Anda di halaman 1dari 6

PENDAHULUAN Latar Belakang Keberadaan suatu lembaga atau perusahaan, tidak akan terlepas dari proses pencatatan akuntansi.

Seperti yang telah diketahui, konsep akuntansi konvensional yang telah diterapkan di Indonesia merupakan adopsi pada barat dan budaya kapitalis yang mengandalkan materi dan duniawi. Akhir-akhir ini terjadi suatu peningkatan terhadap kajian bidang akuntansi menuju akuntansi dalam perspektif Islami atau akuntansi syariah. Seiring dengan perkembangan lembaga-lembaga keuangan syariah, maka akuntansi juga mengalami hal yang serupa. Dalam perkembangannya, telah disusun dan dimasyarakatkan apa yang disebut dengan Pernyataan Standar Akuntansi Syariah (PSAK) No. 59 yang khusus digunakan sebagai alat bantu perbankan syariah yang sudah awal lahir dan berkembang. Pernyataan Standar Akuntansi Keuangan (PSAK) No. 59 ini banyak mereferensi pada standar yang dikeluarkan oleh Accounting and Auditing Organization for Islamic Financial Institutions (AAOIFI) pada tahun 1998, yaitu Accounting and Auditing Standards for Islamic Institutions. Namun demikian, sesungguhnya metode yang dianut dalam penyusunan konsep dan lebih banyak bersandar kepada konsep dan standar akuntansi konvensional yang sudah dikenal. Hal ini dilakukan dengan penyesuaian di berbagai bagian yang dianggap belum sejalan dengan pandangan syariah, dan sekaligus penambahan di bagian-bagian tertentu yang tidak terakomodasi oleh akuntansi konvensional. Munculnya akuntansi syariah di Indonesia ini membuat masyarakat tidak lepas dari keingintahuan tentang perbedaan standar akuntansi syariah dan standar akuntasi keuangan yang berlaku umum di Indonesia. Selain itu, adanya akuntansi syariah ini juga menyebabkan masyarakat ingin mengetahui isu-isu krusial dalam standar akuntansi syariah. Berdasarkan hal-hal tersebut, penulis membuat makalah berjudul Standar Akuntansi Syariah yang akan menjelaskan tentang akuntansi syariah serta perbedaannya dengan standar akuntansi keuangan yang berlaku umum. Rumusan Masalah 1. Apakah perbedaan antara Standar Akuntansi Syariah (SAS) dengan Standar Akuntansi Keuangan (SAK)? 2. Apa saja isu-isu krusial dalam Standar Akuntansi Syariah? Tujuan Penulisan 1. Mampu menjelaskan perbedaan SAS dengan SAK 2. Mampu menjelaskan isu-isu krusial dalam SAS.
1

PEMBAHASAN Akuntansi Syariah Secara sederhana, pengertian akuntansi syariah dapat dijelaskan melalui akar kata yang dimilikinya yaitu akuntansi dan syariah. Definisi bebas dari akuntansi adalah identifikasi transaksi yang kemudian diikuti dengan kegiatan pencatatan, penggolongan, serta pengikhtisiran transaksi tersebut sehingga menghasilkan laporan keuangan yang dapat digunakan untuk pengambilan keputusan. Definisi bebas dari syariah adalah aturan yang ditetapkan oleh Allah SWT untuk dipatuhi oleh manusia dalam menjalani segala aktivitas hidupnya di dunia. Jadi, akuntansi syariah dapat diartikan sebagai proses akuntansi atas transaksi-transaksi yang sesuai dengan aturan yang telah ditetapkan Allah SWT. Pemakai dari laporan keuangan syariah ini meliputi: (a) investor sekarang dan investor potensial, (b) pemilik dana qardh, (c) pemilik dana syirkah temporer, (d) pemilik dana titipan, (e) pembayar dan penerima zakat, infak, sedekah, dan wakaf, (f) pengawas syariah, (g) karyawan, (h) pemasok dan mitra usaha lainnya, (i) pelanggan, (j) pemerintah serta lembaga-lembaganya, dan (k) masyarakat. Selain itu, laporan keuangan syariah memiliki tujuan-tujuan. Tujuan utama laporan keuangan adalah untuk menyediakan informasi, menyangkut posisi keuangan, kinerja serta perubahan posisi keuangan suatu entitas syariah yang bermanfaat bagi sejumlah besar pemakai dalam pengambilan keputusan ekonomi. Beberapa tujuan lainnya adalah: 1. meningkatkan kepatuhan terhadap prinsip syariah dalam setiap transaksi dan kegiatan usaha. 2. informasi kepatuhan entitas syariah terhadap prinsip syariah, serta informasi aset, kewajiban, pendapoatan dan beban yang tidak sesuai dengan prinsip syariah bila ada yg dalam perolehan dan penggunaannya. 3. informasi untuk membantu mengevaluasi pemenuhan tanggung jawab entitas syariah terhadap amanah dalam mengamankan dana, menginvestasikannya pada tingkat keuntungan yang layak 4. informasi mengenai keuntungan investasi yang diperoleh penanam modal dan pemilik dana syirkah temporer dan informasi mengenai pemenuhan kewajiban (obligation) fungsi sosial entitas syariah. Termasuk pengelolaan dan penyaluran zakat, infak, sedekah dan wakaf. Laporan keuangan bank syariah yang lengkap terdiri atas: (a) neraca, (b) laporan laba rugi, (c) laporan arus kas, (d) laporan perubahan ekuitas, (e) laporan perubahan dana investasi
2

terikat, (f) laporan rekonsiliasi pendapatan dan bagi hasil, (g) laporan sumber dan penggunaan dana zakat, (h) laporan sumber dan penggunaan dana kebajikan, dan (i) catatan atas laporan keuangan. Perbedaan Akuntansi Syariah dan Akuntansi Keuangan Perbedaannya jika menurut Husein Syahatah, dalam buku Pokok-Pokok Pikiran Akuntansi Islam, antara lain, terdapat pada hal-hal sebagai berikut: a. para ahli akuntansi modern berbeda pendapat dalam cara menentukan nilai atau harga untuk melindungi modal pokok, dan juga hingga saat ini apa yang dimaksud dengan modal pokok (kapital) belum ditentukan sedangkan konsep Islam menerapkan konsep penilaian berdasarkan nilai tukar yang berlaku, dengan tujuan melindungi modal pokok dari segi kemampuan produksi di masa yang akan datang dalam ruang lingkup perusahaan yang kontinuitas b. Modal dalam konsep akuntansi konvensional terbagi menjadi dua bagian, yaitu modal tetap (aktiva tetap) dan modal yang beredar (aktiva lancar) sedangkan di dalam konsep Islam barang-barang pokok dibagi menjadi harta berupa uang (cash) dan harta berupa barang (stock), selanjutnya barang dibagi menjadi barang milik dan barang dagang; c. Dalam konsep Islam, mata uang seperti emas, perak, dan barang lain yang sama kedudukannya, bukanlah tujuan dari segalanya, melainkan hanya sebagai perantara untuk pengukuran dan penentuan nilai atau harga, atau sebagi sumber harga atau nilai d. Konsep konvensional mempraktekan teori pencadangan dan ketelitian dari menanggung semua kerugian dalam perhitungan, serta mengenyampingkan laba yang bersifat mungkin, sedangkan konsep Islam sangat memperhatikan hal itu dengan cara penentuan nilai atau harga dengan berdasarkan nilai tukar yang berlaku serta membentuk cadangan untuk kemungkinan bahaya dan resiko e. Konsep konvensional menerapkan prinsip laba universal, mencakup laba dagang, modal pokok, transaksi, dan juga uang dari sumber yang haram, sedangkan dalam konsep Islam dibedakan antara laba dari aktivitas pokok dan laba yang berasal dari kapital (modal pokok) dengan yang berasal dari transaksi, juga wajib menjelaskan pendapatan dari sumber yang haram jika ada, dan berusaha menghindari serta menyalurkan pada tempat-tempat yang telah ditentukan oleh para ulama fiqih. Laba dari sumber yang haram tidak boleh dibagi untuk mitra usaha atau dicampurkan pada pokok modal

f. Konsep konvensional menerapkan prinsip bahwa laba itu hanya ada ketika adanya jual-beli, sedangkan konsep Islam memakai kaidah bahwa laba itu akan ada ketika adanya perkembangan dan pertambahan pada nilai barang, baik yang telah terjual maupun yang belum. Akan tetapi, jual beli adalah suatu keharusan untuk menyatakan laba, dan laba tidak boleh dibagi sebelum nyata laba itu diperoleh. Isu-isu Krusial dalam Standar Akuntansi Syariah (SAS) Dalam perkembangan perbankan sebagai intemediry antara unit supply dengan unit demand. Disinilah diperlukan proses pencatatan dan pelaporan semua transaksi dan kegiatan muamalah yang dilakukan di perbankan, sehingga perlu sistem akuntansi yang sesuai (relevan). Dengan demikian perlu proses transformasi. Transfrormasi ini tidak saja akan mempengaruhi perilaku manajemen, pemegang saham, karyawan dan masyarakat sekeliling, tetapi juga organisasi yang bersangkutan. Namun demikian, ini bukan berarti bahwa bentuk organisasi adalah faktor-faktor satu-satunya yang dapat mempengaruhi bentuk akuntansi. Faktor lain seperti sistem ekonomi, sosial, politik, peraturan perundangundangan, kultur, persepsi dan nilai yang berlaku dalam masyarakat mempunyai tanggung jawab yang besar terhadap bentuk akuntansi. Ini juga menunjukkan bahwa akuntansi adalah sebuah entitas informasi yang tidak bebas nilai. Ada pendapat yang mengatakan bahwa nilai-nilai, sistem dan filsafat sebuah ilmu akan turut menentukan model ilmu yang berkembang di suatu negara. Apabila suatu negara menganut sistem ekonomi kapitalisme, maka sistem akuntansi yang berkembang adalah sistem akuntansi kapitalis. Demikian pula, apabila suatu negara mengikuti sistem ekonomi Islam maka upaya yang harus dikembangkan adalah sistem Akuntansi Syariah. Mempelajari dan menerapkan Akuntansi Syariah, pada hakekatnya adalah belajar dan menerapkan prinsip keseimbangan (balance) atas transaksi atau perkiraan atau rekening yang telah dicatat untuk dilaporkan kepada yang berhak mendapatkan isi laporan. Islam adalah cara hidup yang berimbang dan koheren, dirancang untuk kebahagiaan (falah) manusia dengan cara menciptakan keharmonisan antara kebutuhan moral dan material manusia dan aktualisasi sosio-ekonomi, serta persaudaraan dalam masyarakat manusia. Triyumono menyatakan bahwa Akuntansi Syariah merupakan salah satu upaya mendekonstruksi akuntansi modern ke dalam bentuk humanis dan syarat nilai.

PENUTUP Kesimpulan

Dari uraian di atas, dapat disimpulkan bahwa Standar Akuntansi Syariah (SAS) berbeda dengan Standar Akuntansi Keuangan (SAK) yang berlaku umum diantaranya dalam hal pemakai laporan keuangan, tujuan laporan keuangan serta komponen laporan keuangannya. Selain itu, SAS dan SAK juga berbeda dalam hal modal pokok dan konsep laba. SAS ini memiliiki isu-isu krusial dalam hal penerapan akuntansi syariah itu sendiri, seperti sistem akuntansi yang sudah sesuai dengan syariah belum bisa sepenuhnya diterapkan karena adanya faktor-faktor sistem ekonomi, sosial, politik, peraturan perundang-undangan, kultur, persepsi dan nilai yang berlaku dalam masyarakat.

DAFTAR PUSTAKA Ibn Fadillah. Perbedaan Akuntansi Keuangan Syariah vs Akuntansi Keuangan Konvensional http://katauntukibu.blogspot.com/2012/10/akuntansi-konvensional-

dengan-akuntansi.html (diakses tanggal 4 Maret 2013)

Nurhayati, Sri. Dan Wasilah. 2012. Akuntansi Syariah di Indonesia. Salemba Empat. Jakarta. Rico. Latar Belakang Terbentuknya Akuntansi Syariah

http://belajarakuntansisyariah.blogspot.com/2008/02/latar-belakang-terbentuknyaakuntansi.html (diakses tanggal 4 Maret 2013)