Anda di halaman 1dari 6

Etiologi terjadinya BPH 1.

Teori Hormonal Dengan bertambahnya usia akan terjadi perubahan keseimbangan hormonal, yaitu antara hormon testosteron dan hormon estrogen. Karena produksi testosteron menurun dan terjadi konversi testosteron menjadi estrogen pada jaringan adiposa di perifer dengan pertolongan enzim aromatase, dimana sifat estrogen ini akan merangsang terjadinya hiperplasia pada stroma. Hiperplasia stomal pada jaringan prostat periuretral adalah satu temuan mikroskopis awal pada pria dengan BPH. Pada suatu saat, estrogen menginisiasi hiperplasia stromal, yang juga menginduksi hiperplasia epithelial. Kemungkinan lain ialah perubahan konsentrasi relatif testosteron dan estrogen akan menyebabkan produksi dan potensiasi faktor pertumbuhan lain yang dapat menyebabkan terjadinya pembesaran prostat. 2. Teori Growth Faktor / interaksi stroma-epitel Peranan dari growth faktor ini sebagai pemacu pertumbuhan stroma kelenjar prostat. Basic Fibroblast Growth Faktor (b-FGF) dapat menstimulasi sel stroma dan ditemukan dengan konsentrasi lebih besar pada pasien dengan BPH. 3. Berkurangnya kematian sel prostat Program kematian sel (apoptosis) pada sel prostat adalah mekanisme fisiologik untuk mempertahankan homeostasis kelenjar prostat. Pada apoptosis terjadi kondensasi dan fragmentasi sel yang selanjutnya sel-sel yang mengalami apoptosis akan difagositosisoleh sel-sel disekitarnya kemudian didegradasi oleh enzim lisosom. Pada jaringan normal, terdapat kesimbangan antara laju proliferasi sel dengan kematian sel. Pada saat terjadi pertumbuhan prostat sampai pada prostat dewasa, penambahan jumlah sel-sel prostat baru dengan yang mati dalam keadaan seimbang. Berkurangnya jumlah sel-sel prostat yang mengalami apoptosis menyebabkan jumlah sel-sel prostat secara keseluruhan menjadi meningkar sehingga menyebabkan pertambahan massa prostat. Sampai sekarang belum dapat diterangkan secara pasti faktor-faktor yang menghambat proses apoptosis. Diduga hormon androgen berperan dalam menghambat proses kematian sel karena setelah dilakukan kastrasi, terjadi peningkatan aktivitas kematian sel kelenjar prostat. Estrogen diduga mampu memperpanjang usia sel-sel prostat, sedangkan faktor pertumbuhan TGF berperan dalam proses apoptosis.

4. Teori Stem Cell Prostat pada orang dewasa dalam hal ini kelenjar periuretral pada keadaan normal berada dalam keadaan keseimbangan steady state, antara pertumbuhan sel dan sel yang mati. Sel baru biasanya tumbuh dari stem cell. Keseimbangan ini disebabkan adanya kadar testosteron tertentu dalam jaringan prostat yang dapat mempengaruhi sel stem sehingga dapat berproliferasi. Oleh karena suatu sebab seperti faktor usia, gangguan keseimbangan hormone dan faktor pencetus lain, maka jumlah stem cell ini dapat bertambah sehingga terjadi proliferasi lebih cepat. Terjadinya proliferasi abnormal stem cell sehingga menyebabkan produksi atau proliferasi sel stroma dan sel epitel kelenjar periuretral prostat menjadi berlebihan. 5. Teori Dihidrotestosteron (DHT) Testosteron yang dihasilkan oleh sel leydig pada testis (90%) dan sebagian dari kelenjar adrenal (10%) masuk dalam peredaran darah dan 98% akan terikat oleh globulin menjadi sex hormon binding globulin (SHBG). Sedang hanya 2% dalam keadaan testosteron bebas. Testosteron bebas inilah yang bisa masuk ke dalam target cell yaitu sel prostat melewati membran sel langsung masuk kedalam sitoplasma, di dalam sel, testosteron direduksi oleh enzim 5-reductase menjadi 5-dihidrotestosteron, yang kemudian bertemu dengan reseptor yang ada di dalam sitoplasma sel prostat menjadi kompleks DHT-reseptor. Kemudian DHTreseptor ini mengalami transformasi reseptor, menjadi nuclear receptor yang masuk kedalam inti yang kemudian melekat pada kromatin dan menyebabkan transkripsi m-RNA. RNA ini akan menyebabkan sintesis protein menyebabkan terjadinya proliferasi sel kelenjar prostat TATALAKSANA TERAPI Tujuan dari perawatan pada BPH adalah untuk meningkatkan LUTS dan kualitas hidup pasien seperti halnya mencegah komplikasi terkait BPH (Oelke, et al., 2005). Prinsip terapi pada BPH ialah pengambilan keputusan terapi yang didasarkan pada tingkat keparahan dari gejala, derajat gangguan yang ditimbulkan dan berdasarkan pilihan pasien (Nicket, et al., 2010). 1. Watchful waiting (WW)

Watchful waiting dilakukan pada penderita dengan keluhan ringan, atau sedang hingga berat namun tidak memiliki dampak atau berdampak minimal pada kualitas hidup pasien. Tindakan yang dilakukan adalah observasi saja tanpa pengobatan. Pasien yang sedang menjalani WW secara periodik mengunjungi dokter untuk dilakukan monitoring (Nicket, et al., 2010). Penenteraman hati pasien, pemberian pemahaman mengenai penyakit ini, dan modifikasi gaya hidup direkomendasikan untuk mengoptimalkan WW (Oelke, et al., 2005). Modifikasi gaya hidup yang dapat dilakukan diantaranya buang air kecil sebelum tidur, menghindari konsumsi kafein dan alkohol, pengosongan kandung kemih yang lebih sering ketika tidak sedang tidur 2. Terapi obat Terapi farmakologi BPH dapat dikategorikan menjadi 3 tipe, yaitu agen yang bekerja merelaksasi otot polos prostate (menurunkan faktor dinamik), agen yang mengganggu efek stimulasi testosterone pada kelenjar prostate yang membesar (menurunkan faktor static), dan kombinasi terapi dari keduanya. A. -blockers, Semua -blocker memiliki kemanjuran klinik yang mirip. Terapi dengan -

blocker brdasarkan hipotesis bahwa LUTS sebagian disebabkan oleh kontraksi otot polos prostate dan leher kandung kencing yang dimediasi oleh 1-adrenergik yang menghasilkan tersumbatnya saluran kemih. Agen ini merelaksasi sfingter intrinsik uretral dan otot polos prostate namun tidak mengecilkan ukuran prostate. Tiga generasi -blockers telah digunakan dalam terapi BPH, namun efek antagonis pada reseptor 2-adrenergik presinaptik yang menyebabkan takikardi dan aritmia membuat generasi pertama agen ini digantikan dengan generasi kedua antagonis 1-adrenergik postsinaptik dan generasi ketiga 1-adrenergik uroselektif. Yang termasuk kedalam generasi kedua adalah prazosin, terazosin, doxazosin dan alfuzosin. Terapi dengan obat obat tersebut harus diawali dengan dosis rendah, untuk meningkatkan toleransi terhadap kemungkinan terjadinya efek samping seperti hipotensi ortostatik dan pening. Tamsulosin adalah satu satunya -blocker generasi ketiga yang tersedia di Amerika. obat ini bekerja secara selektif pada reseptor 1-adrenergik prostate yang menyusun kurang lebih

70% dari reseptor adrenergic dari kelenjar prostate. Blockade pada reseptor tersebut menghasilkan relaksasi otot polos dari prostate dan kandung kemih tanpa menyebabkan relaksasi otot polos vaskuler perifer.

Obat Prazosin Terazosin Doxazosin Doxazosin GTS Alfuzosin Tamsulosin

T (jam) 23 11 14 15 19 15 19

Dosis lazim per hari

Waktu mencapai efek puncak pada gejala BPH

2-10 mg dalam 2 atau 2 6 minggu 3 dosis terbagi 1-10 mg dosis tunggal, 2 6 minggu maksimum 20 mg 1 4 mg dosis tunggal, 2 6 minggu maksimum 8 mg 4 atau 8 mg dosis Beberapa hari tunggal, maksimum 8 mg 10 mg dosis tunggal Beberapa hari

14 15

0,4 atau 0,8 mg dosis Beberapa hari tunggal

B. 5-reductase-inhibitors (finasteride atau dutasteride), Merupakan obat pilihan untuk pasien dengan LUTS sedang/berat dan prostate membesar (>40 g). kedua obat tersebut menurunkan volume prostate hingga 20-30% dan memiliki kemanjuran klinik yang mirip. 5-reductase-inhibitors dapat mencegah perkembangan BPH, meningkatkan skor gejala hingga 15% dan juga dapat menyebabkan peningkatan yang lumayan pada aliran berkemih yaitu 1,3 1,6 mL/s (Rosette, et al., 2004). 1. Finasteride Finasteride lebih efektif diberikan kepada pasien dengan prostat lebih besar dari pada 40 mL. Beberapa penelitian menyimpulkan bahwa finasteride secara signifikan dapat mengurangi retensi urin akut dan pembedahan pada penderita BPH. Finasteride juga mampu menurunkan tingkat PSA dalam serum (Rosette, et al., 2004).

Finasteride memiliki efek samping yang berkaitan dengan fungsi seksual. Pada sebuah penelitian, dilaporkan terjadinya efek samping penurunan libido (6,4%), impoten (8,1%), penurunan ejakulat (3,7%) dan kurang dari 1% pasien mengalami keluhan lain seperti kemerahan, pembesaran dan pelembekan payudara (Rosette, et al., 2004). 2. Dutasteride Dutasteride merupakan 5-reductase-inhibitors nonselektif yang menekan isoenzin tipe 1 dan 2, dan sebagai konsekuensinya lebih cepat dan lebih efektif dalam menurunkan produksi DHT intraprostat dan tingkat DHT serum hingga 90%. 3. Kombinasi terapi 1-adrenergic antagonist dengan 5-reductase-inhibitorsideal diberikan kepada pasien dengan gejala berat, yang juga mengalami pembesaran prostat lebih dari 40 g dan tingkat PSA sedikitnya 1,4 ng/mL. kekurangan dari terapo kombinasi ini adalah meningkatnya biaya pengobatan, dan peningkatan kejadian munculnya efek yang tidak diharapkan. 4. Terapi pembedahan a. Transurethral Resection of the Prostate (TURP) Dilakukan pada pasien baik dengan LUTS sedang atau pun berat, yang menginginkan perawatan secara aktif, atau yang mengalami kegagalan terapi atau tidak menginginkan terapi dengan obat. Menghilangkan bagian adenomatosa dari prostat yang menimbulkan obstruksi dengan menggunakan resektoskop dan elektrokauter b. Transurethral Incision of the Prostate (TUIP) Dilakukan terhadap penderita dengan gejala sedang sampai berat dan dengan ukuran prostat kecil (<30 gram) c. Open Prostatectomy Diindikasikan untuk pasien dengan prostat terlalu besar untuk dilakukan TURP karena takut penyembuhan tidak sempurna, perdarahan yang signifikan, atau risiko dilusi natremia. d. Transurethral electrovaporization (TUVP) Merupakan alternative lain untuk TURP khususnya untuk pasien beresiko tinggi dengan prostate kecil.

e. Laser Prostatectomy Tekniknya antara lain Transurethral laser induced prostatectomy (TULIP) yang dilakukan dengan bantuan USG, Visual coagulative necrosis, Visual laser ablation of the prostate (VILAP), dan interstitial laser therapy. f. Prostatic stents Hanya diberikan kepada pasien yang memiliki resiko tinggi, yang ditunjukkan dengan kekambuhan retensi urin sebagai alternatif kateterisasi, dan bagi mereka yang tidak dapat menjalani terapi yang lainnya g. Emerging techniques Meliputi High-intensity focused ultrasound (HIFU), chemoablation of the prostate, water induced thermotherapy (WIT) dan plasma energy in a saline environment (PlasmaKinetic) yang hanya digunakan dalam percobaan klinis saja. h. Obsolete techniques Transurethral baloon dilatation : dilakukan dengan memasukkan kateter yang dapat mendilatasi fosa prostatika dan leher kandung kemih. Dilatasi balon dan

transrektal/hipertermi transurethral tidak lagi direkomendasikan untuk mengatasi BPH. 5. Terapi Hormonal Terapi hormon diberikan pada pria usia pertengahan dan lanjut usia untuk mengatasi keluhan andropause. Selama pengobatan oleh dokter, testosteron diberikan dalam bentuk senyawa undarkanoat (4 mg/kapsul). Tujuan terapi hormone adalah mengontrol keseimbangan hormon testosteron sehingga dapat membantu mengatasi keluhan gangguan Prostat. 6. Fitoterapi (Pygeum africanum, Serenoa Repens) Agen ini terdiri atas berbagai macam ekstrak tanaman dan selalu sulit dalam mengidentifikasi komponen mana yang memiliki aktifitas biologis utama (Rosette, et al., 2004). Meskipun fitoterapi digunakan secara luas di Eropa dalam pengelolaan BPH, data publikasi mengenai penggunaan agen herbal masih belum meyakinkan dan banyak pertentangan.