tingkat kognitif siswa Ada sumber belajar berupa buku-buku Ada sumber belajar berupa alat Ada sumber belajar berupa bahan Ada sumber lain seperti lingkungan, orang (nara sumber), peristiwa, media non buku

Jumlah Skor Nilai Kuantitatif Nilai Kualitatif Keterangan: Skor adalah 1 4 Skor maksimal adalah: 80 x 4 = 320 1 = tidak sempurna/D 2 = kurang sempurna/C 3 = sempurna/B 4 = sangat sempurna/A Jumlah skor Nilai Kuantitatif = x 100 .........? Jumlah skor maksimal Nilai Kualitatif = A B C D : : : : 85 100 70 84 55 69 di bawah 55

Kata kunci: Kegiatan inti adalah kegiatan dengan menggunakan strategi, metode dan teknik tertentu sesuai karakteristik peserta didik dan mata pelajaran, yang dapat meliputi proses eksplorasi, elaborasi dan konfirmasi (Evaluasi Pendidikan, Depdiknas, 2009: 24).

Kepala Sekolah

Guru Yang Mengamati

69

FORMAT C DAFTAR PERTANYAAN POST OBSERVASI PENGAWAS MASUK KE RUANG TERTENTU DAN BERDISKUSI DENGAN GURU
NO PERTANYAAN JAWABAN 1 Apakah KBM sesuai dengan yang Anda rencanakan? 2 Dapatkah saudara menjelaskan hal-hal yang dirasakan kurang memuaskan dalam proses pembelajaran tadi? 3 Bagaimana perkiraan saudara mengenai ketercapaian tujuan pembelajaran?, Metode?, Strategi?, Tehnik, dll. 4 Apa yang menjadi kesulitan siswa? 5 Apa yang menjadi kesulitan saudara? 6 Marilah kita bersama-sama mengidentifikasi hal-hal yang perlu ditingkatkan berdasarkan pengalaman saudara dan pengamatan saudara, Pengawas berdiskusi dengan guru bidang studi. 7 Dengan demikian apa yang akan saudara lakukan untuk pertemuan berikutnya? Diadakan pembicaraan tentang penggunaan lab, perpustakaan dan media8 media lain seperti internet, komputer, surat kabar, majalah, dll. Apa Anda membuat program analisis hasil belajar? Boleh dilihat? Kesulitannya apa? dll. 9 Program Remidial (Depdiknas, 2008: 8, diberikan minimal setelah beberapa KD selesai atau setelah selesai 1 standar kompetensi yang harus dihargai sebagai nilai tambah karena yang baik menentukan nilai adalah guru sendiri) a. Keterlaksanaan Hasil Belajar Remidial Mata Pelajaran Ya Terlaksana Tidak Pencapaian (%)

b. Pertanyaan terhadap keberhasilan program remidial Pertanyaan 1. Apakah Anda puas degan hasil pelaksanaan program remidial yang Anda lakukan? 2. Apakah bentuk remidial yang Anda lakukan: a. Mengulang bagian-bagian materi yang belum tuntas? b. Memberikan tugas pada siswa yang belum tuntas? c. Mengulang seluruh materi? d. Memberi bimbingan secara khusus bagi siswa yang belum tuntas? e. Memberi tugas latihan secara khusus? f. Pemanfaatan tutor sebaya? g. Tes ulang bagi mereka yang belum tuntas? 3. Apakah pelaksanaan remidial dilakukan berdasarkan permintaan: a. Siswa? b. Guru? c. Ketentuan Sekolah? 4. Apabila remidial tidak dilakukan, disebabkan karena: a. Tidak ada waktu? b. Siswa yang bersangkutan tidak menginginkan mengikuti remidial? c. ...................................................................

Ya

Jawaban Tidak

10 Program Pengayaan (Depdiknas, 2008: 8; diberikan minimal setelah beberapa KD selesai atau setelah selesai 1 standar kompetensi yang harus dihargai sebagai nilai tambah karena yang boleh menentukan nilai adalah guru sendiri) a. Keberhasilan Program Pengayaan Pencapaian Mata Pelajaran Terlaksana (%) Ya Tidak 1. Apa Anda melaksasnakan pengajaran terhadap materi-materi baru? 2. Apa Anda memberi tugas yang lebih menantang? 3. Apa Anda menyuruh siswa menjawab 10 soal baru dalam 15 menit? 4. Apa Anda memperkaya siswa yang tuntas? 5. Apa memberi pengembangan keterampilan berpikir? 6. Apa membuat pengembangan kreativitas? 7. Apa memberi keterampilan memecahkan hal-hal baru?

70

Lampiran 5. RPP Siklus I

71

Lampiran 6.

Hasil Tes Siswa Kelas.......... Semester ............ Tahun Pelajaran ........................ Siklus I Nama Siswa Nilai

No

72

Lampiran 7. Rencana Pelaksanaan Pembelajaran Siklus II

73

Lampiran 8.

Hasil Tes Prestasi Belajar Kelas....... Semester....... Tahun Ajaran....../........ Siklus II

74

Lampiran 9.

Masukan-masukan/Saran guru yang Mengobservasi Pembelajaran

1. Saran pada siklus I a. Agar guru lebih terfokus pada perubahan pengajaran ke pembelajaran b. Agar lebih memberi rangsangan-rangsangan agar siswa lebih giat untuk belajar c. Agar guru lebih memperhatikan keinginan-keinginan siswa d. Agar Guru mampu mendorong motivasi intrinsik siswa

2. Saran/masukan pada siklus II a. Giliran siswa tampil sangat mempengaruhi kesiapan mental mereka. b. .......................... c. .............................. d. ......................................

75

Lampiran 10. Rekapitulasi Hasil Penelitian Siklus I Siklus II Skor Skor Rata-rata % Rata-rata % ratarataKenaikan Kenaikan Kenaikan Kenaikan rata rata

Variabel Prestasi Belajar

Awal

76