Anda di halaman 1dari 11

Kembali

Risalah Lokakarya Komputasi dalam Sains dan Teknologi Nuklir XVII, Agustus 2006 (199-209)

PENGEMBANGAN MANOMETER DIGITAL

Fariduzzaman*

ABSTRAK

PENGEMBANGAN MANOMETER DIGITAL. Manometer adalah suatu alat untuk mengukur


tekanan pada suatu lokasi yang ditentukan dalam fluida. Alat ini mendeteksi tekanan differensial antara
lokasi yang diukur dengan tekanan rujukan. Indikator untuk manometer konvensional adalah cairan dalam
tabung U, sedangkan manometer digital menunjukkan datanya secara digital berdasarkan sistem yang
terdiri dari hardware dan software. Makalah berikut akan menjelaskan konsep perancangan, konstruksi
dan integrasi hardware dan software dalam membuat manometer digital tersebut. Sistem ini
dikembangkan dengan produk National Instrument (NI) yang didukung oleh software pemrograman
visual LabView 7.1, dalam lingkungan Windows XP.

Kata-kata kunci: sistem tekanan, pemrograman visual, uji terowongan angin

ABSTRACT

DIGITAL MANOMETER DEVELOPMENT. Manometer is a device to measure the pressure


at a certain location in a fluid. It detects the differential pressure between the measured location and a
pressure reference. The indicator of a conventional manometer is liquid level in a U-tube, whereas the
digital manometer indicates the digital base on data system, which built by hardware and software. The
following paper will describe the concept of design, the construction, and the integration of hardware and
software to make the digital manometer. The system was developed using National Instrument products
which is driven by a visual programming software, LabView 7.1 in Windows XP platform.

Keywords: pressure system, visual programming, wind tunnel test

PENDAHULUAN

Tekanan udara adalah parameter fisik paling penting dari uji terowongan angin,
dari parameter inilah kecepatan angin di seksi uji dapat diketahui, bahkan gaya dan
momen aerodinamika model yang diuji.
Konsep pengukuran tekanan yang paling dasar diterapkan dalam cara kerja
manometer. Karena itu di lingkungan aerodinamika eksperimental, manometer sangat
dikenal sebagai dasar dari semua sistem pengukuran tekanan [1].

*
UPT-LAGG BPPT, PUSPIPTEK-Serpong, Tangerang-15314, INDONESIA, faridz@webmail.bppt.go.id

199
Risalah Lokakarya Komputasi dalam Sains dan Teknologi Nuklir XVII, Agustus 2006 (199-209)

Manometer juga dapat digunakan dalam cairan. Misalnya untuk mengukur


distribusi tekanan aliran di sekitar belakang pipa silinder dalam heat-exchanger atau
pipa-pipa reaktor nuklir.
Dalam pengukuran distribusi tekanan suatu medan aliran, jumlah manometer
yang diperlukan akan banyak. Karena itu manometer disusun sebagai deretan tabung
(array) yang disebut dengan multi-manometer.
Gambar 1 menunjukkan contoh aplikasi fisik penggunaan multi-manometer
dalam fluida udara dan cairan. Dari distribusi tekanan aliran dibelakang silinder maka
dapat diekstraksi distribusi kecepatan aliran dan gaya aerodinamika seperti drag pipa.

Gambar 1. Tekanan dibelakang pipa silinder bulat menghasilkan distribusi


kecepatan, drag dan lift

Alat ukur distribusi tekanan (probe) terdiri dari sederetan (array) pipa-pipa
lubang tekanan yang diatur sedemikian sehingga jumlahnya memadai untuk mengukur
satu bidang medan aliran. Lihat Gambar 2.

Gambar 2. Alat untuk mengukur distribusi tekanan, dihubungkan dengan manometer

200
Risalah Lokakarya Komputasi dalam Sains dan Teknologi Nuklir XVII, Agustus 2006 (199-209)

Setiap lubang tekanan terhubung dengan satu pipa manometer dalam multi-
manometer. Jika masing-masing pipa manometer disusun secara teratur, maka pola
distribusi tekanan dapat langsung diketahui dari multi-manometer tersebut.
Pada dasarnya satu manometer bekerja berdasarkan perbedaan tekanan dari dua
ujung lengan tabung U, dimana dalam tabung telah diisi cairan, biasanya air atau air
raksa. Jika kedua ujung lengan tabung terhubung ke udara luar (atmosfir), maka
permukaan cairan akan sama karena kedua tekanannya sama. Jika kedua lengan
terhubung dengan udara yang tekanannya berbeda, maka pada ujung yang tekanannya
rendah permukaan cairan akan lebih tinggi dari ujung yang tekanannya tinggi. Dengan
kata lain ujung bertekanan tinggi akan menekan cairan menuju ujung bertekanan
rendah.
Perbedaan ketinggian cairan di kedua lengan pipa U akan berbanding lurus
dengan perbedaan tekanan antara 2 ujung tersebut.
Namun manometer konvensional seperti ini masih memiliki beberapa
kekurangan, antara lain:
- Respon yang lambat;
- Mudah terjadi kesalahan paralax, karena permukaan cairan tidak selalu rata;
- Jika pipanya terlalu kecil akan terjadi efek kapilaritas akibat tegangan permukaan,
karena itu harus dikoreksi;
- Untuk pengolahan dan analysis data yang terukur harus dicatat secara manual dan
baru setelah itu disalin ke komputer .
Maka sebagai solusi dari masalah ini dikembangkanlah manometer digital, yakni
suatu sistem hardware dan software yang bekerja seperti manometer tabung dengan
beberapa kelebihan:
- Respon cepat bahkan dapat mendekati realtime (< 500 msec.);
- Tampilan data dapat diberikan secara numerik dan grafik di layar komputer, tanpa
kesalahan paralax atau efek kapilaritas;
- Hasil pengukuran dalam besaran fisika (Pa., Psi, atm, bar atau mmHg), dapat
langsung disimpan di media penyimpan komputer;
- Jika dilengkapi software pengolah data, maka hasil akhir dari analysis dapat pula
ditampilkan, yakni dalam bentuk parameter aerodinamika.

DASAR TEORI

Jika atmosfir bumi dapat dianggap sebagai fluida yang statik, maka di atmosfir
bumi yang terbuka bekerja suatu tekanan udara yang disebut sebagai tekanan atmosfir
(disebut pula tekanan barometrik), Patm. Nilai tekanan ini dapat diukur dengan suatu
alat yang disebut Barometer.

201
Risalah Lokakarya Komputasi dalam Sains dan Teknologi Nuklir XVII, Agustus 2006 (199-209)

Nilai Patm di permukaan laut (sea level) dijadikan sebagai standard untuk
tekanan barometrik. Selanjutnya Patm tersebut akan bervariasi terhadap ketinggian dari
permukaan laut.
Pada permukaan laut nilai Patm telah disepakati sebesar 1 atm yang setara
dengan 101.3 kN/m2 = 101.3 kPa.
Sedangkan dalam suatu fluida tertutup bekerja tekanan lokal yang tekanan
totalnya terdiri atas komponen tekanan statik (s) dan tekanan dinamik (q) [1].

Pt = s + q (Pa) (1)

Secara fisik tekanan total Pt dapat diukur dengan membuat suatu probe yang
penampang lubang tekanannya tegak lurus arah datang angin. Sedangkan tekanan
statik s dapat diukur dengan membuat suatu probe yang penampang lubang tekannya
tangensial terhadap arah aliran fluida. Lihat Gambar 1.
Apabila suatu tabung U yang berisi cairan m, satu ujungnya terhubung dengan
sumber tekanan-1 dan ujung lainnya dengan sumber tekanan-2, maka perbedaan
tekanan diantara 2 ujung tersebut (∆p) berbanding lurus dengan tinggi cairan yang
dipindahkan, ∆h, [2].

∆p = p1 − p2 (Pa) (2)

∆p = γ m .g.∆h (Pa) (3)

di mana, γm : rapat jenis cairan isi tabung-U


g : percepatan gravitasi bumi
∆h : perbedaan ketinggian permukaan cairan dalam tabung U

Secara praktis, sumber tekanan-1 biasanya terhubung dengan tekanan-rujukan (pr)


atau tekanan udara atmosfir (Patm ).

202
Risalah Lokakarya Komputasi dalam Sains dan Teknologi Nuklir XVII, Agustus 2006 (199-209)

Gambar 3. Manometer Tabung-U

Untuk saluran terbuka, Patm atau pr biasanya lebih besar dari p2. Sehingga
apabila ada lebih dari satu posisi P2 yang diukur, maka tekanan di posisi ke-i adalah,

pi = pr − ∆p (Pa) (4)

Dengan demikian dapat dibuat suatu alat yang dikenal dengan multi-
manometer, yakni alat ukur tekanan yang terdiri dari sejumlah manometer yang
disusun sebagai array. Alat ini berguna dalam mengukur distribusi tekanan permukaan
model atau distribusi tekanan medan aliran. Dimana distribusi tekanan ini selanjutnya
dapat dikonversi ke besaran gaya atau momen aerodinamika.

Gambar 4. Multimanometer

203
Risalah Lokakarya Komputasi dalam Sains dan Teknologi Nuklir XVII, Agustus 2006 (199-209)

SISTEM HARDWARE

Konsep kerja manometer digital tak jauh berbeda dengan multimanometer,


dimana setiap manometer tabung akan setara dengan satu kanal dalam sistem
pengukuran elektronik, dalam hal ini sensor tekanan tidak lagi cairan namun
transducer.
Transduser tekanan bekerja berdasarkan prinsip jembatan wheatstone, dengan
membran dan kristal piezoelektrik di dalamnya. Jadi untuk transducer selalu
dibutuhkan sumber tegangan luar agar dapat bekerja aktif.

Gambar 5. Sistem Hardware

Data yang dihasilkan transducer adalah besaran analog dalam bentuk tegangan
(volt), yang selanjutnya perlu dikondisikan oleh perangkat instrument pengkondisian-
sinyal (conditioning unit, CU) dengan memberikan gain, filter atau offset, sehingga
data analog ini menjadi sesuai untuk diterima oleh perangkat digitisasi (Analog to
Digital Converter, ADC).
Pada sistem yang kini dikembangkan oleh LAGG, digunakan transducer
tekanan jenis gauge merek RS, dimana tekanan atmosfir lokal dijadikan sebagai
rujukannya. Sistem ini disusun untuk mengukur sumber tekanan sebanyak 16 kanal.
Unit pengkondisian sinyal adalah NI SCXI-1000 bersama modul NI SCXI-1102 yang
memiliki 32 kanal analog input, serta DA controllernya NI PCI-6221 yang dilengkapi
ADC resolusi 16 bit.

204
Risalah Lokakarya Komputasi dalam Sains dan Teknologi Nuklir XVII, Agustus 2006 (199-209)

SISTEM SOFTWARE

Agar sistem manometer digital bekerja dengan akurat dan terkendali, maka di
dalam komputer PC digunakan software pengendali DA (Data Acquisition) yang
dikembangkan menggunakan LabView 7.1, yakni sebuah pemrograman visual dari
National Instrument [3], [4], [5].
Antar muka yang mudah difahami dan sederhana adalah konsep dasar dari
pengembangan Manometer Digital ini. Tampak bahwa data yang diperoleh dapat
ditampilkan sebagai data numerik dan data grafik berupa bar vertikal.
Untuk menjalankan sistem cukup klik di tanda-panah dan untuk
menghentikannya dengan tombol stop. Tingkat kompatibiltas software juga tinggi,
karena data numerik yang diperoleh dalam satu titik data (sesi) pengukuran dapat
langsung disimpan ke file format EXCEL dengan tombol ok.
Seperti halnya perangkat elektronik yang banyak digunakan dalam sistem
instrumentasi, sebelum digunakan, pada manometer digital ini harus dilakukan dahulu
proses kalibrasi. Semua setting parameter maupun konfigurasi yang digunakan dalam
kalibrasi harus sama antara waktu kalibrasi dengan waktu pengukuran.
Proses kalibrasi dilakukan dengan dua peralatan. Pertama dilakukan kalibrasi
dengan tabung manometer yang konvensional dan kedua dengan micromanometer
electronic dari AIRFLOW PVM100 yang memiliki resolusi ∆P=1 Pa. Dengan
demikian jika digunakan kalibrator AIRFLOW maka ketelitian manometer akan setara
dengan kalibrator yakni 1% dari data terukur.
Untuk penggunaan operasional laboratorium digunakan kalibrator dari
manometer konvensional, maka ketelitiannya dapat diturunkan dari resolusi
manometer tabung yang ∆h =0.5mm atau setara dengan ∆P=4.9 Pa. Jadi ,
Ketelitian:

∆P
x100% (5)
PFS

Tekanan full-scale (PFS) adalah sebanding dengan maksimum kecepatan di seksi


uji 45 m/s atau 1215 Pa. Jadi ketelitian manometer:

4 .9
x100% = 0.4%
1215

205
Risalah Lokakarya Komputasi dalam Sains dan Teknologi Nuklir XVII, Agustus 2006 (199-209)

Gambar 6. Block Diagram LabView

Gambar 7. Tampilan Digital Manometer

206
Risalah Lokakarya Komputasi dalam Sains dan Teknologi Nuklir XVII, Agustus 2006 (199-209)

Dengan demikian prosedur kalibrasi ini dapat memperkecil kemungkinan


terjadinya kesalahan pada saat pengukuran.

Gambar 8. Pop Up Menu Untuk Kalibrasi

Gambar 9. Perekaman Data Property Kalibrasi

207
Risalah Lokakarya Komputasi dalam Sains dan Teknologi Nuklir XVII, Agustus 2006 (199-209)

Sistem kalibrasi disusun sedemikian sehingga setiap kanal dapat dijaga


akurasinya, begitupula ketertelusuranya (traceability) dengan menyertakan informasi
tanggal dan operator yang melakukan kalibrasi termasuk komentar lainnya yang
diperlukan.

KESIMPULAN

Dengan fasilitas hardware dan software yang tersedia di pasaran lokal, maka
telah berhasil dibuat suatu sistem perangkat hardware dan software yang disebut
dengan Digital Manometer.
Alat ini terbukti mampu meningkatkan effisiensi pengukuran dalam suatu
pengujian terowongan angin. Kesalahan paralax dapat dihindari, pengukuran yang
memakan waktu lama dapat dipercepat, tampilan yang praktis dan mempercepat
proses analisis. Hal ini juga dipermudah dengan adanya kemampuan menyimpan data
ke dalam file format EXCEL.
Konsep manometer digital dapat juga diterapkan untuk aplikasi yang lebih luas
daripada aplikasi terowongan angin, baik fluida gas maupun fluida cairan. Misalnya
sebagai alat ukur dalam riset perancangan pipa-pipa heat-exchanger, pipa-pipa reaktor
nuklir, pipa pengeboran minyak di laut, kabel bawah laut dan sebagainya.
Secara komersial sistem ini cukup murah. Komponen termahal dari versi saat ini
adalah unit SCXI dan software LabView, karena itu di masa datang komponen tersebut
dapat diturunkan nilainya menggunakan Compact DAQ dari National Instrument atau
menggunakan sistem hardware dan software non National Instrument.

DAFTAR PUSTAKA

1. GANZER, U., Experimental Techniques in Aerodynamics, Technical University


Berlin, 1984.

2. GOLDSTEIN, R.J. (1983), Fluid Mechanics Measurements, Hemisphere


Publishing Corp., Washington, 1983.

3. LabView 7 Express User Manual (2003), National Instruments, Austin-Texas

4. LabView 7 Express Measurement Manual (2003), National Instruments, Austin-


Texas

5. LabView 7 Express Development Guidelines (2003), National Instruments,


Austin-Texas

208
Risalah Lokakarya Komputasi dalam Sains dan Teknologi Nuklir XVII, Agustus 2006 (199-209)

DISKUSI

DARMAWAN

1. Apakah ada batasan berapa besar tekanan yang dapat dideteksi?


2. Apakah alat ini sudah dapat digunakan untuk terowongan yang besar (terowongan
tambang) artinya tidak hanya terowongan angin yang saya bayangkan terowongan
kecilnya?
3. Tolong beri kami referensi yang dapat kami hubungi

FARIDUZZAMAN

1. Dibatasi jenis/produk transducer dan rujukannya.


2. Dapat digunakan untuk terowongan besar maupun kecil.
3. Kontak Person : Fariduzzaman, UPT-LAGG, BPPT

DAFTAR RIWAYAT HIDUP

1. Nama : Fariduzzaman
2. Tempat/Tanggal Lahir : Cianjur, 17 Mei 1961
3. Instansi : UPT-LAGG, BPPT
4. Pekerjaan / Jabatan : Peneliti
5. Riwayat Pendidikan :
• 1986, S1 Fisika-ITB
• 1990, S2 Software Technology-THAMES POLY, UK
• S2 Teknik Penerbangan-ITB
6. Pengalaman Kerja :
• 1986-1999,Data Processing Engineer –ILST-BPPT
• 1999, Ka. Sub Bid Informatika-Elektronika, LAGG
• 2004-Sekarang,Industrial Aerodynamic Specialist

209