Anda di halaman 1dari 8

ETIKA PROFESI

Pegangan Etika Tenaga Pendidik / Penguji / Perangkai Profesional

22 June 200999
DPD IPBI DKI Jakarta
Tim Penguji
Etika Profesi

ETIKA PROFESI

1. Pendahuluan
Sebagai manusia kita berkeinginan untuk hidup dan mempertahankan hidup. Dalam
rangka mempertahankan hidup, manusia perlu berhubungan satu sama lain atau bersosialisasi
dan bermasyarakat. Dalam hubungan antar manusia atau pergaulan sesama manusia dapat
timbul permasalahan. Permasalahan timbul karena adanya perbedaan penilaian oleh manusia
didalam menghadapi kehidupan. Untuk menjaga dan menjalin hubungan antar manusia, maka
dibutuhkan etika.
Bila manusia telah mampu hidup beretika, maka manusia akan mempunyai landasan
kuat untuk menumbuh kembangkan rasa keindahan, estetika, baik lahir maupun batin
sehingga mampu menikmati dan menciptakan keindahan.

2. Pokok Bahasan
2.1. Pengertian Etika.
Kata Etika berasal dari bahasa latin “Ethica” yang berarti kebiasaan, dan “Ethos” dalam
bahasa Yunani yang berarti sikap dasar seseorang atau sekelompok orang dalam melakukan
kegiatan tertentu. Etika merupakan cabang ilmu filsafat yang mempelajari nilai moral dan
sikap perilaku manusia secara umum. Dapat dikatakan bahwa etika ialah kebiasaan yang baik
dalam masyarakat, yang kemudian mengendap menjadi norma-norma, kaidah-kaidah atau
dengan kata lain yang menjadi normatif dalam perikehidupan manusia.
Oleh karena itu dalam hidup bermasyarakat kita tidak boleh mengabaikan Etika, karena
Etika dapat menuntun manusia untuk mampu bersikap rasional terhadap norma atau kaidah
yang berlaku dimasyarakat. Etika juga dapat menuntun manusia untuk mampu membedakan
mana tingkah laku dan tindakan yang baik(patut) dan mana yang buruk(tidak patut).
Sesuai dengan falsafah hidup bangsa Indonesia yang berpedoman pada Pancasila, maka
dapat disimpulkan bahwa etika adalah tata cara pergaulan yang baik antara sesama manusia
dan merupakan pedoman hidup yang benar ditinjau dari asal usul budaya dan agama.

2.1.1. Etika Jabatan


Serangkaian pedoman atau aturan yang melandasi seorang tenaga pendidik dan penguji
praktek serta seorang profesional dibidangnya dalam melaksanakan tugas menjalankan
kewenangan. Fungsi yang diemban menyangkut hubungan dengan teman seprofesi, warga

DPD IPBI DKI Jakarta Page 2


Etika Profesi

belajar, peserta ujian dan lembaga / instansi terkait.

2.1.2. EtikaProfesi
Profesi adalah bidang pekerjaan yang dilandasi dengan suatu keahlian tertentu didalam
pekaksanaannya. Pengertian etika profesi adalah serangkaian pedoman / aturan yang
melandasi seseorang untuk menjadi profesional didalam melaksanakan tugas dan kewajiban
dalam menjalankan profesinya.

2.2. Manfaat Etika


Etika merupakan penuntun manusia untuk bersikap arif terhadap norma / kaidah yang
berlaku dimasyarakat serta terhadap tindakan atau tingkah laku seseorang yang patut atau
tidak patut. Beberapa hal yang perlu diketahui sebagai dasar atau prinsip etika profesi
perangkai bunga:

2.2.1. Sikap Bertanggung Jawab


Bertanggung jawab terhadap penyampaian ilmu kepada warga belajar secara jelas dan
sistematis, sehingga menghasilkan warga belajar yang berkualitas. Seorang tenaga pendidik
harus senantiasa peka terhadap perubahan dan perlu senantiasa meningkatkan wawasan agar
mutu hasil pembelajaran terjaga dengan baik. Seorang tenaga pendidik senantiasa harus
menjaga disiplin didalam menyampaikan kurikulum yang digunakan sebagai pedoman
pembelajaran secara nasional.
Seorang tenaga penguji praktek bertanggung jawab atas penilaian yang diberikan kepada
seseorang terhadap hasil dari pembelajaran. Artinya: tidak boleh memihak kepada warga
belajar yang telah dikenalnya, tetapi harus menilai secara obyektif pekerjaan sebagai hasil
akhir pembelajaran. Seorang tenaga penguji praktek hendaknya bersikap profesional dalam
melaksanakan tugasnya.

2.2.2. Sikap Saling Menghormati


Seorang tenaga pendidik hendaknya memberi contoh kepada warga belajar agar sebagai
manusia hendaknya saling menghormati atas kelebihan maupun kekurangan yang dimiliki.
Antar sesama tenaga pendidik hendaknya saling menghormati, dalam arti yang seluas-
luasnya. Contoh:
• Jangan saling menggunjingkan kekurangan seseorang.

DPD IPBI DKI Jakarta Page 3


Etika Profesi

• Jangan menghasut bahwa tenaga pendidik lain kurang bermutu dibandingkan dirinya.
• Berikan kebebasan kepada warga belajar untuk memiliki siapa tenaga pendidik yang
ia butuhkan.

2.2.3. Percaya Diri


Seorang tenaga pendidik hendaknya percaya diri dan dapat dipercaya dalam
menjalankan tugas dan kewajibannya sesuai dengan profesi yang diembannya.

2.2.4. Kearifan
Seorang tenaga penguji praktek hendaknya bersikap arif terhadap warga belajar yang sedang
melaksanakan tugas akhir pembelajaran (uji kompetensi).

2.2.5. Kerapihan & Keserasian


Seorang tenaga penguji praktek hendaknya dapat memberikan contoh tentang kerapihan
maupun keserasian berbusana dalam melaksanakan tugasnya dan mengawasi serta
memberikan penilaian yang wajar. Saling mengingatkan antara sesama penguji akan tugasnya
pada saat menjalankan tugas.

3. Kode Etik
Dalam menjalankan suatau profesi, seseorang dituntut untuk bertanggung jawab
terhadap masyarakat atas profesi yang diembannya. Untuk ini disusunlah serangkaian
kewajiban dan hak yang menjadi dasar dalam melaksanakan pekerjaan itu. Hal tersebut
diperlukan untuk memberikan rasa aman dan percaya diri dalam menjalankan profesi itu
sendiri.
Aturan-aturan tersebut diwujudkan dalam ketentuan yang tercantum dalam kode etik
yang disepakati bersama. Berikut ini adalah beberapa kode etik bagi tenaga pendidik atau
penguji praktek dan tenaga perangkai profesional merangkai bunga:

3.1. Hak
Hak-hak seorang tenaga pendidik atau penguji praktek dan tenaga perangkai profesional
dalam hal merangkai bunga:
a) Berhak mendapatkan kesempatan untuk meraih jenjang yang lebih tinggi melalui uji
kompetensi yang diadakan khusus untuk itu.

DPD IPBI DKI Jakarta Page 4


Etika Profesi

b) Berhak mendapatkan imbalan jasa sesuai dengan kesepakatan dalam ketentuan-


ketentuan yang berlaku yang telah ditetapkan dalam menjalankan tugas dan
kewajiban yang dibebankan kepadanya.

3.2. Kewajiban.
Kewajiban seorang tenaga pendidik atau penguji praktek dan tenaga perangkai
profesional dalam hal merangkai bunga:
a) Berkewajiban mengajar sesuai dengan kurikulum / syllabus yang telah ditetapkan.
b) Berkewajiban memberikan bimbingan dan bantuan kepada warga belajar, bila ada
yang kurang dapat menyerap pelajaran.
c) Berkewajiban menyiapkan materi belajar sebaik-baiknya sebelum melaksanakan
tugas.
d) Berkewajiban memberi kesempatan kepada warga belajar untuk bertanya dan
mengemukakan pendapat.
e) Berkewajiban menciptakan suasana belajar mengajar yang kondusif dan bersifat
partisipatif, baik, serasi dan seimbang.
f) Berkewajiban menepati jadwal waktu yang telah ditetapkan.
g) Berkewajiban menepati janji terhadap warga masyarakat yang memakai jasanya.
h) Berkewajiban memberikan saran dan karya terbaik bagi warga yang membutuhkan.
i) Berkewajiban memikul tanggung jawab terhadap tugas-tugas yang dibebankan
kepadanya.

3.3. Hal-Hal yang Tidak Disarankan / Larangan.


Larangan seorang tenaga pendidik atau penguji praktek dan tenaga perangkai profesional
dalam hal merangkai bunga:
a) Membeda-bedakan warga belajar atau masyarakat berdasarkan suku, ras, golongan,
agama serta tingkat sosial ekonomi yang bersangkutan.
b) Bersikap menggurui dan membuat malu warga belajar.
c) Menggunakan kata-kata yang kurang sopan didalam proses pembelajaran.
d) Menyalahgunakan wewenang yang dapat merugikan citra dan martabat sebagai
tenaga pendidik / penguji praktek dan tenaga perangkai profesional.
e) Mengembangkan pembicaraan yang bersifat adu domba.
f) Membocorkan soal ujian baik langsung maupun tidak langsung.

DPD IPBI DKI Jakarta Page 5


Etika Profesi

g) Memberitahukan hasil penilaian yang dilakukan kepada warga belajar.


h) Tidak obyektif dalam melakukan penilaian pada saat melakukan tugas menguji.
i) Memuji dan menilai din sendiri secara berlebihan.
j) Melakukan KKN dalam melakukan penilaian pada saat melakukan tugas menguji.
k) Bagi tenaga perangkai profesional hendaknya tidak melakukan perubahan dan
pernindahan atas karya orang lain tanpa izin. Hal ini dapat dilakukan hanya apabila
dalam keadaan darurat, kecuali orang tersebut mendapat tugas sebagai penata artistik
yang bertanggung jawab terhadap estetika suatu rangkaian.

3.4. Sanksi
Sanksi-sanksi seorang tenaga pendidik atau penguji praktek dan tenaga perangkai
profesional dalam hal merangkai bunga:
a) Bagi tenaga pendidik yang secara sadar atau tidak melakukan pelanggaran berkali-
kali perlu diberi teguran secara lisan untuk mengingatkan agar kembali berpijak pada
ketentuan yang berlaku.
b) Apabila teguran lisan tidak diindahkan perlu diberi teguran secara tertulis.
c) Bila sampai tiga kali diperingatkan secara tertulis tidak juga ada perubahan maka
pimpinan/ketua asosiasi profesi dapat memberhentikan haik secara terhormat maupun
tidak, setelah mendengarkan usul, saran dan persetujuan dari ketua sub konsorsium
merangkai bunga melalui rapat pleno.
d) Bagi penguji praktek yang melanggar ketentuan dapat dikenakan sanksi sebagai
berikut: Ditegur secara lisan, bila kesalahannya masih dalam batas yang belum
merugikan bagi warga belajar yang sedang mengikuti uji kompetensi.Diberi
peringatan secara tertulis bila telah berkali-kali ditegur lisan tapi tidak diindahkan,
dengan tidak diberi izin untuk menguji sampai batas waktu tertentu, dan akhirnya
dapat dicabut Surat Izin Menguji (SIM).
Semua sanksi tersebut diatas hanya dapat dilakukan oleh pimpinan/ketua asosiasi profesi
setelah mendengarkan usul dan persetujuan dari ketua konsorsium melalui rapat pleno.

4. Kesimpulan
Dalam hidup bermasyarakat kita dapat menyadari betapa pentingnya kita memiliki Etika
profesi yang merupakan benteng pertahanan yang kuat bagi seorang tenaga pendidik/penguji
praktek dan tenaga perangkai profesional dalam menghadapi kenyataan atas adanya

DPD IPBI DKI Jakarta Page 6


Etika Profesi

perbedaan pendapat dalam menanggapi masalah. Tujuannya agar seseorang mampu


membedakan mana yang baik dan mana yang buruk, mana yang benar dan mana yang salah.
Tidak mudah memang, tapi dengan Ridho dari Tuhan Yang Maha Mengetahui, kita dapat
bertugas sesuai dengan jabatan dan profesi yang diembannya. Amin.

5. Saran
Setelah kita memiliki Etika Jabatan / Profesi sebagai pegangan didalam melaksanakan
tugas profesinya, maka kita masih perlu meningkatkan ketajaman intuisi dalam melahirkan
karya dengan mendalarni ilmu Ilmu estetika yang mengasah rasa keindahan kita baik lahir
maupun batin. Pengertian keindahan secara lahir adalah bagaimana kita mengasah ketajaman
memadu warna dan materi lainnya dengan memberikan keseimbangan secara proporsional
yang menyeluruh secara serasi dan harmonis dalam gubahan rangkaian bunga.
Pengertian keindahan secara batin adalah bagaimana kita bisa berkarya dengan hati yang
bersih dan jujur. Dengan, sentuhan keindahan batin, kita bisa mempengaruhi tingkah laku
manusia/seseorang dengan saling menghargai, menghormati, mengagumi karya teman
seprofesi sehingga rasa kebersamaan dalam upaya meningkatkan mutu sumber daya manusia
bisa seiring sejalan dalam keharmonisan. Terbebas dari rasa iri, dengki, atas keberhasilan
teman seprofesi. Tetapi justru dapat memacu diri pribadi untuk lebih meningkatkan potensi
yang dimiliki sehingga dapat menghasilkan karya yang optimal.
Seiring dengan perubahan penyelenggaraan uji kompetensi secara nasional yang
nantinya akan dilimpahkan kepada asosiasi profesi bersama sub konsorsium bersama
pemerintah sebagai fasilitatornya, maka para tenaga pendidik/penguji dan tenaga perangkai
profesional yang tergabung dalam asosiasi hendaknya perlu introspeksi diri dan berupaya
untuk meningkatkan wawasan umum dan pengetahuan penunjang yang diperlukan oleh
seorang tenaga pendidik/penguji/perangkai bunga profesional. Sebab tidak hanya
pengetahuan keterampilan merangkai bunga saja yang diuji, tetapi pengetahuan penunjang
seperti ilmu hortikultura, pengetahuan tentang disain, teori warna, dan tata ruang, perlu diuji
dalam setiap tingkat pada uji kompetensi sehingga hal ini dapat menjamin mutu / kualitas
tenaga pendidik / penguji / perangkai profesional. Penyegaran terhadap kemampuan tenaga
pendidik / penguji / pendidik profesional perlu diadakan seara periodik minimal dua tahun
sekali.

6. Penutup

DPD IPBI DKI Jakarta Page 7


Etika Profesi

Demikianlah beberapa pokok pikiran yang telah disarankan, semoga apa yang
dikemukakan di atas dapat dijadikan pegangan bagi seluruh tenaga pendidik / penguji /
perangkai profesional di tanah air. Namun kami masih menerima usul dan saran dari peserta
penataran untuk melengkapi dari apa yang dirasa belum terakomodasikan. Dengan
menyampaikan puji syukur kehadapan Tuhan YME yang telah memberikan karunia-Nya
sehingga kita dapat merasakan nikmat yang telah dilimpahkan kepada kita. Terima kasih.

DAFTAR PUSTAKA

Dra. Tri Rochani, Rukmini, Etika Jabatan / Profesi Tenaga Pendidik Penguii
Praktek Diklusemas. Disajikan pada Penataran Tenaga Pendidik dan Penguji
Praktek Diklusemas.

DPD IPBI DKI Jakarta Page 8