Anda di halaman 1dari 9

HUBUNGAN JENIS KELAMIN DAN DUKUNGAN SOSIAL DENGAN KEJADIAN DEPRESI LANSIA DI PUSKESMAS NUSA INDAH BENGKULU TAHUN

2013 Abdul Diinil Haq, Martha, Nur Elly Poltekkes Kemenkes Bengkulu, Jl. Indra Giri No.3 Padang Harapan Bengkulu Depresi adalah gangguan kejiwaan pada alam perasaan paling banyak dijumpai pada orang lanjut usia sebagai akibat ketidakmampuan fisik, dan kelainan yang dideritanya. Prevalensi kejadian depresi pada lansia di dunia sebesar 8-15%, lansia yang mengalami depresi akan kesulitan dalam memenuhi kebutuhan hidupnya sehari-hari. Tujuan dari penelitian ini adalah untuk mengetahui hubungan jenis kelamin dan dukungan sosial dengan kejadian depresi lansia. Penelitian dilakukan di Puskesmas Nusa Indah Bengkulu data dimulai pada tanggal 26 Februari sampai 26 Maret 2013. Desain penelitian yang digunakan adalah Cross-Sectional dan data yang diperoleh di analisis secara Univariat dan Bivariat menggunakan Chi-Square. Jumlah Populasi sebanyak 90 orang lansia pada posyandu lansia dan lansia yang berkunjung ke Puskesmas Nusa Indah dan menggunakan Total Sampling data diperoleh dengan tekhnik wawancara dengan alat bantu instrumen penelitian berupah checklist. Hasil penelitian didapatkan hasil 54 (60%) responden berjenis kelamin lakilaki dan 36 (40%) responden berjenis kelamin perempuan, 24 (26.7% ) responden memperoleh dukungan sosial kurang dan (66) 73.3% responden medapat dukungan sosial baik dan 39 (43.3%) responden depresi dan 51 (56.7%) responden tidak mengalami depresi. Dari uji stastistik didapatkan ada hubungan antara Jenis Kelamin dan dukungan sosial dengan Kejadian Depresi (p=0.00) Diharapakan bagi tenaga kesehatan di Puskesmas Nusa Indah untuk meningkatkan penyuluhan kepada lansia mengenai depresi dan cara untuk mengatasinya, serta memprogramkan kegiatan posyandu lansia secara rutin dan berkelanjutan di Puskesmas Nusa Indah Kota Bengkulu.

Menurut data dari World Health Organization (WHO) jumlah lanjut usia (lansia) di seluruh dunia pada tahun 2005 ada 500 juta dengan usia rata-rata 60 tahun dan diperkirakan pada tahun 2025 akan bertambah mencapai 1,2 milyar (Nugroho, 2000). Menurut data Biro Pusat Statistik (BPS) pada tahun 2009, jumlah penduduk 147 juta, dari angka tersebut terdapat 16,3 juta orang (11%) orang berusia 50 tahun ke atas, dan kurang lebih 6,3 juta orang (4,3%) berusia 60 tahun ke atas. Dari 6,3 juta orang tersebut terdapat 822.831 (13,06%) orang tergolong jompo, yaitu para lansia yang memerlukan bantuan khusus bahkan mereka harus dipelihara oleh negara. Pada tahun 2010 jumlah lansia diprediksi naik menjadi (9,58 %) dengan usia harapan hidup 67,4 tahun. Pada tahun 2020 angka itu diprediksi meningkat menjadi (11,20 %) dengan harapan hidup 71,1 tahun (Sanusi, 2009). Peningkatan jumlah penduduk lansia akan membawa dampak terhadap sosial ekonomi baik dalam keluarga, masyarakat, maupun pemerintah. Implikasi ekonomis yang penting dari peningkatan jumlah lansia adalah peningkatan dalam rasio ketergantungan lansia (old age ratio dependency). Rasio ketergantungan cukup tinggi dan cenderung naik setiap tahun. Pada tahun 2007 tercatat angka ketergantungan 13,52 yang menunjukkan bahwa setiap 100 orang penduduk produktif harus menanggung sekitar 13 orang Lansia. Angka tersebut akan meningkat seiring kenaikan Usia Harapan Hidup (UHH) penduduk Indonesia. Terdata pada tahun 2000, Usia Harapan

Hidup (UHH) 64,5 tahun dan pada tahun 2008 telah mencapai 70,5 tahun (Depkes, 2008). Badan kesehatan dunia WHO memperkirakan bahwa penduduk lanjut usia di Indonesia pada tahun 2020 mendatang sudah mencapai angka (11,34%) atau tercatat 28,8 juta orang. Diperkirakan juga pada tahun 2025, akan terdapat 800 jiwa penduduk yang berusia lebih dari 65 tahun diseluruh dunia (Setiadi, 2004). Pada lansia akan terjadi perubahan-perubahan fisik, psikososial dan spiritual. Salah satu perubahan tersebut adalah terjadi perubahan psikologis yaitu depresi, hal ini terjadi akibat penurunan fungsi fisik dan perubahan status sosial lansia di masyarakat (Perry & Potter, 2005). Data WHO menunjukkan bahwa depresi yang terjadi pada lansia berada pada urutan keempat penyakit sedunia. Sekitar 20% wanita dan 12% pria dalam kehidupannya pernah mengalami depresi (FKUI, 2005). Depresi merupakan masalah mental yang paling banyak ditemui pada lansia. Prevalensi depresi pada lansia di dunia sekitar 8 15 %. Hasil survey dari berbagai negara di dunia diperoleh prevalensi rata-rata depresi pada lansia adalah 13,5 % dengan perbandingan pria dan wanita 14,1 : 8,5. Sementara prevalensi depresi pada lansia yang menjalani perawatan di RS dan Panti 3 Perawatan sebesar 30 45 %. Karenanya pengenalan masalah mental sejak dini merupakan hal yang penting, sehingga beberapa gangguan masalah mental pada lansia dapat dicegah, dihilangkan atau dipulihkan (Evy, 2008).

Lansia yang mengalami depresi akan mengalami kesulitan dalam memenuhi kehidupan seharihari (Miller, 1995). Depresi apabila tidak segera ditangani dengan cepat dan tepat dapat menurunkan fungsi otak. Akibatnya, seseorang mengalami kekacauan, sulit diajak bicara, berfikir maupun mengkomunikasikan sesuatu dengan orang lain (Jawa pos, 2005). Perubahan ini akan memberikan pengaruh pada seluruh aspek kehidupan termasuk kesehatannya. Oleh karena itu usia lanjut perlu mendapatkan perhatian khusus dengan tetap dipelihara dan ditingkatkan agar selama mungkin dapat hidup secara produktif sesuai dengan kemampuan sehingga dapat ikut serta aktif dalam pembangunan (UU no.36 Tahun 2009) Berdasarkan hasil pencatatan pada Profil Kesehatan Provinsi Bengkulu Tahun 2011 jumlah lansia (>= 65 tahun) secara keseluruhan di Provinsi Bengkulu adalah sebesar 66.674 jiwa (4 % dari seluruh jumlah penduduk di Provinsi Bengkulu). Sedangkan pada Profil Kesehatan Kota Bengkulu Tahun 2011 jumlah lansia (60-64 tahun) yaitu 4.380 jiwa yang terdiri dari (2.441 laki-laki, 1.939 perempuan) dan jumlah lansia umur (>=65 tahun) yaitu 10.087 jiwa yang terdiri dari (5.011 laki-laki, 5.076 perempuan) dan puskesmas yang memiliki jumlah lansia terbanyak adalah puskesmas Nusa Indah dengan jumlah 170 lansia, dilanjutkan puskesmas Suka Merindu yang jumlah nya 135 lansia serta yang ketiga yaitu puskesmas Lingkar Timur terdapat 100 lansia.

Survey pendahuluan yang dilaksanakan di Posyandu Lansia Puskesmas Nusa Indah Provinsi Bengkulu bulan September 2012, terdapat 170 lansia dari bulan januari sampai September. Tetapi yang aktif mengikuti program kesehatan di Posyandu Lansia Puskesmas Nusa Indah adalah 90 lansia. Dari tiga tempat Posyandu Lansia di Puskesmas Nusa Indah yaitu Posyandu Flamboyan berjumlah 30 lansia, Posyandu Nusa Indah berjumlah 30 lansia dan di Posyandu Sejahtera berjumlah 30 lansia. Saat dilakukan wawancara pada 6 lansia pada 3 Posyandu Lansia tersebut, didapatkan data 3 orang lansia yang mengalami depresi, terdiri dari 2 orang lansia perempuan dan 1orang lansia laki-laki dan diantara ketiga lansia tersebut 2 orang diantaranya menyatakan bahwa dukungan sosialnya kurang baik. Kemudian juga didapatkan data 3 orang lansia tidak depresi, terdiri dari 2 orang lansia laki-laki dan 1 orang lansia perempuan dan dari ketiga lansia tersebut 2 orang diantaranya menyatakan bahwa dukungan sosialnya baik. Berdasarkan uraian diatas, maka peneliti tertarik melakukan penelitian mengenai Hubungan Jenis Kelamin dan Dukungan Sosial dengan Kejadian Depresi Lansia BAHAN DAN CARA KERJA Penelitian ini merupakan penelitian analitik dengan menggunakan desain cross sectional. Digunakan desain cross sectional dimana penelitian ini digunakan untuk mengetahui hubungan variable independen jenis kelamin dan dukungan sosial dengan variable

dependen yaitu kejadian depresi dilakukan sekali waktu pada saat yang bersamaan. Populasi dalam penelitian ini semua yang aktif di tiga posyandu lansia HASIL Analisa Univariat Analisa ini dilakukan untuk mengetahui distribusi frekuensi masing masing variabel dan distribusi masing masing variable. Dukungan Sosial Kurang Baik Total Tabel 1 Berdasarkan table di atas dapat dilihat bahwa lebih dari sebagian 21 (73.3%) responden mendapatkan dukungan sosial yang baik. Tabel 2 Berdasarkan table di bawah dapat dilihat bahwa lebih dari sebagian 54 (60%) berjenis kelamin laki-laki. Jenis Kelamin Laki-Laki Perempuan Total Frekuensi 54 36 90 Persentase (%) 60 % 40 % 100.0 Frekuensi 24 66 90,0 Persentase (%) 26.7% 73.3% 100,0

Tabel 3 Berdasarkan table di bawah ini dapat dilihat bahwa lebih dari sebagian 51 (56.7%) lansia tidak mengalami depresi Kejadian Depresi Depresi Tidak Depresi Total Frekuensi 39 51 90 Persentase (%) 43.3% 56.7% 100.0

Analisa Bivariat Analisa ini bertujuan untuk mengetahui hubungan antara variabel dependent dengan variabel independen dengan uji statistik dengan menggunakan uji chi square pada 0,05. Tabel 4. Hubungan Jenis Kelamin dengan Kejadian Depresi Lansia Di Posyandu Lansia Puskesmas Nusa Indah Bengkulu Tahun 2013 Jenis Kelamin Kejadian Depresi Lansia Total Nilai P Depresi Tidak F % Depresi N % N % Laki-Laki 13 24 41 76 54 100 0.00 Perempuan Total 26 39 72 43.3 10 51 28 56.7 36 90 100 100

Berdasarkan table 4 di atas dapat dilihat bahwa dari 54 responden laki-laki sebagian besar 41 (76%) responden tidak mengalami depresi, sedangkan dari 39 responden perempuan sebagian besar 26 (72%) mengalami depresi. Hasil uji statistik didapatkan p=0,00 5% yang berarti ada hubungan antara dukungan sosial dengan Kejadian Depresi Lansia di Posyandu Lansia Puskesmas Nusa Indah Bengkulu.

Berdasarkan table 4.5 diatas dapat dilihat bahwa dari 24 responden yang mendapat dukungan sosial kurang, seluruh responden mengalami depresi 24 (100%), sedangkan pada responden yang memperoleh dukungan sosial baik, sebagian besar 51 (77.2%). Hasil uji stasistik didapatkan p= 0,00 5% yang berarti ada hubungan antara jenis kelamin dengan Kejadian Depresi Lansia di wilayah kerja Posyandu Lansia Puskesmas Nusa Indah. Total F % 24 66 90 100 100 100 X2 Nilai P 0.00

Dukungan Sosial Kurang Baik Total

Kejadian Depresi Depresi Tidak Depresi N % N % 24 100 0 0 15 39 28 43.3 51 51 77.2 56.7


5

PEMBAHASAN 1. Hubungan Jenis dengan Kejadian Lansia Kelamin Depresi

Hasil penelitian menyatakan bahwa dari 54 responden laki-laki sebagian besar 41 (76%) responden tidak mengalami depresi, sedangkan dari 39 responden perempuan sebagian besar 26 (72%) mengalami depresi. Hasil uji statistik didapatkan p=0,00 5% yang berarti ada hubungan yang signifikan antara dukungan sosial dengan Kejadian Depresi Lansia di Posyandu Lansia Puskesmas Nusa Indah Bengkulu. Hasil penelitian sesuai dengan hipotesis yang diajukan dan hasilnya berbanding lurus dengan teori Schimeilpfering (2009) yang menyatakan bahwa perempuan cenderung menggunakan emosi yang lebih focus, ruminative dalam mengatasi masalah, merenungkan masalah mereka ke dalam pikiran mereka, sementara laki-laki cenderung menggunakan masalah yang lebih fokus, gaya coping mengganggu untuk membantu mereka melupakan masalah. Sehingga perempuan lebih rentan terhadap depresi. Penelitian tentang Depresi Lansia dan Jenis Kelamin pernah diteliti oleh Tuinri Aprezen (2006) dengan judul perbedaan tingkat depresi lansia berdasarkan Jenis Kelamin di wilayah kerja Puskesmas Curup

Kabupaten Rejang Lebong. Dengan hasil penelitian ada perbedaan tingkat depresi lansia berdasarkan Jenis Kelamin di wilayah kerja Puskesmas Curup Kabupaten Rejang Lebong ( p=0,044). Hasil penelitian ini telah sesuai menurut Schimeilpfering, (2003).Estrogen dan progesteron telah ditunjukkan untuk mempengaruhi neurotransmitter, neuroendokrin dan system sirkadian yang telah terlibat dalam gangguan suasana perasaan. Fakta bahwa perempuan sering mengalami gangguan suasana hati yang berhubungan dengan siklus menstruasi mereka, seperti gangguan pramenstruasi dysphoric, juga menunjukkan hubungan antara hormon seks wanita dan suasana perasaan. Selain itu,fluktuasi hormon yang berhubungan dengan kelahiran adalah pemicu umum bagi gangguan suasana perasaan. Meski menopause adalah saat ketika seorang wanita risiko depresi berkurang, periomenopausal periode adalah masa peningkatan resiko bagi orang-orang dengan riwayat depresi besar. Hormon lain faktor yang dapat menyebabkan risiko wanita untuk depresi adalah perbedaan jenis kelamin berhubungan dengan hypothalmic-hipofisis-adrenal (HPA) axis dan untuk tiroid berfungsi. 2. Hubungan Dukungan Sosial dengan Kejadian Depresi Lansia

Hasil penelitian menyatakan bahwa dari 24 responden yang mendapat dukungan sosial kurang, seluruh responden mengalami depresi 24 (100%), sedangkan pada responden yang memperoleh dukungan sosial baik, sebagian besar 51 (77.2%). Hasil uji stasistik didapatkan p= 0,00 5% yang berarti ada hubungan yang signifikan antara jenis kelamin dengan Kejadian Depresi Lansia di wilayah kerja Posyandu Lansia Puskesmas Nusa Indah. Hasil penelitian ini sesuai dengan hipotesis yang diajukan dan hasilnya berbanding lurus dengan teori Oxman & Hall Santrock (2002) yaitu dukungan sosial dapat memberikan arti dalam mengatasi depesi. Adanya dukungan sosial yang baik dapat meningkatkan kesehatan fisik dan kesehatan mental bagi para lanjut usia, semakin tinggi dukungan sosial yang didapatkan lansia maka semakin rendah resiko lansia untuk mengalami depresi. Sebaliknya semakin rendah dukungan sosial yang didapatkan lansia maka semakin tinggi resiko lansia untuk mengalami depresi, hal itu sesuai dengan teori Koswara (1991) yang menyatakan bahwa seseorang yang tidak terintegritas kedalam masyarakat cenderung menderita depresi, dukungan social terdiri dari dukungan social yang didapat dan dukungan instrumental isolasi social menerapkan seseorang pada resiko depresi.

Penelitian tentang Depresi Pada Lansia sebelumnya pernah diteliti oleh Meta Adelia Saputri (2011) Hasilnya: Analisa Multivariate menunjukkan bahwa ada hubungan antara dukungan sosial dengan Kejadian Depresi Lanjut Usia di Panti Wreda Wening Wardoyo Jawa Tengah 2011 (rxy = -0,487, F=10,245 dan p=0,003). KESIMPULAN A. Kesimpulan Berdasarkan hasil penelitian tentang Hubungan Jenis Kelamin dan Dukungan Sosial dengan Kejadian Depresi di Puskesmas Nusa Indah Bengkulu Tahun 2013, maka dapat ditarik kesimpulan sebagai berikut : 1. Hampir sebagian lansia di Puskesmas Nusa Indah Kota Bengkulu mengalami depresi, 2. Lansia di Puskesmas Nusa Indah Kota Bengkulu sebagian besar berjenis kelamin laki-laki. 3. Sebagian besar lansia di Puskesmas Nusa Indah Kota Bengkulu mendapatkan dukungan sosial yang baik. 4. Ada hubungan antara jenis kelamin dengan kejadian depresi lansia. 5. Ada hubungan antara dukungan sosial dengan kejadian depresi lansia. SARAN Berdasarkan hasil penelitian tentang Hubungan

Jenis Kelamin dan Dukungan Sosial dengan Kejadian Depresi Lansia di Puskesmas Nusa Indah Bengkulu Tahun 2013, maka peneliti ingin memberikan saran kepada berbagai pihak yang terkait antara lain : 1. Bagi Puskesmas Nusa Indah Bengkulu Kepada pegawai Puskesmas Nusa Indah Bengkulu (Perawat, Bidan, Apoteker, dan Dokter), diharapkan dapat memberikan pengetahuan kepada lansia tentang depresi, cara mengatasi depresi kepada lansia. 2. Bagi Akademik Sebagai salah satu institusi di bidang kesehatan diharapkan mahasiswa dan dosen dapat menggalakkan program pendidikan kesehatan tentang cara mengatasi depresi dan dukungan sosial yang baik untuk lansia, dalam agar pengetahuan masyarakat bertambah tentang cara pemenuhan kebutuhan tidur lansia yang baik. 3. Bagi Peneliti Lain Penelitian ini dapat dilakukan penelitian lebih lanjut tentang depresi lansia dengansampel yang lebih besar dan dengan desain kohort, serta variable-variable lain

Seperti Stressor sosial dan Status Perkawinan.

DAFTAR PUSTAKA Badan Pusat Statistik. (2011), Diakses dari http://www.bps.co.id, 10 Oktober 2012. Centre for Disease Control and Prevention (CDC)-National Institute on Disability and Rehabilitation Reseach (NIDRR). (2000). Healthy People 2010. Disability and Secondary Conditions. Washington DC.: CDCNIDRR, U.S. Departement of Education. Departemen Kesehatan R.I., 2008. Terdata pada tahun 2000, UHH 64,5 tahun dan pada tahun 2008 telah mencapai 70,5 tahun. Jakarta. Diakses dari http://www.depkes.go.id. Evy (2008). Tingkat Kemandirian Lansia dalam Memenuhi Aktivitas Kehidupan Seharihari di BRSD Kepanjen Malang. Diakses 13 November 2010. http://www.gemari.or.id. Hardjomarsono, (2010), Menjaga Keseimbangan Kualitas Hidup Para Lansia. Jakarta : Gramedia Pustakama Utama Hurlock, Elizabeth, (1994). Psikologi Perkembangan Suatu Pendekatan Sepanjang

Rentang Kehidupan: Jakarta. Erlangga Kahn, Antonucci (1992). The Groningen Activity Restriction Scale for Measuring disability: Its utility in international comparisons. Orford, 84:1270-1273.

Philip L, Rice (1992). Active Aging: a Policy Framework. Geneva: WHO (WHO/NMH/NPH/02.8). Potter, P. A., Perry, 2005. Buku Ajar Fundamental Keperawatan. Jakarta : EGC Poerwadi, Sri Haryudhowati. (2001). Kiat Sukses Dalam Pergaulan. Jakarta : UPN Veteran Probosusesno , 2008. Depresi pada Lansia. Jakarta : EGC Rice, Robyn (1993). Home Health Nursing Practice Concepts & Applications. Mosby Year Book. Inc. St Louis Baltimore. Samiun, (2006). Pedoman Praktis Perawatan Kesehatan Untuk Mengasuh Orang Usia Lanjut. Jakarta : PKUI Stanhope, Marcia (1993). Community Health Nursing. Mosby year book. Stanley, M., Beare, P. G., 2006. Buku Ajar Keperawatan Gerontik. Jakarta : EGC Suhartini, R. (2002). Pengaruh faktor kondisi kesehatan, kondisi ekonomi dan kondisi hubungan sosial dengan kemandirian lansia di kecamatan Badung Bali. Diakses dari http://www.ratnasuharti.unair

Koswara, 1991, Teori-teori Kepribadian. Bandung dalam Eresco Prayitno, 1984, Manula (Manusia Lanjut Usia) Jakarta : Inti Idayu Press Kuntjoro, Z.S. (2002). Masalah Kesehatan Jiwa Lansia. Diakses dari http://www.epsikologi.com/u sia/160402. pada tanggal 5 November 2012 Lueckenotte, AG. 1995. Gerontoloy Nursing. Mob, Missouri. Notoatmojo, S., 2010. Metodologi Penelitian Kesehatan. Jakarta : Rineka Cipta Nugroho, W., 2000. Keperawatan Gerontik. Edisi kedua, Jakarta : EGC Nursalam., 2008. Metodologi Penelitian Kesehatan. Jakarta : Rineka Cipta Palestin, B. (2006). Pengaruh umur, depresi dan demensia terhadap status fungsional lansia di PTSW Abiyoso dan PTSW Budi Dharma Provinsi D.I. Yogyakarta (Adaptasi Model Sistem Neuman). Thesis. Jakarta: FIKUniversitas Indonesia.