Anda di halaman 1dari 20

Kanker Korpus Uteri

Kanker endometrium adalah keganasan ginekologik yang terbanyak ditemukan, dimana di amerika serikat dua kali lebih sering ditemukan dibanding kersinoma serviks. ini adalah keganasan keempat yng terbanyak ditemukan pada wanita amerika serikat setelah kanker payudara, kolorektal, dan paruparu. terdapat peningkatan insidensi kanker endometrium pada tahun 1970-an yang mungkin sebagian berkaitan dengan meningkatnya penggunaan esterogen tunggal (unopposed esterogen) oleh wanita pasca menopause. sejak penggunaan esterogen tunggal telah dibatasi, insidensinya turun kembali ke angka semula. kebanyakan tumor yang berhubungan dengan pengobatan ini mempunyai stadium dan tingkat yang rendah, selama 30 tahun terakhir, angka mortalitas keseluruhan telah turun.

EPIDEMIOLOGI DAN ETIOOGI

Umur median untuk kanker endometrium adalah sekitar 60 tahun. faktor risiko yang berhubungan dengan munculnya karsinoma endometrium dicantumkan pada tabel 53-1. Banyak dari faktor-faktor ini berhubungan dengan perangsangan endometrium yang berlangsung lama dengan estrogen tunggal. kalau efek proliferatif esterogen tidak dilawan dengan progestin, hiperprasia endomtrium dan barangkali adenosinoma dapat timbul.

Obesitas mengakibatkan meningktnya aromatis diluar ovarium dari androstenedion menjadi eston. Androstedion disekresi oleh kelenjar adrenal, sementara meningkatnya perubahan perifer terutama trjadi pada depot lemak tetapi juga terjadi pada hati, ginjal, dan otot rangka. Tumor sel teka granulosa pada ovarium menghasilkan estrogen, dan sampai 15 persen dari penderita tumor ini juga mengidap kanker endometrium.

Perangsangan esterogen tunggal juga terjadi pada pasien anovulatori pra-menopause, misalnya pada mereka yang mengalami sindroma ovarium polikistik (sindroma Stein-Leventhal), dan pada wanita yang memekan pengganti estrogen pasca menopause tanpa progestin untuk gejala menopause. Dalam kelompok yang berakhir ini, risiko berkembangnya kanker tampaknya bergantung pada dosis dan bergantung pada lama pemakaian. Peningkatan resiko ini bervariasi dari dua kali hingga 14 kali lipat dibandingkan dengan bukan pemakai. penambahan progestin oral selama 10 sampai 14 hari

terakhir dari suatu bulan akan menyingkirkan resiko ini. wanita muda yang menggunakan kontrasepsi oral terbukti mempunyai insidensi yang lebih rendah terhadap kanker endometrium di kemudian hari.

PENYARINGAN PADA WANITA YANG ASIMPTOMATIK

Penyaringan sitologik terhadap kanker endometrium pada wanita yang asiptomatik tidak begitu efektif dibanding penyaringan terhadap kanker erviks, karena sekitar 40 persen saja dari kasus mempunyai sel adenokarsinoma yang dideteksi pada sediaan apus papanicolaou. selain itu, penarikan contoh endometrium secara rutin pada semua wanita pasca menopause ternyata tidak praktis atau efektifbiaya. teknik pasien poliklinik untuk penarikan contoh endometrium antara lain adalah penggunaan kuret kevorkian, aspirator Vabra, pencuci dorong Gravlee, dan kanula Pipelle. Teknik ini mempunyai ketelitian diagnostik sekitar 90 persen.

Pasien pra-menepause yang mengalami anovulasi kronis harus menjalani pengambilan contoh endometrium secara berkala untuk menyingkirkan hiperplasia endometrium atau karsinoma. demikian juga, wanita pasca-menopause yang menerima terapi esterogen yang tunggal idealnya harus menjalani biopsi endometrium setiap tahun. pasien berisiko tinggi yang lain, misalnya mereka yang kegemukan, nulipara, hipertensif, diabetes, atau yang mempunyai riwayat keluarga adenokarsinoma, juga harus menjalani pengambilan contoh endometrium.

GEJALA

Gejala yang paling lazim dari kanker endometrium adalah perdarahan vagina yang abnormal; ini terjadi pada 90 persen dari pasien semacam itu. perdarahan pasca menepause selalu abnormal dan harus diselidiki. Keadaan yang paling lazim yang berhubungan dengan perdarahan pasca menopause tercantum pada tabel 53-2. Meskipun peristiwa tunggal munculnya bercak-bercak vagina paling mungkin diakibatkan oleh lesi yang tak ganas, doketr harus menyingkirkan adanya keganasan. Semakin tua pasien, semakin mungkin dia menderita kanker. Pada pasien pra-menepause, terutama setelah berumur 35 tahun, menorgia atau perdarahan haid dapat mengisyaratkan adanya lesi endometrium.

TANDA-TANDA

Pemeriksaan fisik umunya dapat mengungkapkan obesitas, hipertensi, dan stigmata diabetes mellitus. bukti penyakit metastatik bersifat luar biasa pada gejala awal, tetapi dada harus diperksa untuk mencari ada tidaknya efusi dan perut dipalpasi dan dipukul secara hati-hati untuk menyingkirkan asites, hepatosplenomegali, atau bukti adanya massa pada perut bagian atas. Setiap bukti limfadenopati umum harus dicari.

Pada pemeriksaan pelvis, alat kelamin luar biasanya normal. Vagina dan serviks biasanya juga normal tetapi harus diperiksa dan dipalpasi secara hati-hati untuk mencari ada tidaknya bukti keterlibatan. Mulut serviks yang terbuka atau serviks keras yang meluas dapat menunjukkan meluasnya penyakit dari korpus serviks. Rahim mungkin berukuran normal atau membesar, tergantung pada tingkat penyakit itu dan ada tidaknya keadaan rahim yang lain, misalnya adenomiosis atau fibroid. Adneksa dengan hati-hati dipalpasi untuk mencari ada tidaknya bukti metastasis ekstrauterin atau neoplasma ovarium. Tumor sel granulosa atau karsinoma ovarium endometrioid kadang-kadang dapat ada bersama-sama dengan kanker endometrium.

Tabel 53-2 Etiologi Perdarahan Pasca Menepause

Faktor

Perkiraan Persentase

Eksterogen eksogen

30

Endometritis/vaginalis yang mengalami atrovi

30

Kankerendometrium

15

Polip endometrium atau servikal Hiperplasia endometrium

10 5

Bermacam-macam (misalkan,kanker seviks,sarkoma rahim,karunkula uretra,cedera) 10

DIAGNOSIS

Setiap wanita yang mengalami perdarahan pasca menepause harus menjalani sediaan apus papanicalaou, kuretase endoserviks, dan biopsi endometrium yang dilakukan dalam poliklinik. Kalau biopsi endometrium negatif atau memeperlihatkan hiperplasia endometrium, dilatasi dan kuretase fraksional harus dilakukan dibawah anestesia umum atau direncanakan suatu histeroskopi pada pasien piloklinik. Spesimen dari endometrium dan endoserviks harus dikirimkan secara terpisah bagi keperluan evaluasi histologi untuk mementukan apakah tumor melus ke endoserviks. Diagnosis kanker endometrium pada pasien pra-menopause membutuhkan indeks kecurigaan yang tinggi, tetapi pada seorang pasien dengan faktor-faktor resiko tinggi dan perdarahan rahim yang abnormal, harus dilakukan pemeriksaan serupa. Lesi yang sangat nyata pada serviks atau vagina harus dilakukan biopsi secara langsung.

PENENTUAN STADIUM

Federasi Internasiol Ahli Ginekologi dan Obstetrik (FIGO) telah mengubah dari sistem penentuan stadium klinik menjadi pemdedahan untuk kanker endometrium. Penentuan stadium klinik lama diperlihatkan pada tabel 53-3, sementara penentuan stadium pembedahan yang baru, berdasarkan pemastian patologik atas tingkat penyebarannya, diperlihatkan pada tabel 53-4.

PENYELIDIKAN SEBELUM PEMBEDAHAN

Selain pemeriksaan fisik yang menyeluruh, uji darah harus mencakup hitung darah lengkap, enzim hati, elektrolit seru, nitrogen ureum darah, kreatinin serum, dan profil koagulasi/pembekuan. Urinalisa rutin juga harus diperoleh. Penelitian radiologik mencakup radiografi dada dan radiografik tulang jika terdapat nyeri tulang. Uji radigrafik tambahan yang mencakup skan tomografik komputer (CT) abdominopelvik, pielogram intra vena (IVP), dan barium enema hanya dilakukan kalau diindikasikan. Pemeriksaan guaiak tinja harus dilakukan untuk darah menguji darah yang samar.

PATOLOGI

Terdapat beberapa jenis hisstologi karsinoma endometrium. sekitar 75 persen kasusu adalah adenokarsinoma murni. Bila terdapat unsur skuamosa yang benigna, tumor itu kadang-kadang disebut adenoakantoma. Lesi yang berisi epitel skuamosa yang ganas disebut karsinoma

adenosquamosa dan mempunyai prognosisi yang lebih buruk. Lebih jarang lagi, sel yang jernih, karsinoma squamosa, atau karsinoma serosa papiler terjadi pada endometrium. Penyakit-penyajit itu juga membawa pronosis yang buruk.

Adenokarsinoma invasif pada endometrium menunjukkan pembentukan kelenjar proliferatif dengan sedikit atau tanpa gengguan stroma. derajat tumor ditentukan oleh tingkat kelainan dari arsitektur kelenjar. Lesi yang berdiferensiasi baik (derajat 1) membentuk suatu pola kelenjar yang mieip dengan kelenjar endometrium yang normal. Lesi yang berdiferensiasi sedang (derajat 2) mempunyai stuktur kelenjar yang bercampur dengan daerah papiler, dan kadang-kadang daerah padat, daerah tumor. Pada lesi yang berdiferensiasi buruk (derajat 3), struktur kelenjar sebagian besar telah menjadi padat dengan kekurangan relatif atas kelenjar endometrium yang dapat diidentifikasi.

POLA PENYEBARAN

Kanker endometrium menyebar dengan cara (1) penjalaran langsung, (2) eksfoliasi yang disebarkan melalui tuba falopii ke rahim, (3) diseminasi limfatik, dan (4) diseminasi hematogen.

Jalur

penyebaran

yang

paling

lazim

adalah

penjalaran

tumor

langsung

ke

struktur

yang

bersebelahan.Tumor dapat menyerang melalui miometrium dan akhrirnya menembus serosa. Ini juga dapat berkembang ke bawah dan melibatkan serfiks. Meskipun sangat jarang terjadi, pelajaran langsung yang progresif akhirnya dapat melibatkan vagina, parametrium, rektum, atau kandung kemih. Sel eksfolisasi yang melewati tuba falopii dapat berimplantasi pada ovarium, peritoneum, rektu atau kandung kemih. Sel eksfolisasi yang melewati tuba falopii dapat berimplikasi pada ovarium, peritonium visera atau parietal, atau omentum.

Penyebaran limfatik paling sering terjadi pada pasien yang menderita penetrasi miometrium yang bermakna. Penyebaran terutama terjadi pada kelenjar-kelenjar getah bening pelvis dan sesudah itu kelenjar-kelenjar getah bening periaorta. insidensi dari metastasis kelenjar getah bening bergantunng pada derajat tumor dan kedalaman invasi

KORPUS UTERY
KANKER KORPUS UTERI

I. Pengertian Kanker korpus uterus adalah penyakit akibat tumor ganas pada daerah 2/3 bagian atas rahim sebagai akibat dari adanya pertumbuhan jaringan yang tidak terkontrol dan merusak jaringan normal di sekitarnya (Sarwono,1994). Kanker korpus uterus dianggap primer jika berasal dari endometrium atau miometrium. Dianggap tumor ganas endometrium bila histologi berjenis adenokarsinoma atau adenoakantoma. II. Faktor predisposisi 1. Obesitas Obesitas berhubungan dengan terjadinya peningkatan resiko sebesar 20 - 80 %. Wanita yang mempunyai kelebihan berat badan 11 - 25 kg mempunyai peningkatan resiko 3 kali dan 10 kali pada wanita yang mempunyai kelebihan berat badan lebih dari 25 kg. 2. Nuiliparitas Pada wanita nulliparitas dijumpai peningkatan resiko sebesar 2 - 3 kali. 3. Diabetes Melitus Didapati peningkatan resiko sebesar 2,8 kali pada wanita penderita diabetes melitus. 4. Hipertensi Sebesar 25 - 75 % penderita mengidap hipertensi. 5. Estrogen eksogen Pada wanita menopause yang mengkonsumsi estrogen eksogen akan terjadi peningkatan resiko sebesar 4,5 - 13,9 kali. 6. Late menopause Wanita yang menopause sesudah umur 52 tahun akan terjadi peningkatan resiko sebesar 2,4 kali. Disamping itu dapat terjadi pada wanita pramenopause dengan sikius haid yang tidak teratur. 7. Polycystic,ovarian syndrome 8. Penyakit kandung empedu 9. Merokok 10. Tamoxifen Wanita pengguna tamoxifen akan terjadi peningkatan resiko sebesar 2 - 3 kali. III. Histopatologi Yang dianggap pendahulu (precursor) didapat pada waktu kuretase atas indikasi perdarahan disfungsi adalah hiperplasia adenomatosa atau hiperplasi endometrium yang atipik. 90% Tumor ganas endometrium/korpus uterus adalah adenokarsinoma, sisanya adalah karsinoma epidermoid, adenoakantoma, sarkoma dan karsinoma-sarkoma. Adenokarsinoma endometrium secara histologik dibagi menjadi 3 derajat ( grading) sesuai dengan prognosisnya ; G1 diferensiasi sel-sel masih baik G2 sudah terdapat bagian-bagian yang solid/padat G3 sebagian besar adalah sel padat/solid atau diferensiasi sel-sel sudah tidak baik lagi. Sebagian besar karsinoma endometrium adalah adenocarcinoma 1. Makroskopis

Uterus. membesar, permukaan dalamnya kasar, mempunyai daerah yang berpapil-papil yang menempati sedikitnya setengah uterus dan kadang tumor bebentuk polypoid dengan dasar yang terang. Permukaannya bisa halus dan ada perdarahan serta rongga uterusnya membesar dengan dinding uterusnya yang tipis. Biasanya tumor terdapat di daerah fundus. Dapat menginvasi ke dalam miometrium (bise tidak) 2. Mikroskopis - Umumnya adenocarcinoma adalah differensiasi sel - sel columnar yang baik dengan bentuk kelenjarnya menyerupai endometrium phase proliferasi tetapi sudah menginvasi ke stroma dan miometrium. - Sel epitel kelenjarnya beriapis-lapis. - Sering tampak kelenjar yang tidak teratur dan bentuknya seperti cribriform, mempunyai banyak inti berbentuk bundar dengan Chromatin yang berkelompok dan anak inti yang jelas. - Tampak gambaran mitosis tetapi dapat tidak jelas. - Kira-kira 20 % kasus mengandung sel stroma yang berisi lemak. - Dari 113 kasus, tampak daerah hyperplasia endomethum yang atypik atau cystik dimana hal ini dapat mempengaruhi prognosanya. Adenocarcinoma endometrium mempunyai sub type: 1. Sakretrory adenocarcinoma 2. Musinous adenocarcinoma 3. Ciliated cell adenocarcinoma IV. Penyebaran Penyebaran adenokarsinoma endometrium biasanya lambat kecuali pada G3. Tumor dengan diferensiasi sel-sel yang tidak baik cenderung menyebar ke permukaan kavum uterus dan endoserviks. Jika telah sampai di endoserviks penyebaran selanjutnya seperti karsinoma serviks uterus 1. Jaringan sekitarnya Penyebaran adenocarcinoma endometrium biasanya lambat terutama pada yang differensiasi baik. Penyebarannya ke arah permukaan kevum uteri dan endoserviks. Dari kavum uteri menuju ke stroma endomethum ke miomterium ke ligamentum latum dan organ sekitarnya. Jika telah mengenai endoserviks, penyebaran selanjutnya seperti pada adenocarcinoma serviks. 2. Melalui kelenjar limfe Penyebarannya meialui keleniar limfe ovahum akan sampai ke keteniar para aorta dan meialui kelenjar limfe uterus akan menuju ke kelenjar iliaka interna, eksterna dan iliaka communis serta meialui kelenjar limfe ligamentum rotundum akan sampai ke kelenjar limfe inguinal dan femoral. 3. Melalui aliran darah Biasanya proses penyebarannya sangat lambat dan tempat metastasenya adalah paru, hati dan otak. V. Pembagian dalam tingkatan Klinik Ada dua klasifikasi yang dianut menurut FIGO juga UICC. A. Klasifikasi menurut FIGO. Tingkat Kriteria Tingkat Klinik 0

Tingkat klinik I : Ia : Ib : G1 : G2 : G3 : Tingkat Klinik II: Tingkat Klinik III : Tingkat Klinik IV : Karsinoma In Situ, lesi para-neoplastik seperti hiperplasia adenomatosa endometrium, atau hiperplasia endometrium yang atipik Proses masih terbatas pada korpus uterus Sondase kavum uterus 8 cm atau kurang Sondase kavum uterus > 8 cm Diferensiasi sel-sel baik Terdapat bagian bagian yang padat ( solid ) Sebagian besar sel padat/solid atau seluruhnya tak berdifensiasi Proses meluas sampai ke serviks Proses sudahb keluar uterus tapi masih dalam panggul kecil Proses sudah keluar dari panggul kecil atau sudah mencapai mukosa rektum atau kandung kemih B. Klasifikasi menurut UICC (Union International Contra le Cancer) UICC Kriteria FIGO T-1 : T-2 : T-3 : T-4 : Karsinoma masih terbatas di korpus Karsinoma telah meluas sampai di serviks, tapi belum sampai keluar uterus Karsinoma telah keluar dari uterus, termasuk penyebarannya ke vagina, namun masih tetap berada dalam panggul kecil Karsinoma telah melibatkan mukosa rektum atau kandung kemih dan atau meluas sampai di luar panggul kecil.; I II III IV VI. Gejala Klinis. Awal dari pemeriksaan ginekologi biasanya negatif, tersembunyi dan membahayakan.

Dalam banyak kejadian gejala dikaitkan dengan menopause berupa getah vagina kemerahan atau sesudah menopause. Rasa sakit dan perasaan rahim berkontraksi sering dikeluhkan Lanjut muncul keluhan tekanan akibat membesarnya korpus uterus. Pembesaran dan fiksasi uterus akibat infiltrasi sel ganas ke dalam parametrium. Pada wanita dalam masa klimakterium atau menopause mengalami perdarahan dari rahim. VII. Diagnose 1. Gejala klinis 2. Pemeriksaan fisik 3. Pemeriksaan ginekologi Dilakukan pemeriksaan rektovaginal. 4. Pemeriksaan sitologi (pap smir) Pemeriksaan ini kurang berarti oleh karena sel-sel adenocarcinoma yang eksfoliatif biasanya telah mengalami sitolisis dalam rongga uterus. 5. Pemeriksaan histologi a.Office endometrial aspiration biopsy b.Dilatasi dan kuretase c.Histeroskopi - endometrial biopsi 6. Histerograft 7. Pemeriksaan tambahan. a. Darah b. Urin c USG dan MRI d. Foto thorax e. Fungsi hati dan kadar gula darah f. Fungsi ginjal (intravenous urography) g. Sigmoidoscopy dan barium enema CA 125 VIII. Penatalaksanaan TAH ( Total Abdominal Histerektomi ) + BSO (Bilateral Salpingo Oophorektomy) Tindakan ini merupakan pilihan utama untuk kasus tingkat klinis T-is (KIS) dan T1.Kombinasi pembedahan dengan radioterapi sebelum dan sesudah pembedahan dilakukan pada tinghkat T-1, T-2 dan kasus T-3 yang dinilai masih operabel. Penyinaran sebelum operasi akan mengurangi terjadinya rekurens lokal dan metastasis. Jenis penyinaran ditentukan akan diberikan aplikasi radium intrakaviter atau penyinaran luar dengan Cobalt 60 ditentukan oleh ginekolog dan radioterapis berdasarkan tingkat klinis penyakit, besarnya uterus dan hasil pemeriksaan histologi. Operasi dilakukan 2-6 minggu sesudah penyinaran selesai, tergantung dari jenis penyinaran yang dilakukan. Pada tingkat klinis T-3 yang dinilai un operabel hanya dilakukan penyinaran dan pengobatan hormonal dengan pemberian preparat progestatif dosis tinggi, sedangkan pada T-4 tujuan paliatif hanya diberi terapi hormonal dengan progestatif dosis tinggi. Seperti Medroxy Progesteron Asetat (MPA), provera, Tamoxzifen. Pengobatan hormonal dapat menahan penyebaran sel ganas sebab pemberian hormonal dengan progrestatif dosis tinggiharus diteruskan selama pengobatan masih memberi respon. IX. PATOFISIOLOGI CANCER CORPUS UTERI

Cancer Corpus Uteri

Tumbuh di dinding uterus brd di bawah endometrium & Tumbuh keluar dinding menonjol ke dalam rongga uterus uterus

Gejala/ Tanda Perdarahan Pembesaran Uterus PeSuplai darah Gg Hematologi Kurang Pengetahuan Gg Sirkulasi Penekanan syaraf

Gg Perfusi Jar pe imun tubuh Cemas Nekrosis Radang Resiko Infeksi Nyeri Penekanan Kandung kencing Uretra Ureter rectum PoliUri Retensio Uri Hidronefrosis Obstipasi/Tenesmus

Gangguan Eliminasi Uri Gangguan Eliminasi Alvi

X. Konsep Keperawatan 1. Pengkajian Data dasar Pengumpulan data pada pasien dan keluarga dilakukan dengan cara anamnesa, pemeriksaan fisik dan melalui pemeriksaan penunjang Data pasien : Identitas pasien, usia, status perkawinan, pekerjaan jumlah anak, agama, alamat jenis kelamin dan pendidikan terakhir. Keluhan utama : pasien biasanya datang dengan keluhan nyeri dan perasaan rahim berkontraksi, perdarahan Riwayat penyakit sekarang : Biasanya klien pada stsdium awal tidak merasakan keluhan yang mengganggu, baru pada stadium akhir yaitu stadium 3 dan 4 timbul keluhan seperti : perdarahan dan rasa nyeri intra servikal. Riwayat penyakit sebelumnya : Data yang perlu dikaji adalah : Riwayat abortus,kuretase, infeksi pasca abortus, infeksi masa nifas, riwayat operasi kandungan, serta adanya tumor. Riwayat keluarga yang menderita kanker.

Keadaan Psiko-sosial-ekonomi dan budaya: Ca korpus uterus sering dijumpai pada kelompok sosial ekonomi yang rendah, berkaitan erat dengan kualitas dan kuantitas makanan atau gizi yang dapat mempengaruhi imunitas tubuh, serta tingkat personal hygiene terutama kebersihan dari saluran urogenital. Data khusus: 1. Riwayat kebidanan ; paritas, kelainan menstruasi, lama,jumlah dan warna darah, adakah hubungan perdarahan dengan aktifitas, apakah darah keluar setelah koitus, pekerjaan yang dilakukan sekarang 2. Pemeriksaan penunjang Sitologi dengan cara pemeriksaan Pap Smear, uterografi,sitologi, USG. 2. Diagnosa Keperawatan a. Gangguan perfusi jaringan (anemia) b.d perdarahn intrauteri b. Gangguan pemenuhan nutrisi kurang dari kebutuhan b/d penurunan nafsu makan c. Gangguan rasa nyama (nyeri) b.d proses desakan pada jaringan intra uteri d. Cemas b.d terdiagnose ca korpus akibat kurangnya pengetahuan tentang Ca.Korpus Uteri dan pengobatannya. e. Resiko tinggi terhadap gangguan konsep diri b.d perubahan dalam penampilan terhadap pemberian sitostatika. 3. Perencanaan Gangguan perfusi jaringan (anemia) b.d perdarahan masif intra uteri Tujuan : Setelah diberikan perawatan selama 1 X 24 jam diharapkan perfusi jaringan membaik : Kriteria hasil : a. Perdarahan intra uteri sudah berkurang b. Konjunctiva tidak pucat c. Mukosa bibir basah dan kemerahan d. Ektremitas hangat e. Hb 11-15 gr % d. Tanda vital 120-140 / 70 - 80 mm Hg, Nadi : 70 - 80 X/mnt, S : 36-37 C, RR : 18 - 24 X/mnt. Intervensi : - Observasi tanda-tanda vital - Observasi perdarahan ( jumlah, warna, lama ) - Cek Hb - Cek golongan darah - Beri O2 jika diperlukan - Pemasangan vaginal tampon. - Therapi IV Gangguan pemenuhan nutrisi kurang dari kebutuhan tubuh b.d penurunan nafsu makan. Tujuan : - Setelah dilakukan perawatan kebutuhan nutrisi klien akan terpenuhi Kriteria hasil : - Tidak terjadi penurunan berat badan - Porsi makan yang disediakan habis. - Keluhan mual dan muntah kurang

Intervensi :

- Jelaskan tentang pentingnya nutrisi untuk penyembuhan - Berika makan TKTP - Anjurkan makan sedikit tapi sering - Jaga lingkungan pada saat makan - Pasang NGT jika perlu - Beri Nutrisi parenteral jika perlu. Gangguan rasa nyaman (nyeri) b.d proses desakan pada jaringan intra uteri Tujuan - Setelah dilakukan tindakan 1 X 24 jam diharapka klien tahu cara-cara mengatasi nyeri yang timbul akibat kanker yang dialami Kriteria hasil : - Klien dapat menyebutkan cara-cara mengurangi nyeri yang dirasakan - Intensitas nyeri berkurangnya - Ekpresi muka dan tubuh rileks Intervensi : - Tanyakan lokasi nyeri yang dirasakan klien - Tanyakan derajat nyeri yang dirasakan klien dan nilai dengan skala nyeri. - Ajarkan teknik relasasi dan distraksi - Anjurkan keluarga untuk mendampingi klien - Kolaborasi dengan tim paliatif nyeri Cemas yang b.d terdiagnose kanker korpus uteri kurangnya pengetahuan tentang kanker korpus uteri, penanganan dan prognosenya. Tujuan : Setelah diberikan tindakan selama 1 X 30 menit klien mendapat informasi tentang penyakit kanker yang diderita, penanganan dan prognosenya. Kriteria hasil : - Klien mengetahui diagnose kanker yang diderita - Klien mengetahui tindakan - tindakan yang harus dilalui klien. - Klien tahu tindakan yang harus dilakukan di rumah untuk mencegah komplikasi. - Sumber-sumber koping teridentifikasi - Ansietas berkurang - Klien mengutarakan cara mengantisipasi ansietas.

Rencana Tindakan : - Berikan kesempatan pada klien dan klien mengungkapkan persaannya. - Dorong diskusi terbuka tentang kanker, pengalaman orang lain, serta tata cara mengentrol dirinya. - Identifikasi mereka yang beresiko terhadap ketidak berhasilan penyesuaian. ( Ego yang buruk, kemampuan pemecahan masalah tidak efektif, kurang motivasi, kurangnya sistem pendukung yang positif). - Tunjukkan adanya harapan - Tingkatkan aktivitas dan latihan fisik Resiko tinggi terhadap gangguan konsep diri b.d perubahan dalam penampilan sekunder terhadap pemberian sitostatika. Tujuan : Setelah diberikan tindakan perawatan, konsep diri dan persepsi klien mjd stabil. Kriteria hasil :

- Klien mampu untuk mengeskpresikan perasaan tentang kondisinya - Klien mampu membagi perasaan dengan perawat, keluarga dan orang dekat. - Klien mengkomunikasikan perasaan tentang perubahan dirinya secara konstruktif. - Klien mampu berpartisipasi dalam perawatan diri. Intervensi : - Kontak dengan klien sering dan perlakukan klien dengan hangat dan sikap positif. - Berikan dorongan pada klien untuk mengekpresikanb perasaan dan pikian tentang kondisi, kemajuan, prognose, sisem pendukung dan pengobatan. - Berikan informasi yang dapat dipercaya dan klarifikasi setiap mispersepsi tentang penyakitnya. - Bantu klien mengidentifikasi potensial kesempatan untuk hidup mandiri melewati hidup dengan kanker, meliputi hubungan interpersonal, peningkatan pengetahuan, kekuatan pribadi dan pengertian serta perkembangan spiritual dan moral. - Kaji respon negatif terhadap perubahan penampilan (menyangkal perubahan, penurunan kemampuan merawat diri, isolasi sosial, penolakan untuk mendiskusikan masa depan. - Bantu dalam penatalaksanaan alopesia sesuai dengan kebutuhan. - Kolaborasi dengan tim kesehatan lain yang terkait untuk tindakan konseling secara profesional. DAFTAR PUSTAKA Dongoes M.E (2000). Rencana Asuhan Keperawatan. Cetakan I. Jakarta. Mardjikoen P.(1994) Dalam : tumor ganas alat genital. Dalam :Ilmu Kandungan. Edisi Kedua. Yayasan Bina Pustaka Sarwono Prawirohardjo, Jakarta. Soekimin(2005) Dalam : artikel kuliah karsinoma endometrium. BagianPatologi Anatomi. Fakultas Kedokteran Universitas Sumatera Utara.

TINJAUAN TEORI
1. Pengertian Kanker Rahim (uterus) atau yang sebenarnya adalah kanker jaringan endometrium adalah kanker yang sering terjadi di endometrium, tempat dimana janin tumbuh, sering terjadi pada wanita usia 60-70 tahun. (http://infokomaccess.blogspot.com/2011/07/blog-post.html ) Kanker rahim adalah suatu kanker di dalam jaringan rahim yang merupakan suatu rongga kosong, berbentuk buah pear, dimana janin tumbuh dan berkembang selama masa kehamilan, mulai dari bentuk sel telur yang dibuahi benih jantan sampai bentuk janin hingga proses kelahiran bayi. Kanker korpus uterus adalah penyakit akibat tumor ganas pada daerah 2/3 bagian atas rahim sebagai akibat dari adanya pertumbuhan jaringan yang tidak terkontrol dan merusak jaringan normal di sekitarnya (Sarwono,1994). Kanker korpus uterus dianggap primer jika berasal dari endometrium atau miometrium. Dianggap tumor ganas endometrium bila histologi berjenis adenokarsinoma atau adenoakantoma. Kanker endometrium dalam perjalanan etiologinya didahului oleh proses prakanker yaitu hyperplasia endometrium. Hyperplasia endometrium yang atipik merupakan lesi prakanker dari kanker endometrium, sedangkan hyperplasia yang non atipik saat ini dianggap bukan merupakan lesi prakanker endometrium. Kanker korpus uteri yang kerap dijumpai adalah sarcoma uterus. Sarcoma dapat berasal dari otot, dari stroma endometrium, ataupun dari sel lemak. Sifat sarcoma umumnya sangat ganas dan cepat mengalami rekurensi dengan sifat yang tidak memberi respon pengobatan radioterapi ataupun kemoterapi yang baik. (Epidemologi Kanker pada Wanita). 2. Pola Penyabaran Keganasan pada endometrium biasanya bertumbuh lambat dan tetap terbatas dalam waktu yang lama. Sel-sel ganas berkembang terus dan akan menginvasi stroma endometrium dan miometrium. Miometrium berfungsi sebagai benteng dan jika miometrium telah ditembus, umumnya penyebaran sudah luas dan jauh. Penyebaran melalui permukaan akan sampai ke serviks, tuba, peritoneum, sedangkan yang menembus miometrium akan sampai pada peritoneum visceral dan parametrium. Kelenjar-kelenjar limfe biasanya baru terinvasi pada tingkat lanjut. Kelenjar limfe sudah terinvasi sebanyak 7,6% pada G1, 13,0% pada G2, dan sebanyak 28,6% pada G3.

Ditinjau dari segi tingkat klinik, kelenjar limfe sudah diinvasi sebanyak 10,6% pada tingkat 1 dan 36,5% pada tingkat II. Jika proses sudah mencapai pada serviks maka penyebaran akan menyerupai carcinoma servicis uteri. Melalui saluran limf penyebaran dapat mencapai ovarium; sepanjang ligamentum rotundum penyebaran dapat sampai di daerah inguinal; jika proses terdapat di tanduk uterus, kelenjar paraaortik lebih mudah disebari. Berbeda dengan hal di atas, proses yang terjadi di isthmus akan menyebar seperti padacarcinoma servicis uteri. Penyebaran yang sering terjadi ialah ke dinding vagina depan karena eratnya hubungan antara pleksus (vena dan limf) antara uterus dan daerah pravesikal. Golongan histologik G2 dan G3 lebih cepat menyebar menembus miometrium sedangkan tumor yang masih berdegenarasi baik G1 cenderung bertambah ke cavum uteri.(Kanker Ginekologik). 3. Klasifikasi (pada tahun 1998 FIGO menetapkan criteria surgical) Stadium IA (G1, G2, G3) : Tumor terbatas pada endometrium. Stadium IB (G1, G2, G3) : Menginvasi kurang dari setengah miometrium Stadium IC (G1, G2, G3) : Menginvasi lebih dari setengah miometrium. Stadium IIA (G1, G2, G3) : Mengenai kelenjar endoserviks Stadium IIB (G1, G2, G3) : Menginvasi stroma serviks Stadium IIIA (G1,G2,G3) : Menginvasi ke lapisan serosa dan/atau adneksa dan /atau pemeriksaan sitologi peritoneum positif Stadium IIIB (G1, G2, G3) : Metastasis ke vagina Stadium IIIC (G1, G2,G3) : Metastasis ke kelenjar getah bening pelvis dan/atau para-aorta Stadium IVA (G1, G2,G3) : Invasi ke kandung kemih dan/atau mukosa usus. Stadium IVB : Metastasis jauh termasuk ke rongga abdomen dan/atau kelenjar getah bening inguinal. Kanker endometrium dibagi atas derajat (G) sesuai dengan derajat diferensiasi histologik. G1 = 5% atau kurang gambaran pertumbuhan padat; G2 = 6-50% gambaran pertumbuhan padat G3 = > 50 % gambaran pertumbuhan padat. Catatan tentang penentuan derajat histopatologik

1.1. apabila terdapat inti sel yang atipik, yang jauh lebih berat dari derajat diferensiasi yang diperkirakan, tumor derajat I dan II diletakkan menjadi derajat tertinggi. 1.2. Pada adenokarsinoma, karsinoma sel jernih, dan karsinoma sel skuamos, bentuk nukleusnya menjadi priorutas utama. 1.3. Adenokarsinoma yang menunjukkan diferensiasi sel skuamosa, penentuan derajatnya bergantung pada bentuk nukleus dibagian glandular tumor. 4. Etiologi Etiologi dari kanker endometrium masih belum jelas meskipun disebagian besar kasus diduga berkembang melalui fase pramaligna neoplasia intraendometrial. Factor-faktor predisposisi yang perlu diingat ialah : 1. Keturunan Terjadinya mutasi pada gen yang mengatur perbaikan sel, yang disebut sebagai sindroma Lynch II. Sindrom ini menunjukkan adanya factor genetic yang berperan terhadap timbulnya kanker endometrium. Sindrom ini merupakan sindrom kanker kolon, kanker endometiurm dan kanker ovarium. 2. Golongan sosioekonomi tinggi yang banyak menggunakan kosmetik yang mahal-mahal yang banyak mengandung zat-zat kimia. 3. Obesitas Obesitas berhubungan dengan terjadinya peningkatan resiko sebesar 20 - 80 %. Wanita yang mempunyai kelebihan berat badan 11 - 25 kg mempunyai peningkatan resiko 3 kali dan 10 kali pada wanita yang mempunyai kelebihan berat badan lebih dari 25 kg. 4. Nulipara Pada wanita nulliparitas dijumpai peningkatan risiko sebesar 2-3 kali. 5. Diabetes Melitus Didapati peningkatan risiko sebesar 2,8 kali pada wanita penderita diabetes mellitus. 6. Hipertensi Sebesar 25-75% penderita mengidap hipertensi. 7. Estrogen eksogen Pada wanita menopause yang mengkonsumsi estrogen eksogen akan terjadi peningkatan risiko sebesar 4,5-13,9 kali. 8. Terlambat Menopause Wanita yang menopause sesudah umur 52 tahun akan terjadi peningkatan risiko sebesar 2,4 kali.

Disamping itu dapat terjadi pada wanita pramenopause dengan sikius haid yang tidak teratur. 9. Merokok 10. Tamoxifen Wanita pengguna tamoxifen akan terjadi peningkatan resiko sebesar 2 - 3 kali. III. Histopatologi. 5. Tanda dan Gejala Tanda dan gejala yang paling sering ditemukan adalah perdarahan uterus abnormal dan/atau discharge uterus yang berupa metroragia atau perdarahan pascamenopause dan/atau keputihan, amenore, polimenore, oligomenore, menoragia. 6. Patofisiologi Kanker endometrium adalah jaringan atau selaput lender rahim yang tumbuh di luar rahim. Padahal, seharusnya jaringan endometrium melapisi dinding rahim. Kanker endometrium tumbuh pada ovarium, tuba falopii, dan saluran menuju vagina. Kanker ini bukan merupakan penyakit akibat hubungan seksual. Wanita muda maupun yang sudah tua dapat terkena penyakit ini. Walaupun pada umumnya yang terserang wanita yang sudah tua. Tumbuhnya jaringan endometrium di luar rahim kemungkinan disebabkan oleh darah menstruasi masuk kembali ke tuba falopii dengan membawa jaringan dari lapisan dinding rahim sehingga jaringan tersebut menetap dan tumbuh di luar rahim. Kemungkinan lain adalah jaringan endometrium terbawa ke luar rahim melalui pembuluh darah atau kelenjar getah bening. 7. Pathway (BELUM ADA)

8. Penatalaksanaan Pasien kanker endometrium lebih baik menjalani histerektomi atau histerektomi dengan radiasi daripada hanya radiasi saja. Prinsip terapinya adalah operasi, dengan atau tanpa radiasi adjuvant. Bebrapa uji klinis telah meneliti peran terapi hormonal dan kemoterapi sebagai terapi adjuvan pada kanker endometrium stadium awal. Namun, keduanya tidak menunjukkan keuntungan jika dibandingkan dengan tindakan operasi dan radiasi. Prosedur pembedahan standar histerektomi total ekstrafascial dengan salpingooforektomi bilateral. Pengambilan adneksa juga dianjurkan, karena

1. 2. 3. 4.

meskipun adneksa kelihatan normal dapat mengandung mikrometastasis. Pengangkatan vaginal cuff tidak perlu dan tidak bermanfaat disbanding dengan eksisi jaringan parametrium pada kasus yang biasa. Jika pada saat praoperasi diketahui stroma serviks atau serviks terlibat, maka dilakukan histerektomi radikal yang telah dimodifikasi. (Epidemologi Kanker pada Wanita). Hasil operasi dikirimkan ke bagian hispatologik. Laporannya harus mencakup bebrapa hal berikut : Tipe tumor dengan komponen minor secara detail, Kedalaman invasi pada miometrium, Luas dari miometrium yang tidak terlibat, dan ada/tidak invasi pada kelenjar limfa.

9. Pemeriksaan Penunjang 1. Foto toraks x-ray untuk melihat kemungkinan metastasis ke paru 2. Pap Smear untuk menyingkirkan CA serviks. 3. Pemeriksaan laboratorium rutin (darah lengkap, fungsi liver, elektrolit) untuk menyingkirkan metastasis yang tersembunyi penyakit medis lainnya. 4. Pertimbangkan untuk melakukan sigmoidoskopi atau barium enema hanya pada pasien yang massanya dapat dipalpasi di luar uterus, yang disertai dengan gejala saluran pencernaan atau dengan riwayat kanker kolon di keluarga. 5. CT-scan harus dilakukan pada beberapa kasus untuk mengidentifikasi tempat primre kanker. (Panduan Penatalksanaan Kanker Ginekologik). 10. Pencegahan kanker rahim a. Jauhi rokok Nikotin mempermudah semua sel selaput lendir seluruh tubuh bereaksi dan mudah terangsang baik tenggorokan, paru, maupun leher rahim. b. Kebiasaan membersihkan vagina dengan baik. Pencucian vagina dengan zat-zat tertentu merangsang timbulnya kanker serviks. Sebaiknya pencucian vagina tidak memakai zat kimia, kecuali atas saran dokter. c. Tidak menaburi vagina dengan talk karena gatal dan basah. Pemakaian talk pada vagina perempuan usia subur, berisiko timbulnya kanker ovarium. Karena pada perempuan usia subur, terjadi luka di ovarium setiap peristiwa ovulasi. Talk bisa masuk ke dalam luka tersebut dan berisiko menimbulkan kanker.

d. Tidak berganti-ganti pasangan Perilaku seperti ini berisiko terjadi kanker serviks dan kanker rahim. Hal ini berkaitan dengan infeksi Human Papiloma Virus (HPV). Virus ini menyebabkan sel mukosa menjadi cepat membelah hingga melebihi kebutuhan dan lama-lama meningkatkan resiko terjadi kanker.

Anda mungkin juga menyukai