Anda di halaman 1dari 25

PERBANDINGAN EFEKTIVITAS AMLODIPINE DAN RAMIPRIL TERHADAP PENURUNAN TEKANAN DARAH PASIEN HIPERTENSI DI RSUD PROF. DR.

MARGONO SOEKARJO

Prevalensi Hipertensi di Indonesia adalah sekitar 31,7% dengan usia diatas 18 tahun, RSUD Margono Soekarjo sebagai salah satu rumah sakit terbesar di Jawa Tengah menggunakan terapi standar tertentu untuk hipertensi dengan menggunakan obat amlodipine atau ramipril.

Tujuan dari penelitian ini adalah untuk menentukan perbandingan efektivitas antara amlodipine dan rampiril untuk mengetahui yang terbaik

Penelitian dilakukan di RSUD PROF. DR. MARGONO SOEKARJO selama periode September Desember 2009

Rancangan penelitian yang dilakukan adalah observasional Penelitian ini merupakan penelitian kohort dengan mengukur tekanan darah sebelum dan setelah diberi salah satu obat (amlodipine atau ramipril) kemudian dinilai efeknya berupa penurunan tekanan darah selama 10 dan 20 hari.

Populasi target adalah penderita hipertensi dengan tekanan darah > 140 mmHg dan diastolik >90 mmHg. Kriteria inklusi yaitu pasien hipertensi yang baru pertama kali diperiksa atau pernah berobat namun tidak kontrol dalam jangka waktu lebih dari 2 minggu

kriteria ekslusi yaitu pasien tidak dapat datang lagi ke RSUD Prof.Dr.Margono Soekarjo/sulit ditemukan tempat tinggalnya pada saat dilakukan pengecekan tekanan darah 10 dan 20 hari setelah diberi terapi Kriteria drop out yaitu pasien mengkonsumsi garam lebih dari 1500 mg/hari (lebih dari 2 sendok teh), kopi lebih dari 300 mg/hari (lebih dari 3 cangkir/hari), pasien tidak teratur minum obat, dan pasien meninggal.

penelitian yang dilakukan selama periode September-Desember 2009 di RSUD Prof.Dr.Margono Soekarjo ditemukan 85 sampel, hanya 70 sampel (83.6 %) yang memenuhi kriteria inklusi dan ekslusi dengan jumlah masing-masing 35 dengan pengobatan amlodipine dan ramipril.

Dalam penelitian ini terdiri dari 32 (45.7 %) laki-laki dan 38 (54.3 %) perempuan. Pasien yang mengalami hipertensi stage I pada penelitian ini sebanyak 34 (48.6 %) pasien dan hipertensi stage II sebanyak 36 (51.4 %) pasien.

Kriteria umur sampel dibagi menjadi 4 yaitu 20-40 tahun, 41-55 (45.7 %) tahun, 56-77 (54.3 %) tahun, dan > 77 tahun. Pendidikan terakhir yang ditempuh sampel adalah sarjana 25 sampel (35.7 %), SMA 24(34.3%) sampel, SMP 5(7.1 %) sampel, dan SD 16 sampel (22.9 %).

Adapun jenis pekerjaan sampel paling banyak adalah tidak bekerja sebanyak 39 (55.7 %) sampel, diikuti dengan wiraswasta sebanyak 16 (22.9 %) sampel, Pegawai Negeri Sipil (PNS) sebanyak 5 (7.1 %) sampel, karyawan sebanyak 5(7.1 %) sampel, dan guru sebanyak 5(7.1 %) sampel.

Berdasarkan data anamnesis mengenai riwayat penyakit keluarga, sebanyak 38 sampel (54,29 %) mengaku bahwa orang tuanya mengalami hipertensi, 18 sampel (25.71 %) tidak memiliki orang tua yang mengalami hipertensi, dan sisanya sebanyak 14 (20 %) tidak mengetahui mengenai riwayat penyakit orang tuanya

Pada penelitian ini, obat lain yang diberikan paling banyak adalah vitamin B complex pada 37(52.9 %) sampel diikuti dengan ranitidine sebanyak 11 sampel (15.7 %).

Pada penelitian ini rata-rata tekanan darah pada 70 sampel adalah 162.86/96.86 mmHg. Rata-rata tekanan darah sampel yang akan menerima amlodipine pada pengukuran pertama adalah 163.14/95.71 mmHg. Sedangkan rata-rata tekanan darah sampel yang akan menerima ramipril pada pengukuran pertama adalah 162.57/98 mmHg.

Pada pengukuran berikutnya yang dilakukan pada hari ke-10 setelah pengukuran pertama, rata-rata tekanan darah pada sampel yang menerima amlodipine adalah 160.71/93.42 mmHg sedangkan sampel yang menerima ramipril adalah 161.71/96.7 mmHg (p=0.225)

Pada pengukuran ketiga yang dilakukan pada hari ke-20 setelah pengukuran pertama, rata-rata tekanan darah sampel yang menerima amlodipine adalah 158.71/93.42 sedangkan sampel yang menerima ramipril adalah 159.57/95.65 mmHg (p=0.329).

Dari kelompok sampel yang menerima terapi amlodipine terdapat 12 sampel tidak mengalami penurunan tekanan darah. Maka proporsi tidak turun atau dinyatakan dengan Experimental Event Rate (EER) sebesar 34.2 % atau 0.342. Pada kelompok sampel yang menerima ramipril terjadi 16/35 sampel yang tidak mengalami penurunan tekanan darah atau dapat dinyatakan dengan control even rate (CER) sebesar 45.7 %

atau 0.457. RRR yang diperoleh sebesar 25 % atau 0.25.

Beda keberhasilan antara terapi amlodipine dan ramipril (ARR) adalah sebesar 0,115 atau 11,5 %.

Berdasarkan penelitian ini, perempuan lebih banyak mengalami hipertensi yaitu sebanyak 38 (54.3 %) sampel. Hal ini berkaitan dengan faktor resiko hipertensi yang terjadi pada perempuan. Hal ini dapat dikarenakan pada wanita konsentrasi adiponectin lebih rendah sehingga menjadi faktor resiko terjadinya hipertensi. Adiponectin yang disekresikan oleh jaringan adiposa berfungsi sebagai antiatherosclerotic protein sehingga memiliki efek protektif terhadap pembuluh darah.

Pada penelitian ini jumlah sampel yangcmengalami hipertensi terbanyak terjadi pada umur 56-77 tahun sebanyak 38 (54.3 %) sampel dan 41-55 sebanyak 32 (45.7 %) sampel Distribusi umur yang mengalami hipertensi terjadi pada umur 56- 77 tahun berkaitan dengan fungsi fisiologis yang menurun karena proses penuaan karena ada genetic clock dan kemampuan sel yang mulai menurun termasuk sel-sel otot jantung,saraf, musculoskeletal, dan lain-lain.Selain itu, pada usia tersebut arteri besar kehilangan kelenturannya dan menjadi kaku.

Pada sampel penelitian ini ditemukan 39 (55,7 %) sampel tidak bekerja. Hal ini berkaitan dengan usia pasien yang sudah tua sehingga tidak bekerja atau pensiun. Dan beberapa di antaranya merupakan ibu rumah tangga (24 orang) sehingga stressor bisa terjadi di rumah seperti terlalu lelah mengurus pekerjaan rumah tangga, masalah penghasilan sehingga menyebabkan teraktivasinya saraf simpatik sehingga meningkatkan aliran darah dan kontraktilitas jantung sehingga tekanan darah naik. Hal ini apabila terus menerus maka akan terjadi hipertensi yang menetap.

Pada penelitian ini, terdapat 38 (54.3%) sampel yang memiliki riwayat keluarga yaitu orang tua mengalami hipertensi. Hipertensi ini bisa bersifat genetik. Angiotensin yang merupakan prekusor hormon angiotensin II dijadikan sebagai

marker atau pertanda predisposisi genetik

pada hipertensi esensial. Adapun gen angiotensin ini yaitu T235

Antara obat amlodipin dan ramipril selisihnya memang sedikit, namun ini menunjukkan bahwa amlodipine memiliki efek cepat dalam menurunkan tekanan darah dibandingkan ramipril pada 10 hari pertama namun efek jangka panjangnya akan terjadi efek inotropik dan kronotropik negatif.

Pasien yang diberikan terapi ramipril menunjukkan penurunan tekanan darah dari 151/96 mmHg menjadi 134,3/84 sedangkan amlodipine menunjukkan penurunan tekanan darah dari 150/95,7 mmHg menjadi 134/83,1 mmHg (p > 0.10). Namun walaupun selisihnya sedikit, amlodipine lebih unggul

Pada hasil uji Chi Square didapatkan bahwa tidak terdapat perbedaan yang signifikan (p=0.329) antara pemberian amlodipine dan ramipril dalam menurunkan tekanan darah pada 20 hari. Hal ini bisa disebabkan oleh kedua obat ini bekerja baik. Walaupun ramipril lebih lambat dalam menurunkan tekanan darah pada 10 hari awal (p= 0.225) namun outcome yang dihasilkan juga terdapat penurunan tekanan darah pada hari ke-20

Tidak ada perbedaan signifikan antara amlodipine dan ramipril terhadap penurunan tekanan darah pasien hipertensi di RSUD Margono Soekarjo selama 20 hari terapi (p=0.329). Proporsi tekanan darah yang tidak turun atau dinyatakan dengan EER pada pasien yang menerima amlodipine adalah sebesar 34.2 %. Proporsi tekanan darah yang tidak turun atau dinyatakan dengan CER pada pasien yang menerima ramipril sebesar 45.7%. Perbedaan efektivitas amlodipine dan ramipril (ARR) dalam menurunkan tekanan darah sebesar 11,5 %.

Hal ini menunjukkan bahwa secara statistik dan klinik menunjukkan bahwa tidak ada perbedaan signifikan baik penggunaan amlodipine dan ramipril. Hal ini menjadi pertimbangan bahwa initial therapy perlu dievaluasi dan diganti dengan pemberian obat secara kombinasi (amlodipine-ramipril) terutama pada pasien hipertensi stage II

Anda mungkin juga menyukai