Anda di halaman 1dari 1

Setiap anak adalah individu yang unik, karena faktor lingkungan dan bawaan yang berbeda.

Perkembangan psiko-sosial sangat dipengaruhi lingkungan dan interaksi antara anak dengan orang tuanya atau orang dewasa lainnya (Soetjiningsih, 1995). Kehadiran seorang saudara akan memberikan kontribusi bagi perkembangan sosial dan emosional seorang anak, serta hampir tidak akan pernah bisa dihindari adanya persaingan antar saudara kandung (sibling rivalry). Pola asuh yang diterapkan orang tua di rumah, mempengaruhi kecenderungan seorang anak untuk bersaing dengan saudara kandungnya (DWK, 2007). Konflik antar saudara kandung sering terjadi tanpa sebab yang jelas. Persaingan semakin terasa pada anak yang sama jenis kelaminnya dan dekat jarak usianya (Handayani, 2008).

Menurut Setiorini (2003), terjadinya sibling rivalry berasal saat adik lahir, semua perhatian tercurah hanya kepadanya. Di usia yang sangat muda ini, anak belum mampu mencari alasan dengan benar. Dalam pandangannya, kedua orang tua mengabaikan dirinya karena kehadiran si adik. Menurut Kail dalam Setiawati dan Zulkaida (2007), sibling rivalry umumnya muncul ketika adik bayi lahir karena biasanya banyak menyita waktu dan perhatian orang tua. Kondisi ini sering menimbulkan sikap jengkel kakak pada adiknya. Karena ketidakberanian anak untuk memunculkan sikap jengkel dan kesal itu, adik yang sering menjadi sasaran amarahnya. Sibling rivalry sangat mempengaruhi sikap anak. Hal tersebut karena keluarga memang lingkungan pertama yang ditemui anak. Menurut Sears dalam Setiawati dan Zulkaida (2007), lahirnya adik baru merupakan permasalahan di mana anak harus membagi cinta, kasih sayang, dan perhatian orang tua kepada adiknya. Rasa cemburu sering kali berasal dari rasa takut yang dikombinasikan dalam rasa marah karena adanya ancaman terhadap harga diri seseorang dan hubungan itu sendiri. Menurut Millman dan Schaifer dalam Setiawati dan Zulkaida (2007), perasaan sibling rivalry biasanya terjadi antara 2 anak atau lebih yang usianya berdekatan. Sibling rivalry biasanya lebih lazim terjadi ketika jarak usia anak antara 1-3 tahun. Sibling rivalry akan lebih terlihat ketika umur mereka 3-5 tahun dan terjadi lagi pada umur 8-12 tahun pada usia sekolah, sibling rivalry lebih terjadi pada anak yang berjenis kelamin sama, khususnya perempuan. Menurut Bakwin dalam Setiawati dan Zulkaida (2007), sibling rivalry cenderung terjadi lebih sering ketika anak yang lebih tua antara 2-4 tahun ketika adiknya dilahirkan, karena pada usia ini anak menjadi sadar akan kasih sayang orang tuanya. Menurut McNerney dan Joy (2001), berdasarkan pengalaman yang diungkapkan beberapa orang Amerika dilaporkan 55% mengalami kompetisi dalam keluarga dan umur antara 10-15 tahun merupakan kategori tertinggi. Permasalahan munculnya adik baru, kasih sayang orang tua yang terbagi, serta 55% mengalami persaingan saudara yang terjadi pada umur 10-15 tahun, menurut penulis sangat menarik untuk diteliti dan ditelaah lebih lanjut untuk mengetahui faktor-faktor apa saja yang menyebabkan terjadinya sibling rivalry dan faktor apa yang paling dominan.