Anda di halaman 1dari 3

Inisiatif Sendiri untuk Mencari Solusi Tanpa diminta oleh Kementerian BUMN, para pimpinan tiga perusahaan ini

berkumpul : Garuda Indonesia, Angkara Pura I, dan Angkasa Pura II. Mereka saling curhat, k emudian mencari jalan keluar. Tiga perusahaan BUMN tersebut memang saling terkai t. Yang satu bisa menghambat kemajuan yang lain. Atau sebaliknya. Garuda memang tidak mau berhenti berprestasi. Setelah April lalu mengalahkan Mal aysian Airlines dan sebulan kemudian mengalahkan Thai Airways, kini Garuda juga sudah diklasifikasikan sebagai penerbangan bintang empat. Tentu, Garuda ingin naik kelas ke bintang lima. Di Asia baru lima penerbangan ya ng tergolong bintang lima: Singapore Airlines, Qatar Airways, Cathay Pacific Hon gkong, Asiana Korea Selatan, dan jangan kaget: Hainan Airlines, sebuah penerbang an Hainan, pulau yang akan dijagokan menjadi Balinya Tiongkok. Sebagai penerbangan bintang empat, Garuda kini sudah sejajar dengan 32 perusahaa n penerbangan dunia seperti Air France Prancis, JAL Jepang, Dragonair Hongkong, Qantas Australia, dan Korean Air Korea. Garuda sudah keluar dari jajaran bintang tiga seperti Canadian Air Kanada, Royal Brunei, Saudian Airlines Arab Saudi, da n 116 perusahaan penerbangan lain. Dalam pertemuan yang saya hadir hanya sebagai pendengar dan saksi tersebut, dise pakati banyak hal. Ada 32 masalah yang akan dipecahkan bersama secara bertahap. Sebagian bisa langsung dikerjakan, sebagian lagi harus dikoordinasikan dengan in stansi lain. Soal pelayanan imigrasi, visa on arrival, karantina, dan klinik kes ehatan, misalnya, sama sekali di luar sistem komando kepala bandara. Masing-masi ng punya atasan sendiri. Yang bisa diatasi sendiri, misalnya, soal troli, kebersihan, keindahan, dan kete rtiban parkir. Mulai awal Juli nanti, misalnya, interior Terminal 2 Bandara Soek arno Hatta akan diperbarui, menjadi setingkat interior hotel binang lima. Mungki n penumpang agak terganggu oleh renovasi itu, namun demi kejayaan bersama harus kita lakukan. Disadari sepenuhnya bahwa semua perusahaan penerbangan yang berbintang lima sela lu didukung oleh bandara yang juga berbintang lima. Singapore Airlines dapat duk ungan Bandara Changi yang begitu bagus. Cathay Pacific dapat dukungan bandara bi ntang lima Chep Lap Kok. Asiana dapat dukungan bandara yang sangat hebat seperti Incheon. Direktur Utama Angkasa Pura II Tri S. Sunoko, yang antara lain membawahkan Banda ra Soekarno Hatta, juga bertekad mengakhiri sistem yang primitif dalam pemunguta n uang servis bandara. Akhir tahun ini pungutan itu akan langsung masuk ke harga tiket pesawat. Tahap pertama untuk Garuda dulu yang sistemnya siap dipadukan de ngan sistem milik bandara. Dengan demikian, penumpang tidak perlu lagi membayar di loket khusus dan diperiksa lagi saat boarding. Yang saya juga gembira adalah ketika mendengar tekad para direksi Angkasa Pura I dan II untuk berkaca ke tingkat internasional. Selama ini tidak ada keberanian untuk memasukkan bandara kita ke dalam sistem ranking internasional. Dengan demi kian, kita tidak tahu bandara kita itu termasuk bintang lima, empat, tiga, dua, satu, atau tidak berbintang sama sekali. Dalam pertemuan tersebut disepakati Bandara Soekarno Hatta Jakarta, Juanda Surab aya, Ngurah Rai Bali, Hasanuddin Makassar, dan Kuala Namu Medan didaftarkan untu k di-rank di tingkat internasional. Apa pun hasilnya akan diterima secara terbuk a. Toh ada kesempatan untuk melakukan perbaikan, lalu dinilai lagi tahun berikut nya. Kalau ketakutan itu terus dipelihara, tidak akan ada dorongan yang kuat unt uk berbenah. Bagaimana pelayanan yang di luar wewenang kepala bandara? Sambil mencari sistem

yang terbaik, pihak bandara akan melakukan lomba berhadiah uang yang cukup besar . Penumpang akan dilibatkan menilai pelayanan yang diberikan instansi-instansi t ersebut. Instansi yang mencapai standar yang telah ditetapkan akan mendapat hadiah uang c ukup besar, yang dimaksudkan untuk meningkatkan kesejahteraan mereka. Saya melih at keseriusan pimpinan tiga perusahaan itu. Pelebaran jalan-jalan di sekitar Ban dara Cengkareng sudah mulai berfungsi dan memang terasa lebih lapang. Penataan p arkir akan segera menyusul. Usaha mengatasi masalah sendiri seperti itu juga dilakukan oleh teman-teman di m enara kontrol Bandara Soekarno Hatta. Setelah empat kali berkunjung secara menda dak ke tower itu, saya mendapat giliran diundang oleh mereka. Saya pikir, saya a kan didemo atau setidaknya dikeroyok. Ketika masuk ke ruang pertemuan di bagian bawah tower, pertemuan sedang berlangsung. Sekitar 50 orang memenuhi ruang itu. Yang membuat saya kaget, tidak hanya teman-teman yang berprofesi petugas Air Tra ffic Control (ATC) yang hadir di situ. Terlihat juga para pilot dan manajer peru sahaan penerbangan. Mereka sedang saling curhat: para pilot curhat mengenai peng alaman mereka mendarat atau take off di Soekarno Hatta dan awak ATC curhat menge nai kesulitan mereka sendiri. Sayangnya, banyak pembicaraan itu yang kurang saya mengerti. Maklum, mereka bany ak menggunakan bahasa langit. Tetapi, kurang lebih saya bisa menangkap maksudnya . Para pilot, manajer perusahaan penerbangan, dan kru ATC menyepakati banyak hal . Berbagai perubahan akan dilakukan. Termasuk sepakat agar pembicaraan antara petugas menara kontrol dan pilot tidak menggunakan kalimat basa-basi atau sopan santun. Langsung saja pakai bahasa form al, singkat, tegas, agar lalu lintas pembicaraan bisa lebih padat. Disepakati juga, dalam hal Bandara Soekarno Hatta benar-benar sangat padat, mena ra kontrol Jakarta akan menghubungi bandara di luar Jakarta, tempat pesawat ters ebut akan berangkat menuju Jakarta. Lebih baik keberangkatan pesawat ditunda beb erapa menit daripada tetap berangkat, tetapi sampai di Jakarta tidak bisa segera mendarat: berputar-putar dulu di langit Jakarta. Ini menjadi keluhan yang berat karena membuat perusahaan penerbangan rugi besar. Penggunaan bahan bakar pesawat itu luar biasa boros dan mahal. Untuk jenis 737, setiap jam menghabiskan 3.500 liter BBM. Artinya, sekitar Rp 33 juta per jam. Tim ATC Jakarta juga sedang memikirkan bagaimana kemampuan dua landasan yang ada bisa ditingkatkan. Sekarang ini dua landasan tersebut hanya bisa melayani penda ratan/tinggal landas pesawat 52 kali setiap satu jam. Jumlah itu sebenarnya masi h bisa ditingkatkan, sebagaimana yang terjadi di bandara-bandara modern. Bahkan masih bisa ditingkatkan menjadi 72 kali. Kalau peningkatan ini bisa dilakukan, tentu antrean mendarat dan tinggal landas tidak terlalu berat lagi. Salah satu pilihan yang sedang disimulasi sekarang ada lah mengubah sistem: salah satu landasan hanya khusus untuk take off dan satunya lagi khusus untuk landing. Masih disimulasikan apakah pilihan ini akan lebih ba ik. Kalau saja Bandara Kuala Namu Medan selesai akhir tahun ini dan bandara baru Ngu rah Rai Bali selesai pertengahan tahun depan, setidaknya wajah bandara kita akan berubah banyak. Begitu banyaknya pekerjaan yang harus kita lakukan. Begitu rumitnya persoalan. T etapi, dengan kemauan yang keras, kita akan bisa melakukannya. Untuk bisa naik k elas, memang tidak cukup hanya bicara dan bicara. Perlu bekerja, bekerja, dan be

kerja!