Anda di halaman 1dari 28

BAB I IDENTIFIKASI RESIKO

A. Air sungai 1. Definisi Air sungai Sungai adalah sistem pengairan air dari mulai mata air sampai ke muara dengan dibatasi kanan kirinya serta sepanjang pengalirannya oleh sempadan sungai (Sudaryoko,1986). Air sungai adalah air hujan atau air yang berada di dataran lebih tinggi mengalir di permukaan tanah mengikuti alur darat yang di lalui yang biasanya terbentuk secara alami kemudian berkumpul menjadi sungai. Sungai terbentuk secara sederhana yaitu, air mengalir meresap ke dalam tanah sebelum menemukan badan air lainnya. Dengan melalui sungai merupakan cara yang biasa bagi air hujan yang air yang turun besar

di daratan untuk

mengalir

kelaut atau

tampungan

seperti danau. Sungai terdiri dari beberapa bagian, bermula dari mata air yang mengalir ke anak sungai. Beberapa anak sungai akan bergabung untuk membentuk sungai utama. Aliran air biasanya berbatasan dengan kepada saluran dengan dasar dan tebing di sebelah kiri dan kanan. Penghujung sungai di mana sungai bertemu laut dikenali sebagai muara sungai. Menurut Dinas PU, sungai sebagai salah satu sumber air mempunyai fungsi yang sangat penting bagi kehidupan dan penghidupan masyarakat. sedangkan PP No. 35 Tahun 1991 tentang sungai, Sungai merupakan tempat-tempat dan wadah-wadah serta jaringan pengaliran air mulai dari mata air sampai muara dengan dibatasi kanan dan kirinya serta sepanjang pengalirannya oleh garis sempadan. Bantaran sungai berbeda dengan sempadan sungai. Bantaran sungai adalah areal sempadan kiri-kanan sungai yang terkena/terbanjiri luapan air sungai. Fungsi bantaran sungai adalah tempat mengalirnya sebagian debit sungai pada saat banjir (high water channel) (Yodi Isnaini, 2006). Menurut UU No. 35 1991 tentang sungai, menyebutkan pengertian Bantaran sungai adalah lahan pada kedua sisi sepanjang palung sungai di hitung dari tepi sampai dengan kaki tanggul sebelah dalam. Sehubungan

dengan itu maka pada bantaran sungai di larang membuang sampah dan mendirikan bangunan untuk hunian. (Polantolo, 2008) Sungai merupakan salah satu bagian dari siklus hidrologi. Air dalam sungai umumnya terkumpul dari presipitasi, seperti hujan,embun, mata air, limpasan bawah tanah, dan di beberapa negara tertentu air sungai juga berasal dari lelehan es / salju. Selain air, sungai juga mengalirkan sedimen dan polutan. Kemanfaatan untuk irigasi pertanian, terbesar bahan baku sebuah air minum, sungai sebagai adalah saluran

pembuangan air hujan dan air limbah, bahkan sebenarnya potensial untuk dijadikan objek wisata sungai. Air gambut adalah air permukaan yang banyak terdapat di daerah berawa yang Intensitas warna yang tinggi (berwarna merah kecoklatan), pH yang rendah, kandungan zat organik yang tinggi, kekeruhan dan kandungan partikel tersuspensi yang rendah, dan kandungan kation yang rendah. (Kusnaedi, 2006) Warna coklat kemerahan pada air gambut merupakan akibat dari tingginya kandungan zat organik (bahan humus) terlarut terutama dalam bentuk asam humus dan turunannya. Asam humus tersebut berasal dari dekomposisi bahan organik seperti daun, pohon atau kayu dengan berbagai tingkat dekomposisi, namun secara umum telah mencapai dekomposisi yang stabil (Syarfi, 2007). Dalam berbagai kasus, warna akan semakin tinggi karena disebabkan oleh adanya logam besi yang terikat oleh asam-asam organik yang terlarut dalam air tersebut. 2. Karakteristik a. Karakteristik Sungai Menurut Robbet J. Kodoatie dan Sugianto dalam bukunya berjudul Banjir, menyebutkan bahwa sungai dapat dikelompokkan menjadi tiga daerah yang menunjukkan sifat dan karaktersitik dari sistem sungai yang berbeda, yaitu : 1) Pada daerah hulu (pegunungan); di daerah pegunungan sungaisungai memiliki kemiringan yang terjal (steep slope). Kemiringan terjal ini dan curah hujan yang tinggi akan menimbulkan stream power (kuat arus) besar sehingga debit aliran sungai sungai di

daerah ini menjadi cukup besar. Periode waktu debit aliran umumnya berlangsung cepat. Pada bagian hulu ditandai dengan adanya erosi di Daerah Pengairan Sungai (DPS) maupun erosi akibat penggerusan dasar sungai dan longsoran tebing. Proses sedimentasi tebing sungai disebut degradasi. Material dasar sungai dapat berbentuk boulder/batu besar, krakal, krikil dan pasir. Bentuk sungai di daerah ini adalah braider(selempit/kepang). Alur bagian atas hulu merupakan rangkaian jeram-jeram aliran yang deras. Penampang lintang sungai umumnya berbentuk V. 2) Pada daerah transisi batas pegunungan bagian sampai ke daerah pantai, kemiringan dasar sungai umumnya berkurang dari 2% karena kemiringan memanjang dasar sungai berangsur-angsur menjadi landai (mild). Pada daerah ini seiring dengan berkurangnya debit aliran walaupun erosi masih terjadi namun proses sedimentasi meningkat yang menyebabkan endapan sedimen mulai timbul, akibat pengendapan ini berpengaruh terhadap mengecilnya

kapasitas sungai (pengurangan tampang lintang sungai). Proses degradasi (penggerusan) dan agradasi (penumpukan sedimen) terjadi akibatnya banjir dapat terjadi dalam waktu yang relatif lama dibandingkan dengan daerah hulu. Material dasarnya relative lebih halus dibandingkan pada daerah pegunungan. Penampang

melintang sungai umumnya berangsur-angsur berubah dari huruf V ke huruf U. 3) Pada daerah hilir; sungai mulai batas transisi, daerah pantai, dan berakhir di laut (mulut sungai/ estuary). Kemiringan di daerah hilir dari landai menjadi sangat landai bahkan ada bagian-bagian sungai, terutama yang mendekati laut kemiringan dasar sungai hampir mendekati 0 (nol). Umumnya bentuk sungai menunjukkan pola yang berbentuk meander sehingga akan menghambat aliran banjir. Proses agradasi (penumpukan sedimen) lebih dominan terjadi. Material dasar sungai lebih halus dibandingkan di daerah transisi atau daerah hulu. Apabila terjadi banjir, periodenya lebih lama dibandingkan daerah transisi maupun daerah hulu.

b. Karakteristik air sungai gambut Berdasarkan sumber airnya, lahan gambut dibedakan menjadi dua yaitu (Trckova, M., 2005) : 1) Bog Merupakan jenis lahan gambut yang sumber airnya berasal dari air hujan dan air permukaan. Karena air hujan mempunyai pH yang agak asam maka setelah bercampur dengan gambut akan bersifat asam dan warnanya coklat karena terdapat kandungan organik. 2) Fen Merupakan lahan gambut yang sumber airnya berasal dari air tanah yang biasanya dikontaminasi oleh mineral sehingga pH air gambut tersebut memiliki pH netral dan basa.

Berdasarkan kelarutannya dalam alkali dan asam, asam humus dibagi dalam tiga fraksi utama yaitu (Pansu, 2006) : a) Asam humat Asam humat atau humus dapat didefinisikan sebagai hasil akhir dekomposisi bahan organik oleh organisme secara aerobik. Ciri-ciri dari asam humus ini antara lain: Asam ini mempunyai berat molekul 10.000 hingga 100.000 g/mol (Collet, 2007). Merupakan makromolekul aromatik komplek dengan asam amino, gula amino, peptide, serta komponen alifatik yang posisinya berada antara kelompok aromatik. Merupakan bagian dari humus yang bersifat tidak larut dalam air pada kondisi pH < 2 tetapi larut pada pH yang lebih tinggi. Bisa diekstraksi dari tanah dengan bermacam reagen dan tidak larut dalam larutan asam. Asam humat adalah bagian yang paling mudak diekstrak diantara komponen humus lainnya. Mempunyai warna yang bervariasi mulai dari coklat pekat sampai abu-abu pekat.

Humus tanah gambut mengandung lebih banyak asam humat (Stevenson,1982). Asam humus merupakan senyawa organik yang sangat kompleks, yang secara umum memiliki ikatan aromatik yang panjang dan nonbiodegradable yang merupakan hasil oksidasi dari senyawa lignin (gugus fenolik). b) Asam fulvat Asam fulvat merupakan senyawa asam organik alami yang berasal dari humus, larut dalam air, sering ditemukan dalam air permukaan dengan berat molekul yang rendah yaitu antara rentang 1000 hingga 10.000 (Collet, 2007). Bersifat larut dalam air pada semua kondisi pH dan akan berada dalam larutan setelah proses penyisihan asam humat melalui proses asidifikasi. Warnanya bervariasi mulai dari kuning sampai kuning kecoklatan. Struktur model asam fulvik. c) Humin Kompleks humin dianggap sebagai molekul paling besar dari senyawa humus karena rentang berat molekulnya mencapai 100.000 hingga 10.000.000. Sedangkan sifat kimia dan fisika humin belum banyak diketahui (Tan, 1982). Tan juga menyatakan bahwa

karakteristik humin adalah berwarna coklat gelap, tidak larut dalam asam dan basa, dan sangat resisten akan serangan mikroba. Tidak dapat diekstrak oleh asam maupun basa. Perbedaan antara asam humat, asam fulvat dan humin bisa dijelaskan melalui variasi berat molekul, keberadaan group fungsional seperti karboksil dan fenolik dengan tingkat polimerisasi. B. Identifikasi Resiko Air Sungai Gambut Air sungai sebagai salah satu sumber air bersih, tentunya memiliki beberapa resiko atau bahaya lingkungan yang dapat ditimbulkan, terutama air sungai yang terdapat di daerah rawa atau biasa di sebut juga air gambut 1. Bahaya Parameter Fisik Bau Air yang berbau pada umumnya akibat adanya materi organik yang membusuk. Organik yang membusuk biasanya terkumpul di bagian

dasar dan apabila sudah cukup banyak akan menghasilkan kondisi yang baik bagi pertumbuhan bakteri anaerobik yang dapat menimbulkan gasgas berbau.Sumber bahan organik adalah sisa-sisa tanaman,bangkai binatang,mikroorganisme dan air buangan. Jumlah Padatan Terlarut Nilai TDS (Total Dissolved Solid) perairan sangat dipengaruhi

oleh pelapukan batuan, limpasan dari tanah dan pengaruh antropogenik (berupa limbah domestik dan industri). Bahan-bahan terlarut dalam perairan alami tidak bersifat toksin, akan tetapi jika berlebihan akan meningkatkan nilai kekeruhan yang selanjutnya akan menghambat penetrasi cahaya matahari ke kolam air dan akhirnya berpengaruh pada proses fotosintesis di perairan. Kekeruhan Kekeruhan air dapat ditimbulkan oleh adanya bahan-bahan organik dan anorganik. Kekeruhan juga dapat mewakili warna. Air yang keruh, apabila air tersebut mengandung begitu banyak partikel bahan yang tersuspensi, sehingga memberikan warna atau rupa yang berlumpur dan kotor. bahan-bahan organik yang tersebar secara merata dan partikel-partikel yang tersuspensi lainnya. Tingkat kekeruhan dipengaruhi oleh pH air. Kekeruhan pada air minum umumnya telah diupayakan sedemikian rupa sehingga air menjadi jernih. Air yang keruh merupakan suatu masalah yang perlu

dipertimbangkan dalam penyediaan air minum, mengingat bahwa kekeruhan tersebut mengurangi estetika, karena dari segi estetika kekeruhan air dihubungkan dengan kemungkinan hadirnya pencemaran melalui buangan dan warna air tergantung pada warna buangan yang memasuki badan air. Rasa Kualitas air bersih yang baik adalah tidak berasa. Timbulnya rasa yang menyimpang biasanya disebabkan adanya gas terlarut misalnya H2S, Organisme hidup misalnya ganggang, adanya limbah padat dan limbah cair misalnya hasil buangan dari rumah tangga, adanya organisme pembusuk limbah, dan kemungkinan adanya sisa-sisa bahan yang digunakan untuk disinfeksi misalnya Chlor yang masuk ke badan air. 6

Suhu Suhu merupakan salah satu faktor fisik lingkungan yang paling jelas, mudah diukur dan sangat beragam. Temperatur atau suhu dari air akan menentukan penerimaan (Acceptance) masyarakat akan air tersebut dan dapat mempengaruhi pula reaksi kimia dalam pengelolaan, terutama apabila temperatur air sangat tinggi. Selain itu, temperatur dalam air mempengaruhi langsung toksisitas banyak bahan kimia pencemar pertumbuhan mikroorganisme dan virus. Secara umum, kenaikan suhu perairan akan mengakibatkan kenaikan aktivitas secara alamiah biasanya disebabkan oleh aktivitas penebangan vegetasi disekitar sumber air tersebut, sehingga

menyebabkan banyaknya cahaya matahari yang masuk tersebut mempengaruhi akuifer yang ada secara langsung atau tidak langsung. Warna Warna perairan ditimbulkan oleh adanya bahan organik, dan anorganik karena keberadaan plankton, humus, dan ion-ion logam (misalnya besi, dan mangan), serta bahan-bahan lain. Adanya oksida besi menyebabkan air berwarna kemerahan, sedangkan oksida mangan menyebakan air berwarna kecokelatan atau kehitaman. Kalsium Karbonat yang berasal dari daerah berkapur menimbulkan warna hijau pada perairan. Bahan organik misalnya tangin, lignin, dan hasam humus yang berasal dari dekomposisi tumbuhan yang telah mati, sehingga

menimbulkan warna kecokelatan. Warna dapat diamati secara visual (langsung) ataupun diukur berdasarkan skala Platinum Kobalt (PtCo), dengan membandingkan warna air sampel dan standar warna yang ditetapkan pemerintah. Standar air yang memiliki kekeruhan rendah biasanya memiliki warna tampak dan warna sesungguhnya yang sama dengan standar.

Ditetapkannya standar warna sebagai salah satu persyaratan kualitas, diharapkan bahwa semua air minum yang akan diberikan kepada masyarakat akan dapat langsung diterima oleh masyarakat.

2. Bahaya Parameter Kimia Mangan ( Mn 2+) 7

Mn adalah metal kelabu kemerah-merahan. Keracunan sering kali bersifat kronis sbg akibat inhalasi debu dan uap logam. Gejala yang timbul berupa gejala susunan saraf : insomnia , kemudian lemah pada kaki dan otot muka, sehingga ekspresi muka menjadi beku dan muka tampak seperti topeng ( mask ) bila pemaparan berlanjut maka bicaranya lambat dan monoton dapat terjadi hyperrefleksi, clonus pada pattela dan tumit dan berjalan seperti penderita parkinsonism, kadar Mn yang diperbolehkan 0,1 mg/L . Dampak kesehatan dan terhadap Air; Mn menimbulkan masalah warna, hanya warnanya ungu atau hitam. Besi ( Fe 2+ ) Didalam air minum Fe2+ menimbulkan rasa, warna ( kuning ). Pengendapan pada dinding pipa, pertumbuhan bakteri besi dan kekeruhan besi dibutuhkan oleh tubuh dalam pembentukan

hemoglobin. Banyaknya Fe didalam tubuh dikendalikan pada fase absorpsi. Tubuh manusia tidak dapat mengekskresikan Fe, karena mereka yang sering mendapat transfusi darah , debu Fe juga dapat diakumulasi didalam alveoli, kadar Fe yang diperbolehkan 0,3 mg/L. Dampak Kesehatan dan terhadap Air; Warna kulit menjadi hitam karena akumulasi Fe dalam dosis besar dapat merusak dinding usus dan menyebabkan berkurangnya fungsi paru-paru apabila

konsentrasi melebihi 0,3 mg/L dapat menyebabkan warna air menjadi kemerah-merahan dan memberikan rasa yang tidak enak pada minuman dan dapat membentuk endapan pada pipa logam dan bahan-bahan cucian. Nitrat ( NO3- ) Nitrat pada konsentrasi tinggi dapat menstimulasi perubahan ganggang yang tak terbatas ( bila beberapa syarat lain seperti konsentrasi fosfat dipenuhi ) sehingga air kekurangan DO ( Dissolved oxygen ) yang menyebabkan kematian ikan. Kadar nitrat secara alamiah biasanya agak rendah namun kadar nitrat dapat menjadi tinggi sekali, dalam air tanah didaerah-daerah yang diberi pupuk yang mengandung nitrat, kadar nitrat yang diperbolehkan adalah 10 mg/L didalam usus manusia nitrat direduksi menjadi nitrit yang dapat

menyebabkan metahaemoglobine terutama pada bayi. Dampak Kesehatan dan terhadap Air; Dalam jumlah besar dapat

menyebabkan gangguan GI diare, campur darah disusul oleh konvulsi, koma dan bila tak ditolong akan meninggal, keracunan kronis menyebabkan metahaemoglobine terutama pada bayi dan menyebabkan depresi umum , sakit kepala dan gangguan mental. Nitrit ( NO2-) Nitrit biasanya tidak bertahan lama dan merupakan keadaan sementara proses oksidasi antara amoniak dan nitrat. Dampak Kesehatan dan terhadap Air; Nitrit dapat membahayakan kesehatan namun dapat bereaksi dengan haemoglobine dalam darah tinggi hingga darah tersebut tidak dapat menyangkut oksigen lagi dan nitrit juga menimbulkan nitrosanin ( RRN NO ) pada air buangan yang tertentu nitrosamine tersebut dapat menyebabkan kanker. clorida ( Cl- ) Cl- toksisitasnya tergantung pada gugus senyawanya. Clor digunakan sebagai desinfectan dalam penyediaan air minum sebagai desinfectan residu clor di dalam penyediaan air sengaja dipelihara tetapi clor ini dapat terikat pada senyawa organic dan membentuk halogen hidrokarbon ( Cl HC ) banyak diantaranya dikenal sebagai senyawa senyawa karsinogenik oleh karena itu diberbagai Negara maju sekarang ini clorinasi sebagai proses desinfeksi tidak lagi digunakan untuk kadar Cl yang diperbolehkan ada dalam suatu perairan adalah 250 mg/L. Dampak Kesehatan dan terhadap Air; Dalam jumlah banyak Cl Sulfat ( SO4 2 - ) H2SO4 merupakan asam kuat yang selanjutnya akan dapat bereaksi dengan logam-logam yang merupakan bahan dari pipa yang dipergunakan dan terjadilah apa yang dinamakan korosi. Masalah bau disebabkan kerna timbulnya H2S yang merupakan suatu gas yang berbau. Kadar sulfat yang diperbolehkan adalah 400 mg/L. Dampak Kesehatan dan terhadap Air; Jumlah MgSO4 yang tidak terlalu besar sudah dapat menimbulkan diare sulfat pada boilers 9

akan menimbulkan rasa asin, korosi pada

pipa system penyediaan air panas.

menimbulkan endapan ( Hard scales ) demikian pula pada Heat exchanges sulfat bersifat irritant bagi saluran gastro intestinal bila bercampur dengan Mg atau Na. Air Raksa ( Hg ) Hg merupakan racun yang sistemik dan diakumulasi di hati, ginjal dan tulang oleh tubuh Hg diekskresikan lewat urine, feces, keringat, saliva dan air susu. Di alam Hg dapat berubah menjadi organic dan sebaliknya karena adanya interaksi dengan mikroba, Genus pseudomonas dan ceurospora dapat merubah Hg anorganik menjadi organic, staphylococcus aerus antara lain dapat mereduksi Hg
2+

menjadi Hg elemental.untuk kadar Hg yang diperbolehkan ada

dalam perairan adalah 0,001 mg/L. Dampak Kesehatan dan terhadap Air; Keracunan Hg akan menimbulkan gejala susunan saraf ( SSP) selain kelainan kepribadian dan tremor, convulsi, pikun, insomnia, kehilangan kepercayaan diri, irritasi, depresi dan rasa ketakutan. Gejala gastero-intestinal ( G.I ) seperti stomatitis, hipersalivasi, colitis, sakit pada waktu mengunyah, ganggivitis, garis hitam pada gusi ( leadline ) dan gigi yang mudah melepas. Kulit dapat menderita dermatitis dan ulcer. Hg yang organic cenderung merusak SPP ( Tremor, ataxia, lapangan penglihatan menciut, perubahan

kepribadian ) sedangkan Hg anorganik biasanya merusak ginjal dan menyebabkan cacat bawaan. TDS ( Total Dissolved solid ) Bila TDS bertambah maka kesadahan akan naik pula. TDS akan mempengaruhi DHL semakin banyak ion bermuatan listrik maka akan mempengaruhi dan mempermudah daya hantar listrik dan selain itu TDS menyebabkan kekeruhan ( Turbidity ) dan selain itu TDS akan mempengaruhi salinitas karena senyawa terlarut

menyebabkan air menjadi asin. Dampak Kesehatan dan terhadap Air; Selanjutnya efek TDS ataupun kesadahan terhadap kesehatan tergantung pada spesies kimia penyebab masalah tersebut. Kekeruhan ( Turbidity ) Air yang keruh sulit didesinfeksi, karena mikroba terlindung oleh zat tersuspensi tersebut. Hal ini tentunya berbahaya bagi 10

kesehatan, bila mikroba itu pathogen. Dampak Kesehatan dan terhadap Air; apabila mikroba pathogen terlindung oleh zat tersuspensi, maka secara tidak langsung akan mengganggu terhadap kesehatan manusia. Kesadahan ( Ca CO3 ) Kesadahan adalah merupakan sifat air yang disebabkan oleh adanya ion-ion ( Kation ) logam valensi dua. Ion-ion semacam itu mampu bereaksi dengan sabun membentuk kerak air. Kationkation penyebab utama dari kesadahan Ca 2 + dan Mg 2 + Sr 2 + , Fe dan Mn
2+ 2+

. Sedangkan anion-anion yang biasanya terdapat dalam air


3 +

adalah HCO3- SO4, Cl -, NO3 dan SiO3 2 - . Ion-ion Al

dan Fe

3 +

kadang-kadang dianggap sebagai penyebab kesadahan air. Namun kelarutannya begitu dibatasi pada nilai pH dari air alam, sehingga konsentrasi ion dapat diabaikan. Dampak Kesehatan dan terhadap Air; Pengaruh langsung terhadap kesehatan akibat penyimpangan dari standar ini tidak ada, tetapi kesadahan dapat menyebabkan sabun pembersih menjadi tidak efektif kerjanya. Kesadahan dapat menyebabkan pengendapan pada dinding pipa, sulitnya bersih dalam mencuci bahan-bahan pakaian dan jika mandi dilaut sabun tidak akan

3. Bahaya Parameter Biologi E. Coli Sebuah penelitian yang diterbitkan dalam British Medical Journal ditemukan orang yang mengonsumsi air yang tercemar E. coli memiliki peningkatan risiko terkena tekanan darah tinggi, masalah ginjal dan juga penyakit jantung di kemudian hari.Tim peneliti dari Lawson Health Research Institute dan The University of Western Ontario menilai risiko untuk tekanan darah tinggi, gangguan ginjal dan juga penyakit kardiovaskular terjadi dalam waktu 8 tahun sejak mengalami gastroenteritis (masalah

pencernaan) dari air minum yang tercemar bakteri coli. Akibat dari bakteri E.coli adalah sebagai berikut:

Gangguan sistim pencernaan Gangguan pada Ginjal

11

Serangan jantung atau stroke Tekanan darah Tinggi

4. Bahaya Parameter Sosial MCK MCK atau Mandi, Cuci, Kakus disungai dapat mencemari sungai, menggangu ekosistem sungai, menurunkan kualitas air sungai, serta dapat menimbulkan penyakit.

12

BAB II UPAYA MANAJEMEN

A. Planning Air merupakan kebutuhan pokok bagi kehidupan manusia. Dalam kehidupan sehari-hari manusia selalu memerlukan air terutama untuk minum, masak, mandi, mencuci dan sebagainya. Pada saat ini, persentase penduduk di Indonesia yang sudah mendapatkan pelayanan air bersih dari badan atau perusahaan air minum masih sangat kecil yaitu untuk daerah perkotaan sekitar 45 % , sedangkan untuk daerah pedesaan baru sekitar 36 % . Di daerah - daerah yang belum mendapatkan pelayanan air bersih tersebut, penduduk biasanya menggunakan air sumur galian, air sungai yang kadang- kadang bahkan sering kali air yang digunakan kurang memenuhi standart air minum yang sehat. Bahkan untuk daerah yang sangat buruk atau di daerah rawa kualitas air tanah maupun air sungainya tidak memenuhi persyaratan air bersih yang layak digunakan dan dikonsumsi. Air sungai di lahan gambut berisiko menimbulkan gangguan kesehatan pada masyarakat karena air gambut yang dikonsumsi bersifat asam yang bisa membuat gigi keropos. Selain itu, air gambut mengandung zat organik ataupun anorganik yang bisa mengganggu metabolisme tubuh.Oleh karena itu di daerah - daerah seperti ini, persentase penderita penyakit yang disebabkan akibat

penggunaan air minum yang kurang bersih atau kurang memenuhi syarat kesehatan masih sangat tinggi. Untuk itu perlu dilakukan pengolahan/ treatment terhadap air gambut agar bisa digunakan sebagai air besih dan air minum. Ada beberapa proses dan metode pengolahan yang dapat diterapkan untuk mengolah jenis air berwarna alami ini adalah sebagai berikut : Proses oksidasi, Proses adsorpsi, Proses Koagulasi Flokulasi, dan Proses elektrokoagulasi. 1. Proses Oksidasi Proses oksidasi untuk pengolahan air berwarna (yang

mengandung senyawa organik) yang dapat dianjurkan adalah dengan ozon atau peroksida, karena tidak menghasilkan suatu ikatan atau senyawa yang berbahaya (dapat menguraikannya sehingga mudah terurai dan menguap). Ozon atau peroksida dikenal sebagai oksidator

13

yang kuat yang dapat digunakan dalam pengolahan air sehingga ikatan polimer dan monomernya akan terputus dan akan membentuk CO2 dan H2O apabila oksidasinya sempurna. Namun dalam aplikasinya biaya operasi relatif mahal, dan perlu digunakan unit penghasil ozon. 2. Proses Adsorpsi Adsorbsi merupakan fenomena fisika dimana molekul-molekul bahan yang diadsorpsi tertarik pada permukaan bidang padat yang bertindak sebagai adsorban. Dengan demikian jelas bahwa adsorpsi merupakan fenomena bidang batas, yang efisiensinya makin tinggi apabila luas bidang permukaan adsorban makin besar (Schnitzer, 1992). Ditinjau dari segi derajat adsorpsi pada suatu jenis adsorban secara umum mengikuti aturan sebagai berikut (Cahyana, 2009) : Adsorpsi berlangsung sedikit terhadap semua senyawa organik, kecuali senyawa berhalogen (F, Br dan Cl). Adsorpsi berlangsung baik pada semua senyawa berhalogen dan senyawa alifatik. Adsorpsi berlangsung sangat baik terhadap semua senyawa aromatik, makin banyak kandungan inti benzennya makin baik adsorpsinya. Berdasarkan kriteria di atas maka, pengolahan air berwarna (air gambut) dapat dilakukan dengan cara adsorpsi karena asam humus mempunyai gugus senyawa aromatik. Namun secara umum proses inipun masih mahal. Dalam pengolahan air gambut dengan proses adsorpsi pada perinsipnya adalah menarik molekul asam-asam humus ke permukaan suatu adsorben. Contoh adsorben yang biasa digunakan adalah karbon aktif (charcoal), zeolit, resin, dan tanah liat dari lokasi sumber air gambut 3. Proses Koagulasi Flokulasi Proses koagulasi yang diiringi dengan proses flokulasi merupakan salah satu proses pengolahan air yang sudah lama digunakan. Proses ini penting untuk penyisihan warna dan organik (Amirtarajah dan Omelia, 1999). Definisi koagulasi sebagai proses cukup banyak tapi dari laporan Fearing et al, (2004) dapat disimpulkan menjadi tiga :

14

a. Proses untuk menggabungkan partikel kecil menjadi agregat yang lebih besar. b. Proses penambahan bahan kimia ke dalam air untuk menghasilkan spesies kimia yang berperan dalam destabilisasi kontaminan dan meningkatkan kemungkinan penyisihan. c. Proses untuk menggabungkan partikel koloid dan partikel kecil menjadi agregat yang lebih besar dan dapat mengadsorb material organik terlarut ke permukaan agregat sehingga dapat mengendap. Partikel koloid yang terkandung dalam air alam umumnya mempunyai muatan negatif, sehingga koagulan yang diperlukan adalah yang bermuatan positif. Koagulan yang umum digunakan dalam pengolahan air adalah garam aluminium seperti alum. Flok-flok yang terbentuk pada umumnya juga mempunyai kemampuan adsorpsi yang cukup besar. Sehingga pada saat yang bersamaan dengan pembentukan dan penggabungan mikroflok akan terjadi proses adsorpsi dan pemerangkapan bahan-bahan terlarut dalam air, dan akan ikut tersisih dalam proses pengendapan dan penyaringan. Sedangkan pada air berwarna alami atau air gambut konsentrasi bahan koloid atau partikel tersuspensi lainnya umumnya sangat rendah. Sehingga ada pendapat mengatakan bahwa sesungguhnya proses koagulasi dan flokulasi yang dilaksanakan pada air berwarna tidak lain adalah melaksanakan proses adsorpsi dengan bantuan penambahan bahan kimia (Notodarmojo, 1994). 4. Proses Elektrokoagulasi Elektrokoagulasi merupakan metode pengolahan air secara elektrokimia dimana pada anoda terjadi pelepasan koagulan aktif berupa ion logam (biasanya alumunium atau besi) ke dalam larutan, sedangkan pada katoda terjadi reaksi elektrolisis berupa pelepasan gas Hidrogen (Holt et al., 2004). Menurut Mollah (2004), elektrokoagulasi adalah proses kompleks yang melibatkan fenomena kimia dan fisika dengan menggunakan elektroda untuk menghasilkan ion yang digunakan untuk mengolah air limbah. Sedangkan elektrokoagulasi menurut Niam (2007), adalah proses penggumpalan dan pengendapan partikel-partikel halus dalam air

15

menggunakan energi listrik. Proses elektrokoagulasi dilakukan pada bejana elektrolisis yang didalamnya terdapat dua penghantar arus listrik searah yang disebut elektroda, yang tercelup dalam larutan elektrolit. Dalam rangka penyediaan air minum yang bersih dan sehat bagi masyarakat pedesaan yang mana kualitas air tanahnya buruk serta belum mendapatkan pelayanan air minum dari PAM, perlu memasyarakatkan alat pengolah air Minum sederhana yang murah dan dapat dibuat oleh masyarakat dengan mudah untuk di dapatkan. Salah satu alat pengolah air minum sederhana tersebut adalah alat pengolah air minum yang merupakan paket terdiri dari Tong (Tangki), Pengaduk, Pompa aerasi dan saringan dari pasir atau disingat Model TP2AS. Alat ini dirancang untuk keperluan rumah tangga sedemikian rupa sehingga cara pembuatan dan cara pengoperasiannya mudah serta biayanya murah. Cara pengolahannya dengan menggunakan bahan kimia yaitu hanya dengan tawas dan kapur (gamping). Alat Pengolah Air Minum model TP2AS ini sangat cocok digunakan untuk pengolahan air minum yang air bakunya mengandung zat besi dan mangan dan zat organik, dengan biaya yang sangat murah.

B. Organizing Pada tahapan organizing ini, dilakukan penataan dan cara pengolahan terhadap faktor- faktor resiko. Tahapan proses pengolahan terdiri dari beberapa tahap yaitu : a) b) c) d) e) Netralisasi dengan pemberian kapur/gamping. Aerasi dengan pemompaan udara. Koagulasi dengan pemberian tawas. Pengendapan. Penyaringan.

Skema tahapan proses dapat dilihat pada Gambar 1.

16

Gambar 1. Diagram proses pengolahan air gambut.

a. Netralisasi Yang dimaksud dengan netralisasi adalah mengatur keasaman air agar menjadi netral (pH 7 - 8). Untuk air yang bersifat asam misalnya air gambut, yang paling murah dan mudah adalah dengan pemberian kapur/gamping. Fungsi dari pemberian kapur, disamping untuk

menetralkan air baku yang bersifat asam juga untuk membantu efektifitas proses selanjutnya. b. Aerasi Yang dimaksud dengan aerasi yaitu mengontakkan udara dengan air baku agar kandungan zat besi dan mangan yang ada dalam air baku bereaksi dengan oksigen yang ada dalam udara memben tuk senyawa besi dan senyawa mangan yang dapat diendapkan. Disamping itu proses aerasi juga berfungsi untuk menghilangkan gas-gas beracun yang tak diinginkan misalnya gas H2S, Methan, Carbon Dioksida dan gas-gas racun lainnya. Reaksi oksidasi Besi dan Mangan oleh udara dapat ditulis sebagai berikut: 4 Fe2+ + O2 + 10 H2O ====> 4 Fe(OH)3+ 8 H+ tak larut Mn2+ + O2 + H2O ====> MnO2 + 2 H+ tak larut Dari persamaan reaksi antara besi dengan oksigen tersebut, maka secara teoritis dapat dihitung bahwa untuk 1 ppm oksigen dapat mengoksidasi 6.98 ppm ion Besi. Reaksi oksidasi ini dapat dipengaruhi antara lain : jumlah Oksigen yang bereaksi , dalam hal ini dipengaruhi oleh jumlah udara yang dikontkkan dengan air serta luas kontak antara

17

gelembung udara dengan permukaan air . Jadi makin merata dan makin kecil gelembung udara yang dihembuskan kedalam air bakunya , maka oksigen yang bereaksi makin besar. Faktor lain yang sangat mempengaruhi reaksi oksidasi besi dengan oksigen dari udara adalah pH air. Reaksi oksidasi ini sangat efektif pada pH air lebih besar 7(tujuh). Oleh karena itu sebelum aerasi dilakukan, maka pH air baku harus dinaikkan sampai mencapai pH 8. Hal ini dimaksudkan agar pH air tidak menyimpang dari pH standart untuk air minum yaitu pH 6,5 - pH 8,5. Oksidasi Mangan dengan oksigen dari udara tidak seefektif untuk besi, tetapi jika kadar Mangannya tidak terlalu tinggi maka sebagaian mangan dapat juga teroksidasi dan terendapkan. c. Koagulasi Koagulasi adalah proses pembubuhan bahan kimia kedalam air agar kotoran dalam air yang berupa padatan tersuspensi misalnya zat warna organik, lumpur halus bakteri dan lain-lain dapat menggumpal dan cepat mengendap. Cara yang paling mudah dan murah adalah dengan pembubuhan tawas/alum atau rumus kimianya Al2(SO4)3.18 H2O. (berupa kristal berwarna putih). Reaksi koagulasi dengan Tawas secara sederhana dapat ditulis sebagai berikut :

Al2(SO4)3.18 H2O + 3 Ca(HCO3)2 ==> 2 Al(OH)3 +3 Ca(SO4) + 6 CO2 + 18 H2O alkalinity

Al2(SO4)3.18 H2O + 3 Ca(OH)2 ==> 2 Al(OH)3 + 3 Ca(SO4) + 3 CO2 + 18 H2O mengendap

Pengendapan kotoran dapat terjadi karena pembentukan alumunium hidroksida, Al(OH)3 yang berupa partikel padat yang akan menarik partikel - partikel kotoran sehingga menggumpal bersamasama, menjadi besar dan berat dan segera dapat mengendap. Cara pembubuhan tawas dapat dilakukan sebagai berikut yaitu : sejumlah tawas/ alum dilarutkan dalam air kemudian dimasukkan kedalam air baku lalu diaduk dengan cepat hingga merata selama kurang lebih 2

18

menit. Setelah itu kecepatan pengadukkan dikurangi sedemikian rupa sehingga terbentuk gumpalan - gumpalan kotoran akibat bergabungnya kotoran tersuspensi yang ada dalam air baku. Setelah itu dibiarkan beberapa saat sehingga gumpalan kotoran atau disebut flok tumbuh menjadi besar dan berat dan cepat mengendap. d. Pengendapan Setelah proses koagulasi air tersebut didiamkan sampai gumpalan kotoran yang terjadi mengendap semua (+ 45 - 60 menit). Setelah kotoran mengendap air akan tampak lebih jernih. Endapan yang terkumpul didasar tangki dapat dibersihkan dengan membuka kran penguras yang terdapat di bawah tangki. e. Penyaringan Pada proses pengendapan, tidak semua gumpalan kotoran dapat diendapkan semua. Butiran gumpalan kotoran dengan ukuran yang besar dan berat akan mengendap, sedangkan yang berukuran kecil dan ringan masih melayang-layang dalam air. Untuk mendapatkan air yang betul-betul jernih harus dilakukan proses penyaringan. Penyaringan dilakukan dengan mengalirkan air yang telah diendapkan kotorannya ke bak penyaring yang terdiri dari saringan pasir Sistem penyediaan air minum yang dapat dikelola oleh masyarakat secara mandiri ini merupakan tujuan dari pengembangan sistem pengelolaan air minum sederhana. Hal ini dilakukan melalui pembangunan Instalasi Pengolahan Air Sederhana yang dapat

menggunakan sumber air baku dari mata air, air permukaan, air tanah, ataupun dari air hujan agar masyarakat mempunyai air bersih yang memenuhi syarat. Masyarakat yang terlibat langsung dalam perencanaan,

pembuatan, pengoperasian, dan perawatan alat ini sebelumnya harus diberikan penyuluhan atau pemahaman tentang sistem pengelolaan air sederhana ini seperti telah dilakukannya persiapan dengan membuat jadwal dan sistem pengoperasian. Sistem pengelolaan air sederhana yang berskala kecil ini di harapkan dapat di jalankan secara swadaya oleh masyarakat setempat sehingga manfaatnya dapat di rasakan bersama. Terlepas dari

19

pembuatan dan penjadwalan pengoperasian, pemeliharaan alat adalah bagian yang tidak boleh terlupakan agar sistem ini berjalan sesuai dan sebagaimana mestinya tanpa hambatan yang berarti. Pemeliharaan dapat di bagi menjadi 2 tahapan. Yang pertama, tahapan pemeliharaan jangka pendek yaitu satu minggu sekali contohnya seperti : 1) Membersihkan saringan dari kotoran dan sampah-sampah 2) Membersihkan saluran pembawa air baku dari endapan 3) Membersihkan bak penampungan dari kotoran dan sampah 4) Membersihkan batu kali resapan dari sampah 5) Membersihkan sumur pengambilan dari sampah yang mungkin menghalangi 6) Pemeriksaan alat seperti pipa dan mesin untuk menghindari kebocoran dan kerusakan Tahapan pemeliharaan jangka panjang yaitu bulanan dan tahunan contohnya seperti : 1) Pengecekan fungsi alat 2) Pembersihan alat secara menyeluruh 3) Pengerukan bak penampungan dari endapan C. Actuating Untuk merealisasikan rancangan yang telah dibuat, berikut ini adalah cara pembuatan unit pengolahan air bersih sederhana yang dapat dibuat. 1. Bahan Untuk pembuatan satu unit alat pengolah air minum sederhana ini, diperlukan bahan-bahan antara lain seperti pada tabel di bawah ini (lihat tabel berikut. Jika bahan tersebut tidak tersedia dipasaran setempat, dapat disesuaikan dengan bahan yang tersedia. Jadi tidak harus seperti yang tertera pada Tabel 1.

20

Tabel 1: Bahan-bahan yang diperlukan. No BAHAN SATUAN buah buah JUMLAH 1 1

1 Tangki Fiber glass Vol. 500 liter 2 Tong Kran Plastik, Volume 20 atau 40 liter 3 Stop kran " 4 Stop kran " 5 Socket PVC drat luar " 6 Socket PVC drat luar " 7 Fauset PVC drat dalam " 8 Fauset PVC drat dalam " 9 Pipa PVC " 10 Pipa PVC " 11 Slang Plastik 5/8" 12 Pompa Tekan 13 Ember Plastik 14 Spons busa, tebal 2 cm 15 Kerikil, diameter 1-2 cm 16 Pasir silika 17 Arang 18 Ijuk 19 Kapur Gamping 20 Tawas 21 Kaporit

buah buah buah buah buah buah batang batang meter buah buah lembar kg kg kg ikat -

1 2 3 3 3 2 1 1 6 1 2 1 5 25 5 1 -

Bahan-bahan tersebut tidak termasuk bahan untuk dudukkan alat. Di samping itu bahan - bahan tersebut dapat juga disesuaikan dengan

21

keadaan setempat misalnya, jika tidak ada tong plastik dapat juga dipakai drum bekas minyak yang dicat terlebih dahulu. 2. Peralatan Peralatan yang digunakan terdiri dari Tong, pengaduk, pompa aerasi, dan saringan dari pasir. Kegunaan dari masing-masing peralatan adalah sebagai berikut:

a. Tong/Tangki Penampung Terdiri dari Drum Plastik dengan volume 220 liter. Drum tersebut dilengkapi dengan dua buah kran yaitu untuk mengalirkan air ke bak penyaring dan untuk saluran penguras. Pada dasar Drum sebelah dalam diplester dengan semen sehingga berbentuk seperti kerucut untuk memudahkan pengurasan. Selain itu dapat juga menggunakan tangki fiber glass volume 550 liter yang dilengkapi dengan kran pengeluaran lumpur. Tong atau tangki penampung dapat juga dibuat dari bahan yang lain misalnya dari tong bekas minyak volume 200 liter atau dari bahan gerabah. Fungsi dari drum adalah untuk menampung air baku, untuk proses aerasi atau penghembusan dengan udara, untuk proses koagulasi dan flokulasi serta untuk pengendapan. b. Pompa Aerasi Pompa aerasi terdiri dari pompa tekan (pompa sepeda) dengan penampang 5 cm, tinggi tabung 50 cm. Fungsi pompa adalah untuk menghembuskan udara kedalam air baku agar zat besi atau mangan yang terlarut dalam air baku bereaksi dengan oksigen yang ada dalam udara membentuk oksida besi atau oksida mangan yang dapat diendapkan. Pompa tersebut dihubungkan dengan pipa aerator untuk menyebarkan udara yang dihembuskan oleh pompa ke dalam air baku. Pipa aerator terbuat dari selang plastik dengan penampang 0.8 cm, yang dibentuk seperti spiral dan permukaannya dibuat berlubanglubang, jarak tiap lubang + 2 cm. c. Bak Penyaring Bak Penyaring terdiri dari bak plastik berbentuk kotak dengan tinggi 40 cm dan luas penampang 25 X 25 cm serta dilengkapi dengan

22

sebuah keran disebelah bawah. Untuk media penyaring digunakan pasir. kerikil, arang dan ijuk. Susunan media penyaring media penyaring dari yang paling dasar keatas adalah sebgai berikut :

Lapisan 1: kerikilatau koral dengan diameter 1-3 cm, tebal 5 cm. Lapisan 2: ijuk dengan ketebalan 5 cm. Lapisan 3: arang kayu, ketebalan 5-10 cm. Lapisan 4: kerikil kecil diameter + 5 mm, ketebalan + 5 cm. Lapisan 5: pasirsilika, diameter + 0,5 mm, ketebalan 10-15 cm. Lapisan 6: kerikil, diameter 3 cm, tebal 3-6 cm. Diantara Lapisan 4 dan 5, dan Lapisan 5 dan 6, dapat diberi

spons atau kasa plastik untuk memudahkan pada waktu melakukan pencucian saringan. Gambar penampang Tangki Penampung, Selang Aerator dan penampang saringan adalah seperti tertera pada Gambar 2, Gambar 3, dan Gambar 4.

Gambar 2. Penampang Saringan Pasir

d. Bahan Kimia Bahan kimia yang diperlukan antara lain : Tawas, kapur tohor dan kaporit bubuk.

23

Gambar 3. Pipa Aerator

3. Tahap Pembuatan a. Masukkan air baku kedalam tangki penampung sampai hampir penuh (550 liter). b. Larutkan 60 - 80 gram bubuk kapur / gamping (4 - 6 sendok makan) ke dalam ember kecil yang berisi air baku, kemudian masukkan ke dalam tangki dan aduk sampai merata. c. Masukkan slang aerasi ke dalam tangki sampai ke dasarnya dan lakukan pemompaan sebanyak 50 - 100 kali. setelah itu angkat kembali slang aerasi. d. Larutkan 60 - 80 gram bubuk tawas (4 - 6 sendok makan) ke dalam ember kecil, lalu masukkan ke dalam air baku yang telah diaerasi. Aduk secara cepat dengan arah yang putaran yang sama selama 1 - 2 menit. Setelah itu pengaduk diangkat dan biarkan air dalam tangki berputar sampai berhenti dengan sendirinya dan biarkan selama 45 60 menit.

24

Gambar 4. Alat pengolahan air sederhana

e. Buka kran penguras untuk mengelurakan endapan kotoran yang terjadi, kemudian tutup kembali. f. Buka kran pengeluaran dan alirkan ke bak penyaring. Buka kran saringan dan usahakan air dalam saringan tidak meluap. g. Tampung air olahan (air bersih) dan simpan ditempat yang bersih. Jika digunakan untuk minum sebaiknya dimasak terlebih dahulu. Catatan :

Jika volume bak penampung lebih kecil maka jumlah kapur dan tawas yang dipakai harus disesuaikan.

Jika menggunakan kaporit untuk membunuh kuman-kuman penyakit, bubuhkan kaporit sekitar 1-2 gram untuk 500 liter air baku. Cara pemakaiannya yaitu dimasukkan bersama-sama pada saat memasukkan larutan kapur.

D. Controlling Setelah dilakukan pengolahan terhadap air, kemudian dilakukan kontrol terhadap parameter fisik, kimia dan biologi hasil dari pengolahan air. Sehingga air bersih yang dihasilkan tetap terjaga kualitasnya.

25

Controlling dilakukan secara berkala dengan tujuan agar dapat diketahui dengan cepat apabila ada atau terjadi perubahan pada peralatan maupun hasil dari pengolahan air. Pengontrolan ini dilakukan oleh masyarakat yang kemudian di awasi oleh badan yang merencakan sistem pengelolaan air di tempat tersebut.

26

BAB III KESIMPULAN DAN SARAN

A. KESIMPULAN Dari hasi penelitian manajemen risiko dan analisis lingkungan di peroleh kesimpulan sebagai berikut : 1. air gambut merupakan sumber air baku yang sangat potensial untuk dikelola sebagai sumber daya air yang dapat diolah menjadi air bersih maupun air minum. 2. Perlu pengolahan terlebih dahulu dalam pemanfaatan air gambut sebagai air bersih, karena pada umumnya kualitas air gambut mempunyai kandungan organik, warna dan derajat keasaman yang tinggi. 3. Proses pengelolaan air secara sederhana dengan menggunakan model TP2AS dapat dipakai sebagai salah satu alternatif untuk memperbaiki kualitas air gambut karena dapat menurunkan kandungan organik, kekeruhan dan warna. 4. Dalam proses pengelolaan air ini sumber daya masyarakat yang antusias dan mau bergotong royong menciptakan sesuatu yang lebih baik sangat menunjakan kelancaran kegiataan. B. SARAN Penggunaan alat penyaring membutuhkan pengelolaan/perawatan yang rutin agar dapat terus digunakan dan akan lebih baik apabila dilakukan pengujian kualitas air secara rutin agar kualitas air hasil saringan tetap terjaga dan terpantau kualitasnya.

27

DAFTAR PUSTAKA

Anonim.

2011.

Teknik

Penyaringan

Air

Sederhana.

Dikutip

dari

http://aimyaya.com/id/lingkungan-hidup/kumpulan-teknikpenyaringan-air-sederhana. di akses tanggal 14 juni 2013 Cipta karya. 2007. Juknis Pelaksanaan Prasarana Air Minum Sederhana. Dikutip dari:http://ciptakarya.pu.go.id/dok/hukum/pedoman/juknis_pelaksan aan_prasarana_air_minum_sederhana.pdf di akses tanggal 19 juni 2013 Departemen Kesehatan, Keputusan Menteri Tanggal Kesehatan 29 Juli RI, 2002 Nomor :

907/MENKES/SK/VII/2002,

tentang

Persyaratan Kualitas Air Minum, www.depkes.go.id, diakses tanggal 14 juni 2013. Pesona unggas. 2012. Mengolah Air Gambut Pada Daerah Rawa. Dikutip dari: http://www.pesonaunggas.com/2012/05/mengolah-air-gambut-padadaerah-rawa.html di akses tanggal 18 juni 2013 Wikipedia. 2013, Air gambut. Dikutip dari:

(http://en.wikipedia.org.wiki/airgambut) di akses tanggal 18 juni 2013 Anne ahira. 2003. MacamMacam Sungai. Dikutip di dari: akses

http://www.anneahira.com/macam-macam-sungai.htm tanggal 18 juni 2013

28