Anda di halaman 1dari 9

Tugas : Fillia Priscilla Simarmata NIM : 0508111324 KORTIKOSTEROID Kortikosteroid merupakan derivat dari hormon kortikosteroid yang dihasilkan

oleh kelenjar adrenal. Hormon ini memainkan peran penting pada tubuh termasuk mengontrol respon inflamasi. Kotikosteroid hormonal dapat digolongkan menjadi glukokortikoid dan mineralokortikoid. Golongan glukokortikoid adalah kortikosteroid yang efek utamanya terhadap penyimpanan glikogen hepar dan khasiat anti-inflamasinya nyata. Prototip untuk golongan ini adalah kortisol dan kortison, yang merupakan glukokortikoid alam. Terdapat juga glukokortikoid sintetik, misalnya prednisolon, triamsinolon, dan betametason. Golongan mineralokortikoid adalah kortikosteroid yang mempunyai aktivitas utama menahan garam dan terhadap keseimbangan air dan elektrolit. Umumnya golongan ini tidak mempunyai efek anti-inflamasi yang berarti, sehingga jarang digunakan. Pada manusia, mineralokortikoid yang terpenting adalah aldosteron. Berdasarkan cara penggunaannya kortikosteroid dapat dibagi dua yaitu kortikosteroid sistemik dan kortikosteroid topikal. Glukokortikoid topikal adalah obat yang paling banyak dan tersering dipakai. Glukokortikoid dapat menekan limfositlimfosit tertentu yang merangsang proses radang. Ada beberapa faktor yang menguntungkan pemakaiannya yaitu : 1. Dalam konsentrasi relatif rendah dapat tercapai efek anti radang yang cukup memadai. 2. Bila pilihan glukokortikoid tepat, pemakaiannya dapat dikatakan aman. 3. Jarang terjadi dermatitis kontak alergik maupun toksik. 4. Banyak kemasan yang dapat dipilih : krem, salep, semprot (spray), gel, losion, salep berlemak (fatty ointment).

Kortikosteroid mengurangi akses dari sejumlah limfosit ke daerah inflamasi di daerah yang menghasilkan vasokontriksi. Fagositosis dan stabilisasi membran lisosom yang menurun diakibatkan ketidakmampuan dari sel-sel efektor untuk degranulasi dan melepaskan sejumlah mediator inflamasi dan juga faktor yang berhubungan dengan efek anti-inflamasi kortikosteroid. Meskipun demikian, harus digaris bawahi di sini bahwa khasiat utama anti radang bersifat menghambat : tandatanda radang untuk sementara diredakan. Perlu diingat bahwa penyebabnya tidak diberantas, maka bila pengobatan dihentikan, penyakit akan kambuh. Efektifitas kortikosteroid topikal bergantung pada jenis kortikosteroid dan penetrasi. Potensi kortikosteroid ditentukan berdasarkan kemampuan menyebabkan vasokontriksi pada kulit hewan percobaan dan pada manusia. Jelas ada hubungan dengan struktur kimiawi. Kortison, misalnya, tidak berkhasiat secara topikal, karena kortison di dalam tubuh mengalami transformasi menjadi dihidrokortison, sedangkan di kulit tidak menjadi proses itu. Hidrokortison efektif secara topikal mulai konsentrasi 1%. Sejak tahun 1958, molekul hidrokortison banyak mengalami perubahan. Pada umumnya molekul hidrokortison yang mengandung fluor digolongkan kortikosteroid poten. Penetrasi perkutan lebih baik apabila yang dipakai adalah vehikulum yang bersifat tertutup. Di antara jenis kemasan yang tersedia yaitu krem, gel, lotion, salep, fatty ointment (paling baik penetrasinya). Kortikosteroid hanya sedikit diabsorpsi setelah pemberian pada kulit normal, misalnya, kira-kira 1% dari dosis larutan hidrokortison yang diberikan pada lengan bawah ventral diabsorpsi. Dibandingkan absorpsi di daerah lengan bawah, hidrokortison diabsorpsi 0,14 kali yang melalui daerah telapak kaki, 0,83 kali yang melalui daerah telapak tangan, 3,5 kali yang melalui tengkorak kepala, 6 kali yang melalui dahi, 9 kali melalui vulva, dan 42 kali melalui kulit scrotum. Penetrasi ditingkatkan beberapa kali pada daerah kulit yang terinfeksi dermatitis atopik ; dan pada penyakit eksfoliatif berat, seperti psoriasis eritodermik, tampaknya sedikit sawar untuk penetrasi.

Secara keseluruhan, kortikosteroid topikal berhubungan dengan empat hal yaitu : 1. vasokontriksi, Steroid topikal menyebabkan vasokontriksi pembuluh darah di bagian superficial dermis, yang akan mengurangi eritema. Kemampuan untuk menyebabkan vasokontriksi ini biasanya berhubungan dengan potensi antiinflamasi, dan biasanya vasokontriksi ini digunakan sebagai suatu tanda untuk mengetahui aktivitas klinik dari suatu agen. 2. efek anti-proliferasi, Efek anti-proliferatif kortikosteroid topikal diperantarai dengan inhibisi dari sintesis dan mitosis DNA. Kontrol dan proliferasi seluler merupakan suatu proses kompleks yang terdiri dari penurunan dari pengaruh stimulasi yang telah dinetralisir oleh berbagai factor inhibitor. Proses-proses ini mungkin dipengaruhi oleh kortikosteroid. Glukokortikoid juga dapat mengadakan stabilisasi membran lisosom, sehingga enzim-enzim yang dapat merusak jaringan tidak dikeluarkan. 3. immunosupresan, Efektivitas kortisteroid bisa akibat dari sifat immunosupresifnya. Mekanisme yang terlibat dalam efek ini kurang diketahui. Beberapa studi menunjukkan bahwa kortikosteroid bisa menyebabkan pengurangan sel mast pada kulit. Hal ini bias menjelaskan penggunaan kortikosteroid topikal pada terapi urtikaria pigmentosa. 4. efek anti-inflamasi. Mekanisme sebenarnya dari efek anti-inflamasi sangat kompleks dan kurang dimengerti. Dipercayai bahwa kortikosteroid menggunakan efek antiinflamasinya dengan menghibisi pembentukan prostaglandin dan derivat lain pada jalur asam arakidonik. Mekanisme lain yang turut memberikan efek antiinflamasi kortikosteroid adalah menghibisi proses fagositosis dan menstabilisasi membran lisosom dari sel-sel fagosit.

KLASIFIKASI KORTIKOSTEROID TOPIKAL Kortikosteroid topikal dibagi menjadi 7 golongan besar, diantaranya berdasarkan anti-inflamasi dan antimitotik. Golongan I yang paling kuat daya antiinflamasi dan antimitotiknya (superpoten). Sebaliknya golongan VII yang terlemah (potensi lemah).7,8,9

Super poten

Betamethasone dipropionate 0,05% Diflurasone diacetate 0,05% Clobetasol propionate 0,05% Halobetasol propionate 0,05% Amcionide 0,1% Betamethasone dipropionate 0,05% Mometasone fuorate 0,01% Diflurasone diacetate 0,05% Halcinonide 0,01% Fluocinonide 0,05% Desoximetasone 0,05% dan 0,25% Triamcinolone acetonide 0,1% Fluticasone propionate 0,005% Amcinonide 0,1% Betamethasone dipropionate 0,05% Diflurasone diacetate 0,05% Fluocinonide 0,05% Desoximetasone 0,05% Betamethasone valerate 0,01% Triamcinolone acetonide 0,1% Flurandrenolide 0,05% Mometasone furoate 0,1% Fluacinolone acetonide 0,025% Hydrocortisone valerate 0,2%

II

Potensi tinggi

III

Potensi tinggi

IV

Potensi medium

Potensi medium

Flurandrenolide 0,05% Fluticasone propionate 0,05% Prednicarbate 0,1% Betamethasone dipropionate 0,05% Triamcinolone acetonide 0,1% Hydrocortisone butyrate 0,1% Fluocinolone acetonide 0,025% Desonide 0,05% Betamethasone valerate 0,1% Hydrocortisone valerate 0,2% Aclometasone 0,05% Triamcinolone acetonide 0,1% Hydrocortisone butyrate 0,1% Fluocinolone acetonide 0,01% Desonide 0,05% Betamethasone valerate 0,1% Obat topikal dengan hidrokortison, deksametason, glumetalon, prednisolon, dan metilprednisolon

VI

Potensi medium

VII

Potensi lemah

INDIKASI KORTIKOSTEROID TOPIKAL Kelas 1: Kortikosteroid Superpotent: Ini digunakan dalam peradangan kronis pada kulit di mana kulit menebal (lichenified), pigmentasi atau tebal bersisik. Beberapa contoh steroid superpotent adalah clobetasole propionat dan halobetasole propionate. Indikasi steroid superpotent termasuk neurodermatitis, psoriasis. Kelas 2: Kortikosteroid Potensi: Ini digunakan dalam peradangan kronis di mana ketebalan, pigmentasi atau skuama lebih kecil dari lesi di atas. Contoh steroid poten adalah betametason dipropionat, halcinonide, fluosinonida. Indikasi steroid poten adalah: lichen planus, neurodermatitis, psoriasis vulgaris cukup parah, eksim kronis. Kelas 3: Upper Mid-strength Kortikosteroid: Ini digunakan dalam peradangan sub akut kulit. Contoh Upper Mid-strength Kortikosteroid adalah betametason valerat dan

flutikason propionat. Penggunaan pada dermatitis subakut, eksim infektif, psoriasis, dermatitis seboroik berat. Kelas 4: Mid- Strength Corticosteroids: Ini digunakan dalam peradangan akut dan akut sub kulit. Contoh Mild-Strength Corticosteroids adalah mometasone furoate, fluocinolone acetonide 0,025%, dan triamcinolone acetonide. Penggunaan pada dermatitis sub akut, eksim infeksi, dermatitis seboroik cukup parah, psoriasis, dermatitis atopic, alopesia areata. Kelas 5: Lower Mid-strength Kortikosteroid: Ini digunakan dalam peradangan akut dan sub akut kulit. Contoh Lower Mid-strength Kortikosteroid adalah hidrokortison butirat, flutikason propionate. Penggunaan dalam eksim infeksi, dermatitis seboroik, psoriasis ringan. Kelas 6: Kortikosteroid ringan: Ini digunakan dalam peradangan akut dan sub akut pada kulit. Contoh kortikosteroid ringan adalah desonide, fluocinolone 0,01%, clobetasone. Penggunaan dalam dermatitis akut dan sub akut. dermatitis seboroik ringan Kelas 7: Kortikosteroid kurang Poten: Ini digunakan dalam peradangan akut ringan dan sub akut pada kulit. steroid responsif pada penyakit kulit pada wajah, flexures, dan napkin area harus ditreatment dengan steroid topikal kelas ini untuk menghindari kerusakan pada kulit. Contoh steroid kurang poten adalah hidrokortison 1%. Pada umumnya dipilih kortikosteroid topikal yang sesuai, aman, efek samping sedikit dan harga murah ; disamping itu ada beberapa faktor yang perlu dipertimbangkan, yaitu jenis penyakit kulit, jenis vehikulum, kondisi penyakit, yaitu stadium penyakit, luas / tidaknya lesi, dalam / dangkalnya lesi, dan lokalisasi lesi. Perlu juga dipertimbangkan umur penderita.

KONTRAINDIKASI KORTIKOSTEROID TOPIKAL

Kontraindikasi pada kortikosteroid terdiri dari kontraindikasi mutlak dan relatif. Pada kontraindikasi absolut, kortikosteroid tidak boleh diberikan pada keadaan infeksi jamur yang sistemik, herpes simpleks keratitis, hipersensitivitas biasanya kortikotropin dan preparat intravena. Sedangkan kontraindikasi relatif kortikosteroid dapat diberikan dengan alasan sebagai life saving drugs. Kortikosteroid diberikan disertai dengan monitor yang ketat pada keadaan hipertensi, tuberculosis aktif, gagal jantung, riwayat adanya gangguan jiwa, positive purified derivative, glaucoma, depresi berat, diabetes, ulkus peptic, katarak, osteoporosis, kehamilan.7 EFEK SAMPING KORTIKOSTEROID TOPIKAL Pada penggunan kortikosteroid topikal, efek samping dapat terjadi apabila :4 1. Penggunaan kortikosteroid topikal yang lama dan berlebihan. 2. Penggunaan kortikosteroid topikal dengan potensi kuat atau sangat kuat atau penggunaan sangat oklusif. Efek samping kortikosteroid dibagi menjadi beberapa tingkat yaitu 8 Efek Epidermal Yaitu penipisan epidermal akibat penurunan aktifitas proliferasi epidermis dan inhibisi dari melanosit sehingga terjadi hipopigmentasi (vitiligo like condition).4,11 Efek Dermal Terjadi penurunan sintesis kolagen dan pengurangan pada jaringan ikat sehingga terbentuk striae, memudahkan perdarahan kapiler di kulit berupa purpura dan ekimosis.8 Efek Vaskular Yaitu Vasodilatasi dan fenomena rebound berupa vasodilatasi, edema, inflamasi dan pustulasi.8,11 Berikut ini adalah contoh dari efek samping kortikosteroid topikal secara klinis:12 Efek samping sistemik Efek samping sistemik lebih jarang terjadi dibandingkan efek samping lokal. Efek samping sistemik terjadi karena steroid yang terkandung dalam kortikosteroid

diabsorbsi ke dalam darah dan menjadi bagian dalam tubuh. Jika lebih dari 50 gram klobetasol propionate atau 500 gram hidrokortison digunakan tiap minggunya, maka steroid bisa mengakibatkan supresi kelenjar adrenal dan mengakibatkan Cushings syndrome. Yang termasuk efek samping sistemik adalah: Pembengkakan pada tungkai karena penumpukan cairan Hipertensi Hipokalsemia sehingga menimbulkan gejala seperti kram otot, sesak napas dan kejang Kerusakan pada tulang Gangguan pertumbuhan pada anak Cushings syndrome (gejalanya seperti peningkatan berat badan, moon face, perubahan pada kulit seperti penipisan kulit dan gangguan mood) Efek samping pada kulit -

Atrofi kulit Dermatitis perioral Rosasea Dermatitis kontak alergi Erupsi akneiformis Tinea incognito Infeksi Gangguan penyembuhan luka Hipertrikosis Takifilaksis

Pencegahan efek samping13 Efek sistemik jarang sekali terjadi, agar aman dosis yang dianjurkan ialah jangan melebihi 30 gram sehari tanpa oklusi. Pada bayi kulit masih tipis, hendaknya dipakai kortikosteroid yang lemah. Pada kelainan akut dipakai pula kortikosteroid

lemah. Pada kelainan subakut digunakan kortikosteroid sedang. Jika kelainan kronis dan tebal digunakan kortikosteroid kuat. Bila telah membaik pengolesan dikurangi, yang semula dua kali sehari menjadi sekali sehari atau diganti dengan kortikosteroid sedang/lemah untuk mencegah efek samping. Jika hendak menggunakan cara oklusi jangan melebihi 12 jam sehari dan pemakaiannya terbatas pada lesi yang resisten. Pada daerah lipatan (inguinal, ketiak) dan wajah digunakan kortikosteroid lemah/sedang. Kortikosteroid jangan digunakan untuk infeksi bakteri, infeksi mikotik, infeksi virus dan skabies. Di sekitar mata hendaknya berhati-hati untuk menghindari timbulnya glaucoma dan katarak. Terapi intralesi dibatasi 1 mg pada suatu tempat, sedangkan dosis maksimum per kali 10 mg.